• About
  • Archives
  • Categories
  • INDUSTRI KOMODITAS JAGUNG DAN SEKTOR PEMASARANNYA

    2010 - 06.01

    I. KARAKTERISTIK KANDUNGAN JAGUNG

    Karakteristik Pati Jagung

    Biji jagung mengandung pati 54,1-71,7%, sedangkan kandungan gulanya 2,6-12,0%. Karbohidrat pada jagung sebagian besar merupakan komponen pati, sedangkan komponen lainnya adalah pentosan, serat kasar, dekstrin, sukrosa, dan gula pereduksi.

    Karakteristik Protein Jagung

    Protein jagung dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu albumin, globulin, glutelin, dan prolamin, yang masing-masing mengandung asam amino yang berlainan. Prolamin merupakan kadar tertinggi pada protein jagung, mencapai 47%. Prolamin sedikit larut dalam air dan sangat larut dalam 70% etanol. Dalam pemanfaatannya untuk pakan, prolamin jagung kurang mendorong pertumbuhan ternak karena sedikit mengandung lisin dan triptopan, namun mengandung asam amino nonpolar yang tinggi. Dengan berkembangnya ilmu genetika dan pemuliaan telah dihasilkan beberapa varietas jagung yang mengandung triptofan cukup tinggi.

    Karakteristik Minyak Jagung

    Bagian jagung yang mengandung minyak adalah lembaga (germ). Minyak jagung dapat diekstrak dari hasil proses penggilingan kering maupun basah, proses penggilingan yang berbeda akan menghasilkan rendemen minyak yang berbeda pula. Pada penggilingan kering (dry-milled), minyak jagung dapat diekstrak dengan pengepresan maupun ekstraksi hexan. Kandungan minyak pada tepung jagung adalah18%. Untuk penggilingan basah (wetmilling), sebelumnya dapat dilakukan pemisahan lembaga, kemudian baru dilakukan ekstraksi minyak. Pada lembaga, kandungan minyak yang bisa diekstrak rata-rata 52%. Kandungan minyak hasil ekstraksi kurang dari 1,2%. Minyak kasar masih mengandung bahan terlarut, yaitu fosfatida, asam lemak bebas, pigmen, waxes, dan sejumlah kecil bahan flavor dan odor.

    II. TEKNOLOGI PENGOLAHAN

    Produk Jagung Primer (Bahan Baku)

    Jagung dapat disiapkan menjadi bahan setengah jadi (primer) sebagai bahan baku industri. Bentuk produk ini umumnya bersifat kering, awet, dan tahan disimpan lama, antara lain adalah beras jagung, tepung, dan pati.

    1. Tepung dan Beras Jagung

    Produk jagung yang paling banyak dikonsumsi rumah tangga di perkotaan adalah dalam bentuk basah dengan kulit, sedang di pedesaan dalam bentuk pipilan. Jagung pipilan kering dapat diolah menjadi bahan setengah jadi (jagung sosoh, beras jagung, dan tepung).

    Jagung sosoh dapat diolah menjadi bassang, yaitu makanan tradisional Sulawesi Selatan, sedangkan beras jagung dapat ditanak seperti layaknya beras biasa. Tepung jagung dapat diolah menjadi berbagai makanan atau mensubstitusi terigu pada proporsi tertentu, sesuai dengan bentuk produk olahan yang diinginkan (Suarni dan Firmansyah 2005).

    Proses Pembuatan Beras dan Tepung Jagung

    Pemanfaatan tepung jagung komposit pada berbagai bahan dasar pangan antara lain untuk kue basah, kue kering, mie kering, dan roti-rotian. Tepung jagung komposit dapat mensubstitusi 30-40% terigu untuk kue basah, 60-70% untuk kue kering, dan 10-15% untuk roti dan mie (Antarlina dan Utomo 1993, Munarso dan Mudjisihono 1993, Azman 2000, Suarni 2005a).

    Pada proses pembuatan beras jagung terdapat hasil sampingan berupa bekatul yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat kasar yang sangat berguna bagi tubuh (dietary fiber). Bekatul dapat digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain dalam pembuatan kue kering berserat tinggi (Suarni 2005b).

    2. Pati Jagung

    Pati jagung dalam perdagangan disebut tepung maizena. Proses pembuatan pati meliputi perendaman, penggilingan kasar, pemisahan lembaga dan endosperm, pemisahan serat kasar dari pati dan gluten, pemisahan gluten dari pati, dan pengeringan pati.

    Dari 100 kg jagung pipilan kering dapat diperoleh 3,4-4,0 kg minyak jagung, 27-30 kg bungkil, dan 64-67 kg pati, sedangkan 15-25 kg sisanya hilang terbuang dalam tahapan prosesing. Pati jagung dianggap baik mutunya untuk penggunaan normal biasanya mengandung 0,025-0,030% protein terlarut dengan protein total 0,35-0,45%. Pati jagung normal mengandung 74-76% amilopektin dan 24-26% amilosa, jenis pulut mengandung 95-99% amilopektin, sedangkan amilomaize hanya mengandung 20% amilopektin dan 80% amilosa. Penggunaan pati dalam makanan sangat terbatas, karena tidak tahan terhadap asam, suhu, dan shear. Ketiga faktor tersebut sangat berperan dalam proses suatu makanan. Masalah ini dapat diatasi dengan cara memodifikasi pati secara kimia atau enzimatik. Pengaruh modifikasi terhadap sifat fungsional pati bergantung kepada jenis pati dan pereaksi yang digunakan.

    Modifikasi tepung jagung secara enzimatik menunjukkan perubahan sifat fisikokimia dan fungsional, kadar amilosa, dan derajat polimerisasi (DP) mengalami penurunan, gula reduksi dan dekstrosa eqivalent (DE) mengalami kenaikan. Tekstur tepung termodifikasi lebih halus dibanding tepung aslinya (Suarni 2006).

    3. Marning Jagung

    Jagung pipilan kering dapat diolah menjadi jagung marning dan emping jagung. Olahan tersebut sangat digemari masyarakat sehingga dapat menjadi produk industri rumah tangga. Jagung marning adalah sejenis makanan ringan (snack) yang dikonsumsi setelah melalui proses pengolahan sederhana. Pipilan jagung putih yang telah disortir direndam dengan air selama ± 15 jam, kemudian direbus selama ± 4 jam dengan air yang diberi soda dan air kapur, agar jagung cepat mengembang dan menjadi renyah setelah digoreng. Selanjutnya, jagung masak dicuci hingga lendir hilang dan bersih, ditiriskan, kemudian dijemur selama 2-3 hari, bergantung keadaan cuaca.


