TEPUNG BANGUN-BANGUN
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG BANGUN-BANGUN
(Coleus amboinicus. L) PADA RANSUM BABI TERHADAP
KONVERSI RANSUM INDUK MENYUSUI DAN
PERTAMBAHAN BOBOT BADAN ANAK
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG BANGUN-BANGUN
(Coleus amboinicus. L) PADA RANSUM BABI TERHADAP
KONVERSI RANSUM INDUK MENYUSUI DAN
PERTAMBAHAN BOBOT BADAN ANAK
Sauland Sinaga dan Angga Perdana
ABSTRAK
Penelitian ini telah dilaksanakan di Peternakan yang berlokasi di desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada Bulan November – Desember 2010. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan tingkat penggunaan tepung bangun-bangun yang dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak. Lima belas ekor ternak babi menyusui dengan berat badan berkisar 125-150 kg dialokasikan ke dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ransum perlakuan dan diulang sebanyak 5 kali. Kombinasi ransum perlakuan terdiri atas : R0 (ransum yang mengandung 0% tepung bangun-bangun), R1 (ransum yang mengandung 3% tepung bangun-bangun), dan R2 (ransum yang mengandung 5% tepung bangun-bangun). Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan tepung bangun-bangun (R2) sebesar 5% pada ransum menghasilkan nilai konversi ransum induk menyusui terendah dan pertambahan bobot badan anak tertinggi
Kata kunci : Tepung bangun-bangun, Babi Induk menyusui, anak babi, konversi ransum, pertambahan bobot badan
THE EFFECT OF COLEUS AMBOINICUS. L FLOUR GIVING IN THE PIG FEED THE RATION CONVERSION OF SOW AND BODY WEIGHT GAIN OF PIGLET.
ANGGA PERDANA
ABSTRACT
This research has been done in the animal husbandry of Cigugur, Kuningan , Jawa Barat November 1 – December 16, 2010 with intention of knowing the level of Coleus amboinicus. L giving and the effect of Coleus amboinicus. L flour giving towards the weight gain of piglet. Fifteen sows with weight around 125-150 kg each have been allocated into the Complete Random Design three treatment rations and have been repeated five times. The combination of treatment ration consists of R0 (Ration with 0% of Coleus amboinicus. L flour), R1 (ration with 3% of Coleus amboinicus. L flour), R3 (ration with 5% of Coleus amboinicus. L flour). Based on the result of the research, it can be concluded that the giving of Coleus amboinicus. L flour in the amount of 5% gives effect forwards the weight gain of piglet and the ration conversion.
Key words : Coleus ambonicus L flour, Conversion Ration Sow,
Sow During Lactation, Weight Gain of Piglet
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Babi merupakan salah komoditas ternak yang memiliki pontesi besar untuk dikembangkan, selain itu babi merupakan salah satu sumber penghasilan daging diantara jenis ternak lainya. Hal ini didasarkan pada karakteristik babi yang meliki persentase karkas, mencapai 65%–80% peridi (prolific) satu kali beranak bisa 6-12 ekor dan setiap induk bisa beranak 2,5 kali di dalam setahun.
Induk babi harus mendapatkan pakan dengan kualitas baik, hal ini diperlukan untuk produksi air susu mengingat litter size yang sangat tinggi. Faktor yang dapat menentukan keberhasilan peternakan babi adalah ransum yang diberikan harus mengandung zat-zat makanan yang seimbang dan sesuai kebutuhan ternak. Induk babi saat laktasi menghasilkan sekitar 7 kg air susu perhari. Babi bunting selama 114 hari masa bunting, akibatnya kebutuhan zat-zat makanan induk laktasi jelas lebih tinggi dibandingkan kebutuhan induk bunting.
Bangun-bangun adalah tanaman menjalar, memiliki daun tunggal berwarna hijau, berkayu lunak, beruas-ruas, berpenampang bulat, dengan diameter pangkal sekitar ± 15 mm, tengah 10 mm dan ujung ± 5 mm. Di beberapa daerah, bangun-bangun dikenal dengan nama Sunda (acerang), Bali (iwak). Bangun-bangun lebih tipis, bulu dan kandungan protein daun 6,20%, batang 5,12%, ranting 3,98%.
Bangun-bangun diharapkan dapat meningkatkan konsumsi dan konversi ransum lebih baik, serta pertumbuhan bobot badan anak lebih meningkat. Bangun-bangun adalah tanaman yang tumbuh liar di dataran rendah sampai pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut. Daun ini bermanfaat sebagai obat sariawan, batuk rejan, influenza, demam, perut kembung, mulas, sembelit, bahkan sebagai anti tumor, anti kanker, anti vertigo, dan hipotensif, asthma dan bronchitis. Menurut tradisi masyarakat Batak di Propinsi Sumetera Utara, Bangun-bangun atau Torbangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya mampu meningkatkan produksi susu ibu yang sedang menyusui.
