Posts belonging to Category Ransum Babi



TEPUNG BANGUN-BANGUN

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG BANGUN-BANGUN

(Coleus amboinicus. L)  PADA RANSUM BABI TERHADAP

KONVERSI RANSUM INDUK MENYUSUI DAN

PERTAMBAHAN  BOBOT BADAN ANAK

 

 

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG  BANGUN-BANGUN

 (Coleus amboinicus. L) PADA RANSUM BABI TERHADAP

KONVERSI RANSUM INDUK MENYUSUI DAN

PERTAMBAHAN BOBOT BADAN ANAK

 

Sauland Sinaga dan Angga Perdana

 

 

ABSTRAK

 

Penelitian ini telah dilaksanakan di Peternakan yang berlokasi di desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada Bulan November – Desember 2010. Tujuan penelitian adalah untuk  mendapatkan tingkat penggunaan tepung bangun-bangun yang dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak. Lima belas ekor ternak babi menyusui dengan berat badan berkisar 125-150 kg dialokasikan ke dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ransum perlakuan dan diulang sebanyak 5 kali. Kombinasi ransum perlakuan terdiri atas : R0 (ransum yang mengandung 0% tepung bangun-bangun), R1 (ransum yang mengandung 3% tepung bangun-bangun), dan R2 (ransum yang mengandung 5% tepung bangun-bangun). Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan tepung bangun-bangun (R2) sebesar 5% pada ransum menghasilkan nilai konversi ransum induk menyusui terendah dan pertambahan bobot badan anak tertinggi

 

Kata kunci : Tepung bangun-bangun, Babi Induk menyusui, anak babi,  konversi ransum,  pertambahan bobot badan 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

THE EFFECT OF COLEUS AMBOINICUS. L FLOUR GIVING IN THE PIG FEED THE RATION CONVERSION OF SOW AND BODY WEIGHT GAIN OF PIGLET.

 

 

ANGGA PERDANA

 

ABSTRACT

 

 

            This research has been done in the  animal husbandry  of Cigugur, Kuningan , Jawa Barat  November  1 – December 16, 2010 with intention of knowing the level of Coleus amboinicus. L giving and the effect of Coleus amboinicus. L flour giving towards the weight gain of piglet. Fifteen sows with weight around 125-150 kg each have been allocated into the Complete Random Design three treatment rations and have been repeated five times. The combination of treatment ration consists of R0 (Ration with 0% of Coleus amboinicus. L flour), R1 (ration with 3% of Coleus amboinicus. L flour), R3 (ration with 5% of Coleus amboinicus. L flour). Based on the result of the research, it can be concluded that the giving of Coleus amboinicus. L flour in the amount of 5% gives effect forwards the weight gain of piglet and the ration conversion.

 

 

Key words :  Coleus ambonicus L flour, Conversion Ration Sow,

Sow During Lactation, Weight Gain of Piglet

 

 

PENDAHULUAN

 

1.1.     Latar Belakang

Babi merupakan salah komoditas ternak yang memiliki pontesi besar untuk dikembangkan, selain itu babi merupakan salah satu sumber penghasilan daging diantara jenis ternak lainya. Hal ini didasarkan pada karakteristik babi yang meliki persentase karkas, mencapai 65%–80% peridi (prolific) satu kali beranak bisa 6-12 ekor dan setiap induk bisa beranak 2,5 kali di dalam setahun.

 Induk babi harus mendapatkan pakan dengan kualitas baik, hal ini diperlukan untuk produksi air susu mengingat litter size yang sangat tinggi. Faktor yang dapat menentukan keberhasilan peternakan babi adalah ransum yang diberikan harus mengandung zat-zat makanan yang seimbang dan sesuai kebutuhan ternak. Induk babi saat laktasi menghasilkan sekitar 7 kg air susu perhari. Babi bunting selama 114 hari masa bunting, akibatnya  kebutuhan zat-zat makanan induk laktasi jelas lebih tinggi dibandingkan kebutuhan induk bunting.

 

Bangun-bangun adalah tanaman menjalar, memiliki daun tunggal berwarna hijau, berkayu lunak, beruas-ruas, berpenampang bulat, dengan diameter pangkal sekitar ± 15 mm, tengah 10 mm dan ujung ± 5 mm.  Di beberapa daerah, bangun-bangun dikenal dengan nama Sunda (acerang), Bali (iwak). Bangun-bangun  lebih tipis, bulu dan  kandungan  protein daun 6,20%, batang 5,12%, ranting 3,98%.

Bangun-bangun diharapkan dapat meningkatkan konsumsi dan konversi ransum lebih baik, serta pertumbuhan bobot badan  anak lebih meningkat.  Bangun-bangun adalah tanaman yang tumbuh liar di dataran rendah  sampai pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut. Daun ini bermanfaat sebagai obat sariawan, batuk rejan, influenza, demam, perut kembung, mulas, sembelit, bahkan sebagai anti tumor, anti kanker, anti vertigo, dan hipotensif,  asthma dan bronchitis. Menurut tradisi masyarakat Batak di Propinsi Sumetera Utara, Bangun-bangun atau Torbangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya mampu meningkatkan produksi susu ibu yang sedang  menyusui.

Bangun-bangun mempunyai komponen penting yaitu, senyawa-senyawa yang bersifat laktagogue, dapat menstimulir produksi kelenjar air susu pada induk laktasi, yaitu senyawa-senyawa yang bersifat buffer, antibacterial, anti oksidan,  pelumas, pelentur, pewarna dan penstabil. Produksi susu yang tinggi dapat ditandai dengan konsumsi ransum yang tinggi dan memperbaiki nilai konversi ransum karena absorbsi nutrient yang tinggi. Produksi susu yang tinggi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulisan terdorong untuk melakukan penelitian tentang” Pengaruh Pemberian Tepung Bangun-bangun (Coleus ambonicus Lour) pada Ransum Babi terhadap Konversi Ransum Induk Menyusui dan Pertambahan Bobot Badan Anak

 

1.2.           Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat   diidentifikasi masalah sebagai berikut :

  1. Berapa besar pengaruh pemberian tepung bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi terhadap konversi ransum Induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak
  2. Pada tingkat berapa persen pemberian tepung bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi  dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.3.           Maksud dan Tujuan

  1. Mengetahui pengaruh pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus. L) pada ransum babi terhadap konversi induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.
  2. Mendapatkan tingkat pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus L) pada ransum babi yang dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.4.           Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi peternak dan peneliti dalam kemajuan dunia peternakan, mengenai pengaruh pemberian tepung Bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) pada ransum Babi terhadap konversi ransum induk menyusui  dan pertambahan bobot badan anak.  

 

 

 

 

 

 

1.5.           Kerangka Pemikiran

Konversi ransum adalah pertambahan bobot badan yang dihasilkan setiap satu ransum yang dikonsumsi. Faktor utama yang mempengaruhi konversi ransum adalah konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, kandungan nutrisi didalam ransum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh ternak jika proses percernaan dengan baik. Kemampuan ternak mengubah makanan ke dalam bentuk pertambahan bobot badan hal ini dapat dinyatakan sebagai jumlah kenaikan bobot badan (Bogart,1977). 

Ransum yang sempurna untuk induk yang sedang bunting harus menyediakan zat-zat makanan secara simultan dan digunakan untuk hidup pokok, mensuplai energi untuk proses hidup. Perkembangan calon anak yang sedang dikandung oleh induk adalah dengan menyimpan suatu cadangan zat-zat makanan. Bangun-bangun selain berdaya antiseptika ternyata mempunyai aktivitas tinggi melawan infeksi cacing (Vasquez dkk 2000). Senyawa aktif minyak atsiri phythocemical database Duke (2000), melaporkan bahwa dalam Bangun-bangun ini terdapat juga kandungan vitamin C, B1, B12, senyawa aktif  thymol, betacaroten, niacin, carvarol, kalsium, asam – asam lemak, asam oksalat dan serat.

Bangun–bangun juga mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri, menimbulkan rasa tenang dan menciutkan selaput lendir,  hewan yang mengalami setres panas membutuhkan tambahan 1 % kalium untuk mencegah hilangnya nafsu makan, menurunkan sekresi air susu dan pertambahan bobot badan. Bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkomsumsi daun Bangun-bangun dapat meningkatkan produksi air susu ibu (Damanik,2006). Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya penigkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya DNA dan RNA kelenjar mamamae. Peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya konsentrasi T4 dan glukosa serum (Silitonga, 1993).

Hasil pengamatan terhadap anak tikus yang sedang menyusui diperoleh bahwa pemberian tepung Bangun-bangun sebesar 5% dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak  (Tiurlan, 2008). Sebelumnya Weaning (2007) mengatakan bahwa pemberian 5% tepung Bangun- bangun pada hari ke- 14 umur kebuntingan meningkatkan produksi air susu dan konsumsi ransum juga memperbaiki nilai konversi ransum.

Berdasarkan uraian di atas maka didapat hipotesis, pemberian tepung Bangun-bangun sebesar 5% pada ransum dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

1.6.           Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian telah dilaksanakan dari tanggal 1 November sampai dengan  16 Desember 2010 di Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.      Deskripsi Ternak Babi

            Babi merupakan ternak monogastrik yang mempunyai kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien. Ternak babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan prolifik yakni banyak anak perkelahiran berkisar 8-12 ekor dengan rata-rata 2 kali kelahiran per tahunnya.

            Menurut Sosroamidjojo (1977), babi asli Indonesia berasal dari babi hutan yang sampai sekarang masih terdapat hidup liar dihutan, dan babi ini terkenal dengan nama Celeng (Sus verrucosus), beberapa babi Indonesia yang terkenal di pasaran antara lain misalnya babi Nias, babi Tangerang, babi Karawang, babi Bali dan babi Sumba (Wahju dan Supanji, 1969).

            Klasifikasi zoologis babi adalah sebagai berikut:

                        Phylum           : Chordata

Class               : Mamalia

                        Ordo               : Ortiodactyla

                        Genus             : Sus

                        Family            : Suidae

                        Spesies           : Sus scrofa

 

2.2.      Tanaman Bangun-bangun

            Daun torbangun (Coleus amboinicus Lour) merupakan salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai ramuan tradisional di Indonesia. Tanaman Torbangun ini tumbuh liar didataran rendah dan tempat lain sampai pada ketinggian 1100 m di atas permukaan laut. Tanaman ini bermanfaat sebagai obat sariawan, batuk, rejan, influenza, demam, perut kembung, mulas, sembelit bahkan sebagai anti tumor, anti kanker, anti vertigo dan hipotensif. Menurut tradisi masyarakat Batak di Propinsi Sumatera Utara, daun Torbangun (Coleus amboinicus Lour) dipercaya mampu meningkatkan produksi susu ibu yang sedang menyusui (Damanik dkk, 2001).

            Daun torbangun adalah jenis tanaman herba, yang telah lama dikenal di beberapa daerah di Indonesia, terutama di daerah Sumatera, khususnya masyarakat batak. Tanaman torbangun memiliki ciri fisik batang berkayu lunak, beruas-ruas dan berbentuk bulat, diameter pangkal ± 15 mm, tengah 10 mm dan ujung ± 5 mm. Tanaman torbangun jarang berbunga akan tetapi pengembang biakannya mudah sekali dilakukan dengan stek dan cepat berakar didalam tanah. Di pot pun tanaman ini dapat tumbuh dengan baik (Heyne, 1987). Pada keadaan segar, helaian daun tebal, berwarna hijau muda, kedua permukaan berbulu halus dan berwarna putih, sangat berdaging dan berair, tulang daun bercabang-cabang dan menonjol. Pada keadaan kering helaian daun tipis dan sangat berkerut, permukaan atas kasar, warna coklat, permukaan bawah berwarna lebih muda daripada permukaan atas dan tulang daun kurang menonjol.

 

Gambar 1. Tanaman Torbangun

Taksonomi tanaman bangun-bangun diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom        : Plantae

Divisi                         : Phanerogamae

Subdivisi       : Spermatophyta

Class               : Angiospermae

Family            : Limiaceae (Labialae)

Sub Family    : Oscimoidae

Genus             : Coleus

Spesies           : Coleus amboinicus Lour

Menurut Damanik dkk (2006), daun torbangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkonsumsi daun Torbangun karena daun ini dapat meningkatkan produksi air susu ibu. Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya peningkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya sekresi air susu, peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya kadar glukosa serum (Silitonga, 1993). Daun torbangun mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri dan menimbulkan rasa tenang sehingga sekresi susu menjadi lancar. Kandungan nutrien bangun-bangun di sajikan pada Tabel 1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Kandungan Nutrien Tanaman Bangun-bangun

 

No.

Nutrien

Daun

Batang

Ranting

1

Air (%)

8,14

13,46

8,04

2

Lemak (%)

0,87

0,61

0,53

3

Protein (%)

6,20

5,12

3,98

4

Karbohidrat (%)

81,83

74,69

80,37

5

Energi (KKal)

359,95

324,73

342,17

6

Zn (ppm)

2,14

5,16

0,82

7

Fe (mg/100 g)

3,28

3,95

2,01

8

K (mg/100 g)

292,17

165,21

119,47

9

Ca (%)

0,23

0.118

0,10

10

Mg (%)

0,06

0,045

0,02

11

Vitamin A (IU/100g)

11335,77

-

-

12

Viatamin C (mg/100g)

168,41

-

-

Sumber: Balai Besar Industri Agro (BBIA), Bogor (2008)

 

 

 

 

 

 

2.3.      Konsumsi Ransum

            Ransum adalah makanan yang diberikan pada ternak tertentu selama 24 jam,  pemberiannya dapat dilakukan sekali atau beberapa kali selama 24 jam tersebut. Ransum sempurna adalah kombinasi beberapa bahan makanan yang bila dikonsumsi secara normal dapat mensuplai zat-zat makanan kepada  ternak dalam perbandingan jumlah, bentuk, sedemikian rupa sehingga fungsi-fungsi fisiologis dalam tubuh berjalan secara normal (Parakkasi,1990).

Crurch (1979) mengatakan faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi makanan adalah palatabilitas yang dipengaruhi oleh bau, rasa, tekstur, suhu dan beberapa faktor lain seperti suhu lingkungan, kesehatan ternak, stress, dan bentuk fisik makanan. Clawson, dkk (1962) mengatakan konsumsi ransum dipengaruhi oleh keseimbangan protein-energi dalam ransum dan konsumsi ransum cenderung meningkat bila kandungan energi menurun.

             Induk menyusui dapat mengkonsumsi makanan 3-5 kilogram setiap hari. Induk menyusui membutuhkan makanan yang kebih banyak. Kebutuhan zat-zat makanan untuk produksi air susu ternak adalah salah satu kebutuhan yang tinggi dalam usaha peternakan. Kebutuhan ternak tersebut meningkat karena disamping untuk memenuhi kebutuhan tubuh ternak itu sendiri, zat-zat tersebut juga digunakan untuk menyusun air susu yang dihasilkan.

 

2.4.                   Konversi Ransum

Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untukan menghasilkan 1kg pertambahan badan atau kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk bobot badan  (Bogart, 1997), sehingga angka konversi ransum tergantung pada banyaknya ransum yang dikonsumsi serta perubahaan atau kenaikan bobot badan yang dihasilkan. Semakin tinggi konsumsi ransum belum tentu akan memperbaiki angka konversi ransum apabila tidak diikuti dengan pertamabahan bobot badan.

Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian semakin rendah makin rendah angka konversi makin efisien dalam pengunaan ransum. Hal ini dapat dinyatakan sebagai jumlah kenaikan bobot badan yang di hasilkan dari satu satuan makanan yang persatuan bobot badan. Perbandingan tersebut bervariasi dalam hubungannya terhadap sejumalah factor, umur ternak , bangsa, daya produksi, (Campbell dan Lasley, 1985).

 

 

Konversi ransum dapat digunakan sebagai peubah untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang baik (Bogart, 1997). Sihombing (1997) mengemukan bahwa nilai konversi dari dari seekor ternak erat hubungannya dengan tujuan seleksi guna mendapatkan ternak yang ekonomis. Menurut Cole dan Ronning, (1974) pada disertasi Najoan, (2002) menyatakan bahwa konversi ransum akan menurun dengan bertambahan besarnya babi dan variasi akan terjadi diantara bangsa-bangsa babi. Besar konversi pakan terhadap ransum pada babi grower ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan 3,5 kg ransum (Goodwin, D.H. 1974).  Untuk konversi ransum induk menyusui pada babi lebih tinggi kebutuhan ransum sesuai dengan jumlah anak yang menyusui hal ini dapat di konversi ransum dengan pertambahan bobot badan anak semakin baik, untuk babi menyusui butuh konsumsi ransum 4 kg – 6 kg perharian untuk menanghasil susu 7-8 liter perharian, hal ini dapat dilihat bobot badan induk akan menurun untuk menayusui anak (Sihombing,1997).

 

 

 

     2.5.     Pertambahan Bobot Badan Anak

             Pertambahan bobot badan anak adalah pertambahan bobot badan dari berat lahir sampai berat sapih yang mengalami kenaikan bobot badan babi dengan mengonsumsi air susu induk menyusui, sehingga terjadi konsumsi ransum meningkat  pada induk menyusui dan perlukan zat-zat makanan yang berkualitas yang baik dari ransum untuk mencapai bobot badan yang maksimal.

            Menurut Parakkasi (1983), semakin banyak anak yang menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk walaupun tidak harus menjamin kebutuhan optimum dari anak-anak tersebut. Kandungan air susu induk babi setelah 2 hari yaitu 7% lemak, 6,5% protein, dan 5% laktosa (Sihombing, 1997). Induk yang memiliki produksi susu tinggi akan menghasilkan anak dengan pertambahan bobot badan akan meningkat, karena produksi susu tertinggi pada minggu ke-3 setelah kelahiran. Pada umur 0-3 minggu tersebut adalah konsumsi terbanyak oleh anak-anak babi untuk pertumbuhannya sehingga pertambahan bobot badan anak akan baik. Anak babi disapih saat berumur 4-6 minggu bobot sapih anak babi berkisar antara 13-14 kg/ekor dengan penambahan bobot badan perhari berkisar antara 0,30-0,32 kg/ekor (Sihombing,1997).

 

 

III

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

3.1.      Bahan Penelitian

3.1.1. Ternak Penelitian

Penelitian menggunakan 15 ekor ternak babi induk menyusui Landrace  partus ke 2-3 dengan kisaran bobot badan ternak tersebut adalah 120-150 kg dan umurnya relatif sama koefesian

 

3.1.2. Bangun-bangun

Tepung bangun-bangun yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang, daun, ranting diperoleh dari Sumatra utara. Bangun-bangun dicacah dengan ukuran 1-2 cm, dilayukan, dikeringkan di bawah sinar matahari, kemudian digiling halus menjadi tepung, di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non Ruminansia dan Industrisi Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

 

 

 

 

 

3.1.3. Kandang Penelitian

Kandang  yang digunakan dalam penelitian adalah kandang individu  berukuran panjang 5 m, lebar 4 m, tinggi 1 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi  dengan  tempat pakan dan minum sebanyak 15 unit.

 

 3.1.4. Peralatan                                   

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Satu buah timbangan duduk berkapasitas 300 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg untuk menimbang babi.
  2. Satu buah timbangan biasa dengan kapasitas 5 kg dengan tingkat ketelitian 0,05 kg untuk menimbang pakan.
  3. Satu buah timbangan santurius dengan kapasitas 100 gram dengan tingkat ketelitian 0,2 gram untuk menimbang tepung bangun-bangun.

 

 

 

 

 

3.1.5.              Ransum Penelitian

Bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum penelitian antara lain: tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, tepung ikan, tepung tulang, minyak kelapa, premix, tepung bangun-bangun. Penyusunan  ransum dilakukan berdasarkan pada zat-zat makanan yang dianjurkan oleh National Research Council (NRC, 1998). Kandungan nutrien dan energi metabolis bahan pakan yang di gunakan dicantumkan pada Table 2. Adapun susun ransum basal yang gunakan pada penelitian ini di cantumkan.

