Category: Uncategorized


BAB 12
Mengembangkan E-Government Hibrida

Rangkuman buku “Impelementing and Managing E-Government ” oleh Richard Heeks

 

Bab ini membahas tentang pengembangan e-government hibrida. Pendekatan hibrida harus mampu menyatukan “e” dan “pemerintahan” e-government untuk menghindari kegagalan yang timbul melalui perpecahan antara staf TI dan penjabat publik. Hibridaisasi merupakan cara untuk merencanakan keterampilan dan pengembangan pengetahuan bagi staf saat ini dan masa depan yang berbasis di sekitar model ‘roda Kompetensi’ . Hibridisasi berarti fokus yang lebih besar pada agenda perubahan e-government, yang mungkin dibuat lebih mudah dari staf arus utama dari pada profesional TI yang ada. Atau dengan kata lain hibrida bukan merupakan satu kesatuan.

Untuk mencapai TI profesional, maka seseorang harus mengembangkan kompetensi yang mencakup (Mundy et al., 2001):

  • pengetahuan: pengetahuan terkini tentang TI
  • keterampilan: lebih banyak keterampilan generik yang berkaitan dengan manajemen proyek dan perubahan, komunikasi dan negosiasi, pemecahan masalah juga akan bernilai.
  • sikap: sikap positif melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan proses TI memungkinkan reformasi sektor publik

 

Untuk mendapatkan seseorang yang berkompetensi maka harus memenuhu elemen hibrida POSSET, diantaranya adalah:

  • Harus menjembatani kesenjangan antara sistem informasi dan pemerintah melalui keahlian di bidang TI, informasi, dan cara kerja sektor publik.
  • Ini harus menjembatani kesenjangan antara keras dan lunak melalui pemahaman data, prosedur formal, dan teknologi di samping keahlian dalam seni politik untuk bernegosiasi dan mempengaruhi.
  • Ini harus menjembatani kesenjangan antara puncak dan bawah dengan menggabungkan penglihatan tingkat tinggi, dengan pemahaman tugas dan proses layanan tingkat rendah.
  • Harus menjembatani kesenjangan antara di dalam dan di luar dengan memahami kedua cara kerja sektor publik, tetapi juga kebutuhan, minat dan gagasan klien dan sektor swasta.
  • Selain unsur-unsur struktural ini, ia juga harus dapat menangani proses e-government yang dijelaskan di Bagian 2: perubahan, proyek, pengadaan, dan sebagainya.

BAB 10
Penilaian dan Mitigasi Risiko E-Government

Rangkuman buku “Impelementing and Managing E-Government ” oleh Richard Heeks

 

Bab ini membahas tentang penilaian dan mitigasi risiko. Mengingat banyaknya proyek e-government yang gagal, maka penilaian risiko dan mitigasi risiko sangat diperlukan. Ada beberapa pertanyaan tentang penilaian risiko dan mitigasi yakni:

  • Why (mengapa) : tujuan manajemen risiko adalah untuk menghentikan proyek e-government yang gagal.
  • When (kapan) : penilaian risiko dapat dilakukan dengan secepatnya dan untuk mitigasi risiko dapat dilakukan pada titik tertentu.
  • Who (siapa) : yang menjadi tim penilai dan mitigasi adalah sebuah tim kecil dari campuran pemangku kepentingan yang berbeda.
  • How (bagaimana) : caranya akan dibahas pada bab ini!

Penilaian risiko dapat dilakukan dengan cara menganalisis kesenjangan antara realitas saat ini dan asumsi desain proyek e-government. Mitigasi risiko melalui perubahan terjadi dengan pengurangan kesenjangan dengan cara mengubah desain proyek e-government agar lebih menyerupai kenyataan dan mengubah realitas saat ini agar lebih sesuai dengan asumsi dalam desain proyek. Teknik pengurangan kesenjangan khusus untuk menangani tujuan dan nilai pemangku kepentingan berjalan seiring dengan kontinum keterlibatan pengguna akhir yang intens.

Jika terdapat kesenjangan dan tindakan yang beresiko tinggi, terdapat tindakan yang diringkas melalui ZABC:

  • Abaikan e-government prakarsa.
  • Mengubah proyek: Mengubah beberapa parameter inisiatif untuk mencoba membuatnya lebih layak Ini adalah pilihan tindakan ini Itulah fokus utama bab ini.
  • Jadilah egois: Jika inisiatif perubahan nampaknya akan gagal, namun tidak dapat dipicu atau diubah, kemudian fokus pada tujuan pribadi dan keuntungan pribadi yang bisa diekstraksi dari inisiatif seperti pelatihan, keahlian dan pengalaman, uang, atau peralatan.
  • Ubah pekerjaan Anda: Lebih radikal jika Inisiatif e-government nampaknya akan terjadi gagal, berganti pekerjaan baik di masyarakat agen untuk menjauh dari proyek, atau ke organisasi lain

BAB 8
Analisis Realitas Saat Ini

Rangkuman buku “Impelementing and Managing E-Government ” oleh Richard Heeks

Bab ini terdiri dari dua komponen. Pertama, pendekatan utama yang digunakan dalam mengumpulkan informasi tentang realitas situasi saat ini, dimana sistem e-government dapat diperkenalkan. Kedua, seperangkat teknik yang lebih spesifik yang dapat digunakan untuk memperoleh dan mencatat jenis informasi berbasis diagram.

Untuk mengetahui realita sekarang ini, ada 4 teknik pengumpulan data yang utama yaitu:

  • wawancara/diskusi: berbicara dengan individu atau kelompok tentang situasi saat ini
  • Kuesioner: Mengumpulkan informasi latar belakang menggunakan survei pemangku kepentingan.
  • analisis dokumen: meninjau manual, peraturan, kebijakan, kontrak, memo, laporan, dan sebagainya saat ini.
  • Observasi: Melihat apa yang saat ini sedang berjalan, termasuk penggunaan arus ataupun sistem Informasi.

Namun kunci pengumpulan data yang baik adalah kemampuan untuk melampaui fasad dan lensa dan untuk mengungkap, misalnya, sistem informal yang digunakan dan sistem formal yang tidak terpakai. Ada  beberapa teknik diagram yang dapat diguanakan untuk mewakili realitas saat ini untuk meringkas rancangan sistem e-government yang baru. Pertama,  peta proses yaitu diagram yang menunjukan urutan tugas yang membentuk satu atau lebih proses organisasi. Kedua, diagram aliran data yaitu diagram terstruktur yang tidak hanya menunjukan tugas atau proses yang terlibat dalam sistem sektor publik, namun juga bagaimana data bergerak diantara tugas-tugas tersebut, dan dimana data tersebut disimpan. Ketiga, diagram hubungan entitas yaitu entitas yang ditemukan dalam e-governmet yang menghadap keluar dapat mencakup hal-hal seperti: klien, pengadu, penuntut, pengguna servis, wajib pajak, dan lain-lain.

 

BAB 6
Perkembangan Isu Manajamen untuk E-Government

Rangkuman buku “Impelementing and Managing E-Government ” oleh Richard Heeks

 

Bab ini menjelaskan tentang masalah manajemen yang menonjol akhir-akhir ini. Diantaranya dalam hal kinerja dan kebijakan. Manajemen kinerja adalah salah satu komponen reformasi sektor publik. Teknik ini berasal dari sektor swasta yang dipromosikan di sektor publik. . Dalam manajemen kinerja ada masalah yang sering muncul dalam hal staff, fungsi IS/IT dan kinerja e-government. Kinerja e-government dapat dinilai oleh badan public menggunakan pendekatan yang digunakan oleh masing- masing pemerintah.

Masalah lainnya adalah mengenai kebijakan. Salah satunya adalah kebijakan dalam teknologi. Teknologi memiliki dampak positif maupun negatif. Dampak positif yang dimiliki teknologi salah satunya adalah dalam pengaksesan data menjadi lebih murah, lebih cepat dan lebih mudah. Dampak negatifnya yaitu meningkatnya terorisme global, kasus kejahatan dan sebagainya, dampak ini menjadikan pemerintah membuat kebijakan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada terkait teknologi. Diantaranya adalah kebijakan privasi untuk perlindungan data; kebijakan keamanan perlindungan data; kebijakan pada isu-isu lain.

Sekarang ini kita dapat melihat banyaknya isu kebijakan lain yang relevan dengan e-government yaitu: kecacatan atau aksesibilitas, ergonomi, dan penggunaan internet. Kecacatan atau aksesiblitas merupakan teknologi baru yang menawarkan cara untuk mengatasi beberapa hambatan yang dihadapi oleh orang-orang yang penyandang cacat; termasuk hambatan akses terhadap data pemerintahan dan layanan pemerintah. Ergonomi dapat didefinisikan dengan menggunakan pengetahuan karakteristik fisik dan psikologis manusia untuk merancang dan menerapkan teknologi, pengetahuan lingkungan kerja, dan pengorganisasian pekerja.

BAB 4
Mengelola Data Publik

Rangkuman buku “Impelementing and Managing E-Government ” oleh Richard Heeks

Bab 4 ini membahas tentang mengelola data publik, dimana fokus utamanya ada pada teknik manajemen untuk meningkatkan kualiatas data. Teknik manajemen ini terdiri dari dua kelompok utama. Kelompok pertama adalah serangkaian panduan teknis yang ketat dan rasional yang menangani pengumpulan data dan masukan data. Dan kelompok kedua dibangun dari analisa tentang motivasi pribadi dan dampak negatifnya terhadap kualitas data.

