Aplikasi Research Marketing pada Lembaga Perpustakaan & Informasi

Thursday, November 18, 2010

I. Pendahuluan
Perpustakaan adalah pusat sumber informasi. Perpustakaan menyediakan dan mengolah informasi Saat ini, perpustakaan dan lembaga informasi lainnya sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pelayanan informasi mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Bertambahnya jumlah informasi secara kuantitas menuntut adanya pengolahan, pengelolaan dan penyebarluasan informasi yang lebih berkualitas dan tentunya sesuai dengan kebutuhan informasi masyarakat.
Bagaimana perpustakaan bertahan di tengah persaingan dunia informasi saat ini? Jawabannya adalah marketing informasi dan perpustakaan. Perpustakaan dituntut untuk mampu memasarkan segala sumber informasi dan layanan yang dimilikinya sehingga pengguna (masyarakat) sadar, mengetahui dan bahkan memahami bahwa perpustakaan selalu tersedia untuk memenuhi segala kebutuhan informasi mereka.
Terkait dengan hal ini, perpustakaan sendiri harus memahami terlebih dahulu kebutuhan informasi penggunanya. Kemudian, beranjak dari sana, bergerak untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna tersebut.

1.1. Pemasaran (Marketing) secara Umum
Philip Kotler (1997:9) mendefinisikan pemasaran sebagai “social and managerial process by which individual and groups obtain what they need and want through creating, offering, and exchanging products of value with others”. Dengan bahasa lain dikatakan bahwa pemasaran merupakan suatu proses social dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbale balik produk dan nilai dengan orang lain. Kuncinya adalah adanya proses pertukaran antara satu pihak (yang memiliki barang/jasa) denan pihak lain (yang memakai barang/jasa).
Definisi lain menurut Chartered Institute of Marketing (London) pemasaran merupakan “proses manajemen yang bertanggung jawab atas identifikasi, antisipasi, dan memenuhi kebutuhan pengguna secara efisien dan menguntungkan” (De Saez, 1993 : 1).
Berdasarkan definisi diatas, pemasaran tidak dapat dilepaskan dari kegiatan manajemen dan fokus utamanya yaitu pada pemakai/pengguna dengan mengidentifikasi, mengantisipasi dan pada akhirnya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pemasaran sendiri merupakan suatu alat manajemen yang esensial dalam semua kegiatan usaha yang menghasilkan produk barang atau jasa. Istilah ini analogi dari kegiatan bisnis komersil, terutama perusahaan besar penghasil suatu produk barang (Mansjur, 2003).
Sedangkan Ninis Agustini Damayani (Damayani, 2008) mengartikan pemasaran sebagai cara untuk menjangkau audiens, client, customer melalui berbagai cara/media.

1.2. Manajemen Pemasaran
Untuk memahami pembicaraan mengenai pemasaran (marketing), terlebih dahulu akan dibahas mengenai manajemen pemasaran serta falsafah yang menjadi pedomannya. Kotler (2001:18) mengartikan manajemen pemasaran sebagai analisis, perencanaan, implementasi dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli/pengguna untuk mencapai tujuan perusahaan.
Ada beberapa hal yang harus menjadi pedoman dalam manajemen pemasaran suatu organisasi, yakni produksi, produk, penjualan, pemasaran dan pemasaran sosial (social marketing), serta riset pemasaran sebagai evaluasi dan bahan pengembangan lembaga tersebut di masa depan.

