0

TEMBANG SUNDA DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI SENI

Posted by samsonbuhun on May 25, 2012 in Uncategorized |

TEMBANG SUNDA DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI SENI

dilihat dari Pengistilahan dan Simbolisasi

 

OLEH :

SAMSON CMS.,M.I.Kom.

 

disampaikan pada Seminar Bulanan Program Studi Sastra Sunda

Fakultas Ilmu Budaya Unpad Jatinangor, kamis 09 Februari 2012

 

  1. I.                    PENDAHULUAN

Belum juga kakawihan atau kawih memiliki pengertian yang sama dalam pandangan masyarakatnya, muncul istilah baru yaitu tembang Sunda, yang seakan meeliminasi istilah kakawihan atau kawih. Banyak ragam dalam seni suara Sunda  Hingga saat ini para ahli karawitan Sunda beserta komunitas pendukungnya, belum bisa menyimpulkan sebuah definisi konkret apa yang dimaksud tembang Sunda. Keputusan Musyawarah Tembang Sunda 1962 yang antara lain berbunyi “netepkeun istilah Tembang Sunda pikeun sakabeh tembang nu aya di Pasundan“ (Sukanda, 1977:281). Pengertian tembang hampir di setiap kamus ada kesejalanan. “Anton Mulyono misalnya, tembang adalah: (1) nyanyi [an]; syair yang diberi lagu (untuk diyanyikan). (2) puisi. Satjadibrata: tembang adalah nyanyian (menurut aturan pupuh atau sekar); nembang (mamaos): menyanyi, tetembangan: bernyanyi-nyanyi. Wojowasito: tembang (recited) poetry singing; menembang, to sing” (Sukanda, 2000:63).  Dengan demikian tembang bermakna, pertama adalah bernyanyi, dan kedua adalah aturan pembuatan puisi atau yang disebut pupuh. Bandungan dalam pengertian bahasa Sunda adalah “regepkeun, titenan, merhatikeun (memperhatikan). Tembang Bandungan dapat diartikan tembang yang menuntut diperhatikan, kadariaan atau keseriusan bagi siapa saja yang akan meminatinya” (Iskandar, 2006:65). Namun pertanyaannya, apakah bentuk seni yang lain tidak memerlukan perhatian dll? Bandungan dalam pemahaman penggagas adalah “Bandung sebagai kota Monumental yang mewujudkan hasil karya tembang Bandungan – Bandung anu jadi indung beurang-na, Bandung anu marajian gelar-na” (Iskandar 2006:65).

Sejujurnya, keberangkatan mengangkat topik Tembang Sunda Bandungan ini, berawal dari ketertarikan secara pribadi atas karya tersebut. Dalam pandangan saya, karya Bandungan ini memiliki daya tarik tertentu, sehingga banyak khalayak yang menyukai produk karya seni tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa fakta diantaranya: beberapa lagu dari karya Bandungan ini mendapatkan apresiasi dari pendengar dalam siaran RRI program acara lagu-lagu parahyangan. Saya sendiri melakukan survey, beberapa kali saya mendendangkan salah satu lagu dari dari karya Bandungan ini, dan tanggapannya sangat memuaskan, walaupun memang tidak semua karya lagunya tersebut disukai oleh khalayak, tetapi paling tidak, dari sejumlah karya lagunya, terdapat beberapa lagu yang mendapatkan respons secara positif. Kemudian berdasarkan hasil wawancara dari beberapa tokoh karawitan yang dianggap kredibel, mereka menganggap bahwa karya Bandungan ini memiliki kualitas. Jika demikian, mengapa terjadi polemik? Bahkan polemiknya terjadi secara berkepanjangan dan lebih bersifat personal? Dimanakah letak kesalahannya?

Inti dari komunikasi adalah persepsi yang dipengaruhi oleh sistem sosial budaya dimana individu berada, kemudian terjadi kekeliruan dan kegagalan dalam persepsi tersebut. Persoalan pokok dalam komunikasi adalah statement atau sebuah pernyataan dari komunikator (pemberi pesan) yang dipublish atau disampaikan kepada pihak lain sebagai penerima pesan atau dalam komunikasi disebut komunikan. Kemudian kajian komunikasi seni lebih kepada bagaimana estetika dari masing-masing bentuk seni tersebut tersampaikan, sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh komunikan. Fenomena tembang Sunda Bandungan ini persoalannya adalah pernyataan yang dipublish oleh pengagas baik melalui komunikasi interpersonal, maupun komunikasi bermedia. Sehingga kajian yang diamati pada makalah ini tidak pada wilayah kreatifitas dan tataran teknis, tetapi lebih kepada bagaimana terjadi kekeliruan dan kegagalan persepsi? Yang dilihat dari pendekatan bagaimana cara melakukan komunikasi terutama dalam mem-publish karya Bandungan tersebut.  Dari makalah ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai permasalahan-permasalahan komunikasi seperti tersebut di atas beserta solusinya, sehingga kelak diharapkan komunikasi bisa efektif, efisien dan tentunya komunikatif.

 

 

  1. II.                  PEMBAHASAN

2.1 Perspektif Umum

William Albig (1939), mengemukakan bahwa komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang berarti antara individu-individu. Kemudian Berlson dan Steiner (1964), juga merumuskan bahwa komunikasi sebagai penyampaian informasi, idea, emosi, keterampilan dan seterusnya, melalui penggunaan simbol, angka, grafik dan lain-lain. Demikian juga Astrid S. Susanto (1978), menjelaskan bahwa komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti atau makna. Maka komunikasi lagu yang dimaksud dalam konteks ini adalah komunikasi yang menggunakan lagu (berikut makna dan tanda yang ada didalamnya) sebagai medium penyampainya. Lebih lanjut dalam dunia kesusastraan dikenal pula tentang pengelolaan pesan, terutama teks (puisi/prosa) ketika direka bentuk melalui berbagai media, lagu salah satunya yang dikenal dengan “Sastra Lagu”.

 

Komunikasi lagu terjadi adalah ketika terbangunnya harmoni estetika baik verbal (korelasi tematis) maupun nonverbal (korelasi musikal). Hipotesanya adalah ketika pesan dan musikal menyatu (harmoni dalam kesatuan pesan) sehingga terjadi intensitas komunikasi atau istilah Ubun R. Sah adalah yang disebut komunikasi lagu yaitu komunikasi inten  yaitu terbangunnya harmoni dari aspek logika/rasionalitas dengan aspek rasa/perasaan/emosional yang meliputi kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual[1], sehingga mampu memberikan sentuhan kedalaman emosi[2]. Seperti halnya komunikasi lagu Michael Jackson yang mampu merubah sikap dan perilaku penggemarnya, tetang kritik sosialnya melalui alunan lagunya, kemudian juga John Lenon dengan pemahaman politiknya ketika terjadi perang Vietnam, ia mampu merubah paradigma mengenali imperialisme Barat melalui komunikasi lagunya. Baik Jackson maupun Lenon pesannya diapresiasi penggemarnya hingga penggunaan pada kostum yang mereka pakai baik pentas maupun kesaharian.

Sah, menuturkan bahwa komunikasi lagu disampaikan oleh penciptanya bukan hanya sekedar mengkomunikasikan kejadian atau peristiwa yang dialaminya, tetapi lebih jauh ia ingin mengkomunikasikan makna yang ada di dalam peristiwa tersebut. Oleh karenanya, pencipta bukan hanya  sekedar memusikalisasi puisi atau pesan, atau mempuitisasikan sebuah musikal, tetapi  lebih jauh ingin mengemukakan totalitas kedalaman jiwa hasil dari perenungannya[3]. Bukan hanya sekedar terjadinya sebuah komunikasi yang komunikatif, tetapi komunikasi dalam lagu terjadi kalau makna /tema/pesan dari lagu tersebut dapat tersampaikan, dihayati, dimaknai, sehingga dapat merubah sikap dan perilaku, maka komunikasi tersebut dianggap berhasil. Ketika perilaku komunikan berubah setelah dilakukannya komunikasi, maka di situlah hakikat komunikasi lagu terjadi, yaitu dengan terciptanya sebuah nilai perubahan. Perubahan itu bisa terjadi, apabila kita bisa peka terhadap sesuatu yang dianggap elementer dalam komunikasi, misal; tidak semua orang mau menyediakan sarana komunikasi yang baik, menyediakan proses komunikasi yang baik, dan seterusnya, padahal ini merupakan dasar yang elementer dalam komunikasi.