Bangun-bangun mempunyai komponen penting yaitu, senyawa-senyawa yang bersifat laktagogue, dapat menstimulir produksi kelenjar air susu pada induk laktasi, yaitu senyawa-senyawa yang bersifat buffer, antibacterial, anti oksidan, pelumas, pelentur, pewarna dan penstabil. Produksi susu yang tinggi dapat ditandai dengan konsumsi ransum yang tinggi dan memperbaiki nilai konversi ransum karena absorbsi nutrient yang tinggi. Produksi susu yang tinggi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulisan terdorong untuk melakukan penelitian tentang” Pengaruh Pemberian Tepung Bangun-bangun (Coleus ambonicus Lour) pada Ransum Babi terhadap Konversi Ransum Induk Menyusui dan Pertambahan Bobot Badan Anak
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
- Berapa besar pengaruh pemberian tepung bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi terhadap konversi ransum Induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak
- Pada tingkat berapa persen pemberian tepung bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.
1.3. Maksud dan Tujuan
- Mengetahui pengaruh pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus. L) pada ransum babi terhadap konversi induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.
- Mendapatkan tingkat pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi yang dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi peternak dan peneliti dalam kemajuan dunia peternakan, mengenai pengaruh pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) pada ransum Babi terhadap konversi ransum induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.
1.5. Kerangka Pemikiran
Konversi ransum adalah pertambahan bobot badan yang dihasilkan setiap satu ransum yang dikonsumsi. Faktor utama yang mempengaruhi konversi ransum adalah konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, kandungan nutrisi didalam ransum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh ternak jika proses percernaan dengan baik. Kemampuan ternak mengubah makanan ke dalam bentuk pertambahan bobot badan hal ini dapat dinyatakan sebagai jumlah kenaikan bobot badan (Bogart,1977).
Ransum yang sempurna untuk induk yang sedang bunting harus menyediakan zat-zat makanan secara simultan dan digunakan untuk hidup pokok, mensuplai energi untuk proses hidup. Perkembangan calon anak yang sedang dikandung oleh induk adalah dengan menyimpan suatu cadangan zat-zat makanan. Bangun-bangun selain berdaya antiseptika ternyata mempunyai aktivitas tinggi melawan infeksi cacing (Vasquez dkk 2000). Senyawa aktif minyak atsiri phythocemical database Duke (2000), melaporkan bahwa dalam Bangun-bangun ini terdapat juga kandungan vitamin C, B1, B12, senyawa aktif thymol, betacaroten, niacin, carvarol, kalsium, asam – asam lemak, asam oksalat dan serat.
Bangun–bangun juga mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri, menimbulkan rasa tenang dan menciutkan selaput lendir, hewan yang mengalami setres panas membutuhkan tambahan 1 % kalium untuk mencegah hilangnya nafsu makan, menurunkan sekresi air susu dan pertambahan bobot badan. Bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkomsumsi daun Bangun-bangun dapat meningkatkan produksi air susu ibu (Damanik,2006). Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya penigkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya DNA dan RNA kelenjar mamamae. Peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya konsentrasi T4 dan glukosa serum (Silitonga, 1993).
Hasil pengamatan terhadap anak tikus yang sedang menyusui diperoleh bahwa pemberian tepung Bangun-bangun sebesar 5% dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak (Tiurlan, 2008). Sebelumnya Weaning (2007) mengatakan bahwa pemberian 5% tepung Bangun- bangun pada hari ke- 14 umur kebuntingan meningkatkan produksi air susu dan konsumsi ransum juga memperbaiki nilai konversi ransum.
Berdasarkan uraian di atas maka didapat hipotesis, pemberian tepung Bangun-bangun sebesar 5% pada ransum dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.
1.6. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan dari tanggal 1 November sampai dengan 16 Desember 2010 di Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan Jawa Barat.
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Deskripsi Ternak Babi
Babi merupakan ternak monogastrik yang mempunyai kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien. Ternak babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan prolifik yakni banyak anak perkelahiran berkisar 8-12 ekor dengan rata-rata 2 kali kelahiran per tahunnya.
Menurut Sosroamidjojo (1977), babi asli Indonesia berasal dari babi hutan yang sampai sekarang masih terdapat hidup liar dihutan, dan babi ini terkenal dengan nama Celeng (Sus verrucosus), beberapa babi Indonesia yang terkenal di pasaran antara lain misalnya babi Nias, babi Tangerang, babi Karawang, babi Bali dan babi Sumba (Wahju dan Supanji, 1969).
Klasifikasi zoologis babi adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Class : Mamalia
Ordo : Ortiodactyla
Genus : Sus
Family : Suidae
Spesies : Sus scrofa
2.2. Tanaman Bangun-bangun
Daun torbangun (Coleus amboinicus Lour) merupakan salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai ramuan tradisional di Indonesia. Tanaman Torbangun ini tumbuh liar didataran rendah dan tempat lain sampai pada ketinggian 1100 m di atas permukaan laut. Tanaman ini bermanfaat sebagai obat sariawan, batuk, rejan, influenza, demam, perut kembung, mulas, sembelit bahkan sebagai anti tumor, anti kanker, anti vertigo dan hipotensif. Menurut tradisi masyarakat Batak di Propinsi Sumatera Utara, daun Torbangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya mampu meningkatkan produksi susu ibu yang sedang menyusui (Damanik dkk, 2001).