    4. Pati Jagung untuk Gula

    Indonesia adalah pengimpor gula nomor dua terbesar di dunia. Kebutuhan gula nasional mencapai 3,3 juta ton per tahun, sementara produksi hanya 1,7 juta ton atau hanya 51,5% dari kebutuhan. Harga gula impor lebih murah dibandingkan dengan harga produksi dalam negeri. Produktivitas gula di Indonesia masih rendah, sementara efisiensi sistem produksi juga rendah karena tingginya biaya produksi. Ditambah lagi dengan adanya dampak kenaikan BBM, sehingga harga gula makin tinggi. Gula alternatif yang sekarang sudah digunakan antara lain adalah gula siklamat, stearin, dan gula dari hidrolisa pati. Gula dari pati dapat berupa sirup glukosa, fruktosa, maltosa, manitol, dan sorbitol. Gula pati tersebut mempunyai rasa dan tingkat kemanisan yang hampir sama dengan gula tebu (sukrosa), bahkan beberapa jenis lebih manis. Gula pati dibuat dari bahan berpati seperti tapioka, umbi-umbian, sagu, dan jagung. Di Indonesia, industri gula dengan bahan baku pati baru dimulai pada tahun 80-an.

    III. SITUASI PERDAGANGAN JAGUNG

    1. Pasar Domestik

    Selama tiga dekade terakhir permintaan jagung untuk pangan maupun untuk bahan baku pakan domestik terus meningkat seiring dengan berkembangnya pabrik pakan dan industri perunggasan. Kebutuhan jagung domestik meningkat pesat sebesar 6,6 persen per tahun, sementara produksi hanya mengalami laju peningkatan sekitar 2,5 persen per tahun.

    Mengingat permintaan dari industri pakan memerlukan kontinuitas pasokan bahan baku jagung, sementara pemenuhan dari produksi domestik belum memadai, maka ketergantungan terhadap jagung impor juga mengalami peningkatan, yakni 16,6 persen per tahun.

    Permintaan pakan terus mengalami peningkatan. Pesatnya perkembangan usaha perunggasan di Indonesia merupakan faktor utama yang mendorong pesatnya permintaan jagung domestik, sehingga Indonesia saat ini menjadi negara pengimpor jagung dalam volume cukup besar. Volume impor tahun 1990 tercatat 135 ribu ton, meningkat menjadi 842 ribu ton tahun 1995, dan pada tahun 2000 mencapai 1,3 juta ton. Sementara itu, keragaan ekspor jagung Indonesia relatif tidak memperlihatkan adanya peningkatan, bahkan cenderung mengalami penurunan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dari 559 ribu ton pada tahun 1997 dan untuk tahun 2001 menjadi 50 ribu ton.

    2. Pasar Dunia

    Dalam satu dekade terakhir. laju produksi jagung dunia mencapai 1,6 persen per tahun. Produksi jagung dunia tahun 1992/93 tercatat 538,5 juta ton dan meningkat menjadi 614,7 juta ton pada tahun 2000/01. Produksi jagung tahun 2000/01 diperkirakan meningkat sekitar 2,0 persen, sejalan dengan meningkatnya produksi jagung di Amerika Serikat sebesar 7,7 juta ton. Sementara itu, volume jagung yang diperdagangkan di pasar internasional pada kurun waktu yang sama masing-masing sebesar 62,2 juta ton dan 70,8 juta ton atau rata-rata sekitar 11,5 persen dari produksi jagung dunia. Kendatipun volume yang diperdagangkan merupakan yang terbesar selama kurun waktu tersebut, namun hal ini terkesan bahwa marketable surplus jagung dunia masih relatif kecil Produksi Ekspor dan Impor Jagung Dunia

    Peta negara produsen utama jagung dunia dalam periode yang sama relatif tidak mengalami perubahan, dimana untuk tahun 200/01 Amerika Serikat (AS) masih menempati posisi terbesar dengan pangsa sekitar 41 persen dari produksi jagung dunia. Peringkat berikutnya adalah China (22,5%), Uni Eropa (6,8%), Brazil (5,9%), Mexico (3,4%) dan Argentina (2,9%) dengan total produksi keenam negara tersebut mencapai 82,5 persen dari produksi jagung dunia. Disamping dominasi AS dalam produksi jagung, juga peranan nyata dimainkan oleh China, the nations of the Mercado Commun Sudamericano (MERCOSUR), dan Uni Eropa.

    Kontribusi China terhadap produksi jagung dunia tampak konsisten selama periode tersebut, yakni lebih dari 20 persen, sementara produksi Argentina dan Brazil mencapai 8,8 persen dalam waktu yang sama. Produksi jagung di China menunjukkan kenaikan yang cukup fantastis dengan laju 3,5 persen per tahun. Tingkat produksi ini telah meningkatkan pangsa produksi jagung China di dunia, dari 17 persen pada tahun 1993 menjadi 22,5 persen pada tahun 2000.

    Jagung yang diperdagangkan di pasar dunia relatif konstan atau sekitar 11,5 persen dari produksi jagung dunia. Dari produk jagung yang diperdagangkan di pasar dunia sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, kemudian diikuti China, Fiji, Brazil, Mexico dan Argentina. Namun tidak semua negara produsen jagung menjadi negara pengekspor. Sebagai ilustrasi, Brazil merupakan salah satu produsen jagung dunia, tetapi bukan merupakan Negara eksportir jagung. Hal ini dikarenakan tingginya kebutuhan domestik akan jagung, sehingga hampir semua produksinya dialokasikan untuk pemenuhan dalam negeri. Hal serupa terjadi pada Uni Eropa, dimana produksi jagung hampir diperuntukkan bagi negara-negara anggotanya. Gambaran relatif berbeda terlihat untuk negara China, disamping berperanan sebagai negara eksportir jagung, sekaligus berperan sebagai negara importer.

