Inflamasi akut

Abses gingival. Abses pada gingival biasanya terlokalisasi, menimbulkan rasa sakit, dan bisa menyebar. Biasanya terjadi pembengkakan pada daerah marginal gusi dan papilla interdental. Pada fase ini terlihat bengkak berwarna merah dengan permukaan halus dan mengkilat. Rentang waktu 24 – 48 jam, lesi biasanya menjadi tidak menentu dengan adanya eksudat purulenta. Biasanya menimbulkan rasa sensitif saat dilakukan tes perkusi pada gigi. Abses gingival berisi pululenta pada jaringan penghubung, dikelilingi infiltrate difuse dari polimorponukleat leukosit, oedema pada jaringan, dan pembesaran vascular.

Inflamasi akut pada gingiva dihasilkan oleh bakteri yang masuk karena luka oleh substansi dari luar yang melukai gingival.

Infeksi gingival akut

Infeksi gingival akut dibagi menjadi :

Necrotizing ulcerative gingivitis

Necrotizing ulcerative gingivitis adalah penyakit destruktif inflamasi pada gingival.

NUG dapat menyebabkan destruksi pada struktur jaringan pendukung. Karakter pada mulut terdapat lesi crater-like pada permukaan papilla interdental dan dapat juga meluas kea rah marginal gingival, tapi jarang menyerang attach gingival dan oral mucosa lainnya. Permukaan crater gingival ditutupi dengan pseudomembran berwarna abu-abu. Pada permukaan lesi terdapat erithem yang berwarna merah mengkilat dan hemoragia.

Oral Symptoms

Lesi sangat sensitive terhadap perabaan, pasien biasanya merasakan rasa sakit ketika memakan makanan yang panas, pasien biasanya memiliki symptom lainnya yaitu lymphadenophaty local dan perubahan temperature tubuh.

Clinical Course

NUG jika tidak ditangani akan meningkat menjadi NUP. Pindborg dkk menggambarkan fase-fase perkembangan NUG :

  1. Lesi hanya terdapat pada papilla interdental
  2. Lesi menyebar hingga marginal gingival dan menimbulkan tonjolan papilla
  3. Menginfeksi attach gingival
  4. Mengenai tulang

Menurut Horning dan Cohenn terdapat beberapa tahap NUG:

  1. Nekrotik pada papilla interdental
  2. Nekrotik pada semua papilla
  3. Nekrotik yang meluas hingga attached gingival
  4. Nekrotik meluas kea rah mukosa labial dan buccal
  5. Nekrotik meluas hingga tulang alveolar
  6. Nekrotik menimbulkan perforasi pada kulit pipi (noma)

Secara mikroskopik, permukaan epithelium dirusak dan digantikan oleh jalinan fibrin, necrotic epithelial cells, PMNs, dan macam-macam mikroorganisme lainnya. Zona ini muncul secara klinis seperti permukaan pseudomembran. Pada sekeliling nekrotik pseudomembran epitel tampak edematous dan sel-sel nya berdegenerasi serta terdapat infiltrasi PMN antar ruang sel. Di bawah jaringan penghubung terlihat hiperemi dengan banyaknya pelebaran kapiler serta infiltrasi PMNs. Banyak plasma sel yang muncul pada lesi akut.

Relasi Bakteri Terhadap Lesi

Pada penglihatan mikroskop cahaya, terdapat eksudat dari lesi ANUG yang mengandung mikroorganisme berbentuk kokus, fusiform basil, spirochaetes. List Garten menggambarkan terdapat empat zona pada lesi:

  1. Zona bakteri pada permukaan lesi mengandung banyak bakteri termasuk beberapa spirochaeta
  2. Zona kaya neutrofil mengandung banyak leukosit juga neutrofil dan bakteri termasuk juga variasi spirochaetes
  3. Zona nekrosis terdiri dari disintegrasi jaringan sel, materi fibrin, dan kolagen, serta beberapa organism spirochaetes
  4. Zona infiltrasi spirochaetes

 

Primary herpetic gingivostomatitis

Primary herpetic gingivostomatitis adalah infeksi pada rongga mulut yang disebabkan oleh virus simplex tipe I. biasanya terjadi pada anak-anak. Virus ini menyerang saraf sensori dan autonom.

Tanda-tanda pada mulut penderita PHG ini adalah terlihat lesi diffuse, eritematous, mengkilat pada gingival yang berdekatan. Pada fase awal, terlihat vesikel abu-abu pada permukaan mukosa labial dan bukal, palatum lunak, pharynx, sublingual mucosa, serta lidah. Setelah 24 jam, vesikel akan rusak dan menimbulkan rasa sakit, ulser kecil berwarna merah, dan pada permukaan tengahnya berwarna kekuning-kuningan atau abu keputihan.

Virus herpes ini menyerang epitel, sehingga menimbulkan “ballooning degeneration” yang berisi Tzanck cell yang berfungsi sebagai nuclear clearing dan nuclear enlargement.

Primary herpetic gingivostomatitis harus dapat dibedakan dengan beberapa kondisi ini :

Erithema multiforme, dapat dibedakan karena vesikel pada erithema multiforme secara umum lebih luas dibandingkan PHG.

Pericoronitis

Perikoronitis adalah inflamasi pada gingival yang berhubungan dengan mahkota yang belum selesai erupsi. Biasanya terjadi pada gigi molar ke 3. Ruangan antara mahkota gigi dan flap gingival yang sangat tinggi merupakan area yang ideal sebagai tempat terkumpulnya debris makanan dan tempat hidup bakteri. Pada pasien tanpa adanya tanda dan gejala klinis, flap gingival sering terjadi inflamasi. Akut perikoronitis diidentifikasi dengan tingkat yang bervariasi dari keterlibatkan flap perikoronal dan struktur sekitarnya, sebagaimana komplikasi sistemik.

Pada gambaran klinik ditandai dengan eritem, inflamasi, lesi yang bernanah halus, dengan rasa sakit menyebar ke telinga, tenggorokan, dan dasar mulut. Pasien biasanya merasa tidak nyaman karena sakit, adanya halitosis, dan bila terjadi penyabaran inflamasi, maka akan mengganggu daerah oropharyngeal dan menyebabkan sulit menelan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Newman, MG., Takei, HH., Klollevold, PR., Carranza, FA. (2006) : Carranza’s Clinical Periodontology, 10th. Ed. Saunders-Elsevier : St. Louis pp : 344-538.