Delta Batanghari

Sungai adalah aliran air besar yang mengalir dari hulu hingga ke hilir. Aliran sungai dibagi menjadi dua, yaitu sungai stadium muda dan dewasa.

a. Sungai stadium muda

Ciri-ciri sungai stadium muda adalah

1) Penampang melintang lembah berbentuk v,

2) Banyak mempunyai erosi basis sementara,

3) Daya angkut aliran besar,

4) Lebar bawah lembah sama dengan lebar saluran sungai, dan

5) Dasar lembah belum rata.

b. Sungai stadium dewasa

Ciri-ciri sungai stadium dewasa adalah

1) Gradien lebih kecil,

2) Erosi lateral atau ke samping,

3) Mengalami pendataran dasar sungai,

4) Lembah membentuk huruf u,

5) Terdapat dataran banjir (flood plain) dan kelokan (meander), serta

6) Sudah tidak ada erosi dasar.

Delta merupakan suatu pengendapan yang terjadi atau terbentuk oleh tumpukan sedimen yang memiliki bentuk dataran. Menurut Coleman dan Scott & Fischer delta merupakan tanah datar hasil pengendapan yang dibentuk oleh sungai, muara sungai, dimana timbunan sediment tersebut mengakibatkan propagradasi yang tidak teratur pada garis pantai (Coleman, 1968; Scott & Fischer, 1969). Delta sungai berada di mulut sungai. Delta sungai terbentuk ketika  sebuah sungai membawa sedimen. Berikut ini merupakan tahapan pembentukan suatu delta di sungai:

  • Terbentuk dari sebuah danau, laut, atau waduk.
  • Sungai lain yang tidak dapat menghilangkan sedimen yang cukup cepat untuk menghentikan pembentukan delta.
  • Daerah pedalaman di mana air menyebar keluar dan sedimen yang tersimpan. Ketika memasuki aliran air, tidak lagi terbatas untuk menyalurkan dan mengembang lebar aliran air. Aliran ini berekspansi dan menghasilkan penurunan kecepatan aliran, yang mengurangi kemampuan aliran untuk mengangkut sedimen. Akibatnya, sedimen menetes keluar dari aliran dan deposit air. Seiring waktu, proses ini akan membangun saluran tunggal lobus delta, mendorong mulutnya ke dalam genangan air. Hal-hal yang mempengaruhi terbentuknya delta antara lain yaitu arus sungai ataupun danau, aksi gelombang dan aksi pasang surut pada sungai ataupun danau tersebut. Delta ini terbentu karena adanya pengendapan sedimen dengan bentuk dataran. Tempat terbentuknya delta ini biasanya di mulut sungai.

Pembentukan delta sendiri terdiri dari 3 cara pembentukan, diantaranya yaitu:

  • Dipengaruhi oleh arus sungai
  • Dipengaruhi oleh arus gelombang
  • Dipengaruhi oleh pasang surut

Delta ini terbentuk karena air sungai yang keruh coklat, membawa berbagai jenis kotoran dan tanah bertemu dengan ion-ion yang terdapat di air laut, mengalami koagulasi. Air sungai yang setiap hari tampak keruh coklat itu merupakan suatu koloid. Karena keruh, dapat diduga bahwa zat-zat yang menyatu dengan air sungai itu mayoritas berfasa padat. Koloid yang fasa terdispersinya padat dan medium pendispersinya cair, yaitu air, dinamakan sol. Dikatakan bahwa air sungai adalah koloid padat dalam cair (padat/cair atau s/l). Suatu koloid merupakan campuran antara homogen dan heterogen. Hal ini menjelaskan bahwa bagian terkecil koloid berupa sekelompok partikel yang tersebar dalam medium pendispersinya. Masing-masing kelompok ini dapat stabil dalam waktu yang cukup lama berada diantara mediumpendispersi, karena dilindungi oleh ion-ion tertentu yang diadsorpsi oleh kelompok partikel tersebut. Oleh karena itu koloid memiliki muatan tertentu.

Delta yang akan dikaji lebih dalam yaitu delta batanghari. Delta Batanghari merupakan suatu delta yang terletak di pesisir timur Provinsi Jambi, tepatnya di Kecamatan Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Delta batanghari terbentuk oleh adanya aliran dari sungai nyiur dan sungai berbak serta cabang sungai batanghari.Selain itu delta batanghari ini juga dialiri oleh sungai – sungai kecil antara lain yaitu sungai pemusiran, sungai simbur naik, sungai siau dan sungai lambur. Berdasarkan ketiga cara pembentukan delta, delta batanghari ini terbentuk karena dipengaruhi oleh arus sungai yang lebih dominan dibandingkan arus gelombang maupun pasang surut.

