0

Perspektif Komunikasi Menurut Littlejohn

Posted by nikynikyniky... on October 31, 2011 in Uncategorized |

Ada empat perspektif komunikasi menurut Spethen Littlejohn, yaitu : perilaku (behavioral perspectives), kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives).

1.      Perspektif Perilaku (Behavioral Perspective)

Pendekatan ini awalnya diperkenalkan oleh John B. Watson (1941, 1919). Dalam pendekatan perilaku terdapat teori-teori yang mencoba menjelaskan cara lebih mendalam mengapa fenomena sosial yang diutarakan dalam pendekatan perilaku bisa terjadi.

Teori-teori yang terkait :

Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory)

Dalam kehidupan manusia terdapat 2 macam belajar, yaitu belajar secara fisik (belajar menari, belajar naik sepeda, dll), dan belajar psikis (termasuk belajar sosial, yaitu dimana seseorang mempelajari perannya dan peran orang-orang lain dalam kontak sosial. Selanjutnya orang tersebut akan  menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan peran sosial yang telah dipelajarinya.

Menurut Miller & Dollard ada 4 prinsip dalam belajar yaitu dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah laku balas (response), dan ganjaran (reward).

Bandura & Walters menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah suatu bentuk asosiasi suatu rangsang dengan rangsang lainnya. Terdapat 3 macam pengaruh tingkah laku model pada tingkah laku peniru menurut Bandura & Walters, yaitu :

  1. Efek modeling (modeling effect), dimana peniru melakukan tingkah laku-tingkah laku baru (melalui asosiasi-asosiasi) sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
  2. Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition), yaitu tingkah laku-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku-tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatan-hambatannya sehingga timbul tingkah laku-tingkah laku yang dapat menjadi nyata.
  3. Efek kemudahan (fascilitation effect), dimana tingkah-tingkah laku yang sudah pernah dipelajari peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.

 

 

Ilustrasi

Seseorang melihat film yang memperlihatkan suatu operasi. Pasien yang dioperasi dalam film itu (model) digambarkan meringis kesakitan, maka penonton pun bisa ikut meringis kesakitan.

Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)

Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) didasarkan pada ide bahwa orang memandang hubungan mereka dalam konteks ekonomi dan mereka menghitung pengorbanan dan membandingkannya dengan penghargaan yang didapatkan dengan meneruskan hubungan itu. Ada 4 konsep pokok dari teori pertukaran sosial, yaitu : pengorbanan (cost) adalah elemen dari sebuah hubungan yang memiliki nilai negatif bagi seseorang, penghargaan (reward) adalah elemen-elemen dalam sebuah hubungan yang memiliki nilai positif, nilai akhir (outcome) adalah suatu penilaian apakah seseorang akan meneruskan hubungannya atau mengakhirinya, dan tingkat perbandingan yang menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.

Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan. Para teoritikus Pertukaran Sosial berpendapat bahwa semua orang menilai hubungan mereka dengan melihat pengorbanan dan penghargaan. Semua hubungan membutuhkan waktu dari partisipannya.

Hubungan yang positif adalah hubungan di mana nilainya merupakan angka positif; maksudnya, penghargaan lebih besar daripada pengorbanan. Hubungan di mana nilainya adalah angka negatif (pengorbanan melebihi penghargaan) cenderung negatif untuk para partisipannya. Teori Pertukaran Sosial bahkan melangkah lebih jauh dengan memprediksikan bahwa nilai (worth) dari sebuah hubungan memengaruhi hasil akhir (outcome) atau apakah orang akan meneruskan suatu hubungan atau mengakhirinya. Hubungan yang positif biasanya dapat diharapkan untuk bertahan, sedangkan hubungan yang negatif mungkin akan berakhir.