Komunikasi lagu adalah proses penyampaian pesan oleh penyaji dalam hal ini pemain musik dan atau penyanyi melalui media lagu yang disampaikannya, baik secara langsung (pementasan) maupun tidak langsung (kaset/DVD/mp3/mp4) kepada pendengar, pemirsa atau penonton (pementasan) baik secara aktif maupun pasif. Dengan demikian, sehingga Secara umum pesan lagu dapat diketahui melalui beberapa komponen, yaitu : lirik, musik dan penyaji, dan bentuk pagelarannya. Maka melalui unsur-unsur tersebut, idealnya akan terbangun harmoni estetika baik yang bersifat verbal yang berkorelasi secara tematis maupun nonverbal yang berkorelasi secara musikal. Maka komunikasi lagu yang dimaksud dalam makalah ini adalah komunikasi yang terjadi dalam lagu tembang Sunda Bandungan.

Seni tembang Sunda Bandungan ini merupakan salah satu bentuk dari seni pertunjukkan, seni pertunjukan erat sekali hubungannya dengan komunikasi, karena pada hakikatnya kesenian adalah berkomunikasi. Artinya melalui medium seni, seniman sebagai pencipta maupun penyaji, melalui media kesenian tersebut, dia mengungkapkan  isi hati, idea, gagasan, cipta dan karsa dalam karya yang dibuatnya atau direpertoarnya. Apa lagi jika si seniman/penyaji mampu empati terhadap lagu (karya seni) yang dibawakannya, sehingga dia tidak hanya berkesenian tetapi dia pun harus mampu berbicara melalui medium kesenian ini, maka pesan seni tersebut akan mudah dimengerti oleh orang lain. Hal tersebut bisa dilihat seni dari fungsinya, yaitu : seni berfungsi sebagai ritual, seni berfungsi sebagai propaganda dan seni berfungsi sebagai hiburan, ketiga fungsi seni ini pada akhirnya bermuara pada wilayah komunikasi.

Bandungan dalam pengertian bahasa Sunda adalah “regepkeun, titenan, merhatikeun (memperhatikan). Tembang Bandungan dapat diartikan tembang yang menuntut diperhatikan, kadariaan atau keseriusan bagi siapa saja yang akan meminatinya” (Iskandar, 2006:65). Komunikasi dalam tembang Sunda Bandungan harus komunikatif dan harus holistik pemahamannya, sehingga sesuai dengan tujuan pencipta. Pemahaman secara komprensif dari pelaku (penyaji) atas pesan lagu yang di embannya mutlak harus dikuasai. Karena kompeteni penyaji sebagai komunikator, akan membangun kepercayaan publik atas kredibilitas komunikator di mata para komunikannya.  Seni tembang Sunda Bandungan merupakan produk kesenian baru, dan dianggap sebagai “genre anyar” dalam perspektif seni suara Sunda. Banyaknya opini negatif ketimbang positif seiring kelahirannya, hal ini terjadi karena ruang lingkup pemahaman kelokalan yang terlalu tinggi, sehingga kebaruan sulit untuk bisa diterima, karena kebaruan sering dipandang sebagai sebuah ancaman budaya.

Budaya berpikir konvensi yang mewarisi seluruh masyarakat pendukung seni suara Sunda, merupakan kendala besar bagi para kreator diberbagai jamannya. Budaya konvensi ini adalah: pertama, masyarakat pendengar (aktif/pasif) cukup di rasa puas ketika mereka dapat menikmati, mengerti tidaknya terhadap pesan lagu beserta unsur-unsurnya tidak dipersoalkan kemudian. Kedua, perspektif pemahaman atas pandangan madzhabnya, menjadi sebuah legitimasi kelegalan, hal ini sering menjadi konflik internal diantara masyarakat pendukung kesenian tersebut.  Ketiga, unsur euceuk atau cenah (informasi berdasar asumsi subjektif) guru atau orang yang dianggap panutan, tidak difilterisasi sehingga tidak ada proses analisis lanjutan dan informasi tersebut dianggap benar oleh mereka yang menerimanya. Tidak jarang perbedaan persepsi berlanjut menjadi sebuah “permusuhan” baik secara personal, kelompok dan kelembagaan. Bahkan perang perspektif ini beranjut pula melalui media massa baik cetak maupun elektronik (data terlampir), tak terkecuali karya lagu Bandungan. Berikut beberapa catatan peristwa dalam seni suara Sunda yang dalam kemunculannya selalu ada masalah, seperti:

-          Bentuk  rumpaka Sunda pada awalnya adalah prosa, tahun  1940-1960 muncul kembali trend[4] rumpaka dengan wangun (bentuk) “dangding” satu sama lain mengklaim bahwa kelompok lama menyatakan bahwa rumpaka bentuk dangding dianggap negatif, begitu pula kelompok baru menyatakan sebaliknya.

-          Masuknya perempuan dalam seni tembang Sunda Cianjuran yang semula perempuan difungsikan sebagai panyelang/panambih (pengganti rehat), berkembang dan pada akhirnya perurmpuan mendominasi sehingga seni tembang Sunda Cianjuran yang semula milik laki-laki, sekarang menjadi terbalik, ini pun menjadi masalah.

-          Tahun 1996, Ubun R. Syah dkk., membuat pembaharuan dalam kreatifitas seni tembang Sunda Cianjuran, melalui karya lagu panambihnya, ini pun tidak luput dari tanggapan negatif dari masyarakat pendukung tembang Sunda Cianjuran walaupun pada akhirnya karya terebut dipikalandep (diminati) oleh seniman generasi seterusnya.

-          Tahun 2006, seni tembang Sunda Bandungan menambah deretan panjang polemik dalam seni suara Sunda, dari kemunculannya, kesenian ini masih menjadi perbincangan alot di masyarakat seni tembang Sunda.

-          Terakhir tahun 2009-2010 muncul lagu yang disebut sekar Anyar, bahkan kehadiranya seakan menjadi bom waktu yang telah meledak, polemik muncul  berujung pada perang syaraf dengan menggunakan sarana media massa. Persetruan berujung pada sikap masing-masing kelompok berperang dengan memperlihatkan kekuatan, kompetensi dan kapasitas, yang berujung kisruh saling menghina satu sama lain dan mengklaim masing-masing kubu benar. Anehnya persetruan berujung dengan munculnya Universitas Padjadjaran yang menjadi kambing hitam. Hal ini berkait sehubungan Unpad menjadi fasilitator penyelenggara pasanggiri tembang Sunda DAMAS  ke-50 Unpad dianggap berpihak atas karya anyar tersebut.

Sifat elektif dari ilmu komunikasi memberikan peluang bahwa kesenian dapat menjadi objek kajiannya, tak terkecuali masalah dalam komunikasi lagu.  Fisher mengatakan bahwa:  “Tidak ada persoalan sosial dari waktu ke waktu yang tidak melibatkan komunikasi. Justru itu dari waktu ke waktu manusia dihadapkan dengan masalah sosial (permasalahan baik yang datangnya dari antarmanusia, juga alam semesta), yang penyelesaiannya (justru) menyangkut komunikasi” (Fisher dalam Arifin, 2003:20). Setidaknya semua bentuk kesalah pahaman dalam kehidupan ini selalu bermuara pada komunikasi, sehingga acapkali komunikasi menjadi “kambing hitam” dari berbagai masalah tersebut. Begitu juga permasalahan dalam dunia seni (kesenian) khususnya seni pertunjukkan.

