4September2012

Pencemaran Lingkungan dan Upaya Mengatasinya

Posted by nendenindrayati under: Main.

Pengertian Pencemaran

Berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alami, sehingga mutu kualitas lingkungan turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Masuknya bahan pencemar atau polutan kedalam lingkungan tertentuyang keberadaannya mengganggu kestabilan lingkungan.

Perubahan Lingkungan.
Faktor faktor Penyebab Perubahan Lingkungan.
Faktor Alam : Faktor yang dapat menimbulkan kerusakan antara lain gunung meletus, gempa bumi,angin topan, kemarau panjang, banjir, dan kebakaran hutan.
Faktor Manusia : Kegiatan manusia yang menyebabkan perubahan lingkungan misalnya, membuang limbah ( limbah rumah tangga, industri, pertanian, dsb ) secara sembarangan, menebang hutan sembarangan, dsb.

Suatu zat dapat disebut polutan apabila:
1.    Jumlahnya melebihi jumlah normal.
2.    Berada pada waktu yang tidak tepat.
3.    Berada di tempat yang tidak tepat.
Sifat polutan adalah :
1.    Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan tidak merusak lagi.
2.    Merusak dalam waktu lama.
Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkat yang merusak.

Macam-Macam Pencemaran Lingkungan

a)    Berdasarkan Tempat terjadinya.
Pencemaran Udara, disebabkan oleh :
(1)    CO2
Karbon dioksida berasal dari pabrik, mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar fosil ( batubara, minyak bumi ), juga dari mobil, kapal, pesawat terbang, dan pembakaran kayu.
Meningkatnya kadar CO2 di udara jika tidak segera diubah menjadi oksigen akan mengakibatkan efek rumah kaca.
(2)    CO (Karbon Monoksida)
Proses pembakaran dimesin yang tidak sempurna, akan menghasilkan gas CO. Jika mesin mobil dihidupkan di dalam garasi tertutup, orang yang ada digarasi dapat meninggal akibat menghirup gas CO. Menghidupkan AC ketika tidur di dalam mobil dalam keadaan tertutup juga berbahaya. Bocoran gas CO dari knalpot dapat masuk ke dalam mobil, sehingga bisa menyebabkan kematian.
(3)    CFC (Khloro Fluoro Karbon)
Gas CFC digunakan sebagai gas pengembang karena tidak bereaksi, tidak berbau, dan tidak berasa. CFC banyak digunakan untuk mengembangkan busa (busa kursi), untuk AC (Freon), pendingin pada lemari es, dan hairspray. CFC akan menyebabkan lubang ozon di atmosfer.
(4)    SO dan SO2
Gas belerang oksida (SO,SO2) di udara dihasilkan oleh pembakaran fosil (minyak, batubara). Gas tersebut dapat bereaksi dengan gas nitrogen oksida dan air hujan, yang menyebabkan air hujan menjadi asam, yang disebut hujan asam.
Hujan asam mengakibatkan tumbuhan dan hewan-hewan tanah mati, produksi pertanian merosot, besi dan logam mudah berkarat, bangunan-bangunan kuno, seperti candi menjadi cepat aus dan rusak, demikian pula bangunan gedung dan jembatan.
(5)    Asap Rokok
Asap rokok bisa menyebabkan batuk kronis, kanker paru-paru, mempengaruhi janin dalam kandungan dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Perokok dibedakan menjadi dua yaitu perokok aktif (mereka yang merokok) dan perokok pasif (orang yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok). Perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif.
Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran udara, antara lain :
Terganggunya kesehatan manusia, misalnya batuk, bronkhitis, emfisema, dan penyakit pernapasan lainnya.
Rusaknya bangunan karena pelapukan, korosi pada logam, dan memudarnya warna cat.
Terganggunya pertumbuhan tanaman, misalnya menguningnya daun atau kerdilnya tanaman akibat konsentrasi gas SO2 yang tinggi di udara.
Adanya peristiwa efek rumah kaca yang dapat menaikkan suhu udara secara global serta dapat mengubah pola iklim bumi dan mencairkan es di kutub.
Terjadinya hujan asam yang disebabkan oleh pencemaran oksida nitrogen.
ii)    Pencemaran Air, disebabkan oleh :
(1)    Limbah Pertanian.
Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia, orang yang memakannya akan mati. Untuk mencegahnya, upayakan memilih insektisida yang berspektrum sempit (khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat biodegradable (dapat terurai secara biologi) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan aturan. Jangan membuang sisa obat ke sungai. Pupuk organik yang larut dalam air dapat menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi), karena air kaya nutrisi, ganggang dan tumbuhan air tumbuh subur (blooming). Hal ini akan mengganggu ekosistem air, mematikan ikan dan organisme dalam air, karena oksigen dan sinar matahari yang diperlukan organisme dalam air terhalang dan tidak dapat masuk ke dalam air, sehingga kadar oksigen dan sinar matahari berkurang.
(2)    Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga berupa berbagai bahan organik (misal sisa sayur, ikan, nasi, minyak, lemak, air buangan manusia), atau bahan anorganik misalnya plastik, aluminium, dan botol yang hanyut terbawa arus air. Sampah yang tertimbun menyumbat saluran air dan mengakibatkan banjir. Pencemar lain bisa berupa pencemar biologi seperti bibit penyakit, bakteri, dan jamur. Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan, akibatnya kadar oksigen dalam air turun drastis sehingga biota air akan mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat, akan ditemukan cacing Tubifex berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini merupakan petunjuk biologis (bioindikator) parahnya limbah organik dari limbah pemukiman.
(3)    Limbah Industri
Limbah industri berupa polutan organik yang berbau busuk, polutan anorganik yang berbuih dan berwarna, polutan yang mengandung asam belerang berbau busuk, dan polutan berupa cairan panas. Kebocoran tanker minyak dapat menyebabkan minyak menggenangi lautan sampai jarak ratusan kilometer. Tumpahan minyak mengancam kehidupan ikan, terumbu karang, burung laut, dan organisme laut lainnya untuk mengatasinya, genangan minyak dibatasi dengan pipa mengapung agar tidak tersebar, kemudian ditaburi dengan zat yang dapat menguraikan minyak.
(4)    Penangkapan Ikan Menggunakan racun
Sebagian penduduk dan nelayan ada yang menggunakan tuba (racun dari tumbuhan), potas (racun kimia), atau aliran listrk untuk menangkap ikan. Akibatnya, yang mati tidak hanya ikan tangkapan melainkan juga biota air lainnya.

Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran air antara lain :
Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigen.
Terjadinya ledakan populasi ganggang dan tumbuhan air (eutrofikasi).
Pendangkalan dasar perairan.
Punahnya biota air, misal ikan, yuyu, udang, dan serangga air.
Munculnya banjir akibat got tersumbat sampah.
Menjalarnya wabah muntaber.
iii)    Pencemaran Tanah, disebabkan oleh :
Sampah organik dan anorganik yang berasal dari limbah rumah tangga, pasar, industri, kegiatan pertanian, peternakan, dan sebagainya.
Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran tanah antara lain :
•    Terganggunya kehidupan organisme (terutama mikroorganisme dalam tanah).
•    Berubahnya sifat kimia atau sifat fisika tanah sehingga tidak baik untuk pertumbuhan tanaman, dan
•    Mengubah dan mempengaruhi keseimbangan ekologi

b)    Berdasarkan Macam Bahan Pencemar
Menurut macam bahan pencemarnya, pencemaran dibedakan menjadi berikut ini :
i)    Pencemaran kimia : CO2, logam berat (Hg, Pb, As, Cd, Cr, Ni), bahan radioaktif, pestisida, detergen, minyak, pupuk anorganik.
ii)    Pencemaran biologi : mikroorganisme seperti Escherichia coli, Entamoeba coli, Salmonella thyposa.
iii)    Pencemaran fisik : logam, kaleng, botol, kaca, plastik, karet.
iv)    Pencemaran suara : kebisingan ( menyebabkan sulit tidur, tuli, gangguan kejiwaan, penyakit jantung, gangguan janin dalam kandungan, dan stress).

c)    Berdasarkan Tingkat Pencemaran
Menurut tingkat pencemarannya, pencemaran dibedakan menjadi sebagai berikut:
1.    Pencemaran ringan, yaitu pencemaran yang dimulai menimbulkan gangguan ekosistem lain. Contohnya pencemaran gas kendaraan bermotor.
2.    Pencemaran kronis, yaitu pencemaran yang mengakibatkan penyakit kronis. Contohnya pencemaran Minamata di Jepang.
3.    Pencemaran akut, yaitu pencemaran yang dapat mematikan seketika. Contohnya pencemaran gas CO dari knalpot yang mematikan orang di dalam mobil tertutup, dan pencemaran radioaktif.

0 

4September2012

Green Chemistry (Kimia Hijau)

Posted by nendenindrayati under: Main.

