• About
  • Archives
  • Categories
  • INDUSTRI KUNYIT DAN PEMASARANNYA

    2010 - 05.31

    I. SEJARAH SINGKAT

    Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.

    II. URAIAN TANAMAN

    Klasifikasi

    Divisio         : Spermatophyta

    Sub-diviso : Angiospermae

    Kelas            : Monocotyledoneae

    Ordo            : Zingiberales

    Famili         : Zungiberaceae

    Genus         : Curcuma

    Species      : Curcuma domestica Val.

    Deskripsi

    Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm. Batang merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan.

    Jenis Tanaman

    Jenis Curcuma domestica Val, C. domestica Rumph, C. longa Auct, u C. longa Linn, Amomum curcuma Murs. Ini merupakan jenis kunyit yang paling terkenal dari jenis kunyit lainnya.

    III. MANFAAT TANAMAN

    Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu: sebagai bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak, peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah.

    IV. PROSPEK, POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN

    1. Prospek

    Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keragaman hayati, diantaranya adalah biofarmaka yang sangat bermanfaat dalam aspek medis (kesehatan) baik langsung maupun tidak langsung. Saat ini masyarakat semakin menyadari tentang makna kesehatan melalui perbaikan pola konsumsi, akibat trend “back to nature” semakin meningkat, termasuk di Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, perhatian dan upaya memanfaatkan obat alami semakin meningkat dan temulawak merupakan salah satu komoditas yang sangat diandalkan.

    Pada tingkat dunia, nilai perdagangan obat herbal pada tahun 1995 di kalangan masyarakat Uni Eropa mencapai sekitar 6 miliar dolar Amerika dan di Amerika Serikat mencapai sekitar 1,5 miliar dolar. Di Jepang nilai perdagangan obat herbal mencapai sekitar 2,1 miliar dolar Amerika, sedangkan di luar Jepang (RRC, Korea dan sebagainya) mencapai 2,3 miliar dolar. Pada awal abad 21 ini, terjadi peningkatan yang cukup signifikan dalam pertumbuhan obat-obat herbal, terutama di Eropa Barat, RRC, Korea, India, Thailand, dan Malaysia. Menurut data Sekretariat Convention on Biological Diversity (CBD), nilai penjualan global herbal obat pada tahun 2000 di perkirakan mencapai 60 miliar dolar Amerika. Di balik perkembangan potensi yang cukup menggembirakan tersebut, terdapat berbagai permasalahan yang memerlukan solusi secara komprehensif, terpadu dan sistematis, agar perkembangan industri obat herbal dapat berjalan dengan baik.

    Mengingat obat herbal sangat menguntungkan sebagai penghasil devisa seperti diuraikan diatas, maka sudah saatnya pula, Indonesia merintis penanaman temulawak dalam kebun yang cukup luas dilengkapi dengan unit pengolahan sehingga dapat menghasilkan bahan baku yang siap bersaing dengan luar negeri.

    2. Potensi

    Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) merupakan tanaman asli Indonesia dan termasuk salah satu jenis temu-temuan yang paling banyak digunakan sebagai baku obat tradisional. Selain itu temulawak juga banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis, umumnya berkembang biak dengan baik di tanah tegalan sekitar pemukiman terutama pada tanah gembur sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Penyebaran tanaman temulawak di Indonesia di daerah P. Jawa, yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan sedikit tersebar di Kalimantan Selatan.

    Budidaya temulawak ditingkat petani dilakukan pada lahan yang tidak terlalu luas antara 0,05 – 0,1 ha dengan kultivar yang beragam mengakibatkan timbulnya masalah inefisiensi pada usaha tani dan mempengaruhi tingkat produktivitas dan mutu hasil panen.

    Perkembangan produksi temulawak selama 3 tahun terakhir, tertinggii pada tahun 2004 sebesar 16.666.504 ton. Penyebaran areal dan hasil produksi temulawak di Indonesia 3 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini.