1.3. Riset Pemasaran
Pemasaran selalu berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan individu dan kebutuhan kelompok yang dalam pemenuhan kebutuhan yang diinginkan mengandung nilai kesesuaian yang dibutuhkan dan dapat menimbulkan kepuasan individu dan kelompok. Hal ini sesuai dengan definisi pemasaran disampaikan oleh Kotler (2006:6) ”Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating offering, and freely exchanging products and services of value with other”. Sedangkan The American Marketing Association dalam Kotler (2006:6) menyatakan bahwa “ Marketing is an organizational function and a set of processes for creating communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationship in way that benefit the organization and its stake stakeholder”.
Berdasarkan definisi tadi pemasaran merupakan kegiatan yang terencana untuk mencapai hasil dari pertukaran, sesuai dengan yang diiginkan dengan pasar yang mencapai sasaran. Dalam kegiatan perpustakaan kegiatan pemasaran mengikuti perkembangan kebutuhan dan keinginan pengguna. Dari perkembangan tersebut diharapakan mendorong konsep pemasaran yang lebih sempurna dalam mencapai tujuan organisasi, keuntungan pertumbuhan dan kontiunitas usaha dengan tetap memberi kepuasan kepada pengguna.
Menurut Asosiasi Pemasaran Amerika riset pemasaran adalah merupakan ancangan yang sistematis dan objektif terhadap pengembangan penyedian informasi untuk proses pengambilan keputusan dalam manajemen pemasaran (Thomas C.Kiner 1987:18). Definisis diatas memerlukan beberapa penjelasan. Sistem menunjukkan bahwa proyek riset harus benar-benar direncanakan dan diorganisir dengan rapi, aspek-aspek taktis dan strategis dari disain riset harus dirinci terlebih dahulu dan hakikat data yang akan dikumpulkan serta model analisis yang akan diterapkan perlu juga diantisipasikan. Obyektifitas mengimplementasikan bahwa riset pemasaran harus diusahakan jauh dari faktor bias dan tidak emosiaonal dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Sedangkan informasi dan proses pengambilan keputusan merupakan maksud utama riset pemasaran.
Riset pemasaran adalah disain, pengumpulan, analisis dan pelaporan yang sistematis atas data dan segala penemuan yang relevan dengan situasi pemasaran tertentu yang dihadapi perusahaan (Kotler, 1988:138)

1.4. Proses Riset Pemasaran
Riset pemasaran dimaksudkan untuk memahami masalah pemasaran dengan lebih baik. Lima langkah utama dalam riset pemasaran yang efektif menurut Kotler (1988:142) ialah menetapkan masalah dan tujuan riset, mengembangkan sumber informasi, mengumpulkan informasi, menganalisis informasi dan menyajikan penemuan.
Sedangkan proses marketing research (riset pemasaran) menurut Kotler dan Armstrong (2001:152) dilakukan melalui empat tahapan, yakni: mendefinisikan masalah dan tujuan riset, mengembangkan rencana riset, menerapkan rencana riset dan menerjemahkan serta melaporkan temuan yang diperoleh. Proses marketing research (riset pemasaran) menurut Kotler dan Armstrong (2001:152) bisa dilihat dalam bagan di bawah ini :

Gb. Proses Riset Pemasaran

1. Menetapkan masalah dan tujuan riset
Dalam riset pemasaran yang dilakukan oleh manajer pemasaran dan peneliti pemasaran dengan menetapkan masalah secara cermat dan kemudian sepakat mengenai tujuan riset.
2. Mengembangkan perencanaan riset
Menyusun rencana yang paling efisien untuk menghimpun informasi yang diperlukan. Mendisain suatu rencana penelitian akan menyangkut keputusan-keputusan mengenai sumber data, pendekatan dalam riset, perangkat yang dibutuhkan dalam riset, rencana sampling dan metode kontak.
Menyusun rencana riset :
a. Sumber data
a. Data sekunder
b. Data primer
Sumber data dapat dihimpun dari data sekunder, data primer, atau keduanya. Data sekunder merupakan informasi yang sudah tersedia yang telah dikumpulkan dengan tujuan lain. Bila informasi ini tidak ada, maka petugas riset harus mengumpulkan data primer yang merupakan infromasi asli untuk tujuan tertentu.
b. Pendekatan riset
1. Observasi
2. Kelompok Fokus
3. Survei
4. Eksperimen
Riset dengan observasi salah satu cara untuk mencari data segar ialah mengamati pelaku dan lingkungannya sedangkan kelompok fokus adalah kumpulan enam sampai sepuluh orang yang menggunakan waktu beberapa jam bersama seorang pewancara ahli untuk membahas proyek,pelayanan,organisasi atau kegiatan pemasaran lainnya.Riset dengan survey, survey ini berada diantara ketidakformalan riset dengan obesrvasi dan kekakuan riset eksperimen.Riset eksperimen jenis ini yang paling formal ialah riset eksperimental.
c. Perangkat riset
1. Kuesioner
2. Peralatan mekanis
Kuesioner merupakan alat yang paling umum digunakan untuk mengumpulkan data primer.
d. Rencana sampling
1. Unit sampling
2. Ukuran sampel
3. Prosedur sampling
e. Metode kontak
1. Surat
2. Telepon
3. Perorangan/langsung
3. Mengimplementasi rencana penelitian, menganalisis dan mengumpulkan data
4. Menginterpretasi dan melaporkan temuan yang diperoleh
1.5. Etika Riset Pemasaran
Etika riset pemasaran bertopang pada dua pertimbangan dasar yaitu:
a. Ada jenis tertentu dari kegiatan riset pemasaran yang tidak tepat
b. Dan ada jenis tertentu dari kegiatan yang harus dilakukan
Menurut Tybout dan zaltman, responen dalam studi riset pemasaran tidak begutu ketat dibatasi oleh kode etik seperti halnya para pelaksana riset. Dengan memakai kode etik dari para peneliti konsumen non pemasaran (American Phychological Association, American Sociological Association, dan lain-lain), mereka menganjurkan beberapa hak dasar yang perlu dipraktekkan oleh para responden sebagai berikut:
a. Hak untuk memililih, berpartisipasi atau tidak berpartisipasi dalam sebuah riset; tercakup didalam nya adalah hak untuk mengetahui hak pilih ini, hak untuk diberi informasi yang cukup tentang riset dan hak untuk secara explicit diberi kesempatan untuk memilih
b. Hak untuk memperoleh jaminan keselamatan; tercakup didalamnya jaminan untuk merasiakan nama responden, jaminan untuk tidak mengalami tekanan atau penaglaman yang menekan, dan jaminan untuk tidak tertipu dalam hakikat serta sasaran riset
c. Hak untuk diberi tahu; tercakup didalamnya hak untuk diberi tahu apa yang sedang terjadi dan mengapa, serta diberi data yang dikehendaki responden.