Daun torbangun adalah jenis tanaman herba, yang telah lama dikenal di beberapa daerah di Indonesia, terutama di daerah Sumatera, khususnya masyarakat batak. Tanaman torbangun memiliki ciri fisik batang berkayu lunak, beruas-ruas dan berbentuk bulat, diameter pangkal ± 15 mm, tengah 10 mm dan ujung ± 5 mm. Tanaman torbangun jarang berbunga akan tetapi pengembang biakannya mudah sekali dilakukan dengan stek dan cepat berakar didalam tanah. Di pot pun tanaman ini dapat tumbuh dengan baik (Heyne, 1987). Pada keadaan segar, helaian daun tebal, berwarna hijau muda, kedua permukaan berbulu halus dan berwarna putih, sangat berdaging dan berair, tulang daun bercabang-cabang dan menonjol. Pada keadaan kering helaian daun tipis dan sangat berkerut, permukaan atas kasar, warna coklat, permukaan bawah berwarna lebih muda daripada permukaan atas dan tulang daun kurang menonjol.
Gambar 1. Tanaman Torbangun
Taksonomi tanaman bangun-bangun diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Phanerogamae
Subdivisi : Spermatophyta
Class : Angiospermae
Family : Limiaceae (Labialae)
Sub Family : Oscimoidae
Genus : Coleus
Spesies : Coleus amboinicus Lour
Menurut Damanik dkk (2006), daun torbangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkonsumsi daun Torbangun karena daun ini dapat meningkatkan produksi air susu ibu. Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya peningkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya sekresi air susu, peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya kadar glukosa serum (Silitonga, 1993). Daun torbangun mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri dan menimbulkan rasa tenang sehingga sekresi susu menjadi lancar. Kandungan nutrien bangun-bangun di sajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrien Tanaman Bangun-bangun
|
No. |
Nutrien |
Daun |
Batang |
Ranting |
|
1 |
Air (%) |
8,14 |
13,46 |
8,04 |
|
2 |
Lemak (%) |
0,87 |
0,61 |
0,53 |
|
3 |
Protein (%) |
6,20 |
5,12 |
3,98 |
|
4 |
Karbohidrat (%) |
81,83 |
74,69 |
80,37 |
|
5 |
Energi (KKal) |
359,95 |
324,73 |
342,17 |
|
6 |
Zn (ppm) |
2,14 |
5,16 |
0,82 |
|
7 |
Fe (mg/100 g) |
3,28 |
3,95 |
2,01 |
|
8 |
K (mg/100 g) |
292,17 |
165,21 |
119,47 |
|
9 |
Ca (%) |
0,23 |
0.118 |
0,10 |
|
10 |
Mg (%) |
0,06 |
0,045 |
0,02 |
|
11 |
Vitamin A (IU/100g) |
11335,77 |
- |
- |
|
12 |
Viatamin C (mg/100g) |
168,41 |
- |
- |
Sumber: Balai Besar Industri Agro (BBIA), Bogor (2008)
2.3. Konsumsi Ransum
Ransum adalah makanan yang diberikan pada ternak tertentu selama 24 jam, pemberiannya dapat dilakukan sekali atau beberapa kali selama 24 jam tersebut. Ransum sempurna adalah kombinasi beberapa bahan makanan yang bila dikonsumsi secara normal dapat mensuplai zat-zat makanan kepada ternak dalam perbandingan jumlah, bentuk, sedemikian rupa sehingga fungsi-fungsi fisiologis dalam tubuh berjalan secara normal (Parakkasi,1990).
Crurch (1979) mengatakan faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi makanan adalah palatabilitas yang dipengaruhi oleh bau, rasa, tekstur, suhu dan beberapa faktor lain seperti suhu lingkungan, kesehatan ternak, stress, dan bentuk fisik makanan. Clawson, dkk (1962) mengatakan konsumsi ransum dipengaruhi oleh keseimbangan protein-energi dalam ransum dan konsumsi ransum cenderung meningkat bila kandungan energi menurun.
Induk menyusui dapat mengkonsumsi makanan 3-5 kilogram setiap hari. Induk menyusui membutuhkan makanan yang kebih banyak. Kebutuhan zat-zat makanan untuk produksi air susu ternak adalah salah satu kebutuhan yang tinggi dalam usaha peternakan. Kebutuhan ternak tersebut meningkat karena disamping untuk memenuhi kebutuhan tubuh ternak itu sendiri, zat-zat tersebut juga digunakan untuk menyusun air susu yang dihasilkan.
2.4. Konversi Ransum
Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untukan menghasilkan 1kg pertambahan badan atau kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk bobot badan (Bogart, 1997), sehingga angka konversi ransum tergantung pada banyaknya ransum yang dikonsumsi serta perubahaan atau kenaikan bobot badan yang dihasilkan. Semakin tinggi konsumsi ransum belum tentu akan memperbaiki angka konversi ransum apabila tidak diikuti dengan pertamabahan bobot badan.
Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian semakin rendah makin rendah angka konversi makin efisien dalam pengunaan ransum. Hal ini dapat dinyatakan sebagai jumlah kenaikan bobot badan yang di hasilkan dari satu satuan makanan yang persatuan bobot badan. Perbandingan tersebut bervariasi dalam hubungannya terhadap sejumalah factor, umur ternak , bangsa, daya produksi, (Campbell dan Lasley, 1985).
Konversi ransum dapat digunakan sebagai peubah untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang baik (Bogart, 1997). Sihombing (1997) mengemukan bahwa nilai konversi dari dari seekor ternak erat hubungannya dengan tujuan seleksi guna mendapatkan ternak yang ekonomis. Menurut Cole dan Ronning, (1974) pada disertasi Najoan, (2002) menyatakan bahwa konversi ransum akan menurun dengan bertambahan besarnya babi dan variasi akan terjadi diantara bangsa-bangsa babi. Besar konversi pakan terhadap ransum pada babi grower ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan 3,5 kg ransum (Goodwin, D.H. 1974). Untuk konversi ransum induk menyusui pada babi lebih tinggi kebutuhan ransum sesuai dengan jumlah anak yang menyusui hal ini dapat di konversi ransum dengan pertambahan bobot badan anak semakin baik, untuk babi menyusui butuh konsumsi ransum 4 kg – 6 kg perharian untuk menanghasil susu 7-8 liter perharian, hal ini dapat dilihat bobot badan induk akan menurun untuk menayusui anak (Sihombing,1997).
2.5. Pertambahan Bobot Badan Anak
Pertambahan bobot badan anak adalah pertambahan bobot badan dari berat lahir sampai berat sapih yang mengalami kenaikan bobot badan babi dengan mengonsumsi air susu induk menyusui, sehingga terjadi konsumsi ransum meningkat pada induk menyusui dan perlukan zat-zat makanan yang berkualitas yang baik dari ransum untuk mencapai bobot badan yang maksimal.
Menurut Parakkasi (1983), semakin banyak anak yang menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk walaupun tidak harus menjamin kebutuhan optimum dari anak-anak tersebut. Kandungan air susu induk babi setelah 2 hari yaitu 7% lemak, 6,5% protein, dan 5% laktosa (Sihombing, 1997). Induk yang memiliki produksi susu tinggi akan menghasilkan anak dengan pertambahan bobot badan akan meningkat, karena produksi susu tertinggi pada minggu ke-3 setelah kelahiran. Pada umur 0-3 minggu tersebut adalah konsumsi terbanyak oleh anak-anak babi untuk pertumbuhannya sehingga pertambahan bobot badan anak akan baik. Anak babi disapih saat berumur 4-6 minggu bobot sapih anak babi berkisar antara 13-14 kg/ekor dengan penambahan bobot badan perhari berkisar antara 0,30-0,32 kg/ekor (Sihombing,1997).
III
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
3.1. Bahan Penelitian
3.1.1. Ternak Penelitian
Penelitian menggunakan 15 ekor ternak babi induk menyusui Landrace partus ke 2-3 dengan kisaran bobot badan ternak tersebut adalah 120-150 kg dan umurnya relatif sama koefesian
3.1.2. Bangun-bangun
Tepung bangun-bangun yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang, daun, ranting diperoleh dari Sumatra utara. Bangun-bangun dicacah dengan ukuran 1-2 cm, dilayukan, dikeringkan di bawah sinar matahari, kemudian digiling halus menjadi tepung, di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non Ruminansia dan Industrisi Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran
3.1.3. Kandang Penelitian
Kandang yang digunakan dalam penelitian adalah kandang individu berukuran panjang 5 m, lebar 4 m, tinggi 1 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum sebanyak 15 unit.
3.1.4. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
- Satu buah timbangan duduk berkapasitas 300 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg untuk menimbang babi.
- Satu buah timbangan biasa dengan kapasitas 5 kg dengan tingkat ketelitian 0,05 kg untuk menimbang pakan.
- Satu buah timbangan santurius dengan kapasitas 100 gram dengan tingkat ketelitian 0,2 gram untuk menimbang tepung bangun-bangun.
3.1.5. Ransum Penelitian
Bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian antara lain: tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, tepung ikan, tepung tulang, minyak kelapa, premix, tepung bangun-bangun. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada zat-zat makanan yang dianjurkan oleh National Research Council (NRC, 1998). Kandungan nutrien dan energi metabolis bahan pakan yang di gunakan dicantumkan pada Table 2. Adapun susun ransum basal yang gunakan pada penelitian ini di cantumkan.
