Skip to content


Tantangan Profesi Pekerjaan Sosial: Dilematis

–tulisan ini merupakan tulisan di blog lama yang dimuat ulang–

Pekerjaan sosial di Indonesia hingga saat ini masih menghadapi tantangan dalam hal eksistensinya sebagai sebuah profesi. Masih banyak hal yang harus dibenahi oleh stakeholders dalam bidang pekerjaan sosial untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Pengakuan yang dimaksud adalah adanya kebutuhan dari masyarakat secara nyata terhadap pekerja sosial sebagai sebuah profesi untuk berkiprah dalam proses pembangunan; sebuah bentuk kiprah yang secara spesifik dapat dinilai oleh masyarakat luas sebagai aktivitas yang dapat dibedakan dari profesi atau tenaga ahli lainnya secara signifikan. Bagaimanapun juga, pengakuan terhadap eksistensi pekerjaan sosial tidak dapat diminta dari masyarakat begitu saja, melainkan hanya akan dapat diberikan oleh masyarakat ketika para pekerja sosial dapat menunjukkan karya nyatanya.

Pencapaian pada kiprah yang nyata dan hasil yang menunjukkan “kualitas hasil” dari pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pekerja sosial, misalnya yang dilakukan oleh para pekerja sosial yang terlibat dalam penanganan pasca tsunami di Aceh. Pada saat itu “banyak orang yang melihat pekerja sosial professional melakukan pekerjaan yang sangat berbeda dibanding dengan mereka yang tidak professional, misalnya, ‘produk’ yang dimiliki oleh pekerja sosial professional adalah produk dengan rangkaian sistematis, terarah dan terukur.” (Dorita, 2010). Hal ini selanjutnya menimbulkan adanya pengakuan dari masyarakat bahwa dalam penanganan bencana dibutuhkan seorang pekerja sosial profesional.

Penggunaan istilah ‘pekerja sosial profesional’ ini seringkali digunakan untuk menunjuk pada mereka yang berasal dari lulusan pendidikan pekerjaan sosial; yang sebagian besar lembaga pendidikan tinggi di Indonesia menggunakan istilah Ilmu Kesejahteraan Sosial untuk program studinya. Sebutan pekerja sosial profesional ini dimaksudkan untuk membedakan dengan mereka yang bekerja dalam bidang pekerjaan sosial tapi bukan berasal dari lulusan pendidikan pekerjaan sosial. Hal ini tidak dapat dihindari karena dalam kenyataannya banyak bidang pekerjaan sosial yang digarap oleh mereka yang bukan berasal dari lulusan pendidikan pekerjaan sosial. Dalam masyarakat pun masih terdapat pandangan bahwa bidang pekerjaan ini sesungguhnya dapat dilakukan oleh siapapun, tidak harus dari lulusan pendidikan pekerjaan sosial. Hal ini pula yang kemudian dapat menyebabkan kualitas pelayanan dan penanganan masalah menjadi tidak optimal dan mencapai hasil yang diharapkan. Dalam beberapa kasus bahkan kita menemukan adanya pegiat dalam bidang pekerjaan sosial yang bukan berasal dari pendidikan pekerjaan sosial yang berhasil menyelenggarakan kegiatan pelayanan sosial lebih baik. Kedua kondisi tersebut semakin memperlemah eksistensi pekerjaan sosial sebagai sebuah bidang keahlian yang spesifik.

Kondisi tersebut mengisyaratkan adanya hal-hal yang harus dibenahi oleh stakeholders dalam bidang pendidikan pekerjaan sosial, praktik pekerjaan sosial, kelembagaan pekerjaan sosial, serta regulasi yang terkait penyelenggaraan praktik pekerjaan sosial…. in assertive ways!

Posted in Social Work - Pekerjaan Sosial.