Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan protein makanan (VICTOR SAHAT)

Kecernaan protein dalam kebanyakan bahan makanan berkisar antara 75-90%. Tidak cukup hanya memperoleh bahan makanan yang berprotein tinggi pada hal protein yang tinggi tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh babi. Kecernaan dapat juga dipengaruhi oleh pelbagai faktor dan praktek manajemen.

Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tipe protein

            Pentingnya kecernaan akan terlihat bila misalnya tepung bulu ayam yang mengandung 80% protein tetapi yang dapat dicerna 80-85%. Protein dalam tepung bulu ayam bersenyawa dengan molekul keratin. Kecuali bila molekul keratin dihancurkan, barulah protein tersebut dapat dimanfaatkan oleh babi. Evaluasi yang hanya berdasar total kandungan protein menyebabkan tepung bulu ayam menarik, tetapi karena kecernaannya rendah, mengakibatkan pertumbuhan babi jelek bila diberikan tinggi dalam ransum babi.

  1. Level serat kasar

            Bahan makanan seperti jerami, silase jagung, dedak kasar dan alfalfa yang mengandung tinggi serat kasar tidak menyumbangkan protein yang mencukupi untuk babi. Protein dalam jerami dan silase jagung memang rendah, protein dalam alfalfa memang tinggi, namun semua bahan yang berserat kasar tinggi meskipun proteinnya tinggi, protein tersebut akan dicerna babi sangat rendah.

  1. Kehalusan penggilingan

            Menggunakan bahan makanan seperti butiran serealia yang tanpa digiling mengurangi kesempatan (waktu) bagi enzim pecerna protein bereaksi, sehingga protein yang berpotensial untuk digunakan berlalu dari saluran pencernaan dengan hanya sebagian yang dicerna. Dipihak lain, partikel yang lebih kecil menyediakan permukaan yang lebih luas bagi enzim untuk bereaksi atasnya dan lebih mudah dicerna.

  1. Perlakuan panas

            Panas yang berlebih yang digunakan selama proses pengolahan makanan akan menurunkan kecernaan protein. Kerusakan oleh pemanasan mengurangi ketersediaan asam amino essensial lisin. Tepung darah adalah contoh utama sebagai sumber protein yang kecernaannya rendah. Karena terjadi denaturasi protein karena digunakan panas yang berlebih sewaktu mengolahnya.

  1. Inhibitor protein

            Ada beberapa tanaman yang mengandung senyawa penghambat atau inhibitor yang mencegah kerja enzim pencerna protein. Sebagai contoh kentang mentah mengandung inhibitor khimotripsin yang mengurangi pencernaan protein. Namun, bila kentang dimasak mengakibatkan inhibitor tersebut menjadi tidak aktif dan kecernaan protein menjadi meningkat. Kacang kedelai mentah mengandung inhibitor tripsin; babi memanfaatkan protein keledai mentah lebih rendah dibanding dengan keledai yang digongseng. Inhibitor tripsin mencegah enzim tripsin yang dihasilkan oleh alat pencernaan, memecah protein menjadi asam-asam amino. Memanaskan atau menggongseng kacang keledaiakan merusak inhibitor tripsin.

DAFTAR PUSTAKA  

            Sihombing, D. T. H 1991. Ilmu Ternak Babi. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.

Leave a Reply