Tabel 2. Kandungan Nutrien dan Energi Metabolis Bahan Pakan
Penyusun Ransum
| Bahan Pakan | EM |
PK |
SK |
Ca |
P |
|||||
| Jagung |
3420,00 |
10,50 |
2,00 |
0,21 |
0,31 |
|||||
| Dedak Padi |
2980,00 |
12,00 |
9,00 |
0,04 |
1,04 |
|||||
| T. ikan |
2856,20 |
48,67 |
0,01 |
6,32 |
2,95 |
|||||
| B. kelapa |
3698,00 |
16,25 |
19,92 |
0,05 |
0,60 |
|||||
| B. kedelai |
2550,00 |
47,00 |
5,00 |
0,24 |
0,81 |
|||||
| T.Bangun- bangun |
342,28 |
26,43 |
22,43 |
0,15 |
0,00 |
|||||
| T. tulang |
0,00 |
1,04 |
0,00 |
5,16 |
0,14 |
|||||
| Premix |
0,00 |
0,00 |
0,00 |
0,13 |
0,11 |
|||||
Keterangan : EM= Energi Metabolisme, PK= Protein Kasar, SK= Serat Kasar,
Ca= Kalsium, P= Posfor
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, IPB (2005)
| Tabel 3. Susunan Ransum Basal Babi Induk Menyusui (R0) | ||||||
|
No |
Bahan pakan |
Jumlah |
||||
| ………………….%…………………….. | ||||||
|
1 |
Tepung jagung |
48 |
||||
|
2 |
Dedak padi |
35 |
||||
|
3 |
Tepung ikan |
4,5 |
||||
|
4 |
Bungkil kedelai |
4 |
||||
|
5 |
Bungkil kelapa |
5 |
||||
|
6 |
Tepung tulang |
3 |
||||
|
7 |
Tepung Bangun-bangun |
0 |
||||
|
8 |
Premix |
|
0,5 |
|
||
| Jumlah |
100,00 |
|||||
| Sumber : Hasil perhitungan | ||||||
Ransum perlakuan yang di gunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
R0 = 100 % Ransum basal (tanpa tepung Bangun-bangun)
R1 = 97 % R0 ditambahkan 3 % tepung Bangun-bangun
R2 = 95 % R0 ditambahkan 5 % tepung Bangun-bangun
Kandungan Nutrien dengan Energi Metabolisme Ransum Perlakuan di tampilkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Kandungan Nutrien dan Energi Metabolis Ransum Perlakuan.
|
No |
Nutrien Energi Metabolis |
Ransum Perlakuan |
Kebutuhan menurut NRC, 1998 |
||
|
R0 |
R1 |
R2 |
|||
|
1 |
Protein Kasar (%) |
14,15 |
14,52 |
14,77 |
13-15 |
|
2 |
Calsium (%) |
0,77 |
0,70 |
0,73 |
0,75 |
|
3 |
Phosfor (%) |
0,62 |
0,66 |
0,62 |
0,60 |
|
4 |
Energi Metabolis (kkal/kg) |
3363,27 |
3342.04 |
3343,51 |
3265,00 |
Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 1 dan 2
3.2. Peubah yang Diamati
1. Konsumsi Ransum Induk (kg/hari)
Konsumsi ransum diketahui dengan cara jumlah ransum yang diberikan dikurangi sisa pada esok pagi harinya (24 jam).
Konsumsi ransum (kg/hari) =
Jumlah ransum yang berikan (kg/hari) – Sisa ransum (kg/hari)
2. Pertambahan bobot badan anak (kg/ekor)
Bobot badan di timbang 2 kali selama 45 hari, pertambahan bobot badan dihitung dengan rumus sebagai berikut :
PBB = Berat Sapih – Berat Lahir
Lama Sapih
3. Konversi Ransum
Konversi ransum yaitu jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut:
Konversi Ransum = Konsumsi ransum induk (kg)
Berat induk akhir – berat awal (kg)
3.3. Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan lima ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 15 ekor ternak babi induk.
Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie, 1989) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Yij = µ + αi + єij
Keterangan :
Yij = Nilai harapan dari perlakuan ke-i pada ulangan ke-j
µ = Nilai rataan umum
αi = Pengaruh ke i=1,2,3
Єij = Galat perlakuan ke-i pada ulangan ke-j=1,2,3,4,5
Asumsi :
- Nilai єij menyebar normal bebas satu sama lain.
- Nilai harapan єij = 0 atau Σ (єij) = 0
- Ragam dari єij = δ2 atau Σ (єij) = δ2 , єij ~ NID (0, δ2)
Sidik Ragam
Tabel 5. Daftar sidik ragam
| Sumber keragaman | dB | JK | KT | Fhit |
| Perlakuan | 2 | JKP | KTP | KTP/KTG |
| Galat | 3(5-1) | JKG | KTG | |
| Total | 14 | JKT | - | - |
Hipotesis
- H0 : R0=R1=R2 : Perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon.
- H1 : R0≠R1≠R2 : Paling sedikit ada sepasang perlakuan yang tidak sama.
Kaidah Keputusan :
- Bila Fhit < F 0,05: perlakuan tidak berbeda nyata (terima H0/tolak H1)
- Bila Fhit > F 0,05: perlakuan berbeda nyata (tolak H0/terima H1)
Apabila terdapat perbedaan yang nyata (Fhit > F α 0,05)
dengan uji Duncan dengan rumus :
LSRx = SSRxSx
Keterangan :
Sx : Simpangan Baku
R : Jumlah Ulangan
KTG : Kuadrat Tengah Galat
LSR : Least Significant Range
SSR : Student Significant Range
Kaidah keputusan :
Bila d ≤ LSR, tidak berbeda nyata
Bila d > LSR, berbeda nyata
d = Selisih antara dua rata-rata perlakuan
SSR = Standartized Siginficant Range
LSR = Least Significant Range
r = Range
3.4. Tahap-tahap Penelitian
- Persiapan kandang, sanitasi kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum dan peralatan. Setiap babi dimasukan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan yang sebelumnya dilakukan pemilihan perlakuan secara acak.
