Follow @ridrandy

Teknologi dan Hubungan antara Wacana Lisan dan Tulisan

 

Teknologi  telah memproblematisasi hubungan antara wacana lisan dan tulisan. Bukan hanya seringkali tampil secara bersamaan, batasan antara wacana lisan dan tulisan pun menjadi samar. Media internet menciptakan ilusi seolah tidak ada jarak antara tulisan dan pembacanya. Misalnya pada situs jejaring socsial seperti Facebook, orang dapat menulis apa saja, dipublikasikan kapan saja dan segera mendapatkan respon dari pembacanya, lalu membalas respon pembacanya tersebut. Kebanyakan orang yang menulis status update berharap tulisannya tersebut segera mendapatkan respon dari siapa pun yang membacanya seolah peristiwa tersebut adalah peristiwa lisan yang tak berjarak. Kemudian misalnya penyedia fasilitas online chatting seperti Yahoo Messenger pun menciptakan ilusi peristiwa lisan karena cepatnya pesan itu direspon seolah tanpa delay.

Namun jauh sebelum diciptakannya internet, jauh sebelum ditemukannya teknologi yang memungkinkan manusia dapat menggoretkan tulisannya di atas kertas, tanah liat dan batu dipergunakan sebagai media tulisan, misalnya tulisan yang terpatri pada prasasti. Sebuah prasasti dapat dianggap sebagai perpanjangan dari kekuasaan raja, sebagai tanda kekuasaan di suatu daerah atau sebagai sebuah peringatan. Jika demikian, tampaknya prasasti tidak jauh berbeda dengan papan rambu lalu lintas di pinggir jalan yang melarang “belok kiri langsung,” plakat yang menempel pada tembok sekolah yang berisi tata cara berperilaku dan berpakaian siswa-siswinya, atau mungkin juga peringatan pemerintah yang tertulis pada bungkus rokok. Semuanya adalah teks tulisan yang dapat dikatakan menggantikan kehadiran suatu kekuasaan yang menjadi sumber suara.

Jika mengambil satu contoh di atas misalnya, dalam kasus papan rambu lalu lintas, tulisan tersebut menggantikan kehadiran polisi lalu lintas yang tidak mungkin berada di sana dan mengawasi setiap saat. Namun hal yang menarik saya temukan di pintu pembatas lintasan kereta api di beberapa daerah di Bandung. Nampaknya teks yang tertulis pada papan larangan di depan pintu pembatas itu tidak cukup membuat orang takjub sehingga dibutuhkan pengeras suara yang melaluinya dimainkan rekaman suara yang memperingati bahaya menerobos gerbang pembatas ketika kereta api akan segera lewat. Mungkin rekaman suara tersebut dianggap lebih efektif sebagai pengingat daripada teks yang terpampang pada papan larangan, atau dalam kasus ini, teks dan suara dapat muncul berdampingan, saling melengkapi menyampaikan pesan yang sama, menggantikan kehadiran orang yang menjaga pintu pembatas tersebut.

Pada era kontemprer ini, di dalam masyarakat yang berbudaya tulisan, tentu saja wacana tulisan mendapatkan lebih banyak dukungan dan kepercayaan daripada wacana lisan. Dalam kegiatan berkesenian khususnya, media cetak merupakan media utama seni narasi. Sudah jarang ditemukan, jika tidak ada, pendongeng keliling atau setidaknya pembacaan puisi di café dan di kampus atau pementasan drama, ludruk, lenong yang diadakan secara rutin. Namun ada satu jenis media kesenian yang menjadi pertanyaan saya, yaitu radio, khususnya radio lokal. Acara radio yang masih saya ingat misalnya acara guyonan Kang Ibing pada tahun 90an di radio Mara. Pada acara yang disiarkan secara langsung tersebut, Kang Ibing menceritakan lelucon-lelucon secara lisan yang kedengarannya sudah sangat dia hafal. Bahkan para pendengarnya pun dapat berinteraksi melalui telefon, minta diceritakan lelucon tertentu atau malah ikut menyumbangkan cerita. Apakah sandiwara radio seperti itu dapat dianggap sebagai salah satu bentuk kelisanan? Meskipun suaranya bersumber dari speaker, untuk sandiwara yang disiarkan secara langsung, setidaknya kita tahu bahwa sumber suara pertamanya adalah manusia yang berbicara melalui microphone di sebuah studio yang gelombang suaranya, melalui proses rendering, dipancarkan sebagai gelombang radio melalui gelombang AM atau FM, kemudian ditangkap oleh antenna radio kita, lalu gelombang radio tersebut diterjemahkan kembali menjadi gelombang suara yang keluar melalui speaker sehingga sampai ke telinga kita. Peristiwa tersebut tampaknya tidak melibatkan teks tulisan dan lebih banyak melibatkan kinerja indra pendengaran.

Meskipun demikian, acara radio seperti yang saya sebutkan di atas tentunya terdapat keterbatasan, yaitu keterbatasan jangkauan gelombang radio. Bagi pendengar yang lokasinya dekat dengan antenna pemancar tentunya akan mendapatkan suara yang lebih jernih daripada pendengar yang lokasinya lebih jauh. Belum lagi interaksi sumber utama suara dengan pendengar dibatasi oleh sibuknya jaringan telfon sehingga tidak semua penelfon mendapatkan giliran untuk berbicara.

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>