Perkembangan Batik Tulis Tasik (masih dalam proses penelitian)
Posted by: admin, in penelitianPenelitian ini mengangkat topik mengenai perkembangan batik tulis tasik pada tahun 1942-2006. Alasan penulis mengangkat topik mengenai batik tulis Tasik karena terdapat beberapa aspek yang menarik untuk diungkapkan dan digali dalam masalah batik tulis Tasik, seperti mengapa batik tulis Tasik kurang dikenal oleh masyarakat luas dibandingkan dengan batik tulis Garutan dan batik lainnya, dan melihat bagaimana corak-corak khas batik tulis Tasik, dan variasinya yang berbeda dengan corak batik tulis daerah lainnya.
Dalam Ensiklopedia Indonesia, batik dapat diartikan sebagai suatu cara untuk melukis di atas kain (kain mori atau cambric, kain katun, tetoron, sutra, dan lain-lain) dengan cara melapisi bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin atau malam yang dicampur dengan parafin, damar, dan colophium. Semula kain dihilangkan kanjinya dengan cara direbus agar lilin atau malam dapat melekat pada kain, selanjutnya agar lilin atau malam tidak berkembang, kain itu dikanji kemudian dikeringkan dan disetrika hingga licin (Ensiklopedi Indonesia, 1997: 417-418).
Batik mulai dikenal di Indonesia diperkirakan sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kegiatan membatik ini menjadi milik rakyat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jawa pada khususnya adalah abad XIX. Kegiatan membatik merupakan suatu kegiatan menggambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja. Awalnya kegiatan membatik hanya dikerjakan terbatas dalam lingkungan keluarga kerajaan dan hasil batiknya digunakan sebagai pakaian raja, keluarga, dan pegawainya.
Kegiatan membatik mulai menyebar ke seluruh daerah di Jawa ketika semasa Perang Diponegoro berakhir yaitu pada 1830. Ketika terjadi Perang Diponegoro melawan penjajah Belanda, Belanda mendesak agar keluarga kerajaan serta pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Pada saat itulah kemudian keluarga-keluarga raja di darah Yogya dan Solo harus mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru. Keluarga kerajaan yang mengungsi itu kemudian tersebar ke daerah yang antara lain adalah Banyumas, Pekalongan, Ponorogo, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan daerah lainnya di sekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat (Tirtaamidjaja, 1966: 25).
Dalam Memori Serah Jabatan 1921-1930 (Jawa Barat) batik hanya disinggung sedikit itu pun bukan di daerah Priangan akan tetapi di Desa Trusmi Cirebon, ini menandakan bahwa pada masa itu batik tulis tasik belum berkembang. Atau tidak menguntungkan bagi pihak Belanda ketika itu.
Begitu juga pada masa sekarang batik tasik kurang dikenal oleh masyarakat luas. Padahal puluhan perajin batik yang tersentralisasi di daerah Ciroyom, Kecamatan Cipedes, Tasikmalaya masih tetap menjalankan usahanya.
Penulisan sejarah tidak hanya cukup bersifat naratif, sebab peristiwa sejarah membutuhkan penjelasan mengenai faktor-faktor kausal, kondisional, kontekstual serta unsur-unsur yang merupakan komponen dan eksponen dari proses sosial yang dikaji. Untuk memenuhi kebutuhan itu sejarah perlu dilengkapi dengan teori atau konsep dari ilmu-ilmu sosial sebagai kerangka analitis kerangka pemikiran teoritis.
Untuk membahas penelitian ini menggunakan konsep industri. Industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang yang homogen. Untuk menjadi sebuah industri, maka harus terdapat beberapa atau banyak perusahaan yang mempunyai barang yang homogen, atau memiliki daya subsidi erat (Ferguson, 1983:13).
Berbicara mengenai industri, maka tidak terlepas dari produksi sebagai salah satu perilaku dari kegiatan industri. Untuk itu konsep lain yang digunakan untuk penelitian ini adalah konsep mengenai produksi. Kegiatan mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi, disebut produksi dalam pengertian industri. Industri batik tulis Tasik pun tidak lepas dari kegiatan-kegiatan produksi yang menyangkut proses produksi maupun faktor produksi. Empat faktor produksi bagi industri adalah bahan baku, modal, tenaga kerja, dan manajemen atau organisasi usaha (Saladin, 1997: 15).
Penelitian ini akan difokuskan pada permasalahan sebagai berikut:Bagaimana asal usul munculnya batik tulis Tasik ?,Bagaimana perkembangan batik tulis Tasik sebagai industri rumah tangga (cottage industry)?, dan bagaimana perkembangan industri batik Tasik sebagai industri kecil (small scale industry)?, serta mengapa batik tulis Tasik tidak berkembang pesat seperti batik tulis lainnya ?