    DAFTAR PUSTAKA

    http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/bjagung/duatiga.pdf

    http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/%284%29%20soca-benny%20rachman-komoditi%20jagung%281%29.pdf

    PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI KARET

    2010 - 06.01

    I. Sekilas Tentang Karet

    Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan. Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Beberapa tumbuhan lain juga menghasilkan getah lateks dengan sifat yang sedikit berbeda dari karet, seperti anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion. Pada masa Perang Dunia II, sumber-sumber ini dipakai untuk mengisi kekosongan pasokan karet dari para. Sekarang, getah perca dipakai dalam kedokteran (guttapercha), sedangkan lateks sawo manila biasa dipakai untuk permen karet (chicle). Karet industri sekarang dapat diproduksi secara sintetis dan menjadi saingan dalam industri perkaretan.

    Biokimia

    Karet adalah polimer dari satuan isoprena (politerpena) yang tersusun dari 5000 hingga 10.000 satuan dalam rantai tanpa cabang. Diduga kuat, tiga ikatan pertama bersifat trans dan selanjutnya cis. Senyawa ini terkandung pada lateks pohon penghasilnya. Pada suhu normal, karet tidak berbentuk (amorf). Pada suhu rendah ia akan mengkristal. Dengan meningkatnya suhu, karet akan mengembang, searah dengan sumbu panjangnya. Penurunan suhu akan mengembalikan keadaan mengembang ini. Inilah al asan mengapa karet bersifat elastik.

    Biosintesis

    Lateks dibentuk pada permukaan benda-benda kecil (disebut “badan karet”) berbentuk bulat berukuran 5 nm sampai 5 μm yang banyak terdapat pada sitosol sel-sel pembuluh lateks (modifikasi dari floem). Sebagai substratnya adalah isopentenil difosfat (IPD) yang dihasilkan sel-sel pembuluh lateks. Dengan bantuan katalisis dari prenil-transferase, pemanjangan terjadi pada permukaan badan karet yang membawa suatu polipeptida berukuran 14kDa yang disebut “rubber elongation factor” (REF). Sebagai bahan pembuatan starter, diperlukan pula 3,3—dimetilalil difosfat sebagai substrat kedua. Suatu enzim isomerase diperlukan untuk tugas ini.

    II. Jenis-Jenis Karet Alam

    Karet merupakan polimer yang bersifat elastis, sehingga dinamakan pula sebagai elastomer. Saat ini karet tergolong atas karet sintetik dan karet alam. Karet sintetik dibuat secara polimerisasi fraksi-fraksi minyak bumi. Contoh karet sintetik yang kini banyak beredar adalah SBR (Strirene Butadiene Rubber), NBR (Nitrile Butadiene Rubber), karet silikon, Urethane, dan karet EPDM (Ethilene Propilene Di Monomer).

    Karet alam diperoleh dengan cara penyadapan pohon Hevea Braziliensis. Karet alam memiliki berbagai keunggulan dibanding karet sintetik, terutama dalam hal elastisitas, daya redam getaran, sifat lekuk lentur (flex-cracking) dan umur kelelahan (fatigue). Berdasarkan keunggulan tersebut, maka saat ini karet alam sangat dibutuhkan terutama oleh industri ban. Dewasa ini karet alam diproduksi dalam berbagai jenis, yakni lateks pekat, karet sit asap, karet krep dan crumb rubber.

    1. Lateks pekat diolah langsung dari lateks kebun melalui proses pemekatan yang umumnya secara sentrifugasi sehingga kadar airnya turun dari sekitar 70% menjadi 40-45%. Lateks pekat banyak dikonsumsi untuk bahan baku sarung tangan, kondom, benang karet, balon, kateter, dan barang jadi lateks lainnya. Mutu lateks pekat dibedakan berdasarkan analisis kimia antara lain kadar karet kering, kadar NaOH, Nitrogen, MST dan analisis kimia lainnya.
    2. Karet sit asap atau dikenal dengan nama RSS (Ribbed Smoked Sheet) dan karet krep (crepe) digolongkan sebagai karet konvensional, juga dibuat langsung dari lateks kebun, dengan terlebih dulu menggumpalkannya kemudian digiling menjadi lembaran-lembaran tipis, dan dikeringkan dengan cara pengasapan untuk karet sit asap, dan dengan cara pengeringan menggunakan udara panas untuk karet krep. Mutu karet konvensional dinilai berdasarkan analisis visual permukaan lembaran karet. Mutu karet akani makin tinggi bila permukaannya makin seragam, tidak ada gelembung, tidak mulur, dan tidak ada kotoran serta teksturnya makin kekar/kokoh.
    3. Crumb rubber (karet remah) digolongkan sebagai karet spesifikasi teknis (TSR=Technical Spesified Rubber), karena penilaian mutunya tidak dilakukan secara visual, namun dengan cara menganalisis sifat-sifat fisiko-kimianya seperti kadar abu, kadar kotoran, kadar N, plastisitas Wallace dan viskositas Mooney. Crumb rubber produksi Indonesia dikenal dengan nama SIR (Standard Indonesian Rubber). Saat ini umumnya (SIR 10 dan 20) dibuat dari lump atau sleb dari perkebunan rakyat. Disebabkan bahan bakunya kotor, maka proses pengolahan dipabrik crumb rubber melibatkan berbagai peralatan pengecilan ukuran (size reduction) dan pencucian.

    III. Proses Pembuatan Karet Sintetik

    Polymerization

    Polymerisasi ialah merupakan proses awal dari pembuatan karet sintetik, pada tahap ini ada tiga motode yang digunakan yaitu emulsion, microemulsion, and suspension polymerization. Proses ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar sekelas Du Pont, Dow, GE, Ausimont, Daikin and Dyneon.

    Isolation

    Pada tahap ini, backbone polymers diisolasi, dikeringkan, dan dibersihkan. Setelah tahap ini, maka polimer tersebut sudah siap untuk diolah oleh compounder

    Compounding (mixing)

    Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam menentukan sifat2 tambahan dari suatu polimer/karet. Karena pada tahap inilah compounder meracik resepnya untuk menghasilkan bahan baku yang sesuai keinginannya/pesanan. Pengalaman dan pengetahuan compounder pada tahap ini sangat krusial untuk menghasilkan material yang berkualitas.

    Extrusion/Forming/Premolding

    Setelah selesai di mixing, maka material yang masih berbentuk lembaran dibentuk lagi menyerupai produk akhir supaya dapat dengan mudah diproses pada molding nantinya. misalnya untuk O-Ring, material tersebut dibentuk menyerupai kabel panjang.