Terjadinya polemik, setiap kali adanya perkembangan seni yang terbentuk dalam sebuah kreatifitas baik karya baru ataupun sekedar merepertoar dari karya lama, selalu ada penolakan dari masayarakat pendukungnya dengan dalil yang sangat subjektif, maksudnya didasaran pada pandangannya yang tidak bersandar pada prinsip dasar tradisi kesenian tersebut. Padahal menurut Shibutani dan Kwan bahwa “akurasi adat/tradisi yang dimiliki, karena apa yang dibolehkan dan yang tidak dibolehkan bergantung sepenuhnya pada konsep kolektif yang dimiliki tradisi, pola tradisi demikian adalah merupakan produk komunikasi” (Shibutani dan Kwan, 1965). Pertanyaannya adalah, bagaimana konsep kolektif yang dimilik tradisi tembang Sunda?

 

2.2  Perspektif Khusus

2.2.1        Pendekatan Istilah 

Perspektif pengistilahan yang kadung disepakati secara alami, sebut saja misalnya, sebutan tembang Sunda yang identik dengan Cianjuran, perlu kiranya diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman secara terus-menerus.  Jika mengikuti kesepatan hasil pertemuan ilmiah Seni Cianjuran yaitu. Salah satu butir keputusan Seminar Tembang Sunda 1976 berbunyi: “Agar tembang Sunda lainnya seperti Ciawian, Cigawiran, Cirebonan, Garutan dsb. serta bentuk hidangan beluk dan wawacan dll., menjadi objek penyelidikan, di samping ragam Cianjuran”. Kemudian selain keputusan Musyawarah Tembang Sunda 1962,[5] berikut beberapa pendapat mengenai pengertian tembang Sunda, diantaranya :

  1. Tembang Sunda adalah salah satu jenis kesenian yang merupakan salah satu kelompok dari karawitan Sunda. Dikatakan sebuah kelompok karena dapat dibedakan dari kelompok lainnya yang masih termasuk dalam karawitan Sunda (Wibisana dkk., 1976:1&2).
  2. Tembang Sunda nya eta sekar irama merdika: maksudna tembang nu panjang-pondokna sora sareng wirahma sakarep-karep numutkeun raosna priyangga, numutkeun kangeunahan nu tembang. (tembang Sunda adalah sekar irama merdeka: maksudnya bahwa panjang-pendeknya suara serta iramaya dinyanyikan seenaknya, berdasarkan enaknya penembang (Kusumadinata,1969:6).
  3. Tembang Sunda adalah tembang yang memiliki komponen-komponen yang terdiri dari rangkaian sejumlah nada-nada. Dapat berkedudukan sebagai “musik seni” dan dapat pula berkedudukan sebagai “musik fungsional” tergantung kepada sifat dan fungsi dalam pagelarannya. Jelasnya, tembang Sunda adalah merupakan karya musik yang penyajiannya didominir oleh seorang solist. Arransement untuk solist terletak pada unsur-unsur senggol atau ornament (Koswara, 1976:5,12 dan 15).
  4. Tembang Sunda adalah jenis seni suara yang disebut sekar irama merdika, tidak terikat oleh ketukan tertentu dan wiletan, pada umumnya dibawakan secara solo (Sukanda dalam Rohayani, 1986:3).
  5. Tembang Sunda adalah karawitan vokal yang berirama bebas dan digolongkan kepada kamermuziek, artinya pagelaranya tidak ditempat terbuka, melainkan di tempat tertutup (Supandi, 1977:9).
  6. Tembang Sunda termasuk pada golongan polymetraschematika (anekaswara), maksudnya bahwa dalam tembang Sunda banyak vokal (engang) hanya dibentuk oleh satu suara saja, walaupun bervariasi tetapi nadanya itu-itu juga (Salmun dalam Wiratmadja, 1964:7).
  7. Tembang Sunda adalah seni suara (vokalia) Sunda yang rumpakanya (kata-kata lagunya) dibuatberdasarkan bentuk puisi (pupuh) tradisional Jawa, yaitu telah ditentukan jumlah barisnya  dalam satu kuplet (pada), jumlah suku katanya dalam tiap-tiap akhir baris (padalisan), dan telah ditentukan bunyinya pada tiap-tiap akhir barisnya. Jelasnya, tembang Sunda ialah sejumlah lagu-lagu Sunda yang biasa dipergunakan untuk membawakan dangding (puisi yang memakai bentuk pupuh tradisional Jawa) (Roekasah dalam Setiawan, 1988:25).
  8. Tembang Sunda adalah musik urban di mana musik plural sebagai sumber, dengan versi melodi, dan etnis yang diwarnai oleh nilai-nilai tradisi berdasarkan adlibitum, lokasi dan kronologi (Supandi, 1976:3).

Pengertian tembang hampir di setiap kamus ada kesejalanan. “Anton Mulyono misalnya, tembang adalah: (1) nyanyi [an]; syair yang diberi lagu (untuk diyanyikan). (2) puisi. Satjadibrata: tembang adalah nyanyian (menurut aturan pupuh atau sekar); nembang (mamaos): menyanyi, tetembangan: bernyanyi-nyanyi. Wojowasito: tembang (recited) poetry singing; menembang, to sing” (Sukanda, 2000:63).  Dengan demikian tembang bermakna, pertama adalah bernyanyi, dan kedua adalah aturan pembuatan puisi atau yang disebut pupuh.

2.1.1 Istilah Tembang

Pengertian atau definisi tentang tembang ini, perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud tembang yang terpenting bersifat freemeter, atau tembang diartikan sebagai bentuk nyanyian freemeter atau dalam kata lain bebas dari ketukan yang konstan. Tetapi bukan berarti tidak memiliki irama. Jadi kata kuncinya adalah freemeter, artinya jenis-jenis seni suara yang bersifat freemeter itu merupakan kategori tembang, seperti halnya Ciawian, Cigawiran, Cirebonan, Garutan, beluk, dll yang sejenis. Tradisi penamaan sebuah karya, penamaan istilah “tembang Bandungan”, yang berwal dari kata “tembang” dan kata “Bandungan”. Tembang dalam kamus diartikan sebagai; “sekar, basa dangding anu make aturan pupuh” (LBSS.1980:521). Jika menganut pengertian kamus tersebut, tembang berarti, seni vokal yang bahasa rumpaka-nya menggunakan atruran-aturan tertentu, seperti aturan pupuh atau yang dikenal dalam karawitan Sunda dengan bangun kalimat oktasilabik, yaitu rumpaka yang setiap lariknya memiliki pola guru lagu dan guru wilangan , seperti yang terdapat dalam pantun, sisindiran, pupujian, kakawihan dll. Dalam perspektif karawitan, tembang diartikan sebagai lagu-lagu yang irama merdika, atau tidak bermetrum.

Pengistilahan “tembang” dan “Bandungan” dalam karya tembang Bandungan ini, telah berkontibusi terjadinya miss understanding di kalangan seniman karawitan  Sunda, terutama seniman tembang Sunda. Karena istilah “tembang” dan “Bandungan” telah memiliki konotasi tertentu di masyarakatnya. Sehingga secara empirik persepsi masyarakat seniman dengan kreator tembang Bandungan berbeda pandangan. Sehingga dari pengistilahan pun cenderung memberi perluang terhadap terjadinya masalah persepsi. Istilah tembang dalam karya Bandungan ini dimaknai sebagai seni tembang Sunda dari tatar Bandung, yang memiliki bentuk paduan konvensi tembang dan kawih Sunda. “Konsep estetika tembang Bandugan berangkat dan bertitik tolak dari keunggulan “ruh” (daya hidup) dan “tamperan rasa” yang menjadi esensi tembang Sunda Cianjuran yang dipadukan dengan sifat “keterbukaan dan keluasan musikalitas” dari kawih Sunda. Keunggulan dari kedua genre musik Sunda ini sengaja dipadukan menjadi sebuah harmoni khas tembang Bandungan” (Iskandar, 2006:65).