Berdasarkan penelusuran sumber yang dilakukan, sepanjang diketahui, tidak ditemukan tulisan yang mengungkapkan tentang Batik Tulis Tasik secara menyeluruh mulai dari masa setelah pemerintahan Hindia Belanda, atau awal mula penjajahan Jepang hingga masa kemerdekaan sekarang. Tulisan yang ada lebih menyoroti pada penelitian secara periodik dan ditulis secara deskriptif.
Sebuah buku yang membahas tentang sejarah batik yang dijadikan sebagai salah satu acuan untuk mengetahui tentang batik tulis tasik adalah buku yang berjudul Batik Indonesia yang ditulis oleh Anesia Aryunda Dofa. Dalam buku itu dijelaskan bahwa batik tulis Tasik berkembang bersamaan dengan berkembangnya industri batik di daerah Jawa Barat lainnya seperti Cirebon, Ciamis, Garut, dan Indramayu.
Karya Nians Djumena yang berjudul Batik dan Mitra, terbit tahun 1990. dalam salah satu babnya membahas secara khusus mengenai batik Jawa Barat. Batik di Jawa Barat yang dibahas dalam buku itu meliputi batik Cirebon, batik Garut, batik Tasikmalaya, dan batik Ciamis. Dalam buku itu dijelaskan secara singkat bahwa meningkatnya permintaan batik untuk bahan sandang serta biaya pembuatan batik tulis yang semakin tinggi telah mendorong berkembangnya industri batik printing, yang pada hakikatnya bukan merupakan batik dalam arti sebenarnya, karena menurut Nians Djumena batik merupakan pekerjaan tangan yang bernilai seni tinggi.
Dalam buku yang berjudul Batik Belanda 1840-1940; Dutch Influence In Batik From Java History and Stories. Yang ditulis oleh Harmen C Veldhuisen, terbit 1993 diuraikan secara garis besar tentang masalah perbatikan di Indonesia terutama yang berada di Pulau Jawa.
Penelitian ini bertujuan untuk:
Mengetahui dan memahami bagaimana asal usul munculnya batik tulis di Tasikmalaya. Serta mengetahui dan memahami bagaimana perkembangan batik tulis Tasik sebagai industri rumah tangga (cottage industry). Juga mengetahui dan memahami bagaimana perkembangan industri batik Tasik sebagai industri kecil (small scale industry). Mengetahui dan memahami mengapa batik tulis Tasik tidak berkembang pesat seperti batik tulis lainnya.
Penelitian tentang batik tulis Tasik ini diharapkan dapat memberi kontribusi minimal pada dua aspek, yaitu dalam kaitannya dengan perkembangan studi sejarah, penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk meluaskan horizon penelitian sejarah, sehingga tidak hanya terpaku pada karya sejarah yang bersifat konvensional, tetapi juga kajian-kajian lain yang juga cukup menentukan perjalanan budaya bangsa Indonesia.
Selain itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap perkembangan batik tulis Tasik khususnya dan perkembangan sosial ekonomi pada umumnya di Tasikmalaya.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Tujuan dari penggunaan metode sejarah adalah untuk memperoleh hasil penelitian berupa rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif hingga tingkat yang dapat dipertanggungjawabkan. Metode sejarah itu terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.
Bahkan Kuntowijoyo menyebutkan bahwa penelitian sejarah mempunyai lima tahapan yaitu topik, pengumpulan sumber, verifikasi (kritik sejarah atau keabsahan sumber, interpretasi (analisis dan sintesis) dan penulisan (Kuntowijoyo, 1995: 89).
Tahapan penelitian diawali dengan pencarian data dan pengumpulan sumber atau dikenal dengan istilah heuristik (Kosim, 1988: 32). Heuristik adalah suatu tekhnik yang membantu kita untuk mencari jejak-jejak sejarah (Reiner, 1997: 113). Heuristik juga merupakan sebuah tahapan atau kegiatan untuk merumuskan atau menghimpun sumber, data dan informasi mengenai masalah yang diangkat, baik tertulis maupun tidak tertulis (dokumen dan artefak) yang disesuaikan dengan jenis sejarah yang akan ditulis (Kuntowijiyo, 1995: 94). Dalam rangka mengumpulkan sumber tertulis yang relevan dengan tema yang sedang dikaji, maka penulis melakukan studi kepustakaan. Studi pustaka dilakukan di beberapa tempat seperti Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jalan Salemba Raya Jakarta, Arsip Nasional Republik Indonesia di Jalan Ampera Raya Jakarta, Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jalan Raya Bandung- Sumedang Km 21, Perpustakaan Pusat Graha Soeria Atmadja Universitas Padjadjaran Jalan Dipati Ukur Bandung.
