Rusdin Tahir Belajar adalah upaya untuk tetap bertahan dalam kehidupan

Desember 9, 2011

PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN

Filed under: Artikel — Rusdin Tahir @ 5:27 pm

PENDAHULUAN

Perkembangan teori manajemen sampai pada saat ini telah berkembang dengan pesat. Tapi sampai detik ini pula belum ada suatu teori yang bersifat umum ataupun berupa kumpulan-kumpulan hukum bagi manajemen yang dapat di terapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Para manajemen banyak mengalami dan menjumpai pandangan-pandangan tentang manajemen, yang berbeda adalah dalam penerapan­nya. Dimana setiap pandangan hanya dapat diterapkan dalam berbagai masalah yang berbeda pula, sedangkan untuk masalah-masalah yang sama belum tenth dapat diterapkan. (more…)

Desember 6, 2011

Materi Kuliah Business Statistics

Filed under: Materi Kuliah Business Statistcs — Rusdin Tahir @ 10:08 pm

Pertemuan 1 ttg Review Statatik 1

Human Resources Strategy, Technology Transfer and Company’s Performance Achievement

Filed under: Uncategorized — Rusdin Tahir @ 5:18 am

PENDAHULUAN

Kapasitas daya saing Indonesia diperburuk dengan terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997. GDP mencapai titik terendah minus 13,7% pada tahun 1998, inflasi mencapai 58% (1998), 40% (1999) dan diprediksikan menurun hingga mencapai 10% (tahun 2000). Perubahan GDP Triwulan pada Maret 1997 dan Maret 1998 menunjukkan angka negatif pada hampir seluruh sektor. Sektor konstruksi ternyata paling parah dilanda badai krisis yaitu minus 30,08%, sedangkan industri manufaktur mengalami penurunan sampai dengan minus 3,4%.

Di samping itu terjadi pula peningkatan indeks harga sebagai salah satu indikasi bahwa perusahaan belum mampu menyediakan bahan baku dengan harga yang relatif rendah, teknologi produksi yang mahal atau jalur distribusi yang kurang mendukung. Memburuknya kondisi tersebut akibat produksi dalam negeri masih tergantung pada bahan baku dan bahan penolong yang harus diimpor. Aktivitas impor tersebut tentu memerlukan biaya yang besar, sehingga ini membebani harga dasar produk. Akibatnya harga produk tidak mampu bersaing, dengan kata lain daya saing produk menjadi rendah.

Merujuk pada kondisi di atas ada indikasi bahwa landasan perekonomian yang dibangun selama ini memang bukan merupakan landasan ekonomi yang kuat. Penyebab lemahnya fundamental perekonomian nasional, yaitu: (1) kualitas sumber daya manusia yang masih relatif rendah, (2) masih banyaknya produk-produk yang dihasilkan oleh sektor perekonomian nasional dengan daya saing rendah dan tidak efisien, (3) masih rendahnya tingkat penguasaan teknologi, dan (4) terbatasnya fasilitas infrastruktur dan masalah birokrasi (Firdausyi, 1996). Dengan kata lain masalah sumber daya manusia dan teknologi menjadi dua dimensi penting dalam upaya memperkokoh fundamental perekonomian.

Melalui penelitian ini akan dikaji dimensi strategi sumber daya manusia dan strategi alih teknologi sebagai determinan dalam pencapaian kinerja perusahaan berdasarkan pendekatan Balanced Scorecard.

Penelitian ini ditujukan pada sejumlah industri tekstil berskala besar yang menghasilkan komoditi ekspor non migas. Dari 714 mata dagangan, 19 jenis diantaranya termasuk dalam kelompok mata dagangan utama yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap total ekspor non migas Jawa Barat. Dari ke-19 komoditi utama Jawa Barat dimaksud, ternyata komoditi Tekstil masih tetap merupakan ekspor unggulan Jawa Barat dengan kontribusi sebesar 66,59% terhadap total ekspor non migas (Kanwil Depperindag Prop. Jawa Barat, 1999).

PERMASALAHAN DAN KERANGKA PEMIKIRAN
Masalah pokok dalam penelitian ini dapat diidentifikasi menjadi seberapa kuat dimensi strategi sumber daya manusia dan strategi alih teknologi secara simultan mempengaruhi pencapaian kinerja perusahaan ?

Manajemen strategik adalah seperangkat keputusan dan tindakan yang rasional, menyeluruh berdasarkan telaah yang mendalam tentang lingkungan saat ini dan yang akan datang guna mendukung terhadap pencapaian tujuan perusahaan secara efektif dan efisien (Tourangeau, 1981; Smith, Arnold & Bizzel, 1991). Perusahaan yang dihadapkan pada upaya mencapai keunggulan bersaing pada dasarnya harus dapat melakukan pendekatan manajemen strategik yang dapat mengakomodasi seluruh sumber daya yang dimiliki, karena antara kemampuan sumber daya dan keunggulan bersaing memiliki hubungan yang signifikan (Hamel dan Prahalad, 1993). Dengan kata lain strategi yang ditetapkan perusahaan merupakan refleksi dari sumber-sumber daya yang dimilikinya, di antaranya adalah strategi sumber daya manusia dan strategi alih teknologi.

Salah satu strategi yang perlu dirumuskan secara tegas oleh entitas bisnis yang menginginkan keunggulan bersaing dalam menyongsong milenium ke 3 adalah strategi sumber daya manusia. Strategi sumber daya manusia menjadi wacana penting, karena keunggulan bersaing perusahaan antara lain dapat diperoleh dari angkatan kerja bermutu tinggi yang memampukan organisasi untuk bersaing berdasarkan ketanggapan pasar, mutu jasa dan produk, produk yang dideferensiasi dan inovasi teknologis (Barra, 1991; Dessler, 1997).

Dalam konteks penelitian ini dimensi strategi sumber daya manusia merupakan upaya untuk meninjau strategi sumber daya manusia dari berbagai aspek yang terkandung dalam strategi SDM itu sendiri. Dimensi strategi sumber daya manusia akan disoroti tentang: (1) pengembangan kemampuan, (2) pengelolaan prestasi dan (3) pengelolaan fungsi SDM. Dimensi strategi SDM yang pertama, berkenaan dengan pengembangan kemampuan ini menelaah pengembangan kemampuan karyawan dan kemampuan manajer. Pengembangan kemampuan karyawan ini menjadi faktor yang sangat penting dan menjadi pembeda antara perusahaan yang berhasil dan kurang berhasil (Rober, 1983; Walker, 1992).

Dimensi strategi SDM yang kedua, merujuk pada upaya pengelolaan prestasi kerja karyawan (Rober, 1983; Walker, 1992). Pengelolaan prestasi dinilai penting karena implementasi strategi bisnis memerlukan karyawan yang senantiasa diberi bimbingan, dukungan, otoritas dan sumber-sumber yang dibutuhkan guna memenuhi rencana tindakan dan tujuan perusahaan. Dalam organisasi yang fleksibel dimana tujuan, lingkungan, struktur organisasional, penetapan staf dan aktivitas berubah secara konstan, peran manajer sangat penting dalam menolong karyawan untuk memahami apa yang diharapkan dari mereka (menetapkan tujuan prestasi), menolong mereka memenuhi harapan dengan sukses, evaluasi prestasi dan memberikan umpan balik, dan menyediakan penghargaan serta imbalan. Itu semua merupakan elemen integral dari seluruh kerangka kerja strategi SDM. Pengelolaan prestasi SDM ini setidaknya mencakup kajian tentang (1) Pola pencapaian prestasi, (2) Evaluasi prestasi kerja dan (3) Pola pembagian keberhasilan perusahaan (sharing of company success).