Ilustrasi

Penyebab dari keretakan hubungan rumah tangga antara Anang dan Krisdayanti ini bila di lihat dari segi teori pertukaran sosial adalah karena kebutuhan satu sama lain tidak lagi tepenuhi atau pengorbanan lebih besar dibanding penghargaan yang mengakibatkan ketidakcocokan. Akhirnya, baik Anang maupun Krisdayanti sama-sama sepakat untuk mengakhiri hubungan mereka dan memilih untuk menempuh jalan mereka masing-masing.

2.      Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective)

Seorang psikolog James Baldwin (1897) menyatakan bahwa paling sedikit ada dua bentuk peniruan, satu didasarkan pada kebiasaan kita dan yang lainnya didasarkan pada wawasan kita atas diri kita sendiri dan atas orang lain yang perilakunya kita tiru. Walau dengan konsep yang berbeda seorang sosiolog Charles Cooley (1902) sepaham dengan pandangan Baldwin. Keduanya memfokuskan perhatian mereka kepada perilaku sosial yang melibatkan proses mental atau kognitif . Kemudian banyak para psikolog sosial menggunakan konsep sikap (attitude) untuk memahami proses mental atau kognitif tadi. Dua orang sosiolog W.I. Thomas dan Florian Znaniecki mendefinisikan psikologi sosial sebagai studi tentang sikap, yang diartikannya sebagai proses mental individu yang menentukan tanggapan aktual dan potensial individu dalam dunia sosial”. Sikap merupakan predisposisi perilaku.

Teori-teori terkait :

Teori Lapangan / Medan (Field Theory)

Seorang psikolog, Kurt Lewin (1935,1936) mengkaji perilaku sosial melalui pendekatan konsep “medan”/”field” atau “ruang kehidupan” – life space. Untuk memahami konsep ini perlu dipahami bahwa secara tradisional para psikolog memfokuskan pada keyakinan bahwa karakter individual (instink dan kebiasaan), bebas – lepas dari pengaruh situasi di mana individu melakukan aktivitas. Namun menurut Lewin penjelasan tentang perilaku yang tidak memperhitungkan faktor situasi, tidaklah lengkap. Bagi Lewin, pemahaman atas perilaku seseorang senantiasa harus dikaitkan dengan konteks – lingkungan di mana perilaku tertentu ditampilkan. Intinya, teori medan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field) di sekeliling individu bepengaruh pada perilakunya. Sesungguhnya teori medan mirip dengan konsep “gestalt” dalam psikologi yang memandang bahwa eksistensi bagian-bagian atau unsur-unsur tidak bisa terlepas satu sama lainnya.

 

Ilustrasi

Mula-mula sang anak melihat wajah ibunya sebagai suatu keseluruhan atau kesatuan, lambat laun dia dapat memisahkan mana mata ibu, mana hidung, mana telinga ibu; kemudian dia melihat bahwa wajah ibunya itu cantik atau jelek, biasa saja atau menarik.

Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap (Concistency Attitude and Attribution Theory)

Teori atribusi bermula dengan gagasan bahwa setiap individu mencoba untuk memahami perilaku mereka sendiri dan orang lain dengan mengamati bagaimana sesungguhnya setiap individu berperilaku. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bedakan dua jenis penyebab, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal (internal causality) merupakan atribut yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau personal, dan penyebab eksternal (external causality) terdapat dalam lingkungan atau situasi. Fritz Heider menyebutkan beberapa atribusi kausal yang biasa dibuat setiap orang. Semua ini mencakup penyebab situasional (dipengaruhi oleh lingkungan), pengaruh pribadi (memengaruhi secara pribadi), kemampuan (dapat melakukan sesuatu), usaha (mencoba melakukan sesuatu), hasrat (keinginan untuk melakukannya), keterlibatan (setuju dengan sesuatu), kewajiban (merasa harus), dan perizinan (telah diizinkan).