Tahapan berikutnya adalah kritik atau tahapan verifikasi, yaitu tahapan atau kegiatan meneliti dan menyeleksi sumber, informasi, jejak secara kritis. Setiap sumber memiliki dua aspek yaitu ekstern dan intern, karena itu kritik pun terbagi menjadi dua yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern merupakan proses penyeleksian data dengan menyelidiki kredibilitas sumber atau kebiasaan yang dipercayai, sedangkan kritik ekstern menyelidiki otentisitas sumber atau keaslian sumber (Kuntowijoyo, 1995: 99).
Tahapan selanjutnya adalah dengan melakukan interpretasi (penafsiran) terhadap data tersebut. Tahapan ini sering disebut sebagai sumber subyektifitas, karena menurut Kuntowijoyo (1995: 100) pendapat tersebut sebagian benar dan sebagian lagi salah. Interpretasi sebagai sumber subyektifitas dikatakan benar, karena tanpa penafsiran sejarawan, data tidak bisa berbicara. Sejarawan yang jujur, akan mencantumkan data dan keterangan dari mana data itu diperoleh. Orang lain dapat melihat kembali dan menafsirkan ulang. Itulah sebabnya, subyektifitas penulis sejarah diakui, tetapi untuk dihindari. Interpretasi mengandung maksud sebagai penafsiran terhadap data yang terkumpul setelah dilakukan penyeleksian atau pengujian sumber (kritik sumber).
Tahap keempat adalah tahap historiografi. Historiografi atau tulisan sejarah atau kisah sejarah merupakan rekaman tentang semua yang telah terjadi yang berada alam kerajaan kesadaran manusia (Barnes dalam Herlina-Lubis, 2000: 9).
DAFTAR PUSTAKA
Achyadi, Judi. 1976. Pakaian Daerah Wanita Indonesia. Jakarta : Djambatan.
Ali, Moh. Et al. 1972. Sejarah Jawa Barat Suatu Tanggapan. Bandung: Pemerintah Daerah Jawa
Barat, Badan Penelitian dan Penulisan Sejarah Jawa Barat.
Arnita, Fausta Maria. 1992. Gabungan Koperasi Batik Indonesia 1948-1963. Skripsi Jurusan Ilmu
Sejarah. Bandung: Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.
BPS. 1990. Statistik Industri Besar Sedang Jawa Barat. Bandung: Kantor Statistik Provinsi Jawa Barat.
Burger dan Prajudi Atmosudiro. 1970. Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia. Jakarta: Pradnyaparamita.
Depdikbud. 1998. Khazanah Budaya Nusantara. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jendral Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djajasoebrata, Alit Veldhuisen. 1972. Batik op Java. Rotterdam: Museum Voorland-en volkenkunde.
Djumena, Nians. 1990. Batik dan Mitra. Jakarta: Djambatan.
Dofa, Anesia Aryunda. 1996. Batik Indonesia. Jakarta: Golden Terayon Press.
Ekadjati, Edi S. 1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.
Elliot, Inger McCabe. 1984. Batik Fabled Cloth of Java. New York: Clarkson N. Potter Inc.
Fraser-lu, Sylvia. 1989. Indonesian Batik: Processes, Pattern and Places. Oxford: oxford University Press.
Ferguson, C.E. 1983. Teori Tentang Organisasi Perusahaan dan Pasar. (Terj.). Bandung: Tarsito.
Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah (Terj.). Jakarta: UI Press.
Hamzuri. 1981. Batik Klasik. Jakarta: Djambatan.
Hasanudin. 2001. Batik Pesisiran: Melacak Pengaruh Etos Dagang Santri pada Ragam Hias Batik.
Bandung: Kiblat.
Hitchcock, Michael. 1991. Indonesian Textilles. Barkeley: Periplus Edition.
Jayusman, M. Iyus. 1987. Lahir dan Perkembangan Koperasi Mitra Batik Tasikmalaya 1939-1965. Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah. Bandung: Fakultas Sastra, universitas Padjadjaran.
Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.
Kartodirdjo, Sartono dan A. Sudewo. 1993. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta: UGM Press.
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Ricklefs, M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan Dharmono Hardjowijono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Risna KFF, Ina. 2006. Perkembangan Industri Batik Tulis Garutan 1930-1998. Skripsi Jurusan Ilmu
Sejarah. Bandung: Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.
Tirtaatmadja, N. 1993. Batik: Pola dan Tjorak-Pattern dan Motif. Jakarta: Djambatan.
Veldhuisen, Harmen C. 1993. Batik Belanda 1840-1940; Dutch Influence In Batik From Java History and Stories. Jakarta: Gaya Favorit Press.
Veth, P.J. 1878. Java: Geographisch, Etnologisch, Historisch. Haarlem.

Entries (RSS)