Posts belonging to Category BLUE



Keporosan Kemaritiman

Dear all,
Memasuki babak baru poros maritim tentulah sangat menyesakkan sekaligus memberikan harapan baru atau (palsu). Sejak tahun 2000 (sudah 15 tahun) saya menggeluti kelautan, sampai sekarang kok rasanya tidak ada tidak ada yang berkembang. Jika melihat pengalaman seseorang yang sudah 15 tahun berkarya/bekerja dalam suatu instansi tentulah dia disebut sebagai manager muda (dalam bahasa dosennya disebut lektor). Barangkali saya juga disebut senior dalam hal ini dibandingkan dengan rekan-rekan sekalian.

Apakah saya malu?tentu iya, bahwa saya belum mampu berkarya banyak bagi bangsa ini. Saya malu dengan pendidikan yang telah memberikan ilmu pada saya, dengan sejarah keilmuan panjang yang dimulai dari Aristoteles, plato, hingga Einsten. Bahkan penemuan lampu saja sudah memberikan sejarah bagi dunia ini ditengah keterbatasan ilmu pengetahuan. Tapi sekarang? tapi kita?tapi saya (introspeksi)?

Poros maritim dengan istilah yang keren dan dapat diterima masyarakata sebenarnya sudah lama ada dan sudah lama juga menjadi wacana. Sejak bergulirnya pemerintahan baru, terasa semangat juang muncul kembali, namun masih diatas titik beku air. Selalu muncul pertanyaan, “apakah hanya wacana?”, kapan?

Poros maritim, terkait dengan fundasi berpikir, arahan, implementasi, dan kemauan. Barangkali sampai 10 tahun kedepan dengan kondisi sekarang (kondisi karakteristik bangsa), sulit tercapai. Fundasi seperti yang disebutkan diatas, hanya dipenuhi oleh unsur piramida paling tinggi. Sementara para pekerja yang berada di bawah tidak/belum memahami sama sekali. Padahal piramida paling bawah adalah sistem paling akar yang harus dibenahi.

Persoalannya dimana? Inilah kesimpulan yang saya katakan diatas bahwa 10 tahun lagi tidak akan tercapai. Adanya rencana jangka pendek hingga panjang setiap daerah adalah kendala besar dalam rekonstruksi, kombinasi poros maritim. Ini saja membutuhkan ahli-ahli yang kritis dan berorientasi jangka panjang (kita belum punya). Selain itu, politik saya kira memegang hampir 60% dari keberhasilan poros maritim.

Saya heran juga melihat politikus dan pejabat yang tidak membandingkan Indonesia dengan Singapura. Katanya, Kita tidak bisa maju seperti Singapura karena singapura hanya sebesar Batam tetapi Indonesia seratusnya Singapura. Tapi saya katakan, “coba tunjukkan wilayah di Indonesia yang sebesar Singapura tapi maju seperti Singapura?”

Saya melihat bahwa bukannya pemerintahan sekarang tidak berhasil. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa presiden dan pembantunya pasti tahu seluk beluk permasalahan ini. Bahkan konsep detail dan rencana kedepannya. Yang saya tidak yakin adalah bagaimana daerah menterjemahkan keinginan positif ini dirangkai dengan perkembangan daerah. Kita harus berlari, stabil, dan menjadi yang pertama.

Sedikit wacana, kritik membangun tentu harus dibarengi dengan solusi. 1) Bahwasannya harus ada blueprint jangka panjang terhadap poros maritim sehingga pergantian pimpinan tidak diikuti dengan pergantian kebijakan, 2)Poros maritim bukan istilah yang dipakai dalam konjungsi politik, tetapi menjadi kesadaran setiap partai untuk membangun perairan Indonesia, dan 3) Adanya missing link antar pusat-daerah harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat sebelum implementasinya dijalankan (agenda 5-10 tahun).

Selamat berkarya…saya ingat betul perkataan Dalai Lama yang membingungkan saya. kira kira seperti ini interpretasinya (maafkan kalau saya salah menulis dan mengutip) Jika anda sendiri merasa tidak mampu untuk mengguncang dunia, bayangkan seekor nyamuk yang mengganggu tidur anda. Hanya seekor dan anda tidak bisa tidur.