Tabel 2. Kandungan Nutrien dan Energi Metabolis Bahan Pakan

               Penyusun Ransum

Bahan Pakan    EM

         PK

       SK

     Ca

         P

Jagung

3420,00

10,50

2,00

0,21

0,31

 
Dedak Padi

2980,00

12,00

9,00

0,04

1,04

 
T. ikan

2856,20

48,67

0,01

6,32

2,95

 
B. kelapa

3698,00

16,25

19,92

0,05

0,60

 
B. kedelai

2550,00

47,00

5,00

0,24

0,81

 
T.Bangun-  bangun

342,28

26,43

22,43

0,15

0,00

 
T. tulang

0,00

1,04

0,00

5,16

0,14

 
Premix

0,00

0,00

0,00

0,13

0,11

 
                     

Keterangan : EM= Energi Metabolisme, PK= Protein Kasar, SK= Serat Kasar,

                        Ca= Kalsium, P= Posfor

Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, IPB (2005) 

 

 

Tabel 3. Susunan Ransum Basal Babi Induk Menyusui (R0)

No

Bahan pakan

          Jumlah

   
             
    ………………….%……………………..

1

Tepung jagung  

48

 

2

Dedak padi  

35

 

3

Tepung ikan  

4,5

 

4

Bungkil kedelai  

4

 

5

Bungkil kelapa  

5

 

6

Tepung tulang  

3

 

7

Tepung Bangun-bangun  

0

 

8

Premix

 

0,5

 

  Jumlah  

     100,00

 
             
Sumber : Hasil perhitungan        

                Ransum perlakuan yang di gunakan dalam penelitian ini

 adalah sebagai berikut :

            R0 = 100 % Ransum basal (tanpa tepung Bangun-bangun)

            R1 =  97 % R0 ditambahkan 3 % tepung Bangun-bangun

           R2 =  95 % R0 ditambahkan 5 % tepung Bangun-bangun

 

 

 

 

Kandungan Nutrien dengan Energi Metabolisme Ransum Perlakuan di tampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan  Nutrien dan Energi Metabolis Ransum Perlakuan.

No

Nutrien

Energi Metabolis

Ransum Perlakuan

Kebutuhan menurut

  NRC, 1998

   

R0

R1

R2

1

Protein Kasar (%)

14,15

14,52

14,77

13-15

2

Calsium (%)

0,77

0,70

0,73

0,75

3

Phosfor (%)

0,62

0,66

0,62

0,60

4

Energi Metabolis (kkal/kg)

3363,27

3342.04

3343,51

3265,00

Sumber : Hasil Perhitungan Tabel 1 dan 2

3.2.      Peubah yang Diamati

1. Konsumsi Ransum Induk (kg/hari)

Konsumsi ransum diketahui dengan cara jumlah ransum yang diberikan dikurangi sisa pada esok pagi harinya  (24 jam).

Konsumsi ransum (kg/hari) =

Jumlah ransum yang berikan (kg/hari) – Sisa ransum (kg/hari)

 

2. Pertambahan bobot badan anak (kg/ekor)

Bobot badan di timbang 2 kali selama 45 hari, pertambahan bobot badan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

PBB = Berat Sapih – Berat Lahir

 Lama Sapih

 

3. Konversi Ransum  

Konversi ransum yaitu jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut:

Konversi Ransum = Konsumsi ransum  induk (kg)

           Berat induk akhir  –  berat awal (kg)

 

 3.3.    Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan lima ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 15 ekor ternak babi induk.

Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie, 1989) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Yij     =  µ + αi + єij

Keterangan : 

Yij      =  Nilai harapan dari perlakuan ke-i pada ulangan ke-j

µ       =  Nilai rataan umum

αi        =  Pengaruh ke i=1,2,3

Єij      =  Galat perlakuan ke-i pada ulangan ke-j=1,2,3,4,5

Asumsi :

  1. Nilai єij menyebar normal bebas satu sama lain.
  2. Nilai harapan єij = 0 atau Σ ij) = 0
  3. Ragam dari єij = δ2 atau Σ (єij) = δ2 ,       єij  ~  NID (0, δ2)

Sidik Ragam

Tabel 5. Daftar sidik ragam

 

Sumber keragaman dB JK KT Fhit
Perlakuan      2 JKP KTP KTP/KTG
Galat 3(5-1) JKG KTG  
Total 14 JKT - -

 

Hipotesis

  1. H0  : R0=R1=R2 : Perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon.
  2. ­­­H1 : R0≠R1≠R2  : Paling sedikit ada sepasang perlakuan yang tidak sama.

Kaidah Keputusan :

  1. Bila Fhit < F 0,05: perlakuan tidak berbeda nyata (terima H0/tolak H1)
  2. Bila Fhit > F 0,05: perlakuan berbeda nyata (tolak H0/terima H1)

Apabila terdapat perbedaan yang nyata (Fhit > F α 0,05)

dengan uji Duncan dengan rumus :          

 

LSRx      =          SSRxSx

Keterangan    :          

Sx           : Simpangan Baku

R         : Jumlah Ulangan

KTG    : Kuadrat Tengah Galat

LSR     : Least Significant Range

SSR     : Student Significant Range

Kaidah keputusan :

Bila d ≤ LSR, tidak berbeda nyata             

            Bila d > LSR, berbeda nyata

            d = Selisih antara dua rata-rata perlakuan

SSR     = Standartized Siginficant Range

LSR     = Least Significant Range

r           = Range

 

 

 

 

 

 

 

3.4. Tahap-tahap Penelitian

  1. Persiapan kandang, sanitasi kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum dan peralatan. Setiap babi dimasukan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan yang sebelumnya dilakukan pemilihan perlakuan secara acak.
  2. Adaptasi babi terhadap kandang, perlakuan dan lingkungan yang baru selama satu minggu. Untuk adaptasi pakan dilakukan dengan cara  memberikan pakan sebelumnya ditambah pakan penelitian sampai babi sudah dapat beradaptasi terhadap pakan peneltian.
  3. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua  kotoran ternak babi dan kotoran tersebut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dimandikan agar bersih dan nyaman  babi. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali  yaitu pada pukul 07.00, 12.00, dan 16.00 WIB, sedangkan sisa pakan ditimbang setiap pagi harinya untuk mengetahui besar konsumsi pakan.
  4. Penimbangan berat lahir anak dan bobot awal badan induk
  5. Penimbangan pada akhir penelitian menimbang pertambahan bobot badan anak dan induk

 

 

3.5.  Tata Letak Kandang Penelitian

K1

B13

R1

K2

B3

R1

K3

B6

R0

K4

B4

R1

K5

B1

R1

K6

B15

R2

K7

B11

R0

 

K8

B5

R1

 

K9

B10

R2

K10

B8

R2

K11

B14

R0

K12

B7

R2

K13

B2

R0

K14

B12

R2

K15

B9

R0

 

Keterangan : Nomor Kandang       = K1, K2, K3,…K15

                        Nomor Babi               = B1, B2, B3,…B15

Ransum Perlakuan   = R0, R1 dan R2                                          

 

 

 

 

 

 

 

 

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1.      Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Ransum

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi induk menyusui dapat dilihat pada Tabel 6.

 

Tabel 6. Rata-rata Konversi Ransum Induk Babi Menyusui. 

 

Ulangan

 

Perlakuan

 

 

 

R0

R1

R2

 
       
   

1

-9,51

-10,25

-22,44

 

2

-8,38

-9,92

-14,53

 

3

-9,74

-23,38

-30,80

 

4

-7,95

-12,92

-15,25

 

5

-6,89

-8,66

-12,56

 
Total

-42,47

-65,14

-95,57

-203,18

Rataan

-8,49

-13,03

-19,11

-40,64

Keterangan :

 R0 = Ransum basal (tanpa tepung bangun-bangun)

 R1 = Ransum dengan pertambahan 3% tepung bangun-bangun

 R2 = Ransum dengan pertambahan 5% tepung bangun-bangun

 

 Catatan :  tanda (-) menunjukan penurunan berat badan induk menyusui

Sebagai diperoleh nilai konversi (-), penurunan berat badan induk menyusui dapat di lihat pada lampiran 2.

 

 

Konversi ransum adalah jumlah ransum yang dikonsumsi untukan menghasilkan pertambahan berat badan atau kemampuan ternak mengubah makanan ke dalam bentuk bobot badan  (Bogart, 1997).

            Tabel 6 menunjukkan bahwa Pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui, diperoleh rataan konversi ransum babi induk menyusui masing-masing perlakuan adalah R0 (-8,49), R1 (-13,03) dan R2 ( -19,11). Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi induk menyusui maka dilakukan analisis sidik ragam hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 3.

Hasil analisis statistik Lampiran 3 menunjukkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum induk babi menyusui berpengaruh nyata terhadap (P<0,05) konversi ransum. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan,  dilakukan uji  Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 7.

 

 

 

 

 

 

Tabel 7. Hasil  Uji  Duncan  Pengaruh Perlakuan Tepung  Bangun-bangun Terhadap Konversi Ransum  Induk Menyusui

 

Perlakuan

Konversi Ransum

Signifikansi (α, 0,05)

   

 

R0

-8,49

                     a

R1

-13,03

   ab

R2

-19,11

       b

 

Tabel 7 menunjukan bahwa perlakuan R2 (5% tepung bangun-bangun) nyata (P<0,05) lebih rendah nilai konversi ransumnya, di bandingankan perlakuan R0 (0% tepung bangun-bangun) pada babi induk menyusui. Adapun antara perlakuan R2 (5% tepung bangun-bangun) dengan R1 (3% tepung bangun-bangun) dan antara perlakuan R1 (3% tepung bangun-bangun) dengan R0 (0% tepung bangun-bangun) tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata (P>0,05), terhadap nilai konversi ransum babi induk menyusui.  Konversi ransum efesien karena terjadi  bobot sama untuk menghasilkan satuan bobot badan induk babi menyusui, maka pengaruh tepung bangun-bangun paling baik pertumbuhan anak,  Wening  (2007). Konversi ransum induk babi menyusui terjadi penurun bobot badan, dengan pemberian tepung bangun-bangun sebesar 3% dan 5% dapat menekan penurunan bobot induk babi menyusui dengan nilai konversi sebesar R1 (-13,03) dan R2 (-19,11). Konversi ransum induk babi menyusui terjadi penurunan bobot badan karena di pengaruhi jumlah anak babi mengkonsumsi susu Sihombing (1997), Siagian (1999).

Pemberian tepung bangun-bangun 5% dengan nilai konversi yang lebih rendah dibandingkan  3%  hal tersebut disebabkan jumlah tepung bangun-bangun yang diberikan sesuai dengan tingkat kesukaan dan kebutuhan induk babi menyusui.

            Ternak babi yang mengkonsumsi tepung bangun-bangun mempunyai nilai konversi ransum yang lebih baik dibandingkan dengan ternak babi yang tidak mengkonsumsi tepung bangun-bangun. Hal ini disebabkan oleh kandungan nutrient (protein, mineral dan vitamin) serta senyawa carvacrol yang  terkandung dalam tepung bangun-bangun yang berfungsi sebagai suplemen,  meningkatkan palatabilitas dan nafsu makan. Pemberian tepung bangun-bangun dapat meningkatkan konsumsi ransum dan memperbaiki nilai konversi ransum babi induk menyusui sesuai dengan pendapat Gunter dan Bossow (1998) serta Khajarern (2002) yang menyatakan bahwa tepung bangun-bangun dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertumbuhan bobot badan dan efisiensi penggunaan zat makanan pada induk babi menyusui.  

 

 

 

 

4.2.      Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan

            Anak

 

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan anak dapat dilihat pada Tabel 8.

           Tabel 8. Rataan Pertambahan Bobot Badan Anak

 

Ulangan

 

Perlakuan

 

 

 

R0

R1

R2

 
       
  …………………………kg/ekor/hari…………………………

1

0,29

0,31

0,35

 

2

0,29

0,32

0,36

 

3

0,29

0,32

0,36

 

4

0,30

0,34

0,37

 

5

0,29

0,32

0,36

 
Total

1,17

1,62

1,80

4,59

Rataan

0,29

0,32

0,36

0,33

Keterangan :

 

 R0 = Ransum basal (tanpa tepung bangun-bangun)

 R1 = Ransum dengan penambahan 3% tepung bangun-bangun

 R2 = Ransum dengan penambahan 5% tepung bangun-bangun

 

Rataan pertambahan bobot badan anak yang dihasilkan secara keseluruhan adalah 0,33 kg/ekor/perhari, pertambahan bobot badan tersebut sesuai dengan Sihombing (1997) sekitar 0,30-0,32 kg/ ekor/hari,  dengan umur penyapihan antara 6 minggu. Rata-rata pertambahan bobot badan anak akibat pemberian tepung bangun-bangun pada induk menyusui dari yang terendah ke tertinggi adalah R0 (0,29 kg/ekor/hari), R1 (0,32 kg/ekor/hari) dan R2 (0,36 kg/ekor/hari). Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan anak, maka dilakukan analisis sidik ragam dan hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 5.

 Hasil analisis statistik (Lampiran 5) menujukkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum induk babi menyusui berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan anak. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan antar perlakuan dilakukan Uji Duncan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 9.

 

Tabel 9. Hasil  Uji Duncan  Pengaruh  Perlakuan  terhadap Pertambahan Bobot  Badan  Anak.

 

Perlakuan

Pertambahan Bobot Badan Anak

Signifikansi (α, 0,05)

 

———-(kg/ekor/hari)———

 

R0

0,29

                     a

R1

0,32

   b

R2

0,36

       c

 

 

Tabel 9 menunjukkan bahwa perlakuan R1 (3% tepung bangun-bangun) dan R2 (5% tepung bangun-bangun) nyata (P>0,05) meningkatkan pertambahan bobot badan anak, dibandingkan R0 (0% tepung bangun-bangun). Pemberian tepung bangun-bangun 5%  menunjukkan peningkatan pertambahan bobot badan anak lebih tinggi dibandingkan pemberian 3%.  Hal tersebut disebabkan jumlah tepung bangun-bangun yang diberikan lebih tinggi sehingga precursor pembentukan susu dalam tubuh induk lebih tinggi. Pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui dapat meningkatkan pertambahan bobot badan anak sesuai pendapat dengan  Damanik  (2006)  yang  menyatakan bahwa tepung bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan dan pertumbuhan bayi yang ibunya mengkomsumsi bangun-bangun karena daun tersebut dapat meningkatkan produksi air susu ibu, dan hal ini juga terjadi pada ternak babi.

            Babi yang mengkonsumsi tepung bangun-bangun mempunyai pertambahan bobot badan anak yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengkonsumsi. Hal ini disebabkan oleh senyawa lactagogue yang  terkandung dalam tepung bangun-bangun yang mampu meningkatkan sekresi air susu dalam ambing sehingga menghasilkan produksi susu yang tinggi. Lawrence dkk (2005), mengatakan senyawa lactogogue terdiri dari beberapa komponen yang apabila bekerja bersama-sama dalam tubuh akan memacu produksi air susu ibu (ASI), meningkatkan fungsi pencernaan dan meningkatkan pertumbuhan bobot badan, beberapa senyawa tersebut adalah 3,4-dimethyl-2-oxocyclopent-3-enylacetic acid, monomethyl succinate, phenylmalonic acid, cyclopentanol, 2-methyl acetate dan methylpyro, glutamate, senyawa sterol, steroid, asam lemak, asam organik. Adanya komponen tersebut dalam bangun-bangun dapat merangsang hormon yang terdapat dalam tubuh untuk memproduksi susu yang banyak sehingga kebutuhan anak dapat tercukupi ditunjukkan dengan pertambahan bobot badan  yang tinggi. Pemberian tepung bangun-bangun terbaik bagi induk babi menyusui adalah sebesar 5% dalam ransum.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1.           Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu pemberian tepung bangun-bangun dalam ransum babi induk menyusui dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung bangun-bangun sebesar 5% dalam ransum  babi dapat memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan bobot badan anak.

 

5.2.      Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa :

            Tepung bangun-bangun dapat digunakan sebagai feed suplement untuk memperbaiki nilai konversi ransum induk menyusui dan meningkatkan pertambahan  bobot badan anak, dengan penggunaan sebesar 5% dalam ransum.  Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pemberian ekstrak bangun-bangun  dalam ransum babi menyusui terhadap konversi ransum induk menyusui dan pertambahan bobot badan anak.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bogart, R.1977.Scientific Farm Animal Production. Burges Publishing Co. Minneapolis, Minessota.

 

Church, D. C. 1979. Factor Affecting Feed Consumption. In : D.C. Church.

            Livestock Feed and Feeding. Durham and Downey. Inc.Pp 136-139.

 

Clawson, A. j., T.N. Blumer, W. W. G. Smart, Jr and E. R. Barrick. 1962. Influence of energy-protein ratio on performance and carcass charachteristics of swine. J. Anim. Sci. 21 : 62

 

Campbell,J.R. and J.F. 1985, The Science of Animal that Served Mankind. 3th ed. Tata Mc Graw. Hill Publishing Company Limited. New Delhi. Pp 390-392

 

Cole. H. and Ronning. 1974. Animal Agriculture. W. H. Freeman and Company San Fransisco.

 

Damanik, R, Damanik, N, Daulay Z, Saragih S, R. Premier, and. Wattanapenpaibon, Wahlgvist ML. 2001. Comsumption of bangun-bangun leaves (Coleus ambonicius lour) to increase breast milk production among bataknesse women in North Sumatra Island, Indonesia. APJCN; 10 (4): S67

 

Damanik, R, Damanik, Wahlgvist ML and Wattanapenpaibon. 2006. Lactagogue effects of Bangun-bangun, a Bataknese traditional cuisine. APJCN; 15 (2): 267-274.

 

Duke. 2000. Duke’s Contituens and Ethnobotanical Database. Phytochemical database, USDA – ARS – NGRL. http ://www.ars – grin.gov/cgi – bin/ duke/ farmcy – sc ro||3.p|

Goodwin, D.H. 1977. Pig Management and Production. Hutchinson, Edition, London. Page 19-20

 

Gunter KD, Bossow H. The effect of etheric oil Origanum vulgaris (Ropadiar) in  the feed ration of weaned pigs on their daily feed intake daily gains and food utilization (abstract). Proc 15th int Pig Vet Soc Congr, Birminghan. 223.

 

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid I. Diterjemahkan oleh Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Yayasan Sarana Jaya, Jakarta

 

Parakkasi, A., 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit Angkasa, Bandung.

 

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan.   Universitas Indonesia, Indonesia.

 

Sosroamidjojo. M.S. 1997. Ternak Potong dan Kerja. Penerbit C.V. Yasa Guna Jakarta. Hal 30-35

 

Sihombing,. D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Institut Pertanian Bogor.

 

Siagian, P. H. 1999. Manajemen ternak Babi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

 

Silitonga, M. 1993. Efek laktakogum daun jinten (Coleus amboinicuc L.) pada tikus laktasi. Tesis. Program pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor

 

Steel, R.G.D. dan J. H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika (Terjemahan). Cetakan kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

Tiurlan, F. H, Irma, S, Rienoviar, Dede. A, Meity, S. 2000. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Favanoid dan Alkaloid dari Herba Bangun-bangun (Coleus ambonicus Lour) dan Katuk (Suropus Andrigynus Merr). Laporan Penelitian. BBIA. Bogor

 

Najuan. A. 2002. Evaluasi Berbagai Bahan Pakan Daerah Sulawesi Utara untuk Penggemukan Babi. Disertasi UNPAD. Bandung.

 

National Research Council. 1998. Nutrisi Reguiment of Swine, National Academy Press, Washington, D.C.

 

Khajarern, J. The efficacy of origanum essential oils in sow feed. Int Pig Topics. 2002; 17: 17.