    Molding

    Proses inilah yang menentukan akan berbentuk seperti apakah produk akhir. dengan kombinasi panas dan tekanan yang sesuai, maka akan didapat produk akhir yang sempurna.

    Flash Removal

    Setelah dari proses molding, biasanya pada produk masih terdapat sisa-sisa material yang menempel, pada tahap ini sisa-sisa tersebut dipisahkan sehingga didapat produk akhir yang sesusai dengan cetakan.

    Post Curing

    Terkadang pada tahap molding tidak semua proses kimia dapat terjadi dengan sempurna, sehingga untuk menghabiskan sisa-sisanya dilakukan proses curing.

    Finishing & Inspection

    Setelah selesai diproses, maka produk akhir hendaknya dibersihkan dan dilakukan pengetesan apakah sudah sesuai dengan harapan atau tidak.

    Cleaning

    Semua proses telah selesai dan produk akhir yang didapat telah sempurna, maka produk tersebut dicuci bersih dari kotoran-kotoran yang mungkin menempel pada proses produksi sebelumnya.

    Packaging

    Setelah produk akhir sudah bersih, dan siap untuk dikirim/disimpan. sebaiknya dimasukan kemasan agar tidak terkontaminasi dari lingkungan luar.

    Semua proses diatas ialah teoritis, yang mana pada saat dilapangan seringkali prakteknya tidak sesederhana demikian.

    IV. Gambaran Umum Industri Karet Alam

    1. Peranan Karet Alam Dalam Perekonomian Nasional

    Karet memiliki berbagai peranan penting bagi Indonesia, antara lain :

    1. Sumber pendapatan dan lapangan kerja penduduk
    2. Sumber devisa negara dari ekspor non-migas
    3. Mendorong tumbuhnya agro-industri di bidang perkebunan
    4. Sumber daya hayati dan pelestarian lingkungan. Luas areal tanaman karet pada tahun 2006 sekitar 3,31 juta hektar, dengan produksi 2,64 juta ton atau 27,3% produksi karet alam dunia (9.2 juta ton), menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand (IRSG, 2007)

    Pada tahun 2005, karet mampu menghasilkan devisa hingga US $ 2,58 milyar, naik menjadi US $ 3,77 milyar pad tahun 2006, menempatkan karet sebagai komoditas penghasil devisa terbesar diantara komoditas perkebunan. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995 dan 2,29 juta ton pada tahun 2006. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2005 mencapai US$ 2,58 milyar, dan meningkat tajam menjadi US $ 4,36 milyar pada tahun 2006 seiring dengan melonjaknya harga karet dari 1,2 USD/kg hingga sekitar 2 USD/kg pada tahun 2006 (Depperind, 2007).

    2. Prospek Perdagangan Karet Alam

    Hasil kajian para pakar memperlihatkan bahwa prospek perdagangan karet alam dunia sangat baik. Dalam jangka panjang, perkembangan produksi dan konsumsi karet menurut ramalan ahli pemasaran karet dunia yang juga Sekretaris Jenderal International Rubber Study Group, Dr. Hidde P. Smit, mennunjukkan bahwa konsumsi karet alam akan mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari 8,5 juta ton di tahun 2005, naik menjadi 9,23 pada tahun 2006, dan diprediksi menjadi 11,9 juta ton pada tahun 2020

    Sementara itu produksi karet alam dunia sebesar 8,5 juta ton pada tahun 2005, naik menjadi 9,18 juta ton pada tahun 2006, diprediksi menjadi 11,4 juta ton di tahun 2020. Harga karet alam di pasar dunia juga diprediksikan tetap bertahan pada level di atas US $ 1 per kg, bahkan pada tahun 2013 diperkirakan bisa menembus US $ 2,4 per kg dan bahkan level harga tersebut telah dicapai pada tahun 2006 ini. Pada tahun 2020 diperkirakan harga karet alam di pasaran dunia tetap bertahan pada angka US $ 1,9 per kg.

    3. Kondisi Industri Primer Karet Alam

    Selama lebih dari 35 tahun (1970-2006), areal perkebunan karet di Indonesia meningkat sekitar 4,8% per tahun, namun pertumbuhan yang nyata terutama terjadi pada areal karet rakyat, sedangkan pada perkebunan besar negara dan swasta sangat rendah, dibawah 1% pertahun. Dari keseluruhan areal perkebunan rakyat tersebut, sebagian besar (± 91%) dikembangkan secara swadaya murni, dan sisanya (± 9 %) dibangun melalui proyek-proyek PIR, PRPTE, UPP Berbantuan, Partial, dan Swadaya Berbantuan

    Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (600-800 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (± 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan.

    Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb rubber) dengan kodifikasi “Standard Indonesian Rubber” (SIR), sedangkan lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat. Kapasitas pabrik pengolahan crumb rubber pada saat ini sesungguhnya sudah melebihi dari kapasitas penyediaan bokar dari perkebunan rakyat, namun pada lima tahun mendatang diperlukan investasi baik untuk merehabilitasi pabrik yang ada maupun untuk membangun pabrik pengolahan baru untuk menampung pertumbuhan pasokan bahan baku yang diperhitungkan akan meningkat seiring dengan gencarnya upaya-upaya peremajaan dan perluasan areal kebun karet yang baru.

    Prospek bisnis pengolahan crumb rubber ke depan diperkirakan tetap menarik, karena marjin keuntungan yang diperoleh pabrik relatif pasti. Marjin pemasaran, antara tahun 2000-2006 berkisar antara 3,7%-32,5% dan marjin keuntungan pabrik pengolahan antara 2-4% dari harga FOB, tergantung pada tingkat harga yang berlaku. Tingkat harga FOB itu sendiri sangat dipengaruhi oleh harga dunia yang mencerminkan permintaan dan penawaran karet alam, dan harga beli pabrik dipengaruhi kontrak pabrik dengan pembeli/buyer (biasanya pabrik ban) yang harus dipenuhi. Pada umumnya marjin yang diterima pabrik akan semakin besar jika harga meningkat.

    4. Perkembangan Industri Karet

    Pada awalnya sebagian besar karet alam Indonesia diperdagangkan dalam bentuk karet lembaran yakni karet sit asap (RSS = ribbed smoked sheet), Namun sejak diperkenalkan teknologi karet remah (crumb rubber) pada tahun 1968, produksi karet sit secara dramastis menurun, beralih ke karet remah, tidak kurang dari 90% produksi karet alam nasional setiap tahunnya merupakan karet remah.