- Adaptasi babi terhadap kandang, perlakuan dan lingkungan yang baru selama satu minggu. Untuk adaptasi pakan dilakukan dengan cara memberikan pakan sebelumnya ditambah pakan penelitian sampai babi sudah dapat beradaptasi terhadap pakan peneltian.
- Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran ternak babi dan kotoran tersebut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dimandikan agar bersih dan nyaman babi. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali yaitu pada pukul 07.00, 12.00, dan 16.00 WIB, sedangkan sisa pakan ditimbang setiap pagi harinya untuk mengetahui besar konsumsi pakan.
- Penimbangan berat lahir anak dan bobot awal badan induk
- Penimbangan pada akhir penelitian menimbang pertambahan bobot badan anak dan induk
3.5. Tata Letak Kandang Penelitian
|
K1 B13 R1 |
K2 B3 R1 |
K3 B6 R0 |
K4 B4 R1 |
K5 B1 R1 |
K6 B15 R2 |
K7 B11 R0 |
|
K8 B5 R1
|
K9 B10 R2 |
K10 B8 R2 |
K11 B14 R0 |
K12 B7 R2 |
K13 B2 R0 |
K14 B12 R2 |
K15 B9 R0 |
Keterangan : Nomor Kandang = K1, K2, K3,…K15
Nomor Babi = B1, B2, B3,…B15
Ransum Perlakuan = R0, R1 dan R2
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Ransum
Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi induk menyusui dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rata-rata Konversi Ransum Induk Babi Menyusui.
|
Ulangan |
|
Perlakuan |
|
|
|
|
R0 |
R1 |
R2 |
|
|
1 |
-9,51 |
-10,25 |
-22,44 |
|
|
2 |
-8,38 |
-9,92 |
-14,53 |
|
|
3 |
-9,74 |
-23,38 |
-30,80 |
|
|
4 |
-7,95 |
-12,92 |
-15,25 |
|
|
5 |
-6,89 |
-8,66 |
-12,56 |
|
| Total |
-42,47 |
-65,14 |
-95,57 |
-203,18 |
| Rataan |
-8,49 |
-13,03 |
-19,11 |
-40,64 |
Keterangan :
R0 = Ransum basal (tanpa tepung bangun-bangun)
R1 = Ransum dengan pertambahan 3% tepung bangun-bangun
R2 = Ransum dengan pertambahan 5% tepung bangun-bangun
Catatan : tanda (-) menunjukan penurunan berat badan induk menyusui
Sebagai diperoleh nilai konversi (-), penurunan berat badan induk menyusui dapat di lihat pada lampiran 2.
Konversi ransum adalah jumlah ransum yang dikonsumsi untukan menghasilkan pertambahan berat badan atau kemampuan ternak mengubah makanan ke dalam bentuk bobot badan (Bogart, 1997).
Tabel 6 menunjukkan bahwa Pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui, diperoleh rataan konversi ransum babi induk menyusui masing-masing perlakuan adalah R0 (-8,49), R1 (-13,03) dan R2 ( -19,11). Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi induk menyusui maka dilakukan analisis sidik ragam hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
Hasil analisis statistik Lampiran 3 menunjukkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum induk babi menyusui berpengaruh nyata terhadap (P<0,05) konversi ransum. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan, dilakukan uji Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil Uji Duncan Pengaruh Perlakuan Tepung Bangun-bangun Terhadap Konversi Ransum Induk Menyusui
|
Perlakuan |
Konversi Ransum |
Signifikansi (α, 0,05) |
|
|
||
|
R0 |
-8,49 |
a |
|
R1 |
-13,03 |
ab |
|
R2 |
-19,11 |
b |
Tabel 7 menunjukan bahwa perlakuan R2 (5% tepung bangun-bangun) nyata (P<0,05) lebih rendah nilai konversi ransumnya, di bandingankan perlakuan R0 (0% tepung bangun-bangun) pada babi induk menyusui. Adapun antara perlakuan R2 (5% tepung bangun-bangun) dengan R1 (3% tepung bangun-bangun) dan antara perlakuan R1 (3% tepung bangun-bangun) dengan R0 (0% tepung bangun-bangun) tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata (P>0,05), terhadap nilai konversi ransum babi induk menyusui. Konversi ransum efesien karena terjadi bobot sama untuk menghasilkan satuan bobot badan induk babi menyusui, maka pengaruh tepung bangun-bangun paling baik pertumbuhan anak, Wening (2007). Konversi ransum induk babi menyusui terjadi penurun bobot badan, dengan pemberian tepung bangun-bangun sebesar 3% dan 5% dapat menekan penurunan bobot induk babi menyusui dengan nilai konversi sebesar R1 (-13,03) dan R2 (-19,11). Konversi ransum induk babi menyusui terjadi penurunan bobot badan karena di pengaruhi jumlah anak babi mengkonsumsi susu Sihombing (1997), Siagian (1999).