 

Lawrence, D., R., and Bacharach, A., L., 1946, Evaluation of Drug Activities, Academic Press, London

 

Vasquez E. A., W. Kraus, A. D. Solsoloy, and B.M. Rejesus. 2000. The uses of species and medicinal: antifungal, antibacterial, anthelmintic, and molluscicidal constituents of Philippine plant, http: //www.fao;org/ x2230e/x2230e8

 

Wahyu. J., 1985 dan D. Supanji. 1969. Pedoman Berternak Babi. Direktorat Peternakan Rakyat. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta. Hal. 5-7

 

Weaning, W. 2007. Penambahan Daun Torbangun (Coleus amboinicus lour) Dalam Ransum Pengaruhnya terhadap Sifat Reproduksi dan Produksi Air Susu Mencit Putih (Mus Musculus Albinus). Skripsi. Jurusan Ilmu Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor

 

Kebutuhan Nutrisi dan Ransum Babi

Pakan Ternak Babi

Babi adalah  ternak  monogastric dan bersifat prolific (banyak anak    tiap kelahiran),  pertumbuhannya  cepat  dan  dalam umur enam bulan sudah dapat dipasarkan. Selain itu ternak babi efisien dalam mengkonversi berbagai sisa pertanian dan restoran menjadi daging oleh sebab itu memerlukan pakan yang mempunyai protein, energi, mineral dan vitamin   yang tinggi (Ensminger, 1991). Contoh bahan pakan yang biasa dipakai di Papua dan NTT : daun dan ubi jalar/kayu, daun2 legum, batang dan buah pisang, cacing tanah, katak/kodok,   daun dan buah labu, buah merah, batang talas dan pepaya dimasak dulu, jambu biji, tebu,kangkung, batu kapur, abu tungku, tulang hewan/ikan.

Konsumsi Ransum

Ransum adalah makanan yang disediakan bagi ternak untuk 24 jam (Anggorodi, 1994).  Suatu ransum seimbang menyediakan semua zat makanan yang dibutuhkan untuk memberi makan ternak selama 24 jam.

Tabel 1a .  Konsumsi Ransum dan Air Minum Babi Menurut Umur / Periode

Umur 

Fase Produksi

 

Macam Ransum Konsumsi 

(kg/hari/ekor)

Air minum 

(l/ekor/hari)

1-4 mg 

4-8 mg

8-12 mg

12-16 mg

16-20 mg

20 – di jual

Induk / Bibit

Dara (6 bln)

Jantan (6 bln)

Induk Kering

Bunting

Induk Laktasi

Jantan aktif

Susu Pengganti 

Pre Starter

Starter

Grower

Grower

Finisher

 

Grower

Grower

Bibit

Bibit

Bibit

Bibit

0.02-0.05 

0.5-0.75

1.00-1.25

1.5-2.00

2.25-2.75

2.75-3.5

 

1.5-2.00

1.5-2.00

2.50-3.50

2.00-2.50

3.00-4.50

2.00-2.50

0.25-0.5 

0.75-2.0

2.0-3.5

3.5-4.0

4.0-5.0

5.0-7.0

 

6.0-8.0

6.0-8.0

7.0-9.0

7.0-9.0

15.0-20.0

7.0-9.0

Ket : Konsumsi Tergantung pada : Bentukpakan, JenisPakan,  Kandungan Ransum,

Kepadatan kandang, Suhu Lingkungan,  Stress dan Manajemen.

 

Konsumsi ransum sangat dipengaruhi oleh berat badan dan umur ternak.  Hafez dan Dyer (1969) menyatakan bahwa konsumsi ransum akan semakin meningkat dengan meningkatnya berat badan ternak.  Jumlah ransum yang dikonsumsi juga akan bertambah dengan bertambahnya umur ternak.

Temperatur juga dapat  mempengaruhi jumlah konsumsi ransum harian.  Pada temperatur yang tinggi ternak akan mengurangi konsumsi ransum (Devendra dan Fuller,1979).  Tingginya kandungan serat kasar dalam ransum akan  mempengaruhi daya cerna dan konsumsi ransum sekaligus mempengaruhi efisiensi penggunaan makanan (Tillman et al., 1984).

Efisiensi Penggunaan Makanan

Efisiensi penggunaan makanan merupakan pertambahan berat badan yang dihasilkan setiap satuan ransum yang dikonsumsi.  Efisiensi penggunaan makanan tergantung pada (1) kebutuhan ternak akan energi dan protein untuk pertumbuhan, hidup pokok atau fungsi lain, (2) kemampuan ternak mencerna makanan, (3) jumlah makanan yang hilang melalui proses metabolisme dan (4) tipe makanan yang dikonsumsi (Campbell dan Lasley, 1985).

Devendra dan Fuller (1979) juga menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi efisiensi penggunaan makanan adalah nutrisi, lingkungan, kesehatan ternak dan keseimbangan ransum yang diberikan.

Bogart (1977) menyatakan bahwa efisiensi penggunaan makanan dapat digunakan sebagai parameter untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai pertambahan berat badan yang baik.

Beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun ransum babi adalah  ketersediaannya dilapangan dalam arti mudah untuk memperolehnya, Kandungan zat-zat makanan mencukupi bagi kebutuhan ternak babi, ekonomis dan efisien dalam mencerna bahan-bahan makanan yang diberikan. Kebutuhan zat makanan babi lepas sapih tergantung pada umur dan bobot badan seperti Tabel 1b (NRC.1998) .

Kandungan protein (asam-asam amino) ransum yang optimal pada ransum babi harus pula memperhatikan kandungan energinya, hal ini disebabkan karena sejumlah energi tertentu dibutuhkan per tiap gram protein dengan demikian protein dapat digunakan efisien untuk pertumbuhan, kebutuhan lisin ternak babi yang sedang tumbuh dengan berat badan 35 – 60 kg adalah 0,61% (Sihombing, 1997). Huges dan Varley, (1980) menyatakan selain kebutuhan asam amino perlu juga diperhitungkan keseimbangan  protein dan energi untuk menjaga pertumbuhan babi yang optimal.

Bila kita lihat dalam tabel 1. terlihat bahwa kebutuhan protein kasasr  bagi babi grower dan pengakhiran adalah 18 sampai dengan 13.5 % dengan energi yang dapat dicerna rata-rata 3400 Kkall.  Karena ternak Babi merupakan ternak monogastrik maka yang harus diperhatikan adalah serat kasar yang rendah (maksimum 5%) terutama pada fase pertumbuhan kecuali pada induk bisa sampai 10% maksimumnya.

Tabel 1b. Kebutuhan zat-zat makanan babi fase grower – finisher. (NRC 1988)

Zat-zat makanan  

Satuan

20-30 kg 

Bobot badan

35-60 kg 

Bobot badan

60-100 kg 

Bobot badan

Energi dpt dicerna 

Protein kasar

Asam Amino Esl :

Arginin

Fenilalanin

Histidin

Isoleusin

Leusin

Lisin

Metionin

Treonin

Triptophan

Valin

 

Mineral

Besi

Fosfor

Yodium

Kalium

Kalsium

Khlorin

Magnesium

Mangan

Natrium

Selenium

Tembaga

Zink

Vitamin

Vitamin A

Vitamin D

Vitamin E

Vitamin K

Kkal/kg 

%

 

%

%

%

%

%

%

%

%

%

%

 

 

mg

%

%

%

%

%

%

mg

%

mg

mg

mg

 

IU

IU

IU

Mg

3.380 

16

 

0.2

0.7

0.18

0.5

0.6

0.7

0.45

0.45

0.12

0.50

 

 

60.00

0.5

0.14

0.23

0.6

0.13

0.04

2.0

0.1

0.15

4.0

60.0

 

1.300

200

11

2

3.390 

14.0

 

0.18

0.61

0.16

0.44

0.52

0.61

0.40

0.39

0.11

0.44

 

 

50

0.45

0.14

0.20

0.55

0.13

0.04

2.00

0.1

0.15

3.0

60

 

1.300

150

11.0

2.0

3.395 

13.0

 

0.16

0.57

0.15

0.41

0.48

0.57

0.30

0.37

0.10

0.41

 

 

40

0.4

0.14

0.17

0.5

0.13

0.04

2.0

0.10

0.10

3.0

50.0

 

1.300

125

11.0

2.0

 

Metode Penyusunan Ransum Babi

1.    Mula-mula kita mengetahui kandungan zat-zat makanan bahan-bahan  penyusun ransum dalam keadaan kering (Tabel 2) anda dapat memperolehnya dari tabel NRC atau Tabel  Baham Makanan Aggorodi.  Bula tidak ada bahan tersebut dianalisis dahulu di laboratorium kandungannya.

2.     Kemudian buat ransum jumlahnya total 100 dari masing-masing bahan kemudian kalikan dengan kandungannya sehingga diperoleh tabel 3. Contoh jagung  jumlah dalam ransum 10% dikali kandungannya 10,5 maka jagung memberikan  1,05 PK (Protein Kasar), dan seterusnya kemudian jumlahkan protein total semua bahan adalah 14%, begitu juga untuk yang lain. Perhitungan ini dicoba terus sampai sesuai dengan kebutuhan seperti tabel 1b.

Tabel 2. Kandungan beberapa bahan pakan berasal dari limbah pertanian

No Bahan Makanan PK DE Abu Kalsium

Phospor

SK Harga/kg
1 Jagung 10.5 3250 2.15 0.234 0.414 2.5 1100
2 Daun Ubi Jalar 27 500 16.1 1.37 0.46 16.2 100
3 Dedak Padi 12 2980 16.9 0.03 0.12 9 700
4 Ubi Jalar 3.2 3480 2.65 0.28 0.23 3.45 400
5 Daun singkong 24 500 12 1.54 0.457 22 100
6 Tepung tulang 0 0 0 29.58 11.64 0 1000
7 Minyak 8000
8 Singkong 3.3 3400 3.3 0.26 0.16 4.15 400

 

 

Tabel 3. Hasil Perhitungan beberapa bahan pakan berasal dari Limbah

Pertanian untuk Pakan Babi

Bahan Makanan Jumlah PK DE Abu Kalsium Phospor SK Harga/kg
1 Jagung 10 1.05 325 0.215 0.0234 0.041 0.25 11000
2 Daun Ubi Jalar 30 8.1 150 4.83 0.411 0.138 4.86 3000
3 Dedak Padi 30 3.6 894 5.07 0.009 0.036 2.7 21000
4 Ubi Jalar 22 0.7 765.6 0.583 0.0616 0.051 0.76 8800
5 Daun Singkong 2 0.48 10 0.24 0.0308 0.009 0.44 200
6 Tepung Tulang 2 0 0 0 0.5916 0.233 0 2000
7 Minyak 2 0 160 0 0 0 0 0
9 Ubi Kayu 2 0.07 68 0.066 0.0052 0.003 0.08 800
Total 100 14 2373 11.004 1.1326 0.47 9.09 468

 

Contoh 2. Perhitungan ransum lain dengan menggunakan jagung, pollard, tepung ikan, bungkil kacang kedelai, tepung tulang, dedak padi dan minyak nabati. Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan masing-masing diperlihatkan dibawah ini :

Komposisi Zat Makanan dan Harga*) dari Bahan Makanan yang Digunakan

Bahan Makanan 

 

PK   (%) EM (kkal/kg) Lisin (%) Ca (%)

(%)

SK (%) Harga  per kg 

(Rp)

Jagung 

Pollard

Dedak Padi

Tepung Ikan

B.K.Kedelai

Tepung Tulang

Minyak Nabati

10,5 

15,1

12,0

52,9

47,0

-

-

3250 

2320

2980

2860

2550

-

8000

0,28 

0,64

0,62

3,72

2,95

-

-

0,02 

0,15

0,03

3,90

0,24

29,58

-

0,30 

0,72

0,12

2,85

0,81

11,64

-

2,5 

7,5

9,0

0,0

5,0

-

-

1600 

1100

750

1200

2500

2500

3900

Ket: PK = Protein Kasar, EM = Energi Metabolis, Ca = Kalsium, P = Posfor, SK = Serat Kasar,          *) harga pada bulan Nopember 2001.

Susunan Ransum hasil perhitungan :

Bahan dan Zat Makanan R  a  n  s  u  m    P  e  r  l  a  k  u  a  n
A B C D E
a b a b a b a b a b
Jagung 

Pollard

Dedak Padi

Tepung Ikan

B.K.Kedelai

TepungTulang

Minyak Nabati

Kandungan:

Protein Kasar (%)

EM (kkal/kg)

Lisin (%)

Kalsium (%)

Posfor (%)

Serat Kasar (%)

Harga /kg (Rp)

80 

0

0

10

4

1

5

 

15,57

3388

0,71

0,71

0,43

2,20

1810

80 

0

8

5

5

1

2

 

13,89

3243

0,58

0,52

0,30

2,92

1643

60 

20

0

10

4

1

5

 

16,49

3202

0,79

0,74

0,588

3,20

1660

60 

20

8

5

5

1

2

 

14,81

3057

0,65

0,55

0,44

3,92

1543

40 

40

0

10

4

1

5

 

17,41

3016

0,86

0,76

0,72

4,20

1560

40 

40

8

5

5

1

2

 

15,73

2871

0,72

0,57

0,59

4,92

1443

20 

60

0

10

4

1

5

 

18,33

2830

0,93

0,79

0,86

5,20

1460

20 

60

8

5

5

1

2

 

16,65

2685

0,79

0,60

0,73

5,92

1343

80

0

10

4

1

5

 

19,25

2644

1,00

0,81

1,00

6,20

1360

80

8

5

5

1

2

 

17,56

2499

0,86

0,628

0,88

6,92

1243

 

Contoh 3. Bahan Pakan Ternak Babi dan Perhitungannya di desa Muliama dan

Kewin Kec. Osologaima Irian Jaya yang dilaporkan oleh Batseba

No Bahan Makanan PK DE Abu Kalsium Phospor SK Harga/kg
1 Ampas Tahu 30.3 500 5.1 0 0 22.2 200
2 Daun Ubi Jalar 27 500 16.1 1.37 0.46 16.2 100
3 Dedak Padi 12 2980 16.9 0.03 0.12 9 700
4 Ubi Jalar 3.2 3480 2.65 0.28 0.23 3.45 500
5 Daun Singkong 24 500 12 1.54 0.457 22 100
6 Daun Kol 21.5 500 11.8 0.598 0.722 12.9 100
7 Batang Pisang 5.87 400 18.3 1.06 0.12 26.8 100
8 Umbi Singkong 3.3 3400 3.3 0.26 0.16 4.15 500
 

 

Bahan Makanan Jumlah PK DE Abu Kalsium Phospor SK
Harga/kg
1 A.Tahu 7 2.12 35 0.357 0 0 1.55 1400
2 Daun Ubi Jalar 30 8.1 150 4.83 0.411 0.138 4.86 3000
3 Dedak Padi 5 0.6 149 0.845 0.0015 0.006 0.45 3500
4 Ubi Jalar 20 0.64 696 0.53 0.056 0.046 0.69 10000
5 Daun Singkong 5 1.2 25 0.6 0.077 0.0229 1.1 500
6 Daun Kol 10 2.15 50 1.18 0.0598 0.0722 1.29 1000
7 Batang Pisang 16 0.94 64 2.928 0.1696 0.0192 4.29 1600
9 Umbi Singkong 7 0.23 238 0.231 0.0182 0.0112 0.29 3500
Total 100 16 1407 11.501 0.7931 0.3155 14.5 245

 

 

 

Tabel diatas diperoleh kebutuhan protein Kasar  cukup untuk periode grower dan pengakhiran, begitu juga terhadap mineral kalsium, akan tetapi serat kasar yang tinggi 14% ini bisa diantisipasi karena babi lokal disana kemungkinan sudah beradaptasi dengan serat kasar tersebut yang ditandai dengan perut yang besar, kebutuhan energi terlihat sangat kurang perlu di beri  bahan pakan sumber energi yang tinggi. Mengenai harga pakan cukup murah atau mungkin “Zero Feed Cost atau tanpa biaya, karena sudah tersedia di sekitarnya.

Untuk mengurangi zat anti nutrisi Ubi jalar tidak hanya memiliki zat gizi yang tedapat didalam umbinya seperti tripsin inhibitor pada ubi jalar dan Asam Sianida/HCN) pada singkung dapat dihilangkan/ dikurangi  dengan cara pencincangan, pengukusan, merebusan dan pemanasan sebelum digunakan untuk pakan ternak.

 

Ransum babi Periode Starter :

Anak babi yang telah lepas sapih biasanya disapih pada umur 8 minggu dan mencapai bobot rata-rata 20 kg disebut babi priode starter (Sihombing, 1997). Selanjutnya dikatakan anak babi dengan bobot 20 kg sudah ada harapan sekitar 98% dapat hidup sampai mencapai bobot potong (90-100 kg) maksudnya bahwa babi priode starter telah melewati masa-masa kritis dimana sebelum masa ini , babi lebih mudah terserang penyakit dan kematian sangat tinggi yaitu 30 %. Babi priode starter merupakan awal dari proses pengemukan seperti dikatakan oleh Cunha,(1977), bahwa ternak pada priode starter mulai makan lebih banyak karena pada priode ini ternak babi sedang mengalami pertumbuhan yang terus meningkat(pertumbuhan eksponential).

Ensminger (1969) mengatakan bahwa pada priode starter berat badan ternak babi biasanya antara 15-45 kg dan protein yang dibutuhkan berkisar antara 14-16 %. Sedangkan Krider dan Carrol (1977) menyatakan bahwa setelah ternak babi mencapai priode starter ransum yang diberikan harus mengandung protein sekitar 16%.

Menurut NRC (1979) kebutuhan protein kasar pada babi starter adalah 16%, energi metabolisme sebesar 3175 Kkal, serta penambahan bobot badan yang diharapkan 0,6 kg. Diharapkan pula setiap harinya mengkonsumsi ransum sebanyak 1,7 kg sehingga konsumsi protein kasar 272 gram dan energi dapat dicerna 5610 Kkal. Walaupun demikian tingkat protein ransum ditentukan pula oleh kemampuan bahan makanan itu untuk menyediakan asam-asam amino essensial.

Ransum yang seimbang ialah ransum yang mengandung zat nutrisi yang berkualitas untuk kesehatan, pertumbuhan dan produksi ternak. Sutardi (1980) mengatakan ternak akan mencapai tingkat penampilan produksi tertinggi sesuai dengan potensi genetik bila memperoleh zat-zat makanan yang dibutuhkannya. Zat makanan itu akan diperoleh ternak dengan jalan mengkonsumsi sejumlah makanan.

Tingkat konsumsi ransum adalah jumlah makanan yang dimakan oleh ternak bila bahan makanan tersebut diberikan adbilitum. Faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum dapat dibagi menjadi 2 yaitu : yang berpengaruh secara langsung seperti besar dan berat badan, umur, kondisi ternak serta cekaman yang diakibatkan oleh lingkungan seperti temperatur lingkungan, kelembaban udara, dan sinar matahari (Parrakasi, 1990), sedangkan berpengaruh secara tidak langsung ialah keadaan air ransum, adanya makanan pembatas konsumsi dan kecernaan (Parrakasi, 1985).

Clawson et al. (1962) mengatakan konsumsi ransum dipengaruhi keseimbangan protein dan energi dari tingkat lemak ransum. Anggorodi (1985), berpendapat bahwa konsumsi ransum cenderung meningkat bila kandungan energi ransum rendah dan konsumsi ransum akan menurun bila kandungan energi ransum tinggi. Thomas dan Korneygay (1972) mengungkapkan bahwa ada kecendrungan babi yang mendapat ransum dengan protein rendah akan mengkonsumsi lebih rendah.