Sebagai delta yang terbentuk oleh cabang sungai batanghari alangkah baiknya mengenal terlebih dahulu mengenai sungai tersebut. Sungai batanghari ini banyak disebut – sebut sebagai sungai yang legendaris. Sungai batanghari disebut legendaris karena sungai ini pernah menjadi jalur lalu lintas utama bagi kapal – kapal niaga dari berbagai penjuru dunia. Sejarah mencatat, sungai yang sangat lebar (500 meter) dengan kedalaman lebih dari lima meter ini mampu mengantarkan kapal – kapal niaga berkapasitas penumpang ratusan orang itu melesat jauh hingga ke pedalaman Sumatra Barat.

Menurut sejarawan Jeniferan (2009), pada abad ke-13 dan ke-14, wilayah hulu Sungai Batanghari pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Malay-Dharmasraya. Sebelumnya, pada abad ke-8 hingga ke-13, di wilayah hilir, Jambi, juga pernah menjadi pusat kerajaan Melayu.

Pada awal mulanya sungai batanghari memiliki lebar mencapai lebih dari 500 meter. Namun kini lebarnya terus menciut menjadi sekitar 200 meter. Pada musim hujan warna air sungai batanghari berwarna keruh kecokelatan karena bercampur dengan lumpur sedimentasi sebagai akibat dari perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai batanghari tersebut.

Hamparan vegetasi hutan kini telah berubah menjadi kebun – kebun karet. Kondisi ini diawali ketika kolonial Belanda pada tahun 1904, menggalakkan penanaman pohon karet di DAS Batanghari. Beberapa bagian tubuh sungai kini tinggal alur. Kondisi di delta batanghari ini merupakan daerah rawa dengan kecenderungan selalu tergenang.

Setelah mengetahui mengenai seluk beluk sungai batanghari maka dapat dibayangkan vegetasi apa saja yang kira – kira dapat ditemukan di daerah delta batanghari. Delta batanghari banyak ditumbuhi oleh pohon karet dan mangroove. Namun seiring berkembangnya  zaman, pohon karet mulai tergeserkan. Selain pohon karet dan mangrove di daerah delta batanghari juga terdapat vegetasi gulma.

Daftar Pustaka

Adriadi, Ade. 2010. Analisis Vegetasi Gulma pada Delta Batanghari. Available online at http://jurnalsain-unand.com/jurnal.php?dho=detail&id=244 ( diakses pada 27 Mei 2013 pukul 20.05 )

A Muchtar, N Abdullah. 2007. Pesisir Timur Jambi. Available online at www.digilib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-83348.pdf (diakses pada 27 Mei 2013 pukul 21.00 )

G, Irianto. 2004.  Alih Fungsi Lahan daerah sungai batanghari. Available online at new.iaard.go.id ( diakses pada 27 Mei 2013 pukul 21.30 )

NHT, Siahaan. 2004. Lingkungan dan Ekologi Sungai. Available online at Books.google.com ( diakses pada 27 Mei 2013 pukul 23.00 )

Tantular, UM. 2010.  Analisis wilayah Delta Batanghari. Available online at isjd.pdii.lipi.go.id ( diakses pada 27 Mei 2013 pukul 23.00 )

N Abdullah. 2008. Pesisir dan Sungai Wilayah Timur Jambi . Available online at www.digb.ui.ac.id/file?file=-83348.pdf (diakses pada 27 Mei 2013 pukul 24.00 )

Iriana, Antoro. 2010.  Vegetasi pada daerah sungai batanghari. Available online at new.ard.iaard.go.id ( diakses pada 27 Mei 2013 pukul 24.30 )

Posted in EKOLATROP | Leave a comment

murdered by who?

 Kerusakan terumbu karang diakibatkan oleh adanya suatu gejala yaitu gejala pemanasan global. Karena pemanasan global ini mengakibatkan suhu air laut meningkat. Disamping gejala alam, berikut ini merupakan aktivitas manusia yang turut serta memberikan dampak buruk bagi kehidupan terumbu karang yaitu:

1. Terumbu karang yang hidup di dasar laut merupakan sebuah pemandangan yang cukup indah. Banyak wisatawan melakukan penyelaman hanya untuk melihatnya. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka menyentuh bahkan membawa pulang terumbu karang tersebut. Padahal, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang.

2. Membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut.

3. Mungkin tidak banyak yang sadar, penggunaan pupuk dan pestisida buatan pada lahan pertanian turut merusak terumbu karang di lautan. Karena meskipun jarak pertanian dan bibir pantai sangat jauh, residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhirnya akan terbuang ke laut melalui air hujan yang jatuh di lahan pertanian.