Pemberian tepung bangun-bangun 5% dengan nilai konversi yang lebih rendah dibandingkan 3% hal tersebut disebabkan jumlah tepung bangun-bangun yang diberikan sesuai dengan tingkat kesukaan dan kebutuhan induk babi menyusui.
Ternak babi yang mengkonsumsi tepung bangun-bangun mempunyai nilai konversi ransum yang lebih baik dibandingkan dengan ternak babi yang tidak mengkonsumsi tepung bangun-bangun. Hal ini disebabkan oleh kandungan nutrient (protein, mineral dan vitamin) serta senyawa carvacrol yang terkandung dalam tepung bangun-bangun yang berfungsi sebagai suplemen, meningkatkan palatabilitas dan nafsu makan. Pemberian tepung bangun-bangun dapat meningkatkan konsumsi ransum dan memperbaiki nilai konversi ransum babi induk menyusui sesuai dengan pendapat Gunter dan Bossow (1998) serta Khajarern (2002) yang menyatakan bahwa tepung bangun-bangun dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertumbuhan bobot badan dan efisiensi penggunaan zat makanan pada induk babi menyusui.
4.2. Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan
Anak
Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan anak dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Pertambahan Bobot Badan Anak
|
Ulangan |
|
Perlakuan |
|
|
|
|
R0 |
R1 |
R2 |
|
| …………………………kg/ekor/hari………………………… | ||||
|
1 |
0,29 |
0,31 |
0,35 |
|
|
2 |
0,29 |
0,32 |
0,36 |
|
|
3 |
0,29 |
0,32 |
0,36 |
|
|
4 |
0,30 |
0,34 |
0,37 |
|
|
5 |
0,29 |
0,32 |
0,36 |
|
| Total |
1,17 |
1,62 |
1,80 |
4,59 |
| Rataan |
0,29 |
0,32 |
0,36 |
0,33 |
Keterangan :
R0 = Ransum basal (tanpa tepung bangun-bangun)
R1 = Ransum dengan penambahan 3% tepung bangun-bangun
R2 = Ransum dengan penambahan 5% tepung bangun-bangun
Rataan pertambahan bobot badan anak yang dihasilkan secara keseluruhan adalah 0,33 kg/ekor/perhari, pertambahan bobot badan tersebut sesuai dengan Sihombing (1997) sekitar 0,30-0,32 kg/ ekor/hari, dengan umur penyapihan antara 6 minggu. Rata-rata pertambahan bobot badan anak akibat pemberian tepung bangun-bangun pada induk menyusui dari yang terendah ke tertinggi adalah R0 (0,29 kg/ekor/hari), R1 (0,32 kg/ekor/hari) dan R2 (0,36 kg/ekor/hari). Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan anak, maka dilakukan analisis sidik ragam dan hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 5.
Hasil analisis statistik (Lampiran 5) menujukkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum induk babi menyusui berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan anak. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan antar perlakuan dilakukan Uji Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Hasil Uji Duncan Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan Anak.
|
Perlakuan |
Pertambahan Bobot Badan Anak |
Signifikansi (α, 0,05) |
|
|
———-(kg/ekor/hari)——— |
|
|
R0 |
0,29 |
a |
|
R1 |
0,32 |
b |
|
R2 |
0,36 |
c |
Tabel 9 menunjukkan bahwa perlakuan R1 (3% tepung bangun-bangun) dan R2 (5% tepung bangun-bangun) nyata (P>0,05) meningkatkan pertambahan bobot badan anak, dibandingkan R0 (0% tepung bangun-bangun). Pemberian tepung bangun-bangun 5% menunjukkan peningkatan pertambahan bobot badan anak lebih tinggi dibandingkan pemberian 3%. Hal tersebut disebabkan jumlah tepung bangun-bangun yang diberikan lebih tinggi sehingga precursor pembentukan susu dalam tubuh induk lebih tinggi. Pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak sesuai pendapat dengan Damanik (2006) yang menyatakan bahwa tepung bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkomsumsi bangun-bangun karena daun tersebut dapat meningkatkan produksi air susu ibu, dan hal ini juga terjadi pada ternak babi.
Babi yang mengkonsumsi tepung bangun-bangun mempunyai pertambahan bobot badan anak yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengkonsumsi. Hal ini disebabkan oleh senyawa lactagogue yang terkandung dalam tepung bangun-bangun yang mampu meningkatkan sekresi air susu dalam ambing sehingga menghasilkan produksi susu yang tinggi. Lawrence dkk (2005), mengatakan senyawa lactogogue terdiri dari beberapa komponen yang apabila bekerja bersama-sama dalam tubuh akan memacu produksi air susu ibu (ASI), meningkatkan fungsi pencernaan dan meningkatkan pertumbuhan bobot badan, beberapa senyawa tersebut adalah 3,4-dimethyl-2-oxocyclopent-3-enylacetic acid, monomethyl succinate, phenylmalonic acid, cyclopentanol, 2-methyl acetate dan methylpyro, glutamate, senyawa sterol, steroid, asam lemak, asam organik. Adanya komponen tersebut dalam bangun-bangun dapat merangsang hormon yang terdapat dalam tubuh untuk memproduksi susu yang banyak sehingga kebutuhan anak dapat tercukupi ditunjukkan dengan pertambahan bobot badan yang tinggi. Pemberian tepung bangun-bangun terbaik bagi induk babi menyusui adalah sebesar 5% dalam ransum.