Menurut NRC (1988), bahwa dalam masa pertumbuhan babi dengan bobot badan 20-50 kg akan mengkonsumsi pakan per hari 1900 gram berat kering. Penggunaan pakan oleh babi yang masih muda lebih efisien dibanding dengan babi yang telah lewat pubertas, karena konsumsi yang semakin tinggi tidak selalu diikuti dengan kenaikan bobot badan. Pada ransum dengan tingkat protein masing-masing 14%; 16%; 18%, konsumsi paka rata-rata adalah 1,961 kg; 1,984 kg dan 1,986 kg dengan bobot badan 20-90kg (Close, 1983).

Frekuensi pemberian pakan memberi pengaruh terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi. Pada umumnya pakan per hari akan meningkat dengan meningkatnya dengan frekuensi pemberian pakan. Menurut Supnet (1980), bahwa babi dengan bobot 10-90 kg diberi pakan 2 kali sehari akan mengkonsumsi pakan rata-rata/hari/ekor sebesar 1,54 kg. Pada pemberian 3 kali sehari konsumsi pakan sebesar 1,92 kg dan yang diberi secara adbilitum konsumsi pakan sebesar 2,61 kg/ekor/hari.

Tillman et al. (1984), mengatakan bahwa ada hubungan yang dekat antara daya cerna dan kecepatan kecernaan dan ini berkaitan erat antara daya cerna ransum dan konsumsi ransum. Semakin tinggi daya cerna ransum maka konsumsi pun akan semakin tinggi.

Suhu lingkungan juga turut mempengaruhi tingkat konsumsi ransum, semakin tinggi suhu lingkungan konsumsi makanan akan semakin rendah (Winchester, 1964). Supnet (1980) mengatakan meningkatnya temperatur lingkungan akan menurunkan konsumsi ransum yang diikuti temperatur rectal dan kecepatan respirasi ternak babi meningkat. Oleh karena itu temperatur udara yang tinggi dalam kandang menyebabkan ternak mengurangi konsumsi pakannya agar produksi panas dalam tubuh menurun (Esmay, 1977). Whitemore mengungkapkan bahwa temperatur lingkungan optimal untuk ternak babi dengan bobot badan 20-50 kg adalah 18-22°c.

Menurut Church (1979), palatabilitas merupakan faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi, yang tergantung pada bau, rasa, tekstur, dan suhu. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sutardi (1980), bahwa faktor umum yang mempengaruhi konsumsi adalah palatabilitas ternak terhadap ransum yang diberikan.

Pemberian makanan yang baik umumnya dipertimbangkan atas dasar kecepatan pertumbuhan.  Bogart (1977), menyatakan bahwa bahwa konversi ransum adalah kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk pertambahan bobot badan. Hal ini dapat dinyatakan baik sebagai jumlah kenaikan bobot badan yang dihasilkan dari satu satuan makanan yang dibutuhkan per satuan bobot badan. Perbandingan tersebut bervariasi dalam hubungannya terhadap sejumlah faktor, seperti umur ternak, bangsa, dan daya produksi.

Konversi ransum dapat digunakan sebagai peubah untuk seleksi terhadap ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang baik (Bogart,1977). Sihombing (1983), mengemukakan bahwa nilai konversi dari seekor ternak erat kaitannya dengan tujuan seleksi guna mendapatkan ternak yang ekonomis. Nilai konversi ransum dipengaruhi oleh pertumbuhan babi itu sendiri (Dunkin,1978). Menurut Cole (1972), bahwa konversi ransum akan menurun dengan bertambah besarnya babi dan variasi akan terjadi diantara bangsa-bangsa babi.

Campbell dan Lesley (1977), melaporkan konversi ransum tergantung kepada; 1. kemampuan ternak untuk mencerna zat makanan, 2. kebutuhan ternak akan energi dan protein untuk pertumbuhan, hidup pokok dan fungsi tubuh lainnya, 3. jumlah makanan yang hilang melalui proses metabolisme dan kerja yang tidak produktif, serta 4. tipe makanan yang dikonsumsi. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah keturunan, umur, berat badan, tingkat konsumsi makanan, pertambahan bobot badan, palatabilitas, dan hormon. Sedangkan menurut Devendra dan Fuller (1979), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi, bangsa ternak, lingkungan, kesehatan ternak dan keseimbangan ransum yang diberikan.

Temperatur udara dengan kisaran 30-33°C akan menurunkan konversi ransum pada ternak babi yang sedang bertumbuh (Sihombing, 1983). Williamson dan Payne (1978), mengatakan bahwa konversi ransum akan menurun apabila suhu meningkat diatas suhu kritis. Pada temperatur 7°C; 23°C; dan 33°C dengan rata-rata bobot badan 10 kg diperoleh konversi ransum masing-masing 2,52; 2,18; dan 2,28 (Pond dan Maner, 1974).

Menurut Arganosa et al.(1977), bahwa kandungan energi ransum berpengaruh terhadap konversi ransum, pada ransum berenergi 3000 Kkal EM/kg dan 2400 Kkal EM/kg, konversi ransum masing-masing adalah 3,37 dan 4,26. sedangkan protein ransum 14%; 16% dan 18%, konversi ransum yang diperoleh 2,91; 2,82; 2,88 (Campell et al.,1975).

 

Ransum Babi Periode Grower

Menurut Sihombing (1997) babi periode grower yaitu babi yang memiliki bobot rata-rata 35 kg hingga mencapai bobot badan 60 kg. Periode grower merupakan periode yang harus diperhatikan akan kebutuhan zat makanannya, dan ransum yang bermutu tinggi adalah salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi performans babi grower. Ransum yang terdiri dari pakan yang bermutu tinggi dan disusun memenuhi kebutuhan zat-zat makanan babi dan dicampur baik adalah syarat untuk memperoleh performans yang optimal.

Parakkasi (1983) mengatakan bahwa pada waktu babi masih muda, pertumbuhannya terutama terdiri dari  protein dan air akan tetapi setelah babi tersebut mempunyai berat badan sekitar 40 kg, energi yang disimpan berupa protein telah konstan dan mulailah energi tersebut dipakai untuk pembentukan jaringan lemak yang semakin meningkat dengan bertambahnya umur.

Menurut Tillman, dkk. (1984) pertumbuhan mempunyai tahap-tahap yang cepat dan lambat. Tahap cepat terjadi pada saat lahir sampai pubertas, dan tahap lambat terjadi pada saat-saat kedewasaan tubuh tercapai. Tahap-tahap pertumbuhan ini membentuk gambaran sigmoid pada grafik pertumbuhan yang ditentukan oleh tingkat konsumsi bila tingkat konsumsi tinggi, pertumbuhan juga cepat, sedangkan pengurangan makanan akan memperlambat kecepatan pertumbuhan.

Ransum Induk Untuk Reproduksi yang Tinggi

Pemberian pakan pada induk agar supaya prolifik bukan hanya terlihat baik, tetapi bagaimana untuk mempertahankan kondisi tubuh induk tersebut, kebutuhan izat makanan pada babi bibit, berdasarkan fase produksi tertera pada Tabel di bawah ini  .

 

Tabel 4a. Kebutuhan zat-zat makanan perkilogram ransum babi bibit (NRC 1988)

Zat-zat makanan  

Satuan

Dara Bunting, Induk Bunting dan jantan Yunior/Senior Induk Laktasi
Energi dpt dicerna 

Energi Metabolisme

Protein kasar

Asam Amino Esensial :

Arginin

Fenilalanin

Histidin

Isoleusin

Leusin

Lisin

Metionin

Treonin

Triptophan

Valin

 

Mineral

Besi

Fosfor

Yodium

Kalium

Kalsium

Khlorin

Magnesium

Mangan

Natrium

Selenium

Tembaga

Zink

Vitamin

Vitamin A

Vitamin D

Vitamin E

Vitamin K

Kkal/kg 

Kkal/kg

%

 

%

%

%

%

%

%

%

%

%

%

 

 

mg

%

%

%

%

%

%

mg

%

mg

mg

mg

 

IU

IU

IU

Mg

3.400 

3200

12

 

00

0.15

0.37

0.42

0.43

0.23

0.52

0.34

0.09

0.46

 

 

80

0.6

0.14

0.20

0.75

0.25

0.04

10

0.15

0.15

5

50

 

4000

200

10

2

3.395 

3195

13.0

 

0.40

0.25

0.39

0.70

0.58

0.36

0.85

0.43

0.12

0.55

 

 

80

0.5

0.14

0.20

0.75

0.25

0.04

10

0.20

0.15

5

50

 

2000

200

10

2

 

1. Pakan Induk Sebelum Kawin

a. Induk Dara

Nutrisi pada babi dara sebelum kawin pertama harus mencapai tujuan :

1.    memaksimumkan tingkat ovulasi pertama/ litter size.

2.            memperbaiki kondisi babi tubuh dara (otot dan lemak) untuk cadangan masa yang akan yang akan akibat  dari fariasi jumlah pakan yang diberikan .

Jumlah ovulasi sel telur yang normal pada babi dara pertama kali biasanya hanya  13-14 sel telur, jumlah ini akan menghasilkan  litter size yang baik.  Biasanya babi dara pada  birahi pertama jarang langsung dikawinkan. Usaha  untuk meningkatkan ovulasi induk pengganti : a. Mengawinkan induk pengganti pada birahi 2-3, b. mulai mencatat dan mengawasi siklus birahinya induk pengganti c. Memberikan pakan yang berlebih.

Babi pengganti (gilt) jumlah ovulasi bertambah sangat lambat, (satu sel telur/ bulan)   contohnya babi pengganti pada ovulasi pertama  hanya sembilan buah,   14-15 sel telur merupakan  jumlah ovulasi yang maksimum diharapkan.  Sebuah pendekatan alternatif yang sederhana adalah dengan menunggu pada tingkat ovulasi yang puncak/maksimum pada birahi ketiga.  Seperti ditunjukkan pada

tabel 4b.

 

Tabel 4b. Umur seksual dan tingkat ovulasi / litter size pada babi dara.

Sumber oestrus ke 

1                   2                 3

Huges dan Varley (1980) 

Mac. Pherson et. al (1973)

10,6               11,8               10,9 

7,9                 9,7               11,0

 

Untuk keperluan tersebut  perlu memberikan pakan yang tinggi/baik  (atau tingkat energi yang tinggi) dikenal dengan “Effect Flushing” yang digambarkan pada ilustrasi

tabel 5.

Tabel 5. Tingkat pakan dan jumlah ovulasi pada babi pengganti/dara/gilt.

Tingkat pakan                                                 Jumlah ovulasi 

Prepuberty     Birahi Pertama                      Pengamatan I     Pengamatan II

Ad-libitum        Adlibitum                                          13,9                       13,6

Ad-libitum        Dibatasi                                            11,1                          -

Dibatasi           Adlibitum                                          13,6                       13,5

Dibatasi           Dibatasi                                            11,1                       11,1

Self et.al. 1955

 

Penggunaan flushing pada babi dara harus lebih awal  (estrus ke dua) untuk mengurangi resiko litter size yang kecil. Cara pemberian pakan yang tinggi dan   seleksi pada induk pengganti/dara sampai saat hari kawin, akan memeberikan performan babi dara yang baik serta masa produksi  lama .

 

b. Induk Dewasa /Sow

Pada induk pengganti/gilt  periode penyapihan ke estrus dan kawin biasanya sangat singkat (kurang dari seminggu), ini berakibat pada manipulasi reproduksi induk babi dengan  pakan sangat pendek. Akan tetapi jika jumlah ovulasi sel telur sangat rendah (kira-kira 14 sel telur) dapat juga dilakukan flushing. Kenyataanya jumlah ovulasi periode akhir penyapihan ke estrus sangat bervariasi (15 – 25) pada induk babi dewasa/sow.  Untuk meningkatkan jumlah ovulasi perlu perencanaan pakan yang baik saat penyapihan ke oestrus.  Walaupun biasanya  tidak cukup waktu sebelum induk menjadi birahi untuk ovulasi sel telur.  Seperti terlihat pada tabel 6.

Tabel 6. Effek pakan yang tinggi dan tingkat ovulasi babi.

Jumlah Percobaan          Jml hari flushing ke oestrus           Penambahan ovulasi 

sel telur

6                                           0-1                                                      0.4 

6                                           2-7                                                      0,9

8                                           10                                                       1,6

14                                         12-14                                                    2,2

2                                           21                                                       3,1

Huges dan Varley,1980

Penundaan kembali pengawinan babi dara setelah beranak pertama sampai 12-15 hari akan menghasilkan peningkatan jumlah litter size 1 – 1,5 pada beranak ke dua, disajikan pada tabel 7.

Tabel 7. Pengaruh Penundaan Kawin pada Beranak Kedua terhadap Jumlah Litter

Size Babi Induk

Peneliti                                  Kurang 12 – 15 hari                  Lebih dari 12-15 hari
Fahmy et.al (1979)                           9,3                                            10,4 

Love (1979)                                      9,3                                            10,4

Walker et.al (1979)                           8,2                                            10,6

Brooks (1980)                                   9,3                                            10,5

King et. al. (1980)                             8,4                                            10,5

King et.al (1981)                               9,8                                            10,9

 

Dalam prakteknya peternak harus menghitung berapa penambahan biaya akibat penundaan perkawinan terhadap penambahan litter sizesize tersebut. Dalam pemberian pakan flushing yang baik antara penyapihan dan oestrus berguna untuk mempertahankan berat badan,  kondisi tubuh dan persiapan untuk laktasi.

 

2. Pakan Induk Setelah Kawin

Tujuan Utama kita dalam pemberian pakan babi bunting (sow/gilt) adalah meningkatkan daya hidup dari embrio/ foetus yang akhirnya meningkatkan litter size. Untuk itu perlu juga diperhatikan effek pakan tersebut terhadap kelahiran, setelah lahir dan masa laktasi dari anak babi yang dilahirkan.

Diketahui bahwa pakan yang baik /tinggi (high level) pada awal kebuntingan babi darah akan menurunkan jumlah embrio yang hidup, seperti ditunjukkan pada tabel 8. Hal ini,  dijelaskan oleh skema 1

Tabel 8. Jumlah pakan pada awal kebuntigan terhadap embrio yang hidup .

Pakan yang diberikan 

Tinggi                            Rendah

Jumlah Ovulasi                                           15,4                              15,5

Embrio yang  tersedia                                 11,8                              12,7

Embrio yang hidup (%)                               77                                  82

Hughes 1993

 

Hormon progesteron ini sangat diperlukan embrio awal kebuntingan (14-12 hari) hormon ini merangsang sekresi protein rahim untuk embrio,  penurunan kadar horman ini mengakibatkan penurunan milk uterin yang dihasilkan.  Akan tetapi kasus jumlah embrio hidup pada induk (sow) tidak dipengaruhi oleh tingkat pakan, seperti terlihap pada tabel 9.

 

 

Tabel 9. Tingkat jumlah pakan pada awal kebuntingan dan litter size

dari induk (sow)

Sumber                                                   Tingkat pakan pada awal kebutingan 

Tinggi                     Rendah

Kirkwood & Thacker (1980)                     15,8                       15,5 

Hughes (1993)                                          11,4                       11,3

 

Skema 1. Mekanisme efek dari makanan pada kematian embrio pada awal kebuntingan.

 

Makanan yang baik pada awal kebuntingan

 

 

Pertambahan berat badan tinggi

 

 

Penambahan aliran darahke hati

 

 

Penurunan konsentrasi progesteron dalam plasma

 

 

Tidak optimalnya sekresi dari milk uterin untuk  pakan embrio dalam rahim

 

 

Penurunan jumlah embrio yang hidup

 

 

Pada awal minggu ketiga kebuntingan,  pemberian pakan lebih dari standar tidak berpengaruh terhadap jumlah litter size yang dihasilikan.  Pemberian pakan pada umur ini, harus cukup untuk mempertahankan rata-rata berat lahir dari anak babi saat lahir.  Hal ini berguna untuk menghindari kematian anak babi setelah disapih,  bila anak babi yang lahir terlalu bervariasi maka anak babi yang ringan akan mati akibat ketidak mampuan bersaing untuk memperoleh kolostrum.

Penambahan pakan induk (sow) selama kebuntingan akan meningkatkan berat babi lahir, juga meningkatkan variasi berat badan dari anak babi yang lahir.  Bila pemberian pakan lebih rendah dari nilai kondisi normal , maka foetus pada bagian tengah dari  tanduk uterus tidak dapat memperoleh makanan yang cukup dari sirkulasi darah dari induk (seperti pada tabel 10.)

Tabel 10 : Effek dari foetus pada posisi uterus induk babi

Jumlah foetus          Posisi foetus            Berat Foetus (gr) kebuntingan 

Pada tanduk            di uterus                    70 hari                       110 hari

5                       Atas                               168                           1109 

Tengah                          165                             882

Bawah                           187                            1214

 

7                       Atas                               178                           1271

Tengah                          140                             967

Bawah                           172                           1132

Salmon –legagneur, 1969

 

Ketika memberikan pakan lebih pada babi bunting (gilt/sow) yang pada akhirnya  kelebihan ini akan digunakan oleh foetus yang terletak di berbagai ujung dari tanduk uterus mengalami  pertambahan berat badan yang lebih tinggi. Oleh sebab itu dianjurkan memberikan pakan yang lebih sedikit saat bunting dengan tujuan mengurangi kematian anak babi selama disapih.  Contohnya berat anak babi yang memiliki bobot 1,6 kg dapat mengakibatkan distokia saat lahir, hal ini yang pada akhirnya akan meningkatkan kematian babi saat lahir (still birth) dan kematian sebelum disapih (Prewening mortality).

Faktor yang sangat penting dalam membatasi pemberian pakan pada babi bunting (gilt/sow) adalah adanya peningkatan  jumlah pakan yang dikonsumsi (feed intake) pada ransum baik dan penurunan menuju laktasi, seperti pada tabel 11.

 

Tabel 11. Hubungan antara Feed Intake pada babi yang bunting dan laktasi.

Jumlah pakan yang diberikan 

Rendah           Tinggi

Feed intake babi bunting (kg/hari)               1,9                  3,7 

Laktasi feed intake (kg/hari)                         6,2                 4,9

Salmon – legagneur, 1962.

 

Yang disimpulkan bahwa babi akan makan bertambah selama bunting dan berkurang selama menyusui. Maka dengan itu sejak kita mengetahui kebutuhan nutrisi dari induk rendah kita mengurangi kandungan gizi dari bahan makanan tersebut, akan tetapi pada saat laktasi kita tingkatkan nilai gizi dari bahan makanan tersebut.  Hal ini kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan ternak tersebut sampai dengan laktasi.  Cara yang praktis dengan memberikan pakan yang rendah selama kebuntingan (kurang 2,5 kg selama kebuntingan).

Pada tahun 80 an banyak ilmuan menganjurkan bahwa penambahan lemak 10-15 % pada 3 minggu akhir kebuntingan akan meningkatkan jumlah anak yang hidup saat penyapihan, ternyata perlakuan ini menyebabkan kematian anak meningkat 15-17 %   sebelum penyapihan, lihat tabel pada Tabel 12.

Tabel 12. Efek penambahan lemak pada pakan induk babi akhir kebuntingan.

Control                     Penambahan lemak
Litter size                                               9,7                                   9,7 

Pre weaning mortality (%)                   17,3                                 14,5

Kematian anak < 1,1 kg (%)                57,9                                 40,8

Henry, Pickard dan Huges 1983

 

3.Pakan Induk Babi Menyusui

Umumnya induk kurang nafsu makan saat laktasi, hal ini mengakibatkan sukar terpenuhi kebutuhan nutrisi dari induk untuk hidup pokok dan produksi susu yang tinggi.   Pada saat ini induk biasanya memobilisasi jaringan tubuhnya untuk memproduksi susu untuk anaknya.  Hal ini bisa kita lihat pada tabel 13.

Tabel 13. Efek tingkat pemberianpakan pada performan babi laktasi.

Pakan Induk Laktasi 

Tinggi                     Rendah

Kehilangan berat badan induk (kg)                 5,1                          30,0 

Kehilangan lemak punggung (mm)                 1,9                            4,2

Crrep Feed Intake (Kg)                                   2,5                            2,9

Berat litter yang disapi (kg)                           68,7                          62,3

Hughes, 1993.