4. Boros menggunakan air, karena semakin banyak air yang digunakan semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan akhirnya mengalir ke laut. Limbah air tersebut biasanya sudah mengandung bahan kimia.

5. Terumbu karang merupakan tujuan wisata yang sangat diminati. Kapal akan lalu lintas di perairan. Membuang jangkar pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di bawahnya.

6. Penambangan pasir atau bebatuan di laut dan pembangunan pemukiman di pesisir turut merusak kehidupan terumbu karang. Limbah dan polusi dari aktifitas masyarakat di pesisir secara tidak langsung berimbas pada kehidupan terumbu karang. Selain itu, sangat banyak yang pengambilan karang untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium.

7. Masih banyak yang menangkap ikan di laut dengan menggunakan bom dan racun sianida. Ini sangat mematikan terumbu karang.

8. Selain karena kegiatan manusia, kerusakan terumbu karang juga berasal dari sesama mahkluk hidup di laut. Siput drupella salah satu predator bagi terumbu karang.

Dari kedelapan hasil diskusi kami maka terbukti bahwa kerusakan terbesar terumbu karang disebabkan oleh aktivitas manusia. Perbandingan skala persentase antara kerusakan terumbu karang oleh alam dengan manusia berbanding sebesar 20:80 persen.

Kerusakan terumbu karang ini sangat mengancam bagi biota lain karena banyak biota yang melakukan hubungan asosiasi dengan terumbu karang ini, seperti ikan anemon, hewan karang, ikan karang dan zooxanthellae. Bentuk asosiasi antara terumbu karang dan zooxanthellae yang akan kita bahas. Bentuk asosiasi antara keduanya yaitu peranan zooxanthellae dalam proses kalsifikasi dapat di jelaskan sebagai berikut. Dasar dari proses kalsifikasi merupakan reaksi antara Ca2+ dan CO32- dan masing-masing ion tersebut diangkut menuju kelokasi terjadinya kalsifikasi melalui jalur yang berlainan. Jadi jika tidak ada zooxanthellae maka terumbu tidak akan mendapat asupan nutrisi dan pembentukan CO32- pun akan terhambat.

Pada umumnya terumbu karang akan mengalami bleaching di suhu 30oC namun karena adanya aklimatisasi maka terumbu karang mampu beradaptasi di suhu 30oC dan mengalami bleaching tidak pada suhu 30oC lagi, mungkin terumbu karang akan mulai bleaching di suhu yang lebih tinggi yaitu 31oC. Maka dengan begitu dapat disimpulkan juga bahwa kekuatan ekosistem terumbu karang akan semakin kuat. Karena terumbu karang menjadi lebih kuat dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungannya.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Video perbatasan Indonesia – Vietnam

Berikut ini merupakan video mengenai konflik yang terjadi antara Indonesia – Vietnam

Video ini dibuat oleh:

Chrisentia

Karina Melias

Eli

Saylia Soffyranti

Safura Aprilia

dan ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Laut yang dibimbing oleh Pak Yusuf Awaludin

Download disini : kelompok4_IndonesiaVietnam_0001

 

 

Ilmu Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Padjajaran

 

 

Posted in hukum laut | Leave a comment

Australian Maritime Safety Authority (AMSA)

AMSA merupakan badan keamanan nasional di Australia yang bertanggung jawab untuk keamanan maritim dan perlindungan lingkungan laut di negara Australia. AMSA diaktifkan pada tanggal 1 Januari 1991 oleh Australian Maritime Safety Authority Act 1990. AMSA memiliki kantor pusat di Canberra.

Manajemen pertanggungjawaban AMSA terdiri dari tujuh divisi. Anggotanya terdiri dari industri swasta dan pemerintah yang membawa keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan pelaksanaan kegiatan penyelamatan maritim AMSA. Dimana bagian Eksekutif AMSA ini terdiri dari Kantor Kepala Eksekutif dan Sekretaris Perusahaan.

Berikut ini merupakan cabang-cabang atau divisi yang ada di AMSA:

Navigational Keselamatan & Divisi Internasional

Divisi ini bertanggung jawab untuk memberikan saran strategis dan pengawasan operasional mengenai hal-hal keselamatan maritim dan isu-isu lingkungan dan navigasi yang terkait, yang melibatkan:

