THE EFFECT OF PROVIDING VARIOUS CURCUMINOID DOSAGE TO DIGESTIBLE PROTEIN, PROTEIN EFFICIENCY AND THE RATE OF PASSAGE OF FEED IN FINISHER PIG’S DIGEST SYSTEM

Sauland Sinaga dan Marsudin Silalahi

 

ABSTRACT

 

The research on The Effect of Providing Curcuminoid Dosage To Digestible protein, Protein Efficiency and The Rate of Passage of Feed in Grower Period Pig’s Digest System has been conducted since January 10th, to 27th February 2008, at Pig Livestock Laboratory and Teaching Farm of KPBI Obor Swastika in Cisarua, Bandung, Indonesia.

The aim of this research was to state the effect of providing and the best dosage of curcuminoid in meal to digestible protein, protein efficiency and the rate of passage of feed in grower period pig’s digest system. 

This research used 20 grower period pigs with 35 kg average body weight and 2,13 percent variation coefficient. The experiment used the completely randomized design, the treatment given was the addition level of curcuminoid dosage (0, 4, 8 and 12 mg curcuminoid/kg body weight). Each treatment was done five times.  The result of this research gives 4 mg curcuminoid/kg body weight give in ration finisher pig increase protein digestability and no significant for protein efficiency and passing rate feed

 

Key words :  Curcuminoid, Digestible Protein, Protein Efficiency, Rate of Passage of Meal in Digest System, Grower Period Pig  

 

 

ABSTRAK

 

Penelitian tentang Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Kurkuminoid terhadap Kecernaan Protein, Efisiensi Protein dan Kecepatan Laju Makanan dalam Sistem Pencernaan Babi Grower telah dilakukan dari tanggal 10 Januari sampai 27 Februari 2008, di Laboratorium dan Teaching Farm KPBI Obor Swastika Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian dan dosis kurkuminoid yang terbaik dalam ransum terhadap kecernaan protein, efisiensi protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi grower.

Penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak babi periode grower, berat badan rata-rata 35 kg dengan koefisien variasi 2,13 persen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap, perlakuan yang diberikan adalah tingkat penambahan dosis kurkuminoid (0, 4, 8 dan 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ransum yang mengandung 4 mg curcuminoid/kg berat badan dalam ransum babi periode finisher  dapat meningkatkan kecernaan protein ransum dengan tidak berpengaruh terhadap efisiensi protein dan laju makanan.

 

Kata Kunci:   Kurkuminoid, Kecernaan Protein, Efisiensi Protein, Kecepatan Laju Makanan dalam Sistem Pencernaan, Babi Grower

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Babi merupakan salah satu komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memiliki sifat-sifat yang menguntungkan antara lain laju pertumbuhan cepat, sifat prolifik yaitu jumlah perkelahian yang tinggi (10 – 14 ekor/kelahiran), efisiensi ransum yang baik, persentase karkas yang tinggi dan dilihat dari jenis makanannya merupakan ternak omnivora yang efektif dalam mengubah setiap makanan menjadi daging.

Permintaan konsumen akan daging babi cukup tinggi. Peningkatan kebutuhan akan daging babi sebesar 7,11 % yakni dari 164,491 ton naik menjadi 177,093 ton, sedangkan peningkatan populasi babi hanya sebesar 3,63 % yakni dari 5.926.807 ekor menjadi 6.150.535, (Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2003).

Pemakaian beberapa zat perangsang tumbuh menguntungkan dunia peternakan baik dari produsen maupun dari segi konsumen. Bagi produsen penggunaan zat perangsang pada babi dapat memberikan pertumbuhan yang lebih cepat, efisiensi pakan yang baik dan menurunkan moralitas. Sedangkan bagi konsumen meningkatnya efisiensi dapat menyebabkan harga produk-produk peternakan menjadi lebih murah, sehingga lebih mudah dijangkau.

Kunyit merupakan salah satu jenis tanaman empah-rempah asli Asia Tenggara, diketahui bahwa ekstrasi tanaman kunyit yaitu kurkuminoid mempunyai efek yang sinergis seperti merangsang pertumbuhan. Estraksi tanaman ini dipakai dengan beberapa tujuan, diantaranya merangsang nafsu makan dan meningkatkan kecernaan makanan dan merangsang saraf Olfaktori dan papila gustatori untuk meningkatkan sekresi kelenjar empedu, lambung, pankreas dan usus. Ekstraksi tanaman akan menurunkan pH dalam usus akan meningkatkan sekresi cairan empedu yang membantu pencernaan dan merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan seperti bakteri asam laktat. Komponen kurkuminoid juga mempunyai sifat kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu, juga mempengaruhi kerja syaraf dan hipifisa serta organ hati untuk memproduksi dan menskresi cairan empedu serta mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar bruner pada dinding usus halus.

Keuntungan lain penggunaan ekstrak tanaman bagi ternak adalah dapat mengurangi dan mencegah terbentuknya senyawa racun, sehingga oragan dapat bekerja dengan baik. Pemberian tepung kunyit pada dosis tertentu tidak berpengaruh pada konsumsi, pertambahan bobot badan, tetapi meningkatkan efisiensi penggunaan protein.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Pemberian berbagai Dosis Kurkuminoid Dalam Ransum Terhadap Efisiensi Penggunaan Protein, Kecernaan Protein dan Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan Pada Babi Finisher”.

 

 

Maksud Dan Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis kurkuminoid dalam ransum terhadap efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada finisher.            Untuk menentukan tingkat pemberian berbagai dosis kurkuminoid dalam ransum sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi finisher.

 

Kegunaan Penelitian

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan sumbangan pemikiran bagi semua pihak terutama peneliti dan peternak dalam upaya pemanfaatan kurkuminoid dalam ransum jika ditinjau dari segi efisiensi penggunaan protein, kecernaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi finisher.

 

Kerangka Pemikiran

Kunyit (Curcuma domestica val). Kunyit dapat tumbuh di daerah iklim tropis. Di Indonesia kunyit dapat tumbuh sepanjang tahun, dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian sampai 2000 m di atas permukaan laut. Kisaran suhu optimal adalah 19 – 300C dengan hujan antara 1500 – 4000 mm/tahun.