 

Pada bab ini juga mempertimbangkan bagaimana menerpakan pendekatan hibrida terhadap pengelolaan data publik. Untuk menentukan kualitas data dapat diuji dengan CARTA, yaitu:
a. Completeness (kelengkapan) : data yang dibutuhkan oleh pengguna ada dalam system e-government.
b. Accuracy (akurasi) : tingkat kesalahan / data yang salah dalam system.
c. Relevance (relevansi) : data yang diperlukan untuk menyelesaikan keputusan dan tindakan pengguna tertentu. Diperoleh oleh sistem e-government dalam jangka yang dipersyaratkan.
d. Timeliness (ketepatan waktu) : tingkat dimana data dapat mengenai pentingnya kualitas data dalam sistem.
e. Appropriateness of presentation (ketepatan presentasi) : tingkat dimana data yang dihasilkan oleh sistem dapat diakses dan dapat dipahami oleh penerimanya.

 

Terdapat beberapa masalah teknis yang mempengaruhi data yaitu:
a.Bahaya lingkungan : temperature dan kelembapan yang tinggi, listrik statis, debu dan banjir.
b.Masalah listrik : lonjakan listrik dan brownouts dan pemadaman listrik menyebabkan ketidakmampuan untuk bekerja dan     kehilangan semua data dalam memori.
c.Kesalahan perangkat lunak : adanya bug dalam perangkat lunak sebuah sistem.

 

Untuk mengatasi masalah data, terdapat solusi hibrida dalam menangani kualitas data yakni:
a. Pengembangan kebijakan dan diseminasi : masalah dikurangi dengan membuat staf dank lien eksternal.
b. Pembaruan kata sandi : password harus diubah secara berkala
c. Data cadanagan : data dalam sistem harus dicadangkan secara teratur dengan menyalinnya ke media terpisah yang bisa digunakan jika ada kesalahan.
d. Perbaikan dan pemeliharaan : perbaikan dn perawatan harus dilakukan untuk memastikan bahwa akses ke data tidak di blokir lama.
e. Asuransi : untuk menutupi pencurian, kebakaran, banjir, dst.
f. Larangan : tidak memperbolehkan karyawan makan,minum dan merokok didaerah dimana komputer sedang digunakan
g. Penggunaan teknologi secara hati-hati: staf dan klien bisa diajari perawatan dasar teknologi.

 

Untuk mengatasi masalah kualitas data dengan persepsi dan motivasi dapat dilakukan dengan cara:
a. Pemilihan, pelatihan, dan pengawasan karywan yang tepat
b. Akuntabilitas sistem
c. Pemisah tugas
d. Segera mencabut hak akses yang dipecat dari karyawan yang diberhentikan, diundurkan atau dipindahkan.

BAB 2
Pendekatan Manajemen dari Sistem E-Government

Rangkuman buku “Impelementing and Managing E-Government ”  oleh Richard Heeks

 

Secara umum, bab 2 ini menjelaskan tentang pendekatan manajamen yang ada di system e-government. Pendekatan tersebut antara lain:

1.Pendekatan sentralisasi

Pendekatan sentralisasi adalah pendekatan dimana yang mengambil keputusan adalah tingkat yang paling tinggi (pusat). Tingkat yang aling tinggi ini (pusat) bertanggun jawab untuk menetapkan standar, mengatur kontrak dan memberikan persetujuan awal atas semua permintaan pembelian TI. Dalam pendekatan terpusat ini, pelatihan  direncanakan dan diprioritaskan agar sesuai dengan rencana e-government. Manfaat yang diperoleh dari pendekatan ini adalah pencapaian skala ekonomi dimana lebih efesien dalam pembelian barang dalam jumlah banyak, menghindari duplikasi item data sehingga dapat meningkatkan kualitas data, dan berbagi sumber daya sehingga semua staff dalam sebuah organisasi dapat mengaksesnya.

2.Pendekatan desentralisasi

Pendekatan ini adalah kebalikan dari pendekatan sentralisasi, dimana yang mengambil keputusan adalah tingkat yang paling rendah daripada yang senior. Dengan pendekatan ini, system e-government sepenuhnya dikembangkan oleh kelompok kerja organisasi. Organisasi dapat memilih teknologi apa saja yang paling sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. Kelemahan dari pendekatan ini adalah memerlukan biaya yang cukup besar dan cakupannya yang rendah (tidak luas).

3.Pendekatan Hybrid

Pendekatan ini adalah pendekatan dimana yang mengambil keputusan adalah tingkat yang lebih tinggi dan tingkat bawah, baik secara terpisah maupun terpadu. Pendekatan Hybrid ini adalah paduan atara pendekatan sentralisasi dengan desantralisasi. Untuk memadukan pendekatan tersebut maka dilakukan dua cara. Pertama: menggambarkan pendekatan sentralisasi dan desentralisasi menjadi terpadu. Kedua, mencoba untuk menetapkan beberapa garis yang akan memisahkan keduanya, sehingga memungkin keduanya dapat diakomodasi.

Hello world!

Selamat datang di Blog Universitas Padjadjaran. Ini adalah artikel pertama Anda.