    Perkembangan Areal & Produksi Temulawak dari Tahun 2002 – 2004.

    No

    Provinsi

    Areal (m2)

    Produksi (Kg)

    2002 2003 2004 2002 2003 2004
    1 Sumut 20.823 33.843 33.843 46.627 53.654 53.654
    2 Riau 146.376 194.467 143.280 69.742 93.282 252.766
    3 Jambi 29.194 26.018 10.936 60.818 30.503 34.461
    4 DKI Jakarta 1.005 2.535 3.472 1.049 3.860 4.579
    5 Jabar 317.276 276.000 485.905 958.767 502.526 1.528.789
    6 Jateng 2.316.448 3.496.844 3.600.103 2.501.602 4.992.053 6.765.546
    7 Jatim 1.077.307 1.275.644 4.556.396 2.335.185 3.133.644 5.140.245
    8 DI Yogyakarta 1.022.048 1.275.240 1.405.251 991.451 2.521.625 2.375.621
    9 Banten 51.805 103.420 132.788 78.484 189.519 205.071
    10 Bali 10.503 19.302 13.597 18.472 34.225 29.916
    11 Kalbar 7.509 49.596 23.989 5.932 45.893 31.229
    12 Kaltim 1.475 6.635 20.104 1.811 41.989 42.839
    13 Sulut 17.406 25.627 34.371 38.282 55.305 83.915
    14 Sulsel 52.817 55.471 72.380 57.753 55.772 100.248
    15 Gorontalo 3.694 4.309 11.618 6.992 8.134 17.625
    JUMLAH 2.759.240 5.421.511 10.239.495 7.172.969 11.761.984 16.666.504

    Sumber : Pusat Data dan Informasi Departemen Pertanian, 2005

    3. Arah Pengembangan

    Arah pengembangan agroindustri temulawak  menuju pada suatu sistem pertanian perdesaan yang terpadu di 15  provinsi sentra produksi temulawak, sehingga dapat meningkatkan volume ekspor dan daya saing dengan produk luar negeri. Pengembangan agroindustri ini dilakukan secara bertahap pada setiap tahunnya (tahun 2006 – 2009), dengan tolok ukur pengembangan pada unit pasca panen dan pengolahan hasil di perdesaan serta pengembangan distribusi dan pemasaran.


    V. GAMBARAN PELUANG AGRIBISNIS

    Dewasa ini rata-rata kebutuhan bahan baku kunyit untuk industri kosmetik/ jamu tradisional yang ada di Indonesia antara 1,5-6 ton/bulan. Tingkat kebutuhan pasar dari tahun ke tahun semakin meningkat dengan persentase peningkatan 10-25% per tahunnya. Kebutuhan lebih tinggi pada saat menjelang hari-hari besar/hari raya. Permintaan kebutuhan industri di atas sebagian besar berasal dari pasokan para petani. Melihat dari kebutuhan ratarata industri jamu dan kosmetik yang ada di dalam negeri, suplai dan permintaan terhadap kunyit tidak seimbang, apalagi memenuhi permintaan pasar luar negeri. Sementara kebutuhan kunyit dunia hingga saat ini mencapai ratusan ribu ton/tahun. Sebagian kecil dari jumlah tersebut dipenuhi oleh negara India, Haiti, Srilanka, Cina, dan negara-negara lainnya. Indonesia kini sudah selayaknya membudidayakan tanaman ini, terutama dengan sistem monokultur/tumpang sari sehingga produksi yang dicapai lebih cepat dan tinggi, agar kebutuhan minimal dalam negeri terpenuhi secara optimal. Walaupun di daerah Jawa Tengah kini sudah diupayakan system penanaman tersebut, juga diperhitungkan dari sudut produktivitas dan jalur tata niaganya, namun luas lahan tanam yang ada belum maksimal untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri yang mencapai ratusan ribu ton/hanya.