1.6. Pemasaran pada Lembaga Informasi dan Perpustakaan
Perpustakaan sebagai salah satu bentuk lembaga informasi yang bergerak di bidang jasa informasi dengan menghasilkan produk dalam bentuk jasa layanan yang diberikan kepada pengguna perpustakaan. Dalam memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan, pustakawan harus mengetahui dan memahami pengguna perpustakaan sehingga produk yang dihasilkan perpustakaan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pengguna yang pada akhirnya dapat menimbulkan kepuasan, sehingga keberadaan perpustakaan diakui dan dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan pada saat sekarang dan pada saat yang akan datang.

1.6.1. Tujuan Pemasaran Informasi dan Perpustakaan
Jasa informasi yang semakin hari semakin berkembang sejalan perkembangan zaman sudah sepantasnya secara efektif dapat mencapai target. Sasaran yang diharapakan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pengguna. Pemasaran perpustakaan dimaksudkan untuk membuat orang tahu ada lembaga perpustakaan, membuat orang tahu bagaimana perpustakaan melakukan semua itu dan membantu orang tahu nilai tambah yang akan mereka peroleh dengan memanfaatkan fasilitas layanan yang ditawarkan perpustakaan.

1.6.2. Fungsi Pemasaran Jasa Perpustakaan
Fungsi pemasaran dimulai dengan perencanaan produk agar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para konsumen/pengguna antara perencanaan produk dan kepuasan konsumen melibatkan sejumlah aktivitas dalam proses pemasaran. Mengenai kebutuhan dan pemenuhanya bagi pemasar dapat melayani pasarnya secara efektif dapat dari segmentasi yang berbeda-beda. Hal ini dimaksudkan untuk keberhasilan dalam memasarkan produk dan jasa, selain segmentasi geografi dan demografis, karena meskipun sama, tetapi secara psikografi mereka dapat berbeda. Dalam segmentasi psikografis, pasar dipilah-pilah menjadi segmen berdasar cara hidup konsumen seperti tercermin dalam nilai, sikap dan minat pribadi mereka. Segmentasi psikografi membagi konsumen berdasarkan gaya hidup (Life style), kelas sosial dan kepribadian nya. Dalam perkembangan produk dan jasa baru karena pesan-pesan maupun isi dapat disimpaikan dengan efektif. Selain itu dapat menentukan desain pemasaran yang tepat, serta menentukan volume yg tetap sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Pemasaran terkait dengan dunia informasi dan perpustakaan dapat diartikan sebagai suatu proses penganalisisan, perencanaan, penerapan dan pengawasan program agar terjadi pertukaran nilai dengan pasar yang ditargetkan demi tujuan perpustakaan. Pemasaran adalah pelayanan mengenalkan seluruh aktivitas yang ada di perpustakaan agar diketahui oleh khalayak umum.
Pemasaran perpustakaan pada dasarnya merupakan forum pertukaran informasi antara organisasi perpustakaan dan konsumen dengan tujuan utama memberikan informasi tentang produk atau jasa yang disediakan oleh perpustakaan sekaligus membujuk konsemen untuk berekreasi terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Hasil dari proses pemasaran ini adalah tumbuhnya kesadaran sampai tindakan untuk memanfaatakanya.
Satu hal yang penting juga adalah bahwa mind set semua kegiatan marketing informasi dan perpustakaan adalah user oriented. Semuanya difokuskan kepada kebutuhan, keinginan dan kepuasan pengguna.