Dimensi strategi SDM yang ketiga, meninjau bagaimana pengelolaan fungsi sumber daya manusia (Rober, 1983; Walker, 1992). Fungsi sumber daya manusia sebaiknya memainkan peranan penting dalam membantu perusahaan untuk mengimplementasikan strategi. Manajemen senior mengharapkan fungsi sumber daya manusia untuk memberikan kepemimpinan dan memberikan dukungan dalam kaitannya untuk menghubungkan antara isu bisnis dan personil. Pengelolaan fungsi SDM meliputi : (1) Peranan layanan (Service Roles), (2) Organisasi, dan (3) Penetapan staf dan pengembangannya. Staf sumber daya manusia pada gilirannya menolong manajemen untuk mempertimbangkan isu-isu kunci dan menajamkan strategi untuk mencapai keefektifan manajemen. Dalam organisasi yang efektif, staf ini juga dilibatkan dalam perencanaan produksi, kualitas, budaya dan restrukturisasi, downsizing dan pemantapan keterampilan, merger atau akuisisi dan inisiatif manajemen lainnya.

Dalam rangka mengantisipasi upaya pencapaian daya saing, masalah alih teknologi menjadi wacana penting. Dalam kaitan ini strategi alih teknologi sebagai salah satu perwujudan kebijakan teknologi perusahaan yang sejalan dengan strategi bisnis. Kebijakan teknologi mewujudkan pilihan perusahaan dalam memperoleh, mengembangkan dan menyebarkan teknologi untuk mencapai tujuan strategi bisnis yang telah ditetapkan (Nadler, 1989; Wong, 1993). Dengan kata lain kebijakan teknologi tersebut antara lain diwujudkan dalam pilihan strategi alih teknologi yang sejalan dengan strategi bisnis yang dikembangkan, sehingga kedua aspek tersebut dapat disetarakan dan saling memperkuat (Porter, 1983; Wong, 1993).

Strategi alih teknologi merupakan serangkaian tindakan logis meliputi penggunaan teknologi yang telah ada, integrasi teknologi, pengembangan teknologi baru dan pelaksanaan penelitian dasar yang ditujukan untuk mendapatkan keunggulan bersaing yang dapat dipertahankan, memperkuat posisi terhadap konsumen atau mengalokasikan sumber daya (Porter, 1985; Jaafar Muhammad, 1993; Wong, 1993).
Sehubungan dengan pencapaian kinerja perusahaan, maka pendekatan penilaian kinerja yang komprehensif adalah penilaian berimbang (balanced scorecard). The balanced scorecard emphasizes that financial and nonfinancial measures must be part of the information system for employees at all levels of the organization (Kaplan & Norton, 1996). Balanced scorecard menerjemahkan misi dan strategi ke dalam tujuan-tujuan dan pengukuran yang dikemas dalam empat perspektif yang berbeda seperti yang dikemukakan oleh Kaplan & Norton (1996) bahwa The Balanced Scorecard translates mission and strategy into objectives and measures, organized into four different perspectives: financial, customer, internal business process and learning and growth.

Kaplan dan Norton (1996) menyatakan bahwa indikator (key measure) yang diukur dalam balanced scorecard terdiri dari empat perspektif indikator, seperti terlihat pada Tabel 1.
Lampiran Strategi SDM_Alih Teknologi_Kinerja dengan Pendekatan BSc

Merujuk pada beberapa konsep di atas dapat ditelaah bahwa strategi sumber daya manusia merefleksikan upaya untuk meningkatan kualitas SDM melalui pengembangan kemampuan karyawan dan manajer, pengelolaan prestasi dan pengelolaan fungsi yang optimal. Ketiga hal tersebut dinilai sangat dibutuhkan dalam rangka merumuskan dan menerapkan strategi alih teknologi yang relavan, yaitu strategi alih teknologi akan efektif jika SDM yang tersedia memenuhi kualifikasi yang layak dan berada dalam situasi yang kondusif untuk mengembangkan dirinya. Keunggulan strategi SDM dinilai sebagai sarana penting dalam upaya pencapaian kinerja perusahaan, karena sumber daya manusia sebagai sumber daya strategis yang sangat menentukan dinamika dan kelangsungan perusahaan. Bahkan dalam rangka menerapkan strategi alih teknologi pun unsur strategi sumber daya manusia harus sejalan dan searah dengan strategi alih teknologi yang ditetapkan. Lebih jauh strategi SDM juga merupakan upaya untuk menciptakan iklim kondusif perusahaan terhadap upaya pencapaian tujuan, termasuk tercapainya keungggulan kinerja.

Dalam konteks strategi alih teknologi terkandung makna tentang pentingnya kesiapan sumber daya manusia dan tujuan untuk mencapai efisiensi dalam setiap tahap operasionalisasi perusahaan. Dengan kata lain keefektifan strategi alih teknologi harus didukung oleh keberadaan sumber daya manusia yang pada gilirannya diukur antara lain oleh tingkat efisiensi yang dicapai. Pencapaian efisiensi yang optimal merupakan bagian dari keberhasilan pencapaian kinerja yang optimal. Salah satu ukuran kinerja yang merujuk pada pengukuran kinerja berimbang adalah penilaian kinerja berdasarkan pendekatan balanced scorecard. Balanced scorecard sendiri mengakomodasikan penilaian dari berbagai aspek yang ada pada suatu entitas bisnis. Selain aspek finansial, aspek teknologi dan sumber daya manusia juga merupakan tinjauan penting dalam mengukur keberhasilan perusahaan, khususnya berdasarkan keseimbangan yang dicapai. Dengan demikian secara teoretis ketiga konsep di atas merupakan kerangka berpikir yang dijadikan landasan berpikir ilmiah dalam penelitian ini. Di sisi lain pengukuran kinerja melalui pendekatan balanced scorecard juga menjadi kajian yang penting dalam strategi sumber daya manusia dan strategi alih teknologi. Kerangka fikir tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Lampiran Strategi SDM_Alih Teknologi_Kinerja dengan Pendekatan BSc

Gambar 1. Krangka Pikir Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, dapat ditarik inferensi sebagai “jawaban sementara” terhadap masalah penelitian yang telah diidentifikasikan. Hasil inferensi ini dirumuskan dalam proposisi-proposisi hipotesis yang akan diuji secara empirik, sebagai berikut:

Hipotesis Pokok : Dimensi strategi sumber daya manusia dan alih teknologi secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian kinerja perusahaan.
Hipotesis Penunjang I : Dimensi strategi sumber daya manusia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap strategi alih teknologi.
Subhipotesis 1.1 : Dimensi strategi sumber daya manusia atas pengembangan kemampuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap strategi alih teknologi.
Subhipotesis 1.2 : Dimensi strategi sumber daya manusia atas pengelolaan prestasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap strategi alih teknologi.
Subhipotesis 1.3 : Dimensi strategi sumber daya manusia atas pengelolaan fungsi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap strategi alih teknologi.
Hipotesis Penunjang II : Dimensi strategi sumber daya manusia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian kinerja perusahaan.
Subhipotesis 2.1 : Dimensi strategi sumber daya manusia atas pengembangan kemampuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian kinerja perusahaan.
Subhipotesis 2.2 : Dimensi strategi sumber daya manusia atas pengelolaan prestasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian kinerja perusahaan.
Subhipotesis 2.3 : Dimensi strategi sumber daya manusia atas pengelolaan fungsi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian kinerja perusahaan.
Hipotesis Penunjang III : Strategi alih teknologi secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian kinerja perusahaan.

METODOLOGI
Objek penelitian ini meliputi; (1) dimensi strategi sumber daya manusia (Human Resource Strategy), (2) strategi alih teknologi (Technology Transfer Strategy), dan (3) pencapaian kinerja (Performance Achievment) perusahaan berdasakan pendekatan penilaian berimbang (Balanced Scorecard) pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung.