    Indonesia sebenarnya mulai mengekspor kunyit. Negara yang dituju antara lain Asia (Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Jepang), Amerika, dan Eropa (Jerman Barat dan Belanda). Pada tahun 1987, nilai ekspor tanaman kunyit Indonesia menyumbangkan devisa yang besar bagi negara. Namun pada tahun berikutnya jumlah ekspor tersebut mulai mengalami penurunan dan sempat terhenti pada tahun 1989. Negara India, Cina, Haiti, Srilanka, dan Jamaika kini mulai membudidayakan tanaman kunyit secara besar-besaran dan mereka sudah dapat mengestimasikan produksinya hingga +20 ton/ha. Dari segi jalur tata niaga, kunyit tergolong efisien, karena dari petani langsung disalurkan ke pedagang pengumpul, lalu ke pabrik/pedagang besar. Maka harga yang diterima petani mencapai 70% dari harga tingkat pabrik, dimana 30% merupakan marjin tata niaga yang terdiri atas 12% marjin biaya dan 18% merupakan marjin keuntungan. Berdasarkan kondisi ini, tata niaga kunyit bisa ditingkatkan lagi, karena marjin terbesar berada pada keuntungan pedagang. Peluang agribisnis kunyit di Indonesia dapat dikembangkan. Kenyataan ini dilandaskan pada tingkat produktivitas, jalur tata niaga, dan kebutuhan kunyit dari berbagai industri yang membutuhkannya.

    VI. STANDAR PRODUKSI

    A. Ruang Lingkup

    Standar produksi meliputi: jenis dan standar mutu, cara pengambilan contoh dan syarat pengemasan.

    B. Klasifikasi dan Standar Mutu

    Standard mutu temulawak untuk pasaran luar negeri dicantumkan berikut ini:

    1) Warna : kuning-jingga sampai coklat kuning-jingga

    2) Aroma : khas wangi aromatis

    3) Rasa : mirip rempah dan agak pahit

    4) Kadar air maksimum : 12 %

    5) Kadar abu : 3-7 %

    6) Kadar pasir (kotoran) : 1 %

    7) Kadar minyak atsiri (minimal) : 5 %

    C. Pengemasan

    Kunyit disajikan dalam bentuk rimpang utuh, dikemas dengan jala plastic yang kuat, dengan berat maksimum 15 kg tiap kemasan, atau dikemas dengan keranjang bambu dengan berat sesuai kesepakatan anatara penjual dan pembeli. Dibagian luar dari tiap kemasan ditulis, dengan bahan yang tidak luntur, jelas terbaca antara lain:

    • Produk asal Indonesia
    • Nama/kode perusahaan/eksportir
    • Nama barang
    • Negara tujuan
    • Berat kotor
    • Berat bersih
    • Nama pembeli

    VII. PEMASARAN TEMULAWAK

    1. Pengembangan temulawak terkonsentrasi pada 15 propinsi

    Pengembangan agribisnis temulawak saat ini terkonsentrasi pada 15 (lima belas) propinsi, potensi ini masih terus dikembangkan mengingat hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki agroklimat yang cukup baik bagi pengembangan tanaman tersebut. Berdasarkan potensi kesesuaian lahan (Puslitan) luas areal lahan dengan agroklimat yang cocok untuk mengembangan temulawak mencapai 10.548.033 ha. Di Jawa tersebar pada 6 (enam) propinsi antara lain Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah D.I. Yogyakarta dan Jawa Timur dan Provinsi Kalimantan Selatan. Pelaku usahatani temulawak terdiri dari 2 (dua) kategori yaitu usaha tani rakyat dan entrepreneur. Sebagaimana usaha tani tradisional temu-temuan lainnya, usahatani temulawak rakyat pada umumnya diusahakan di lahan-lahan yang sempit bahkan di pekarangan dengan lokasi yang tersebar