Terkait pemasaran informasi dan perpustakaan, Ohio Library Council mengatakan bahwa “the key is in ‘process’.” Salah satu bagian penting dari proses ini adalah perencanaan dan pengkajian (riset). Proses marketing yang baik memerlukan riset yang berkualitas dengan tujuan untuk menentukan apa-apa yang harus diberikan oleh perpustakaan, apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan pengguna dan bagaimana memadukan keduanya dalam kegiatan yang baik, menarik sehingga tujuan pemasaran itu tercapai.
1.7. Riset Pemasaran pada Lembaga Informasi dan Perpustakaan
Sebelum membahas riset pemasaran, ada baiknya mengenal aspek pemasaran pada lembaga informasi dan perpustakaan yang akan sangat mendukung kegiatan riset pemasaran sebagai dasar pijakan, yaitu kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi dan hasil. Kelima aspek pemasaran informasi perpustakaan itu adalah: (Ahmad, 2008)
1. Kebutuhan informasi yang berarti keinginan untuk mendapatkan, mengetahui hal-hal di luar pengetahuan yang dimiliki (person knowledge); misalnya berusaha mendapatkan dengan melalui cara membaca koran, atau majalah, melihat televisi, mendengarkan radio dan sebagainya.
2. Keinginan mendapatkan informasi berarti kebutuhan manusia yang dibentuk oleh budaya kepribadian seseorang untuk mendapatkan pengetahuan.
3. Permintaan informasi berarti keinginan manusia untuk mengetahui dan mendapatkan informasi, ilmu pengetahuan, data, jawaban atas persoalan yang timbul dan aktivitas interaksi manusia, kegiatan belajar, dan sebagainya.
4. Produksi informasi yang berarti kebutuhan, keinginan dan permintaan informasi yang terpenuhi mendorong manusia untuk menularkan/mentransfer kepada orang lain.
5. Dengan tercapainya bauran informasi yang didapat dan keempat unsur tersebut, man usia dapat mengevaluasi diri sampai di mana daya serap dan imajinasinya dalam menerima pengetahuan dan hasilnya akan merupakan kekayaan pribadi yang dapat menaikkan kualitas diri.
Mengetahui dan memahami kelima aspek pemasaran ini akan menjadi dasar lembaga informasi dan perpustakaan dalam melakukan kegiatan marketing jasa informasi dan perpustakaan selanjutnya, termasuk dalam kegiatan riset marketingnya.
Seperti pada kegiatan marketing komersial, lembaga informasi dan perpustakaan juga memerlukan adanya riset pemasaran. Riset pemasaran terkait bidang informasi dan perpustakaan disitir dari pendapat Kotler dan Armstrong (2001: 148) bisa diartikan sebagai suatu desain, pengumpulan, analisis dan pelaporan data secara sistematis yang relevan bagi suatu situasi pemasaran tertentu yang dihadapi oleh lembaga informasi dan perpustakaan. Setiap pemasar jasa informasi dan perpustakaan pastilah memerlukan adanya riset yang praktiknya bisa dilakukan dalam cakupan yang luas. Riset pemasaran informasi dan perpustakaan dimulai dari studi potensi pasar pengguna perpustakaan, pengukuran kepuasan pengguna dan perilaku penggunaan jasa informasi dan perpustakaan atau perilaku pencarian informasi pengguna di perpustakaan, hingga studi mengenai perlu atau tidaknya menetapkan harga bagi jasa penelusuran informasi terseleksi, distribusi layanan dalam jangkauan yang lebih luas dan kegiatan promosi perpustakaan.