Selamat berwacana

Biawak Island Exploration and Research (BIEXRE) 2012

BIEXRE

Kami sebut saja dengan BIEXRE 2012 karena kegiatan ini merupakan integrasi dari hampir 13 penelitian yang disertakan dengan kegiatan pengabdian dan pengajaran praktis. Penelitian ini sesuai dengan misi dari Ilmu Kelautan UNPAD dalam bidang eksplorasi, konservasi, dan bioteknologi. Para peneliti terdiri dari dosen, mahasiswa, peneliti undangan (DISHIDROS, DKP INDRAMAYU) yang turut serta dalam mengeluarkan jurnal nantinya. Dengan mengikutsertakan 4 orang dosen yang ahli dibidangnya, komunitas instrumen dan survei FPIK UNPAD dan rekan mahasiswa yang lain, kegiatan ini sukses dilakukan dengan substansif pengambilan data lapangan.

Selama kegiatan 26-1 Juli 2012, pengukuran lapangan dilakukan setiap hari dengan 8 stasiun pengamatan laut dan juga ekosistem darat. Briefing dilakukan setiap pagi dan siang hari sedangkan evaluasi dilakukan pada waktu senggang/malam hari.

Biawak-Unpad

Hasil penelitian nantinya akan dipaparkan dalam bentuk seminar dan juga jurnal. Pada saat ini masih dilakukan pengolahan data terkait data fisis, ekologis, dan paramater geologi. hasil awal menunjukkan bahwa kondisi fisis perairan masih dalam keadaan baik namun kondisi arus tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai pembangkit energi karena dibawah 1 m/s. Selain itu, kondisi hutan mangrove dan pesisir yang terdapat banyak sampah merupakan salah satu indikator bahwa para nelayan di wilayah tersebut, membuang sampah secara sembarangan. Tunggu hasil final penelitian para peneliti kami.

Terhitung dari bulan 7 sampai bulan Maret 2013, data lengkap masih menjadi milik dari peneliti yang turun ke pulau Biawak, namun setelah itu akan dibuka ke publik secar gratis…gratis…gratis….(dapat digunakan sebagai bahan penelitian namun yang kami minta hanya pencantuman sumber data [ETIKA AKADEMIK]…silahkan digunakan)

Selamat berkarya membangun bangsa dan jika sudah ada penelitian yang telah dilakukan kami mohon sharing informasinya agar hasil penelitian kami lebih baik….

Gallery foto

                                                          Photo by catur 

Photo by Iwal HRP

Catatan Perjalanan Pelayaran Kebangsaan bagi Ilmuwan Muda

Pelayaran Kebangsaan bagi Ilmuwan Muda (PKIM) yang berlangsung tanggal 2 hingga 16 April 2010 menjadi catatan penting bagi Universitas Padjadjaran terutama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. setelah 3 kali diadakan FPIK-Unpad mengutus 2 orang (2 dosen dan 1 mahasiswa) untuk mengikuti kegiatan ini. kegiatan kali ini diadakan di perairan Belitung dengan menggunakan Kapal Baruna Jaya VIII milik LIPI. Kerjasama ini sendiri adalah inisiatif antara DIKTI dan LIPI dengan mengundang universitas dari Sabang sampai merauke.

Menarik. Itulah yang ada dalam pikiran saya. Bukan kali pertama saya berlayar dan mengadakan penelitian di laut, tetapi inilah yang pertama kali saya bergabung dengan berbagai universitas dari seluruh Indonesia, dengan berbagai suku, agama, dan kebudayaan yang dipadukan dengan penelitian kelautan. Secara teori, perbedaan pasti menjadi penghalang, tetapi kenyataannya bahwa pengelolaan laut dapat dilakukan dengan sifat ke-Indonesia-an.