Komponen terpenting dalam kunyit adalah kurkuminoid dan minyak atsiri (Rukmana, 1994). Kandungan kurkuminoid dalam kunyit sebesar 3 – 4 % (Wagner, dkk, 1983). Kurkuminoid dalam kunyit adalah 2,99 persen (Narayanan, dkk, 1980). Kurkuminoid secara biosintesis memiliki pronsip kerja kolekinetik, yaitu berperan dalam meningkatkan produksi cairan empedu, sehingga dapat meningkatkan kecernaan lemak. (Sirait, dkk, 1985). Kandungan gizi tepung kunyit antara lain memiliki Energi Metabolisme (EM) sebesar 2274,64 kkal, protein kasar 8,74 %, serat kasar 7,50 % kalsium 0,20 % serta Phospor 0,61 % (Hasil analisis LIPI, 2000). Penggunaan kunyit dikenal dapat membantu, pencernaan seperti menghilangkan dispepsia dan flatulens karena kunyit merangsang produksi gatah lambung dan cairan pencernaan lain termasuk empedu (John, dkk, 1987).

Kurkuminoid termasuk senyata fenolik, shingga mekanisme kerja kurkumin sebagai anto mikroba mirip dengan kerja antimikroba pada senyawa fenol lainnya. Senyata fenol dapat juga membunuh mikroba dengan cara Senyawa fenol dapat juga membunuh mikroba dengan cara merusak struktur membran sel dari beberapa bakteri patogen seperti Salmonella dan E. Coli. Rusaknya membran sel mengakibatkan terganggunya keseimbangan cairan sel sehingga dengan sendirinya bakteri tersebut akan terbunuh. Ramprasad dan Sirsi (1956) melaporkan bahwa kurkumin mempunyai aktivitas antimikroba, yaitu dengan menghambat pertumbuhan bakteri Micrococcus pyrogenes var. Aereus dalam larutan natrium kurkuminat 1 ppm.

Kunyit mempunyai sifat bakteriostatik dan mengandung antioksidan alami yang berpengaruh baik terhadap kesehatan ternak. Sifat bakteriostatik membuat bakteri-bakteri pathogen yang terdapat dalam saluran pencernaan menjadi inaktif (Sugiarto, dkk, 1977). Menurut Martini (1998) pemberian tepung Curcuma domestica val dalam ransum sebanyak 1-1, 5 % tidak berpengaruh terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan kelinci, tetapi meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Penelitian pada tikus menyatakan bahwa ransum yang mengandung Curcuma domestica dalam jumlah yang tepat akan menyebabkan relaksasi usus halus pada saluran pencernaan dan membantu pencernaan makanan dan absorpsi zat-zat makanan yang akan meningkatkan konsumsi, pertambahan bobot badan dan menurunkan konversi pakan (Oi Ban Liang, 1984). Pemberian sosium kukuminat dapat meningkatkan cairan empedu anjing sampai dengan 100 %, tanpa mengalami gangguan respirasi dan tekanan darah (Ramprasad dan Sirsi, 1956). Menuurt Shankar et al. (1980) dosisi 300 mg/kg pada mencit, marmut dan monyet menunjukkan gejala keracunan.

Kecernaan merupakan tolak ukur tinggi rendahnya nilai gizi suatu ransum, maksudnya ransum tersebut mudah dicerna dan diserap secara otomatis akan memberikan pengaruh yang baik terhadap ternak yang mengkonsumsinya. Menurut Anggorodi (1994) faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan adalah suhu, laju perjalanan ransum melalui alat pencernaan, bentuk fisik bahan makanan, komposisi ransum dan pengaruh terhadap perbandingan dari zat makanan lainnya.

Kecernaan protein merupakan cerminan dari kemampuan ternak dalam memanfaatkan potensi suatu bahan makanan (NRS, 1977). Kecernaan protein terantung pada kandungan protein didalam ransum (Ranjhanm 1977). Ransum yang kandungan proteinnya rendah umumnya mempunyai kecernaan yang rendah pula dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Scheider dan Flatt (1975) dan Tilman, dkk (1998) yang mengemukakan bahwa tinggi rendahnya kecernaan protein tergantung pada kandungan protein bahan pakan dan banyaknya protein yang masuk ke dalam saluran pencernaan.

Protein merupakan salah satu di antara zat-zat makanan yang mutlak dibutuhkan ternak baik untuk hidup pokok, perumbuhan dan untuk produksi (Parakkasi, 1983). Sehingga efisiensi penggunaan protein didefinisikan sebagai perbandingan besarnya pertambahan bobot badan perunit protein yang dikonsumsi. Sedangkan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah kecepatan bergeraknya makanan dari satu bagian ke bagian lain dalam saluran pencernaan. Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dipengaruhi oleh keambaan makanan, kadar air atau kadar bahan kering maupun waktu pemberian makanan (Sihombing, 1997).

Bile dkk (1985) melaporkan mengenai pemberian 60, 240 dan 1551 mg/kg BB kurkuminoid dalam ransum babi menunjukkan pada pemberian 240 dan 1551 mg/kg BB menunjukkan kerusakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid. Penelitian Sinaga (2003) yang menggunakan perlakuan terdiri atas 4 level tepung kunyit (o, 0,2, 0,4 dan 0,6 % dalam ransum) diperoleh tebal lemak punggung terendah terdapat pada babi yang mengkonsumsi ransum yang mengandung tepung kunyit 0,4 %.

Kandungan kurkuminoid tepung kunyit adalah 3 % atau 0,03 dosis terbaik pemberian tepung kunyit menurut Martini (1998) dalam ransum kelinci adalah 0,5 % atau 500 gr/100 kg (0,03 x 500 gr/100 kg = 150 mg/kg). Konsumsi harian babi periode finisher rata-rta 3 kg, maka konsumsi kurkuminoid perhari 450 mg. Apabila berat badan babi periode finisher 60 kg maka diperoleh konsumsi kurkuminoid sebanyak 7,5 = 8 mg pada tiap kilogram bobot badan.

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas ditarik hipotesis yaitu penggunaan kurkuminoid pada ransum babi periode finisher yang memberikan pengaruh terbaik adalah ransum R2 dengan dosis kurkuminoid 8 mg/kg BB.