Disamping tersedianya bahan yang dapat memberikan data cukup lengkap, pemilihan Industri Tekstil Beskala Besar didasarkan atas pertimbangan objektif sesuai dengan tujuan penelitian dan terbatasnya tenaga, waktu dan biaya penelitian serta pasilitas pendukung lainnya.

Mengacu pada tujuan penelitian yang telah dirumuskan, penelitian ini menggunakan Metode Survei Penjelasan (Explanatory Survey Method). Walaupun uraiannya juga mengandung deskripsi, tetapi sebagai penelitian relasional fokusnya terletak pada penjelasan hubungan antar variabel, sebagai konsekuensinya penelitian ini memerlukan operasionalisasi variabel yang lebih mendasar kepada indikator-indikatornya. Sesuai dengan hipotesis yang diajukan, dalam penelitian akan digunakan telaah statistika yang cocok untuk sebab akibat, yaitu dengan menggunakan model struktural. Model ini akan mengungkapkan besarnya penagruh variabel penyebab terhadap variabel akibat.

Operasionalisasi variabel dapat dilihat pada Tabel 2. sebagai berikut:

Lampiran Strategi SDM_Alih Teknologi_Kinerja dengan Pendekatan BSc
Sasaran populasi adalah seluruh perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung, yang didasarkan pada Klasifikasi Lapangan Usaha Industri (KLUI) dengan SK Menperindag Nomor:30/MPP/SK/2/1996 (Depperindag,1999). Jumlah perusahaan Industri Tekstil Berskala Besar di Kabupaten Bandung terdapat 97 perusahaan.
Metode penarikan sampel yang dipakai Simple Random Sampling Method dengan Maximin Method, pada Level of Signifikan 95% ( = 0,05), Bound of Error (BE) yang diinginkan 10%, dengan alasan bahwa kondisi populasinya bersifat Homogen. hasil perhitungan memperlihatkan ukuran sampel minimal 49 perusahaan.

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder, data yang diperlukan untuk menguji hipotesis seluruhnya berupa data primer (dari Manajemen perusahaan). Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik komunikasi tidak langsung (instrumen penelitian berupa kuesioner dan studi dokumenstasi).

Uji kuesioner dilakukan dengan analisis korelasi Spearman yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini betul-betul: (a) dapat mengukur apa yang diinginkan, (b) dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat, dan (c) sejauhmana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Kriteria yang digunakan pada Discriminating Power test (Muller, 1986) adalah sebagai berikut:

(a) Jika rs > 0 dan signifikan artinya item dapat digunakan
(b) Jika rs > 0 dan tidak signifikan artinya item tidak dapat digunakan
(c) Jika rs = 0 artinya item tidak dapat digunakan
(d) Jika rs < 0 dan signifikan artinya item harus diperiksa mungkin ada kekeliruan
(e) Jika rs < 0 dan tidak signifikan artinya item dapat digunakan

Untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan, penelitian ini menggunakan Path Analysis, dengan tujuan mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel bebas baik langsung maupun tidak langsung terhadap variabel terikat. Besarnya pengaruh (relatif) dari variabel bebas ke variabel akibat dinyatakan oleh besarnya bilangan path coefficient, sedangkan besarnya pengaruh nyata dinyatakan oleh besarnya bilangan Determinant Coefficient.
Skala pengukuran data semuanya ordinal, untuk keperluan analisis jalur diperlukan data yang serendah-renhnya berukuran interval, untuk itu diperlukan transformasi data dari skala ordinal ke skala interval, melalui Succesive Intervals Method (Hay’s, 1969).

Lampiran Strategi SDM_Alih Teknologi_Kinerja dengan Pendekatan BSc

Deskripsi Dimensi Strategi SDM
Skor yang dicapai untuk dimensi strategi sumber daya manusia pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung, secara keseluruhan adalah 5372 atau 80,38 % dari skor maksimum 6683. Skor ini berada antara kuartil 3 dengan nilai maksimum. Hal ini memberikan gambaran bahwa munculnya fenomena dimensi strategi sumber daya manusia, termasuk kategori sangat tinggi. Artinya dimensi strategi sumber daya manusia di lingkungan perusahaan industri tekstil telah diimplemetasikan secara baik, dimensi tersebut meliputi strategi pengembangan kemampuan (karyawan dan manajer), strategi dalam pengelolaan prestasi, dan strategi dalam pengelolaan fungsi sumber daya manusia. Berikut ini uraian untuk masing-masing dimensi strategi sumber daya manusia.

Skor yang dicapai untuk aspek pengembangan kemampuan karyawan dan manajer pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung adalah 3710 atau 84,13 % dari skor maksimum 4410, berada di antara kuartil 3 dan nilai maksimum. Hal ini memberikan gambaran bahwa munculnya fenomena dimensi strategi sumber daya manusia dalam aspek pengembangan kemampuan karyawan dan manajer termasuk kategori sangat tinggi, artinya aktivitas pengembangan kemampuan di kalangan karyawan pada lingkungan industri tekstil berskala besar telah diterapkan secara baik. Penerapan tersebut relatif mencakup strategi pengembangan kemampuan karyawan secara menyeluruh, meliputi: (a) Kemampuan Karyawan, dan (b) Pengembangan Kemampuan Manajer.

Skor yang dicapai untuk aspek pengelolaan prestasi pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung adalah 1220 atau 79,32 % dari skor maksimum 6683, berada antara kuartil 2 (median) dan kuartil 3. Hal ini memberikan gambaran bahwa dimensi strategi sumber daya manusia dalam aspek pengelolaan prestasi termasuk kategori tinggi. Secara konseptual kategori tersebut merefleksikan bahwa pengelolaan prestasi telah dapat dilakukan secara memadai, meliputi: (a) Aspek Pencapaian Prestasi, (b) Aspek Evaluasi Prestasi, dan (c) Aspek Pembagian Keberhasilan.

Skor yang dicapai untuk aspek pengelolaan fungsi pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung adalah 442 atau 60,14 % dari skor maksimum 735, berada antara kuartil 2 (median) dan kuartil 3. Hal ini memberikan gambaran bahwa dimensi starategi sumber daya manusia dalam aspek pengelolaan fungsi sumber daya manusia termasuk kategori tinggi. Kategori tersebut mengindikasikan bahwa departemen sumber daya manusia pada perusahaan industri tekstil skala besar di Kabupaten Bandung secara umum telah berjalan dengan baik.

Strategi Alih Teknologi
Skor yang dicapai untuk strategi alih teknologi pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung, secara keseluruhan adalah 2119 atau 66,53 % dari skor maksimum 3185. Skor ini berada antara kuartil 2 (median) dengan kuartil 3. Hal ini memberikan gambaran bahwa penerapan strategi alih teknologi pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung secara keseluruhan, termasuk kategori tinggi. Artinya secara konseptual strategi alih teknologi pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung telah diterapkan dengan baik, berdasarkan indikator-indikator strategi alih teknologi yang ada.

Kinerja Perusahaan
Skor yang dicapai untuk pencapaian kinerja berdasarkan pendekatan balanced scorecard pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung, secara keseluruhan adalah 9889 atau 84,09 % dari skor maksimum 11760. Skor ini berada antara kuartil 3 dan nilai maksimum. Hal ini memberikan gambaran bahwa pencapaian kinerja berdasarkan pendekatan balanced scorecard pada perusahaan industri tekstil berskala besar di Kabupaten Bandung secara keseluruhan, termasuk kategori sangat tinggi.
Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa aspek pengembangan kemampuan (X1), aspek pengelolaan prestasi (X2), dan aspek pengelolaan fungsi (X3) mempengaruhi strategi alih teknologi (Y) secara serempak sebesar 74,93 persen. Dari perolehan nilai koefisien jalur diketahui bahwa aspek yang memiliki pengaruh relatif terbesar terhadap strategi alih teknologi (Y) adalah pengelolaan fungsi (X3), sedangkan pengaruh terkecil adalah pengelolaan prestasi (X2).