Konsistensi karya tembang Bandungan dengan pengistilahan yang disandangnya yaitu “tembang” dengan persepsi masyarakat karawitan Sunda terhadap istilah tembang yang telah membudaya, tampaknya tidak terjadi harmonisasi dari keduanya. Ketika karya Bandungan mengistilahkan dirinya “tembang” artinya dalam karya Bandungan ini setidaknya memiliki simbol-simbol genre “tembang”.  Sehingga muncul kontroversi dimasyarakat, justru karena terdapat embel-embel kata/istilah tembang-nya.  Karena jika karya itu bergenre tembang, seharusnya memiliki ciri yang menunjukkan bahwa itu tembang.  Dengan demikian persepsi masyarakat tidak sejalan dengan pemikiran krator “ah eta mah lain tembang”. Indikator yang melekat pada istilah tembang diantaranya: mupuh atau prosa, dongkari (ornamentasi vokal lagu) yang sudah menjadi struktur baku pada setiap lagunya.

2.1.2 Istilah Bandungan

Penamaan istilah “bandungan” pada tembang Bandungan menurut pengagasnya dikarenakan adanya keterkaitan yang sangat erat dengan latar belakang kehidupan dan kondisi lingkungan Tatar Bandung sebagai kota pemberi inspirasi kepada pengagas. Jadi kata “bandung” disini tidak mengklaim dirinya sebagai seni khas Bandung. Akan tetapi bandung dimaknai sebagai kota monumental yang mewujudkan karya ini. “Bandung anu jadi indung beurang-na, Bandung anu marajian gelar-na”. Sesungguhnya ini adalah persoalan komunikasi, yaitu persoalan statement dan persepsi, dimana keduanya ini akan mengalami noise (gangguan-gangguan komunikasi). Yang dikenal dengan tujuh hambatan komunikasi meliputi hambatan; linguistik, semantik, sosiologis, psikologis, antropologis, ekologis, mekanis.

Pengsitilahan Bandungan, dipersepsi menjadi seni suara Sunda khas Bandung, atau seni tembang Sunda yang bisa menggambarkan khas Bandung, seperti halnya, tembang Sunda Cianjuran, Sumedangan, Garutan, Ciawian, Cigawiran, dll.,  yang merupakan khas dari masing-masing kota tersebut. Persoalannya hanya pada, mampukah tembang Bandungan memunculkan ciri estetisnya, seperti halnya tembang-tembang tadi yang dari masing-masing genre tersebut terdapat ciri khasnya?    Inilah yang menjadi persoalan. Karena sebuah genre memerlukan proses. “Artiya genre merupakan sebuah produk seni yang telah melalui sebuah proses dari periode ke periode yang relative  memerlukan waktu lama, melalui sebuah proses evolutif, proses pengembangan,   dll., sehingga dalam kurun waktu tertentu diakui oleh masyarakat komunitasnya”.[6]

Bandungan, jika hurup “b” ditulis dengan hurup kecil “bandungan” maka daya interpretasi mengarah pada arti menyimak. Namun hurup “b” ditulis dengan hurup kapital seperti terbaca ”Badungan” maka daya interpretasi akan segera mengarah terhadap sebuah materi yang kaitanya dengan karakteristik sebuah wilayah, geografis, atau etnografi[7], seperti Cianjuran, Ciawian, Cigawiran, Dermayonan, Sumedangan, Garutan, kaleran dll. Menurut Sah, istilah  “Bandungan” mempunyai arti ‘titenan’. Dalam konteks bahasa Sunda, kata ‘titenan’ mempunyai arti ‘perhatikeun’ (b. Ind. = Perhatikan). Dengan demikian, “Tembang Bandungan” diartikan sebagai sebuah produk kesenian yang menuntut perhatian serius (kadariaan) (Ubun R. Sah, 2005:1). Inipun menjadi timbulnya persoalan dalam rangka komunikasi dengan publik seni. Karena penamaan istilah dalam sebuah karya seni, mitosnya dalam karawitan Sunda itu terjadi secara alamiah, artinya orang lainlah yang memberikan lebel, bukan sebaliknya (kreator).

Atang Warsita mengatakan bahwa; disayangkan yang memproklamirkan nama “Tembang Bandungan” oleh kreatornya, menurut saya, lebih tepat jika pihak lain yang memberikan lebel tersebut atau dalam sebuah forum yang memiliki kelegalan dalam memberikan lebel[8]. Jika Bandungan diartian “diregepkeun” menuntut publiknya serius dalam memperhatikan kesenian itu, kesenian lain pun memerlukan hal demikan. Kemudian jika Bandungan diartikan sebagai konotatif dari karakteristik seni kewilayahan, bandungan mewakili daerah mana?,  ini pun sulit diterima masayarakat, karena sebuah pengakuan memerlukan sebuah proses, terjadi karena kontinyuitas dari pengembangan dan konsistensi komunitas pendukung kesenian tersebut.

Jika menyimak pernyataan Warsita, disayangkan dalam proses penciptaan karya Bandungan ini, tidak pekanya pengagas terhadap inti dari komunikasi yaitu “persepsi” masyarakat seni sebelumnya, dimana persepsi ini sangat dipengaruhi oleh sistem sosial budaya dimana individu berada, sehingga terjadinya kekeliruan persepsi tidak terbantahkan lagi maka jelas kegagalan komunikasi akan terjadi. Padahal konservatisme para pendukung dan pengikut seni tembang sebelumnya begitu tinggi. Tetapi berkesan tidak diindahkan jika melihat statement berikut: tumbuhnya fanatisme …telah menjadikan tembang Sunda Cianjuran menghadapi  kondisi stagnan dalam kreatifitasnya…” (Iskandar, 2006:63), “kemandegan kreativitas dalam dunia tembang Sunda,… komunitas penggemar tembang Sunda Cianjuran jumlahnya terus semakin mengecil,…tidak mampu mendongkrak minat masyarakat, kalau tak hendak dikatakan ditinggalkan masyarakat” (Iskandar, 2006:64).  Dan masih banyak statement yang menurut saya terlalu fulgar[9], sehingga berpotensi menumbuhkan konflik. Sehingga hal ini di persepsi oleh komunitas pencinta tembang sebelumnya karya Bandungan seakan “ngadu geulis” dengan karya tembang sebelumnya. Padahal jika tidak demikian statementnya, dilihat dari kreatifitas seni, karya Bandungan memiliki nilai seni yang baik dan menarik untuk diapresiasi oleh semua kalangan.

Walaupun pada dasarnya karya seni merupakan ekspresi dari subjektivitas seniman yang didasari oleh pengalaman hidupnya, tetapi sangat tidak bijak ketika karya dibuat atas  apresiasi negative sang kreator terhadap suatu karya seni lain, apalagi pernyataannya dipublish melalui berbagai media. Sunda pun memiliki pemahaman yang sama,  yaitu tidak pantas melancarkan strategi “adu geusli” ini bagus itu tidak.  Berdasarkan data dilapangan dan tanggapan para informan, tim tembang Sunda Bandungan melakuan sesuatu yang sebetulnya tidak sebaiknya dilakukan. Kegelisahan  Ubun terkait kritiknya terhadap rumpaka Cianjuran, pertama, rumpaka dalam Cianjuran (mamaos) sangat terikat oleh pupuh. Kedua,  konon dalam Cianjuran rumpaka antara mamaos dengan panambih sering ditembangkan secara tidak singkron, ketika mamaos menceritakan kesedihan, ketika masuk panambih ditembangkan berubah menjadi tema cinta[10]. Sayangnya pernyataan seperti ini dipublish, sehingga ini pun menjadi indikasi munculnya polemik. Karena pernyataan ini akan dianggap menyakitkan bagi kelompok konservatif Cianjuran, sehingga berkemungkinan munculnya sikap detestation atau kebencian terhadap karya tarwaran alterative ini.