    Tingginya permintaan pasar terhadap karet remah untuk dijadikan bahan pembuatan komponen teknik terutama ban kendaraan bermotor, dan ditunjang dengan jaminan ketersediaan bahan bakunya (bahan olah karet), menyebabkan perkembangan teknologi karet remah saat ini sudah sedemikian pesat. Pada tahun 1969 terdapat 65 pabrik, kini sekitar 115 pabrik karet remah yang aktif beroperasi di Indonesia.

    Tuntutan permintaan yang tinggi dari sektor transportasi terhadap karet alam sukar dipenuhi oleh karet lembaran, karena karet jenis ini memerlukan waktu pengolahan yang cukup lama yakni 7-14 hari. Dengan teknologi karet remah, bahan olah karet secara cepat, kurang dari 1 hari dapat diolah menjadi karet mentah yang siap untuk dijual. Selain itu, mutu karet remah dinilai berdasarkan hasil analisis fisiko-kimia, sehingga dianggap lebih “fair ” dibandingkan mutu karet lembaran yang dinilai hanya berdasarkan pengamatan visual dan bersifat subyektif.

    Pada saat karet lembaran masih mendominasi produksi karet alam, petani berperan sebagai penghasil lateks, dan banyak juga yang sekaligus sebagai pengolahnya untuk dijadikan karet sit. Namun sejak penerapan teknologi karet remah, petani umumnya hanya berperan sebagai penyedia bahan olah berupa lump dan slab. Lump merupakan bahan olah karet yang dibuat dari lateks yang digumpalkan menjadi berbentuk mangkok berdiameter sekitar 10-15 cm, sedangkan slab berbentuk balok tipis hingga berukuran sekitar 35cmx50cm, tebal 20 cm.

    Bahan olah karet dari petani dijual ke prosesor akhir yakni pabrik karet remah untuk diolah menjadi karet remah jenis SIR (Standard Indonesian Rubber) 10, atau SIR 20. Pengolahan melibatkan serangkaian proses mulai dari pengecilan ukuran, pencucian, homogenisasi, pengeringan dan pengemasan.

    Sejak dimulainya era karet remah, SIR 20 senantiasa mendominasi jenis karet remah yang diproduksi. Saat ini ekspor karet remah SIR 20 sekitar 85%. Dengan demikian tampak bahwa bahan olah karet lump dan slab sangat penting peranannya sebagai bahan baku untuk pembuatan karet remah. Pada Tabel 2.1 berikut ditampilkan perkembangan volume ekspor karet alam selama beberapa tahun terakhir. Tampak untuk kurun waktu 5 tahun terakhir, karet SIR 20 sangat dominan sebagai produks ekspor, rata-rata porsinya mencapai hampir 90%.

    Tabel Perkembangan Ekspor Karet Alam Menurut Jenis (ribu ton)

    Jenis Mutu 2002 2003 2004 2005 2006 Rataan Proporsi (%)
    Lateks Pekat 8,6 12,5 11,7 4,0 7,9 8,9 0,48
    RSS 44,2 46,2 145,9 334,1 320,1 178,1 9,59
    Total SIR 1437,1 1589,4 1684,9 1674,7 1959 1669,0 89,93
    SIR 5 1,8 74,4 116,1 64,8
    SIR 10 6,.6 59,8 32,2 3,4
    SIR 20 1318,6 1332,3 1524,4 1605,9
    SIR lain 25 122,8 12,1 0,5
    Lain-lain 7,4 12,8 31,6 10,5
    Total 1497,3 1660,9 1874,1 2023,3 2287 1856 100

    V. Sistem Tataniaga Bahan Olah Karet

    • Struktur Pasar Bahan Olah Karet

    Sistem tataniaga karet rakyat memperlihatkan struktur yang sangat kompleks dan mengarah pada bentuk pasar oligopsonistik. Pada sentra-sentra karet rakyat pola swadaya murni, sering ditemukan sejumlah petani karet hanya berhadapan dengan satu orang pedagang karet. Pada kondisi demikian petani karet benar-benar memiliki posisi sebagai price taker. Negosiasi harga tidak pernah terjadi, karena petani tidak memiliki pilihan yang lain.

    Pada kawasan yang telah relatif terbuka, umumnya pada sentra produksi karet rakyat pengembangan dan sekitarnya, telah terjadi pergeseran struktur dari bentuk oligopsonistik mengarah pada monopsonistik ke struktur oligopsonistik yang mengarah pada pasar yang lebih beraing. Sekian petani berhadapan dengan sekian pedagang. Dengan kondisi ini, petani memiliki peluang melakukan negosiasi harga dengan beberapa pedagang. Keputusan petani untuk menjual hasil kebunnya akan lebih rasional dengan mempertimbangkan harga yang akan diperoleh. Namun demikian, pada kenyataan di lapangan, biasanya setiap petani tetap memiliki pedagang langganan tempat melakukan transaksi.

    • Saluran dan Kelembagaan Tataniaga

    Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sebagian besar rumah tangga petani menjual karetnya kepada pedagang perantara, hanya sebagian kecil saja petani yang menjual bokarnya ke pasar atau langsung ke pabrik pengolahan. Fakta ini menunjukkan bahwa saluran tataniaga melalui pedagang perantara masih dianggap lebih ‘menguntungkan’ dibandingkan dengan saluran lainnya.

    Pola umum pemasaran bahan olah karet rakyat

    DAFTAR PUSTAKA

    http://www.kdei-taipei.org/banner/karet.htm

    http://www.sumantry.com/artikel/pengetahuan-dasar/65-proses-pembuatan-karet-sintetik

    http://id.wikipedia.org/wiki/Karet

    INDUSTRI KUNYIT DAN PEMASARANNYA

    2010 - 05.31

    I. SEJARAH SINGKAT

    Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.

    II. URAIAN TANAMAN

    Klasifikasi

    Divisio         : Spermatophyta

    Sub-diviso : Angiospermae

    Kelas            : Monocotyledoneae

    Ordo            : Zingiberales

    Famili         : Zungiberaceae

    Genus         : Curcuma

    Species      : Curcuma domestica Val.

    Deskripsi

    Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm. Batang merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan.