Pengujian statistik menunjukkan pengaruh dimensi strategi SDM terhadap kinerja perusahaan adalah sebesar 54,67%. Tingkat pengaruh tersebut merupakan indikasi bahwa dimensi strategi SDM yang dipilih dan diterapkan memiliki pengaruh terhadap pencapaian kinerja perusahaan. Strategi SDM dalam implementasinya pada dasarnya tidak terlepas dari visi manajer yang fleksibel dan beroerientasi ke masa depan. Dengan demikian pembinaan dan pengembangan manajemen secara terstruktur menjadi bagian penting dalam rangka mengefektifkan strtaegi SDM secara komprehensif.

KESIMPULAN

Selain optimalisasi kemampuan karyawan, kemampuan manajer merupakan aktivitas penting yang turut menjadi kunci keberhasilan pencapaian kinerja perusahaan. Hal tersebut sejalan dengan sasaran paling utama dari program pengembangan manajemen, yaitu untuk menaikkan kinerja masa depan dari organisasi itu sendiri. Pengembangan manajemen itu penting karena beberapa alasan. Pengembangan manajemen memudahkan kesinambungan organisasi dengan mempersiapkan karyawan dan manajer agar dapat menempati posisi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi di kemudian hari, sebagai bentuk kesinambungan yang positif dan realistis. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui sosialisasi tentang nilai-nilai dan sikap yang benar untuk bekerja dalam perusahaan, sehingga dapat mendorong tanggapan organisasi dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan para manajer untuk lebih cepat menanggapi perubahan.

Program pengembangan ini menjadi sangat strategis karena pada akhirnya setiap manajer di dalam organisasi sebaiknya bertanggung jawab untuk pengembangan bakat di dalam organisasinya, dimana pengembangan bakat tersebut menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki organisasi sehingga mampu memberikan kontribusi secara optimal untuk mencapai kinerja perusahaan. Manajer selaku pemimpin diharapkan menjadi motor penggerak yang aktif menyebarkan visi perusahaan dan mendorong segala potensi untuk diwujudkan secara nyata dan mendukung tercapainya tujuan perusahaan melalui kinerja yang unggul.

Setiap perubahan teknologi yang dapat dipelopori perusahaan mana saja kadang diyakini sebagai suatu yang baik. Bersaing dalam industri “teknologi tinggi” seringkali dianggap sebagai hal yang sudah pasti akan membuahkan kemampulabaan, dan industri “teknologi rendah” seringkali dipandang dengan cemoohan. Kesuksesan yang dewasa ini diraih dalam persaingan luar negeri, yaitu persaingan yang banyak didasarkan pada inovasi teknologi, telah mendorong banyak perusahaan untuk berinvestasi lebih banyak lagi dalam teknologi. Selain itu, dalam beberapa kasus, keputusan berinvestasi lebih banyak lagi dalam teknologi ini diambil tanpa pemikiran kritis. Pada kenyataannya tidak semua perubahan teknologi memberikan manfaat strategis. Perubahan teknologi bahkan bisa memperburuk posisi bersaing perusahaan dan daya tarik industri bersangkutan. Teknologi tinggi tidak menjamin teraihnya laba. Justru, banyak industri teknologi tinggi memiliki kemampulabaan yang lebih rendah daripada sejumlah industri “teknologi-rendah” karena mereka (industri teknologi tinggi) memiliki struktur yang kurang menguntungkan.

Strategi alih teknologi merupakan cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam rangka menguasai teknologi secara tepat dan proporsional. Proses ini penting guna menjembatani proses yang terjadi dengan kemampuan teknologi yang dapat dikuasai. Penguasaan teknologi dapat optimal apabila upaya untuk mencapai kemampuan teknologi dapat dilakukan secara efektif dan efisien hingga dapat mendukung pencapaian kinerja perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik, (1998). Indikator Ekonomi. Buletin Statistik Bulanan Juli 1998. Jakarta: BPS.
Bell, Martin, Bruce Ross-Larson, and Larry Westphal (1984). Assessing the Performance of Infant Industries. Journal of Development Economics 16 (September-Oktober).
Burgelham, R.A. (1996). A Process Model of Strategic Business Exit: Implication for an Evolutionary Perspective on Strategy. Strategic Management Journal. pp. 193-214.
Ching, Chun Li, (1979). Path Analysis: a Primer. Third Printing. Pacific Grove, California: The Boxwood Press.
Collier, D. (September 1985). ‘Linking business and technology strategy’, Planning Review, pp.28-44.
Cooper, R. (1987). Difining The New Product Strategy. IEEE, Transaction on Engineering Management, EM-34. pp. 184-193.
Dessler., Gary. (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia. (Alih Bahasa: Benyamin Molan). Jakarta: Prenhalindo.
Firdausyi, Carunia Mulya, (1996). Perdagangan Bebas Dalam APEC 2020: Masalah dan Hambatan Bagi Indonesia. Kelola: Gajah Mada University Business Review No.11/VI/1996. pp.93-109
Fisher, Lawrence M., (1998). The Innovation Incubator Technologi Transfer at Stanford University. Strategy and Business. Fourth Quarter 1998. Boston: Booz Allen and Hamilton. pp. 76-85.
Foster, R. (1986). “Working the S-curve-Assessing technological threats’, Research Management, 29 (4), pp. 17-20
Hadi Soesanto dan Haryo Aswicahyono, (1995). Teknologi dan Strategi Meraih Keunggulan Kompetitif dalam Sumber Daya, Teknologi dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. pp 292-320
Hamel, G., and Prahalad, C.K., (1990). The Core Competence of the Corporation. Harvard Business Review May-Juni 1993. pp. 79-91.
Hill, Charles W.L., & Gareth R. Jones, (1992). Strategic Management: An Integrated Approach. Second Edtion. Boston Toronto: Houghton Company.
Jaafar Muhamad, (1993). Malaysia’s Industrialization: The Issue of Technology Tranfer. Jurnal Pengurusan Volume 12 Juli 1993. pp. 39-51
Johnson, Collin. (1998). Survey of Recent Development. Bulletin of Indonesian Economic Studies. Vol 34 No. 2 August 1998. pp 3 –60.
Kaplan, Robert S. & David P. Norton, (1996). Translating Strategy Into Action The Balanced Scorecard. Boston: Harvard Business School.
Kaplan, Robert S. & Davis P. Norton. (1996). Using the Balanced Scorcard as a Strategic Management System. Harvard Business. Januari-Februari 1996. Pp 75-85.
Muller, Daniel J., (1986). Measuring Social Attitudes. New York: Teacher College Press.
Nadler, P. (1989). “Technology strategy: Guide to the literature’. In R.S. Rosenbloom and R. A. Burgelman (eds), Research on Technological Innovation, Management and Policy. JAI Press, Greenwich, CT, pp. 1-25.
Nanni, Alfred J., Dixon, and Volman, (1992). Integrated Performance Measurement: Management Accounting to Support the New Manufacturing Realities. Journal of Management Accounting Research. pp. 1-17.
Porter, Michael.E. (1980). Competitive Strategy: Techniques for Analyzing Industries and Competitors. New York: Free Press.
_____., (1983). “The Technological Dimension of Competitive Strategy’. In R.S. Rosenbloom (ed), Research on Technological Innovation, Management and Policy, 1. JAI Press, Greenwich, CT, pp. 1-33.
Roberts, R.G. dan Wolf M.Grant., (1983). Human Resources Strategy. Mc Graw Hill Company.
Thee Kian Wee , (1990). Indonesia: Technology Transfer in the Manufacturing Industry, dalam Soesanto, Hadi, dan Mari Pangestu (eds). Technological Challenge in the Asia-Pasific Economy. Sydney: Allan & Unwin.
Walker, James W. (1992). Human Resource Strategy. USA: Mc. Graw-Hill Inc.
Ward, Keith, (1996). Strategic Management Accounting. British-Oxford: Butterworth-Heinemann.
Wong (1993). Constrains to Technology Development in a Rapidly Growing dalam Sumber Daya, Teknologi dan Pembangunan (1995). Editor: Mohammad Arsjad Anwar, Faisal H. Basri, dan Mohamad Ikhsan. Jakarta: FE UI dan Gramedia Pustaka Utama. pp. 204-211.
Zahra, Shaker A. and Jeffry G. Covin., (1993). Business Strategy, Technology Policy and Performaance. Strategic Management Journal. Vol. 14. 1993. pp. 451-478.