  • Mewakili Australia di International Maritime Organization (IMO) dalam pengembangan, implementasi dan penegakan standar internasional yang mengatur keselamatan kapal, navigasi, operasi kapal, keamanan maritim, kompetensi awak, pelatihan dan manajemen kelelahan.
  • Mengembangkan kerangka peraturan maritim Australia berdasarkan standar-standar internasional dan sistem manajemen keselamatan kontemporer terutama melalui pembuatan undang-undang bawahan, Orders Kelautan, di bawah Commonwealth Navigation Act 2012 .
  • Menyebarkan kebijakan dan pedoman untuk pembuangan berbagai kewenangan dan fungsi yang dialokasikan untuk AMSA bawah undang-undang Persemakmuran yang relevan, yang berkaitan dengan kapal standar konstruksi, survei kapal dan keselamatan, crewing, kualifikasi pelaut dan kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan kerja, pengangkutan dan penanganan kargo dan penumpang.
  • Menyediakan jaringan nasional bantu terintegrasi untuk navigasi dan pesisir tindakan manajemen lalu lintas yang memenuhi persyaratan pelayaran komersial untuk navigasi pantai aman dan efisien.
  • Berpartisipasi dalam pengembangan dan penerapan kebijakan keamanan internasional dan standar navigasi, terutama melalui International Maritime Organization (IMO) dan Asosiasi Internasional Kelautan AIDS untuk Navigasi dan Mercusuar Otoritas (IALA).

Divisi Keselamatan Kapal

Divisi keselamatan  kapal bertanggung jawab untuk memantau kapal, awak dan pesisir kepatuhan percontohan dengan standar keselamatan maritim, yang meliputi:

  • Melakukan inspeksi kapal, barang dan peralatan terkait untuk memantau kepatuhan dengan standar untuk kondisi kapal, sesuai dengan persyaratan pemanduan pesisir operasional, kesehatan dan keselamatan kerja dan dan penanganan yang tepat dan pemuatan kargo tertentu.
  • Pemantauan kepatuhan oleh kapal berbendera Australia dan operator mereka dengan Keselamatan Manajemen Internasional (ISM) Code di bawah Keselamatan Jiwa di Laut (SOLAS) Konvensi.
  • Menggunakan hak menurut konvensi internasional untuk memeriksa kapal-kapal berbendera asing yang mengunjungi pelabuhan Australia melalui program pengendalian Negara Pelabuhan untuk memantau kepatuhan mereka dengan standar internasional.
  • Berpartisipasi dalam forum regional untuk mempromosikan konsistensi dalam standar kontrol Negara Pelabuhan dan pertukaran data inspeksi kapal dengan negara-negara tetangga.
  • Memberikan keamanan layanan inspektorat kesehatan dan bawah Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Industri Maritim) Act 1993 .
  • Memastikan pelatihan keselamatan dan kualifikasi maritim awak kapal yang beroperasi di bawah Undang-Undang Navigasi 201 2 memenuhi standar Standar Pelatihan Sertifikasi dan Watchkeeping untuk Seafarers (STCW 95) Konvensi.
  • Mengelola sistem lisensi untuk pilot dan penataan pesisir keselamatan jasa pemanduan pesisir di bawah Navigation Act 2012 .
  • Mengelola Daftar Australia Kapal memberikan layanan pendaftaran kapal untuk pelayaran komersial, memancing dan berperahu sektor.

Divisi Tanggap Darurat

Divisi tanggap darurat bertanggung jawab untuk memberikan pencarian nasional dan koordinasi penyelamatan dan jasa respon polusi laut, yang meliputi:

  • Menyediakan jam Pusat Koordinasi Penyelamatan 24 yang melayani disepakati secara internasional Pencarian Australia and Rescue Daerah untuk penerbangan dan sektor maritim.
  • Dengan asumsi koordinasi maritim dan penerbangan pencarian dan penyelamatan insiden.
  • Menyediakan marabahaya maritim dan jaringan komunikasi keselamatan yang memenuhi persyaratan Keselamatan Jiwa di Laut (SOLAS) Konvensi dan juga dapat digunakan oleh sesuai dilengkapi kapal non-SOLAS.
  • Penyelenggara sistem pelaporan kapal yang mengidentifikasi dan melacak kapal di laut sebagai ukuran keamanan dan menyediakan database kapal yang mungkin berada dalam posisi untuk menanggapi keadaan darurat.
  • Memberikan pelatihan dan spesialis pencari dan peralatan penyelamatan untuk operator penerbangan umum terpilih ditetapkan sebagai Search and Rescue Unit (SRUs) di seluruh Australia.
  • Berkontribusi untuk isu-isu internasional dan nasional signifikansi tentang kegiatan pencarian dan penyelamatan maritim penerbangan dan, memelihara dan meningkatkan hubungan strategis dan meningkatkan kesadaran publik tentang isu-isu keselamatan maritim.
  • Menyediakan jaringan komunikasi keselamatan maritim yang menyiarkan dan menerima informasi keselamatan dan navigasi dari dan ke kapal di laut.

Divisi Corporate Services

Divisi corporate services bertugas menyediakan layanan dukungan umum untuk AMSA, termasuk manajemen keuangan, sumber daya manusia, jasa properti dan bisnis, teknologi informasi dan manajemen arsip.