Ilustrasi

Seorang mahasiswa, sebut saja namanya Rudi, bertengkar dengan seorang dosen di kampusnya, begitu pula dengan mahasiswa yang lain. Hal ini menunjukkan konsensus yang tinggi. Rudi pernah juga bertengkar dengan dosen itu sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi yang tinggi. Kemudian Rudi tidak bertengkar dengan dosen yang lain, Rudi hanya bertengkar dengan dosen itu saja. Dalam hal ini maka kita akan menyimpulkan bahwa Rudi marah kepada dosen itu karena ulah dosen, bukan karena watak Rudi yang pemarah. Ini sebagai salah satu contoh atribusi kausalitas eksternal yang merupakan proses pembentukan kesan berdasarkan kesimpulan yang kita tafsirkan atas kejadian yang terjadi.

Teori Kognisi Kontemporer

Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya mewarnai konsep sikap. Istilah “kognisi” digunakan untuk menunjukan adanya proses mental dalam diri seseorang sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang manusia sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Manusia memproses informasi dengan cara tertentu melalui struktur kognitif yang diberi istilah “schema” (Markus dan Zajonc, 1985 ; Morgan dan Schwalbe, 1990; Fiske and Taylor, 1991). Struktur tersebut berperan sebagai kerangka yang dapat menginterpretasikan pengalaman-pengalaman sosial yang kita miliki. Jadi struktur kognisi bisa membantu kita mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan membantu kita untuk menyusun realitas sosial. Sistem ingatan yang kita miliki diasumsikan terdiri atas struktur pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya. Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses informasi yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teori-teori kognitif percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal yang obyektif, lingkungan eksternal belum mencukupi.

Ilustrasi

Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.

 3.    Perspektif Struktural

Untuk menjelaskan perilaku sosial seseorang dapat dikaji sebagai sesuatu proses yang (1) instinktif, (2) karena kebiasaan, dan (3) juga yang bersumber dari proses mental. Mereka semua tertarik, dan dengan cara sebaik mungkin lalu menguraikan hubungan antara masyarakat dengan individu. William James dan John Dewey menekankan pada penjelasan kebiasaan individual, tetapi mereka juga mencatat bahwa kebiasaan individu mencerminkan kebiasaan kelompok – yaitu adat-istiadat masyarakat – atau strutur sosial . Para sosiolog yakin bahwa struktur sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil. Kita mewarisi struktur sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, melalui proses sosialisasi. Kita mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan karena struktur sosial. James menguraikan pentingnya dampak struktur sosial atas “diri” (self) – perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Masyarakat mempengaruhi diri – self. Sosiolog lain Robert Park dari Universitas Chicago memandang bahwa masyarakat mengorganisasikan, mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan individu- individu ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran inilah kita menjadi tahu siapa diri kita. Kita adalah seorang anak, orang tua, guru, mahasiswa, laki-laki, perempuan, Islam, Kristen. Konsep kita tentang diri kita tergantung pada peran yang kita lakukan dalam masyarakat.

Teori-teori terkait

Teori Peran (Role Theory)

Teori peran (Role Theory) adalah teori yang merupakan perpaduan dari berbagai teori, orientasi maupun disiplin ilmu. Selain dari psikologi, teori peran berawal dari dan masih tetap digunakan dalam sosiologi dan antropologi. Dalam teorinya Biddle & Thomas (dalam Sarwono, 1998: 209) membagi peristilahan dalam teori peran dalam 4 golongan, yaitu istilah-istilah yang menyangkut :

  1. Orang-orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial.
  2. Perilaku yang muncul dalam interaksi tersebut.
  3. Kedudukan orang-orang dalam perilaku.
  4. Kaitan diantara orang dan perilaku.

Orang-orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial dapat dibagi dalam 2 golongan sebagai berikut :

  1. Aktor (pelaku), yaitu orang yang sedang berperilaku menuruti  suatu peran tertentu.
  2. Target (sasaran) atau orang lain (other), yaitu orang yang mempunyai hubungan dengan aktor dan perilakunya.