2.2.2        Pendekatan Simbolik

Ukuran kualitas karya seni/musik sekurang-kurangnya dapat dilihat dari tiga aspek: “(1) mengandung simbol-simbol yang cukup bermakna, baik secara struktur organis maupun nilai-nilai di balik struktur organis tersebut; (2) susunan simbol-simbol tersebut harus memiliki keutuhan (unity), keselarasan, keseimbangan, dan penekanan yang tepat; dan (3) melalui simbol-simbol tersebut, karya seni/musik harus mampu merangsang kesadaran publik dan memberikan pengalaman tertentu kepada apresiatornya.” (Saini, 2001:41).  Ketika tanda-tanda dalam tembang Sunda Bandungan belum diketemukan, maka siapapun  akan menyatakan (secara ekstrim) bahwa tembang Bandungan belum sampai terhadap apa yang diinginkan kretaornya. Apalagi jika memang tembang Bandungan belum memiliki bentuk konkret tandanya atas simbolisasi yang menyertainya, terutama perbedaan tanda tersebut jika sudah masuk pada aspek-aspek estetik. Apalagi jika tembang Bandungan dianggap atau menganggap dirinya sebagai  “genre baru”. Hal-hal inilah yang perlu dikomunikaskan bahwa simbol penanda yang melekat dalam estetika Bandungan dapat teridentifikasi dan tersampaikan kepada khalayaknya. Bagaimana tanda yang membedakan tembang Bandungan dengan tembang-tembang lainnya? identifikasi  simbol ini tentunya akan menghadapi kendala-kendala, seperti: (1) karena karya ini baru, (2) dikarenakan penyaji (yang sudah besar di tembang-tembang sebelumnya) sehingga tanda-tanda yang diinginkan sang kreator masih bias, atau ada kendala dari penyaji yang masih memiliki empirik dalam tembang sebelumnya, karena tanda-tanda yang ada masih terlingkupi oleh bawaan si penyaji yang masih membawa konvensi tadi.

Dalam proses berkarya, sekecil apapun ketika berbicara estetika seni, ketika kreator sudah berhadapan dengan penyaji, maka akan berhadapan dengan apa yang disebut persoalan persepsi atau interpretasi, maka solusinya adalah “sili eledan” saling pengertian antara keingian kreator dan penyaji. Sehingga antara estetika musikal dan estetika sastrawi keduanya terakomodir dan hal tersebut harus terkomunikasikan dengan baik, sehingga meminimalisasi miss understanding diantara khalayak.  Disinilah tanda-tanda yang menjadi ciri  khas Bandungan bisa diidentifikasi. Sehingga tampak perbedaannya antara Bandungan dengan tembang-tembang lainnya. Jika tanda-tanda yang menjadi ciri khas Bandungan  ini terkomunikasikan dengan baik kepada khalayak, maka tidak akan terjadi kisruh seperti yang terjadi saat ini. Persoalannya adalah kenapa tembang Bandungan tidak bisa memunculkan tanda-tanda konkretnya? Karena jika dilihat dari makna tanda yang terdapat saat ini, simbol-simbol baik musikal maupun sastra dalam tembang Bandungan, masih belum bisa mencerminkan kalau tembang Bandungan ini merupakan kreasi khas Bandungan.   Paling tidak hal inilah yang dipersepsi oleh masyarakat yang mengerti seni tembang Sunda. Sehingga inipun menjadi indikasi sumber polemik tersebut. Supaya lebih jelas dalam hal ini akan saya kemukakan dua contoh lagu yang menjadi fenomenal dalam tembang Bandungan dan dikaji berdasarkan dua aspek simbol musikal dan simbol rumpaka.

2.2.2.1  Simbol Musikal

Kualitas karya seni tidak hanya dilihat dari wujud fisik saja, tetapi dapat dilihat dari sejauh mana wujud fisik tersebut mengandung simbol-simbol yang bermakna bagi pengayaan estetika seninya. Estetika seni lahir dari sebuah kesadaran seniman penciptanya, dalam mengakomodir simbol-simbol tersebut tatkala ia mengimajinasikan berbagai hal dalam menyusun dan membangun karya musiknya[11] Secara denotative pola aransemen musikal lagu SM ini pada dasarnya bersumber dari model pirigan degung klasik atau model pirigan 4, kemudian panambih Cianjuran atau model pirigan 1, kemprangan Cianjuran atau model pirigan 3, serta model pirigan  mandiri yang dibuat secara khusus. Bentuk musikalnya termasuk beragam, sehingga model pirigannya pun tampak bervariasi.

Menurut Herdini, variasi-variasi pada bentuk musikal lagu SM ini, pada prinsipnya merupakan pengembangan dari melodi dasar yang terdapat pada model-model pirigan tradisi[12], sebagaimana telah disebut tadi.  Warsita dan Maman berpendapat lain dari Herdini, Warsita menyatakan bahwa: “rek melodi lagu atawa pirigannana lagu SM leuwih hade disebut lagu kawih  dina wangun sekar gending wanda anyar”[13]. Begitupun Maman, menyatakan bahwa: sebetulnya pola pirigan dan melodi lagu lebih dekat ke warna kawih, karena secara denotative bentuk tabuhan tandak, yang walaupun dalam lagu SM ini dalam struktur lagu ada bentuk tembang, tetapi setelah saya analisa, ternyata yang dianggap mamaras gaya tembang, secara musikal masih bermetrum jadi tidak bebas wirahma. Inilah yang menjadi salah satu indikator permasalahan, karena secara denotative bentuk musikal masih menggunakan teknik tabuhan yang dimiliki oleh genre tardisi lain, yaitu Cianjuran dan degung klasik. Secara denotative tabuhan kacapi yang memiliki konvensi bermetrum atau tandak, itu masuk pada wilayah kawih atau dikenal dengan gaya mang Kokoan[14].  Disisi   lain secara struktur lagu SM bisa dilihat dari tampilan atau cara menulis lagu dalam bentuk partitur, secara denotative seperti tertera pada Partitur 2.1

Tentunya setelah kita lihat, ada garis birama, ruang matra, harga nada, tanda legato, sehingga jika kita melihat pernyataan Warsita dan Maman memang secara konotatif pola melodi lagu seperti ini dimiliki kawih mang Kokoan, atau pola karawitan Sunda yang masuk pada kategori musik berirama tandak.

Partitur 2.1 Lagu Sakaratul Maot

Laras : Sorog

IRAMA TERIKAT (TANDAK)

0       0     0  2˙    4         .  5     4  55     45  42    3

Na        on            nu- ka   rasa kuja-sad

0       0     2  3     4        .  5     5+ 5     3  4      5

Mang        sa          ma la   kal ma   ot

0        0      4  5     1۫          .  2˙      1  2    3-1˙5 4  3

Mang    sa               mala   kal  ma ot

5+ 4  5+  1˙ 2˙ 3˙-2˙       1        5         1  2      2

Misah keun nya  wa          ti       na         ra       ga

0       0 2   1 1     0 1       1  1   2  1     1  2      2

Tun tunan   ke  -  cap to  yyi           bah

0       0 2   1 1   01 2       3       4-         3  3     3

Tun tunan ke  -  cap       to         yyi   bah

0       0 2   1 5   1 21       0 3-   3-1˙      5 43    3

Anak in    cu            ku -  la   -    war  -  ga

5+ 4۠۬    5+ 4     5+  .          .  1     2  3-     2  1     2

Teu-teup sareup -   na               keclak  ci ma  ta

-G E L E N Y U-

IRAMA MERDIKA (BEBAS METRUM).