Divisi Lingkungan Laut

Divisi lingkungan laut bertanggung jawab untuk mencegah pencemaran lingkungan laut dan menanggapi dengan cepat dan efisien untuk korban maritim dan insiden polusi laut yang terjadi dari pengiriman, produksi lepas pantai atau sumber lain. Hal ini melibatkan:

  • Menyediakan layanan polusi respon yang efektif konsisten dengan kewajiban internasional, pengaturan regional dan Perjanjian Antar-Pemerintah, seperti Rencana Nasional untuk Memerangi Pencemaran Laut oleh Minyak dan lainnya Beracun dan Zat Berbahaya (Rencana Nasional);
  • Menyediakan penegakan hukum yang efektif dan rezim kompensasi yang memberi efek terhadap kewajiban internasional;
  • Menyediakan manajemen yang efektif korban laut, melalui Komandan Tanggap Darurat Maritim (MERCOM);
  • Aktif berpartisipasi dalam forum pemangku kepentingan utama, seperti Organisasi Maritim Internasional dan Polusi Minyak Internasional Dana Kompensasi, untuk kemajuan manajemen strategis dan masalah operasional:
  • Mempromosikan kampanye publik yang efektif, dan
  • Memaksimalkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kemampuan respon pencemaran laut kita.

Divisi Kapal Domestik

Divisi kapal domestik bertanggung jawab untuk membangun Sistem Nasional regulasi keselamatan maritim untuk kapal komersial, bekerja sama dengan Negara / lembaga maritim Northern Territory dan Kelautan Komite Nasional Keselamatan (NMSC). Sistem Nasional akan dilaksanakan melalui undang-undang Persemakmuran bahwa setiap negara akan menerapkan dan mengelola secara lokal.

Regulatory Affairs & Divisi Reformasi meliputi Kantor Penasehat Hukum dan Kantor Legislative Drafting. Kedua Kantor berurusan dengan masalah hukum dan legislatif yang timbul dari kegiatan AMSA sedang berlangsung peraturan dan tata kelola perusahaan, serta masalah yang timbul dari agenda reformasi maritim.

Divisi Hubungan Korporasi

Divisi hubungan korporasi bertugas mengelola keterlibatan AMSA dengan industri maritim dan masyarakat luas. Ini termasuk komunikasi AMSA dan media, acara, proyek-proyek khusus dan hubungan dengan mempertahankan bisnis Australia maritim, serikat pekerja, asosiasi dan pemangku kepentingan lainnya.

Posted in hukum laut | Leave a comment

Pandangan Internasional pada Perselisihan Perbatasan Laut Antara Korea, Jepang dan China

        Artikel yang berjudul “pandangan internasional pada perselisihan perbatasan laut antara korea, jepang dan china” ini ditulis oleh Lewis M. Alexander. Artikel ini memaparkan tentang persengketaan yang terjadi antar perbatasan laut yang ada secara spesifik, wilayah yang dibicarakan yaitu pulau senkaku, Dimana pulau senkaku inilah yang diperebutkan oleh korea, jepang dan china.

Permasalahan ini diangkat karena ketiga negara ini sama-sama mengklaim bahwa pulau senkaku ini milik mereka. Diawali dengan jepang yang mendirikan mercusuar dan dikibarkannya bendera negara jepang disana. Padahal pulau itu belum memiliki kejelasan status kepemilikan. Tidak hanya pulau senkaku yang menjadi permasalahan, negara taiwan pun menjadi persengketaan ketiga negara berdekatan tersebut. Mereka mengklaim bahwa negara taiwan memiliki struktur politik yang buruk sehingga mereka berniat untuk meperbaiki struktur politik yang ada. Namun taiwan sebagai negara yang telah memiliki kedaaulatan sendiri menolak dengan tegas hal tersebut. Taiwan tidak takut, karena taiwan di backup oleh negara adidaya Amerika Serikat.

Selain itu pada artikel ini juga dibahas beberapa kasus lain yang serupa, diantaranya yaitu continental shelf antara Libya danTunisia, perebutan sungai tuman, serta laut berri.

Pada dasarnya perselisihan pulau senkaku yang terjadi antara ketiga negara ini didasari oleh 4 hal, yaitu:

·         Untuk memperoleh eksistensi diranah internasional atas kepemilikan suatu pulau

·         Status politik

·         Keterlibatan kebijakan perbatasan territorial

·         Karena belum adanya pengelola minyak dan gas didaerah tersebut

Posted in hukum laut | Leave a comment

Suara dan Cahaya

 

Apa yang pertama kali terlintas dipikiran kita saat mendengar kata “bunyi dan suara”? Sebagai orang awam pasti kita mengira bahwa suara dan cahaya merupakan suatu bentuk  pantulan gelombang  yang dapat kita interpretasikan dengan panca indra yang kita miliki, sehingga gelombang yang tidak terlihat tersebut dapat dirasakan ataupun diketahui keberadaannya oleh kita. Namun sebenarnya apa itu suara dan cahaya? Berikut ini akan saya coba jabarkan kepada teman-teman sekalian.