    2. Produk dijual dalam bentuk glondongan

    Kebutuhan akan temulawak untuk industri dalam negeri mengalami peningkatan, pada tahun 2000 kebutuhan mencapai 6.813 ton/th, meningkat di tahun 2001 sebesar 7.170 ton/th, selanjutnya pada tahun 2002 mengalamii peningkatan hingga mencapai 8.104 ton/th. Peningkatan kebutuhan bahan baku ini berjalan seiring dengan semakin banyaknya jumlah industri jamu, farmasi dan kosmetika. Pada tahun 2000 kebutuhan tanaman temulawak (yang merupakan tanaman terbesar ke 3 setelah tanaman lempuyang dan jahe) untuk lima industri jamu terbesar mencapai 38.600 kg/bln atau 463.200 kg/tahun.

    Untuk pemasaran dalam negeri, rimpang temulawak dijual secara gelondong dengan memisahkan rimpang cabang dari rimpang induknya atau tanpa pemisahan rimpang sama sekali. Sedangkan pemasaran ke luar negeri rimpang temulawak diolah terlebih dahulu dengan cara pengeringan dalam bentuk simplisia.

    Pemasaran temulawak di sebagian wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah bermitra dengan pengusaha jamu. Walaupun demikian ada pula yang secara langsung memasarkan ke pasar tradisional di tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten, bahkan melalui pedagang pengumpul dapat menembus pasar induk di tingkat Propinsi.

    Kemitraan terbentuk antara perusahaan Jamu skala Nasional dengan para petani produsen, mengingat tidak semua pasokan dapat dipenuhi oleh perusahaan Jamu tampa memperolehnya dari petani produsen, bahkan pada beberapa perusahaan Jamu Nasional untuk beberapa bahan baku tertentu kadangkala perlu mengimpor dari luar negeri, seperti RRC, India dan Vietnam.

    VIII. KENDALA PEMASARAN TEMULAWAK

    1. Belum adanya dukungan yang optimal dari pemerintah

    Belum adanya kebijakan yang terpadu antara sektor pertanian dengan sektor industri, sektor iptek, dan kesehatan dalam rangka membangun agroindustri biofarmaka dan menumbuhkembangkan pelaku usaha tanaman obat, khususnya temulawak. Lebih lanjut, Pemerintah (Pusat dan Daerah) dan dunia usaha belum mempunyai dan komitmen yang kuat untuk membangun agroindustri biofarmaka yang berdaya saing tinggi.

    2. Keterbatasan produksi untuk memenuhi permintaan perusahaan jamu

    Produksi temulawak masih sangat terbatas akibat keterbatasan pemanfaatan pelaku usaha tanaman  obat atau IRT / Pengusaha Jamu. Penerapan teknologi budidaya temulawak masih belum mengikuti GAP (Good Agriculture Practices) / GFP (Good Farming Practices), sehingga dapat terjadi sejenis bahan baku mempunyai keragaman kualitas satu dengan lainnya, sehingga produk yang dihasilkan jauh dari memuaskan baik dari aspek mutu (produk dan packaging) maupun kuantitas.

    3. Penerapan Pasca panen dan pengolahan yang baik belum optimal

    Pelaku usaha tanaman obat atau IRT/Pengusaha Jamu belum menerapkan teknologi pasca panen dan pengolahan secara profesional karena belum mendapat bimbingan secara intensif oleh Dinas terkait, tertutama belum adanya pedoman GHP (Good Handling Practices) dan GMP (Good Manufacturing Practices) yang dapat dipakai untuk usaha pengolahan berbagai komoditas. Sebagai konsekuensinya maka pemasaran masih  mengalami kendala masalahj dan permasalahan terutama ekspor, akibat lemahnya daya saing produk.

    4. Industri Pengolahan Tradisional

    Mayoritas Industri Pengolahan di Indonesia masih dalam bentuk tradisional, sehingga mempengaruhi kompetisi daya saing produk, khususnya di luar negeri. Keterbatasan pengetahuan beberapa pelaku usaha IRT, mengakibatkan adanya pemakaian bahan-bahan terlarang untuk industri, sehingga memperparah keberadaan kondisi IRT tersebut. Sementara itu, industri pengolahan Jamu yang relatif besar atau skala Nasional,  masih belum mempunyai komitmen untuk menularkan pengetahuan kepada pelaku usaha skala IRT.