2  1   5+      0 5+ 5+ 5+   4  5+   2  3- 2 1       2  2  2 1   2

Sakapeung   di  barung   imut    saka-peung  bangun muringis

2۠۠˙1˙   5      5  5  5  4    5              2  3   4

Di tutup  ku so ra    nyeukleuk, duh

0  3˙- 3˙-3˙- 2˙   1˙   2˙   1˙   5  1˙2˙   1˙  2˙1˙   2˙

Ka  a hen   gan       a   nu   teu      bisa   ka   jawab

2  1   2  3     3  4   5     5+  5+   4

Ku   maha   rasana     sa    ka   rat

3˙ 3˙…

Gusti…

 

 

0  2  1  5    5  5  5 4    5  5  4     3  4  5              5   4       5    3-   3-  2       .  1

Mun dugi   kana        waktosna  dalah       mo bisa kumaha nyanggakeun

2  2   2  1      2           5+  4 5+      . 1˙            2˙ 1˙       5    1˙ 2˙         2

Sadaya      daya         nyawa         ka           gung      an  sa li             ra

2˙1˙  5  4  5 4  3….

Gusti…

0  2    2  1   0  1    2  3       2  1    1   0  2     1  5 +       1  .  2    3- 3  3- 3  1

Mang sa     ka    pendak   jawab na     kuring    ta-ya    di     kieu        na

0         2  3   .  4    5            1 2 1   5    1  2˙    2˙

Ku   ring   ta           ya di   ki    eu    na

Sumber: pribadi

Pemaknaan musikal pada lagu SM telah memenuhi konsep yang disodorkan Barthes, yaitu mengenai denotative-konotatif dan sintagmatik-paradigmatik, bahkan sampai pada tatanan batas margin serta batas netral.   Bahasa  musikal yang terdapat pada lagu SM memiliki gaya musikal yang memenuhi syarat sebagai tanda denotative-konotatif dari kebutuhan tematik lagu yang bercerita tentang “Sakaratul Maut”, seperti tampak pada kontur melodi intro yang menjadi pirigan lagu. Pola musikal seperti ini mampu memberikan ruang imajiner mengenai nilai berita dari tematik lagu yang bersifat universal ini sehingga memperkuat dinamika komunikasi dalam tatanan self interest (minat diri), conflict (pertentangan), human interest (minat insani), suspense (ketegangan), dan beauty (keindahan).

Bahasa musikal lagu SM ini masih berada dalam tatanan pola melodi tradisi Cianjuran dan degung, perubahannya terletak pada into yang dijadikan pengiring lagu.   Sedangkan batas netral, yaitu objektifitas antara tradisi dan kreasi,  tidak begitu kelihatan, hanya saja gaya musikal yang lebih sederhan dibanding Cianjuran atau lebih bersifat musik berbetuk musikalisasi, jadi musikal tidak terganggu dengan gaya struktur seperti yang terdapat dalam konvensi Cianjuran. Bahasa musikal dalam lagu SM ini lebih bersifat menyatukan rasa lagu antara bahasa rumpaka dan bahasa musik. Tidak terjadi defamiliarisasi musical,  sehingga repons estetik tidak begitu diperlukan dalam mengapresiasi lagu ini.

Analisa Musikal Lagu Citraresmi Putri Sunda

Gaya musikal lagu CPS, ini jika membaca tanggapan para informan, seakan tidak memperhitungkan enas-enas idiomatika karawaitan Sunda, sehingga hal tersebut berdampak pada faktor efek komunikasi yang meliputi faktor individu dan faktor sosial. Sehingga telah membuat kecemasan public tentang kreasi musikal yang dibuat oleh komposer lagu ini. Karena tematik lagu yang mengangkat perisiwa Palagan Bubat (sikap heroisme Dewi Citraresmi) menjadikan respon berlebih sehingga memunculkan  panatisme, empati, dan apresiasi terhadap lagu tersebut, dan ketika pencitraan musikal yang ada dalam kognisi publik seni (tembang Sunda) tidak terakomodir maka mereka bereaksi.

Yus Wiradiredja menyebutnya, makna rumpaka yang diungkap secara musikal diungkap oleh idiom-idiom non-Sunda, sehingga kesan global yang dirasakan oleh saya seperti menceritakan Citraresmi sebagi orang Yunani, jadi lain Citraresmi urang Sunda[15]. Hal senada diungkap oleh Dr. Kalsum, Teddi Muhtaddin, M.Hum, Atang Warsita dan Maman.  Bahkan Dr. Kalsum menyebutnya lagu CPS merupakan bentuk eksplorasi musikal yang gagal.

Partitur 2.2 Lagu Citraresmi Putri Sunda

Laras: Sorog

           BAG 1

5        4        5  1        2                5        4         5  2       3

Cit    ra         res        mi      -     Cit      ra         res      mi

pi        ta          lo         ka      -    Pi       ta          lo       ka

5        4       5  1        2               2  1       5        1  2       2  5

Cit     ra         res      mi             kem    -    bang            ati….

Pi       ta       lo           ka          kem    -    bang           rasa….

5  5    5  5      4  5        2            0 3-3-     2     1 5 1 2    2  5

Ngalang  kang nembongan deui, kiwari nitis kawanci  Pu-

Nujadi   si       loka       cinta,      ngaraga sukma kamangsa ci-

5   5    5  5     4  5     3   3-         3-3-     2  1   2   2 1     2

pusten  taman kaputren  pus  – pa en – dah  putri Sun-da

ri       Putri     nu sajati   an  -  jeun   teu neung mapag pati

BAG 2

3-  3-    2   1      3-       2            -       3-  3-    4   3-     2

Mala     ti          wa  -   ngi                 so-so   ca  nag    ri

Mala     ti           su  -   ci                   so-so   ca  nag    ri

3-  3-    2  1       1   3-    2          -       2   1     5   3       4

Ben tang  ka          me  – lang          seungit   nyam – buang

Hi    bar   nya        ang    an             tatar     Pasund an

5  1    2  2         2  1      2          2   1   5+1 2    2   1     2  3-

Duh,  Citra       res        mi      pageuh  dina ajen diri    Put-

Duh, Pita          lo         ka     puspa endah taman rasa Put-

3- 3-    4  3-     2  1       2            5      4       5  4         3

ri  maha-raja Sun    -  da            Cit  ra        res        mi

ri  maha-raja  Sun   -   da.

Sumber: pribadi

Pemaknaan musikal pada lagu CPS dilihat dari konsep Barthes, yaitu mengenai denotative-konotatif dan sintagmatik-paradigmatik, sampai pada tatanan batas margin serta batas netra. Terdapat beberapa hal yang tidak relevan dengan penandaannya. Dilihat dari perspektif  tifografi lagu CPS terbagi pada dua bagian musikal saja karena sekalipun lagu terbagai atas empat bait rumpaka, pada intinya berisi pengulangan (redundancy). Bahasa musikal yang terdapat pada lagu CPS memiliki gaya musikal yang kontar produktif dengan tematik lagu yang diusung.

