Hal – Hal Menarik Yang Pernah Saya Pelajari :  Anak Sastra Yang Lebih Kepincut Kepada Keestetikan Social Enterprise

Saya adalah anak sastra. Sastra Arab tepatnya. Kebayang kan bagaiamana kegiatan akademik saya ? yaaa, tepat. Saya berkutat dengan teks-teks bahasa Arab. Dilinglungkan dengan linguistik. Di hajar dengan Qawaid. Dan di buat diam tanpa kata dengan gundulnya kosa kata. Hmmmm ,, Haadza Mumtaz (Ini Luar biasa).

Intandzir (tunggu), apakah semua itu membuat saya kapok .? yaaa, salah. Saya tidak jabbanun (pecundang). Semua itu memberikan ibrah (pelajaran) yang baik bagi saya. Dengan linguistik, saya menjadi orang yang teliti. Dengan qawaid, saya dibuatnya membuka pikiran agar berwawasan. Dan dengan kosa – kata yang gundul, saya dibuat menggrondongkan teori – teori ilmu alat. Walhasil, sastra pun memberikan keestetikan dalam perjalanan akademik saya.

Namun,  dibalik keestetikan sastra itu ada satu hal yang membuat saya mengkaji ulang keestetikan dalam perjalanan akademik saya. Yaa, Social Enterprise  membuat hati saya terpincut untuk lebih pedekate dengannya. Katanya sih, Social Enterprise itu usaha yang memberikan dampak pada masyarakat. Walahh wah, ini sejalan dengan saya yang suka akan kegiatan sosial, ashli (pake shod). Tapi apakah shohih (benar) ??? yaudah, cus saja saya mulai mempelajarinya. Yaa, lumayanlah belajar hal baru seperti Social Enterprise itu dapat menjadi salah satu solusi tambahan untuk mengatasi candu terhadap gadget yang sebelumnya sudah dipaparkan oleh Glints. Waktu produktif, ilmu pun mengalir aktif, shohih am la (benar atau tidak) ? shohih donggg….

Okeyyyy, pedekate pertama kali saya dengannya (Social Enterprise) pada tahun 2017. Tepatnya, ketika ada ajang bergengsi yaitu PKM. Nah, PKM yang dahulu ada 5 bidang itu saya berfokus kepada Kewirausahaan atau namanya adalah PKM – Kewirausahaan.

Waktu itu saya dan tim mencoba merumuskan PKM apa yang akan digarap. Setelah berdiskusi beberapa detik, sekitar 3.600 detik (eh 1 jam dong yaa, wkwk) bidang kewirausahaanlah yang akan digarap tim. Dengan secara tradis dan sadis, saya yang belum punya bekal mengenai hal itu (PKM) ditunjuk menjadi ketua kelompok, haadza majnun (ini gila). Apalagi bidangnya kewirausahaan, hm hm hm (Nisa sabyan 10 jam). Asumsi saya pasti banyak hitungan menjeliut (pusing) gitu, brrrrr (secara anak sastra).

Dengan masih rasa kaget dan penasaran, saya pun mulai kepo dengan Social Enterprise. Setelah kepo – kepo, memang benar Social Enterprise itu kita berwirausaha sambil memberikan dampak bagi masayakat, Ajiiiibbbb (keren). Saya pun terus menyelami lebih jauh tentang hal itu. Setelah   kekepoan saya cukup terobati, saya terapkan ilmu tersebut di PKM-Kewirausahaan. Di PKM tersebut kami mengambil objek nangka untuk diolah. Bagian nangka yang kami olah adalah jerami nangkanya. Jerami nangka kami olah menjadi Abon. Wiihh, bisa ya ?? bisalah. Terus nama produknya ? Jreng jreng jreng “ABRAKADABRA.” Keren bukan ? kepo singkatannya ?, nih singkatannya “Abon Jerami Nangka Dahsyat Berasa”. Ajiiibb Jiddan (keren banget). Tujuan kami mengolah itu adalah untuk memberdayakan para penghasil nangka dan untuk menambah nilai guna dari jerami nangka itu sendiri yang sering banget dibuang begitu saja dan diacuhkan. kan sayang ya ? sayang banget malahan (loh loh ko baper). Nah, akhirnya proyek tersebut pun berhasil di danai Kemenristekdikti 2018 (ciieeeee).

Semenjak itu saya sangat mencintai dia, dunia Social Enterprise . Saya terus memberikan empati kepadanya. Mencari permasalahan masyarakat, kemudian mencoba mengatasinya dengan pendekatan Social Enterprise tersebut. Begitu indahnya. Dan ternyata, memang tidak sia – sia saya berempati kepadanya. Saya pun di rekrut oleh tim Bisnis Plan. Dan berhasil di undang ke ajang Business Plan Competition Of Agrifest, UPN Jawa Timur. Proyek yang kami garap adalah pemanfaatan rambut jagung dalam pembuatan cookies dan berhasil menjadi 15 terbaik. Tujuannya sama untuk memberdayakan para petani jagung dan menambah nilai gina rambut jagung yang belum banyak diolah.

Tidak berhenti sampai disana. Saya terus mencari masalah. Maksudnya, mencari permasalahan dan potensi suatu masyarakat yang dapat diselesaikan dan dikembangkan. Wiihh, gaya kan ? Terakhir, saya mendapat informasi bahwa daerah Indramayu merupakan daerah yang sangat banyak hasil tangkapan ikannya. Selain itu, daerah Indramayu merupakan daerah Lumbung Padi Nasional. Cocok sekali bagi saya yang mempunyai rencana proyek mengolah beras merah dan ikan. Nah dengan permasalahan yang sudah di dapat, maka saya mencoba memanfaatkan peluang yang terselip dalam sebuah masalah tersebut. Saya berencana untuk membangun bisnis dengan mengolah ikan dan beras merah menjadi Mie. Tujuan mengolah ikan dan beras merah adalah untuk memberdayakan para nelayan dan petani di daerah Indramayu (Jawa Barat) mengingat daerah tersebut kaya akan hasil tangkapan ikan dan berasnya. Alhasil, ide bisnis yang berorientasi pada masyarakat nelayan dan petani tersebut berhasil tembus dalam ajang Asia Business Plan Competition yang merupakan rangkaian acara Global Enterpreneurship Youth Summit 2019 (GEYS 2019), Haadza Hilm (ini mimpi). Saya terpilih dan menjadi finalis yang akan mempresentasikan ide bisnis tersebut pada tanggal 27 – 29 Januari 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia. Huuhh, saya sangat bersyukur sekali karena ini merupakan kesempatan bagi saya untuk melangkah ke dunia yang lebih luas lagi. Maka demikian, saya sangat mencintai Social Enterprise karena menjadi wasilah (perantara ) yang mengantarkan saya hingga sampai saat ini…..

About pidiapriyadi

Mahasiswa S1 Sastra Arab Unpad 2016.

One comment on “Hal – Hal Menarik Yang Pernah Saya Pelajari :  Anak Sastra Yang Lebih Kepincut Kepada Keestetikan Social Enterprise

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.