Meramalkan dengan pendekatan path analysis

Filed under: Materi Kuliah — Rusdin Tahir @ 4:30 am

PERAMALAN BISNIS
Merupakan analisis terhadap data historis untuk menemukan hubungan, kecendrungan dan pola yang sistematis dalam suatu bisnis

PRASYARAT UTAMA PERAMALAN
Baik dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif
Adalah adanya pola atau hubungan atas kejadian yang diamati.
Pola atau hubungan tersebut harus dididentifikasi dengan benar dan diproyeksinya untuk menghasilkan ramalan

KETERBATASAN PERAMALAN BISNIS
Bila pola atau hubungan tersebut tidak ada atau tidak dijumpai, permalan akan sulit dilkukan
Dalam bidang fisika, pola bersifat pasti dan hubungan bersifat tetap.
Untuk peramalan, pola dan hubungan tersebut relatif tidak berubah sepanjang waktu.
Hal ini berbeda sekali dengan bidang ekonomi dan bisnis, dimana pola dan hubungan bercampur baur dengan faktor –faktor yang bersifat acak serta dapat berubah sewaktu –waktu dan sangat sulit diperkirakan sebelumnya.
Keadaan inilah sebenarnya yang merupakan sumber utama ketidakakuratan peramalan bisnis dan ekonomi

Hasil Kontempalsi menunjukan:
Banyak orang akan terkejut karena menyadari bahwa pada kenyataan, banyak keputusan penting yang dilakukan secara pribadi maupun perusahaan mengarah kapada kejadian–kejadian di masa mendatang sehingga memerlukan ramalan tentang tetang keadaan lingkungan masa depan tersebut.

Misal:
Saudara memutuskan untuk menikah, keputusan tersebut pada umumnya didasarkan pada peramalan bahwa rumah tangga akan bahagia.
Ketika orang memutuskan untuk kuliah di Universitas di Unpad pada umumnya didasarkan pada peramalan bahwa setelah lulus dari Unpad, saudara akan mudah memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang baik.
Perusahaan merkerut Karyawan yang punya kemampuan baik atau tepat untuk posisi tertentu, agar produktivitas perusahaan meningkat
dsb

Untuk sampai pada keputusan membangun pabrik baru, ramalan yang berkaitan dengan permintaan produk di masa yang akan datang, inovasi teknologi, biaya, harga , kondisi persaingan, tenaga kerja, peraturan perundang –undangan dan banyak faktor lain.
Kalupun pada akhirnya perusahaan merumuskan untuk membangun pabrik baru, keputusan tersebut lebih banyak didasarkan pada hasil peramalan yang mengindikasikan bahwa pabrik tersebut akan menguntungkan di masa yang akan datang.
Apakah dalam kenyataan nanti pabrik baru tersebut benar- benar menguntungkan ?

Jawabannnya: belum tentu kerena inilah risiko dalam dunia bisnis.
Beberapa pertanyaan di bawah ini memnunjukkan arti penting peramalan bagi keputusan di dunia bisnis:
1. Jika perusahaan meningkatkan anggaran biaya iklan sebesar 10%, bagaimana pengaruhnya terhadap penjualan?

2. Berapa jumlah unit produk yang harus terjual untuk menutup biaya investasi?
3. Faktor –faktor apa yang menyebabkan variablitas keragaman penjualan bulanan perusahaan?
4. Apakah akan terjadi resesi tahun depan? Apabila terjadi, apa yang harus dilakukan perusahaan ?
5. Apakah pemilu akan berhasil? Siapa yang akan menang? Bagaimana kebijakan ekonomi dan politik partai pemenang pemilu ? Apa dampaknya bagi dunia bisnis? Langkah –Langkah apa yang harus dilakukan perusahaan untuk mengantisipasinya?

Dalam dunia bisnis, hasil peramalan mampu memberikan gambaran tentang masa depan perusahaan yang memungkinkan manajemen membuat perencanaan, menciptakan peluang bisnis mampu mengatur pola investasi mereka.
Ketetapan hasil peramalan bisnis akan meningkatkan peluang tercapainya investasi yang menguntungkan.
Semakin tinggi akurasi yang dicapai peramalan, semakin meningkat pula peran peramalan dalam perusahaan
Karena hasil dari suatu peramalan dapat memberikan arah bagi :
Perencanaan perusahaan,
Perencanaan produk dan pasar,
Perencenaan penjualan,
Perencanaan produksi
dan perencanaan keuangan.

Berikut ini CONTOH Kasus Peramalan Bisnis 4 PATH ANALYSIS kasus yang dihadapi para manajer dalam memprediksi kekuatan apa yang dapat meningkatkan produktivitas

Desember 5, 2011

STARTEGI SUMBER DAYA MANUSIA DAN KEUNGGULAN BERSAING

Filed under: Artikel — Rusdin Tahir @ 12:09 pm

Meningkatkan kompetisi di pasar domestik dan internasional telah memfokuskan perhatian pada pengembangan strategi yang memaksimalkan laba atas investasi sumber daya manusia (SDM). Transisi dari model manufaktur ekonomi padat karya  untuk satu pengetahuan fokus pada bagimana memicu layanan terbaik, ditambah dengan hasil yang mencengangkan yg belum pernah terjadi sebelumnya, ketidakpastian lingkungan telah memaksa organisasi untuk mengevaluasi kembali pentingnya human capital dan strategi penilaian sebagai perioritas.

(more…)

Competitive Advantage Through the Employees

Filed under: Artikel — Rusdin Tahir @ 5:51 am

Pandangan berbasis sumber daya perusahaan saat ini sedang disebut-sebut sebagai alternatif teori strategi yang dikembangkan oleh Porter 1985. Alih-alih memfokuskan diri pada posisi di pasar produk, ia berargumen bahwa perusahaan mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan oleh sumber daya berkembang, yang menambah nilai unik atau langka, yang tidak dapat dengan mudah disalin oleh orang lain. Dengan demikian perusahaan dengan akses lebih unggul sumber daya fisik, yang lain tidak bisa membeli, memiliki keunggulan yang superior.

(more…)

GETTING STARTED

Filed under: Materi Kuliah — Rusdin Tahir @ 4:51 am

Tujuan pembahasan ini adalah untuk membantu peneliti atau calon peneliti “Apa yang dilakukan setelah ia memutuskan untuk melakukan peneltian “.

Paling sedikit ada 6 isu yang dibahas dalam bab ini yaitu :

  • Memilih suatu topik
  • Apa yang dilakukan peneliti jika ia tidak dapat memikirkan suatu topik
  • Focusing: Bagaimana peneliti menentukan focus penelitian yang layak dan relevan dari ide-ide semula yang telah dimiliki.
  • Memilih dan menghubungi pembimbing
  • Penelitian individu dan kelompok.
  • Membuat catatan harian penelitian.