Bahasa musikal, pada lagu CPS  tidak memenuhi standar  tatanan yang dimaksud sintagmatik-paradigmatik karena model musikal beserta gaya melodi lagu yang digunakan menggunakan idiom music diatonis terutama teknik seriosa dan melodi lagu bergaya musik Barat, terutama diawal lagu dan akhiran kalimat lagu. Sehingga otomatis secara sintagmatik pun tidak  memenuhi susunan kata dan kalimat lagu yang mengusung tentang kepedihan, dikecilkan, dendam, sakit hati, kecantikan, dikhianati, karena idiom musikal tadi yang tidak menggunakan konvensi tradisi musikal Sunda. Tetapi dalam lagu ini terdapat apa yang disebut orisinalitas estetik, bentuk lagu seperti itu  pengulangan 3 x kata”Citraresmi” dan pelantunan kata “Citraresmi” diakhiran frase lagu merupakan khas lagu tersebut, karena tidak terdapat pada jenis lagu yang lain. tetapi pada kalimat lagu / kiwari nitis ka wanci / kembali ke rasa musikal Sunda, tetapi daya imaji musikalnya tidak sedalam aransemen lagu SM, karena metaphor musical tidak selaras dengan keinginan jiwa lagu. Diakhir kalimat lagu kontur melodi dibuat seperti  itu, dengan tujuan mengeksploitasi rasa komunikan, terhadap sikap Citraresmi yang selalu diadop/dijadikan panutan/contoh yang mampun menerobos sepanjang jaman. Tetapi lagi-lagi idiom musikalnya tidak menggunakan idiom musik Sunda tetapi menggunakan idiom musikal Barat. Sehingga  pola dinamika komunikasi lagu daya imajinya tidak sedasyat lagu SM, karena permainan nilai;  fame (kemashuran)  dan beauty (keindahan) serta sedikit tentang conflict (pertentangan), diwakili oleh idiom musik Barat.

Dalam tatanan batas margi yaitu tentang toleransi kreasi atas unsur perubahan nilai konvensi dari akar seninya yaitu tembang Sunda Cianjuran, bahasa musikal lagu CPS terasa perbedaanya bisa dirasakan pada awal kalimat lagu, dan perbedaan kedua tampak pada akhiran lagu. Sedangkan batas netral, yaitu objektifitas antara tradisi dan kreasi,  sudah kelihatan yaitu dengan sudah banyaknya menggunakan idiom musik Barat, sehingga secara konotatif dan mitos, rasa yang ada dalam pencitraan bunyi Sundawi tidak terekspresikan pada lagu ini. Tentunya berbentuk defamiliarisasi pun sudah tidak dihindarkan lagi,  kemudian disharmoni pun terjadi  pada lagu ini. Sehingga  komunikan atau komunikator dalam hal ini penyaji perlu berpikir beberapa kali dalam ruang repons estetik.

Unsur permainan bunyi berdasar teori purwakanti Salmun, pada lagu ini baik, memenuhi kriteria konsep denotative-konotatif dan sintagmatik-paradigmatik dalam tatanan keperluan bunyi kebahasaaan. Hanya terjadi disharmonis antara bahasa lagu dan bahasa musikal. sehingga lagu ini komunikatif ketika teksnya dibacakan, tetapi ketika teks (rumpaka) menyatu dengan musikal/melodi lagu,  maka komunikan memerlukan kemampuan apresiasi yang tinggi artinya harus tahu bahasa rumpaka dan musikal. Dilihat dari perspektif idiologis bentuk gaya musikal  kedua lagu ini wajar dibuat demikian, karena memang para kreator tembang Sunda Bandungan beraliran sastra modern, konsepnya adalah penyederhanaan dengan pendekatan popular, kata kuncinya adalah bahasa lagu yang disajikan secara komunikatif dan informasi selesai.

2.2.2.2  Simbol Rumpaka

Pemaknaan bahasa rumpaka Lagu Sakaratul Maot dan Citraresmi Putri Sunda; bentuk kreatifitas ini dinamai dengan istilah “tembang Bandungan”, seni suara yang berbentuk tembang dalam teori karawitan, identik dengan memiliki bangun  kalimat rumpaka yang berbentuk oktasilabik atau ketidakbebasan rumpaka (adanya permainan suku kata  karena adanya apa yang disebut guru lagu dan guru wilangan) seperti yang berlaku pada puisi dangding, seperti halnya tradisi “rumpaka tembang”. Rumpaka tembang konotasinya berbentuk prosaic dan atau puisi dengan gaya bahasa banyak menggunakan idiom dan metaphor yang memiliki nilai kesusastraan tinggi,  bahasa yang tidak verbalistik sehingga memerlukan apa yang disebut respons estetic, dari komunikannya.

Bahasa rumpaka dalam tembang Bandungan ditulis dengan gaya prosaic tetapi tidak ber-oktasilabik. Bahasa yang digunakan realtif verbalistik, sehingga bahasa lagu cukup komunikatif tidak hanya kepada komunikan, tetapi kepada penyaji (penembang) sebagai komunikator, sehingga ia mampu mengembangkan alam imajinernya. Karena bahasa lagu informasinya lugas dan jelas, sehingga informasi bahasa lagu tuntas, dan informasinya selesai, maka baik pendengar sebagai komunikan dan penyaji sebagai komunikator tidak lagi memerlukan daya respons estetik. Jadi intensitas komunikasi komunikan terfasilitasi oleh bahasa lagu dan musikal lagu. Hanya saja apa yang diyakini dalam mitos kekaryaan, yaitu apa yang disebut “permakluman estetik” tidak diperhatikan dalam bahasa rumpaka tembang Bandungan. Yang dimaksud permakluman estetik adalah sesuatu yang sudah menjadi kesepakatan oleh komunitas dimana karya itu terlahir, seperti permainan pemenggalan  mem-fra-frase kalimat lagu (larik).   Sepertiya hal inipun menjadi indikasi memicunya polemik, karena dianggap sebagai sebuah deviation atau penyimpangan dari patokan yang dipamahi dalam konvensi tradisi masyarakat karawaitan. Sehingga munculnya deterrence atau penolakan atas karya baru, padahal seharusnya karya eksplorasi ini bisa menjadi alternatif suguhan seni. Sayangnya tim kreator tidak peka terhadap persoalan sikap incorporative yang hampir melembaga dikalangan seniman kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Identitas Bandungan tidaklah harus selalu berdasar pada simbol arkaik namun identitas terbuka yang lebih banyak memungkingkan kualitasnya lebih plural sejalan dengan pertumbuhannya. Karena berada dalam waktu sebenarnya berada dalam suatu kelangsungan yang tak terulang. Telaah “konotatifselalu muncul setelah hasil kreativitas tersebut lahir. Seketika itu pula serta merta alibi sering timbul “bagaimana kita bisa menilai jika wujud estetis tersebut jika kita tidak bisa dengar dan dilihat?”[16]. Begitu merdeka dan luas sekali makna kreativitas tersebut, namun akan begitu sempit juga maknanya saat dihadapkan pada sikap-sikap yang tidak “koorporatif”. Harus diakui bahwa untuk ukuran kreativitas, karawitan Sunda  kita baru sampai pada tingkat bilangan dan belum sampai pada akumulasi hitungan. Inilah yang sebut dengan involusi pemaknaannya.

 

  1. III.                PENUTUP

Wujud kreativitas Bandungan pada akhirnya harus siap dihadapkan pada apa yang dinamakan realitas “rejections”. Karena kecenderungan kreativitas semacam ini dapat bersifat struktural dimana dimanisfestasikan berupa gejala-gejala seperti keresahan sosial. Dalam gejala semacam ini apakah Bandungan telah siap menerima alienasi?, karena terpisah dari kelompok primodialnya, yaitu situasi kehilangan kenyamanan kebebasan estetisnya karena pengaruh individualisasi, serta kehilangan ikatan-ikatan solidaritasnya—setidaknya dari masyarakat  tembang Sunda. Ada yang menarik dalam prose kreatif tembang Sunda Bandungan. Baik yang familiar maupun defamiliar dalam tardisi kretaif karawitan Sunda, yang berhubungan dengan komunikasi. Mereka telah memperhitungkan berbagai hal dalam strategi komunikasi, seperti komunikasi dalam proses kreatif,  konstuksi dalam elemen komunikasi, proses pentransferan konsep, dan lain-lain.

Tetapi ada yang telupakan dalam melancarkan komunikasinya, diantaranya adalah kelemahan dalam melakukan komunikasi persuasif, padahal tentunya mereka tahu bagaimana kondisi psikologis masyarakat dihabitat tersebut, disamping ada persoalan sikap incorporative yang hampir melembaga,  juga kebiasaan pemegang otoritas tradisional yang selalu bersikap konservatif dan cenderung selalu menentang inovasi. Kemudian mereka lupa juga mempertimbangkan tentang faktor-faktor yang mempengarhui efek, termasuk faktor individu termasuk kompetensi/kredibilitas komunikator dalam pandangan komunikan, dan faktor sosial, yang berhubungan dengan karakteristik habitat dimana genre seni yang direpertoar/dikembangkannya.

Ciri khas dari lagu-lagu bergaya Bandungan ini meliputi: (1) pada garis melodi hampir dominan kesan irama metris, dan tandak (irama terikat/bermetrum), (2) dalam ornamentasi baik melodi lagu maupun sekar (vokal) dibuat minimalis atau lebih sederhana, vokal pun hanya bermain di teknik vokal legato dan ambingan, (3) adanya unsur dramatik, jadi iringan lagu mencoba memberikan ruang terhadap suasana musikal yang mengusung makna rumpaka. Bahasa rumpaka dalam tembang Bandungan ditulis dengan gaya prosaic tetapi tidak ber-oktasilabik. Bahasa realtif verbalistik, sehingga bahasa lagu cukup komunikatif, karena bahasa lagu informasinya lugas dan jelas, sehingga informasi tuntas.

 

IV.  DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar, 2003. Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Cobley, Paul, dan Litza Jansz, 2002. Mengenal Semiotika: For Beginners. Bandung: Mizan.

De Vito, JosepA, 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Profesional Books.

Dharsono, 2007. Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sains.

Dimyati, Ipit Saefidier, 2010. Komunikasi Teater Indonesia. Bandung: Kelir.

Effendy, Onong Uchjana, 1988. Komunikasi dan Moderniasi. Bandung: Alumni.

——————————-, 1989. Ilmu, Teori danFilsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

——————————-, 1989. Kamus komunikasi. Bandung: MandarMaju.

Fisher, B. Aubery, 1986. Teori-Teori Komunikasi: Perspektif Mekanistis, Psikologi, Interaksioal dan Pragmatis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Fiske, John, 2004. Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Terj. Yosal Iriantara dan Idi S. Ibrahim. Yogyakarta.

Hoed, Benny H., 2008. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: FIB-UI.

Iskandar, D. Eddy. 2006. Dari Pendopo ke Unesco. Catatan Perjalanan Pergelaran Tembang Bandungan. Bandung. PTGraensia Bandung.

KM., Saini. 2001. Taksonomi Seni. Bandung: STSI Press.

Koswara, Koko, dan tatang Suryana, 1977. Tanggapan atas Prasaran Atik Sopandi : dalam Kumpulan Hasil-hasil seminar Tembang Sunda 1976. Bandung: Yayasan Lembaga Pancaniti.

Kusumadinata, Angga R.M., 1969. Ilmu Seni Rasa. Jakarta: Pradnja Paramita.

LBSS., 1976. Kamus Umum Basa Sunda. Bandung: Tarate.

Rochaeti, Etti, 1981. Analisis Ma’na Guguritan Tembang Cianjuran dina Papantunan di  Pakumpulan Mayang Arum (Skripsi). Bandung: Jurusan Basa jeung Sastra Sunda, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.

Rohayani, 1986. Penerapan Gelenyu Kacapi Tembang Sunda di RRI Bandung (Skripsi). Bandung: Akademi Seni Tari Indonesia.

Rosidi, Ajip, 1966a. Dur Pandjak. Bandung: CV Pusaka Sunda.

Salmun, M.A., 1957. Kandaga Kasusastraan. Bandung: Ganaco NV.

Sukanda, Enip. 2000. Jurnal Panggung, Bandung: STSI Bandung.

Supandi, Atik,dkk., 1976. Teori Dasar Karawitan. Bandung: PT Pelita Masa.

————————., 1977. Kamus Istilah Karawitan Sunda. Jakarta: PT Gramedia.

————————., 1985. Lagu Pupuh Pengetahuan dan Notasinya. Bandung: CV Pustaka Buana.

————————., 1986. Perkembangan Karawitan: Suatu Tinjauan Terhadap Seni Karawitan Sunda di Bandung (Seminar Kebudayaan Sunda, tgl. 09-11 Maret 1986). Bandung: Proyek Penelitia dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, BAgian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Depdikbud.

Suryalaga, Hidayat H.R., 2010. Filsafat Sunda. Bandung: Yayasan Nur Hidayah.

Suparli, Lili. 2007. Fungsi dan Nilai Seni. Bandung: Makalah Fakultas Sastra Unpad.

Shibutani, Tamotsu dan Kwan, Kian M, 1965. Etnic Identity and Social Stratification. Etnic Stratification: A Cooperatifve Approach. New York: The Marcimillan Company.

Sobur, Alex, 2002. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Rosdakarya.

—————, 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Suriasumantri, Jujun, 2005. Filsafat Ilmu: Sebuah PengantarPopuler. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Wiratmadja, Apung S., 1964. Sumbangan Asih Kana Tembang Sunda. Bandung: PT Purnamasari.

Wibisana, Wahyu, dkk., 1976. Mencari Ciri-ciri Mandiri dalam Tembang Sunda: dalam Kumpulan Hasil-hasil Seminar Tembang Sunda 1976. Bandung: Yayasan Lembaga Pancaniti.

 

 


[1] Lihat Hidayat Suryalaga, Kasundaan Rawayan Jati:Falsafah Sunda (Bandung, Yayasan Nur Hidayah, 2009).

[2] Wawancara dengan Ubun R. Sah: tanggal 22 Juli 2009; pukul 13:30 – 20.00 WIB; sekretariat Jl. Gamelan No. 21 Bandung.

[3] Wawancara dengan Ubun R. Sah: tanggal 22 Juli 2009; pukul 13:30 – 20.00 WIB; sekretariat Jl. Gamelan No. 21 Bandung.

 

[4] para sarjana eropa sempat kebingungan menetukan Sunda ini suku tersendiri atau bagian dari suku Jawa, karena para bangsawan lokal (Sunda) pada waktu itu menggunakan sejenis bahasa Jawa diantara mereka sendiri, setidaknya sampai pada pertengahan abad ke-19, dan tulisan teksnya berbetuk puisi atau lebih lanjut nantinya yang disebut dengan dangding. Dan pada waktu tersebut pun muncul berbagai masalah antara yang pro dan kontra.

[5] Diterangkan pada latar belakang

[6] Wawancara dengan Yus Wiradiredja: tanggal 07 Juni 2011; pukul 16:00 – 18.00 WIB; Jurusan Karawitan STSI  Bandung.

 

[7] Dian Hendrayana, Artikel 2005. Membaca Perjalanan Panjang Ubun Lewat Bandungan.

[8] Wawancara dengan Atang Warsita : tanggal 03 Juli 2011, waktu: 10.00 – 11.30; Ciwastra Bandung.

 

[9] Dibeberap artikel latar belakang penciptaan karya Bandungan dari para kreatornya.

[10] Ganjar Kurnia, Artikel 2005. Catatan dari Pengadilan Kecil “Bandungan”

[11] Heri Herdini. Artikel, 2005:1 Analisis Komposisi Pirigan Tembang Bandungan

[12] Heri Herdini, Artikel, 2005:11. Analisis Komposisi Pirigan Tembang Bandungan

[13] AtangWarsita, Catatan wawancara Analisis TB, 2011.

[14] Tokoh fenomenal dalam teori dan praktek karawitan Sunda

[15] Wawancara dengan Yusuf Wiradiredja: tanggal 07 Juni 2011, waktu: 16.00 – 18.30; Studio Karawitan STSI Bandung.

[16] Ismet Ruhimat, Artikel 2005, Perspektif Kreatifitas Bandungan Antara Harapan dan Realitas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copyright © 2012-2014 komunikasi seni budaya All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.2.4.1, from BuyNowShop.com.