 

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium Penelitian dan Teaching Farm Ternak Babi Koperasi Peternakan Babi Indonesia, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. Waktu penelitian bulan Juni 2008.

TINJAUAN PUSTAKA

 

Bangsa Babi

Bangsa babi di dunia yang telah dijinakan berasal dari dua turunan spesies babi liar, yaitu babi liar dari Asia (Sus Vitattus) dan babi liar Eropa (Sus Scrofa) (Williamson dan Payne, 1980). Sedangkan babi yang terdapat di peternakan rakyat di Indonesia merupakan turunan hasil persiangan babi unggul yang berasal dari luar negeri dan juga babi asli Indonesia yang hidup liar di hutan yang dikenal dengan nama Celeng (Sus verrucosus) (Sasroamidjojo, 1997). Babi unggul yang berasal dari luar negeri tersebut antara lain American Landrace, Duroc, Berksjire, Poland China, dan Yorhshire.

Klasifikasi zoologis ternak babi adalah sebagai berikut (Banerjee, 1985) :

Phylum         : Chordota

Kelas             : Mamalia

Ordo               : Artiodactyla

Famili                        : Suidae

Genus           : Sus Linn

Spesies         : Sus scofa

                          Sus Vitattus

 

 

Menurut Sihombing (1997), babi dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase starter, babi umur 13 sampai 20 minggu dengan berat badan 15 sampai 35 kg, fase grower, yaitu babi yang berumur 20 sampai 28 minggu dengan berat badan 35 kg sampai 60 kg dan fase finisher, babi umur 24 sampai 36 minggu dengan berat badan 60 kg sampai 90 kg.

Babi periode finisher mempunyai nafsu makan yang meningkat, sedangkan kemampuan membentuk jaringan daging mulai menurun. Pertambahan bobot badan memang masih terus terjadi namun telah melampaui puncak pertumbuhan lemak sehingga pertambahan tidak secepat saat sebelum puncak pertumbuhan. Pertumbuhan yang cepat dan karkas dengan komposisi daging yang lebih banyak dibandingkan dengan tulang dan lemak adalah dua sasaran utama dari babi periode pengakhiran untuk siap dipasarkan. Permintaan akan periode pengakhiran ini lebih banyak daripada periode lain, selain itu yang dipasarkan biasanya babi pada periode akhir (Siagian, 1999).

Pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh secara kumulatif mengalami pertambahan berat selama pertumbuhan sampai mencapai kedewasaan, jadi pertumbuhan mempengaruhi pula distribusi berat dan komponen-komponen tubuh ternak termasuk tulang, otot dan lemak (Soeparno, 1994). Sifat turunan suatu bangsa akan membatasi kemungkinan perumbuhan, yaitu bobot tubuh yang akan dicapai, selain itu satu bangsa juga terdapat variasi ukuran dan berat antar individu, sehingga faktor bangsa akan berpengaruh terhadap bobot karkas, Sutardi (1980), mengemukakan bahwa kecepatan pertumbuhan suatu ternak dipengaruhi berbagai faktor antara lain bangsa, jenis kelamin, makanan dan kondisi lingkungan.

 

Kunyit

Kunyit dengan nama lain Curcuma domestica val adalah tanaman yang tumbuh dengan subur di Indonesia. Kunyit merupakan salah satu tanaman temu-temuan yang memiliki potensi cukup tinggi untuk dibudidayakan. Kunyit diduga berasal dari Inda dan Indo-Malaysia dengan pusat penyebarannya  sampai ke daerah Indo-Melanesia hingga Australia (Sudiarto dan Ratu Safitri, 1985).

Klasifikasi kunyit menurut Aseng (1985) adalah sebagai berikut :

Kingdom       : Plantae

Divisio           : Spermatophyta

Sub diviso     : Angiospermae

Class             : Monocotylledoneae

Ordo               : Zingiberales

Family           : Zingiberaceae

Genus           : Curcuma

Species         : Curcuma domestica val

 

Komponen utama pada kunyit adalah atsiri dan kurkuminoid yang merupakan zat warna kuning pada kunyit (Ashari, 1995). Kandungan kurkuminoid sebesar 3 – 4 % (Wagner, 1984). Kandungan gizi tepung kunyit antara lain memiliki energi metabolisme (EM) sebesar 2274,64 kkal, protein kasar 8,74 %, serta kasar 7,50 % kalsium 0,02 % serta Fosfor 0,61% (Hasil Analisis LIPI, 2000).

 

Kurkuminoid

Kurkuminoid merupkan komponen yang memberi warna kuning atau kuning jingga, berbentuk serbuk dengan sedikit rasa pahit, larut dalam aseton, alkohol, asam asetat glacial dan alkali hidrosisida, warna tidak stabil terhadap sinar matahari dan stabil terhadap panas. Kurkuminoid tidak larut dalam air dan dietil eter serta mempunyai aroma yang tidak bersifat toksik (Kiso, 1985).

Diketahui bahwa ekstraksi tanaman kunyit yaitu kurkuminoid mempunyai sifat kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu, juga mempengaruhi kerja syaraf hipofisa dan hati serta mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar Brunner pada dinding usus halus (Kiso, 1985). Kurkuminoid merupakan senyawa fenolik yang mempunyai sifat antibakterial yang dapat merusak membran sel bakteri pathogen seperti Salmonella dan E. Coli. Kurkuminoid memberikan keuntungan lainnya bagi ternak yaitu dapat mengurangi atau mencegah terbentuknya senyawa racun (detoksifikasi), sehingga meningkatkan efisiensi organ.

 

Protein dan Fungsinya

            Istilah protein berasal dari kata Yunan yaitu protelos yang berarti pertama atau kepentingan utama. Jadi protein merupakan zat makanan yang terutama karena sangat dibutuhkan oleh jaringan-jaringan lunak di dalam tubuh hewan seperti daging, tenunan pengikat, kolagen, kulit rambut dan kuku. (Wahyu, 1992). Protein juga merupakan zat makanan yang perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan sumber dari berbagai asam amino yang merupakan bahan pembentuk sel dalam tubuh.

            Protein dalam ransum yang diberikan pada ternak dapat berupa protein hewani dan protein nabati. Protein merupakan bagian dari bahan organik sehingga bila kecernaan bahan organik tinggi menunjukkan tingginya kualitas bahan pakan. Tanpa protein maka tidak ada kehidupan karena protein merupakan bagian utama dari jariangan tubuh (Morrison, 1981 : Herman, 2000). Kandungan protein ransum berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak karena protein merupakan zat utama dalam sintesis semua jaringan tubuh dan dalam pembentukan jariangan serta perbaikan jaringan yang rusak (Templeton, 1968).

            Konsumsi dan kecernaan protein pada ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis kelamin, genotip dan berat badan. Kebutuhan protein babi periode finisher adalah 14,01 % (NRC, 1998).

 

Sistem Pencernaan Pada Monogastrik

Babi termasuk hewan monogastrik dan bersifat omnivora, yaitu ternak pemakan semua pakan dan memiliki satu perut besar yang sederhana (Sihombing, 1997). Pada pencernaan makanan atau zat-zat makanannya dilakukan secara enzimatis. Babi mengambil pakan, mengunyah, dan mencampurkannya denagn air liur (saliva) sebelum akhirnya ditelan. Pada babi saliva mengandung enzim yang mulai memecahkan bahan pakan menjadi unsur-unsur penyusunnya, sehingga seluruh bahan pakan telah di kunyah halus sebelum ditelan. Pakan yang ditelan, bergerak menuju esofagus kemudian kedalam lambung. Lambung pada babi juga berfungsi sebagai alat penampung bahan yang sudah tercerna. Sebagian besar kegiatan pencernaan terjadi di dalam lambung, selbihnya terjadi di dalam usus halus. Usus halus yang terdiri dari bagian-bagian duodenum, jejenum dan ileum adalah tempat terjadinya penyerapan atau absorpsi yang utama dari zat-zat pakan hasil pencernaan. Bahan-bahan pakan yang tidak tercerna dan tidak diserap bergerak dari usus halus meuju ke caecum dan ke usus besar. Pada bagian ini, komponan air diserap kemabli dan sisa yang tinggal dari proses pencernaan dikeluarkand alam bentuk feses melalui anus.

 

 

 

 

Kecernaan dan Efisiensi Protein

Kecernaan Protein

Menurut Ginting, dan Elisabeth, (2002) mutu suatu bahan pakan ditentukan oleh interaksi antara usur gizi, tingkat kecernaan dan tingkat konsumsi. Kandungan unsur gizi merupakan indikator awal yang menunjukkan potensi suatu bahan pakan. Tingkat kecernaan akan menentukan seberapa besar unsur gizi yang terkandung dalam bahan pakan secara potensial dapat dimanfaatkan untuk produksi ternak.

Crampton, L loyd dan Mc Donald (1978) mendefinisikan kualitas protein merupakan manfaat relatif dari protein bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan hewan akan protein. Salah satu cara untuk mengukur kualitas protein dapat dilakukan secara biologis yaitu dengan cara mengukur kecernaan dari pakan yang akan berikan pada ternak. Dikemukan oleh Likuski dan Dorell (1978) ; Sibbald (1979), bahwa pengukur kecernaan pakan penting untuk menentukan apakah protein yang dikonsumsi benar-benar dapat tersedia dan dapat dicerna dengan baik oleh ternak dan kemudian diserap dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan jaringan atau tidak. Persentase protein yang dapat diserap ini yang dianggap sebagai koefisien cerna protein, diperoleh dengan menentukan banyknya protein yang terdapat dalam ransum dan banyaknya protein yang terdapat dalam fases. Perbedaan diantara kedua bagian ini yang dinyatakan dalam persen, adalah banyaknya protein yang dicerna oleh babi.

Menurut Arifin dan Kardiyono (1985) dan Martini (1998), kurkuminoid dapat merangsang peningkatan relaksasi usu halus. Kurkuminoid juga mampu merangsang sekresi hormon dari kelenjar brunner dalam usus halus pada berbagai spesies ternak percobaan, termasuk babi. Selanjutnya hormon tersebut merangsang sekresi enzim dari pankreas. Kelenjar brunner dalam dinding usus halus mengeluarkan getah usus halus yang antara lain mengandung enzin peptidase yang menghidrolisis peptida-petida menjadi asam amino. Pepsi menghidolisis protein apabila pH dalam lambung rendah atau asam. Asam hidroklorat (HCI) yang berasal dari daerah fundus membantu pepsin mencerna protein, pepsin juga berperan besar dalam menurunkan pH isi lambung. Menurunnya pH isi lambung akan meningkatkan sekresi cairan pankreas yang membantu dalam proses pencernaan protein.

Pada pencernaan babi enzim sangat berperan penting, karena enzim mampu mengubah suatu bahan yang kompleks menjadi bahan yang lebih sederhana, akan tetapi enzim itu sendiri tidak mengalami suatu perubahan. Sel-sel pankreas dikenal sebagai penghasil enzim-enzim proteolitik dan enzim-enzim lain yang diperlukan pencernaan (Frandson, 1993). Enzim yang dihasilkan oleh pankreas adalah enzim pelengkap dan merupakan enzim-enzim yang bersifat tidak aktif, antara lain adalah chymotripsinogen, tripsinogen, proelastase dan prokarboksipeptidaseyang disekresikan kedalam dupdenum, kemudian bertindak sebagai prekursor dan merubah menjadi bentuk aktif dan berperan dalam proses pencernaan dengan bantuan enzim-enzim enterokinase, yaitu enzim yang terdapat di dalam duodenum, maka terjadi pemecahan molekul tripsinogen menjadi tripsin aktif. Tripsin getah pankreas berfungsi memecah sebagian proteosa dan peptone ke dalam hasil-hasil yang lebih sederhana yaitu asam-asam amino. Erepsin dikeluarkan kedalam usus halus melengkapi pencernaan hasil pemecahan protein menjadi asam amino (Anggorodi, 1985). Enzim tripsin aktif tersebut selanjutnya menjadi prekursor yang membentuk enzim-enzim pencernaan aktif lainnya, yaitu chymitripsin, elastase dan karboksipeptidase. Ketiga enzim tersebut terkenal sebagai enzim endopeptida yang membantu memecah ikatan-ikatan peptida dan molekul-molekul protein yang besar menjadi rantai-rantai peptida yang lebih pendek (Cole dan Brander, 1986 : Ensminger dkk., 1990 : Cheeke, 1999).