    5. Keterbatasan Data Base

    Kendala Industri pengolahan skala Nnasional dan IRT dalam mengembangkan usaha mereka,  antara lain disebabkan tidak tersedianya “Data Base” tanaman biofarmaka yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga sulit mengetahui kapasitas produksi tanaman obat di Indonesia, termasuk temulawak.

    6. Kemitraan Sulit Berkembang.

    Kemitraan merupakan suatu kebijakan yang diharapkan dapat berkembang, sehingga pelaku usaha IRT suatu saat dapat menjadikan bisnis mereka setaraf Nasioinal. Namun, berdasarkan kerjasama yang difasilitasi oleh Ditjen BPPHP pada tahun 2003, ternyata dari 15 kerjasama kemitraan hanya berjalan sekitar 4 buah.  Secara umum, dapat dikatakan, kemitraan tersebut tidak dapat berkembang dengan baik, akibat satu dan lain hal.

    7. Sistim Distribusi, Infrastruktur dan Sarana Transportasi belum Kondusif.   

    Penyebaran sentra produksi dengan skala kecil kurang menguntungkan agribisnis temulawak karena mengakibatkan biaya transportasi tinggi. Kondisi inii dipengaruhi oleh kurang memadainya infrastruktur pada hampir sebagian besar sentra produksi, seperti : Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, selain hal tersebut, alat transportasi yang tidak memadai memperburuk usaha pengolahan produk biofarmaka. Sehingga temulawak, belum mampu bersaing dengan temulawak impor  yang relatif lebih rendah harganya.

    8. Lemahnya Akses Sarpras dan Teknologi Lepas Panen dan Pengolahan

    Keterbatasan penguasaan sarana dan prasarana teknologi pada sebagian besar pelaku usaha berdampak pada keterbatasan akses terhadap teknologi pasca panen dan pengolahan. Hal ini menciptakan sistim pasar yang tidak adil (”fair”) akibat penguasasan segelintir penguasa kuat dalam pasokan, teknologi pasca panen dan pengolahan serta pemasaran sehingga tercipta ”oligopsoni” . Kondisi tersebut diperparah dengan keberadaan sebagian besar petani belum memahami dan menerapkan GHP dan GMP dalam usaha pengolahan mereka untuk memperbaiki mutu produk.

    9. Lemahnya akses terhadap Modal

    Petani produsen dan pelaku usaha pengolahan umumnya mengalami keterbatasan terhadap modal, sehingga upaya perbaikan kualitas menjadi kendala. Lebih lanjut akses terhadap teknologi menjadi sangat terbatas serta  beberapa teknologi yang tersedia dari Lembaga Penelitian mengalami distorsi sehingga tidak sampai kepada petani secara utuh.

    Ketersediaan “Skim Kredit” dengan bunga rendah dari lembaga-lembaga keuangan di tingkat petani hingga saat ini belum terwujud, sehingga upaya pebaikan teknologi yang mengarah keperbaikan mutu belum berjalan akibat keterbatasan modal kerja.

    10.  Penelitian manfaat temulawak secara klinis belum optimal

    11.  Belum terintegrasinya program pengembangan temulawak antar sektor (departemen) terkait

    12.  Peluang pasar internasional, terutama ke Korea Selatan, belum optimal dikembangkan

    DAFTAR PUSTAKA

    http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/kunyit.pdf

    http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:LeqtHPE3WW4J:agribisnis.deptan.go.id/xplore/view.php%3Ffile%3DPENGOLAHAN-HASIL/PENGOLAHAN%2520HASIL/ROADMAP%2520horti/RM%2520TOR%2520TEMULAWAK%2520rev.doc+pemasaran+temulawak&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

    Your Reply