Menurut Biddle & Thomas ada lima istilah tentang perilaku dalam kaitannya dengan peran ;

  1. Expectation (harapan), adalah harapan-harapan orang lain pada umumnya tentang perilaku-perilaku yang pantas, yang seyogianya ditunjukkan oleh seseorang yang mempunyai peran tertentu.
  2. Norm (norma), orang sering mengacaukan istilah “harapan” dengan “norma”. Tetapi menurut Secord & Backman (1964) “norma” hanya merupakan salah satu bentuk “harapan”.
  3. Performance (wujud perilaku), Peran diwujudkan dalam perilaku oleh aktor. Berbeda dari norma, wujud perilaku ini adalah nyatam bukan sekedar harapan, dan berbeda dari satu aktor ke aktor lain (bervariasi).
  4. Evaluation (penilaian) dan Sanction (sanksi),  penilaian maupun sanksi menurut Biddle & Thomas dapat datang dari orang lain (eksternal) maupun dari dala diri sendiri (internal). Jika penilaian dan sanksi datang dari luar, berarti bahwa penilaian dan sanksi terhadap peran itu ditentukan oleh perilaku orang lain. Namun jika penilaian dan sanksi datang dari dalam diri sendiri, maka pelaku sendirilah yang member nilai dan sanksi berdasarkan pengetahuannya tentang harapan-harapan dan norma-norma masyarakat.

Ilustrasi

Seorang ibu yang ingin menyosialisasikan anaknya, maka ibu itu harus mengungkapkan penilaiannya dan sanksinya tentang peran anak dengan berbicara atau berbuat sesuatu. Dengan melihat perilaku ibunya, anak jadi tahu mana perbuatan yang salah dan mana yang benar. Jika kemudian norma sosialisasi ini diserap ke dalam diri anak, maka akan timbullah nilai (value).

Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)

Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-rekannya di Universitas Stanford pada tahun 1972. Jika pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini berfokus pada kelompok kerja yang lebih kecil lagi. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi gaya interaksi di antara anggota-anggota kelompok tadi. Sudah tentu atribut yang paling berpengaruh terhadap munculnya kinerja yang diharapkan adalah yang berkaitan dengan ketrampilan kerjanya. Anggota-anggota kelompok dituntut memiliki motivasi dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok yang diharapkan bisa ditampilkan sebaik mungkin.

Dalam beberapa masyarakat tertentu, beberapa atribut pribadi dinilai lebih penting daripada atribut lainnya. Untuk menjadi pemimpin, jenis kelamin kadang lebih diprioritaskan ketimbang kemampuan. Berger menyebut gejala tersebut sebagai “difusi karakteristik status”; karakteristik status mempengaruhi harapan kelompok kerja. Difusi karakteristik status tersebut ( jenis kelamin, ras, usia, dan lainnya) dengan demikian, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap interaksi sosial.

Ilustrasi

Dalam kelompok kerja, anggota-anggota kelompok membentuk dirinya sendiri dan anggota lain sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut memengaruhi gaya interaksi di antara anggota-anggota kelompok tersebut.

Posmodernisme (Postmodernism)

   Post modernisme didasari oleh gagasan dimana realitas sosial tetap dihasilkan, dihasilkan kembali, dan diubah dengan kegunaan bahasan dan bentuk simbol  lainnya.

  1. Kajian Budaya

Kajian budaya meliputi investigasi tata cara budaya yang dihasilkan melalui sebuah perjuangan diantara ideologi-ideologi. Tradisi kajian budaya dengan jelas berorientasi reformis. Semua pakar ingin melihat perrubahan dalam masyarakat barat, dan mereka memandang ilmu pengetahuan mereka sebagia sebuah alat perjuangan budaya sosialis. Mereka mempercayai bahwa perubahan tersebut akan terjadi dalam dua cara : (1) dengan mengidentifikasi kontradiksi dalam masyarakat, resolusi yang akan membawa perubahan positif, sebagai lawan dari yang menindas. (2) dengan memberikan interpretasi yang akan membantu manusia memahami dominasi dan perubahan yang diinginkan. Para pakar kajian budaya membicarakan budaya dalam dua cara. Definisi pertama adalah ide dasar sebuah masyarakat atau kelompok tentram, ideologinya, atau cara kolektif dimana sebuah kelompok memahami perasaannya. Definisi kedua adalah praktik atau keseluruhan cara hidup dari sebuah kelompok-apa yang individu lakukan secara materi dari hari ke hari.