  1. 1.      Suara

Suara merupakan bentuk fisik dari adanya gelombang bunyi/gelombang suara. Berdasarkan arah rambat gelombang terhadap  getarannya gelombang suara ini termasuk gelombang longitudinal karena arah rambat gelombangnya searah dengan arah getarnya. Mengapa demikian? Mari kita pahami dengan sebuah analogi berikut ini:

“Pada kasus gelombang longitudinal, pada umumnya kita selalu diberi gambaran dengan slinki atau per. Dimana pergerakan per atau slinki ini maju mundur yang disertai rapatan dari kumparan-kumparan dalam gelombang maupun regangannya. Mari kita analogikan pergerakan slinki dengan getaran dari diafragma pada pengeras suara. Saat diafragma bergerak radial keluar, udara yang ada didepannya langsung dimampatkan. Pemampatan ini mengakibatkan tekanan udara bertambah sedikit diatas normal. Daerah yang mengalami penambahan tekanan udara ini merupakan rapatan, rapatan ini bergerak menjauhi pengeras suara pada kecepatan bunyi. Setelah menghasilkan rapatan, kemudian diafragma membalikan arah gerakannya menjadi radial kedalam, sehingga menghasilkan daerah yang mengalami pengurangan tekanan udara yang disebut sebagai regangan. Model rapatan dan regangan dari diafragma pada pengeras suara ataupun slinki itu sama.”(Tipler, 1998)

Selain pengelompokan berdasarkan arah rambat gelombang terhadap  getarannya, gelombang suara ini juga dapat dikelompokan berdasarkan perlu tidaknya medium perambatan gelombang. Gelombang suara termasuk gelombang mekanik yang artinya gelombang ini memerlukan medium sebagai perambatannya. Media perambatan gelombang suara ini dapat berupa zat padat, zat cair maupun gas (Tipler, 1998). Sehingga dalam keadaan vakum seperti di luar angkasa  yang tidak terdapat atmosfer, gelombang suara ini tidak dapat merambat. Dengan kata lain, kita tidak akan pernah dapat mendengar bunyi/suara saat berada di bulan walaupun berbicara dengan jarak yang berdekatan.

Gelombang suara biasanya memiliki klasifikasi berdasarkan besar frekuensinya, seperti yang kita ketahui bahwa manusia hanya dapat mendengar suara yang memiliki frekuensi antara 20 hz – 20.000 hz. Gelombang suara dengan frekuensi antara 20 hz – 20.00 hz ini biasa disebut audiosonik (Alvin, 1998). Suara dengan frekuensi lebih rendah yaitu kurang dari 20 hz disebut infrasonik, suara infrasonik ini hanya bisa didengar oleh beberapa jenis hewan saja seperti gajah. Gunung berapi dan gempa bumi memancarkan gelombang infrasonik sehingga gajah dapat mendengar saat terjadinya gempa bumi yang tidak dapat didengar oleh manusia. Yang terakhir yaitu suara ultrasonik, suara ultrasonik ini memiliki frekuensi diatas 20.000 hz. Beberapa binatang dapat mendengar cukup baik pada frekuensi ini. Seperti anjing yang dapat mendengar hingga 25.000 hz, kucing yang dapat mendengar hingga 65.000 hz dan yang istimewa yaitu lumba-lumba yang  dapat mendengar suara dengan frekuensi hingga 150.000 hz! Menakjubkan bukan.

Sekarang sudah mulai mengerti kan seperti apa suara itu sebenarnya. Kalau begitu mari lanjut untuk mengenal gejala-gejala yang ada pada gelombang suara. Pada umumnya gejala-gejala yang ada pada gelombang bunyi ada 6 yaitu pemantulan, pembiasan, difraksi, interferensi,  efek doppler dan pelayangan.