    Jenis Tanaman

    Jenis Curcuma domestica Val, C. domestica Rumph, C. longa Auct, u C. longa Linn, Amomum curcuma Murs. Ini merupakan jenis kunyit yang paling terkenal dari jenis kunyit lainnya.

    III. MANFAAT TANAMAN

    Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu: sebagai bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak, peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah.

    IV. PROSPEK, POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN

    1. Prospek

    Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keragaman hayati, diantaranya adalah biofarmaka yang sangat bermanfaat dalam aspek medis (kesehatan) baik langsung maupun tidak langsung. Saat ini masyarakat semakin menyadari tentang makna kesehatan melalui perbaikan pola konsumsi, akibat trend “back to nature” semakin meningkat, termasuk di Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, perhatian dan upaya memanfaatkan obat alami semakin meningkat dan temulawak merupakan salah satu komoditas yang sangat diandalkan.

    Pada tingkat dunia, nilai perdagangan obat herbal pada tahun 1995 di kalangan masyarakat Uni Eropa mencapai sekitar 6 miliar dolar Amerika dan di Amerika Serikat mencapai sekitar 1,5 miliar dolar. Di Jepang nilai perdagangan obat herbal mencapai sekitar 2,1 miliar dolar Amerika, sedangkan di luar Jepang (RRC, Korea dan sebagainya) mencapai 2,3 miliar dolar. Pada awal abad 21 ini, terjadi peningkatan yang cukup signifikan dalam pertumbuhan obat-obat herbal, terutama di Eropa Barat, RRC, Korea, India, Thailand, dan Malaysia. Menurut data Sekretariat Convention on Biological Diversity (CBD), nilai penjualan global herbal obat pada tahun 2000 di perkirakan mencapai 60 miliar dolar Amerika. Di balik perkembangan potensi yang cukup menggembirakan tersebut, terdapat berbagai permasalahan yang memerlukan solusi secara komprehensif, terpadu dan sistematis, agar perkembangan industri obat herbal dapat berjalan dengan baik.

    Mengingat obat herbal sangat menguntungkan sebagai penghasil devisa seperti diuraikan diatas, maka sudah saatnya pula, Indonesia merintis penanaman temulawak dalam kebun yang cukup luas dilengkapi dengan unit pengolahan sehingga dapat menghasilkan bahan baku yang siap bersaing dengan luar negeri.

    2. Potensi

    Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) merupakan tanaman asli Indonesia dan termasuk salah satu jenis temu-temuan yang paling banyak digunakan sebagai baku obat tradisional. Selain itu temulawak juga banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis, umumnya berkembang biak dengan baik di tanah tegalan sekitar pemukiman terutama pada tanah gembur sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Penyebaran tanaman temulawak di Indonesia di daerah P. Jawa, yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan sedikit tersebar di Kalimantan Selatan.

    Budidaya temulawak ditingkat petani dilakukan pada lahan yang tidak terlalu luas antara 0,05 – 0,1 ha dengan kultivar yang beragam mengakibatkan timbulnya masalah inefisiensi pada usaha tani dan mempengaruhi tingkat produktivitas dan mutu hasil panen.

    Perkembangan produksi temulawak selama 3 tahun terakhir, tertinggii pada tahun 2004 sebesar 16.666.504 ton. Penyebaran areal dan hasil produksi temulawak di Indonesia 3 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini.

    Perkembangan Areal & Produksi Temulawak dari Tahun 2002 – 2004.

    No

    Provinsi

    Areal (m2)

    Produksi (Kg)

    2002 2003 2004 2002 2003 2004
    1 Sumut 20.823 33.843 33.843 46.627 53.654 53.654
    2 Riau 146.376 194.467 143.280 69.742 93.282 252.766
    3 Jambi 29.194 26.018 10.936 60.818 30.503 34.461
    4 DKI Jakarta 1.005 2.535 3.472 1.049 3.860 4.579
    5 Jabar 317.276 276.000 485.905 958.767 502.526 1.528.789
    6 Jateng 2.316.448 3.496.844 3.600.103 2.501.602 4.992.053 6.765.546
    7 Jatim 1.077.307 1.275.644 4.556.396 2.335.185 3.133.644 5.140.245
    8 DI Yogyakarta 1.022.048 1.275.240 1.405.251 991.451 2.521.625 2.375.621
    9 Banten 51.805 103.420 132.788 78.484 189.519 205.071
    10 Bali 10.503 19.302 13.597 18.472 34.225 29.916
    11 Kalbar 7.509 49.596 23.989 5.932 45.893 31.229
    12 Kaltim 1.475 6.635 20.104 1.811 41.989 42.839
    13 Sulut 17.406 25.627 34.371 38.282 55.305 83.915
    14 Sulsel 52.817 55.471 72.380 57.753 55.772 100.248
    15 Gorontalo 3.694 4.309 11.618 6.992 8.134 17.625
    JUMLAH 2.759.240 5.421.511 10.239.495 7.172.969 11.761.984 16.666.504

    Sumber : Pusat Data dan Informasi Departemen Pertanian, 2005

    3. Arah Pengembangan

    Arah pengembangan agroindustri temulawak  menuju pada suatu sistem pertanian perdesaan yang terpadu di 15  provinsi sentra produksi temulawak, sehingga dapat meningkatkan volume ekspor dan daya saing dengan produk luar negeri. Pengembangan agroindustri ini dilakukan secara bertahap pada setiap tahunnya (tahun 2006 – 2009), dengan tolok ukur pengembangan pada unit pasca panen dan pengolahan hasil di perdesaan serta pengembangan distribusi dan pemasaran.