Keenam isu tersebut dibahas lebih jauh dalam uraian dibawah ini. (more…)

READING FOR RESEARCH (Membaca untuk Penelitian)

Filed under: Materi Kuliah — Rusdin Tahir @ 4:42 am

 

Pendahuluan

Melakukan penelitian dalam ilmu-ilmu social akan menuntut kita banyak membaca terutama dalam bidang kajian sebelumnya tidak banyak kita baca. Pekerjaan dan keterampilan –keterampilan yang berhubungan dengan membaca  bagaimana membaca, apa yang harus dibaca, bagaimana bacaan – dapat menjadi kekhawatiran dan hambatan utama bagi peneliti yang relatif belum berpengalaman. Tujuan dari bab ini adalah untuk memberi dukungan kepada kita dalam mengembangkan dan memanfaatkan keterampilan –keterampilan membaca. (more…)

MANAGING YOUR PROJECT

Filed under: Materi Kuliah — Rusdin Tahir @ 3:49 am

MANAGING YOUR PROJECT

(Mengelola Proyek Anda)

Pendahuluan

Kita telah memutuskan topik pada proyek penelitian kita. Kita telah menentukan pendekatan penelitian dan teknik serta metode yang akan digunakan. Kita telah mengetahui tempat literature yang relevan dengan topik kita dan telah dimulai membacanya. Bagaimana caranya kita mengelola dan melanjutkan rencana kita untuk melaksanakan dan menyelesaiakan proyek kita sesuai dengan waktu dan sumberdaya yang kita miliki?

Bab ini membahas berbagai keterampilan yang akan perlu kita kembangkan untuk mengelola proyek penelitian kita secara efektif dan untuk menangani permasalahan yang  mungkin timbul ketika kita malaksanakan proyek penelitian kita. Bab ini mencakup:

  • pengaturan waktu : Bagaimana menggunakan waktu bagi
  • penelitianpemetaan proyek kita :penjadwalan penelitian kita sesuai dengan waktu yang tersedia
  • piloting *penjajagan): menguji coba rencana penelitian sebelum melaksanakannya
  • berhubungan dengan figure –figur dan lembaga –lembaga kunci: peran pembimbing majikan dan universitas
  • pembagian tanggung jawab: memanfaatkan hubungan –hubungan formal dan informal untuk mendukung penelitiankita
  • menggunakan pengolah kata dan komputer: memanfaatkan  teknologi yang ada
  • mengusahakan agar tidak patah semangat manakala penelitian tidak berjalan seperti yang direncanakan: naik turunannya proses penelitian.

Mengatur waktu

          Dalam melaksanakan proyek penelitian penting sekali diperhatikan waktu. Ketahuilah bagaimana sikap anda terhadap waktu dan cara menggunakannya. Kita harus memahami cara kita mengatur waktu dalam hubungannya dengan tingkat energi kita dan menangani stratehi –strategi, dan terhadap tuntutan peneyelesaian proyek penelitian.

Sikap –sikap terhadap waktu.

  • saya seorang burung hantu
  • saya seorang burung yang cekatan
  • saya bermain –main dalam melaksanakan tugas-tugas
  • saya membantu jadwal segala sesuatu dibuku harian
  • saya terlalu banyak kegiatan
  • saya membagi –bagi waktu (contoh saya mekhususkan hari minggu untuk keluarga)
  • saya menyelipkan kegiatan –kegiatan ketika saya mampu
  • terlalu sedikit waktu dalam sehari
  • saya tidur nyenyak
  • saya tidak punya waktu walaupun hanya untuk pergi ke toilet
  • saya memasak untuk makan malam anak –anak dan sambil menulis di sudut meja
  • saya harus tahu saya tidak akan diganggu
  • makin sedikit saya punya waktu makin banyak yang saya lakukan
  • waktu bagi saya lebih berarti energi dan motivasi

 

Memanfaatkan waktu untuk penelitian

Delegasi:bisakah kita menelegasikan aspek-aspek tertentu dari penelitian kita, misalnya membuat perjanjian, melakukan interviu, penulisan kembali dari rekaman, memuaskan data ke  komputer, analisis statistik, pengetikan draft (rancangan)penelitian?

Membaca dengan efektif :latihan diri kita mendalami literature dan mencapai intisari argumen di dalamnya dengan lebih cepat

Memotong –motong pekerjaan : kita mungkin dapat membagi beberapa tugas penelitian menjadi potongan –potongan yang dapat dikerjakan manakala kita sedikit punya waktu. Misalnya jika kita membawa bahan potokopian yang harus kita baca, kita dapat membawanya ketika berpergian, misalnya, di kereta dan ketika kita punya waktu.

Rileks dengan suatu maksud: yakinkan semua aktivitas dalam keseluruhan waktu memiliki maksud tertentu. Kita mungkin malas, misalnya untuk membaca buku untuk memperoleh isinya. Atau mungkin menggunakan waktu berjalan –jalan dengan anjing atau mandi untuk sambil memikirkan sesuatu tentang penelitian. Jangan menganggap kegiatan itu sebagai pembuang waktu. Salah satu kunci melakukan penelitian yang efektif dan bernilai adalah dengan membiarkan diri kita memiliki waktu selingan untuk mempertimbangkan yang sedang kit kerjakan.

Ketika kita telah jelas dengan pilihan dan sikap kita terhadap pemanfaatan waktu., kita harus mampu membuat rancangan jadwal untuk penelitian kita. Hal ini akan menghubungkan waktu yang kita miliki untuk melaksanakan penelitian –sejumlah jam hari, minggu , atau barang kali tahun-dengan tanggung jawab dan komitmen kita yang lain, yang memungkinkan kita untuk menyelipkan berbagai kegiatan penelitian yang harus mengerjakan sesuatu dari penelitian kita.

Contoh pemetaan kegiatan ada pada bab 55 (penjadwalan penelitian menggunakan grid).

Piloting

          Piloting atau pengujiab kembali (reassesment), adalah proses dimana kita mengujicoba teknik –teknik dan metode penelitian yang ada dipikiran kita . lihatlah seberapa baik teknik dan metode itu dalam prakteknya dan jika perlu ubahlah rencana kita seperlunya.

Penjadwalan penelitian menggunakan table.

Berhubungan dengan figure-figur dan lembaga –lembaga kunci (paling penting)

Kebanyakan peneliti harus berhubungan dengan banyak figure dan berbagai institusi kunci. Dalam bagian peneliti ini kita akan membahas isu-isu yang paling umum tercakup didalamnya:

  • pada level individual, pembimbing, tutor, metor atau manejer kita.
  • Pada level institusi, universitas, majikan atau sponsor kita

Cacatan isu-isu yang berhubungan dengan informan dan institusi studi kasus dibahas dalam  Access and ethical issues di bab 6.

Figure kunci

          Figure –figur individual yang paling penting bagi kita sebagai peneliti adalah pembimbing atau manajer kita. Secar umum peran figure kunci adalah:

  • seorang supervisor memiliki tanggung jawab akademis untuk membimbing dan memberi naseht pada kita tentang proyek penelitian kita
  • seorang manajer memiliki tanggung jawb untuk mengarahkan dan mengawasi pekerjaan kita dalam arti yang lebih luas.

Berhubungan dengan pembimbing atau manajer

  • menyerahkan otoritas dan tanggung jawab terlalu banyak kepada figure kunci dalam penelitian kita nampaknya akan membuat kita kecewa. Penting sekali untuk mengembangkan rasa otoritas dan tanggung jawab kita sendiri.
  • Dalam hubungan pembimbing –peneliti dan manajer –peneliti, ada tanggung jawab pada kedua pihak. Persis seperti kita berhak memiliki harapan terhadap pembimbing atau manajer kita, dalam hal dukungan dan nasehat, maka mereka memiliki hak untuk memiliki harapan terhadap pekerjaan, dan pelaporan kembali.
  • Bilamana kita melaksanakan proyek penelitian sebagai bagian dari sebuah kelompok situasinya tentu agar lebih kompleks seluruh jaringan hubungan dan tanggung jawab peserta akan ada pada kita, anggota kelompok yang lain dengan pembimbing bersama atau manajer –manajer.

Karena dan kompleksitasnya, penting sekali untuk sejelas mungkin mengenai hakekat hubungan yang terlibat.