  • Pemantulan merupakan gejala pada gelombang suara dimana sudut datang sama dengan sudut patulnya dan dipantulkan oleh penghalang. Seperti pada ruangan tertutup yang biasa kita kenal sebagai “gaung”. Gaung ini terjadi karena adanya sebagian suara pantul yang dihasilkan bersamaan sehingga suara asli tidak terdengar. Sehingga dalam sebuah ruangan tertutup yang diperuntukan untuk mendapatkan suara yang jernih tanpa patulan seperti studio rekaman dipasang peredam suara baik dari wol, kapas ataupun karet untuk meredam pantulan suara. (Tipler, 1998)
  • Pembiasan merupakan gejala pada gelombang suara dimana suara yang terdengar oleh kita itu bergantung pada pembiasannya, apakah mendekati garis normal ataupun menjauhi garis normal. Hal itu dapat dilihat berdasarkan kerapatan antara medium yang satu kemedium yang satunya lagi. Jika suara merambat dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat maka suara akan dibiaskan menjauhi garis normal. Sebaliknya, jika suara merambat dari medium yang lebih renggang ke medium yang lebih rapat maka suara akan dibiaskan mendekati garis normal. Pembiasan yang mendekati garis normal inilah yang menghasilkan suara lebih besar. (Tipler, 1998)
  • Difraksi merupakan gejala pada gelombang suara dimana adanya lenturan gelombang yang disebabkan oleh adanya penghalang berupa celah. Contohnya yaitu kita dapat mendengar suara mesin mobil sebelum tikungan jalan walaupun kita belum melihat mobil tersebut karena terhalang oleh bangunan tinggi yang berada didekat tikungan jalan. (Tipler, 1998)
  • Interferensi merupakan gejala pada gelombang suara dimana untuk membuktikan interferensi ini diperlukan 2 sumber bunyi koheren. Ketika anda berjalan pada posisi tertentu anda akan mendengarkan suara paling lemah sementara di posisi yang lain anda akan mendengarkan suara yang paling kuat. (Tipler, 1998)
  • Efek doppler merupakan gejala pada gelombang suara yang terjadi ketika ada suatu gerak relatif antara sumber gelombang dan pengamat. Dimana pada saat sumber gelombang dan pengamat saling mendekat maka frekuensi yang didengar oleh pengamat akan semakin besar dan begitupun sebaliknya. (Tipler, 1998)
  • Pelayangan merupakan gejala pada gelombang suara yang terjadi saat dua gelombang bunyi yang berbeda frekuensi sedikit, bertemu. Sehingga kuat bunyi yang dihasilkan naik dan turun, variasi naik turunnya bunyi inilah yang disebut dengan layangan. (Tipler, 1998)

Tidak lengkap rasanya jika belum mengetahui aplikasi dari gelombang suara ini di berbagai industri yang ada, berikut ini disajikan dalam bentuk tabel.

NO

Nama Alat/Teknik

Keterangan dan Cara Kerja

1

SONAR Penggunaan pantulan bunyi sebagai navigasi

2

Fathometer Memanfaatkan pantulan bunyi ultrasonik juga seperti sonar, untuk mengetahui kedalaman laut hingga keberadaan kawanan ikan

3

Ultrasonografi Penggunaan pulsa ultrasonik untuk dipantulkan oleh jaringan, tulang dan cairan tubuh. Biasa digunakan untuk memeriksa janin didalam kandungan

4

NDT Teknik pemindaian ultrasonik yang digunakan untuk memeriksa hati, apakah ada indikasi kanker hati atau tidak

5

Ukur laju darah dengan efek doppler Digunakan untuk cek trombosit pada umumnya

 

  1. 2.      Cahaya

Cahaya merupakan bentuk fisik dari adanya gelombang cahaya. Berdasarkan arah rambat gelombang terhadap getarannya gelombang cahaya ini termasuk gelombang transversal karena arah rambat gelombangnya tegak lurus dengan arah getarnya. Selain pengelompokan berdasarkan arah rambat gelombang terhadap getarannya, gelombang cahaya ini juga dapat dikelompokan berdasarkan perlu tidaknya medium perambatan gelombang. Gelombang cahaya termasuk gelombang elektromagnetik yang artinya gelombang ini tidak memerlukan medium sebagai perambatannya (Tipler, 1998). Sehingga dalam keadaan vakum seperti di luar angkasapun yang tidak terdapat atmosfernya, gelombang cahaya ini dapat merambat.

Pada umumnya gejala-gejala yang terjadi pada gelombang cahaya ini ada 4 yaitu polarisasi, difraksi dan interferensi cahaya.