    V. GAMBARAN PELUANG AGRIBISNIS

    Dewasa ini rata-rata kebutuhan bahan baku kunyit untuk industri kosmetik/ jamu tradisional yang ada di Indonesia antara 1,5-6 ton/bulan. Tingkat kebutuhan pasar dari tahun ke tahun semakin meningkat dengan persentase peningkatan 10-25% per tahunnya. Kebutuhan lebih tinggi pada saat menjelang hari-hari besar/hari raya. Permintaan kebutuhan industri di atas sebagian besar berasal dari pasokan para petani. Melihat dari kebutuhan ratarata industri jamu dan kosmetik yang ada di dalam negeri, suplai dan permintaan terhadap kunyit tidak seimbang, apalagi memenuhi permintaan pasar luar negeri. Sementara kebutuhan kunyit dunia hingga saat ini mencapai ratusan ribu ton/tahun. Sebagian kecil dari jumlah tersebut dipenuhi oleh negara India, Haiti, Srilanka, Cina, dan negara-negara lainnya. Indonesia kini sudah selayaknya membudidayakan tanaman ini, terutama dengan sistem monokultur/tumpang sari sehingga produksi yang dicapai lebih cepat dan tinggi, agar kebutuhan minimal dalam negeri terpenuhi secara optimal. Walaupun di daerah Jawa Tengah kini sudah diupayakan system penanaman tersebut, juga diperhitungkan dari sudut produktivitas dan jalur tata niaganya, namun luas lahan tanam yang ada belum maksimal untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri yang mencapai ratusan ribu ton/hanya.

    Indonesia sebenarnya mulai mengekspor kunyit. Negara yang dituju antara lain Asia (Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Jepang), Amerika, dan Eropa (Jerman Barat dan Belanda). Pada tahun 1987, nilai ekspor tanaman kunyit Indonesia menyumbangkan devisa yang besar bagi negara. Namun pada tahun berikutnya jumlah ekspor tersebut mulai mengalami penurunan dan sempat terhenti pada tahun 1989. Negara India, Cina, Haiti, Srilanka, dan Jamaika kini mulai membudidayakan tanaman kunyit secara besar-besaran dan mereka sudah dapat mengestimasikan produksinya hingga +20 ton/ha. Dari segi jalur tata niaga, kunyit tergolong efisien, karena dari petani langsung disalurkan ke pedagang pengumpul, lalu ke pabrik/pedagang besar. Maka harga yang diterima petani mencapai 70% dari harga tingkat pabrik, dimana 30% merupakan marjin tata niaga yang terdiri atas 12% marjin biaya dan 18% merupakan marjin keuntungan. Berdasarkan kondisi ini, tata niaga kunyit bisa ditingkatkan lagi, karena marjin terbesar berada pada keuntungan pedagang. Peluang agribisnis kunyit di Indonesia dapat dikembangkan. Kenyataan ini dilandaskan pada tingkat produktivitas, jalur tata niaga, dan kebutuhan kunyit dari berbagai industri yang membutuhkannya.

    VI. STANDAR PRODUKSI

    A. Ruang Lingkup

    Standar produksi meliputi: jenis dan standar mutu, cara pengambilan contoh dan syarat pengemasan.

    B. Klasifikasi dan Standar Mutu

    Standard mutu temulawak untuk pasaran luar negeri dicantumkan berikut ini:

    1) Warna : kuning-jingga sampai coklat kuning-jingga

    2) Aroma : khas wangi aromatis

    3) Rasa : mirip rempah dan agak pahit

    4) Kadar air maksimum : 12 %

    5) Kadar abu : 3-7 %

    6) Kadar pasir (kotoran) : 1 %

    7) Kadar minyak atsiri (minimal) : 5 %

    C. Pengemasan

    Kunyit disajikan dalam bentuk rimpang utuh, dikemas dengan jala plastic yang kuat, dengan berat maksimum 15 kg tiap kemasan, atau dikemas dengan keranjang bambu dengan berat sesuai kesepakatan anatara penjual dan pembeli. Dibagian luar dari tiap kemasan ditulis, dengan bahan yang tidak luntur, jelas terbaca antara lain:

    • Produk asal Indonesia
    • Nama/kode perusahaan/eksportir
    • Nama barang
    • Negara tujuan
    • Berat kotor
    • Berat bersih
    • Nama pembeli

    VII. PEMASARAN TEMULAWAK

    1. Pengembangan temulawak terkonsentrasi pada 15 propinsi

    Pengembangan agribisnis temulawak saat ini terkonsentrasi pada 15 (lima belas) propinsi, potensi ini masih terus dikembangkan mengingat hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki agroklimat yang cukup baik bagi pengembangan tanaman tersebut. Berdasarkan potensi kesesuaian lahan (Puslitan) luas areal lahan dengan agroklimat yang cocok untuk mengembangan temulawak mencapai 10.548.033 ha. Di Jawa tersebar pada 6 (enam) propinsi antara lain Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah D.I. Yogyakarta dan Jawa Timur dan Provinsi Kalimantan Selatan. Pelaku usahatani temulawak terdiri dari 2 (dua) kategori yaitu usaha tani rakyat dan entrepreneur. Sebagaimana usaha tani tradisional temu-temuan lainnya, usahatani temulawak rakyat pada umumnya diusahakan di lahan-lahan yang sempit bahkan di pekarangan dengan lokasi yang tersebar

    2. Produk dijual dalam bentuk glondongan

    Kebutuhan akan temulawak untuk industri dalam negeri mengalami peningkatan, pada tahun 2000 kebutuhan mencapai 6.813 ton/th, meningkat di tahun 2001 sebesar 7.170 ton/th, selanjutnya pada tahun 2002 mengalamii peningkatan hingga mencapai 8.104 ton/th. Peningkatan kebutuhan bahan baku ini berjalan seiring dengan semakin banyaknya jumlah industri jamu, farmasi dan kosmetika. Pada tahun 2000 kebutuhan tanaman temulawak (yang merupakan tanaman terbesar ke 3 setelah tanaman lempuyang dan jahe) untuk lima industri jamu terbesar mencapai 38.600 kg/bln atau 463.200 kg/tahun.

    Untuk pemasaran dalam negeri, rimpang temulawak dijual secara gelondong dengan memisahkan rimpang cabang dari rimpang induknya atau tanpa pemisahan rimpang sama sekali. Sedangkan pemasaran ke luar negeri rimpang temulawak diolah terlebih dahulu dengan cara pengeringan dalam bentuk simplisia.

    Pemasaran temulawak di sebagian wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah bermitra dengan pengusaha jamu. Walaupun demikian ada pula yang secara langsung memasarkan ke pasar tradisional di tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten, bahkan melalui pedagang pengumpul dapat menembus pasar induk di tingkat Propinsi.

    Kemitraan terbentuk antara perusahaan Jamu skala Nasional dengan para petani produsen, mengingat tidak semua pasokan dapat dipenuhi oleh perusahaan Jamu tampa memperolehnya dari petani produsen, bahkan pada beberapa perusahaan Jamu Nasional untuk beberapa bahan baku tertentu kadangkala perlu mengimpor dari luar negeri, seperti RRC, India dan Vietnam.

    VIII. KENDALA PEMASARAN TEMULAWAK

    1. Belum adanya dukungan yang optimal dari pemerintah

    Belum adanya kebijakan yang terpadu antara sektor pertanian dengan sektor industri, sektor iptek, dan kesehatan dalam rangka membangun agroindustri biofarmaka dan menumbuhkembangkan pelaku usaha tanaman obat, khususnya temulawak. Lebih lanjut, Pemerintah (Pusat dan Daerah) dan dunia usaha belum mempunyai dan komitmen yang kuat untuk membangun agroindustri biofarmaka yang berdaya saing tinggi.

    2. Keterbatasan produksi untuk memenuhi permintaan perusahaan jamu

    Produksi temulawak masih sangat terbatas akibat keterbatasan pemanfaatan pelaku usaha tanaman  obat atau IRT / Pengusaha Jamu. Penerapan teknologi budidaya temulawak masih belum mengikuti GAP (Good Agriculture Practices) / GFP (Good Farming Practices), sehingga dapat terjadi sejenis bahan baku mempunyai keragaman kualitas satu dengan lainnya, sehingga produk yang dihasilkan jauh dari memuaskan baik dari aspek mutu (produk dan packaging) maupun kuantitas.

    3. Penerapan Pasca panen dan pengolahan yang baik belum optimal

    Pelaku usaha tanaman obat atau IRT/Pengusaha Jamu belum menerapkan teknologi pasca panen dan pengolahan secara profesional karena belum mendapat bimbingan secara intensif oleh Dinas terkait, tertutama belum adanya pedoman GHP (Good Handling Practices) dan GMP (Good Manufacturing Practices) yang dapat dipakai untuk usaha pengolahan berbagai komoditas. Sebagai konsekuensinya maka pemasaran masih  mengalami kendala masalahj dan permasalahan terutama ekspor, akibat lemahnya daya saing produk.

    4. Industri Pengolahan Tradisional

    Mayoritas Industri Pengolahan di Indonesia masih dalam bentuk tradisional, sehingga mempengaruhi kompetisi daya saing produk, khususnya di luar negeri. Keterbatasan pengetahuan beberapa pelaku usaha IRT, mengakibatkan adanya pemakaian bahan-bahan terlarang untuk industri, sehingga memperparah keberadaan kondisi IRT tersebut. Sementara itu, industri pengolahan Jamu yang relatif besar atau skala Nasional,  masih belum mempunyai komitmen untuk menularkan pengetahuan kepada pelaku usaha skala IRT.

    5. Keterbatasan Data Base

    Kendala Industri pengolahan skala Nnasional dan IRT dalam mengembangkan usaha mereka,  antara lain disebabkan tidak tersedianya “Data Base” tanaman biofarmaka yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga sulit mengetahui kapasitas produksi tanaman obat di Indonesia, termasuk temulawak.

    6. Kemitraan Sulit Berkembang.

    Kemitraan merupakan suatu kebijakan yang diharapkan dapat berkembang, sehingga pelaku usaha IRT suatu saat dapat menjadikan bisnis mereka setaraf Nasioinal. Namun, berdasarkan kerjasama yang difasilitasi oleh Ditjen BPPHP pada tahun 2003, ternyata dari 15 kerjasama kemitraan hanya berjalan sekitar 4 buah.  Secara umum, dapat dikatakan, kemitraan tersebut tidak dapat berkembang dengan baik, akibat satu dan lain hal.

    7. Sistim Distribusi, Infrastruktur dan Sarana Transportasi belum Kondusif.   

    Penyebaran sentra produksi dengan skala kecil kurang menguntungkan agribisnis temulawak karena mengakibatkan biaya transportasi tinggi. Kondisi inii dipengaruhi oleh kurang memadainya infrastruktur pada hampir sebagian besar sentra produksi, seperti : Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, selain hal tersebut, alat transportasi yang tidak memadai memperburuk usaha pengolahan produk biofarmaka. Sehingga temulawak, belum mampu bersaing dengan temulawak impor  yang relatif lebih rendah harganya.

    8. Lemahnya Akses Sarpras dan Teknologi Lepas Panen dan Pengolahan

    Keterbatasan penguasaan sarana dan prasarana teknologi pada sebagian besar pelaku usaha berdampak pada keterbatasan akses terhadap teknologi pasca panen dan pengolahan. Hal ini menciptakan sistim pasar yang tidak adil (”fair”) akibat penguasasan segelintir penguasa kuat dalam pasokan, teknologi pasca panen dan pengolahan serta pemasaran sehingga tercipta ”oligopsoni” . Kondisi tersebut diperparah dengan keberadaan sebagian besar petani belum memahami dan menerapkan GHP dan GMP dalam usaha pengolahan mereka untuk memperbaiki mutu produk.

    9. Lemahnya akses terhadap Modal

    Petani produsen dan pelaku usaha pengolahan umumnya mengalami keterbatasan terhadap modal, sehingga upaya perbaikan kualitas menjadi kendala. Lebih lanjut akses terhadap teknologi menjadi sangat terbatas serta  beberapa teknologi yang tersedia dari Lembaga Penelitian mengalami distorsi sehingga tidak sampai kepada petani secara utuh.

    Ketersediaan “Skim Kredit” dengan bunga rendah dari lembaga-lembaga keuangan di tingkat petani hingga saat ini belum terwujud, sehingga upaya pebaikan teknologi yang mengarah keperbaikan mutu belum berjalan akibat keterbatasan modal kerja.

    10.  Penelitian manfaat temulawak secara klinis belum optimal

    11.  Belum terintegrasinya program pengembangan temulawak antar sektor (departemen) terkait

    12.  Peluang pasar internasional, terutama ke Korea Selatan, belum optimal dikembangkan

    DAFTAR PUSTAKA

    http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/kunyit.pdf

    http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:LeqtHPE3WW4J:agribisnis.deptan.go.id/xplore/view.php%3Ffile%3DPENGOLAHAN-HASIL/PENGOLAHAN%2520HASIL/ROADMAP%2520horti/RM%2520TOR%2520TEMULAWAK%2520rev.doc+pemasaran+temulawak&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

    Hello world!

    2010 - 05.27

    Welcome to Blogs Unpad | Mari Kita Menulis. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!