V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun sebesar 5% dalam ransum babi dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa :
Tepung bangun-bangun dapat digunakan sebagai feed suplement untuk memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak, dengan penggunaan sebesar 5% dalam ransum. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pemberian ekstrak bangun-bangun dalam ransum babi menyusui terhadap konversi ransum induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Bogart, R.1977.Scientific Farm Animal Production. Burges Publishing Co. Minneapolis, Minessota.
Church, D. C. 1979. Factor Affecting Feed Consumption. In : D.C. Church.
Livestock Feed and Feeding. Durham and Downey. Inc.Pp 136-139.
Clawson, A. j., T.N. Blumer, W. W. G. Smart, Jr and E. R. Barrick. 1962. Influence of energy-protein ratio on performance and carcass charachteristics of swine. J. Anim. Sci. 21 : 62
Campbell,J.R. and J.F. 1985, The Science of Animal that Served Mankind. 3th ed. Tata Mc Graw. Hill Publishing Company Limited. New Delhi. Pp 390-392
Cole. H. and Ronning. 1974. Animal Agriculture. W. H. Freeman and Company San Fransisco.
Damanik, R, Damanik, N, Daulay Z, Saragih S, R. Premier, and. Wattanapenpaibon, Wahlgvist ML. 2001. Comsumption of bangun-bangun leaves (Coleus ambonicius lour) to increase breast milk production among bataknesse women in North Sumatra Island, Indonesia. APJCN; 10 (4): S67
Damanik, R, Damanik, Wahlgvist ML and Wattanapenpaibon. 2006. Lactagogue effects of Bangun-bangun, a Bataknese traditional cuisine. APJCN; 15 (2): 267-274.
Duke. 2000. Duke’s Contituens and Ethnobotanical Database. Phytochemical database, USDA – ARS – NGRL. http ://www.ars – grin.gov/cgi – bin/ duke/ farmcy – sc ro||3.p|
Goodwin, D.H. 1977. Pig Management and Production. Hutchinson, Edition, London. Page 19-20
Gunter KD, Bossow H. The effect of etheric oil Origanum vulgaris (Ropadiar) in the feed ration of weaned pigs on their daily feed intake daily gains and food utilization (abstract). Proc 15th int Pig Vet Soc Congr, Birminghan. 223.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid I. Diterjemahkan oleh Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Yayasan Sarana Jaya, Jakarta
Parakkasi, A., 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit Angkasa, Bandung.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia, Indonesia.
Sosroamidjojo. M.S. 1997. Ternak Potong dan Kerja. Penerbit C.V. Yasa Guna Jakarta. Hal 30-35
Sihombing,. D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Institut Pertanian Bogor.
Siagian, P. H. 1999. Manajemen ternak Babi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Silitonga, M. 1993. Efek laktakogum daun jinten (Coleus amboinicuc L.) pada tikus laktasi. Tesis. Program pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor
Steel, R.G.D. dan J. H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika (Terjemahan). Cetakan kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Tiurlan, F. H, Irma, S, Rienoviar, Dede. A, Meity, S. 2000. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Favanoid dan Alkaloid dari Herba Bangun-bangun (Coleus ambonicus Lour) dan Katuk (Suropus Andrigynus Merr). Laporan Penelitian. BBIA. Bogor
Najuan. A. 2002. Evaluasi Berbagai Bahan Pakan Daerah Sulawesi Utara untuk Penggemukan Babi. Disertasi UNPAD. Bandung.
National Research Council. 1998. Nutrisi Reguiment of Swine, National Academy Press, Washington, D.C.
Khajarern, J. The efficacy of origanum essential oils in sow feed. Int Pig Topics. 2002; 17: 17.
Lawrence, D., R., and Bacharach, A., L., 1946, Evaluation of Drug Activities, Academic Press, London
Vasquez E. A., W. Kraus, A. D. Solsoloy, and B.M. Rejesus. 2000. The uses of species and medicinal: antifungal, antibacterial, anthelmintic, and molluscicidal constituents of Philippine plant, http: //www.fao;org/ x2230e/x2230e8
Wahyu. J., 1985 dan D. Supanji. 1969. Pedoman Berternak Babi. Direktorat Peternakan Rakyat. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta. Hal. 5-7
Weaning, W. 2007. Penambahan Daun Torbangun (Coleus amboinicus lour) Dalam Ransum Pengaruhnya terhadap Sifat Reproduksi dan Produksi Air Susu Mencit Putih (Mus Musculus Albinus). Skripsi. Jurusan Ilmu Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor
October 1, 2011
|
Posted by saulandsinaga
Categories: