Penyakit Babi.1.

Penyakit Babi.1

Canada: Governments to strengthen traceability and biosecurity

B.C. Minister of Agriculture and Lands Steve Thomson and Member of Parliament Andrew Saxton (North Vancouver) announced the investment of $3.5 million dollars at ‘Discover Agriculture in the City’ in Burnaby.

Deliver top quality food

“A strong traceability system will help Canadian producers strengthen their businesses and get the premium prices their top-quality products deserve,” said MP Saxton, on behalf of federal Agriculture Minister Gerry Ritz. “Our Government is working with the provinces and industry to create a strong national traceability system that will help producers and processors minimise risks, strengthen their businesses and continue to deliver their top-quality, safe food to consumers at home and around the world.”
 

Ready to respond to animal diseases
“The Province has been working with industry to build and implement traceability and biosecurity systems so we are ready to respond to animal disease and food safety issues,” said Minister Thomson. “B.C. is already a leader in biosecurity measures, and having these systems in place builds consumer confidence. It also positions our agri-food industry to be competitive in both the domestic and international marketplace.”
 

The two initiatives being funded include:

· $2.04 million for the Enterprise Infrastructure Traceability (EIT) to help producers, farmers, food processors and agri-food businesses with costs to purchase and install traceability infrastructure/systems to track products from receiving to shipping. The program consists of animal (product) identification, premises identification and movements recording. This funding will help proactive management of food-borne risks along the agri-food chain, contributing significantly to the health and wellbeing of British Columbians. The EIT program is being delivered through the BC Agriculture and Research Corporation, a subsidiary of the British Columbia Agriculture Council.

 

· $1.5 million will be allocated to the biosecurity program, which will help producers continue to improve their on-farm biosecurity procedures such as wearing barn-specific clothing and disinfecting farm equipment. Under this program the British Columbia Hog Marketing Commission will implement biosecurity standards for their commodity on approximately 31 farms. The biosecurity program is being delivered directly by the Ministry of Agriculture and Lands.

Ongoing efforts to implement food safety, traceability and biosecurity measures are important for achieving a safe food supply into the future and will greatly improve the Provinces protection of animal, plant and human health. Completed projects include B.C.’s $14.5-million, high-security containment Level 3 laboratory in Abbotsford and a Foreign Animal Disease Emergency Support plan (FADES) that has been developed to enhance B.C.’s response to occurrences of significant disease events.

‘Discover Agriculture in the City’ is a three-day event, open to the public, designed to build awareness among urban British Columbians about the contributions farmers make to the economy, the environment and to the health of Canadians, as well as some of the innovative uses of Canadian agricultural products.

The European Food Safety Authority (EFSA) has assessed the public health risks from salmonella in pigs and the impact of possible control measures

The assessment suggests that pigs and pig meat may be responsible for 10 to 20% of all human cases of salmonellosis in the EU – but with differences between countries – and that controlling salmonella more effectively within the pig meat food chain would have a direct impact on reducing the number of human cases.

 This work by EFSA’s Biological Hazards Panel (BIOHAZ) was at the request of the European Commission and will support the setting of any targets for the reduction of salmonella in pigs across the European Union. To support the Panel opinion and in line with EFSA’s strategy on cooperation and networking with Member States, a consortium of institutes from across the European Union was established for the first time. This consortium developed an EU level model to quantify the public health risk of Salmonella in the pig meat food chain, from farm to fork.

 The Panel found evidence suggesting that the human cases attributable to salmonella in pig meat will mainly depend on the levels of salmonella in pigs and pig meat, as well as on consumption patterns and the relative importance of the other sources of salmonella.

 Reduce salmonella in humans
The Panel evaluated a series of measures to reduce the number of human cases of salmonella. These included ensuring pigs in breeding holdings are free from salmonella, ensuring that the feed is also free from salmonella, adequate cleaning and disinfection of holdings, avoiding contamination during slaughter, and decontaminating carcasses. The Panel indicated that these measures should be used in combination and based on the individual situation of each Member State; and that a hundredfold reduction of the number of salmonella bacteria on contaminated carcasses would result in a 60-80% reduction of the cases of human salmonellosis originating from pig meat consumption.

 The experts also indicated that in order to reduce salmonella in pigs going to slaughter, decreasing the levels of salmonella in holdings where pigs are bred would result in highest reduction. In Member States which have high levels of salmonella this would lead to the greatest reduction. The Panel also says that ensuring feed is salmonella-free could lead to further reductions, and, in Member States with lower levels of salmonella, this approach would have the highest impact.

 The opinion also recommends that information on the temperature at which the pig meat is kept during transportation and how consumers store it at home is important to further understand the factors that lead to risks for salmonella in humans.

Iodin (I) Atau Yodium (Miftahul Falah)

Iodin atau yodim, adalah unsur paling berat diantara unsur esensial bagi semua spesies ternak. Kebanyakan bahan iodin dalam tubuh terdapat dalam kelenjar gondok (thyroid) yang merupakan bagian integral dalam hormon thyroid , yakni thyroxin dan triiodothyronine yang keduanya berperan penting dam metabolisme.

            Salah faktor yang mempengaruhi keluarnya hormon thyroid oleh kelenjar thyroid adalah ketersediaan iodin. Bila iodin tidak cukup tersedia, kelemjar berusaha mengimbangi kekurangan tersebut dengan meningkatkan aktifitas sekresi dan hal ini mengakibatkan kelenjar membesar, kondisi ini dikenal dengan penyakit gondok (goiter, atau goitre) sederhana atau gondok endemik.

Penyerapan, Metabolisme dan Ekskresi

            Penyrapan iodin sangat efisien yakni hampir 100%, penyerapan hampir sepanjang system pencernaan, namun yang tebanyak adalah dalam usus halus. Setelah iodin menempuh dua jalan utama dalam tubuh, sekitar 30% diangkat melalui kelenjar thyroid dan digunakan untuk sintesis hormon thyroid, dan terbanyak dari sisa-sisa selebihnya diekskresikan melalui urine, nsamun sebagian kecil dikeluarkan melalui feses dan keringat.

Fungsi

Fungsi tunggal iodin adalah pembuat hormon pengandung iodin, yakni thyroxin dan triiodothyronine yang disekresiakan kelenjar thyroid yang mengatur laju oksidasi dalam sel, dan demikian berpengaruh terhadap pertumbuhan, fungsi jaringan otot dan syaraf, aktifitas peredaran darah dan metabolisme zat-zatmakanan. Bila lebih banyak hormon thyroid dalam darah, laju metabolisme yang mengakibatkan produksi susu meningkat, bila iodin tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan, persediaan tubuh dimobilisasi sehingga bobot tubuh turun. Bila defisiensi iodin berkepanjangan, emasiasi dan problem kesehatan lainnya malahan bisa terjadi.

            Kadang-kadang iodin juga digunakan sebagai bahan antibakterial untuk infeksi ringan. Tubuh ternak dewasa mengandung kurang dari 0,00004% iodin.

Simtom defiensi dan toksisitas 

            Defiensi.- Bila iodin kurang diperoleh, kelnjar thyroid tidak dapatkontini menghasilakn hormon thyoid. Oleh pengaturan hormon TSH dari kelenjar pituitari.kelenjar thyroid akan membesar sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan.  Definisi iodin umumnya di dunia ini dan terjadi bila bahan-bahan makanan yang berasal dari lahan yang miskin dari iodin, sehingga tidak memenuhi kecukupan untuk tubuh

            Pengobatan defisiensi iodin mungkin tidak berhasil jika thyroid dan jaringan lain tidak terlalu parah menderita. Pengobatan jauh lebih mudah dan lebih baik,  sebab iodin dalam bentuk anorganik maupun organik dapat disuplentasi dalam ransum. Menggunakan garam beriodin sebai bagian dari ransum akan lebih ekonomis bila bahan ransun beriodin rendah. Level 0,002-0,004 mg iodin per kilogram bobot tubuh sudah cukup untuk mencegah munculnya gioter.

            Toksisitas.- terlalu banyak iodin diperoleh dan jangka lama dapat mengganggu pemanfaatan iodin oleh thyroid dan mengkibatkan toksisitas. Perbedaan antara simtom mencolok anytara spesies ternak terhadap toleransi keracunan iodin yang tinggi

 Sumber iodin bagi ternak

            Sumber pakan kaya, tepung alfalfa, molases gula tebu, ampas bir, hasil penyulingan minuman, tepung ikan dan hasil ikutan marin dan tumbuhan yang kay akan iodin, tepung daging serta tulang, gandum dan hasil ikutannya, tepung hasil ikutan unggas, kedelai, jelai dan wei.

METODE PERBAIKAN GENETIK PADA BABI (Thoyib Hari Prayogo)

Metode perbaikan genetik pada babi atau bisa disebut juga konsep dasar perbaikan ternak babi salah satu caranya yaitu dengan memilih seekor pejantan yang berindeks tinggi, yakni pejantan yang berlemak punggung tipis, laju pertumbuhan dan efisiensi konversi makanannya baik sekali, maka turunan induk yang dikawininya diharpkan memiliki indeks yang baik pula.Metode perbaikan genetika pada babi dapat dilakukan atau dilihat dengan cara menguraikan teori bagaimana sifat-sifat produksi diwariskan dari generasi ke generasi dapat dilihat dari :

1. Genetika

2. Kromosom dan Gen

3. Variabilitas

4. Heretabilitas

1. Genetika

Salah satu fakta yang muncul paling mencolok bila mempelajari reproduksi ternak adalah kesanggupannya mewariskan sifat-sifat yang khusus dari sebab itu peternak tidak ada kesulitan untuk membedakan seekor babi Yorkshire dari Hampshire, Duroc atau dari Lacombe, masing-masing babi ini memilii sifat-sifat yang mudah diketahui yang diwariskan. Namun bila memeriksa terperinci sifat-sifat sekelompok babi yang bangsa dan umurnya sama, akan menemui adanya variasi untuk sifat-sifat tertentu dan keseragaman untuk sifat-sifat yang lain diantara individi-individu dalam kelompok tersebut. Misalnya dalam sekelompok babi Landrace sedikit sekali variasi arah telinga, tetapi perbedaan waktu untuk mencapai babi siap potong dapat berbeda 3 minggu atau lebih meskipun tanggal lahirnya sama.

 

2. Kromosom dan Gen

            Setiap ternak seratus persen bertumbuh dari satu sel, yakni sebuah sel telur tertunas atau zigot. Sel ini harus membagi diri dan mendplikasi dirinya berkali-kali selama kurun waktu antara sejak tertunas dan perkembangan seekor ternak dewasa yang selanjutnya sanggup berproduksi. Kedua sel telur dan sel sperma memiliki setengah dari sepasang susunan berbentuk tangkai yang dikenal dengan kromosom. Sel telur yang telah ditunasi berasal dari perpaduan sebuah sel telur dari tetua betina dan sebuah sel sperma dari tetua jantan. Ketika pertunasan terjadi, perpaduan sel sperma dengan sel telur menghasilkan perpasangan kromosom dari sel sperma dan dari sel telur. Sejak batas, sel yang telah ditunasi atau dibuahi tadi disebut zigot mulai membagi diri dan membentuk embrio.

3. Variabilitas

Variasi Genetis adalah sebagian dari variasi yang terdapat diantara babi diakibatkan oleh kombinasi pasangan kromosom yang disumbangkan oleh seekor ternak keturunannya. Dalam pembentukan suatu sel telur, ataupun sel sperma anggota setiap pasangan yang akan masuk dalam sel sepenuhnya ditentukan oleh adanya kesempatan dan setiap anggota pasangan dapat mengandung gen yang berbeda sedikit. Pada babi dengan 19 pasang kromosom yang berbeda telah dihitung bahwa ada kemungkinan lebih dari satu juta kombinasi kromosom yang mungkin. Jumlah kombnasi pasangan kromosom yang besar ini memberi ide kepada kita betapa besar variasi sifat-sifat yang mungkin diwariskan pada babi.      Variasi oleh Lingkungan bukan hanya gen sumber perbedaan antara dua ekor ternak. Perbedaan makanan, penyakit atau cuaca yang ekstrem semuanya dapat mempengaruhi perkembangan. Faktor ini sangat berpengaruh terhadap manajemen ternak.

4. Heritabilitas

            Heritabilitas adalah derajat suatu sifat yang dipengaruhi oleh komposisi faktor genetis. Heritablitas secara sederhana didefinisikan sebagai bagian dari variasi yang dusebabkan oleh warisan. Heritabilitas 50% menyatakan bahwa separuh dari variasi adalah faktor genetis dan separuh lagi oleh lingkungan. Sifat-sifat yang tinggi nilai heritabilitasnya adalah yang termudah diperbaiki dalam suatu peternakan babi. Pengawinan dan seleksi dari individu yang superior dakam sifat-sifat ini akan berpengaruh besar dalam perbaikan ternak. Heritabilitas yang agak rendah tetapi masih masuk akal derajat perbaikan dapat dicapai melalui perkawinan dan seleksi individu yang superior untuk sifat-sifat yang dimaksud yang heritabilitasnya sedang. Sifat-sifat yang heritabilitasnya rendah tidak bertanggap baik terhadap seleksi.

PENYEBAB ABORTION PADA BABI (IRA KHAIRANI)

Abortus atau keluron adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup, sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum masa akhir kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri di luar tubuh induk (Toelihere, 1985).

Abortus dapat terjadi pada berbagai umur kebuntingan dari 42 hari sampai saat akhir masa kebuntingan. Abortus dapat terjadi bila kematian fetus di dalam uterus disertai dengan adanya kontraksi dinding uterus sebagai akibat kerja secara bersama-sama dari hormon estrogen, oksitosin, dan prostaglandin F2? pada waktu terjadinya kematian fetus itu. Oleh karena itu fetus yang telah mati terdorong keluar dari saluran alat kelamin (Hardjopranjoto, 1995).

Penyebab abortus secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu abortus karena sebab-sebab infeksi dan, abortus karena sebab-sebab non infeksi.

  1. Abortus karena infeksi :

Brucellosis

Sifat dan Kejadian

Brucellosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder beberapa jenis hewan lainnya dan manusia. Brucellosis disebabkan bakteri Brucella abortus (Anonim, 1978). Abortus karena Br. abortus umumnya terjadi dari bulan ke-6 sampai ke-9 periode kebuntingan. Kejadian abortus berkisar antara 5-90% di dalam suatu kelompok ternak tergantung pada berat ringan infeksi, daya tahan hewan bunting, virulensi organisme dan faktor-faktor lain (Toelihere, 1985).

Terjadinya keguguran setelah kebuntingan 5 bulan merupakan petunjuk kunci untuk menemukan penyakit ini. Seekor sapi betina setelah keguguran itu masih mungkin bunting lagi tetapi tingkat kelahiran akan rendah dan tidak teratur (Blakely & Bade, 1991). Sedangkan menurut Akoso (1990), terjadinya keguguran karena penyakit ini biasanya pada usia kebuntingan 7 bulan. Kemungkinan selaput janin akan tertinggal lama dan menyebabkan sapi menjadi mandula dalah merupakan gejala penyakit ini
Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui ingesti makanan dan air yang terkontaminasi oleh kotoran-kotoran dari alat kelamin hewan yang mengalami abortus. Disamping itu penularannya dapat juga terjadi melalui selaput lendir mata dan melalui IB dengan semen terinfeksi. Anak sapi yang menyusu dari induk yang tertular juga dapat tertulari (Toelihere, 1985).

Ä  Patogenesis 

Permulaan infeksi brucellosis terjadi pada kelenjar limfe supramamaria. Pada uterus, lesi pertama terlihat pada jaringan ikat antara kelenjar uterus mengarah terjadinya endometritis ulseratif, kotiledon kemudian terinfeksi disertai terbentuknya eksudat pada lapisan allantokhorion. Brucella banyak terdapat pada vili khorion, karena terjadi penghancuran jaringan, seluruh vili akan rusak menyebabkan kematian fetus dan abortus. Jadi kematian fetus adalah gangguan fungsi plasenta disamping adanya endotoksin. Fetus biasanya tetap tinggal di uterus selama 24-72 jam setelah kematian. Selaput fetus menderita oedematous dengan lesi dan nekrosa (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan

Upaya yang dapat dilakukan terhadap pencegahan penyakit ini adalah memisahkan sapi yang menderita abortus pada tempat yang terisolasi, menghindari perkawinan antara pejantan dengan betina yang menderita abortus, jangan memberikan susu pada sapi dengan susu sapi yang menderita abortus, selalu memperhatikan kebersihan baik kandang maupun peralatan kandang dan peralatan pemerah yang digunakan, serta melaksanakan vaksinasi secara teratur (Siregar, 1982). Apabila terjadi abortus akibat Brucella abortus fetus dan placenta yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis (Toelihere, 1985).

Ä  Leptospirosis

Sifat dan Kejadian

nLeptospirosis pada sapi disebabkan oleh spirocheta yang kecil dan berbentuk filamen, yang terpenting diantaranya adalah Leptospira pamona, L. hardjo, L. grippotyphosa dan L. conicola. Organisme ini mudah dimusnahkan oleh panas, sinar matahari, pengeringan, asam, dan desinfektan. Leptospira dapat hidup selama beberapa hari atau minggu dalam lingkungan yang lembab pada suhu sedang seperti di tambak, aliran air yang macet atau di tanah basah (Toelihere, 1985).

Air merupakan media penyebaran utama untuk penyakit ini. Penularannya dapat pula melalui luka, semen, baik perkawinan alamiah maupun perkawinan dengan IB. selain dapat menular ke ternak lain penyakit ini juga dapat menular ke manusia (Blakely &Bade, 1991). Pembawa utama Leptospira adalah rodentia. Anjing dan babi dapat berfungsi sebagai pembawa potensial (Anonim, 1980).

Penyebaran Leptospirosis bergantung pada keadaan luar, yaitu penyebarannya terutama melalui air dan lumpur. Hewan biasanya mengeluarkan Leptospira melalui air kemih. Bila air kemih in tiba di dalam air atau lumpur yang sedikit alkali atau netral maka Leptospira itu dapat tinggal hidup berminggu-minggu. Bila hewan atau orang kontak langsung dengan air atau lumpur ini maka ia terinfeksi. Leptospira ini masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir konjungtiva, mulut, hidung dan luka kulit.

Ä  Patogenesis

Setelah infeksi terjadi pada sapi, Leptospira masuk dan berkembang di dalam aliran darah. Masa inkubasi terjadi 4-10 hari dengan fase bakteremia yang akan berakhir kira-kira 7 hari, diikuti pengeluaran Leptospira dalam air susu dan terjadi kerusakan fungsi ginjal. Dengan terbentuknya antibody dalam sirkulasi darah setelah 5-10 hari bakteremia berhenti, bakteri akan melokalisir dan menetap di sejumlah organ tubuh terutama tubulus renalis ginjal dan alat kelamin dewasa. Selanjutnya Leptospira dikeluarkan dalam urine selama 20 bulan atau lebih, tergantung pada serotype dan umur sapi. Pada induk sapi yang bunting maupun tidak bunting Leptospira akan menetap pada uterus pasca infeksi. Lokalisasi Leptospira pada uterus yang bunting dapat menulari fetus, diikuti dengan keluarnya kotoran yang mengandung Leptospira dari alat kelamin sampai 8 hari pasca lahir. Leptospira dapat juga menetap di tuba falopii 22 hari setelah melahirkan (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan tindakan-tindakan higienik dan sanitasi, vaksinasi dan pengobatan antibiotika. Bakterin dapat memberi kekebalan yang baik selama 2 sampai 12 bulan. Oleh karena itu vaksinasi memakai bakterin sebaiknya dilakukan 2 kali dalam 1 tahun. Pengobatan terhadap leptospirosis akut meliputi penyuntikan antibiotika dalam dosis tinggi seperti 3 juta satuan penicillin dan 5 gram streptomycin 2 kali sehari atau 2,5-5 gram tetracycline per 500 kg berat badan setiap hari selama 5 hari (Toelihere, 1985). Sedangkan cara pengendalian yang ideal adalah dengan penyingkiran hewan pembawa (Anonim, 1980).

Ä  Camphylobacteriosis

Sifat dan Kejadian

Camphylobacteriosis yang disebabkan oleh Camphylobakter foetus veneralis (dahulu disebut Vibrio fetus veneralis) adalah salah satu penyakit penyebab utama kegagalan reproduksi pada sapi yang disebarkan melalui perkawinan. Umumnya ditemukan kematian embrio dini atau abortus pada bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Toelihere, 1985).

Penyebarannya lewat ingesti, masuk darah menyebabkan plasentitis dengan kotiledon hemoragik dan sekitar interkotiledonaria mengalami udema (Prihatno, 2006).

Ä  Patogenesis

Infeksi Camphylobacter fetus venerealis pada sapi betina akan diikuti oleh endometritis, ditandai dengan adanya kerusakan pada endometrium yang mencapai puncaknya pada 8-13 minggu setelah penularan, disertai keluarnya cairan keruh kemudian berubah menjadi mukopurulen yang kadang-kadang diikuti salphingitis. Eksudat ditemukan dalam kelenjar uterus disertai infiltrasi limfosit ke dalam rongga periglandular. Karena adanya endometritis, embrio akan memperoleh oksigen lebih sedikit, sehingga akan mati dalam waktu yang singkat tanpa gejala yang jelas. Abortus terjadi pada umur 2-3 bulan dengan selaput fetus yang utuh pada waktu diabortuskan (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan

Pengendalian yaitu IB dengan semen sehat yang berasal dari pejantan yang sehat pula, hewan betina atau pejantan yang terkena harus istirahat kelamin selama 3 bulan dan vaksinasi dengan bakterin 30-90 hari sebelum dikawinkan atau setiap tahun (Prihatno, 2006). Sedangkan pengobatannya dapat dilakukan dengan pemberian antibiotic berspektrum luas baik pejantan maupun betina (Prihatno, 1994).

Ä  Infectious Bovine Rhinotracheitis dan Infectious Pustular Vulvovaginitis (IBR-IPV)

Sifat dan Kejadian

Penyakit ini baru dikenal sejak tahun 1950 di Amerika Serikat yang disebabkan oleh virus. Penyebaran virus ini adalah melalui udara yaitu pada saat banyak hewan berkumpul. Hingga sekarang hanya sapi yang diketahui peka terhadap penyakit ini. Infeksi buatan dapat dilakukan denan inhalasi larutan yang mengandung virus di dalam hidung atau dengan injeksi intra tracheal (Ressang, 1984). Kejadian abortus dapat setiap saat, tetapi umumnya mulai bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Prihatno, 2006).

Penularan penyakit ini dapat secara vertikal maupun horizontal. Secara vertical dapat melalui infeksi intra uterine, sedangkan secara horizontal dapat melalui inhalasi dari cairan hidung dan melalui semen yang mengandung virus (Anonim, 1982).

Ä  Patogenesis

Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4-6 hari. Infeksi virus ini menyebabkan lepuh-lepuh pada mukosa vulva dan vagina, yaitu dimulai dengan bintik-bintik merah sebesar jarum pentul yang dalam waktu 2-3 hari akan membesar. Lepuh-lepuh ini berdinding tipis dan berisi cairan. Sapi yang terinfeksi mengalami demam yang disertai radang vagina. Dari vulva akan keluar cairan yang mula-mula bening kemudian bersifat nanah. Infeksi virus ini juga menyebabkan lepuh-lepuh pada fetus.dan nekrosis pada bagian korteks ginjal fetus (Hardjopronjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan

Vaksinasi terhadap sapi-sapi yang tidak bunting dengan kombinasi IBR-IPV dan BVD-MD pada usia 6-8 bulan dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini. Sapi yang terkena diisolasi dan diistirahatkan kelamin selama kurang lebih 1 bulan kemudian untuk mencegah infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik (Prihatno, 1994).

Ä  Bovine Virus Diarrhea Mucosal Disease (BVD-MD)

Umumnya menyerang sapi dan menyebabkan infertilitas. Pada sapi bunting yang terinfeksi dapat menyebabkan abortus.abortus dapat terjadi pada usia kebuntingan 2-9 bulan dan sangat menular. Penularan dapat lewat oral atau parenteral, urin atau feses. Infeksi pada fetus antara hari ke 45 dan 125 kebuntingan dan mungkin menyebabkan kematian fetus, abortus, resorbsi, fetal immunotoleran, dan infeksi persisten. Gejala yang nampak adalah demam tinggi, depresi, anoreksia, diare, dan produksi susu turun.

Ä  Patogenesis

Masa inkubasi secara alami berlangsung selam 21 hari. Virus masuk ke dalam aliran darah setelah terjadinya penularan (viremia), kemudian diikuti dengan timbulnya kerusakan-kerusakan sel epitel pada mukosa saluran pencernaan. Pada hewan yang buting virus ini menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh infeksi pada fetus, kemudian diikuti abortus atau kelahiran anak yang abnormal (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan

Diagnosanya sulit karena tidak ada lesi spesifik pada fetus. Uji serologik untuk menentukan titer antibodi mungkin dapat membantu diagnosa. Pencegahan dengan mengeleminir sapi terinfeksi dan melakukan vaksinasi (Prihatno, 2006).

Ä  Epizootic Bovine Abortion (EBA)

Sifat dan Kejadian

Epizootic Bovine Abortion (EBA) disebabkan oleh Chlamydia psittasi dan vektornya adalah Ornithodoros coriaceus. Penyakit ini menyebabkan abortus yang tinggi (30-40%) pada tri semester akhir kebuntingan pada sapi dara (Prihatno, 2006).

Menurut McKercher (1969) yand disitasi oleh Toelihere (1985) penyakit ini terutama menyerang fetus dan menyebabkan abortus pada umur kebuntingan 7, 8, dan 9 bulan. Beberapa fetus dilahirkan mati atau anak sapi lahir hidup tetapi lemah dan mati beberapa waktu kemudian. Gejala penyakit ini dapat dilihat dengan adanya kerusakan menyolok pada fetus yang diabortuskan pada placenta ada bercak-bercak (Partodiharjo, 1987).

Ä  Patogenensis

Virus ini terutama menyerang fetus, ditandai adanya haemorrhagia petechial pada mukosa konjungtiva, mulut dan kulit fetus. Terdapat cairan berwarna jerami umumnya terdapat di dalam rongga tubuh. Infeksi virus ini pada fetus menyebabkan hati membengkak, berbungkul kasar dan berwarna kuning dan hampir semua kelenjar limfa membengkak dan oedematous (Toelihere, 1985).

Pengendalian dan Pencegahan

Melihat ganasnya penyakit ini, maka diperkirakan penyebaran yang cepat dan antibodi yang terbentuk cukup kuat dalam tubuh sapi, dapat diperkirakan vaksin akan mudah didapat. Tetapi kenyataannya sampai sekarang belum ada vaksinnya (Partodiharjo, 1987). Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan mengisolasi dan mengobati hewan yang terinfeksi disamping pemberian vaksinasi tetapi belum ada vaksinnya (Prihatno, 1994).

Ä  Aspergillosis

Sifat dan Kejadian

Aspergillosis adalah penyakit jamur pada unggas, burung liar termasuk penguin, dan mamalia yang sudah lama dikenal. Jenis Aspergillus yang dianggap patogen untuk hewan adalah Aspergillus flavus, A. candidus, A. niger, A. glaucus. Ummnya penyakit ini bersifat menahun, akan tetapi pada hewan muda dapat berjalan akut. Pada sapi jamur dapat menyebabkan abortus bila jamur berlokasi di selaput fetus (Ressang, 1984).

Hampir semua abortus pad sapi disebabkan oleh Aspergillus fumigatus dan Mucorales. Kebanyakan abortus terjadi pada bulan ke-5 sampai ke-7 masa kebuntingan, tetapi dapat berlangsung dari bulan ke-4 sampai waktu partus. Fetus umumnya dikeluarkan dalam keadaan mati, tetapi beberapa kasus terjadi kelahiran prematur (Toelihere, 1985). Organ reproduksi yang sering ditumbuhi jamur adalah uterus (Robert, 1986).

Ä  Patogenesis

Jamur masuk lewat inhalasi sampai ke paru-paru, spora akan mengikuti aliran darah menuju plasenta dan menyebabkan plasentitis diikuti oleh kematian fetus dan abortus. Jamur juga dapat masuk ke tubuh melalui makanan, lewat ingesti spora masuk rumen menyebabkan rumenitis kemudian masuk ke dalam darah menuju plasenta dan menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh abortus (Prihatno, 2006).

Pengendalian dan Pencegahan

Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara antara lain : menyingkirkan hewan penderita, menghindari pemberian makanan bercendawan, memusnahkan sumber cendawan Aspergillus, memberikan perawatan dan makanan hewan untuk mempertinggi daya tahan tubuh, bekas tempat sapi yang terinfeksi didesinfeksi. Pengobatannya dengan griseofulvin untuk hewan besar memberikan hasil yang memuaskan tetapi biaya cukup mahal (Anonim, 1981).

Ä  Trichomoniasis

Sifat dan Kejadian

Trichomoniasis adalah penyakit venereal yang ditandai dengan sterilitas, abortus muda, dan pyometra, yang disebabkan oleh Trichomonas foetus. Abortus terjadi antara minggu pertama dan minggu ke-16 masa kebuntingan (Toelihere, 1985). Penularan dari sapi betina ke sapi yang lain terjadi melalui pejantan yang mengawininya. Penyakit ini pada tingkatan yang lanjut menunjukkan keadaan preputium penis sapi jantan yang mengalami peradangan, meskipun penyakit ini dapat pula ditularkan melalui IB (Blakely & Bade, 1991).

Gejala penyakit ini ditandai dengan siklus estrus yang pendek tidak teratur, dan pada umumnya menyebabkan infertilitas yang bersifat sementara. Sering sekali ditemui abortus muda (umur 4 bulan atau kurang) dan kejadian pyometra (Partodiharjo, 1987).

Ä  Patogenesis

Pada vagina trichomonisis menimbulkan vaginitis kataralis, yang mukosa vaginanya berwarna kemerahan dan basah. Pada infeksi yang kronis didapatkan udemaa pada vulva. Pada uterus infeksi T. fetus menyebabkan endometritis kataralis yang dapat berubah menjadi purulen. Apabila sapi bunting, keradangan pada kotiledon mengakibatkan kemtian dan maserasi fetus atau abortus, kemudian disusul terjadinya piometra. Pada kasus tersebut corpus luteum gravidatum tetap berkembang dan disebut corpus luteum persisten. Plasenta mengalami penebalan dilapisi sejumlah kecil gumpalan eksudat berwarna putih kekuningan. Pada kotiledon sedikit nekrosis (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan

Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan pengobatan antibiotik secara lokal pada betina terinfeksi. Sedangkan pada pejantan terinfeksi dilakukan pembilasan kantong penis dengan antibiotik atau antiseptika ringan cukup membinasakan T. fetus. Disamping itu pengolahan semen yang digunakan untuk IB dengan baik merupakan cara pemberantasan Trichomoniasis (Partodiharjo, 1987). Semen yang beredar secara komersial dapat diberi perlakuan khusus dengan pemberian antibiotik untuk menghindari ancaman infeksi sapi betina yang di IB. pengobatan terhadap Trichomonisis dapat berhasil secara efektif dengan menggunakan antibiotik spektrum luas baik untuk pejantan maupun betina. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah isolasi dan memberikan waktu istirahat untuk kegiatan seksual (Blakely & Bade, 1991).

  1. Abortus karena sebab-sebab non infeksi

Ä  Abortus karena faktor genetik

Inbreeding menyebabkan kematian embrio, abortus dan kelahiran anak yang mati karena konsentrasi gen-gen letal perzigot lebih tinggi dibandingkan dengan pada crossbreeding (Toelihere, 1985). Gen lethal yang diperoleh dari induk dan bapaknya, dapat menyebabkan abortus. Kelainan kromosom baik pada autosom maupun kromosom kelamin juga dapat menyebabkan abortus (Hardjopranjoto, 1995).

Sebelum implantasi, embrio lebih mudah terkena pengaruh mutasi genetic dan kelainan kromosom diikuti oleh kematian fetus. Kelainan kromososm dapat dibedakan atas kelainan jumlah kromosm dan struktur kromosom. Kejadian ini dapat berlangsung karena kegagalan penyebaran kromosom atau susunan kromatin dalan sel tubuh penderita, terjadi selama berlangsungnya proses meiosis dan mitosis dari sel ovum atau sel sperma yang dapat menghasilkan dua bentuk sel yang poliploid. Yang dimaksud dengan poliploid adalah penambahan jumlah kromosom yang normal (2n+1) (Hardjopranjoto, 1995).

Ä  Abortus karena sebab-sebab hormonal

Senyawa estrogenik bila diberikan dalam dosis tinggi untuk periode yang lama dapat menyebabkan abortus pada sapi (Toelihere, 1985). Hormon estrogen dihasilkan oleh folikel ovarium dan mempunyai fungsi stimulasi kontraksi uterus, juga menyebabkan uterus lebih peka terhadap pengaruh oksitosin pada saat menjelang partus. Estrogen bekerjasama dengan relaksin dapat merelaksasi servik dan ligamentum pelvis. Pada periode kebuntingan gangguan ketidakseimbangan hormone dapat menyebabkan terjadinya abortus (Hardjopranjoto, 1995).

Ä  Abortus karena defisiensi makanan

Malnutrisi untuk waktu yang lama menyebabkan penghentian siklus birahi dan kegagalan konsepsi. Defisiensi makanan dan kelaparan yang parah dapat menyebabkan abortus (Toelihere, 1985).

Ä  Abortus karena keracunan (bahan toksik)

Keracunan nitrat yang banyak dikandung oleh rumput liar dirawa-rawa atau daun cemara (pinus ponderosa) bila termakan dalam jumlah besar pada induk yang sedang bunting, dapat menyebabkan abortus pada 21-142 hari kemudiansesudah ingesti. Abortus dapat terjadi pada umur kebuntingan 6-9 bulan. Anak sapi dapat lahir premature, lemah dan mati sesudah beberapa waktu, sering juga terjadi retensi secundae. Bahan toksik yang terkandung di dalam daun pinus mungkin adalah suatu zat anti estrogenic yang akan mempengaruhi metabolisme tubuh terutama menekan sekresi kelenjar kelamin. Daun lamtoro yang diberikan dalam jumlah besar dapat menyebabkan abortus karena racun mimosin yang dikandung. Racun mimosin bila termakan induk hewan yang bunting secara berlebihan dapat mempengaruhi metablisme hormonal, sehingga menyebabkan penurunan respon ovarium terhadap sekresi hormone gonadotropin (Hardjopranjoto, 1995).

Ä  Abortus karena gangguan dari luar tubuh induk

Stress karena panas dapat menyebabkan hipotensi fetus, hypoxia, dan asidosis (Prihatno, 2006). Suhu yang panas dapat menyebabkan penurunan kadar hormone reproduksi seperti FSH dan LH, selain itu juga dapat menyebabkan penurunan volume darah yang mengalir ke alat reproduksi, sehingga menyebabkan perubahan lingkungan uterus yang lebih panas dan menambah kemungkinan kematian fetus (Hardjopranjoto, 1995).

Ä  Abortus karena sebab-sebab fisik

Pemecahan kantong amnion dengan penekanan manual pada kantung amnion selama kebuntingan muda, 30-60 hari umur kebuntingan dapat menyebabkan abortus. Sebab utama kematian fetus adalah rupture jantung atau pecahnya pembuluh darah pada dasar jantung fetus yang menyebabkan perdarahan ke dalam kantung amnion. Pemecahan corpus luteum gravidatum/verum pada ovarium akan disusul abortus beberapa hari kemudian. Pada sapi corpus luteum diperlukan selama periode kebuntingan dan kelahiran normal. Corpus luteum menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi untuk pertumbuhan kelenjar endometrium, sekresi susu uterus, pertumbuhan endometrium dan pertautan placenta untuk memberi makan kepada fetus yang berkembang, dan menghambat pergerakan uterus untuk membantu pertautan placenta. Sehingga penyingkiran corpus luteum kebuntingan pada sapi pasti menyebabkan abortus (Toelihere, 1985).

Ä  Abortus karena sebab-sebab lain

Kembar pada sapi menyebabkan lebih banyak kelahiran prematur, abortus, distokia, dan kelahiran anak yang lemah atau mati dibandingkan fetus tunggal (Toelihere, 1985). Banyaknya fetus yang ditampung oleh kedua cornua uteri dari seekor induk sangat tergantung kepada sifat genetisnya. Makin bertambahnya jumlah fetus, makin bertambah pula jumlah plasentanya dan makin bertambah ruangan didalam uterus yang dibutuhkan, serta makin bertambah kebutuhan darah untuk fetusnya. Namun demikian, kemapuan rongga uterus untuk menampung fetus secara alamiah adalah terbatas. Dengan bertambahnya fetus di dalam uterus di luar kemampuannya, dapat mengurangi penyediaan darah pada tiap fetus. Kondisi sepetri ini cenderung menyebabkan kematian fetus, khususnya bila fetus berada dalam satu cornua (Hardjopranjoto, 1995).

HORMON PERTUMBUHAN PADA BABI (RENDHY ARDIANSYAH)

Hormon didefinisikan sebagai substansi atau zat biokimia (asam amino, peptide, steroid, asam lemak) yang diproduksi oleh kelenjar tak berduktus dan bersifat spesifik.Lalu dilepaskan dalam pembuluh darah dan di sirkulasikan oleh cariernya ke bagiah tubuh lain untuk menghasilkan efek inisiasi, koordinasi, dan regulator yang sifatnya spesifik. 

Babi Mengandung Hormon Pertumbuhan Dalam Jumlah Berlebih.
Hormon pertumbuhan dalam kadar berlebihan yang tercerna melalui daging babi mengakibatkan pembengkakan dan kelainan bentuk jaringan, yang dapat menimbulkan penimbunan lemak secara tiba-tiba dan berlebihan. Hal itu berkemungkinan mendorong pertumbuhan yang tidak wajar pada tulang hidung, rahang, tangan dan kaki. Hal paling berbahaya mengenai hormon pertumbuhan dalam jumlah berlebih adalah bahwa hal ini membuka jalan bagi munculnya kanker.                                                                                         

Produktivitas ternak politokus seperti babi antara lain sangat ditentukan oleh proses pembentukan dan pemeliharaan kebuntingan yang melibatkan integrasi fungsi antara ovarium, uterus, plasenta dan dukungan stimulasi hormon‐hormon kebuntingan dan faktor pertumbuhan serta ketersediaan metabolit penting dalam tubuh (Geisert and Schmitt 2002).

Banyak fakta menunjukkan bahwa produktivitas ternak babi masih rendah yang diduga antara lain disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon‐hormon kebuntingan dan hormon metabolisme (tiroid) serta metabolit penting atau nutrien dengan jumlah embrio atau fetus yang dikandung (Niswender et al., 2000; Ford et al., 2002).

Hormon tiroid di samping terlibat dalam penyediaan aliran nutrisi dan mineral serta sangat vital dalam penyediaan ATP selama kebuntingan dan laktasi dalam proses perakitan glukosa, asam amino, asam lemak dan gliserol menjadi glikogen, protein, dan lemak pada kelenjar susu, juga mempengaruhi aktivitas metabolisme pada kelenjar susu (Manalu et al.,1998). Jika terjadi kekurangan substrat nutrien, maka akan terjadi mobilisasi cadangan makanan seperti lemak (trigliserida) yang ditimbun selama kebuntingan yang akan menyebabkan penumpukan asetil CoA dan tidak dapat memasuki siklus asam sitrat, sehingga akan diubah menjadi benda keton seperti aseton, β‐OH butirat sebagai hasil kondensasi 2 mol asetil CoA. Demikian pula jika terjadi metabolisme protein, maka hewan berada dalam neraca nitrogen negatif yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi nitrogen urea darah (Hurley 2001; Pradhan et al., 2008).

Sangat diperlukan upaya perbaikan ketersediaan nutrisi yang memadai melalui peningkatan sekresi endogen hormon metabolisme dan metabolit penting dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya. Sekresi endogen hormon metabolisme dan metabolit penting serta faktor pertumbuhan dapat ditingkatkan melalui peningkatan jumlah kelenjar penghasilnya atau melalui peningkatan aktivitas sintetik kelenjar. Sekresi endogen hormon metabolisme dan metabolit antara lain dapat distimulasi melalui perangsangan hormon secara endogen antara lain melalui penyuntikan agen superovulasi seperti PMSG/hCG. Penggunaan PMSG/hCG untuk meningkatkan aktivitas kelenjar sintetik telah terbukti dapat meningkatkan sekresi hormon‐hormon kebuntingan serta pertumbuhan dan perkembangan embrio dan fetus, metabolit penting, pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu dan propduksi susu pada domba (Manalu et al., 1998; Manalu et al., 1999, Manalu dan Sumaryadi, 1999) dan kambing (Adriani et al., 2004).   Selain hormon yang diatas ada pula Hormon pertumbuhan pada babi adalah hormon paratiroid yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid.      

SINTESIS DAN METABOLISME HORMON PARATIROID (PTH)     

            Hormon paratiroid (PTH) manusia adalah suatu polipeptida linear dengan berat molekul 9500 yang mengandung 84 residu asam amino. Strukturnya sangat mirip dengan PTH sapi dan babi. PTH disintesis sebagai bagian dari suatu molekul yang lebih besar yang mengandung 115 residu asam amino (prapo-PTH). Setelah prapo-PTH masuk ke dalam retikulum endoplasma, maka leader sequence yang terdiri dari 25 residu asam amino dikeluarkan dari terminal N untuk membentuk polipeptida pro-PTH yang terdiri dari 90 asam amino. Enam residu asam amino lainnya juga dikeluarkan dari terminal N pro-PTH di apparatus Golgi, dan produk sekretorik utama chief cells adalah polipeptida PTH yang terdiri dari 84 asam amino.       Kadar normal PTH utuh dalam plasma adalah 10-55 pg/mL. Waktu paruh PTH kurang dari 20 menit, dan polipeptida yang disekresikan ini cepat diuraikan oleh sel-sel Kupffer di hati menjadi 2 polipeptida, sebuah fragmen terminal C yang tidak aktif secara biologis dengan berat molekul.

EFEK HORMON PARATIROID/PTH

 bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang dan memobilisasi Ca2+. Selain meningkatkan Ca2+ plasma dan menurunkan fosfat plasma, PTH meningkatkan ekskresi fosfat dalam urin. Efek fosfaturik ini disebabkan oleh penurunan reabsorpsi fosfat di tubulus proksimal. PTH juga meningkatkan reabsorpsi Ca2+ di tubulus distal, walaupun ekskresi Ca2+ biasanya meningkat pada hiperparatiroidisme karena terjadi peningkatan jumlah yang difiltrasi yang melebihi efek reabsorpsi. PTH juga meningkatkan pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol, metabolit vitamin D yang secara fisiologis aktif. Hormon ini meningkatkan absorpsi Ca2+ dari usus, tetapi efek ini tampaknya disebabkan hanya akibat stimulasi pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol.     Efek hormon paratiroid terhadap konsentrasi kalsium dan fosfat dalam cairan ekstraselular. Naiknya konsentrasi kalsium terutama disebabkan oleh dua efek berikut ini: (1) efek hormon paratiroid yang menyebabkan terjadinya absorpsi kalsium dan fosfat dari tulang, dan (2) efek yang cepat dari hormon paratiroid dalam mengurangi ekskresi kalsium oleh ginjal. Sebaliknya berkurangnya konsentrasi fosfat disebabkan oleh efek yang sangat kuat dari hormon paratiroid terhadap ginjal dalam menyebabkan timbulnya ekskresi fosfat dari ginjal secara berlebihan, yang merupakan suatu efek yang cukup besar untuk mengatasi peningkatan absorpsi fosfat dari tulang. Absorpsi Kalsium dan Fosfat dari tulang yang disebabkan oleh hormon paratiroid. Hormon paratiroid mempunyai dua efek pada tulang dalam menimbulkan absorpsi kalsium dan fosfat. Pertama merupakan suatu tahap cepat yang dimulai dalam waktu beberapa menit dan meningkat secara progresif dalam beberapa jam. Tahap ini diyakini disebabkan oleh aktivasi sel-sel tulang yang sudah ada (terutama osteosit) untuk meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat. Tahap yang kedua adalah tahap yang lebih lambat, dan membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu untuk menjadi berkembang penuh; fase ini disebabkan oleh adanya proses proliferasi osteoklas, yang diikuti dengan sangat meningkatnya reabsorpsi osteoklastik pada tulang sendiri, jadi bukan hanya absorpsi garam fosfat kalsium dari tulang.      Fase cepat absorpsi kalsium dan fosfat (osteolisis) Bila disuntikan sejumlah besar hormon paratiroid, maka dalam waktu beberapa menit konsentrasi ion kalsium dalam darah akan meningkat, jauh sebelum setiap sel tulang yang baru dapat terbentuk. Hormon paratiroid dapat menyebabkan pemindahan garam-garam tulang dari dua tempat didalam tulang: (1) dari matriks tulang disekitar osteosit yang terletak didalam tulangnya sendiri dan (2) disekitar osteoblas yang terletak disepanjang permukaan tulang. Pada membran sel osteoblas dan osteosit memiliki protein reseptor untuk mengikat hormon paratiroid.   Hormon paratiroid dapat mengaktifkan pompa kalsium dengan kuat, sehingga menyebabkan pemindahan garam-garam kalsium fosfat dengan cepat dari kristal tulang amorf yang terletak dekat dengan sel. Hormon paratiroid diyakini merangsang pompa ini dengan meningkatkan permeabilitas ion kalsium pada sisi cairan tulang dari membran osteositik, sehingga mempermudah difusi ion kalsium ke dalam membran sel cairan tulang. Selanjutnya pompa kalsium di sisi lain dari membran sel memindahkan ion kalsium yang tersisa tadi kedalam cairan ekstraselular.     Fase lambat absorpsi tulang dan pelepasan kalsium dan fofat (aktivasi osteoklas). Suatu efek hormon paratiroid yang lebih banyak dikenal dan yang penjelasannya lebih baik adalah aktivasi hormon paratiroid terhadap osteoklas. Namun osteoklas sendiri tidak memiliki protein reseptor membran untuk hormon paratiroid. Sebaliknya diyakini bahwa osteoblas dan osteosit teraktivasi mengirimkan suatu sinyal sekunder tetapi tidak dikenali ke osteoklas, menyebabkan osteoklas memulai kerjanya yang biasa, yaitu melahap tulang dalam waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.   Aktivasi sistem osteoklastik terjadi dalam dua tahap: (1) aktivasi yang berlangsung dari semua osteoklas yang sudah terbentuk, dan (2) pembentukan osteoklas yang baru. Kelebihan hormon paratiroid selama beberapa hari biasanya menyebabkan sistem osteoklastik berkembang dengan baik, tetapi karena pengaruh rangsangan hormon paratiroid yang kuat, pertumbuhan ini berlangsung terus selama berbulan-bulan. Setelah beberapa bulan, resorpsi osteoklastik tulang dapat menyebabkan lemahnya tulang dan menyebabkan rangsangan sekunder pada osteoblas yang mencoba memperbaiki keadaan tulang yang lemah. Oleh karena itu, efek yang terakhir dari hormon paratiroid yang sebenarnya adalah untuk meningkatkan aktivitas dari osteoblastik dan osteoklastik. Namun, bahkan pada tahap akhir, masih terjadi lebih banyak absorpsi tulang daripada pengendapan tulang dengan adanya kelebihan hormon paratiroid yang terus menerus.      Bila dibandingkan dengan jumlah total kalsium dalam cairan ekstraselular (yang besarnya kira-kira 1000 kali), ternyata tulang mengandung banyak sekali kalsium, bahkan bila hormon paratiroid menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium yang sangat besar dalam cairan ekstraselular, tidaklah mungkin untuk memperhatikan adanya efek yang berlangsung dengan segera pada tulang. Pemberian atau sekresi hormon paratiroid yang diperlama (dalam waktu beberapa bulan atau tahun) akhirnya menyebabkan absorpsi seluruh tulang yang sangat nyata dengan disertai pembentukan rongga-rongga yang besar yang terisi dengan osteoklas besar berinti banyak.      Efek hormon paratiroid terhadap ekskresi fosfat dan kalsium oleh ginjal
Pemberian hormon paratiroid menyebabkan pelepasan fosfat dengan segera dan cepat masuk kedalam urin karena efek dari hormon paratiroid yng menyebabkan berkurangnya reabsorpsi ion fosfat pada tubulus proksimal. Hormon paratiroid juga meningkatkan reabsorpsi tubulus terhadap kalsium pada waktu yang sama dengan berkurangnya reabsorpsi fosfat oleh hormon paratiroid. Selain itu, hormon ini juga menyebabkan meningkatnya kecepatan reabsorpsi ion magnesium dan ion hydrogen, sewaktu hormon ini mengurangi reabsorpsi ion natrium, kalium dan asam amino dengan cara yang sangat mirip seperti hormon paratiroid mempengaruhi fosfat. Peningkatan absorpsi kalsium terutama terjadi di bagian akhir tubulus distal, duktus koligentes, dan bagian awal duktus koligentes.      Bila bukan oleh karena efek hormon paratiroid pada ginjal yang meningkatkan reabsorpsi kalsium, pelepasan kalsium yang berlangsung terus menerus pada akhirnya akan menghabiskan mineral tulang ini dari cairan ekstraselular dan tulang.Efek hormon paratiroid pada absorpsi kalsium dan fosfat dalm usus.  Hormon paratiroid sangat berperan dalam meningktkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus dengan cara meningkatkan pembentikan 1,25 dihidroksikolekalsiferol dari vitamin D. Efek vitamin D pada tulang serta hubungannya dengan aktivitas hormon paratiroid.                 Vitamin D memegang peranan penting pada absorpsi tulang dan pengendapan tulang. Pemberian vitamin D yang banyak sekali menyebabkan absorpsitulang yang sangat mirip dengan pemberian hormo paratiroid. Juga, bila tidak ada vitamin D, maka efek hormon paratiroid dalam menyebabkan absorpsi tulang sangat berkurang atau malahan dihambat. Mekanisme kerja vitamin D ini belum diketahui, tetapi diyakini merupakan hasil dari efek 1,25 dihidroksikalsiferol (yang merupakan produk utama dari vitamin D) dalam meningkatkan pengangkutan kalsium melewati membran sel.

Vitamin D dalam jumlah yang lebih kecil meningkatkan kalsifikasi tulang. Salah satu cara yang dapat dipakai untuk meningkatkan kalsifikasi adalah dengan cara meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus. Akan tetapi, bahkan bila tidak ada peningkatan, absorpsi akan tetap meningkatkan proses mineralisasi tulang. Sekali lagi, mekanisme terjadinya efek ini tidak diketahui, tetapi mungkin disebabkan oleh kemampuan 1,25 dihidroksikolekalsiferol untuk menyebabkan timbulnya pengangkutan ion kalsium melewati membran sel.       Sebagian besar efek hormon paratiroid pada organ sasarannya diperentarai oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP) yang bekerja sebagai mekanisme second messenger. Dalam waktu beberapa menit setelah pemberian hormon paratiroid, konsentrasi cAMP di dalam osteosit, osteoklas, dan sel-sel sasaran lainnya meningkat. Selanjutnya, cAMP mungkin bertanggung jawab terhadap beberapa fungsi osteoklas seperti sekresi enzim dan asam-asam sehingga terjadi reabsorpsi tulang, pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol di dalam ginjal dan sebagainya. Mungkin masih ada efek-efek langsung lain dari hormon paratiroid yang efeknya tidak bergantung pada mekanisme second messenger.     Pengaturan sekresi paratiroid oleh konsentrasi ion kalsium. Bahkan penurunan konsentrasi ion kalsium yang paling sedikit pun dalm cairan ekstraselular akan menyebabkan kelenjar paratiroid meningkatkan kecepatan sekresinya dalam waktu beberapa menit; bila penurunak konsentrasi ion kalsium menetap, kelenjar paratiroid akan menjadi hipertrofi, sering lim kali atau lebih. Contohnya, kelenjar paratiroid akan menjadi sangat besar pada Rikets, dimana kadar kalsium biasanya hanya tertekan sedikit; juga, kelenjar akan menjadi sangat besar saat hamil, walaupun penurunan konsentrasi ion kalsium pada cairan ekstraselular ibu sangat sulit diukur; dan kelenjar sangat membesar selama laktasi karena kalsium digunakan untuk pembentukan air susu ibu. Sebaliknya, setiap keadaan yang meningkatkan konsentrasi ion kalsium diatas nilai normal akan menyebabkan berkurangnya aktivitas dan ukuran kelenjar paratiroid. Beberapa keadaan tersebut meliputi: (1) jumlah kalsium yang berlebihan dalam diet, (2) meningkatnya vitamin D dalam diet, dan (3) absorpsi tulang yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda dengan hormon paratiroid (contohnya absorpsi tulang yang disebabkan oleh tidak digunakannya tulang itu).     Kontrol dari hormon Paratiroid. Sekresi dari hormon paratiroid tergantung dari suatu negative feed-back mechanism yang diatur oleh kadar ion kalsium dalam plasma. Juga ada hormon lain yang ikut mengatur kadar kalsium dalam serum yaitu calcitonin atau thyrocalcitonin. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid.     Beberapa observasi menunjukan bahwa ada hubungan antara paratiroid dengan kelenjar-kelenjar endokrin lain. Misalnya pernah didapat hiperplasia kelenjar paratiroid pada akromegali, sindrom Cushing, dan penyakit Addison. Hipofisektomi (pada binatang) menyebabkan involutiodari kelenjar-kelenjar paratiroid, sedangkan pemberian hormon pertumbuhan (GH), adrenokortikotropin (ACTH), ekstrak lobus anterior hipofisis dan steroid-steroid adrenal mengakibatkan hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid. Tetapi mungkin pula bahwa perubahan kelenjar-kelenjar paratiroid adalah sekunder akibat perubahan kadar fosfat dalam serum yang disebabkan oleh hormon-hormon tersebut. Hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid terdapat dalam keadaan-keadaan dimana ada tendens dari ion kalsium untuk menurun, umpamanya pada penyakit Rachitis (atau Osteomalacia), kehamilan, hilangnya kalsium dalam darah dan insufisiensi ginjal yang disertai retensi fosfor.    Bagian dari tubuh babi yang memiliki perannya adalah Kelenjar adrenal.
Kelenjar ini terdapat pada ginjal. Kelenjar ini dapat menghasilkan hormon yang disebut sebagai steroid dan epinephrine. Hormon hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal babi pernah merupakan sumber penting yang digunakan untuk mengatasi beberapa penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan tubuh. Namun sekarang hormon-hormon tersebut sudah banyak diproduksi secara sintetis.

DAFTAR PUSTAKA

http://ujikurniawan.wordpress.com/hormon/ tanggal 22 maret 2010, jam 15.54 WIB

http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/membedah-para-pemacu-pertumbuhan. html tanggal 22 maret 2010, jam 16.04 WIB

http://www.animalproduction.org/index.php/ap/article/viewFile/11/9   tanggal  22 maret 2010, jam 23.44 WIB

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/manfaat-babi-t29536/   tanggal  22 maret 2010. jam 23.43

TATALAKSANA PEMELIHARAAN BABI SAPIHAN/PIG WEANING (Pfika Vistara Indraswari)

Sesudah 6 minggu beranak, babi induk yang bersangkutan produksi air susunya berkurang, tetapi penurunan air susu dalam jumlah besar, baru dimulai minggu ke-8. Seekor induk yang normal masa laktasinya (produksi air susunya) akan berlangsung sampai 8 minggu. Maka penyapihan pada umumnya dilakukan pada saat anak babi sudah mencapai umur 8 minggu. Dan apabila pemeliharaannya baik, pada saat itu anak babi sudah mencapai berat 14 kg. berat hidup anak babi tersebut juga dipakai sebagai criteria di dalam seleksi. Untuk mencapai target agar induk babi bisa beranak dua kali dalam waktu 1 tahun, maka anak babi harus disapih pada umur 8 minggu. Tetapi di beberapa daerah atau Negara lain yang sudah maju, ada yang melakukan penyapihan anak babi pada saat mereka berumur 6 minggu, sehingga induk babi bisa beranak 3 kali setahun.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi awal atau lambatnya penyapihan.

  1. Faktor induk

Anak babi umur 5 – 6 minggu bisa segera dipisahkan dari induk mereka, mengingat induk sudah sangat kurus akibat anak disusui terlalu banyak, 12 – 14 ekor misalnya.

  1. Faktor anak

Perkembangan anak cukup bagus, misalnya umur 7 minggu mencapai berat 12 kg. Walaupun produksi air susu masih cukup, penyapihan bisa lebih dipercepat. Sebaliknya apabila pertumbuhan anak lambat, maka penyapihan bisa ditunda , lebih dari 8 minggu. Tetapi juga harus diingat bahwa sesudah 8 minggu, produksi air susu akan menurun.

  1. Faktor peternak

Bagi para peternak yang sudah maju, di mana makanan, tatalaksana serba baik, maka penyapihan anak babi bisa dilaksanakan pada umur 6 minggu. Jadi dalam hal ini penyapihan tidak bisa dilakukan atau dipertimbangkan dari satu segi saja, misalnya umur 8 minggu. Tetapi yang harus dipertimbangkan adalah kaitanya denga faktor-faktor lain yang menjamin terhadap pertumbuhan dan kehidupan mereka lebih lanjut.

  • Penimbangan anak babi umur 3 minggu

Penimbangan anak babi sangat penting, sebab dengan cara ini pertumbuhan awal bisa diketahui.

Ada berbagai faktor yang mempengaruh berat badan anak babi :

  • Produksi air susu induk.
  • Jumlah anak yang dilahirkan.
  • Pemeliharaan terhadap induk yang sedang menyusui, lebih-lebih mengenai kualitas makanan.
  •  Keturunan

 

  • Pemotongan gigi

Anak babi yang baru lahir giginya sudah tumbuh sempurna, dan tajam. Namun demikian gigi tersebut belum berfungsi, bahkan merugikan induk yang sedang menyusui, ataupun sesame anak babi, karena saling menggigit. Akibat gigitan tersebut puting terluka sehingga induk merasa kurang enak karena kesakitan saat menyusui. Untuk menghindari hal tersebutm perlu adanya pemotongan gigi anak babi. Pemotongan bisa dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang berbentuk seperti tang. Apabila lat tersebut tidak ada, bisa menggunakan gunting kecil yang tajam.

  • Menambah zat besi pada anak babi

Anak babi sampai dengan umur 10 hari merupakan hari-hari yang kritis, terutama terhadap penyakit kekurangan zat besi (anemia). Ada beberapa penyebab anemia yaitu :

  • Karena anak babi kedinginan dan keadaan kandang lembab.
  • Kekurangan mineral, khususnya zat besi, tembaga, dan colbalt.

Zat besi adalah unsur yang penting di dalam haemoglobin yang berfungsi untuk mengangkut oxygen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi ini menyebabkan anemia. Dan hal ini sangat banyak dialami pada anak babi yang dipiara di dalam kandang terus-menerus, sedang air susu induk sendiri hanya mengandung zat besi yang jumlahnya sangat rendah. Untuk mengatasi supaya anak babi terhindar dari penyakit anemia, maka semua anak babi yang baru lahir harus ditambahkan zat besi dengan cara oral atau injeksi.

Cara-cara penambahan zat besi yang biasa dilakukan adalah :

  • Diberikan capsul zat besi atau pasta yang diberi lewat mulut pada saat anak babi itu berumur 3 hari, 7 hari dan 10 hari.
  • Diinjeksi dengan sulpha ferros (preparat anti anemia),
  • Diberi mineral tablet yang berisikan zat besi, cobalt pada waktu anak babi berumur 24 jam dan kemudian diulangi pada hari ke-7 dan k3-10.
    • Pengobatan cacing

Pada umumnya babi muda mudah kena infeksi cacing bulat. Untuk menghindari infeksi tersebut, semua babi sapihan harus diberi obat cacing, sebelum mereka dipindahkan ke kandang lain.

  • Kematian anak babi dan mengurangi jumlah kematian

Jumlah kematian anak babi sebelum dipisahkan dapat mencapai 30 – 50%. Sedangkan kematian sesudah disapih 5 – 10%. Hal ini terjadi pada peternakan babi yang pemeliharaannya kurang cermat.

Faktor-faktor yang menyebabkan kematian anak babi , antara lain :

  1. Perhatian pemelihara terhadap babi yang melahirkan kurang, sehingga anak babi mati terimpit atau terinjak induknya.
  2. Perlengkapan kandang kurang, misalnya tidak ada kotak, dinding penghalang, sehingga anak babi tidur bersama induknya terimpit badan induknya.
  3. Air susu kurang, tidak keluar sama sekalo, atau jumlah anak yang lebih banyak dari putting induk.
  4. Kekurangan zat-zat makanan, akibat ransum induk yang kurang baik.
  5. Sifat buas induk (kanibalis), sehingga anaknya digigit dan dimakan induknya, induk tidak bisa mengasuh anaknya dengan baik.

Menguranig jumlah kematian :

  1. Di dalam praktek usaha yang biasa dilakukan ialah pada waktu induknya tidur harus dipisahkan dengan pintu penghalang, atau anak-anaknya ditaruh di dalam kotak.
  2. Bila udara dingin diusahakan pemanasan, atau bagi anak babi yang sudah agak besar pada lantai tempat mereka tidur bisa diberi alas dari brambut, serbuk gergaji, jerami kering.
  3. Peternak harus memperhatikan induk-induk yang mempunyai sifat kanibalis, yang kemudian mengafkirnya.
  4. Member makanan yang gizinya cukup.
  5. Menjaga kebersihan kandang.

 DAFTAR PUSTAKA

http://blogs.unpad.ac.id/SaulandSinaga/?cat=1

SALMONELLOSIS (LISNAWATI )

A.  Salmonella

Salmonellosisi yang disebabkan oleh berbagai spesies pada hewan tertentu (umumnya patogen pada manusia dan dapat disebarkan melalui makanan) yaitu S. gallinarium (ayam), S. Dublin (sapi), S. abortusequi (kuda), S. abortus ovis (domba), S. cholerasuis (babi), mengakibatkan septisemia dan radang usus yang akut maupun kronik. Pada hewan betina yang sedang bunting salmonellosis dapat mengakibatkan keluron.

Salmonellae didistribusikan secara luas dalam sistem produksi babi di sebagian besar dunia. Daging babi dan produk daging babi, karena itu, telah dianggap sebagai reservoir utama patogen ini, dan memiliki potensi untuk mencemari makanan. Meskipun dua serovar ini, Choleraesuis dan Salmonella Salmonella typhimurium, dianggap penting klinis patogen menyebabkan penyakit pada babi, sejumlah besar serotipe Salmonella telah terlibat sebagai penyakit bawaan makanan menyebabkan ditransmisikan ke rantai makanan manusia pembawa karena keadaan babi serovar lain.

  1. B.   Penyebab

Salmonellosis merupakan penyakit yang sering menyerang babi muda. Terjadinya salmonelosis ini biasanya dikarenakan kekurangan pakan, kandang yang buruk, cacingan yang berat, ataupun karena daya tahan dari babi (Anthony, 1961). Sebagian besar serotipe Salmonella mempunyai reaksi biokimia yang yang identik dengan memanfaatkan substrat-substrat yang umum dipakai, karena itu untuk melakukan identifikasi yang spesifik dari genus ini harus melalui penentuan antigennya. Bentuk septisemia akut mempunyai angka kematian yang tinggi. Gejala yang muncul berupa kelemahan umum, gemetar, demam, ada lesi kemerahan sianosis di kulit telinga, anggota gerak, dan punggung, diare cair kekuningan, kemungkinan juga muncul gejala pneumonia, perubahan patologis meliputi hemoragi petekiae dan ekimose pada kulit, namun lesi ini kurang spesifik. Perubahan yang lebih menciri adalah pembesaran lien, limfaadenitis hemoragi, dan sering juga terjadi ikterus. Hemoragi petekiae dan ekimose juga terjadi di permukaan serosa, mukosa laring dan vesica urinaria, dan di parenkim ginjal (Dunne, 1975).

C.  Patogenis

Setelah berhasil memasuki tubh penderita kuman akan memperbanyak diri di dalam usus. Dalam waktu yang relative singkat infeksi tersebut dapat menyebabkan septisemia (sepsis). Yang dalam waktu pendek dapat menyebabkan kematian penderita. Apabila yang terjadi hanya bakteriemia, mungkin kuman-kuman hanya akan menyebabkan radang usus akut. Pada yang sifatnya kronik, kuman dapat diisolasi dari kelenjar-kelenjar limfe di sekitar usus, hati, limpa dan kantong empedu. Kuman kadang-kadang dibebaskan dari tubuh melalui tinja atau air susu. Pada infeksi yang bersifat laten, kuman akan berkembang biak di dalam tubuh bila keadaan umumnya menurun. Penurunan kondisi tubuh mungkin disebabkan karena stress pengangkutan atau oleh gangguan faali yang lain.

D.  Gejala-gejala

Sebelum babi dieuthanasi, babi menunjukan gejala diare, lemah, anoreksi dan kondisi tubuh kurus. Pemeriksaan mikrobiologi diisolasi bakteri salmonella choleraesuis. Bakteri tersebut diisolasi dari hepar. Hal ini dilakukan karena dugaan salmonellosis yang sudah bersifat septikemia. Kondisi ini juga didukung oleh gejala klinis serta kondisi patologis yang terjadi pada saluran intestinal, pulmo, dan hepar. Salmonella choleraesuis merupakan genus salmonella yang paling sering menginfeksi babi (Merchant, 1950).

E.  Pencegahan

Agar babi tidak terkena penyakit yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian seperti salmonellosis choleraesuis, maka harus dicegah karena pencegahan lebih baik dari pada pengobatan. Cara pencegahan penyakit salmonellosis choleraesuis yaitu kandang harus dalam keadaan bersih, pakan teratur dan babi harus sering di vaksin.

  1. F.   Pengobatan

Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan antibiotik Khloramfenikol. Obat ini memberikan efek klinis paling baik dibandingkan obat lain. Tapi Khloramfenikol memiliki efek toksik pada sumsun tulang. Dengan obat lain seperti : ampisilin, amoksisilin, dan Trimetropin – sulfametoksasole dapat digunakan untuk pengobatan demam tifoid dimana strain kuman penyebab telah resisten terhadap khloramfenikol. Pencegahan terhadap infeksi Salmonella dilakukan dengan imunisasi vaksin monovalen kuman Salmonella typhosa. Vaksin akan merangsang pembentukan serum antibodi terhadap antigen Vi, O, dan H. antigen H memberikan proteksi terhadap Salmonella typhosa, tetapi tidak demikian halnya antibodi Vi dan O. pencegahan juga bisa dilakukan dengan perlakuan terhadap daging yang baik dan, memberi pengetahuan tentang bahayanya kuman Salmonella

DAFTAR PUSTAKA

Subronto, 2003, Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia), Yogyakarta; Gajah Mada University Press.

http://karyatulisilmiah1.blogspot.com/

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/salmonella

http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/salmonelosis-dan-koksidiosis-pada-babi-sus-scrofa/