Green Chemistry atau Kimia Hijau disebut juga sustainable chemistry, merupakan sebuah filsafat kimiawi yang mendorong desain produk dan prosesnya untuk mengurangi  atau menghilangkan pemakaian dan generasi dari zat-zat berbahaya. Lingkungan kimiawi disini melingkupi lingkungan alami dan kimia hijau di lingkungan alami berfungsi untuk mengurangi dan mencegah polusi lansung dari sumbernya. Kimia hijau sangat efektif karena mengakplikasikn solusi saintifik yang inovatif bagi situasi lingkungan dunia.  Paul Anastas dari United States Environmental Protection Agency dan John C. Warner mengembangkan 12 prinsip grreen chemistry yang berfungsi sebagai panduan pengaplikasian green chemistry dalam tindakan nyata. Di bawah ini terdapat 12 prinsip konsep Green Chemistry: Theory and Practice (Oxford University Press: New York, 1998).

12 Prinsip Kimia Hijau :

  1. Mencegah limbah: Mendesain sintesa kimiawi untuk mencegah limbah, tak meninggalkan limbah untuk ditindaklanjuti atau dibersihkan.
  2. Mendesain zat kimiawi dan produk kimiawi yang aman: Mendesain sintesa untuk digunakan dan menghasilkan zat kimia yang tidak atau hanya sedikit menjadi racun bagi manusia dan lingkungannya.
  3. Mendesain sintesa kimia yang tidak terlalu berbahaya: Mendesain sintesa untuk digunakan dan menghasilkan zat kimia yang tidak atau hanya sedikit menjadi racun bagi manusia dan lingkungannya
  4. Menggunakan bahan baku yang bisa diperbarui:  Menggunakan material dan bahan baku yang bisa diperbarui dari pada yang tidak bisa diperbarui. Bahan baku yang bisa diperbarui biasanya dibuat dari produk agrikultur atau merupakan limbah dari proses, sedangkan bahan baku yang tidak bisa diperbarui berasal dari fossil atau merupakan hasil tambang.
  5. Menggunakan pengkatalis, bukan bahan reaksi stoikometri: Meminimalkan limbah dengan reaksi katalitik. Pengkatalis digunakan dalam jumlah kecil dan membawa sebuah reaksi tunggal kecil secara berulang beberapa kali. Pengkatalisi diutamakan dibandungkan dengan bahan reaksi stoikometri yang digunakan secara berlebih dan hanya bekerja sekali.
  6. Menghindari turunan kimiawi: Menghindari penggunaan grup penghambat atau pelindung atau perubahan sementara jika memungkinkan. Turunan menggunakan bahan reaksi tambahan dan menhasilkan limbah.
  7. Memaksimalkan ekonomi atom: Mendesain sintesa agar produk akhir mengandung proporsi maksimum dari materi awal yang digunakan. Kalau ada atom yang terbuang, sebaiknya hanya sedikit.
  8. Gunakan pelarut dan kondisi reaksi yang aman: Hindari penggunaan pelaruut, agen pemisahan, atau pelengkap kimia lain. Jika penting, gunakan zat kimia yang tidak berbahaya.
  9. Tingkatkan efisiensi energi: Jalankan reaksi kimia pada suhu  dan tekanan yang sesuai dengan lingkungan kapan pun bisa.
  10. Mendesain zat kimia dan produk yang dapat terurai setelah digunakan: Mendesain produk kimiawi yang terurai ke dalam zat yang tidak berbahaya setelah digunakan supaya tidak terakumulasi dalam lingkungan.
  11. Menganalisa dalam waktu sesungguhnya untuk mencegah polusi: Melakukan pemantauan dan pengontrolan waktu sesunggunya selama sintesa berlangsung untuk meminimalkan atau menghilangkan pembentukan limbah.
  12. Meminimalkan potensi terjadinya kecelekaan: Mendesain zat kimia dan bentuknya untuk meminimalkan potensi terjadinya kecelakaan kimiawi termasuk ledakan, kebakaran, dan pelepasan ke dalam lingkungan.

 

0 

4September2012

Pelatihan Bioteknologi Ramah Lingkungan “Green Chemistry” di Kabupaten Garut

Posted by nendenindrayati under: Main.

Pengolahan limbah Organik dan Anorganik ( “Reuse,Reduce,Recycling, Refill, Replace”)

 

0 

4September2012

Pelatihan Bioteknologi Ramah Lingkungan Daur Ulang Limbah Organik, dan Limbah Anorganik Di Kecamatan Cibatu – Kabupaten Garut.

Posted by nendenindrayati under: Main.

Kabupaten Garut  berjarak ± 67 Km dari Bandung, memiliki 42 Kecamatan merupakan wilayah yang dinamis, seiring dengan bertambahnya waktu, berbagai dinamika terus berlangsung, baik yang diharapkan maupun yang tidak sehingga perubahan terjadi pada semua sektor. Salah satu dari 42 Kecamatan adalah Kecamatan Cibatu, memiliki 11 Desa. Desa Keresek   merupakan salah satu Desa dari 11 Desa lain yang berada di Kecamatan Cibatu  Kabupaten Garut.