II. Proses Research Marketing pada Lembaga Informasi dan Perpustakaan
2.1. Mendefinisikan Masalah dan Tujuan Riset
Para pengambil keputusan dan pustakawan di lembaga informasi dan perpustakaan harus sangat hati-hati dalam menentukan permasalahan yang akan diangkat ke dalam riset. Kemudian proses riset itu sendiri serta penerapan hasil riset dalam proses pengambilan keputusan lembaga informasi dan perpustakaan yang dikelolanya. Pustakawan dan pengambil keputusan mungkin tahu ada yang salah, namun tidak mengetahui penyebab-penyebab sebenarnya. Misalnya lembaga secara tergesa-gesa menentukan bahwa faktor penyebab tidak/jarang digunakannya katalog di perpustakaan adalah karena pengguna sudah tahu letak buku, sehingga mereka langsung browsing ke rak, dan katalog tidak diperlukan. Setelah itu mereka melakukan riset. Ketika riset menunjukkan bahwa pengguna sebenarnya memerlukan katalog, namun tidak tahu bagaimana menggunakannya, pengelola perpustakaan menjadi bingung. Lalu diketahui kemudian bahwa yang terpenting sebenarnya adalah adanya user education terutama terkait penggunaan katalog perpustakaan yang kontinyu. Penentuan permsalahan yang tepat dapat meniadakan pengeluaran biaya dan kelambatan serta terganggunya pelayanan yang disebabkan kegiatan riset tadi.
Setelah permasalahan ditentukan, pengelola perpustakaan harus menentukan sasaran riset yang dilakukan. Kotler dan Armstrong menyodorkan tiga pilihan jenis sasaran, yakni :
1. Riset eksporatori adalah untuk mengumpulkan informasi awal yang akan membantu mendefinisikan masalah dan pengusulan hipotesis.
2. Riset deskriptif adalah untuk menjelaskan sesuatu seperti gambaran demografi dan psikografis pengguna serta sikap pengguna dalam menggunakan layanan yang ada di perpustakaan.
3. Riset kausal adalah untuk menguji hipotesis dari suatu hubungan sebab akibat.

2.2. Mengembangkan Rencana Riset
Tahapan kedua dari proses riset pemasaran ini mensyaratkan ditentukannya informasi yang dibutuhkan, mengembangkan suatu rencana untuk mengumpulkannya secara efisien dan menyajikan rencana tersebut kepada manajemen pemasaran. Rencana yang dibuat menggambarkan sumber-sumber data yang ada dan menyebutkan pendekatan riset yang khusus, metoda kontak, teknik sampling, dan instrumen peneliti untuk mengumpulkan data.
Menyusun rencana riset :
a. Sumber data
1. Data sekunder
2. Data primer
Sumber data dapat dihimpun dari data sekunder, data primer, atau keduanya. Data sekunder merupakan informasi yang sudah tersedia yang telah dikumpulkan dengan tujuan lain. Bila informasi ini tidak ada, maka petugas riset harus mengumpulkan data primer yang merupakan infromasi asli untuk tujuan tertentu.
b. Pendekatan riset
1. Observasi
2. Kelompok Fokus
3. Survei
4. Eksperimen
Riset dengan observasi salah satu cara untuk mencari data segar ialah mengamati pelaku dan lingkungannya sedangkan kelompok fokus adalah kumpulan enam sampai sepuluh orang yang menggunakan waktu beberapa jam bersama seorang pewancara ahli untuk membahas proyek,pelayanan,organisasi atau kegiatan pemasaran lainnya.Riset dengan survey, survey ini berada diantara ketidakformalan riset dengan obesrvasi dan kekakuan riset eksperimen.Riset eksperimen jenis ini yang paling formal ialah riset eksperimental.

c. Perangkat riset
1. Kuesioner
2. Peralatan mekanis
Kuesioner merupakan alat yang paling umum digunakan untuk mengumpulkan data primer.

d. Rencana Sampling
Dalam rencana sampling ini, peneliti menentukan unit sampel, ukuran sampel serta teknik/prosedur pengambilan sampel.

e. Metode kontak
1. Surat kuesioner, dapat digunakan untuk mengumpulkan sejumlah besar informasi dengan tingkat biaya per responden yang rendah.
2. Wawancara telepon, adalah metode terbaik dalam mengumpulkan informasi secara cepat, dan cara ini memiliki tingkat fleksibilitas yang lebih besar dibandingkan kuesioner melalui surat.
3. Perorangan/langsung (pribadi) dapat dilakukan dengan dua cara-wawancara individu dan grup. Wawancara pribadi dilakukan dengan berbincang-bincang dengan orang-orang di rumah atau kantor mereka, di jalanan, di pusat perbelanjaan. Wawancara grup dilakukan dengan mengundang enam hingga sepuluh orang berkumpul selama beberapa jam bersama dengan seorang moderator terlatih untuk membicarakan tentang suatu produk layanan, jasa atau organisasi.
4. Survei on-line. Teknologi canggih saat ini telah memungkinkan wawancara dan pengumpulan informasi secara online.