  1. Kajian Budaya Feminis

Melalui pendekatan ini, kajian budaya feminis menyarankan bahwa kekuasaan relasi terbentuk dari berbagai macam interaksi sosial dan bahwa bahasa dan bentuk simbolis tetap menciptakan kategori pemikiran seperti halnya hubungan sosial. Secara spesifik, pakar komunikasi feminis menguji bahasa semu laki-laki berpengaruh pada hubungan jenis kelamin, cara dominasi laki-laki telah membatasi komunikasi wanita, dan cara wanita melengkapi dan menolak pola tutur dan bahasa laki-laki. Pakar feminis telah menunjukkan bagaimana penelitian dan pembentukan teori, seperti semua aspek kehidupan yang didominasi tidak hanya oleh gender bias dari sains barat, termasuk mengistimewakan objektivitas, Eurosentrisme, dan imperialisme. Oleh sebab itu, pakar feminis berusaha untuk menemukan metode ilmu pengetahuan yang mempertimbangkan penggantian subjek perempuan dan hubungan wacananya yang juga dikondisikan dalam pengalaman kehidupan.

  1. Teori Kritis Ras

Teori kritis ras menggunakan gagasan keadilan sosial, ditujukan untuk nilai historis yang salah, dan dari feminism radikal, hal ini menggambarkan ide yang sebagian besar pola perilaku sosialnya tidak dikenali yang mendasari pola dominasi lain dan patriarki. Teori kritis ras menegaskan bahwa adalah sebuah konstruksi sosial-ras dan rasisme adalah produk dari interaksi sosial yang membentuk masyarakat, memanipulasi, dan meninggalkan kenyamanan. Teori kritis ras dan penelitian putih memberikan post modernisme contoh dalam bagaimana pengujian  wacana dengan hati-hati dapat mengungkapkan cara masyarakat membangun kategori yang membatasi dan membebaskan banyak orang.

Ilustrasi

Misalnya, kesukaan remaja Indonesia terhadap musik rap tidak lain adalah disebabkan karena setiap saat telinga mereka dijejali oleh musik tersebut melalui radio, televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar musik rap menjadi gaya hidup remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik rap, dia bukan remaja. Perilaku seseorang ditentukan oleh gaya hidup orang-orang lain yang ada disekelilingnya, bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern.

 4.      Perspektif Interaksionis

George Herbert Mead seorang sosiolog, percaya bahwa keanggotaan kita dalam suatu kelompok sosial menghasilkan perilaku bersama yang kita kenal dengan nama budaya. Individu-individu yang memegang posisi berbeda dalam suatu kelompok, mempunyai peran yang berbeda pula, sehingga memunculkan perilaku yang juga berbeda. Mead percaya bahwa kita sebagai bagian dari lingkungan sosial tersebut juga telah membantu menciptakan lingkungan tersebut. Mead menyarankan agar aspek internal (mental) sama pentingnya dengan aspek eksternal untuk dipelajari. Karena dia tertarik pada aspek internal dan eksternal atas dua atau lebih individu yang berinteraksi, maka dia menyebut aliran perilakunya dengan nama “social behaviorism”.

Teori-teori terkait :

Teori interaksi simbolik

Interaksionis simbolis berfokus pada cara-cara manusia membentuk makna dan susunan dalam masyarakat melalui percakapan. Teori Interaksi Simbolik menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Pada kenyataannya, interaksi simbolik membentuk sebuah jembatan antara teori yang berfokus pada individu-individu dan teori yang berfokus pada kekuatan sosial.

George Herbert Mead biasanya dianggap sebagai pendiri gerakan interaksionisme simbolis, tiga konsep utama dalam teori Mead ditangkap dalam judul karyanya yang paling terkenal, yaitu masyarakat, diri sendiri, dan pikiran. Kategori-kategori ini merupakan aspek-aspek yang berbeda dari proses umum yang sama yang disebut tindak sosial, yang merupakan sebuah kesatuan tingkah laku yang tidak dapat dianalisis kedalam bagian-bagian tertentu.

Dalam bentuk yang paling mendasar, sebuah tindak sosial melibatkan sebuah hubungan dari tiga bagian : gerak tubuh awal dari salah satu individu, respons dari orang lain terhadap gerak tubuh tersebut, dan sebuah hasil. Hasilnya adalah arti tindakan tersebut bagi pelaku komunikasi. Makna tidak semata-mata terletak dalam setiap hal ini, tetapi dalam hubungan ketiga hal tersebut. dalam sebuah perampokan, misalnya perampok menunjukkan pada korbannya apa yang ia maksudkan. Korban merespon dengan memberinya uang atau barang, sehingga terjadi sebuah hasil (sebuah perampokkan).

Tindakan individu yang tetap, seperti berjalan sendirian atau membaca sebuah buku adalah interaksional karena didasarkan pada gerak tubuh serta respon yang banyak terjadi dimasa lalu dan terus berlanjut dalam pikiran individu. Berjalan adalah sebuah tindak sosial karena makna-makna yang dihubungkan dengan interaksi simbolis dari berjalan yang dipelajari dalam hidup.

Tindakan bersama (joint action) antara dua orang atau lebih, seperti yang terjadi dalam pernikahan, perdagangan, perang, atau kebaktian di gereja terdiri atas sebuah interhubungan dari interaksi-interaksi yang lebih kecil.

Interhubangan dapat diserap, diperluas, dan dihubungkan melalui jaringan yang rumit : “sebuah jaringan atau sebuah institusi tidak bekerja secara otomatis karena adanya beberapa persyaratan system atau dinamika pada bagian dalamnya: jaringan pekerja karena manusia pada poin-poin yang berbeda melakukan sesuatu dan apa yang mereka lakukan merupakan sebuah hasil dari bagaimana mereka menjelaskan situasi yang meminta mereka untuk bertindak”.

Masyarakat (Mead) atau kehidupan kelompok, terdiri atas perilaku-perilaku kooperatif anggota-anggotanya. Kerjasama manusia mengharuskan kita untuk memahami maksud orang lain yang juga mengharus kita untuk mengetahui apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Jadi , kerjasama terdiri dari “membaca” tindakkan dan maksud orang lain serta menanggapinya dengan cara yang tepat.

Mead menyebut gerak tubuh sebagai simbol signifikan, yang mengacu pada setiap tindakan yang dapat memiliki makna. Biasanya, hal ini bersifat verbal atau berhubungan dengan bahasa, tetapi dapat juga berupa gerak tubuh non verbal. Oleh karena itu, masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana anggota-anggotanya menempatkan makna bagi tindakka mereka dan tindakan orang lain dengan menggunakan symbol-simbol.

Interaksionisme simbolis sebagai sebuah gerakan, ada untuk meneliti cara-cara manusia berkomunikasi, memusat,atau dapat membagi makna.

Ilustrasi

Di Indonesia, ketupat dijadikan sebagai simbol Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat di Indonesia telah memaknai ketupat sebagai makanan yang wajib disajikan saat Idul Fitri. Hal ini terjadi  karena adanya interaksi sosial dari masyarakat yang membentuk kesepakatan mengenai makna dari ketupat tersebut. Namun ketupat belum tentu  menjadi sesuatu yang bermakna di negara lain yang juga mayoritas warganya beragama islam

b.      Teori Identitas

Teori-teori yang berfokus pada pelaku komunikasi akan selalu membawa  identitas diri kesejumlah tingkatan, tetapi identitas berada dalam lingkup budaya yang luas dan manusia berbeda dalam menguraikan diri mereka sendiri.

Teori komunikasi tentang identitas (Michael Hecht dan koleganya) tergabung ketiga konteks budaya berikut-individu, komunal, publik. Menurut teori tersebut, identitas merupakan penghubung utama antara individu dan masyarakat serta komunikasi merupakan mata rantai yang memperbolehkan hubungan ini terjadi. Identitas adalah “kode” yang mendefinisikan keanggotaan dalam komunitas yang beragam. Kode terdiri dari simbol-simbol, seperti bentuk pakaian dan kepemilikan, dan kata-kata, seperti deskripsi diri atau benda yang biasannya dikatakan, dan makna yang menghubungkan dengan orang lain terhadap benda-benda tersebut.

Hecht memperkenalkan dimensi-dimensi identitas khusus, termasuk perasaan (dimensi afektif), pemikiran (dimensi kognitif), tindakan (dimensi perilaku), dan transenden (spiritual). Karena cakupannya yang luar biasa, identitas adalah sumber bagi motivasi dan ekspektasi dalam kehidupan serta memiliki kekuatan yang tetap (abadi).

Komunikasi merupakan alat untuk membentuk identitas dan juga mengubah mekanisme. Identitas dibentuk secara sosial ketika berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan. Subjective Dimension akan identitas merupakan perasaan diri pribadi, sedangkan ascribed dimension adalah apa yang orang lain katakana. Dengan kata lain, rasa identitas terdiri dari makna-makna yang dipelajari dan didapatkan, makna-makna tersebut diproyeksikan kepada orang lain kapan pun berkomunikasi.

Terdapat 4 tingkatan mengenai identitas menurut Hecht:

  1. Personal Layer, terdiri dari rasa akan keberadaan diri dalam situasi sosial. Identitas tersebut terdiri dari berbagai perasaan serta ide tentang diri sendiri, siapa dan seperti apa.
  2. Enactment Layer, atau pengetahuan orang lain tentang diri berdasarkan pada apa yang dilakukan, dimiliki, dan bagaimana bertindak. Penampilan adalah symbol-simbol aspek yang mendalam tentang identitas serta orang lain akan mendefinisikan dan memahami melalui penampilan tersebut.
  3. Relational, atau siapa diri anda dalam kaitannya dengan individu lain. Identitas dibentuk dalam interaksi dengan mereka. Anda dapat melihat dengan sangat jelas identitas hubungan ketika anda merujuk diri anda secara spesifik sebagai mitra hubungan.
  4. Communal, yang diikat pada kelompok atau budaya yang lebih besar. Tingkat identitas ini sangat kuat dalam banyak budaya asia.

Meskipun budaya-budaya akan menekankan tingkatan identitas yang berbeda, keempat tingkatan tersebut selalu hadir dan “saling tercakup”. Dengan demikian identitas pribadi tidak dapat dipindahkan dari masyarakat yang lebih besar ditempat anda tinggal. Dengan kata lain, identitas tersebut bersifat individual, sosial, dan komunal.

Ilustrasi

Misalnya ketika maraknya tawuran antarpelajar yang sering terjadi di Kota A. Sebagai contoh, kita ambil kasus tawuran antarpelajar SMA X dan SMA Z. Sudah banyak yang mengetahui bahwa di 2 sekolah tersebut dikenal dengan sebutan sekolahnya geng motor, karena di SMA X dan Z banyak siswanya yang menjadi anggota geng motor yang sering bertindak meresahkan masyarakat

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Littlejohn, Stephen W. Foss, Karen A. Teori Komunikasi. 2009. Jakarta: Salemba Humanika.

Sarwono, Sarlito Wirawan. Teori-Teori Psikologi Sosial. 1998. Jakarta: Raja Grafindo

Persada.

West, Richard. Turner, Lynn H. Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi. 2008.

Jakarta: Salemba Humanika.

 

Sumber lain :

http://alifyuza.wordpress.com/2008/11/21/perspektif-komunikasi-menurut-stephen-little-john/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

56 + = 59

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copyright © 2011-2014 keep it simple, but the best… All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.2.4.1, from BuyNowShop.com.