Desa Keresek   dengan luas wilayah 135,105 hektar, memiliki 11 RW, relative daerahnya datar, ber penduduk sekitar 6528 jiwa.  Bidang pekerjaan penduduk Desa ini  mayoritas buruh, pedagang, wirausaha dan pensiunan. Sebagian kecil Pegawai negeri sipil (PNS: PJKA, ABRI, Guru), dapat dikategorikan kondisi ekonomi menengah kebawah. Daya beli masyarakat sangat menurun akibat pengaruh resesi ekonomi baru-baru ini.  Pasar tradisional dekat dengan Kantor Desa Keresek, yang merupakan pusat perdagangan. Dilaporkan oleh Kepala Desa Keresek, bahwa lokasi Pasar ini terlihat kurang terpelihara kebersihannya. Limbah pasar dan limbah rumah tangga bercampur aduk berserakan dan berterbangan dimana-mana, kurang nyaman dilihat, disamping baunya yang tidak sedap. Hal ini merupakan salah satu permasalahan di Desa Keresek. Orang-orang sebagai penduduk masyarakat desa cenderung tidak peduli terhadap keadaan tersebut.

“Masyarakat Kimia”  sudah menjadi kehidupan yang telah lama dilakukan pada aktivitas sehari-hari, menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya. Disamping itu kehidupan tidak bisa terlepas dari air, baik untuk minum, mandi cuci kakus (MCK), untuk membersihkan pakaian, rumah, menyiram tanaman, untuk pengairan sawah dlsb. Interaksi masyarakat kimia dan air kaitannya sangat erat, tidak bisa diputuskan. Air minum untuk konsumsi masyarakat telah diatur oleh PERMENKES NO: 492/ MENKES/ PER/ IV/ 2010. Peraturan ini perlu disosialisasikan di masyarakat, sehingga pada gilirannya menjadi konsumen yang bertanggung jawab merupakan tindakan yang bijaksana. Sebagai contoh, kritis terhadap barang yang dikonsumsi,” apakah nantinya akan menjadi sumber pencemar yang persisten, eksplosif, korosif dan beracun, atau dapat lapuk terdekomposisi di alam ?. Apakah barang yang kita konsumsi nantinya dapat meracuni manusia, hewan, dan tumbuhan, amankah bagi mahluk hidup dan lingkungan ?

Hirarki limbah menuju  kepada  5 R, yaitu ; memanfaatkan kembali limbah (Reuse), meminimisasi limbah dari sumber ( Reduse), melakukan upaya untuk perolehan kembali bahan-bahan yang berguna (Recovery),  melakukan upaya untuk perolehan kembali bahan-bahan yang masih bermanfaat  (Recycle), mengganti bahan yang akan menjadikan limbah (Replace) yang mengklasifikasikan strategi management limbah menurut apa yang sesuai.  Urutan hierarki limbah dari yang tertinggi ke yang terbawah yaitu pencegahan, pengurangan limbah, penggunaan kembali, daur ulang, serta penghematan energi, dan pembuangan.

Bioteknologi dapat memberikan kontribusi dalam mengatasi masalah limbah yang didominasi oleh limbah organik dan anorganik. Kegiatan pengelolaan limbah berbasis masyarakat  cukup untuk digunakan sebagai referensi model pengelolaan limbah yang mengedepankan kepada  paradigma 5 R tsb, dan  disosialisasikan kepada  masyarakat.  Melakukan 5-R setiap hari dapat dilakukan oleh siapapun, dari mulai anak-anak sampai orang dewasa, baik pria maupun wanita. Bila hal ini dilakukan secara serempak, di masyarakat merupakan solusi untuk penanganan permasalahan limbah yang cukup rumit.

Limbah pasar dan limbah rumah tangga dapat dikelola dan dilakukan dengan memilah-milah jenis limbah organik baik limbah organik basah seperti sayuran,   kertas, yang dapat membusuk, dan limbah anorganik yang tidak bisa membusuk seperti limbah  batu batere,  kaleng,  aluminium, plastik, kaca dan gelas didaur ulang, sehingga bermanfaat.

Dari uraian dan pemikiran-pemikiran tersebut di atas maka pelatihan daur ulang limbah organik yang dapat lapuk dan limbah anorganik  dengan metode 5 R dan pengetahuan mengenai air berkualitas  menjadi sesuatu yang perlu diterapkan di masyarakat.

1