III. Aplikasi Research Marketing pada Lembaga Informasi dan Perpustakaan
Bab ini akan menguraikan aplikasi riset marketing lembaga informasi dan perpustakaan perguruan tinggi. Riset ini dilakukan di Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Tahapan riset marketing akan di bahas di bawah ini.
3.1. Mendefinisikan Masalah dan Tujuan Riset
3.1.1. Identifikasi Masalah
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan sumber informasi bagi seluruh civitas akademika di lingkungan pendidikan tinggi tersebut. Namun, kenyataan di lapangan, perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal sebagaimana mestinya. Perpustakaan baru terlihat penuh pada saat-saat pekan ujian. Sedangkan pada hari-hari biasa, statistik pengunjung tidak menunjukkan lonjakan yang berarti. Hal ini merupakan permasalahan yang krusial dalam dunia layanan perpustakaan.
Oleh sebab itu, perlu dilakukan kajian mengenai pengguna (user study). Sebenarnya apa yang mereka butuhkan, apakah jenis layanan yang disediakan sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka dan apa saran dari pengguna untuk pengembangan layanan perpustakaan di masa datang.

3.1.2. Tujuan Riset
Tujuan riset ini adalah untuk mengetahui :
1. Jenis layanan yang dibutuhkan oleh pengguna
2. Sejauh mana kepuasan terhadap jasa layanan yang diberikan

III. Penutup
Marketing menurut Hermawan Kertajaya (El Qorni,2009) adalah sesuatu yang sederhana. Ia mengumpamakannya sebagai seni “menjual” diri (selling self) atau organisasi. Setiap pemasar jasa informasi dan perpustakaan pastilah memerlukan adanya riset yang praktiknya bisa dilakukan dalam cakupan yang luas. Riset pemasaran informasi dan perpustakaan dimulai dari studi potensi pasar pengguna perpustakaan, pengukuran kepuasan pengguna dan perilaku penggunaan jasa informasi dan perpustakaan atau perilaku pencarian informasi pengguna di perpustakaan, hingga studi mengenai perlu atau tidaknya menetapkan harga bagi jasa penelusuran informasi terseleksi, distribusi layanan dalam jangkauan yang lebih luas dan kegiatan promosi perpustakaan.

Pustakawan dan seluruh insan pengelola lembaga informasi dan perpustakaan harus selalu kreatif dan “hidup” untuk menghidupkan, mengevaluasi dan mengembangkan dunia perpustakaan, baik secara keilmuan maupun secara praktis di lapangan dalam rangka membina masyarakat. Pada akhirnya, how your library talks, is up to you! ***

Bahan Pustaka

Ahmad, Noorika. Pemasaran Jasa Perpustakaan. http://noorikaahmad.multiply.com/journal/item/4/Pemasaran_Jasa_Informasi_di_Perpustakaan. Diakses tanggal 5 Mei 2009.
Erwina, Wina. 2008. Bahan mata Kuliah Jasa Layanan Perpustakaan. Bandung: Fikom Unpad.
Kotler, Philip dan Armstrong, Gary. 2001. Prinsip-Prinsip Pemarasan. Jakarta: Erlangga.
Kotler, Philip. 1997. Marketing Management : Analysis, Planning, Implementation, and Control. 9 th ed. New Jersey : Prentice – Hall.
Kotler, Philip. 1988. Manajemen Pemasaran:Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengemndalian. Jilid I, Ed.5. Jakarta: Erlangga.
Qalyubi, sihabbudin.2003. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab Iain Sunan Kalijaga.
Rohman, Asep Saeful. 2006. Pemasaran Jasa Informasi Di Lembaga Informasi Atau Perpustakaan. Makalah “Seminar Pengembangan Kajian Ilmu Informasi Dan Perpustakaan” . Bandung : JIP Fikom Unpad.
Saez, Eileen Elliott. 2002. Marketing Concepts for Libraries and Information Services. London:Facet Publishing.
Saleh, Abdul Rahman. 2000. Manajemen Perpustakaan. Bandung: UPI.
Sulityo-Basuki.1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Jakarta: Gramedia.

(Yulianti)