 

Hal ini juga berpengaruh terhadap performan reproduksi induk babi seperti terlihat pada tabel 14

Tabel 14. Tingkat Pakan Laktasi dan Performan Reproduksi pada induk

pengganti (gilt)

Tingkat Pakan Laktasi 

Tinggi                    Rendah

Interval sapih-kawin (hari)                              11,5                       16,3 

Embrio yang hidup (%)                                   71,0                       72,0

Litter size yang hidup (lahir hidup)                   9,6                         9,8

Sumber : Huges 1989.

Pada saat laktasi induk biasanya mengalami penurunan feed intake sampai  2,5 –3,5 kg/hari pada saat ini perhatian kita harus tertuju pada keselamatan dan pertumbuhan anak, dimana kebutuhan normalnya adalah 6-7 kg/ hari untuk memenuhi hidup pokok dan produksi susu .    Sedangkan pada induk yang baik feed intake ada yang tidak berubah, hal ini membuat kondisi tubuh induk tetap baik dan pertumbuhan anak tetap terjaga.  Pola penurunan pakan pada induk laktasi di bagi menjadi dua yaitu masa yang panjang pada induk dewasa(sow) dan masa yang pendek pada induk muda (gilt).

Biasanya induk muda (gilt)  mengalami kekurangan pakan pada fase laktasi akan mengalami kehilangan berat badan yang lebih besar pada induk yang sudah tua (sow). Kekurangan pakan pada induk yang dewasa (sow) pada masa laktasi mempunyai effek yang rendah terhadap kembali birahi setelah penyapihan, tetapi ada juga induk yang tidak estrus setelah disapih setelah mengalami kekurangan pakan tersebut, hal  ini bisa kita lihat pada tabel 15.

Tabel 15.   Effek Pakan laktasi terhadap Fertilitas Induk Dewasa (sow)

Tingkat Pakan Induk Laktasi 

Tinggi               Rendah

Interval sapih- kawin                                         6,2                   7,1 

Induk tidak estrus   (%)                                     8,0                 16,0

Tingkat konsepsi (%)                                     100,0                 94,0

Hughes, 1993

Secara normal terlihat bahwa ukuran litter size akan menurun akibat penurunan tingkat pakan pada saat laktasi, effek ini berakibat pada penambahan kematian embrio pada tiga minggu awal kebuntingan,  dapat dilihat pada tabel 16.

Tabel 16. Tingkat Pakan induk Laktasi Terhadap Litter Size pada Induk Dewasa.

Tingkat Pakan Induk Laktasi 

Tinggi                Rendah

Embrio yang hidup (%)                                       78,0                    64,0 

Liiter size (lahir hidup)                                        10,7                      9,8

Hughes, 1989

Umumnya effek laktasi terhadap performan reproduksi induk biasanya mengalami penurunan berat badan dan kondisi tubuh. Oleh sebab itu  kesimpulan yang dapat diambil  ditunjukkan pada tabel 17.

Tabel 17. Effek terhadap berat badan dan kondisi tubuh induk pada saat laktasi

dan performan reproduksi pada induk dewasa.

Interva            Induk         Litter size  

Sapih-kawin    tdk birahi   Lahir hidup

Kehilangan berat badansaat laktas           Tinggi        6,6            26                   9,8 

Rendah    7,0            23                 11,7

Kehilangan berat badan saat sapih            Tinggi        6,3           11                 10,7

Rendah     8,2           37                   8,8

Kehilangan Lemak punggung saat laktasi  Tinggi        5,9           37                   9,2

Rendah     7,3           23                  10,5

Kehilangan Lemak punggung saat sapih    Tinggi       5,8             9                   11,4

Rendah     8,1          39                     8,9

Hughes, 1993

Oleh sebab itu disarankan untuk mempertahankan kondisi tubuh dan anak pada fase laktasi perlu peningkatan feed intake yang maksimum pada fase laktasi.

Pengaturan dalam Pemberian Pakan Induk Secara Praktis

Dari hasil pembahasan diatas maka diperoleh suatu metode dalam pemberian pakan induk tergantung pada fase hidup induk tersebut , hal ini dirangkum dalam tabel 18.

Tabel 18. Kesimpulan Tingkat Pemberian Pakan pada Babi Induk

Gilt/sow Fase Reproduksi Level/tingkat Alasan
Dara/gilt 

 

 

Dara/gilt

 

 

 

Sow

 

 

 

Gilt

 

Gilt

 

 

 

 

Sow

 

 

 

 

 

Gilt/Sow

Prepubertas 

 

 

Puber ke estrus pada birahike dua

 

 

Sapih ke kawin

 

 

 

Awal kebuntingan

 

Akhir kebuntingan

 

 

 

 

Semua kebuntingan

 

 

 

 

Laktasi

 

 

Tinggi 

 

 

Tinggi

 

 

 

Tinggi

 

 

 

Rendah

 

Rendah-sedang

 

 

 

 

Rendah-sedang

 

 

 

 

 

Tinggi

 

Pertumbuhan masimum 

Kondisi tubuh maksimum

 

Pertumbuhan masimum

Kondisi tubuh maksimum

Penambahan ovulasi

 

Pemulihan kondisi tubuh

Pertumbuhan berat hidup

Menjamin ovulasi

 

Embrio hidup maximum

 

Memperbaiki kondisi tubuh

Kemauan laktasi maksimum

Mengurangi variasi berat lahir

 

Menjaga dan memperbaiki kondisi tubuh

Kemauan laktasi maksimum

Mengurangi variasi berat lahir

 

Meningkatkan jumlah susu

Mengurangi kehilangan berat dan kondisi tubuh

Meningkatkan performan reproduksi.

 

Tabel 18 ini dapat disimpulkan  dalam gambar 1. dimana kita memberikan pakan menurut fase reproduksi.  Untuk merubah hal teori diatas menjadi lebih sederhana dalam kehidupan sehari hari, kita harus tahu apa definisi pakan tinggi (high) dan Rendah (low) yang ditafsirkan berapa kilogram pakan yang dikonsumsi perhari.   Pemberian pakan yang aktual dan baik dianjurkan pada setiap fase siklus reproduksi disajikan pada tabel 19.

Banyak peternak hanya memberi pakan induk menjadi dua bagian yaitu pakan induk kering (dry sow ) dan induk laktasi (Laktating sow). Ditambah pakan standar Grower/Finisher  digunakan untuk pakan induk pengganti (gilt) dari seleksi sampai dengan dikawinkan.  Kandungan energi 12,5 – 13 MJ/kg untuk pakan induk kering dan 14 – 14,5 MJ DE /kg untuk pakan induk laktasi. Kandungan protein pada kedua pakan  tersebut harus berdasarkan kebutuhan asam amino ideal atau imbangan   lisin : energi yang rasional yaitu 0,3 gr lisin/MJ DE pada pakan induk kering,  dan 0,55 – 0,7 gr lisin /MJ DE pada pakan induk laktasi.

 

Gambar 1.  Siklus hidup induk babi dan managemen pemberian pakannya

 

 

 

 

 

 

Pakan rendah untuk membantu embrio tetaphidup

 

 

Pakan cukup/sedang untuk menjaga laktasi tetap tinggi

PUBER

 

 

 

 

 

KAWIN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAHIR
 

Pakan tinggi untuk meningkat ovulasi

 

 

 

 

 

SAPIH

 

 

 

 

 

 

Pakan tinggi untuk produksi susu dan pencegahan penurunan berat badan

 

 

Tabel 19. Jumlah pakan yang diberikan pada induk

Gilt/Sow Fase Reproduksi Banyaknya diberikan (kg/hari) Ransum
Dara 

 

Dara

 

 

Sow

 

Gilt

 

Gilt

Sow

 

Gilt/Sow

Prepubertas 

 

Puber ke estrus pada birahike dua

 

Sapih ke kawin

 

Awal kebuntingan

 

Akhir kebuntingan

Semua kebuntingan

Laktasi

3 kg atau adlibitum 

 

3 kg atau adlibitum

 

 

3 kg atau adlibitum

 

2,0 – 2,2 kg

 

2,0 – 2,5 kg

2,0 – 2,5 kg

 

5 kg

Growing/Finisher atau Laktasi 

Growing/Finisher atau Laktasi

 

Laktasi

 

Induk Kering

 

Induk Kering

Induk Kering

 

Laktasi

 

Data ini tentunnya hanya membantu akan tetapi peternak yang menyajikan bagaimana cara yang terbaik di lapangan . Sebaiknya induk dikandangkan secara individu untuk menghindari variasi berat badan, oleh sebab itu kita harus yakin bahwa setiap individu induk mendapat bagian yang sama untuk mengkonsumsii pakan.  Perlu juga dipertimbankan penambahan pemberian pakan induk sebanyak 0,25 kg/hari dalam kondisi dingin atau terlampau kurus.   Tetapi perlu diperhatikan jangan sampai induk bunting kelebihan makan, hal ini berakibat pada penurunan nafsu makan pada saat laktasi, yang akhirnya akan berakibat penurunan berat badan dan kondisi tubuh selama masa laktasi.

Faktor iklim dan suhu lingkungan perlu juga diperhitungkan, untuk meningkatkan nafsu makan induk yang kurang baik  bisa dilakukan dengan meningkatkan pemberian pakan 3 – 4 kali sehari atau menaburkan tepung ikan pada permukaan pakan yang diberikan, sehingga memeberikan bau yang meningkatkan nafsu makan.

 

 

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KULIT BUAH PEPAYA (Carica Papaya) DALAM RANSUM BABI PERIODE FINISHER TERHADAP PERSENTASE KARKAS, TEBAL LEMAK PUNGGUNG DAN LUAS URAT DAGING MATA RUSUK

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi, Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung pada tanggal 1 Maret 2009 sampai dengan 30 Juni 2009. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) dalam ransum babi periode finisher dilihat dari persentase karkas, tebal lemak punggung, dan luas urat daging mata rusuk. Penelitian ini menggunakan 18 ekor ternak babi kastrasi den. Kisaraan bobot badan rata-rata ternak babi adalah 60,56 kg dengan koefisien variasi kurang dari 6,8%. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan, dimana setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan Uji Sidik Ragam, apabila signifikan; maka dilakukan Uji Duncan. Berdasarkan hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya)10% dalam ransum ternak babi tidak mempengaruhi terhadap persentase karkas, tetapi dapat menurunkan sedangkan pada tebal lemak punggung dan meningkatkan luas urat daging mata rusuk. Pemberian Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) 10% dalam ransum babi dapat digunakan sebagai bahan pakan alternative  bagi ternak babi.

Kata Kunci:     Carica Papaya, Persentase Karkas, Tebal Lemak Punggung, dan Luas Urat Daging Mata Rusuk.

ABSTRACT

 

This Research of “ The Effect of Papaya (Carica papaya) Skin Fruit Flour in Ration for The Finisher Period of Pigs to Percentage Carcass, Back Fat and Loin Eye Area” has been held since March 1, 2009 to Juni 30, 2009 at  KPBI Obor Swastika, Cisarua,  Bandung. The purpose of this research is to find dosage level of  papaya skin fruit flour  that can be added into ration so that can be give the best to percentage carcass, Back Fat and loin eye area for the finisher period of pigs. This research was using 18-finisher period of pigs, age 6 months with weight rate 60.56 kg and variation coefficient  6,8%. The method that was used in this research is Complete Randomize Design with three dosage of papaya skin fruit flour , i.e. 0, 5, 10% with six replications. The result of the research shows give 10% papaya skin fruit flour  in ration pig no significant effect to percentage carcass, but increased loin eye area and decreased back fat thickness (p<0,05).  10% papaya skin fruit flour as alternative stuff can be used for pig finisher periode.

 

 

Keywords: pigs, Percentage Carcass, Back Fat Thickness, Loin Eye Area, Papaya skin flour

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Babi merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memiliki sifat-sifat dan kemampuan yang menguntungkan antara lain : laju pertumbuhan yang cepat, jumlah anak per kelahiran (litter size)  yang tinggi, efisiensi ransum yang baik (75-80%) dan persentase karkas yang tinggi (65-80%) (Siagian, 1999). Selain itu, babi mampu memanfaatkan sisa-sisa makanan atau limbah pertanian menjadi daging yang bermutu tinggi. Karakteristik reproduksinya unik bila dibandingkan dengan ternak sapi, domba dan kuda, karena babi merupakan hewan yang memiliki sifat prolifik yaitu jumlah perkelahiran yang tinggi (10-14 ekor/kelahiran), serta jarak antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya pendek. Babi merupakan salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat Indonesia. Karkas merupakan bagian utama dari ternak penghasil daging. Kualitas karkas pada dasarnya adalah nilai karkas yang dihasilkan ternak berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh konsumen yaitu karkas yang mengandung daging maksimal dan lemak minimal serta tulang yang proporsional, hal ini dapat dilihat dari persentase karkas yang tinggi, tebal lemak punggung yang tipis dan luas daging mata rusuk yang besar. Persentase karkas babi adalah yang terbesar dibandingkan lemak lain yaitu 75% dari bobot hidupnya, hal ini disebabkan kulit dari keempat kakinya adalah termasuk dalam karkas babi kecuali kepala dan jeroan. Selain itu juga permintaan daging babi yang cukup tinggi sebesar 7,11 % yakni pada tahun 2002 sebanyak 164,491 ton naik menjadi 177,093 ton pada tahun berikutnya, sedangkan peningkatan populasi babi hanya sebesar 3,63 % yakni dari 5.926.807 ekor menjadi 6.150.535 ekor (Dirjen  Bina Produksi Peternakan, 2003), hal ini menunjukan bahwa babi mempunyai peranan yang cukup besar dalam mensuplai kebutuhan daging walaupun dengan keterbatasan konsumen serta dapat mendorong semakin potensialnya peternakan babi di Propinsi Jawa Barat khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan dan komposisi tubuh yang meliputi distribusi berat dan komposisi kimia komponen karkas yaitu faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan salah satu diantaranya adalah kualitas dan kuantitas pakan. Kualitas pakan yang baik sering kali peternak mengeluarkan biaya yang tinggi, oleh karena itu untuk meminimalkan biaya ransum maka dibutuhkan bahan pakan alternatif yang bersifat kontinyu, mudah didapat, murah, bergizi tinggi dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Bahan pakan yang dimaksud diantaranya adalah kulit buah pepaya.

Tepung kulit buah pepaya mengandung kadar protein yang tinggi yaitu 25,85% dan serat kasar yang cukup rendah yaitu sebesar 12,51% (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008). Kulit buah pepaya didapat dari limbah industri pembuatan manisan yang didapat dari daerah Kabupaten Garut, yaitu di Kecamatan Leles. Penggunaan kulit buah pepaya sebagai campuran makanan ternak Babi masih jarang digunakan, kecuali pada beberapa peternakan sapi potong tradisional di kecamatan leles, dan hasilnya menurut para peternak, daging dari sapi-sapi yang diberi kulit buah pepaya segar menjadi lebih merah dan dagingnya lebih padat. Berdasarkan hal tersebut diatas, kulit buah pepaya dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak karena berpotensi sebagai sumber protein nabati. Hasil survey dilapangan menunjukan bahwa potensi kulit buah pepaya adalah 30% dari tiap buah papaya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang berapa besar tingkat pemberian kulit buah pepaya dalam bentuk tepung sebagai bahan pakan ternak dalam ransum yang dapat meningkatkan produktivitas ternak.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) dalam Ransum Babi Periode Finisher terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk”.

Maksud dan Tujuan

Sejalan dengan permasalahan, maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui pengaruh pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya dalam ransum babi periode finisher  terhadapi persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.
  2. Mengetahui persentase pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya dalam ransum babi periode finisher  sehingga dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.

 

Kerangka Pemikiran

Daging merupakan komponen karkas yang penting dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Daging adalah komponen utama karkas. Karkas juga tersusun dari lemak jaringan adipose, tulang, tulang rawan, jaringan ikat dan tendo. Komponen-komponen tersebut menentukan ciri-ciri kualitas dan kuantitas daging (Soeparno, 1998). Komponen bahan kering yang terbesar dari daging adalah protein. Nilai nutrisi daging yang lebih tinggi disebabkan daging mengandung asam amino esensial yang lengkap dan seimbang (Forrest, dkk, 1975).

Di dalam pembentukan daging pada masa pertumbuhan, ternak babi membutuhkan asupan protein dan energi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan protein dan energi ternak tergantung pada beberapa faktor termasuk berat hidup, pertambahan berat badan, dan konsumsi pakan (Soeparno, 1998). Protein merupakan bagian terbesar pembentuk urat daging, organ-organ tubuh, tulang rawan dan jaringan ikat. Konsumsi protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat (Anggorodi, 1994). Kandungan protein (asam-asam amino) ransum yang optimal pada ransum babi harus pula memperhatikan kandungan energinya, hal ini disebabkan karena sejumlah energi tertentu dibutuhkan per tiap gram protein dengan demikian protein dapat digunakan efisien untuk pertumbuhan, kebutuhan lisin ternak babi yang sedang tumbuh dengan berat badan 35 – 60 kg adalah 0,61% (Sihombing, 1997). kebutuhan protein kasar bagi babi grower dan pengakhiran adalah 18 sampai dengan 13.5 % dengan energi yang dapat dicerna rata-rata 3400 Kkall. Karena ternak Babi merupakan ternak monogastrik maka yang harus diperhatikan adalah serat kasar yang rendah terutama pada fase pertumbuhan kecuali pada induk.

Di dalam kulit buah pepaya masih terdapat kandungan nutrisi yang tinggi sehingga diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak. Kulit buah pepaya memiliki kekurangan yaitu mudah busuk, oleh karena itu untuk mengatasinya maka kulit buah pepaya dijadikan tepung sehingga menjadi lebih tahan lama. Tepung kulit buah pepaya memiliki kandungan nutrisi antara lain protein kasar 24,85%, serat kasar 18,52%, lemak kasar 8,87%, abu 8,52%, kalsium 2,39% dan phosphor 0,88% (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008), dan Fe 0,385% (Analisis Laboratorium Institut Pertanian Bogor, 2008). Kulit buah pepaya memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pakan alternatif sumber protein yang dapat mengganti atau mengurangi penggunaan bahan pakan sumber protein lainnya seperti bungkil kedelai dan lain-lain.

Kulit buah pepaya selain memiliki kadar protein yang tinggi, juga mengandung enzim papain. Enzim ini banyak terkandung dalam kulit, batang, daun, dan buah (http://en.wikipedia.org/wiki/Papaya). Papain merupakan salah satu enzim proteolitik. Manfaat papain antara lain adalah dapat digunakan sebagai pelunak daging (enzim papain mampu memecah serat-serat daging, sehingga daging lebih mudah dicerna), papain berfungsi membantu pengaturan asam amino dan membantu mengeluarkan racun tubuh. Dengan cara ini sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan, (www.Damandiri.or.id). Kulit buah pepaya selain memiliki protein yang tinggi dan enzim papain juga memiliki kandungan zat besi yang tinggi sebesar 0,385% (Analisis Laboratorium Institut Pertanian Bogor, 2008).    Protein dibutuhkan oleh babi masa pertumbuhan. Protein dalam ransum digunakan untuk membangun, menjaga dan memelihara protein jaringan dan organ tubuh, menyediakan asam-asam amino makanan, menyediakan energi dalam tubuh serta menyediakan sumber lemak badan (Tilman, dkk., 1986). Papain dapat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, hal ini dikarenakan papain memiliki lebih dari 50 asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh (http://en.wikipedia.org/wiki/papain). Dengan pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum babi diharapkan dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan hipotesis bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum sampai 10% dapat memberikan pengaruh yang terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk babi periode finisher.

Lokasi dan Waktu Penelitian

            Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan April 2009 di Laboratorium Penelitian (KPBI) Koperasi Peternak Babi Indonesia, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung.

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Tanaman Pepaya

Tanaman pepaya menurut Rukmana (1995) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

            Kingdom          : Plantae (Tumbuh-tumbuhan)

            Divisi               : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)

            Sub-divisi        : Angiospermae (Biji tertutup)

            Kelas               : Dicotyledonae (Biji berkeping dua)

            Ordo                : Caricales

            Family                         : Caricaceae

            Spesies           : Carica papaya L.

Buah pepaya merupakan salah satu buah yang telah lama dikenal luas di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, pepaya sangat dikenal semua lapisan masyarakat. Buah pepaya telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Buah matangnya sangat digemari karena cita rasanya yang enak, relatif tingginya kandungan nutrisi dan vitamin, serta fungsinya dalam melancarkan pencernaan.

Potensi Kulit Buah Pepaya

Tanaman pepaya yang dipelihara secara intensif dan sistem penanamannya monokultur (satu jenis), tingkat produktifitasnya dapat mencapai 50-150 buah/pohon. Bila lahan kebun seluas 1,0 hektar ditanami pepaya pada jarak tanam 3×3 m terdapat populasi 1.000 tanaman, maka produksi per hektar dapat mencapai 50.000-150.000 butir buah atau setara dengan 20-60 ton buah pepaya dengan catatan, banyak terdapat humus, tata udara dan tata air tanahnya baik, dengan pH sekitar 6-7. Panen perdana tanaman pepaya dapat dilakukan pada saat umur 9-11 bulan. Di dalam satu buah pepaya persentase kulit buahnya dapat mencapai 30% yang 10% diantaranya adalah biji pepaya. Panen tanaman pepaya dapat dilakukan secara kontinyu setiap 5-7 hari sekali bergantung pada kematangan buah, permintaan pasar, dan tujuan penggunaan (Rukmana, 1995).

Kulit buah pepaya merupakan bagian terluar dari buah pepaya yang masih mengandung nilai nutrisi cukup tinggi. Kulit buah pepaya pada keadaan kering mengandung protein kasar sebesar 25,58 %, lemak kasar 8,87 %, serat kasar 18,52 %, Ca 2,39 %, P 0,88 %, dan Abu 8,52 % (Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008). Kandungan nutrisi kulit buah pepaya relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bahan pakan sumber protein lain, antara lain kacang hijau yang memiliki kandungan protein kasar 26,7 %, lemak 1,47 %, serat kasar 5,93 %, Ca 0,16 %, P 0,72 %, dan abu 5,22 %, bungkil kelapa yang mengandung protein kasar 21 %, lemak 10,9 %, serat kasar 14,2 %, Ca 0,165 %, P 0,62 %, dan abu 8,24 %, serta ampas tahu yang hanya mengandung protein kasar 20,81 %, lemak 7,08 %, serat kasar 14,88 %, Ca 0,64 %, P 0,28 %, dan abu 3,74 % (Sutardi, 1983).

Deskripsi Ternak Babi

Babi merupakan ternak monogastrik yang memiliki kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien apabila ditunjang dengan kualitas ransum yang dikonsumsi. Babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan bersifat prolifik yang ditunjukkan dengan banyaknya anak dalam setiap kelahiran yang berkisar antara 8 -14 ekor dengan rata-rata dua kali kelahiran pertahunnya (Sihombing, 1997). Menurut Sihombing (1997), pertumbuhan babi yang digemukkan untuk tujuan daging dibagi menjadi beberapa periode yaitu periode pra sapih (pre starter), lepas sapih (starter), pertumbuhan (grower), dan finisher. Babi periode finisher adalah babi setelah melewati periode pertumbuhan, dicirikan dengan berat hidup 60-90 kg, sedangkan pertambahan bobot badan babi periode finisher adalah 701-815 gram/hari (Annison, 1987).  Soeparno (1992), mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh secara kumulatif mengalami pertambahan berat selama pertumbuhan sampai mencapai kedewasaan, jadi pertumbuhan mempengaruhi pula distribusi berat dan komponen-komponen tubuh ternak termasuk tulang, otot, dan lemak. Menurut Sutardi (1980), kecepatan pertumbuhan suatu ternak dipengaruhi berbagai faktor antara lain bangsa, jenis kelamin, umur, makanan, dan kondisi lingkungan.

Produksi Karkas Babi

               Karkas babi merupakan bagian tubuh ternak setelah dilakukan pemisahan terhadap kepala, bulu, kuku, isi rongga dada. Karkas babi yang dihasilkan berkisar antara 60-90% dari berat hidup tergantung pada kondisi, genetik, kualitas pakan dan cara pemotongan (Ensminger, 1984). Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dengan bobot potong yang dinyatakan dalam persen (Forrest, dkk. 1975). Bobot potong yang tinggi tidak selalu menghasilkan bobot karkas yang tinggi. Hal ini dikarenakan sering adanya perbedaan pada berat kepala, bulu, isi rongga dada dan perut (Soeparno, 1992), oleh karenanya bobot potong lebih dari 90 kg memang meningkatkan hasil berat karkas tetapi persentase karkas yang dihasilkan akan menurun (Sihombing, 1997). Bobot potong optimum dapat dicapai jika terdapat interaksi antara jenis pakan yang diberikan, cara pemberian pakan, bangsa ternak, jenis kelamin dan kematangan seksual (Davendra dan Fuller, 1979). Persentase karkas babi dibagi menjadi beberapa kelas, kelas 1 menurut USDA  adalah 68-72% (Forrest, dkk. 1975). Besarnya persentase karkas dipengaruhi oleh faktor tipe dan ukuran ternak serta penanganan ternak, lamanya pemuasaan, serta banyaknya kotoran yang dikeluarkan (Soeparno, 1992).  Persentase karkas akan meningkat dengan meningkatnya bobot potong (Forrest et. all, 1975), dinyatakan pula dengan meningkatnya presentase lemak karkas menyebabkan persentase otot dan tulang menurun. Persentase karkas normal berkisar antara 60-75% dari berat hidup. Persentase ini lebih tinggi pada babi dibandingkan dengan ternak lain seperti domba dan sapi karena babi tidak mempunyai rongga badan yang terlalu besar serta babi mempunyai lambung tunggal (Blakelly dan Bade, 1998).

Tebal Lemak Punggung

Pengukuran tebal lemak punggung pertama kali dilakukan tahun 1952 oleh Hazel dan Kline dengan alat yang disebut ”back fat probe” setelah itu sangat meluas penggunaannya maupun perkembangan teknologi peralatannya. Ukuran tebal lemak punggung secara langsung menggambarkan produksi lemak atau daging. Tebal lemak punggung babi yang tipis memberi persentase hasil daging yang tinggi dan sebaliknya tebal lemak punggu yang tinggi memberi hasil persentase hasil daging yang rendah. Sejak tahun 1968 Lembaga USDA di Amerika Serikat telah menentukan suatu cara dalam penentuan kelas karkas dari babi siap potong.

Luas Urat Daging Mata Rusuk

Kualitas daging erat hubungannya dengan ukuran luas penampang otot longisimus (longisimus muscle area) sering juga disebut urat daging mata rusuk yang diukur diantara tulang rusuk ke 10 dan 11 (Miller, dkk. 1991). Luas urat daging mata rusuk dapat digunakan untuk menduga perdagingan karkas dan berat karkas karena terdapat korelasi dengan total daging pada karkas dimana yang lebih berat akan mempunyai ukuran penampang urat daging mata rusuk yang lebih besar.

Crampton dkk (1969), menjelaskan bahwa luas urat daging mata rusuk dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi ternak. Menurut Figueroa (2001) yang meneliti pengaruh performans babi pertumbuhan finisher yang diberikan pakan rendah protein, rendah energi, tepung biji sorghum-kedelai memperoleh nilai rata-rata luas urat daging mata rusuk sebesar 42,97 cm2. Menurut Soeparno (1992), luas urat daging mata rusuk dipengaruhi juga oleh bobot potong. Bobot potong yang tinggi akan menghasilkan daging mata rusuk yang lebih luas.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan Penelitian dan Ternak Penelitian

Ternak yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi hasil persilangan Landrace. Kisaran bobot badan rata-rata ternak babi adalah 60,56 kg dengan koefisien variasi kurang dari 6,25. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama dan jenis kelamin babi yaitu jantan kastrasi. Kandang yang digunakan adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng, dilengkapi tempat makan dan minum sebanyak 18 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian yaitu:Timbangan duduk kapasitas 200 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk   menimbang berat ternak.Timbangan duduk kapasitas 15 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk menimbang jeroan.Timbangan gantung 150 kg (ketelitian 0,1 kg) untuk menimbang berat karkas. Pisau, plastik mika transparan dan milimeter block untuk menentukan luas urat daging mata rusuk. Mistar untuk mengukur tebal lemak punggung.

Kulit Buah Pepaya

Ransum yang diberikan pada ternak percobaan dalam penelitian berupa tepung. Bahan Tepung Kulit Buah Pepaya didapat dari PT. Karya Mulya, Leles Kabupaten Garut. Bahan tersebut dikeringkan hingga kadar air 15% kemudian digiling hingga menjadi tepung.

Ransum Penelitian

Bahan makanan yang digunakan untuk menyusun ransum adalah tepung jagung, tepung ikan, bungkil kelapa, tepung tulang, bungkil kedelai, tepung tulang, dedak padi, dan premix. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan National Research Council (1988).  Tepung kulit buah pepaya dicampur ke dalam ransum dalam jumlah dosis yang berbeda sebagai bahan yang akan diteliti pengaruhnya. Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan masing-masing diperlihatkan pada Tabel 1, sedangkan kandungan ransum percobaan terdapat pada Tabel 2.

Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung kulit buah pepaya. 

Kandungan Gizi Ransum Basal Tepung Kulit Buah Pepaya
EM (kkal) 3244,8 2419
PK (%) 14 25,85
SK (%) 7,5 2,39
Ca (%) 0,32 18,52
P (%) 0,66 0,88

Sumber : Ransum basal (NRC, 1998) 

     Tepung kulit buah pepaya (Permana, 2007)        

Tabel 2. Kandungan nutrisi ransum penelitian

Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian
R0 R1 R2
EM (kkal) 3244,81 3203,51 3162,22
PK (%) 14,02 14,59 15,18
SK (%) 7,54 8,05 8,06
Ca (%) 0,32 0,4235 0,52
P (%) 0,66 0,671 0,68

R0 = 100% ransum basal

R1 = 95% ransum basal + 5% tepung kulit buah pepaya

R2 = 90% ransum basal + 10% tepung kulit buah pepaya

Metode Penelitian dan Tahap Penelitian

  1. Persiapan kandang, sanitasi kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum dan peralatan serta penimbangan bobot awal ternak sebelum penelitian dimulai. Setiap babi dimasukkan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan secara acak.
  2. Adaptasi babi terhadap kandang, ransum, perlakuan dan lingkungan yang baru dilakukan selama 1 minggu, dan pemberian obat cacing.
  3. Pemberian ransum sebanyak 1 kg/ ekor dilakukan selama tiga kali sehari, pukul 07.00 dan 12.00 dan 16.00 WIB dengan jumlah ransum per hari adalah 3 kg/ekor.
  4. Penimbangan bobot badan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan menggunakan timbangan duduk pada pagi hari sebelum babi dibersihkan.
  5. Tepung Kulit Buah Pepaya di campur 5% dan 10% dalam ransum basal pada perlakuan R1 dan R2.
  6. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran ternak babi dan kotoran tersebut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi  dimandikan agar  bersih dan merasa nyaman.
  7. Setelah babi mencapai bobot badan 90 kg babi siap dipotong, tetapi sebelum dipotong babi dipuasakan dahulu selama 18 jam untuk mengurangi stress dan menghindarkan kontaminasi isi saluran pencernaan terhadap karkas (Sihombing, 1997). Sesaat sebelum dipotong, ternak babi ditimbang bobot potongnya. Babi ditusuk pada leher bagian atas dekat rahang bawah menuju jantung. Bulu dihilangkan dengan cara dikerok setelah sebelumnya direndam dalam air panas dengan suhu 70°C selama 2 menit kemudian kepala dipisahkan dari tubuh.
  8. Setelah melalui sayatan lurus ditengah perut hingga dada pada tulang dada, rectum dibebaskan melalui anus dan isi perut serta dada dikeluarkan termasuk alat kelamin, vesica urinaria, diaphragma dan ekor.
  9. Tulang dada sampai dengan tulang ekor dipotong sehingga karkas pisah menjadi 2 bagian dan baru dilakukan penimbangan terhadap berat karkas dengan menggunakan timbangan digital.
  10. Antara tulang rusuk ke 10 dengan 11 dipotong dengan menggunakan pisau untuk digambar urat daging mata rusuknya (Miller, dkk. 1991) dengan menggunakan plastik mika transparan, kemudian diukur luasnya dengan menggunakan milimeter block.
  11. Tebal lemak punggung diukur dengan mistar berskala centimeter diatas punggung babi yaitu pada tulang rusuk pertama, keduabelas, dan terakhir kemudian dirata-ratakan (Forest, et.al, 1975).

 

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian adalah :

  1. Persentase Karkas (%)

Diperoleh dari berat karkas (BK) dibagi bobot potong (BP) dikali 100% atau   dengan rumus :      

    Berat karkas             x  100%

    Berat potong

  1. Luas Urat Daging Mata Rusuk

Diukur dengan menggunakan milimeter block yang ditempelkan pada plastik mika yang telah digambar berdasarkan luas urat daging mata rusuk yang diamati kemudian dihitung berapa banyak kotak yang terisi penuh (Forrest, et al..  1975).

3.   Tebal Lemak Punggung

      Diukur dengan mistar berskala centimeter diatas punggung babi yaitu pada tulang rusuk pertama, keduabelas, dan terakhir kemudian dirata-ratakan (Forest, et.al, 1975).

Rancangan Percobaan dan Analisis Statistik

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan, Salah satu perlakuan sebagai kontrol tanpa mengandung tepung kulit buah pepaya dan 2 perlakuan lainnya mengandung kulit buah pepaya dengan dosis yang berbeda. Masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 18 ekor ternak babi.  Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie, 1989) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Yij = µ + αi + єij .

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Persentase Karkas

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah papaya pada ransum persentase karkas dapat dilihat  pada  Tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata Persentase Karkas Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(%)

R0 R1 R2
  ———————%———————  
1 76,47059 76,24309 78,26087
2 77,77778 77,04918 76,53631
3 75,5814 78,02198 77,04918
4 74,7191 75,70621 78,57143
5 76,13636 79,54545 77,34807
6 78,48837 77,9661 77,71739
Rata-rata 76,52893 77,422 77,58054 77,17716

 

Rata-rata persentase karkas secara keseluruhan adalah 77,17%, ini menunjukkan persentase tinggi termasuk ke dalam  kelas 1 menurut USDA yaitu antara 68-72%, ini disebabkan oleh rendahnya berat isi  jeroan dalam bobot potong yang optimal (90 kg). Bobot potong 90 kg adalah bobot potong optimal, dimana berat karkas tinggi, berat karkas sangat mempengaruhi persentase karkas (Hovorka dan Pavlik, 1973).

Berdasarkan pemberian dosis tepung buah kulit pepaya : 0; 5; dan 10% dalam ransum diperoleh persentase karkas berturut-turut : 76,52; 77,42 dan 77,58. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis kulit buah pepaya dalam ransum ternak babi pada penelitian ini  tidak berpengaruh terhadap persentase karkas. Hal ini disebabkan karena  persentase karkas merupakan hasil dari pembagi berat karkas dan berat potong jadi pada ternak yang bangsa sama cenderung memperoleh persentase yang sama pula. Penelitian ini sesuai dengan Rikas et al. (2008) yang menyatakan bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum kelinci tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum dan persentase karkas, tetapi memperbaiki efisiensi penggunaan ransum pada kelinci.

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Luas Urat Daging Mata Rusuk

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah pepaya pada ransum terhadap luas urat mata daging rusuk dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata Luas Urat Daging Mata Rusuk Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(cm2)

R0 R1 R2
  ——————– cm2——————–  
1 34,6 41,0 42,8
2 35,7 42,2 39,6
3 37,5 40,6 41,5
4 41,0 40,4 41,0
5 38,0 39,0 39,7
6 36,9 39,3 42,0
Rata-rata 37,2 a 40,4  b 41,1 b 39,6

Ket. Huruf yang sama dalam baris menunjukkan tidak berbeda nyata

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan luas urat daging mata rusuk secara keseluruhan adalah 39,6 cm2. Hasil tersebut masih berada dalam kisaran normal sesuai dengan Figueroa (2001) yang meneliti nilai rata-rata luas urat daging mata rusuk pada babi periode finisher yaitu sebesar 42,97 cm2. Berdasarkan pemberian dosis tepung kulit buah pepaya : 0; 5 dan 10 %, diperoleh persentase karkas berturut-turut : 37,28; 40,41 dan 41,1 cm2.

Berdasarkan hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis tepung kulit buah pepaya dapat meningkatkan luas daging mata rusuk (p<0,05) karena  Tepung kulit buah pepaya mengandung kadar protein yang cukup tinggi yaitu 25,85% dan serat kasar yang cukup rendah yaitu sebesar 12,51% (Hasil analisis di Laboratorium Nutrisi Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNPAD, 2008), sehingga dapat digunakan oleh ternak sebagai sumber asam amino untuk membentuk daging.   Selain itu  kulit buah papaya memiliki Enzim papain termasuk enzim protease, yaitu enzim yang menghidrolisis ikatan peptida pada protein, untuk melakukan aktivitasnya protease membutuhkan air sehingga dikelompokkan ke dalam kelas hidrolase. Protease berperan dalam sejumlah reaksi biokimia seluler, selain diperlukan untuk degradasi senyawa protein nutrien, protease terlibat dalam sejumlah mekanisme patogenisitas, sejumlah pasca translasi protein, dan mekanisme akspresi protein ekstraseluler.

Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Tepung Kulit Buah Pepaya Dalam Ransum Babi Periode Finisher Terhadap Tebal Lemak Punggung

Data hasil pengamatan selama penelitian tentang pengaruh berbagai dosis tepung kulit buah pepaya pada ransum terhadap tebal lemak punggung dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Tebal Lemak Punggung Hasil Penelitian dari Perlakuan.

Ulangan Perlakuan Rataan

(cm)

R0 R1 R2
  ———————cm——————–  
1 3,3 2,8 2,5  
2 3,2 2,6 3,0
3 3,0 2,7 2,6
4 3,0 2,8 2,7
5 3,1 3,0 2,9
6 3,4 2,9 2,5
Rata-rata 3,1 2,8 2,7 2,88

 

Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa rataan tebal lemak punggung secara keseluruhan adalah 2,88 cm. Hasil tersebut termasuk ke dalam kelas 1 sesuai dengan pendapat Forrest (1975) yang meneliti nilai rata-rata tebal lemak punggung pada babi periode finisher kelas 1 < 3,56 cm. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh tebal lemak punggung dengan urutan dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah perlakuan R0 (3,1 cm), R1 (2,8cm), dan R2 (2,7 cm), untuk mengetahui pengaruh Kulit buah pepaya terhadap tebal lemak punggung dilakukan analis sidik ragam yang hasilnya adalah pemberian kulit buah pepaya dapat menurunkan tebal lemak punggung babi finisher  (p<0,05), dari sini dapat kita peroleh bahwa energi yang berlebihan pada ransum dengan adanya kulit tepung kulit buah papaya dapat di transformasi menjadi sumber protein tubuh. Enzim papain yang ada pada kulit buah papaya juga mampu meningkatkan kecernaan ransum terutama protein.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya sampai tingkat 10 % dalam ransum tidak memberi pengaruh terhadap produksi karkas, tetapi berpengaruh nyata terhadap luas urat daging mata rusuk dan tebal lemak punggung babi periode finisher.