Saya sendiri berada di tim-Planktonologi yang mengambil sampel plankton dari kedalaman dasar hingga permukaan. rekan saya berada di tim-logam berat. Ada perjalanan, ada penelitian tentulah ada hasil, dimana selain laporan secara subsantif, kami juga mempunyai segudang pengalaman untuk dibagikan.

terima kasih kepada Pimpinan di Fakultas Perikanan dan Kelautan dan juga pimpinan Universitas yang telah memberikan dukungan kepada kami. Dukungan itu kami artikan bahwa kami harus berbuat yang terbaik, dan kami telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Pimpinan LIPI meyampaikan bahwa LIPI memfasilitasi bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian di lembaga tersebut, terutama untuk mahasiswa Perikanan dan Ilmu Kelautan.

to be continued..

Dimanakan potensi terusan di Indonesia?

Ada dua terusan yang terkenal di Dunia yakni terusan Panama dan terusan Suez. Kedua terusan ini sangat berpengaruh untuk meminimalkan efesiensi penggunaan kapal-kapal besar sehingga waktu perjalanan menjadi semakin cepat. selain keuntungan yang didapatkan oleh si pengguna terusan, keuntungan lainnya juga didapat dari negara tersebut.

Terusan Suez dibuka tahun 1870 dan dibangun atas prakarsa insinyur Prancis yang bernama Ferdinand Vicomte de Lesseps. Terusan ini mengizinkan transportasi air dari Eropa ke Asia tanpa mengelilingi Afrika. Sebelum adanya kanal ini, beberapa transportasi dilakukan dengan cara mengosongkan kapal dan membawa barang-barangnya lewat darat antara Laut Tengah dan Laut Merah.Terusan ini terdiri dari dua bagian, utara dan selatan Danau Great Bitter, menghubungkan laut tengah ke teluk Suez.

Terusan Panama adalah terusan yang memotong tanah genting Panama sepanjang 82 km, memotong Amerika Utara dan Amerika Selatan serta menghubungkan Samudra pasifik dan Atlantik. Terusan ini memotong waktu tempuh kapal laut karena tidak perlu memutar lewat ujung selatan Amerika Selatan.

Untuk Indonesia sendiri, melihat garis panjang yang akan dilalui, dan efesiensi terhadap bidang ekonomi ada beberapa wilayah yang pantas untuk dijadikan terusan yakni berada di wilayah Sulawesi Timur yang berada di teluk Tomini dengan panjang 21, 64 km. bandingkan dengan panjang terusan Panama dan Suez. Jika terusan ini dibuat akan menjadi pintu lewat bagi perdagangan Gorontalo, pulau-pulau kecil yang berada di wilayah itu, sulawesi tengah, maluku, bahkan, papua yang akan menuju Kalimantan. perbedaannya adalah pada bagian ini akan susah ditemui sungai dan juga elevasinya yang sangat tinggi karena terdapatnya pegunungan.

Pertanyaan penting lainnya adalah, Apakah kita mampu membuatnya sedangkan jalan raya saja kita tidak mampu membuat dengan kualitas yang baik?????

to be continued

World Class Faculty

Fakultas Kelas Dunia (World Class Faculty)

Studi Kasus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Disampaikan pada Seminar Akademik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 24 Februari 2010

Ringkasan

Universitas Kelas Dunia atau yang lebih sering disebut World Class University (WCU) pada saat ini menjadi acuan pada tiap perguruan tinggi sebagai nilai prestisius. Bergerak pada pemahaman akan WCU sendiri sebenarnya jika dikaji lebih mendalam berasal dari fakultas-fakultas yang ada di institusi perguruan tinggi dimana segala persyaratan untuk WCU terdapat di fakultas. Pada intinya, untuk mencapai Universitas Kelas Dunia, diperlukan fakultas-fakultas kelas dunia (WCF). Tulisan ini sendiri memaparkan solusi parsial yang dapat dilakukan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. (more…)

Menghilangkan kata “to”

Disaat Universitas lain sudah mempunyai slogan “World Class University”, kita masih memiliki satu kata tambahan “to” didepannya.Pencanangan UNPAD menjadi WCU, sangat ditunggu-tunggu. Apa yang sudah dilakukan oleh pimpinan UNPAD dapat diapreasiasi.

Tetapi kita juga harus berbuat. Yang dibutuhkan adalah kreativitas dan inovasi. Dana bukanlah sebuah persoalan yang sangat serius jika kita mau berbuat. Ada banyak opsi lain selain menggantungkan pada keberadaan uang untuk menggantungkan harapan.

Salam