Ajip Rosidi, “Memajukan Kebudayaan Sunda Bukan Provinsialistis”

Laporan oleh: Malikkul Shaleh

[Unpad.ac.id, 31/01/2011] Memajukan Indonesia mempunyai arti memajukan orang Sunda dan Tatar Sunda, baik sosial ekonominya maupun budayanya. Begitu juga memajukan sosial ekonomi orang Sunda dan Tatar Sunda mempunyai arti memajukan Indonesia. Karena itu jangan ada keraguan dalam memajukan kehidupan sosial ekonomi dan budaya Sunda sebab artinya sama dengan memajukan bangsa dan negara Indonesia. Memajukan kebudayaan Sunda bukan provinsialistis, melainkan memperkaya budaya nasional.


Ajip Rosidi saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Unpad (Foto: Dadan T.)*

Begitu yang diungkapkan Ajip Rosidi saat membacakan orasi ilmiahnya berjudul “Urang Sunda Di Lingkungan Indonesia” pada Sidang Senat Universitas Padjadjaran berkaitan dengan penganugerahan derajat Doktor Honoris Causa kepada dirinya di Grha Sanusi Hardjadinata (Aula Unpad) Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Senin (31/01). Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, yang juga merupakan salah satu tim promotor Ajip Rosidi, membuka Sidang Senat yang hadiri oleh ratusan undangan tersebut.

Sepanjang paparannya, Ajip mengungkapkan tentang eksistensi dan prestasi orang Sunda dari masa ke masa dalam mengisi sejarah panjang Bangsa Indonesia. Dirinya mengatakan bahwa di gelanggang nasional Indonesia, jarang sekali ada orang Sunda yang tampil. Tidak seimbang dengan jumlah orang Sunda yang nomor dua di antara suku-suku bangsa yang membentuk Indonesia.

“Sangkan urang terang naon sababna urang Sunda jiga anu henteu dianggap di lingkungan tingkat nasional, perelu urang ngalieuk ka tukang maruluh kumaha saenyana peranan jeung sumbangan urang Sunda dina perjoangan ngadegkeun, ngabela, jeung ngaraksa-ngariksa bari ngeusian kemerdekaan bangsa Indonesia. Naha perananana teh aya 20% atawa henteu? (Agar kita tahu mengapa orang Sunda seakan-akan tidak dihargai dalam lingkungan nasional, perlu kita melihat ke belakang, meneliti bagaimana sebenarnya peranan dan sumbangan orang Sunda dalam perjuangan mendirikan, membela dan memelihara kemerdekaan bangsa Indonesia. Apakah peranannya ada 20% atau tidak?),” tutur Ajip.

Ajip menjelaskan tentu tidak ada orang Sunda yang merasa puas dengan keadaan orang Sunda di lingkungan Indonesia seperti yang dijelaskannya. Ajip berharap mudah-mudahan hal yang diutarakannya para orasinya itu bisa menggambarkan bahwa memang seperti itu keadaannya. Peranan orang Sunda terhadap bangsa Indonesia tidak sebanding. Namun dirinya mengajak dan memotivasi orang Sunda untuk bisa menambah perannya.

“Urang Sunda kudu leuwih wani bersaing di lingkungan jeung tingkat nasional. Usaha pikeun ngalengkepan urang Sunda ku paparabotan sankan bisa bersaing di panggung nasional, jadi kawajiban urang sarerea (Orang Sunda harus lebih berani bersaing di lingkungan dan tingkat nasional. Usaha untuk melengkapi orang Sunda dengan alat-alat yang diperlukan agar bisa bersaing dipanggung nasional dan internasional, menjadi kewajiban kita semua),” ungkapnya.

Budayawan Sunda, Wahyu Wibisana, juga angkat bicara perihal orasi Ajip Rosidi tentang orang Sunda. Wahyu sependapat dengan apa yang diutarakan oleh Ajip, dan berpesan untuk orang Sunda menjadikan ungkapan Ajip sebagai motivasi dan contoh.

“Saya sependapat dengan Ajip. Jadi orang yang bisa itu mungkin banyak, tapi orang yang mau itu jarang kita temui. Ajip adalah salah satu orang yang bisa dan mau,” kata Wahyu.

Salah satu aktor senior dan penggiat seni, Slamet Rahardjo, berkomentar bahwa yang diutarakan oleh Ajip merupakan tanda kematangan dirinya ketika dia bisa melihat kekuatan dan kelemahan sebagai sebuah hikmah yang bisa kita semua ambil.

“Bahwa mempertanyakan dimanakah kau Sunda dan dimanakah kalian mojang dan pemuda priangan, mempertanyakan ada atau tiada itu menurut saya menyakitkan sekali. Tapi itu lah kehebatan Ajip Rosidi bisa mengajak kita melihat ke dalam dan lebih jauh, apakah Sunda masih ada?” tuturnya pria yang menyebut dirinya sebagai mazhab-nya Ajip Rosidi itu. (eh)*