 

2.6.2. Efisiensi Protein

            Efisiensi protein adalah perbandingan besarnya pertambahan bobot badan per unit protein yang dikonsumsi. Sebelum protein bahan makanan dapat diserap dan digunakan pada hewan, zat tersebut harus dirombak menjadi asam-asam amino selama pencernaan. Asam amino merupakan hasil akhir dari pencernaan protein dan merupakan zat pembangun bagi protein tubuh disamping merupakan hasil antara dalam katabolisme protein. Efisiensi protein tergantung dari kandungan asam amino esensial dan kadar asam amino non esensial yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya (Tilman dkk., 1989).

            Pemberian kurkuminoid pada ternak dalam jumlah yang tepat akan meningkatkan proses pencernaan dan dapat mengoptimalkan manfaat dari protein yang terkandung dalam ransum yang pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi protein ransum.

 

Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan

            Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah kecepatan makanan melaju dari satu bagian ke bagian yang lain dalam saliran pencernaan. Kecepatan laju makanan dalam sistem saluran pencernaan dipengaruhi oleh keambaan makanan, kadar air atau kadar bahan kering makanan dan waktu pemberian makanan. Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam (Sihombing, 1997). Bila makanan yang dikonsumsi terlalu cepat melewati saluran pencernaan, maka tidak cukup waktu untuk mencerna zat-zat makanan secara menyeluruh oleh enzim-enzim pencernaan dan enzim proteolitik yang sangat membantu dalam mengefektifkan pemecahan protein.

            Kurkuminoid dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah dan secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi usus halus akan tetapi jika diberikan dalam dosis yang tepat akan menyebabkan kontraksi spontan, yaitu kecernaan dan absorpsi bahan makanan akan meningkat. (Ramprasad dan Sirsi, 1956).

 

 

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

 

Bahan Penelitian

Ternak Penelitian

Ternak yang digunakan dalam penelitianadalah babi peranakan Landrace, sebanyak 20 ekor babi jantan kastrasi dengan berat rata-rata 55 – 65 kg, dengan koefisien variasi 1,42 %. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama.

 

Kurkuminoid

Kurkuminoid merupakan hasil ekstraksi dari tepung kunyit. Dalam penelitian nanti peneliti membeli kurkuminoid dari perusahaan farmasi (PT. Phytochemindo Reksa Jakarta). Kurkuminoid diberikan dengan cara ditambahkan pada ransum penelitian, setiap perlakuan diberikan kurkuminoid dengan berbagai dosis sebagai berikut :

R0    =    Ransum penelitian sebagai kontrol (tanpa kurkuminoid)

R1    =    Ransum penelitian + 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan

R2    =    Ransum penelitian + 8 mg kurkuminoid/kg bobot badan

R3    =    Ransum penelitian + 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan.

 

 

Kandang Penelitian

            Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 0,6 x 2 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng, dilengkapi tempat makan dan tempat minum sebanyak 20 unit. Tiap kandang diberi nomor untuk memudahkan dalam pengontrolan dan pengambilan data.

 

Peralatan

  • Timbangan duduk dengan kapasitas 300 kg, dengan tingkat ketelitian 0,1 kg. Digunakan untuk menimbang berat ternak.
  • Timbangan duduk dengan kapasitas 3 kg, dengan tingkat ketelitian 0,01 kg. Digunakan untuk menimbang pakan dan feses ternak.
  • Timbangan Sartorius dengan ketelitian 0,2 gr. Digunakan untuk menimbang kurkuminoid.
  • Kantong plastik untuk tempat menampung sisa pakan dan tempat menampung feses.

 

Susunan Ransum

            Bahan makanan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Dedak Padi, Jagung, Tepung Ikan, Bungkil Kelapa, Bungkil Kedelai, Tepung Tulang, Premix dan kurkuminoid. Penyusunan ransum dilakukan berdasarkan pada kebutuhan zat-zat makanan yang dianjurkan National Reearch Council (1998).

            Komposisi zat makanan dan susunan ransum yang digunakan selama penelitian diperlihatkan pada Tabel 1 dan 2, kemudian kandungan ransum penelitian terdapat pada Tabel 3.

Tabel 1.    Kandungan Zat Makanan Bahan Ransum Yang Digunakan Selama Penelitian

Bahan Makanan

EM

PK

SK

Kalsium

Posfor

  (kkal) ———————————– % —————-
Jagung 3420 10.50 2.00 0.41 0.31
Dedak Padi 2980 12.00 9.00 0.04 1.04
Tepung Ikan 2856.2 48.67 0.01 6.32 2.95
Bungkil Kelapa 3698 16.25 19.92 0.05 0.60
Bungkil Kedelai 2550 47.00 5.00 0.24 0.81
Premix 0.00 0.00 0.00 0.13 0.11
Tepung Tulang 0.00 1.04 0.00 5.16 0.14

(Sumber : Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet IPB, 2005).

 

Tabel 2.    Susunan Ransum Penelitian untuk Babi Periode Finisher

Bahan Makanan

% Susunan Ransum

Jagung 42,75
Dedak Padi 31,80
Tepung Ikan 2,25
Bungkil Kelapa 18,50
Bungkil Kedelai 3,40
Premix 0,50
Tepung Tulang 0,80
Total 100,00

(Sumber : Hasil perhitungan).

 

Tabel 3 .   Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian Periode Finisher dan Menurut NRC Tahun 1998

Ransum Percobaan

EM

PK

Ca

P

SK

  (kkal) ———————————– % —————-
FinisherNRC* 3244,763275 14,0113,20 0,320,50 0,660,40 7,507,00

(* Sumber NRC 1998).

Metoda Penelitian

Tahap Penelitian

A.      Persiapan Penelitian

1.      Persiapan kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum, analisis ransum dan persiapan peralatan selama penelitian, serta penimbang bobot awal ternak sebelum penelitian dimulai. Setiap babi dimasukkan ke kandang individu dan memperoleh satu perlakuan secara acak.

2.      Sebelum penelitian dimulai babi terlebih dahulu diberi obat cacing.

3.      Adaptasi babi terhadap kandang, perlakuan kurkuminoid dicampurkan kedalam pakan yang pertama kali diberikan pada pagi hari dan lingkungan yang baru dilakukan selama 1 minggu.

 

B.      Selama Penelitian

1.      Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukl 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran ternak babi dan kotoran tersbeut dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dibasahi dan dimandikan agar bersih dan merasa nyaman.

2.      Pemberian ransum dilakukan dua kali sehari, pukul 07.00 WIB sebanyak 2 kg ransum dicampur dengan dosis kurkuminoid dan pukul 13.00 WIB diberikan ransum 1 kg tanpa kurkuminoid, sedangkan sisa ransum ditimbang pagi berikutnya pukul 06.30 WIB, dimana selisihnya adalah jumlah konsumsi ransum.

3.      Koleksi fases dilakukan setiap hari selama 1 minggu. Penimbangan fases kering selama periode penampungan feses, yaitu dengan cara feses yang basah yang telah ditampung pada pagi harinya sebelum diberi ransum (sebelum jam 07.00 WIB) dilakukan kering jermur di bawah sinar matahari sampai kering lalu ditimbang sebagai feses kering (gram/hari) selanjutnya jumlah feses kering selama seminggu dihitung sebagai jumlah feses kering (gram/minggu).

4.      Pada pengukuran efisiensi penggunaan protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan, untuk mengetahui saat koleksi yang tepat, ke dalam ransum baik pada awal maupun pada akhir koleksi ditambahkan indikator Cr2O3 sebanyak 0,2 %. Selanjutnya khusus pada pengukuran efisiensi penggunaan protein, feses yang diperoleh disemprot denganlarutan asam borat 5 % dengan tujuan untuk mencegah Nitrogen yang hilang karena penguapan dan selanjutnya feses dianalisa kandungan proteinnya secara Kjeldhal.

5.      Menganalisa kadar protein kasar feses, kadar indikator dalam bahan kering (%) seteleh periode penampungan fese, dengan mengambil sample feses sebanyak 100 gram/minggu ke dalam kantong palstik lalu dianalisis di laboratorium.

 

3.3.2. Peubah Yang Diamati

1.      Rasio Efisiensi Protein (REP)

Rasioe Efisiensi Protein diperoleh dengan cara membagi pertambahan bobot badan dengan konsumsi protein (Scott, dkk, 1982).

 

 

2.      Kecernaan Protein

Kecernaan protein dihitung dengan menggunakan metode “total collecting feses” (Schendeider dan Flatt, 1975).

Kecernaan protein = k – f

k    = Jumlah protein yang di konsumsi

f     = Jumlah protein dalam fases

a.      Jumlah protein yang dikonsumsi (k)

          Jumlah konsumsi ransum per hari x persen protein yang terkandung di dalamnya.

 

b.      Jumlah protein dalam feses (f)

          Jumlah fese yang dieksresikan per hari x persen protein yang terkandung didalamnya.

c.       Selisih antara [ (k) dan (k) } : (f) x 100 merupakan koefisien cerna ransum perhari.

 

Untuk mendapatkan koefisien cerna protein kasar  dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Koefisien cerna protein kasar (PK) =

 

3.      Kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan

Kecepatan laju makan dalam sistem pencernaan diukur dengan menggunakan marker khoromix oxida (Cr203) yang ditambahkan kedalam ransum. Pengukuran dilakukan setelah marker muncul bersama fese (Sihombing, 1997).

 

3.3.3. Rancangan Percobaan dan Analisis Statitik

            Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat macam dosis pemberian kurkuminoid (9, 4, 8, dan 12 mg) pada ransum. Masing-masing perlakuan terdiri dari 5 ulangan.

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dengan model statistik sebagai berikut :

 

Keterangan :

Yij = Nilai harapan dari perlakuan ke – i pada ulangan ke – j

m  = nilai rataan umum

ai  = Pengaruh perlakuan ke i = 1, 2, 3, 4.

eij  = Galat perlakuan ke – i dan ulangan ke – j = 1, 2, 3, 4, 5.

i    = Banyaknya perlakuan (i = 1, 2, 3, 4)

j    = Banyaknya ulangan (j = 1, 2, 3, 4, 5).

 

Asumsi :

1.      Nilai bij menyebar normal bebas satu sama lain

2.      Nilai harapan  eij  = 0 atau S (eij) = 0

3.      Ragam dari eij  =2 atau S (eij) = s2

         eij – NID (0, s2)

4.      Pengaruh perlakuan sifat tetap

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Protein

            Rataan kecernaan protein untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 4. rataan Kecernaan Protein pada tiap Perlakuan Selama Penelitian

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

Rataan  : R0   = Ransum Percobaan

                  R1   = Ransum Percobaan + 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan

                  R2   = Ransum Percobaan + 8 mg kurkuminoid/kg bobot badan

                  R3   = Ransum Percobaan + 12 mg mg kurkuminoid/kg bobot

                            Badan

 

            Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein pada babi finisher dapat dilihat pada Tabel 4. Rataan kecernaan protein adalah 43.50 %, hasil ini masih lebih rendah dari pendapat Sihombing (1997) yang menyatakan bahwa kecernaan protein babi dalam kebanyakan bahan makanan dengan kandungan Energi Metabolisme 3190 kkal dan Protein Kasar 14 %berkisar antara 75 % – 90 %. Kecernaan protein yang rendah pada babi salah satunya ditentukan oleh genotp, dimana babi yang digunakan dalam pelitian ini adalah babi peranakan Landrace, yaitu bangsa babi yang sudah tidak murni lagi karena merupakan hasil persilangan dari babi Landrace dengan babi lokal sehingga kecernaan proteinnya tidak sebaik babi Landrace murni.

            Berdasrkan Tabel 4, kecernaan protein tertinggi diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1 (47,39%), kemudian berturut-turut disusul oleh perlakuan R0 (42,43 %), R3 (42,11 %) dan R2 (42,08 %). Babi yang diberi perlakuan R1 dengan pemberian dosis 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memperlihatkan daya cerna protein tertinggi, kaena pemberian kurkuminoid pada dosis yang tepat dapat meningkatkan kecernaan zat-zat makanan khususnya protein, hal ini disesui dengan pernyataan Arifin dan Kardiyono (1985) serta Martini (1998), bahwa kurkuminoid dapat merangsang sekresi hormon dari kelenjar Brunner pada dinding usus halus, selanjutnya hormon inilah yang akan merangsang peningkatan sekresi enzim-enzim pencernaan dari kelenjar pancreas yang oleh enzim enterokinase dalam usus halus dirombak menjadi enzim tripsin yang pada gilirannya dapat meningkatkan kecernaan protein.

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein, dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 4. Analisis sidik ragam memperlihatkan hasil bahwa pemberian kurkuminoid dalam ransum menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dimana F hit > Fa 0,05. untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecernaan protein dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan yang hasilnya disajikan pada Tabel 5.

 

 

 

Tabel 5. Uji Jarak Berganda Duncan

Perlakuan

Kecernaan Protein

Signifikasi 0,05

R1R0

R3

R2

47.3942.43

42.11

42.08

BA

A

A

Keterangan :     Huruf yang sama ke arah kolom pada kolom signifikasi menunjukkan perbedaan yang tidak nyata.

 

            Pada babi yang diberi perlakuan R2 dan R3 daya cerna bahan pakan menurun hal ini disebabkan jumlah pemberian dosis yang sudah tidak tepat dan dalam jumlah yang lebih besar sehingga tidak memberikan pengaruh yang positif terhadap babi. Hal ini sesuai dengan pendapat Bile dkk (1985) bahwa pemberian kurkuminoid dalam jumlah yang berlebih dalam ransum babi akan mengakibatkan kerusakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid.

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Efisiensi Protein

            Rataan efisiensi untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 6. Rataan Efisiensi Protein pada Tiap Perlakuan Selama Penelitian.

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

            Nilai rata-rata efisiensi protein adalah 1,27 (Tabel 6), nilai in masih lebih kecil dibandingkan menurut perhitungan NRC (1998), pertambahan bobot badan harian untuk babi finisher adalah 800 g/hari dengan kebutuhan protein 14 % dan konsumsi ransum 2500 – 3000 g/hari, maka di dapat efisiensi penggunaan proteinnya adalah 2,03. berdasarkan tabel 6, efisiensi protein tertinggi diperlihatkan oleh babi finisher yang diberi perlakuan R1 (,45) kemudian berturut-turut R0 (1,35), R1 (1,17), dan R2 (1,10).

            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap efisiensi protein dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 4. hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian kurkuminoid dalam ransum tidak berbeda nyata terhadap efisiensi protein F hit < F 0,05.

            Pemberian kurkuminoid dalam jumlah yang tepat akan meningkatkan proses pencernaan dan dapat mengoptimalkan manfaat dari protein yang terkandung dalam ransum yang pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi protein ransum (Thilman dkk, 1986). Penggunaan kurkuminoid pada penelitian ini kemungkinan belum menemukan dosisi yang tepat sehingga tidak berimplikasi terhadap efisiensi protein ransum.

 

 

 

 

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecepatan Laju Makanan Dalam Sistem Pencernaan

            Rataan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan untuk setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 7.     Rataan Kecepatan Laju Makanan pada Tiap Perlakuan Selama Penelitian

Ulangan

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Rataan

 

—————————————————————————–

1

2

3

4

5

42.6942.75

43.92

40.14

42.66

48.8546.54

46.13

47.71

47.75

40.1142.08

42.27

43.80

42.16

41.3141.21

42.25

41.12

44.68

 

Total

212.16 236.98 210.42 210.57 217.53

Rataan

42.43 47.39 42.08 42.11 43.50

 

Hasil pengamatan selama penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher dapat dilihat pada Tabel 6. rataan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan adalah 19,50 jam, hasil ini sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) yang menyatakan bahwa kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 5. hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian dosis (0, 4, 8, 12 mg kurkuminoid/kg bobot badan) dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan dimana F hitung < dari Fa 0,05.

Menurut pendapat Ramprasad dari Sirsi (1956) yang menyatakan bahwa peristaltik usus halus dapat mempengaruhi keceapatn laju makanan dalam sistem pencernaan. Kurkuminoid dapat mempengaruhi tonus dan kontraksi usus halus, pemberian dalam dosis rendah secara berulang akan mempercepat kontraksi tonus usus halus, tetapi pada dosis tinggi justru akan memperlambat bahkan dapat menghentikan kontraksi spontan, akibatnya perjalanan ransum dalam usus halus menjadi lebih lama. Penggunaan kurkuminoid pada penelitian ini kemungkinan belum menemukan dosis yang tepat sehingga tidak berimplikasi etrhadap kecepatan laju makanan di dalam saluran pencernaan.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa babi yang diberi perlakuan berbagai dosis kurkuminoid menunjukkan pengaruh yang berbeda terhadap kecernaan protein dan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein dan kecapatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher. Kesimpulan yang diperoleh, yaitu :

1.      Pemberian kurkuminoid dalam ransum sampai tingkat 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memberikan pengaruh yang positif terhadap kecernaan protein dan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein ransum dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher.

2.      Pemberian kurkuminoid pada dosis 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan memberikan hasil terbaik terhadap kecernaan protein dan pemberian kurkuminoid sampai 12 mg/kg bobot badan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi protein dan kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan babi finisher.

Saran

            Pemberian dosis kurkuminoid dalam ransum babi finisher sebanyak 4 mg kurkuminoid/kg bobot badan dapat meningkatkan daya cerna babi terhadap protein ransum babi finisher.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

 

Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetekan ke-4. PT. Gramedia Jakarta.

 

Arifin dan Kardiyono. 1985. Temulawak dalam Pengobatan Tradisional. Proseding Simposium Nasional Temulawak. Universitas Padjadjaran Bandung.

 

Ashari, S. 1995. Holtikultura Aspek Budaya. Penerbit Univeristas Indonesia.

 

Bile N, Larsen JC, Hansen EN, Wuthzen G. 19895. Subcronis Oral Toxicity of Tumeric oleorisin in pig. Food Chem Toxicol 23 : 367 – 973.

 

Cheeke, P. R. 1999. Contemporry Issues in Animal Agriculture. Interstate Publisher, Inc. Denville, Llinois.

 

Cole, D.J. A., and G. C Brander 1986. Bioindustrial Ecosystem. Ecosystem of The World 21. Elsevier Science Publishing Company Inc. Amsterdam.

 

Darwis, S.N., A.B.D. Madjo Indo dan S> Haisyah. 1991. Tumbuhan Obat dan Famili Zingiberaceae. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Bogor.

 

Direktorat Jendral Peternakan 2003. Statistik Indonesia. Jakarta.

 

Elizabeth, 2002. Potensi Industri Kelapa Sawit dalam Mendukung Pengembangan Peternakan di Indonesia. Pusat Penelitian Kelapa Sawit Jl. Brigjend. Katamso No. 51, Medan.

 

Ensminger. 1969. Animal Science. Intrerstale Publisher, inc. Danvile. Llinois. USA.

 

Ensminger, M.E., J.E. Oldfied, and W.W. Heinemann. 1990. Feed and Nutrion. Second Edition. Ensminger Publishing Company Inc., Amsterdam.

 

Enseminger, M. E., J. E. Oldfield, and W.W. Heinemann. 1990. Feed and Nutrion. Second Edition. Ensminger Publishing Company Inc., Amsterdam.

 

Fardiaz, S. 1982. Penuntun Praktek Laboratorium Mikrobiologi Pangan. Jurusan Ilmu dan teknologi Pangan. IPB, Bogor.

 

Fraizer, W.C. and D.C. Westhoff. 1978. Food Microbiology. Tata Mc-Graw Hill Pub. Co.Ltd. New Deldhi.

 

Frandson R. D. Penerjemah B. Srigandono Koen Praseno. 1993. 1993. Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University, Press.

 

Ginting, SP., SW Handayani and PP. Ketaren. 1987. Utilization of Palm Kernel Cake for Sheep Production. In : Advances in Animal Feeds and Feeding in The Tropic. RI. Hutagalung, CC. Peng, Wan M. Embong, LA, Theem and S. Sibarajasingam (Eds). Proc 10th Annual Conference of the Malaysian Soc. Anim. Prod. Pahang. Malaysia. Pp. 235 – 239.

 

Herman, R. 2000. Produksi Kelinci dan Marmot – Anatomi dan Fisiologi Alat Pencernaan Serta Kebutuhan Pakan. Buku ke – 3. Makalah Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

John Keys. D. Chinese Herbs Their Botany, Chemistry and Pharmacodinamics.  Charles E. Tuttle Company. Tokyo. 75 – 76.

 

Kiso. 1985. Anti Hepatotic Prinsipleess of Longa Rhizoma. Proeseeding. Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Univeristas Padjadjaran Bandung.

 

Lubis, D.A. 1963. Ilmu Makanan Ternak.  PT. Pembangunan Jakarta.

 

Martini, S. 1998. Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Berbagai Jenis Curcuma dan Kombinasinya Sebagai Pakan Adiktif Terhadap Produksi Karkas Serta Komposisi Asam Lemak Karkas pada Kelinci Peranakan New Zealand White. Disertasi. Unpad Bandung.

 

Morrison, F. B. 1981. Feeds and Feeding. Abriged. 9th Ed. The Morrison Publishing Company. Cloremont, Ontario. Canada.

 

Natarajan, C.P. and Y.S. Lewis. 1980. Technology of Ginger and Tumeric. Proceeding of the National Seminaron Tumeris. Central Plantation Crops Research Institute, Kasaragod. Kerala India.

 

Narayanan, C.S., K. Rajaraman, B. Sangkarikutyy, M. A> Sumathikitty and A.G. Mathew, 1980. The Colouring Pinciple of Tumeric. Proceeding of the National Seminar on Ginger and Tumeric.  Central Plantation Crops Research Institue. Keala, India.

 

Nasional Research Council (NRC), 1998. Nutrient Requitmens of Swine.  National Academy Press, Washington D. C.

 

O. B. Liang. 1985. Beberapa Aspek Isolasi. Identifikasi dan Penggunaan Komponen-komponen Curcuma Xanthorrhiz. Roxb dan Curcuma domestica Val. Simposium National Temulawak. Unpad Bandung.

 

Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Mogogastrik. Vol. 1a. Penerbit Angkasa Bandung.

 

Ramprassad, C dan M. Sirsi, 1956. Studies on Indian Medical Plant : Curcuma Loa Linn. Effevt of Curcuma and the Esensential oil of C. Longa on bile Secretion, J. Sci. Industry.  Res 15 (12) : 262 – 265.

 

Ranjhan, S.K. 1977. Animal Nutrition and Feeding Practice in India. Vikas Publishing House PVT. Ltd. New Delhi, Bombay, Bangalore Calcutta Kampar.

 

Rukmana, R. 1994. Kunyit Yayasan Kanisius. Jakarta. 1 – 10

 

Schneider, B. H. Dan W. P. Flatt. 1975. The Evaluation of Feeds Through Digestibility Experiment. The University of Georgia Press. Georgia. Hal. 139 – 140.

 

Scott, M. L. Nesiheim and R> J. Young. 1982. Nutrition of The Chicken. 3rd Ed. M. L. Scott and Associates Publisher. Ithaca – New York.

 

Shankar TNB, Shanta NV, Ramesh HP, Murthy VS. 1980. Toxicity Studies on Tumeric (Curcuma longa) in rat, guine pig and monkey. Indian. J. Exp. Biol. 18 : 73 – 75.

 

Siagian, P. H. 1999. Manajemen Ternak Babi.  Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

 

Sibbald, IR. 1979. A Bioassay for Available Amin Acids and True Metabolizable Energi in Feeding Stuffs.  Poult. Sci. 56 – 68.

 

Sihombing, DTH. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Sinaga, S. 2003. Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Aditif Tepung Kunyit pada Babi Periode Finisher. Fapet, Unpad Bandung.

 

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging.  Cetakan kedua. Gadjah Mada University Press Yogyakarta. p :  243.

 

Sosroamidjojo, MS. 1997. Ternak Potong dan Kerja. C. U. Yasa Guna. Jakarta.

 

Sudiarto dan Ratu Safitri. 1985. Pengaruh Pengeringan dan Giberllin Terhadap Pertunasan Rimpang Kunyit (Curcuma Domestika val). Balai Penelitian Rempah dan Obat, Bogor. Prosiding Simposium Nasional Temulak. Unpad Bandung.

Leave a Reply