  • kita seharusnya secara ideal bermksud untuk tanggung jawab dan otoritas dalam penelitian kita. Namun demikian kitalah yang melakukan, sejauh tertentu pengaturan penelitian tersebut.
  • Jika kita meminta bantuan atau nasehat dari manajer atau pembimbing, bersiap –siaplah untuk ditolak, namun demikian kita dapat terus melanjutkan penelitian kita.

Contoh -contoh kontrak penelitian

            Kewajiban supervisor. Selain malakukan apa yang mereka mampu untuk malaksanakan pertemuan rutin dengan mahasiswanya, pembimbing seharusnya memberi nasehat tentang:

  • desaian penelitian dan penjadwalan
  • pencarian literature
  • pengembangan teoritis dan konseptual
  • isu-isu metodologis
  • pengembangan keterampilan penelitian yang memadai
  • kemajuan mahasiswa
  • pengumpulan dan analisis data

kewajiban Mahasiswa: Pekerjaan sebenarnya tentu merupakan tanggung jawab mahasiswa. Jika pengaturan pembimbingan berjalan. Mahasiswa juga memikul tanggung jawabnya yang mencakup.

  • pengaturan pertemuan reguler dengan pembimbinya
  • memelihara pola kerj yang literature
  • mendiskusikan kemajuannya dan masalah-masalah yang dihadapi sepenuhnya dengan pembimbingnya.
  • Memberikan perhatian mengenai masalah-masalah paling besar pada setiap tahap kepada pembimbing atau bila relevan kepada anggota staf yang lain. (university of Warwick 1994, p.24)

Keuntungan dan kerugian kontrak penelitian

Keuntungan :

  1. kontrak penelitian dapat membantu menspesifikasi peran dan tanggung jawab kita.
  2. kontrak penelitian itu dapat mengidentifikasikan harapan –harapan kedua belah pihak, misalnya dalam hal pertemuan atau output.
  3. kontrak penelitian dapat menyentuh membangun hubungan kerja awal atau untuk mengubah hubungan ynag telah ada.

Kerugian:

  1. Kontrak penelitian itu bisa menjadi kaku jika tidak direvisi atau dilihat kembali secara berkala
  2. kontrak penelitian mungkin menjebak kita pada hal –hal tertentu yang sebenarnya mau kita hindari.

Lembaga –lembaga kunci.

          Dua lembaga yang paling penting bagi penelitian kita adalah universitas atau perguruan tinggi kita, jika kita melakukan penelitian akademis, dan majikan kita. Jika kita melakukan penelitian untuk keperluan akademik kita akan harus mengetahui sebanyakmungkin tentang peraturan fasilitas dan praktek –praktek dari universitas yang bersangkutan.

Apa yang harus kita ketahui dari lembaga kita

Dari universitas atau lembaga kita:

Dalam hal fasilitas, kita harus mengetahui:

  • Sumber daya apa yang ada, (misalnya perpustakaan, komputer, laboratorium bahasa, ruangan) dan kapan dapat digunakan.
  • Pelayanan penelitian apa yang ditawarkan (misalnya desain kuesioner, input data transkrip tape (kaset), adpis –adpis statistik, workshop penulisan, pengajaran bahasa.
  • Pelayanan perpustakaan apa yang ditawarkan (misalnya database, internet, pinjaman antar perpustakaan, potokopi), dan atas dasar apa.
  • Bagaimana fasilitas-fasilitas ini diatur ditingkatkan universitas atau departemen (jurusan).
  • Kita juga akan harus sadar akan peraturan –peraturan tertulis di universitas atau dijurusan kita dan aturan informal yang tidak tertulis. Hal ini mungkin meliputi:
  • harapan –harapan pembimbing dan atau tutor
  • aturan –aturan tentang peran pembimbing dan pemeriksa eksternal
  • peraturan tentang waktu yang diperbolehkan untk menyelesaikan penelitian dan kemungkinan penundaan atau perluasan registrasi.
  • Aturan tentang penggunaan bahan –bahan lain (plagiarisme)
  • Aturan –aturan pra publikasi dihubungkan dengan pemasukan tesis kita.

Dari Majikan Kita:

  • jika kita diberi waktu untuk keluar atau istirahat , pastikan apakah kita harus mengerjakan pekerjaan lima hari dalam waktu empat hari.
  • Apakah manajer kita menerima bhwa pada setiap hari sabtu kit tidak bekerja, atau apakah kita harus tidak pergi ke  kampus ketika kontrak harus diselesaikan atau seoarang koleg tidak hadir karena sakit.
  • Akankah majikan atu sponsor kita membantu kita membeli buku atau memberikan uang.
  • Akankah kita akan mendapatkan akses untuk fasilitas komputasi dipekerjakan untuk penelitian ini? Bila dapat, pastikan fasilitas apa saja yang tersedia.
  • Dalam format apa kita dituntut melaporkan kembali (misalnya lisan, presentasi tertulis).
  • Apakah kita dituntut untuk mengembalikan biaya atau bantuan jika kita gagal, penelitian dianggap tidak memuaskan atau meninggalkan penelitian dalam periode tertentu.

Pembagian tanggung jawab

Dalam bagian –bagian sebelumya kita telah didorong untuk mengambil tanggung jawab dari proyek penelitian kita dengan cara mengenal peran-peran figure –figur dan organisasi kunci, dan membentuk kebebasan kita darinya. Penting juga, bagaimanapun untuk mengembangkan saling ketergantungan sesama peneliti dan kolega. Hubungan ini dapat memperkuat jaringan dukungan kita dan nilai penelitian kita. Bisa berbentuk formal, bisa juga implicit dalam proyek kita, seperti dalam kasus penelitian kelompok atau dimana kita berada dibawah arahan orang lain. Bisa juga informal, dan dikembangkan sebagian oleh kita, seperti dalam kasus hubungan personal dengan peneliti –peneliti atau kolega –kolega yang lain.

Penelitian Kelompok

pertemuan –pertemuan consensus

Peranan dalam sebuah pertemuan consensus:

Fasilitator  membantu kelompok, membuat keputusan yang harus dibuat, membantunya melalui tahapn –tahapan untuk mencapai sebuah persetujuan, menjaga agar pertemuan terus berjalan, memfokuskan diskusi pada masalah yang sedang di bahas , meyakinkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan merumuskan dan menguji untuk melihat apakah consensus telah dicapai.

A mood watcher adalah seseorang dan group dan pola-pola partisipasi.

Mengomentari perasaan individual dan group dan pola partisipasi.

Seorang notulis dapat mengambil catatan tentang pertemuan terutama keputusan yang dibuat dan alat –alat implementasi, dan seorang penjaga waktu menjaga agar kegiatan –kegiatan berjalan menurut jadwal sehingga setiap agend dapat dibahas dalam waktu yang dialokasikan. (Johns, 1983:138).

Sikap dan tingkah laku yang membantu kelompok mencapi consensus

Tanggung jawab. Para peserta bertanggung jawab untuk mengungkapklan pendapatnya, berprtisipasi dalam diskusi dan secara aktif melaksanakan persetujuan.

Disiplin diri: Menghalangi kensensus harus dilakukan hanya untuk keberatan –keberatan yang prinsip. Sampaikan keberatan dengan jelas dan langsung tanpa pembicaraan yang bertele –tele. Berpartisipasilah dalam menemukan solusi alternatif.

Rasa hormat: hormatilah orang lain dan percayailah merek untuk membuat input-input bertanggungjawab.

Kerja sama:Carilah wilayah persetujuan dan dasar yang sama, dan bangunlah kerjasama diatasnya. Hindari persaingan, pemikiran menang/ kalah, benar/salah.

Perjuangan :gunakan ungkapan ketidaksetujuan dengan jelas tidak bertele –tele. Gunakan ketidak setujuan dan argumen untuk belajar tumbuh dan berubah. Bekerja keraslah  untuk membangun kesatuan dalam kelompok dengan tidak mengorbankan kepentingan individual anggotanya.

Hubungan –hubungan informal

Mengelola hubungan –hubungan informal

  • Carilah seminar, pertemuan kenfensiensi apa saja yang dapat kita hadiri di lembaga kita atau yang lainnya. Ikutlah kegiatan ini, ikutlah menyumbang bila mungkin akan membantu jaringan kerja kita, menjaganya tetap up to date, berbagai kekhawatiran dan kesusksesan
  • Universitas atau majikan kita mungkin melaksanakan sebuah sistem mentoring atau sistem teman yang akan memasangkan kita atau menghubungkan kita dengan seorang mahasiswa atau kolega yang lebih banyak memiliki pengalaman dan dapat memberikan bantuan
  • Berhubungan dengan organisasi penelitian atau professional yang relevan di dalam wilayah yang sedang kita kerjakan. Organisasi –organisasi ini akan meneliti pertemuan –pertemuan, dan nempaknya tertarik dengan penelitian yang sedang kita lakukan dan dapat menyediakan kontak-kontak yang berguna juga badan yang bermanfaat bagi ide-ide kita
  • Bicarakan penelitian kita dengan kerabat yang tertarik tetangga, kolega, dan yang lainnya didalam komunitas kita. Kita akan terkejut bagaimana alangkah bermanfaatnya mereka, terutama karena penelitian sebagainya adalah mengkomunikasikan ide-ide dan temuan –temuan.

Memanfaatkan pengolah data dan komputer

Sikap terhadap Teknologi

          Kami menyarankan bahwa memiliki pemahaman dan fasilitas dalam penggunaan komputer dan pengolahan data adalah keterampilan kunci bagi semua peneliti dalam ilmu-ilmu social. Ada tiga aspek yang paling penting:

  • kita harus mampu mengetik dengan baik
  • kita harus mengetahui dan mampu mengakses dan menggunakan berbagai database komputer yang relevan dengan bidang penelitian kita
  • kita harus mengetahui jenis-jenis paket dan dan program yang tersedia untuk menganalisa dan mempresentasikan data penelitian dalam wilayah penelitian kita. Kita harus mengetahui cara bekerja, syarat-syaratnya, keuntungannya, dan kerugiannya.

Fasilitas –fasilitas yang biasanya tersedia

Fasilitas teknologi yang mungkin tersedia dan dapat diakses dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

  • pengetikan dan pengolah data (lihat box 63)
  • database dan komunikasi (lihat box 664)
  • paket-paket dan program –program (lihat box65)
  • berusahalah agar tidak patah semangat manakala penelitian tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan

          walaupun proyek penelitian telah di kelola dengan sangat teliti, tidak selalu segala sesuatu yang rencanakan berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin ada hal –hal menjadi masalah yang mungkin membuat kita kurang bersemangat. Tidak ada peneliti yang tidak pernah berbuat kesalahan. Kotak 66 menawarkan untuk penghibur dan menyenangkan hati kita, sebuah daftar tentang 20 hal yang mungkin bermasalah.

Dua puluh hal yang mungkin menjadi masalah

1) kita kehabisan waktu, 2) akses ditolak oleh institusi atau individu kunci, 3) perginya seorang relasi kunci di dalam sebuah organisasi yang sedang kita teliti, 4) kita menemukan bahwa orang lain telah melakukan penelitian yang sama, 5) kita kehilangan pekerjaan kita, 6) tingkat respon kita sangat rendah, 7) manejer atau pembimbing kita mencampuri rencana kita, 8) kita jatuh sakit, 9) kita menganti penkerjaan kita, membuat akses terhadap “site” penelitian kita menjadi sulit,10)kita putus dengan patner kita, 11) kita kehilangan kutipan referensi kunci, 12) kita mendapatkan bahwa kita memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit data untuk dianalisis, 13) tape recorder kita  rusak atau batreinya habis, 14) kita kehabisan uang, 15) kita tidak dapat menemukan referensi kunci atau utama di perpustakaan kita, 16) kita mengalami kebosanan dengan proyek kita, 17) anjing memakan rancangan penelitian, 18) kita menulis terlalu banyak atau sedikit, 19) komputernya rusak, 20) margins di teks kita sesuai ukurannya untuk dijilid.

Jawaban terhadap kesulitan (penderitaan)

  • Ingatlah diri kita sendiri bahwa tujuan melaksanakan proyek penelitian, khususnya bagi peneliti baru, sebanyak mungkin untuk mengembangkan pemahaman kita tentang proses penelitian dan/atau penggunaan metode tertensu seperi , untuk mengeplorasi isu-isu subtantif:
  • ingatlah mungkin hanya valid , dan mungkin lebih membantu bagi penelitian lain, untuk menulis penelitian kita dalam hal, misalnya, masalah-masalah mendapatkan akses terhadap kelompok tertentu atau memperoleh respon yang memadai dari kelompok yang pernah diperoleh aksesnya.
  • Jadikanlah menulis sebagai bagian dari urusan kita untuk direflesikan terhadap strategi penelitian kita, carilah apa yang menjadi masalah san mengapa, dan masukkan rekomondasi untuk melakukannya dengan lebih baik telah dimasa yang akan datang.
  • Pandanglah penelitian sebagai keterampilan yang telah dipelajari dan dikembangkan sepanjang penelitian. Seperti telah dikemukakan sebelumnya beberapa proyek penelitian benar-benar merupakan penelitian awal atau kesimpulannya mengangketkan. Bagian dari melakukan  penelitian adalah mengenai apresiasi terhadap apa yang terlibat dan kemana hal itu akan membawa kita.
  • Jika kita punya waktu dan sumber daya kita mungkin tentu saja dapat memilih untuk mengerahkan kembali strategi penelitian kita, ketika kita terhalangi dalam suatu arah ini sangat umum dan bukan berarti kegagalan.
  • Selamat datang di klub (dikelompok ini. Tak ada yang sia-sia)
  • Setelah membaca bab ini kita harus mampu mengelola waktu untuk melaksanakan berbagai aktivitas bagi penelitian kita.
  • Memahami bagaimana kita mengatur hubungan kita dengan figure-figur dan institusi –institusi  kunci (paling penting) bagi penelitian kita.
  • Lebih menyadari bagaimana kita dapat memanfaatkan pengolah kata dan komputer dengan lebih efektif bagi penelitian kita
  • Lebih percaya diri bahwa kita dapat membuat perubahan atau kesalahan dalam rencana penelitian tanpa seorang peneliti yang buruk.

COLLECTING DATA

Filed under: Materi Kuliah — Rusdin Tahir @ 3:47 am

COLLECTING DATA

 

BUKU SUMBER : Loraine Blaxter, Christina Hughes, dan Malcom Tight, (1996) How to Research.

Semua bentuk penelitian tentunya akan meliputi kegiatan pengumpulan dan penganalisaan data, baik melalui kegiatan membaca, observasi, pengukuran, menjawab berbagai pertanyaan ataupun menggabungkan semua dengan strategi–strategi lainnya. Data yang terkumpul selama penelitian berlangsung akan terdiri dari berbagai karakteristik, seperti:

  • data numeric, verbal atau juga gabungan keduanya
  • data primer (original) atau data sekunder
  • data mungkin berisi berupa jawaban kuesioner, hasil wawancara, atau catatan –catatan lain hsil pengamatan, percobaan, dokumen dan sumber-sumber lainnya.

Dalam bab ini akan diuraikan hal –hal sebagai berikut : akses dan isu –isu etika, menerapkan teknik –teknik  pengumpulan data, dokumentasi, wawancara, observasi, kuesioner, melaporkan kemajuan proyek dan naik –turunnya pengumpulan data : kesiapan menikmati dan obsevasi. (more…)

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress