Follow @ridrandy

Sekilas Mengenai Sastra Bandingan dan Penerjemahan

Hubungan antara sastra bandingan dan kajian terjemahan merupakan hubungan yang problematis. Kegiatan penerjemahan, bahkan hingga kini, seringkali dianggap sebagai kegiatan yang dilakukan oleh siapa saja yang setidaknya pernah belajar bahasa lain selain bahasa ibunya. Oleh karena itu ia dianggap sebagai kegiatan yang tidak memerlukan kreatifitas yang tinggi, dan oleh karena itu juga ia dianggap tidak begitu penting. Karya terjemahan tidak dianggap sederajat dengan karya aslinya.

Para peneliti di bidang karya satra bandingan, meskipun mengakui peran penerjemah di dalam penelitiannya, tampaknya juga menerima pandangan semacam tersebut. Karena kedudukan karya terjemahan dianggap lebih rendah dari karya aslinya, peneliti di dalam bidang sastra bandingan dianggap lebih baik jika menggunakan karya asli sebagai objek penelitian, seperti halnya yang juga berlaku saat ini di kebanyakan universitas di Indonesia yang memiliki fakultas sastra.

Pendukung paling setia pemikiran ini salah satunya adalah binary comparative studies. Menurut model pemikiran ini, peneliti di bidang sastra bandingan selayaknya membaca teks asli di dalam bahasa aslinya karena menjunjung tinggi superioritas teks asli di atas teks terjemahan. Sejalan dengan binary comparative studies, the North American model, yang mandasarkan teorinya pada pemikiran tentang kesatuan makna dalam proses pembacaan, menganggap penelitian apa pun yang melibatkan teks terjemahan bukan merupakan bagian para peneliti dalam bidang sastra, melainkan bagian para ahli  dari di bidang linguistik. Karya terjemahan disejajarkan dengan karya adaptasi dan bahkan imitasi.

Perspektif baru mengenai kajian penerjemahan baru muncul pada tahun 1970an yang ditawarkan oleh sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Itamar Evan-Zohar dari Tel Aviv. Di dalam tulisannya yang berjudul Translation Theory Today, dia menyebutkan bahwa persoalan superioritas karya asli dan inferioritas karya terjemahan perlu dikaji ulang. Di zaman ketika pemikiran-pemikiran mengenai universalitas dan kepastian makna dipertanyakan, status teks terjemahan yang dianggap inferior karena telah kehilangan “jiwa” yang dimiliki oleh teks aslinya, juga perlu dipertanyakan. Perkembangan di bidang kesusasteraan sedikit banyak merubah nasib kajian penerjemahan.

Borges menganggap kepastian makna hanya berlaku pada pemaknaan agama atau pada saat proses pemaknaan sudah mencapai titik jenuh. Para pemikir post-structuralist telah menunjukan pula kekeliruan di dalam pembacaan yang didasari oleh kesatuan makna tunggal. Dipengaruhi oleh pemikiran mereka, kajian penerjemahan tidak lagi hanya berkutat seputar keaslian, ketepatan, keakuratan, dan kesetiaan pada teks asli.

Istilah menarik yang digunakan untuk menggambarkan posisi teks terjemahan terhadap teks aslinya adalah “betrays” atau mengkhianati. Pandangan menarik mengenai hal ini datang dari Lori Chamberlain yang melihatnya dari sudut pandang feminis. Dia mengaitkan kesetiaan atau pengkhiantan teks terjemahan terhadap teks asli dengan perempuan di dalam pernikahan, bahwa “fidelity is defined as an implicit contract between translation (as woman) and original (as husband, father, or author).” Ketidaksetiaan perempuan (terjemahan) pada suaminya (teks asli) sebagai suatu kejahatan. Perjanjian di dalam pernikahan tradisional semacam ini membuat suami (teks asli) tidak dapat bersalah atau tidak setia, bahkan selalu benar.

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>