Tepung kulit buah pepaya sampai tingkat 10 % dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan alternatif sumber protein dalam ransum dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap produksi dan komponen karkas.

Saran

Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui batas maksimal penggunaan dosis tepung kulit buah pepaya yang memberikan pengaruh yang baik terhadap persentase karkas.

Penggunaan Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) bisa dijadikan alternatif 10% sebagai pakan alternative untuk ternak babi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Atiya, dkk. 2001. Pemeriksaan Efek Anthelmentik Papain Kasar Terhadap Infeksi Buatan Cacing Haemonchus contortus. Rudolphi Pada Domba. JFF. MIPA. Unair.

Benbrook, E. A., and M. V. Sloss. 1961. Clinical Parasitology. 3  ed, Iowa State Univ. Press. Ames, Iowa, 3-17.

Kusumamihardja, S. 1992.  Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piara. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lawson, J. L. dan M. A. Gemmel. 1983.  Transmission in Hydatidosis and cysticercosis. Advance’s in Parasitology 2a:279.

Levine, N.D. 1982.  Textbook Of Veterinary Parasitology.  Burgess Publishing Company.  USA.

NRC. 1998. Nutrient Requirments of Swine. Nutrient Requirments of Domestic Animal, Ninth Revised Edition National Academy Press. Washingthon DC.

Siagian H. Pollung. 1999. Manajemen Ternak Babi, Diktat Kuliah Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sihombing. 1997. Ilmu Ternak Babi. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Subronto, dan I. Tjahajati. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soulsby, E.J.L.  1982.  Helminths, Antropods and Protozoa of Domesticated Animals. Inglish Laguage Book Service Bailiere Tindall.  7th Ed. Pp.231-257.

Tarmudji, Deddy Djauhari Siswansyah dan Gatot Adiwinata.  1988.  Parasit-parasit Cacing Gastrointestinal pada sapi-sapi di Kabupaten Tapin dan Tabalong Kalimantan Selatan, di dalam Penyakit Hewan.  Balai Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.

Wiryosuhanto, S. D. dan T.N.Jacoeb.  1994.  Prospek Budidaya Ternak Sapi.

Kanisius.  Yogyakarta.

______________Papain juga dapat memecah makanan yang mengandung protein hingga terbentuk berbagai senyawa asam amino yang bersifat autointoxicating (http://www.cybermed.cbn.net.id. Diakses 25 Juni 2008)

____________. Papain mempunyai sifat Vermifuga kemampuan menguraikan protein sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida (http://www. Wikipedia. Com. Diakses 25 Juni 2008)

____________. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril (http://www.asiamaya.com. Diakses 25 Juni 2008).

PENGARUH SUBSTITUSI JAGUNG OLEH CORN FIBER DALAM RANSUM BABI TERHADAP KONVERSI RANSUM DAN LAJU PERTUMBUHAN

ABSTRAK

Suatu Penelitian tentang “Pengaruh Substitusi Jagung oleh Corn Fiber dalam Ransum Babi terhadap Konversi Ransum dan Laju Pertumbuhan” dengan tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh substitusi jagung oleh Corn Fiber dalam ransum  babi terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

Penelitian ini menggunakan 24 ekor babi periode starter yang berumur 8 minggu dengan bobot badan rata-rata 20 kg dan koefisien variasi 6,94 %. Rancangan Percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap dengaan empat macam perlakuan yaitu tingkat substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 0 %, 20 %, 35 % dan 50 %, setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi jagung oleh Corn Fiber tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap konversi ransum sampai pada tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebesar 35 % dan memberikan pengaruh yang berbeda pada tingkat substitusi corn fiber sebesar 50 % dimana semakin tinggi kandungan corn fiber yang mensubstitusi jagung dalam ransum babi mengakibatkan laju pertumbuhan semakin menurun. Substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 35 % memberikan pengaruh terbaik terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

Kata Kunci : Jagung, Corn Fiber, Konversi Ransum, Laju Pertumbuhan,  Babi.

ABSTRACT

This research is about the effect of corn substitution by corn fiber in pigs rations to the ration convertion and growth rate with purpose to know the effect of corn substitution by corn fiber in pigs rations to the ration convertion and growth rate.

 

This research was using 24 starter period pigs, age 8 weeks with weight rate 20 kg and variation coefficient 6,94  %. The method wich was used in this research is Complete Randomize Design with four levels of corn substitution by corn fiber i.e, 0%, 20%, 35% and 50% with six replications.

 

The result of the research shows that the corn substitution by corn fiber does not give the different effect to the ration convertion up to 35 % and gives the different effect to the ration convertion value in 50 % levels corn substitution by corn fiber, where the high percentation of corn fiber to substitute the corn will decrease pigs growth rate. Corn substitution by corn fiber in pigs ration up to 35 % give the best effect to ration convertion and growth rate.

Key Word : Corn, Corn Fiber, Ration Convertion, Growth Rate, Pigs.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Peningkatan kesejahteraan dan perubahan pola fikir masyarakat tentang sumber makanan bergizi sangat mempengaruhi tingkat konsumsi daging. Permintaan akan daging yang cukup tinggi harus diimbangi dengan pengembangan serta budidaya ternak yang diharapkan mampu meningkatkan produksi daging dan hasil ikutan ternak lainnya. Salah satu ternak yang berpotensi untuk dikembangkan dalam usaha pemenuhan kebutuhan daging adalah babi. (Ahlschwede et al. 2004).

            Babi merupakan ternak yang mempunyai potensi cukup baik sebagai penghasil daging. Peningkatan produktivitas babi terus dilakukan karena usaha peternakan babi sangat potensial untuk dikembangkan. Keuntungan memelihara babi antara lain adalah efisien dalam mengkonversi pakan menjadi daging, bersifat prolifik (banyak anak per kelahiran), memiliki pertambahan bobot badan yang tinggi serta persentasi karkas yang tinggi (Williams, 2006).

            Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi usaha peternakan khususnya babi adalah ketersediaan pakan. Biaya untuk pakan dalam usaha peternakan babi mencapai 70 – 80 % dari total biaya produksi sehingga komposisi ransum perlu disusun seoptimal mungkin untuk mencapai keuntungan yang maksimal.  Populasi babi yang ada di Indonesia pada tahun 2003 sekitar 12 juta ekor. Daging babi merupakan salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat Indonesia yang mengkonsumsinya yang jumlahnya sekitar 30 juta jiwa, membutuhkan sumber pakan sekitar 30.000 ton per hari (2,5 kg/ekor/hari) atau 10,95 juta ton per tahun (Statistik Dirjen Peternakan, 2007).

            Babi merupakan ternak monogastrik (berlambung tunggal) yang tidak dapat mencerna serat kasar sehingga bahan pakan utama babi adalah biji-bijian, terutama biji-bijian yang serat kasarnya tidak terlalu tinggi, biasanya 30 % dari bahan pakan tersebut adalah jagung. Pemerintah Indonesia mengimpor jagung kira-kira 65 % dari kebutuhan pakan ternak, yaitu sekitar 2,135 juta ton per tahun atau setara dengan Rp 2,78 milyar per tahun (Soebijanto, 2003).

            Harga jagung yang tinggi menjadi kendala dalam usaha meningkatkan produksi ternak babi. Hal ini disebabkan oleh ketersediaannya yang terbatas karena bersaing dengan kebutuhan manusia, oleh karena itu perlu dicari alternatif untuk menurunkan biaya pakan tersebut.     Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah harga jagung yang tinggi sekaligus mengefisienkan penggunaan ransum adalah dengan mencari sumber-sumber bahan pakan yang belum umum digunakan sebagai bahan pakan dengan harga relatif murah, mudah didapat, tersedia secara kontinu, mempunyai nilai gizi yang cukup bagi kebutuhan ternak, tidak bersifat racun bagi ternak, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Salah satu bahan pakan alternatif tersebut adalah corn fiber.

            Corn fiber yang merupakan hasil sampingan (by product) dari pengolahan minyak jagung yang memiliki kandungan nutrisi yang tidak jauh berbeda dengan jagung sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ransum ternak ruminansia maupun non ruminansia (Rea et al., 2007). Dalam hal ini faktor pembatas yang perlu diperhatikan adalah kandungan serat kasar terutama pada ternak yang masih sangat muda (Williams, 2006).

            Kandungan serat kasar dari corn fiber adalah 9,22 % (Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004). Dengan produksi corn fiber sebanyak 500 ton/hari di PT. Suba Indah Tbk akan membuka peluang  besar dalam pemanfaatan corn fiber sebagai bahan pakan dalam ransum ternak, khususnya babi. (Bagian Produksi PT. Suba Indah Tbk, 2004).  

Kerangka Pemikiran

Babi merupakan ternak penghasil daging yang sangat efisien, sebab tingkat pertumbuhannya yang relatif cepat dengan rata-rata pertambahan berat badan periode starter sebesar 450 gram/hari, grower 700 gram/hari dan finisher sebesar 820 gram/hari. (NRC, 2008), bersifat prolifik ( banyak anak per kelahiran), serta merupakan salah satu hewan omnivora yang memakan segala jenis makanan (Van Barneveld, 2007).

  Jagung selain sebagai bahan makanan manusia juga merupakan bahan makanan ternak seperti unggas dan babi sebagai sumber energi. Menurut Dirjen Peternakan (2007), produksi jagung di Indonesia berkisar 1.4 ton/ha, sedangkan produksi di Negara-negara Asia rata-rata 1,8 ton/ha dan produksi dunia kira-kira 2 ton/ha.  Jagung merupakan bahan makanan sumber energi yang sangat penting bagi ternak. Energi didefenisikan sebagai kapasitas melakukan kerja. Energi dalam penggunaan makanan diukur dengan produksi panas yang timbul dari oksidasi biokemis di dalam tubuh ternak atau energi yang hilang melalui ekskresi tubuh. Energi dibutuhkan untuk proses hidup yaitu untuk kebutuhan hidup pokok, memelihara jaringan tubuh dan pembentukan jaringan tubuh yang baru antara lain ; pertumbuhan, kebuntingan dan laktasi (Williams, 2006). Sebagian kecil dari energi disimpan dalam bentuk glikogen di dalam hati dan otot, sedangkan sebagian besar disimpan dalam tubuh berbentuk lemak jika kelebihan energi.  Kekurangan energi dimanifestasikan dengan pertumbuhan yang lambat, kehilangan jaringan tubuh, dan atau rendahnya produksi daging tanpa adanya tanda-tanda yang nyata (Ahlschwede et al. 2004).

            Dalam usaha mengoptimalkan produksi babi, tingginya harga bahan pakan jagung merupakan salah satu kendala, hal ini disebabkan oleh ketersediaannya yang terbatas karena bersaing dengan kebutuhan manusia. Tingginya biaya untuk jagung tersebut menyebabkan harga daging menjadi tinggi juga, yang pada akhirnya akan menurunkan permintaan akan daging babi. Usaha untuk mengatasi masalah harga bahan pakan yang tinggi dapat dilakukan dengan mencari sumber bahan pakan alternative dengan syarat ; harga relatif murah, mudah didapat, tersedia banyak, memiliki zat-zat makanan yang diperlukan oleh ternak, tidak beracun, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.

            Corn fiber merupakan salah satu bahan pakan alternative yang memenuhi syarat-syarat diatas. corn fiber merupakan hasil sampingan (by product) dari pengolahan minyak jagung. PT. Suba Indah. Tbk. merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengolahan minyak jagung. Komoditas utama dari PT. Suba Indah Tbk, adalah minyak jagung Omega-3 dan Omega-6 dengan by product seperti ; Starch (tepung pati), Corn Gluten Meal (dengan kadar protein lebih besar dari 60 %), dan corn fiber. Corn fiber merupakan by product yang paling banyak dihasilkan yaitu berkisar 500 ton/hari. (Bagian Produksi PT. Suba Indah Tbk, 2004).

            Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa corn fiber dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan babi, yang menyatakan bahwa corn fiber dapat digunakan sebagai bahan pakan babi periode starter sebanyak 5 – 10 % dalam ransum (Edward, 2007). Selanjutnya, English, et al. 2008, menyatakan bahwa corn fiber bisa digunakan sebagai bahan pakan dalam ransum babi periode grower sebanyak 10 – 20 %, dan sebanyak    20 – 30 % dalam ransum babi periode finisher.  Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik suatu hipotesis bahwa corn fiber dapat mensubstitusi bahan pakan jagung dalam ransum babi sampai 50% (17,5 % dalam ransum babi periode starter atau 15 % dalam ransum babi periode grower atau 12,5 % dalam ransum babi finisher) dan memberikan pengaruh baik terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

Corn Fiber

            Dari segi fisik, jagung berwarna kuning sedangkan corn fiber berwarna kuning kecoklatan. Dari segi bau keduanya berbeda, jagung memiliki bau khas jagung yang digiling sedangkan corn fiber memiliki bau yang menyerupai gandum/bijian terbakar (toasted cereals) bercampur dengan bau fermentasi jagung. Karakteristik bau corn fiber sangat khas dibanding produk bahan pakan lainnya (Bagian Produksi PT. Suba Indah Tbk, 2004).

Corn fiber merupakan hasil sampingan (by product) dari pengolahan minyak jagung yang memiliki kandungan nutrisi yang tidak jauh berbeda dengan jagung sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ransum ternak ruminansia maupun non ruminansia (Edward, 2007). Dalam hal ini faktor pembatas yang perlu diperhatikan adalah kandungan serat kasar terutama pada ternak yang masih sangat muda (English, 2008).  Kandungan zat makanan dari corn fiber jika dibandingkan dengan jagung dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Zat Makanan Corn Fiber dibandingkan dengan Jagung.

Zat Makanan Corn fiber* Jagung
Protein Kasar      (%)            10,31               10,50
Serat Kasar         (%)              9,22                 2,00
Kalsium              (%)              0,08                 0,02
Phosfor               (%)              0,05                 0,30
EM                (Kkal/kg)        3563,12           3420,00

Sumber :a)   Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak IPB, 2004.

              b) *Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia                           Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004.

Penampilan Produksi Babi

Konversi Ransum

            Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg pertambahan bobot badan atau kemampuan ternak mengubah makanan kedalam bentuk tambahan bobot badan (Van Barneveld, 2007). Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukkan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian makin rendah angka konversi  akan makin efisien dalam penggunaan ransum (Williams, 2006). Edwards  (2007) mengemukakan bahwa terdapat hubungan positif antara selera makan dan efisiensi penggunaan pakan dan bobot badan. Konversi ransum ransum ditentukan dengan cara membagi konsumsi pakan dengan pertambahan bobot badan dalam satuan yang sama.

Menurut English (2008) konversi ransum tergantung kepada: (1) kemampuan ternak untuk mencerna zat makanan, (2) kebutuhan ternak akan energi dan protein untuk pertumbuhan, hidup pokok dan fungsi tubuh lainnya, (3) jumlah makanan yang hilang melalui metabolisme dan kerja yang tidak produktif dan (4) tipe makanan yang dikonsumsi: sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah genetik, umur, berat badan, tingkat konsumsi makanan, pertambahan bobot badan perhari, palatabilitas dan hormon. NRC (2008) memberikan rekomendasi angka konversi yang diharapkan dari berbagai tipe babi sebagai berikut; untuk babi dengan bobot badan 20 kg – 50 kg dan 50 kg – 110 kg berturut-turut adalah 2,71 dan 3,79 atau rata-rata angka konversi 3,25.

Laju Pertumbuhan

            Faktor makanan yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kandungan zat makanan serta daya cerna bahan makanan tersebut. Daya cerna bahan makanan akan mempengaruhi laju perjalanan makanan pada ternak yang tentu saja akan mempengaruhi percepatan pertumbuhan ternak.

Kurva pertumbuhan normal adalah berbentu sigmoid. Pertumbuhan mempunyai tahapan laju pertumbuhan yang berbeda-beda. Laju pertumbuhan postnatal (setelah kelahiran) hingga penyapihan mula-mula berlangsung sangat lambat. Pada fase penyapihan hingga pubertas laju pertumbuhan mengalami percepatan (logaritmik), selanjutnya berangsur-angsur menurun kemudian berhenti setelah mencapai kedewasaan. (Edwards, 2007). Grafik pertumbuhan ditentukan oleh tingkat konsumsi, bila tingkat konsumsi tinggi pertumbuhan juga cepat, sedangkan bila terjadi pengurangan makanan dapat memperlambat kecepatan pertumbuhan. NRC (2008) memberikan rekomendasi rata-rata pertambahan bobot-badan yang diharapkan dari berbagai periode pemeliharaan babi adalah sebagai berikut; untuk babi periode starter sebesar 450 gram/hari, untuk babi periode grower 700 gram/hari dan untuk babi periode finisher adalah sebesar 820 gram/hari. III

BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN

Bahan Penelitian

            Ternak yang digunakan pada percobaan ini adalah babi persilangan Landrace dan Duroc, bobot badan rata-rata 20 kg sebanyak 24 ekor, dengan koefisien variasi kurang dari 6,9%. Babi ditempatkan secara acak dalam 24 kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama. Jenis kelamin babi adalah jantan (kastrasi) dan betina. Babi dipelihara selama 3,5 bulan yakni dari periode starter sampai dengan periode finisher.

            Corn fiber yang digunakan dalam penelitian ini adalah produk sampingan dari pengolahan minyak jagung PT. Suba Indah Tbk. Corn fiber digiling hingga berbentuk tepung, sehingga memudahkan dalam pencampuran dengan bahan pakan penyusun ransum lainnya. Kandungan zat makanan corn fiber tersebut adalah protein kasar sebesar 10,31 %, Serat kasar 9,22 %, Lemak Kasar 11,78 %, Energi Metabolisme 3563,12 kkal, Calsium 0,08 %, dan Phosfor sebesar 0,05 %. (Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004).

            Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap genteng/seng yang dilengkapi dengan tempat makan dan minum, jumlah kandang yang diperlukan sebanyak 24 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data. Setiap kandang juga dilengkapi dengan kantong plastik sebagai tempat pakan yang akan diberikan setiap hari. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu buah timbangan duduk berkapasitas 100 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg untuk menimbang babi dan satu buah timbangan duduk dengan kapasitas 5 kg dengan tingkat ketelitian 0,01 kg untuk menimbang pakan dan sisa pakan.

            Ransum penelitian untuk babi terdiri dari dedak padi, jagung, konsentrat (Phokphan 152), premix, tepung tulang, minyak sawit, garam dan corn fiber yang mensubstitusi jagung. Corn fiber dicampurkan dengan bahan ransum yang lain sampai benar-benar homogen lalu diberikan pada babi. Ransum penelitian ada tiga macam yaitu ransum babi pada periode starter, ransum babi pada periode grower dan ransum babi pada periode finisher. Ransum diberikan 3 kali sehari secara ad libitum terbatas sebanyak 1-2 kg pakan kering/ekor/hari pada babi periode starter, 2-3 kg pakan kering/ekor/hari pada babi periode grower, dan 3-4 kg pakan kering/ekor/hari pada babi periode finisher.

Tabel 2. Kandungan Zat-zat Makanan dari Bahan Pakan yang digunakan dalam                 Ransum Babi

Bahan ransum EM PK SK   Kalsium Phospor
  kkal —————————–%—————————-
Jagung 3420,00 10,50  2,00   0,02 0,30
Dedak Padi

Konsentrat Premix

Minyak Sawit

Tepung Tulang

Corn Fiber     

2980,00

2948,00

      0,00

8600,00    

      0,00

3563,12

12,00

34,00

  0,00

  0,00 

  0,00

10,31

       9,00

 4,83

 0,00

 0,00

 0,00

  9,22     

  0,03

1,80

0,13

       0,00

     29,82

0,08

0,12

1,21

 0,11

      0,00

    12,49

0,05

Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia                                Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, 2004.

Tabel 3. Kebutuhan Zat-zat Makanan Babi setiap Periode

Zat-Zat Makanan Starter Grower Finisher
EM                (Kkal/kg) 3250 3260 3275
Protein Kasar    (%) 18 15 13
Serat Kasar       (%) 4 – 5 5 – 6 6 – 7,5
Kalsium            (%) 0,7 0,6 0,5
Phosfor             (%) 0,6 0,5 0,4

Sumber :  NRC, 2008.

Tabel 4. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Starter

Bahan

Ransum

R0 R1 R2 R3
Corn fiber

Jagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00

     35,00

     27,50

     32,50

       1,29

       0,50

       0,50

       3,21

        7,00

      28,00

      27,50

 32,50                                                

        1,41

        0,50

        0,50

        3,09

       12,25

       22,75

       27,50

       32,50 

         1,50

         0,50

         0,50

         3,00

        17,50

        17,50

        27,50

        32,50

          0,58

          0,50

          0,50

          2,92

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3250,66   3250,35    3250,12     3250,75
PK      (%)      18,03  18,01        18,00  18,00
SK      (%)        4,32         4,93          5,06          5,68
Ca       (%)        0,75         0,75          0,76          0,76
 P        (%)        0,68         0,67          0,65          0,64

Keterangan untuk tabel 4, 5 dan 6 :  Ransum terdiri atas,    

R0 =  Ransum kontrol dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0 % 

         (0 % dalam ransum babi periode starter, grower dan finisher).

R1 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh  corn fiber sebanyak 20 %

(7 % dalam ransum babi periode starter atau 6 % dalam ransum babi periode     grower atau 5 % dalam ransum babi periode finisher).

R2 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 35 %

(12,25 % dalam ransum babi periode starter atau 10,50 % dalam ransum babi periode grower atau 8,75 % dalam ransum babi periode finisher).

R3 =  Ransum dengan substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 50 %

(17,50 % dalam ransum babi periode starter atau 15 % dalam ransum babi periode grower atau 12,50 % dalam ransum babi periode finisher).

Kandungan EM, PK, SK, Ca pada ransum babi tiap periode pemeliharaan merupakan hasil perhitungan berdasarkan susunan ransum babi periode starter (20 -35 kg), grower (35-60 kg) dan finisher (60-90 kg). Perhitungan mengacu pada kebutuhan zat-zat makanan dan kandungan zat-zat makanan dari bahan pakan yang digunakan dalam ransum babi tiap periode pemeliharaan.

Tabel 5. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Grower

Bahan

Ransum

R0 R1 R2 R3
Corn Fiber

Jagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00

     30,00

     43,50

     21,50

       0,81

       0,65

       0,50

       3,54

        6,00

      24,00

      43,50

 21,50                                                

        0,91

        0,65

        0,50

        3,44

       10,50

       19,50

       43,50

       21,50 

         0,99

         0,65

         0,50

         3,36

        15,00

        15,00

        43,50

        21,50

          1,06

          0,65

          0,50

          3,29

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3260,56   3260,54    3260,10     3260,52
PK      (%)      15,68  15,66        15,66  15,65
SK      (%)        5,55         5,98          6,02          6,63
Ca       (%)        0,61         0,63          0,63          0,63
 P        (%)        0,58         0,57          0,56          0,54

 

Tabel 6. Susunan dan Kandungan Zat-zat Makanan Ransum Babi Periode Finisher

Bahan

Ransum

R0 R1 R2 R3
Corn Fiber

Jagung

Dedak Padi

Konsentrat

Tepung Tulang

Premix

Garam

Minyak sawit

       0,00

     25,00

     54,00

     14,00

       1,67

       0,70

       0,50

       4,63

        5,00

      20,00

      54,00

 14,00                                                

        1,75

        0,70

        0,50

        4,55

         8,75

       16,25

       54,00

       14,00 

         1,81

         0,70

         0,50

         4,49

        12,50

        12,50

        54,00

        14,00

          1,87

          0,70

          0,50

          4,43

Total    100,00     100,00      100,00       100,00
EM (Kkal/kg)  3275,10   3275,37    3275,58     3275,79
PK      (%)      13,86  13,85        13,84  13,84
SK      (%)        6,24         6,72          7,13          7,96
Ca       (%)        0,51         0,51          0,51          0,52
 P        (%)        0,46         0,45          0,44          0,43

 

Metodologi Penelitian

Persiapan Penelitian

            Tahap awal dari penelitian adalah melakukan persiapan kandang, pengadaan babi, pengadaan timbangan untuk ransum dan babi serta peralatan lainnya yang dibutuhkan selama penelitian. Babi dimasukkan ke kandang individu, penempatan babi dilakukan secara acak kemudian diberikan perlakuan awal sebagai penyesuaian dengan maksud menghilangkan pengaruh ransum terdahulu dan membiasakan babi dengan ransum penelitian serta dengan lingkungan kandang. Waktu yang dibutuhkan pada masa penyesuaian adalah satu minggu.

            Kandang dibersihkan sebanyak dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 WIB dan 12.00 WIB. Hal yang dilakukan adalah membersihkan semua kotoran dari setiap kandang ke saluran pembuangan dan memandikan babi agar babi bersih dan merasa nyaman. Pemberian ransum dilakukan tiga kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB, 13.00 WIB dan pada pukul 16.00 WIB, sedangkan sisa ransum ditimbang pada pagi berikutnya pukul 06.30 WIB.

            Penimbangan bobot badan dilakukan setiap dua minggu sekali dengan menggunakan timbangan duduk, dilakukan pada pagi hari sebelum babi diberi makan.

Peubah yang diamati

  1. Konversi ransum

            Konversi ransum adalah jumlah konsumsi ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg pertambahan bobot badan.

                                                     Konsumsi Ransum (gram/hari)

            Konversi Ransum  =          

                                                Pertambahan Bobot Badan (gram/hari)

  1. Laju Pertumbuhan (gram/hari)

            Laju pertumbuhan adalah kecepatan pertumbuhan dari ternak yang ditentukan berdasarkan pertambahan bobot badan (gram/hari). Rata-rata pertambahan bobot badan diperoleh dengan menimbang setiap ekor babi tiap dua minggu sekali sebelum ransum pagi diberikan, sedangkan rataan pertambahan berat badan kemudian dihitung dari selisih penimbangan sebelumnya dengan jarak waktu penimbangan yaitu 14 hari.

                           PBB     =

            Dimana : W1      =  bobot badan awal

                           W2      =  bobot badan akhir

                           t2 – t1  =  selisih waktu antara perolehan W2 dan W1 (14 hari)

Metode Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 0 %, 20 %,   35 % dan 50 % pada tiap periode pemeliharaan (periode starter, grower, dan finisher). Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali, maka ternak babi yang digunakan sebanyak 24 ekor babi.   

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Perlakuan Terhadap Konversi Ransum

            Hasil pengamatan yang diperoleh selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum babi dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Rata-Rata Konversi Ransum Babi Selama Penelitian

Ulangan Perlakuan Rata-rata
R0 R1 R2 R3
1 3,66 3,48 3,35 4,36  
2 3,16 3,60 3,67 3,56  
3 3,33 3,57 3,19 3,62  
4 3,30 3,75 3,28 3,80  
5 3,06 3,22 3,34 3,47  
6 2,97 3,76 3,72 4,27  
Rata-rata 3,25 3,56 3,42 3,85 3,52

 

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa rata-rata konversi ransum tertinggi adalah sebesar 3,85 (perlakuan R3), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan R1 (3,56), perlakuan R2 (3,42), dan rata-rata konversi ransum yang paling rendah adalah babi yang diberi perlakuan R0 yaitu sebesar 3,25.

            Tabel 7 menunjukkan bahwa rataan umum konversi ransum adalah sebesar 3,52 sedangkan nilai konversi rata-rata yang direkomendasikan NRC (2008) yaitu sebesar 3,25. Nilai konversi ransum penelitian yang lebih besar dari NRC (2008) menunjukkan bahwa babi kurang efisien dalam mengubah ransum menjadi daging, hal ini bisa disebabkan oleh daya cerna babi yang rendah terhadap serat yang dalam hal ini dipasok oleh bahan pakan substitusi jagung yaitu corn fiber.

            Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukkan efisiensi penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan, dengan demikian makin rendahnya angka konversi menunjukkan bahwa ternak tersebut makin efisien dalam penggunaan ransum (Edwards, 2007).  Konversi ransum sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi ransum dan tingkat pertambahan bobot badan harian dari ternak babi. Nilai konversi yang tinggi menunjukkan bahwa bahan makanan tersebut kurang efisien untuk diubah menjadi daging, dan sebaliknya semakin rendah nilai konversi ransum menunjukkan bahwa bahan makanan tersebut efisien untuk diubah menjadi daging.

            Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan terhadap konversi ransum dilakukan Uji Tukey seperti terlihat pada Tabel 8

Tabel 8. Hasil Uji Tukey Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Ransum.

Perlakuan Rataan Konversi Ransum Signifikansi
R0 3,25 a
R2 3,42 ab
R1 3,56 ab
R3 3,85  b

Keterangan : Huruf yang sama ke arah kolom menunjukkan tidak berbeda nyata.

            Hasil Uji Tukey pada Tabel 8 diatas menunjukkan bahwa perlakuan R0 tidak berbeda nyata dengan R2 dan R1 yang berarti bahwa R0, R2 dan R1 memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap konversi ransum babi. Perlakuan R1 juga tidak berbeda nyata dengan perlakuan R3 yang berarti bahwa R1 dan R3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap konversi ransum. Sedangkan perlakuan R0 berbeda nyata dengan perlakuan R3 yang ditunjukkan dengan rataan konversi R3 yang jauh lebih besar dibandingkan R0. Semakin tinggi konversi ransum maka semakin kurang efisien ternak tersebut untuk mengubah makanan menjadi daging.           

            Perbedaan nilai konversi ransum babi yang diberi perlakuan R3 dibandingkan dengan perlakuan lainnya dapat disebabkan antara lain oleh tingkat palatabilitas babi serta daya cerna babi untuk mencerna ransum yang akan menghasilkan pertambahan bobot badan. Van Barneveld (2007) mengatakan bahwa daya cerna dan keseimbangan nutrisi bahan makanan dapat mempengaruhi konsumsi dan laju pertumbuhan. Daya cerna yang rendah pada babi menyebabkan terhambatnya pertumbuhan yang optimal.

            Babi tidak mempunyai tempat khusus dalam saluran pencernaannya untuk aktivitas mikroorganisme atau proses fermentasi yang intensif seperti pada ternak ruminansia. Kapasitas lambungnya sangat kecil dibandingkan ternak ruminansia ataupun kuda. Oleh karena itu kemampuan untuk mencerna serat sangat rendah, demikian juga kecernaan zat-zat makanan lainnya akan menurun bila kandungan serat kasar dalam ransum meningkat.

Gerak laju digesta (isi saluran pencernaan) babi yang diberi ransum berserat tinggi lebih cepat dibandingkan dengan serat rendah. Laju gerak digesta tersebut meningkat karena serat dalam saluran pencernaan menyerap air sehingga konsistensi feses menjadi lembek. Karena laju cepat, maka kesempatan untuk dicerna dalam saluran pencernaan lebih singkat, dan akibatnya kecernaan zat nutrisi yang terkandung juga lebih rendah (Edwards, 2007).

Kandungan serat kasar yang tinggi dalam ransum akan menurunkan daya cerna babi. Daya cerna yang paling tinggi adalah perlakuan R0 yang disusul berturut-turut oleh R2, R1, dan R3. Daya cerna terhadap serat kasar yang berbeda mengakibatkan nilai konversi ransum babi yang diberi perlakuan R0 lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya, hal ini berarti babi yang diberi perlakuan R0 lebih efisien dalam mengubah ransum menjadi daging dibandingkan dengan babi yang diberi perlakuan R1, R2 dan R3.

Pengaruh Perlakuan Terhadap Laju Pertumbuhan

             Hasil pengamatan terhadap rata-rata pertambahan bobot badan babi selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rata-Rata Pertambahan Bobot Badan Babi selama Penelitian.

Dua Minggu ke- Perlakuan
R0 R1 R2 R3
  ———————————— gram ——————————
1 410,71 404,76 401,12 404,76
2 587,42 495,47 518,09 464,28
3 635,32 567,38 532,21 577,38
4 651,19 587,14 554,49 509,52
5 686,92 611,18 602,85 585,71
6 730,24 684,76 686,43 660,71
7 755,95 720,23 702,38 690,47

 

Laju pertumbuhan babi diukur berdasarkan data pertambahan bobot badan per 2 minggu (babi ditimbang setiap 2 minggu). Dari data pertambahan bobot badan tiap 2 minggu masing-masing perlakuan kemudian ditentukan persamaan regresi. Dari persamaan regresi laju pertumbuhan tersebut ditampilkan grafik regresi dari masing-masing perlakuan yaitu tingkat substitusi jagung oleh corn fiber sebanyak 50 % (R3), 35 % (R2), 20 % (R1) serta R0 yaitu ransum tanpa substitusi jagung oleh corn fiber (ransum kontrol).

            Persamaan regresi dari masing-masing perlakuan kemudian diproyeksikan berdasarkan pertambahan bobot badan (Y, dalam gram/hari) terhadap waktu penimbangan (X, setiap 2 minggu). Semakin besar sudut yang dibentuk antara sumbu X dengan kurva regresi berarti laju pertumbuhan babi makin tinggi. Hasil analisis regresi laju pertumbuhan dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik Regresi Laju Pertumbuhan Babi Selama Penelitian

Setelah dilakukan analisis regresi linear maka diperoleh persamaan regresi linear yang dihitung berdasarkan pertambahan bobot badan babi setiap dua minggu selama penelitian adalah sebagai berikut :

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 0   % : Y(R0) = 440,68 + 49,03X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 20 % : Y(R1) = 386,02 + 48,88X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 35 % : Y(R2) = 383,78 + 46,82X

  – Substitusi jagung oleh Corn Fiber sebanyak 50 % : Y(R3) = 376,36 + 44,94X

Dari persamaan regresi Y = a + bX (Steel dan Torrie, 2006) dari setiap perlakuan diatas dapat dilihat bahwa nilai b (sudut kemiringan) yang paling tinggi ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R0 yaitu sebesar 49,03 kemudian berturut-turut disusul oleh R1 (48,88), R2 (46,82), dan nilai b yang paling rendah ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R3 yaitu sebesar 44,94.

Nilai b adalah koefisien arah garis regresi laju pertumbuhan yang menunjukkan besarnya sudut yang dibentuk antara sumbu X dengan kurva regresi, dimana semakin besar sudut kemiringan maka hal itu menunjukkan semakin tinggi juga laju pertumbuhan dari babi yang dipelihara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan yang paling baik dari semua perlakuan ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R0 yang disusul berturut-turut oleh babi yang diberi perlakuan R1, R2 sedangkan laju pertumbuhan yang paling lambat ditunjukkan oleh babi yang diberi perlakuan R3.

Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh bahwa kandungan serat kasar dalam ransum yang dalam hal ini dipasok oleh corn fiber akan menghambat laju pertumbuhan, maka semakin tinggi kandungan corn fiber yang mensubstitusi jagung dalam ransum babi menyebabkan laju pertumbuhan semakin menurun.

Menurut Williams (2006) Faktor makanan yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kandungan zat makanan serta daya cerna bahan makanan tersebut. Daya cerna bahan makanan akan mempengaruhi laju perjalanan makanan pada ternak yang tentu saja akan mempengaruhi percepatan pertumbuhan babi.

Serat kasar yang menghambat daya cerna serta berpengaruh besar terhadap laju pertumbuhan sebagian besar berasal dari corn fiber. Semakin tinggi kandungan corn fiber dalam ransum babi maka semakin tinggi juga serat kasar dalam ransum dan hal ini juga akan menyebabkan semakin rendahnya daya cerna terhadap makanan, demikian juga sebaliknya.

Kecernaan karbohidrat secara umum menurun dengan meningkatnya kandungan serat dalam ransum, namun akan meningkat sejalan dengan meningkatnya umur babi (Van Barneveld,  2007). Kandungan serat kasar yang tinggi akan menyebabkan rate of passage meningkat dan akan mempercepat waktu transit makanan dalam saluran pencernaan babi, akibatnya kecernaan zat-zat makanan menurun.

Menurut Van Barneveld (2007) gerak laju digesta yang lebih cepat pada babi yang mendapat serat kasar tinggi menyebabkan kontak atau akses enzim-enzim ke dalam ransum berkurang. Hal ini mengakibatkan keluaran (out put) bahan kering feses lebih banyak pada babi yang mendapat serat kasar tinggi, yang berarti zat-zat makanan yang tidak tercerna (ampas) lebih banyak. Laju pertumbuhan terbaik ditunjukkan oleh R0, hal ini disebabkan dalam ransum babi yang diberi perlakuan R0 tidak mengandung corn fiber sehingga kandungan serat kasar dalam ransum tidak terlalu tinggi dan hal ini yang membuat laju pertumbuhan babi tinggi.

Bahan pakan jagung dalam ransum babi yang diberi perlakuan R1, R2 dan R3 berturut-turut di substitusi oleh corn fiber sebanyak 20 %, 35%, dan 50% dimana, corn fiber yang ada dalam ransum akan menambah kandungan serat kasar dalam ransum yang selanjutnya akan menyebabkan daya cerna terhadap makanan rendah, dengan semakin menurunnya daya cerna maka laju pertumbuhan babi juga akan semakin menurun.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diatas diperoleh kesimpulan atas penelitian yang telah dilakukan yaitu :

  1. Substitusi jagung oleh corn fiber sampai tingkat 35% dalam ransum babi periode pertumbuhan tidak memberikan pengaruh terhadap konversi ransum dan pertumbuhan tetapi pada tingkat 50 % dapat mengakibatkan  laju pertumbuhan semakin menurun.
  1. Substitusi jagung oleh corn fiber sebesar 35 % memberikan hasil  terbaik terhadap konversi ransum dan laju pertumbuhan.

 

Saran

            Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan disarankan substitusi jagung oleh corn fiber sebesar 35 % dapat digunakan dalam ransum babi yang sedang bertumbuh.

DAFTAR PUSTAKA

Ahlschwede,WT. Christian,C.J.,Johnson,R.K. and Robinson, O.W. 2004. Crossbreeding System for Commercial Pork Production, Pork Industry Hand Book. Purdue Univ. USA. PIH. 39, 1-8.

Direktorat Jenderal Peternakan. 2007. Statistika Indonesia. Jakarta.

Edwards, A.C. 2007. Sow Nutrition Review in Pig Production. Post Graduate Foundation in Veterinary Science. Univ. Sidney press.  pp. 133-142.

English, P.R., V.R. Fowler, S. Bexter and Smith, B. 2008. The Growing and Finishing Pig : Inproving Efficiency, Farming Press Books. Ipswich, UK. P. 27-38. 

http://www.subaindahtbk.com.  2004. Profil Perusahaan Pengolahan Minyak         Jagung  PT. Suba Indah tbk.

 

NRC. (National Research Council).2008. Nutrient Requirments of Swine. Tenth    Edition. National Academy Press. Washington, D.C. USA.

Rea. Jhon.C, Ronald O. Bates and Trygve L. Venm. 2007. Byproduct, Damaged Feeds and Nontraditional Feed Sources For Swine, University of      Missouri,          Columbia.

Steel, R.G.D dan J. H. Torrie. 2006. Prinsip dan Prosedur Statistika    (terjemahan)          Cetakan ke-4  PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hal 289-300.

Subijanto, B. 2003. Bahan Baku Pakan Ternak Kebanyakan Masih Impor, Harian             KOMPAS, Rabu 16 April 2003, Jakarta.

Van Barneveld, R.  2007. The Basic in Pig Nutrition . The Basic. Pig Research and Development Corporation, Canberra. Pp. 1-15. 

Williams, K. 2006. Determining Protein Deposit Rate. Farmnote. F54/May. Agdex 440/50, QDPI Brisbane. Australia.