Follow @ridrandy

Sekilas Mengenai Sastra Populer

Permikiran modernisme memengaruhi cara pandang kita terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal kesusatraan. Selama ini karya sastra yang disebut sebagai karya sastra “adiluhung” adalah karya-karya canon. Sementara jenis-jenis sastra selain sastra tersebut terabaikan. Karya sastra yang dianggap sebagai canon disadari sebagai akibat dan suatu narasi besar dalam pemikiran modern. Di dalamnya terdapat legitimasi dan pensisteman. Sehingga tidak heran ketika sesuatu yang tidak diianggap pusat, termajinalkan.

Sebagai produk budaya populer tentu sastra populer banyak diminati oleh khalayak ramai. Cerita yang disajikan lekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, yang merupakan salah satu daya tarik dari sastra populer. Pembaca tidak perlu bersusah payah untuk “menerjemahkan” apa yang terkandung dalam cerita sastra populer. Formula ceritanya seragam sehingga sangat mudah ditebak, dan suspense menjadi aspek utama dalam ceritanya sehingga pembaca menjadi penasaran.

Sebuah cerita cinta akan memiliki formula yang sama dengan cerita cinta yang lain, demikian juga cerita-cerita yang memiliki jenis yang serupa tentu akan memiliki formula yang serupa juga. Formula sastra populer dalam sistem produksi ibarat resep masakan dalam sebuah restoran. Artinya, formula menentukan genre sastra populer sebagai menu yang diproduksi dan disediakan oleh produsen. Dari segi konsumsi, keberadaan sebuah genre sastra populer ditentukan oleh sesuai atau atau tidaknya formula tersebut dengan selera masyarakat pembacanya, atau dengan kata lain laku atau tidaknya di masyarakat. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan kesalingtergantungan antara formula sastra populer dengan sistem produksi konsumsinya. Seperti halnya kesalingtergantungan antara sebuah resep masakan dengan selera kuliner masyarakat. Apa yang kira-kira laku, itulah yang akan diproduksi.

Dalam sejarah sastra Indonesia, fenomena sastra populer mulai dikenal pada tahun 1980-an. Pada saat itu karya sastra ditulis pengarang Cina-Melayu dengan mengunakan bahasa Melayu pasar. Kosumen bacaan jenis ini populer di kalangan tertentu. Pada tahun 1930-an, banyak muncul karya sastra populer yang diisebut sebagai roman picisan.Yang dimaksud murahan di sini adalah bacaan yang mudah dipahami oleh siapa saja, tidak membutuhkan pemikiran yang mendalam untuk dapat memahaminya.

Karena anggapan itu, sastra populer sering tidak mendapat perhatian yang cukup serius dari para peneliti sastra karena adanya anggapan bahwa sastra jenis itu tidak Layak diteliti karena tidak signifikan. Namun seiring berkembangnya zaman, sastra populer mulai banyak ditemui, meskipun pada masa kolonial Jepang perkembangannya surut akibat adanya pergolakan politik. Setelah kemerdekaan, barulah sastra populer mulai dikenal luas sampai pada tahun 1990-an dan 2000-an, di saat karya-karya baru bergenre populer bermunculan dan mendapat sambutan yang cukup hangat dan masyarakat.

Sastra populer mulai dikenal pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di abad 19. Pada zaman itu sastra jenis itu bertemakan cerita-cerita tentang kehidupan para nyai, cerita-cerita gaib, dan cerita percintaan yang tidak jarang dimbumbui seks. Jenis bacaan tersebut ditulis baik oleh orang Cina-Melayu maupun pribumi. Bahasa yang digunakan pada sastra jenis tersebut adalah bahasa Melayu pasar. Karya pertama yang mengawali bangkitnya sastra populer di masa ini salah satunya berjudul “Sobat Anak Anak” karya Liem Kim Hok. Bacaan ini dianggap hanya menampilkan cerita yang ringan dengan tujuan menghibur.

Tidak jarang pula para pengarang jenis ini menyelipkan ideologi tertentu. Contohnya pada fiksi yang ditulis R.M. Tirti Adhi Soerdjo yang memiliki kandungan paham komunis. Pada 1930-an, gejala karya sastra populer semakin menghangat dengan adanya terbitan “roman medan” yang kemudian dianggap sebagai roman picisan. Bacaan tersebut dikatakan murahan karena dalam isinya tidak mengandung kontemplasi yang serius, stereotip, dan dalam beberapa hal relatif mengeksploitasi seks.

Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1949) karya sastra populer mulai surut karena kondisi yang sedang penuh dengan pergolakan politik dan sosial. Baru pada masa kemerdekaan (1950-1968), muncul novel-novel dan cerpen-cerpen dengan cerita yang didominasi oleh tema percintaan dan roman detektif.

Pada tahun 1970-an, bermunculan bacaan-bacaan yang dianggap populer seperti karya Abdullah Harahap (yang terkenal, misalnya Musim Cinta Telah Berlalu), Eddy D. Iskandar (Cowok Komersil, Gita Cinta dari SMA, Sok Nyentrik, Cewek Komersil), Teguh Esha (Ali Topan Anak Jalan), La Rose (Ditelan Kenyataan), Ike Soepomo (Kabut Sutra Ungu, Kembang Padang Kelabu), Marga T. (Karmila), Ashadi Siregar (Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, Frustasi Puncak Gunung). Yudhistira (Arjuna Mencari Cinta), dan sebagainya. Tahun tahun ini sastra populer mengalami pergeseran dari ciri sebelumnya. Sastra populer pada masa ini banyak ditulis kaum perempuan. Cerita-cerita yang mendominasi masa ini adalah masalah seputar rumah tangga dan keluarga.

Pada tahun 1980-an, muncul karya Hilman berjudul Lupus yang populer di masyarakat. Selain itu pada dekade ini dikenal para penulis sastra populer semacam Gola Gong atau Zarra Zetira. Pada tahun 1990-an, fiksi populer kalah bersaing dengan televisi swasta yang perkembangannya sangat signifikan dan sangat efektif dalam menentukan selera masyarakat. Pada dekade ini masyarakat lebih menggunakan waktu luangnya dengan menonton tayangan layar kaca seperti sinetron.

Pada tahun 2000-an, sastra populer kembali berkembang dan beberapa karya sastra populer yang fenomenal kembali menduduki penjualan terbaik. Berbagai predikat dimunculkan dari penerbit untuk memperkuat segmen pembaca. Sebutlah istilah chicklit yang ditujukan untuk penggemar fiksi bertemakan percintaan perempuan dewasa, teenlit untuk kalangan pembaca remaja, atau fiksi islami khusus untuk pembaca muslim dengan tema dan nuansa religius yang kental. Beberapa karya dan penulis itu adalah Andrea Hirata dengan tetraloginya (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensol, dan Maryamah Karpov), Habbiburahman el Shirezy (Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta, dll), atau penulis remaja Rahmania (Eiffel Im In Love, Lost In Love, dll.), serta Andre Laksana (Lelaki Terindah, Abadilah Cinta, dll.)

Periode Pasca Orde Baru, yang sering disebut era reformasi, berkembang pesat karya-karya sastra populer dengan motif-motif keagamaan atau yang diistilahkan Moh. Irfan Hidayatullah sebagai Ispolit-Islam Popular Literature (jenis ini telah dirintis sejak sebelum reformasi). Berkembang pula novel dan cerpen-cerpen remaja yang menceritakan perempuan kosmopolitan dengan keseharian kehidupan perkotaan dalam karya-karya chicklit dan teenlit. Jenis-jenis cerita yang ada pada era sebelumnya memang masih berkembang sekali pun tidak mendominasi.

Di satu sisi, sastra populer dibaca oleh masyarakat yang lebih banyak dibandingkan dengan sastra elite. Di sisi lain, sastra tersebut lebih mudah dipahami oleh masyarakat massa (mass society) dibandingkan dengan sastra elite yang membutuhkan pemahaman ekstra secara akademis. Sebagai sebuah arena perjuangan, sastra populer lebih menyentuh masyarakat banyak daripada sastra elite. Arena kekuatan massal membentuk jaringan yang lebih luas dalam masyarakat. Dengan demikian, sastra populer lebih memiliki arena kekuatan yang lebih luas untuk mendekonstruksi gaya hidup masyarakat pembacanya.

Dalam kondisi tertentu pengarang (author) sastra populer tidak memiliki authority (wewewang) karena keberadaannya sangat ditentukan oleh selera masyarakat pembacanya, sehingga pengarang sastra populer harus tunduk pada formula-formula yang digemari masyarakat. Seringkali pengarang sastra populer berkarya atas dasar pesanan penerbit yang harus menyesuaikan dengan formula yang sedang digemari oleh masyarakat pembacanya. Dalam kondisi demikian pengarang sastra populer lebih mengutamakan konvensi daripada inovasi yang merupakan ciri khas sastra “adiluhung,” sehingga pengarang sastra populer sangat tergantung pada sistem produksi-konsumsi yang ditentukan oleh penerbit dan masyarakat pembacanya.

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>