  • Polarisasi cahaya merupakan proses terserapnya sebagian arah getar cahaya. Cahaya yang sebagian arah getarnya terserap disebut cahaya terpolarisasi dan jika cahaya hanya mempunyai satuarah getar tertentu disebut cahaya terpolarisasi linier. Cahaya terpolarisasi dapat diperoleh dari cahay tidak terpolarisasi yaitu dengan menghilangkan semua arah getar dan melewatkan salah satu getar saja. Untuk melakukan hal ini ada 4 cara, diantaranya yaitu dengan cara absorbsi selektif, pemantulan, pembiasan ganda dan hamburan. (Serway, 1999)

 images (1)

 images

images (5)

  • Difraksi cahaya merupakan peristiwa pelenturan cahaya. Difraksi cahaya dapat membentuk suatu pola dengan spektrum garis gelap terang untuk cahaya monokromatik dan spektrum pelangi jika cahaya polikromatik. Setiap spektrum dalam difraksi cahaya dan interferensi berbeda panjang gelombangnya. (Serway, 1999)

 

 

  • Interferensi cahaya terjadi jika dua(atau lebih) berkas cahaya kohern dipadukan. Di bagian ini kita akan mempelajari interferensi antar dua gelombang cahaya kohern. Dua berkas cahaya disebut kohern apabila kedua cahaya itu memiliki beda fase tetap. Interferensi destruktif(saling melemahkan) terjadi jika kedua gelombang cahaya berbeda fase 1800. Sedangkan interferensi konstruktif(saling menguatkan) terjadi jika kedua gelombang cahaya sefase atau beda fasenya nol. Interferensi destruktif maupun interferensi konstruktif dapat diamati pada pola interferensi yang terjadi. (Serway, 1999)

Pola interferensi dua cahaya diselidiki oleh Fresnel dan Young. Fresnel melakukan percobaan interferensi dengan menggunakan rangkaian dua cermin datar untuk menghasilkan dua sumber cahaya kohern dan sebuah sumber cahaya di depan cermin. Young menggunakan celah ganda untuk menghasilkan dua sumber cahaya kohern. (Serway, 1999)

 

Daftar Pustaka

Alvin, H. 1998. 3000 SOLVED PROBLEM IN PHYSICS. New York: Mc. Grawhill book Company

Serway, R.A. 1999. College Physics. USA: Harcourte Brace College Publishers

Tipler, P.A. 1998. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Kanginan, Marthen. 2006. Fisika untuk SMA. Jakarta: Erlangga

Anonim. 2009. Suara dan Cahaya. www.wordpress.com (diakses pada 18 April 2013 pukul 9.07)

Posted in oseanografi | 1 Comment

Walker and Hadley Cell


            Di wilayah Indonesia terjadi dua aliran udara regional global. Diantaranya yaitu proses sirkulasi barat timuran atau biasa disebut sebagai sirkulasi walker dan proses sirkulasi utara selatan atau yang biasa disebut sebagai sirkulasi hadley. Proses pembentukan sirkulasi barat timuran (sirkulasi walker) terjadi karena distribusi laut dan benua di daerah khatulistiwa Indonesia memiliki kekhasan dengan menjadi pusat konveksi aktif karena panjangnya daerah pesisir atau garis pantai yang memicu konveksi di pinggir laut. Selain itu letak Indonesia yang di sebelah barat dan timurnya terdapat dua samudra luas yang merupakan badan air terluas di dunia. Dengan sistim tersebut maka akan terjadi udara naik di daerah maritim Indonesia dan udara turun di daerah lautan pasifik dan India.

Aliran udara naik atau yang biasa disebut dengan istilah kolam hangat (Warm Pool) terjadi disebelah utara pulau Irian. Sedangkan proses aliran udara dari sirkulasi walker sendiri lebih banyak dikendalikan oleh perbedaan suhu muka laut di daerah pasifik. Pada kondisi normal sirkulasi terjadi dengan naiknya udara di daerah kolam hangat (barat Pasifik) dan menurun di timur Pasifik. Pergerakan dari sirkulasi Walker dapat terlihat dan juga terasa pada aliran laut di sebelah timur Indonesia dengan aliran masa air laut menuju kolam hangat di daerah khatulistiwa samudra Pasifik

Selain pola sirkulasi tersebut, ada juga sirkulasi utara selatan yang biasa disebut sirkulasi Hadley. Pola sirkulasi ini terjadi akibat dari gaya koriolis akibat rotasi bumi dan posisi titik equinok puncak radiasi matahari yang selalu berpindah utara selatan. Sirkulasi Hadley di daerah tropis merupakan bagian dari beberapa sirkulasi lain pada lintang tinggi yang merupakan sistim ventilasi bumi yang terbentuk secara natural yaitu sirkulasi Ferrel dan sirkulasi Kutub. Sirkulasi Hadley tidak tergantung pada posisi garis lintang absolut, akan tetapi tergantung pada puncak equinok matahari yang memberikan radiasi maksimum. Salah satu akibat dari sirkulasi hadley yaitu angin pasat tenggara di bumi belahan utara dan angin pasat barat laut di bumi belahan selatan. Pusat pertemuan dari kedua angin pasat tersebut dikenal sebagai daerah ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) atau daerah Konvergensi lintas Tropis.

Posted in Uncategorized | 10 Comments