Body and Beauty Images in Joyce Carol Oates’ Novels

Body and Beauty Images in Joyce Carol Oates’ Novels

Dalam uraian ini, saya ingin mendiskusikan isu ini untuk menjadi usulan skripsi dengan judul Body and Beauty Image in Joyce Carol Oates’ Novels. saya menemukan isu mengenai tubuh dan kecantikan dalam dua novel karya Joyce Carol Oates, Big Mouth & Ugly Girl and Freaky Green Eyes. Masalah – masalah yang saya temukan adalah bagaimana para karakter utama dalam novel-novel ini menggambarkan tubuhnya, apakah tubuh mereka memiliki andil dalam kehidupan mereka, dan apa yang mereka rasakan mengenai tubuh mereka. Setelah menyebutkan apa saja masalahnya, saya akan menunjukan beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dan dapat membantu saya dalam permasalahan yang saya temukan.
Penelitian yang pertama adalah sebuah skripsi dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran tahun 2011 dengan judul Konstruksi Tubuh & Tehnik Espitolari Tiga Novel Gotik Abad ke-19 oleh Yolanda Priska Sari. Dalam skripsi ini, Sari menganalisis mengenai konstruksi tubuh (tubuh grotesk) dalam tiga novel gotik. Skripsi ini mendiskusikan tubuh yang dianggap sebagai tubuh abnormal, contohnya tubuh Frankenstein. Topik tubuh dalam skripsi ini adalah konsep mengenai bagaimana sosial memandang tubuh normal dan abnormal dan bagaimana masyarakat juga si karakter menerima tubuh mereka. Permasalahan penerimaan tubuh mereka terjadi karena adanya pemikiran masyarakat mengenai bentuk tubuh normal yang diajekkan.
Dalam skripsinya, Sari menyebutkan bahwa ;
“Penggambaran tubuh normal disini merupakan penggambaran tubuh manusia pada umumnya yang sempurna, mempunyai anggota badan yang lengkap dan tinggi yang masih dalam batas normal. Penggambaran tubuh grotesk merupakan penggambaran tubuh tidak normal, seperti adanya kecacatan dalam tubuh tersebut.” (Sari, 2011).

Dari penjelesannya mengenai tubuh grotesk dapat dilihat bahwa karakter utama novel Big Mouth & Ugly Girl, Ursula Riggs juga memiliki tubuh grotesk. Ursula memiliki tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan tubuh remaja perempuan, laki – laki, bahkan beberpa gurunya.
“I’d grown taller than my mom by the time I was thirteen, and I really liked that. …….. It felt good, too, to be almost as tall as my dad (who was six feet three, weighed over two hundred pounds), so he’d have to treat me more like an equal than just a child. …….. Most of all it felt good to be as tall as, in some cases taller than my teachers. Not one of the Rocky River female teachers was Ugly Girl’s height, and I always made sure I stood straight, like a West Point cadet, when I spoke with them.” (Oates, 2002).

Dalam kutipan tersebut, Ursula juga menyebutkan bahwa dia menyukai tubuhnya yang lebih tinggi dari orang lain. Saya melihat Ursula mengambil kesenangan dan keuntungan dari tubuh grotesknya untuk menjadi lebih unggul dibanding yang lain. Akan tetapi, saya akan diskusikan isu ini pada paragraf lain. Karakter utama berikutnya, dalam novel Freaky Green Eyes, Franky, juga menunjukan penggambaran tubuh yang dilihat sebagai tubuh grotesk. Menurut, beberapa orang Franky memiliki mata berwarna hijau terang yang mengerikan.
Sari juga mengutip tulisan Power of Horror karya Kristeva bahwa tubuh yang tidak sesuai menurut persetujuan masyarakat akan dianggap sebagai perusak bagi persetujuan tersebut. Contohnya, beberapa orang dalam kehidupan Ursula merasa terganggu akan tinggi tubuhnya. Ini terlihat saat neneknya berkunjung dan bertanya pada Ursula, “Ursula, dear, when are you going to stop growing?” (Oates, 2002). Hal ini menunjukan bahwa tinggi Ursula memang menggangu Nenek Riggs karena ‘remaja perempuan’ seumur Ursula tidak seharusnya memiliki tubuh yang sedemikian tinggi. Dan lagi, tinggi tubuh Ursula telah mengganggu orang – orang konstruksi sosial mengenai tubuh perempuan yang seharusnya lebih pendek daripada laki-laki. Ursula tahu akan hal itu dan dia pun berpikir bahwa tubuhnya memang tidak normal. Contohnya, Ursula adalah seorang perenang saat dia di sekolah menengah, tapi Ursula merasa bahwa dirinya tidak cocok berada di ‘sistem’ karena tubuhnya tidak memiliki bentuk tubuh ideal remaja perempuan seperti teman – teman seusianya saat memakai pakaian renang. Pada saat itu, Ursula menyadari bahwa tubuhnya tidak sesuai dengan konstruksi masyarakat akan tubuh ideal. Ursula berhenti menjadi perenang dan beralih menjadi atlet bola basket yang dia rasa sesuai untuk ukuran tubuhnya. Memiliki tubuh yang tidak normal, Ursula memanggil dirinya sebagai Ugly Girl yang selalu ditulis dengan huruf capital untuk B dan G. Situasi ini juga dijabarkan oleh Sari sebagai pengakuan diri sebagaimana orang melihatnya,“Jika tubuhnya dipandang menjijikan maka citra dirinya pun akan mengikuti seiring citra tubuh.” (Sari, 2011).
Ursula mengakui bahwa dirinya berbeda dengan menyebut dirinya sendiri sebagai Ugly Girl meskipun tidak ada seorang pun yang pernah memanggilnya seperti itu. Teman – teman sekolahnya memanggilnya dengan sebutan Big Girl atau Big Ursula tetapi, mereka memang menganggapnya sebagai perempuan aneh, “Wow! Big Ursula”….. “Ursula Riggs! She’s weird”…… “No normal guy would be attracted to Big Ursula” (Oates, 2002). Akan tetapi, saya melihat alasan mengapa orang – orang menganggap Ursula aneh karena Ursula bersikap tidak acuh. Ursula merasa dirinya tidak membutuhkan teman, oleh karena itu dia tidak bersosialisasi dengan baik dan selalu memberikan kesan bahwa ia tidak butuh siapapun. Tentu saja, orang – orang akan menghindarinya.
Sebaliknya, gambaran tubuh bagi Franky sedikit berbeda. Dia menyebut sisi lain darinya dengan sebutan Freaky Green Eyes, nama itu muncul saat Franky hampir diperkosa oleh Cameron, “He’s staring at me saying, ‘You f-freak! You should see your eyes! Freaky Green Eyes! You’re crazy!’” (Oates, 2003). Setelah kejadian itu, Freaky Green Eyes menjadi bagian lain dari hidupnya. Franky merasa berhutang budi pada Freaky tetapi, dia juga memiliki keinginan untuk menghapus Freaky dari hidupnya.
“FREAKY GREEN EYES came to me. FREAKY GREEN EYES saved my life.”……. “In the bathroom mirror Freaky Green Eyes glares at me. I feel a crazy urge to claw at those eyes.” (Oates, 2003).

Ursula menerima Ugly Girl sebagai bagian dari dirinya tanpa ada keinginan untuk menahannya untuk muncul karena kesengangan dan keuntungan yang Ursula dapatkan saat ia menggunakan Ugly Girl, sedangkan Franky selalu berusaha keras untuk menahan Freaky. Saya melihat alasan Franky tidak bisa menerima Freaky atau keadaan tubuhnya karena Freaky Green Eyes muncul bukan dari gambaran konstruksi sosial mengenai warna mata atau tubuh yang ideal. Freaky muncul karena adanya perlawanan dari Franky terhadap Cameron. Dalam alur cerita novel ini, hanya ada dua orang yang memanggil dirinya Freaky Green Eyes yaitu Cameron dan Franky sendiri. Jadi, saya percaya disaat Freaky Green Eyes muncul dan menyelamatkan Franky, dia belum siap untuk menerima dan mengakui Freaky sebagai bagian dari dirinya.
Penelitian selanjutnya tesis dengan judul Young Women’s Voices on Body Image: The Beauty Myth oleh Nadine P. Johnson dari Universitas Dalhousie. Tesis ini merupakan penelitian yang dilakukan oleh penulis untuk mendapatkan gelar master dalam ilmu keperawatan. Tetapi, saya menemukan tesis ini dapat saya gunakan karena penelitian ini menggunakan teori literatur mengenai penggambaran tubuh dan kecantikan dan mendiskusikan tentang self-critique yang saya temukan dalam kedua novel. Johnson menjelaskan bahwa,
“There are four themes or patterns identified, within the domain of the self-critique process. The four themes are comparing, valuing, desiring and striving.” (Johnson, 1994).

Namun, saya melihat bahwa langkah – langkah proses self-critique yang terjadi sedikit berbeda. Langkah – langkahnya adalah comparing, valuing, desiring, and accepting.
Johnson menyebutkan bahwa langkah pertama adalah comparing (membandingkan),
“The first step was comparing was intertwined with what they perceived that others thought of them. This formed what they thought of themselves…”(Johnson, 1994).

Penilaian terhadap tubuh Ursula dan Franky membuat mereka melihat apa yang orang – orang dan konstruksi sosial pikirkan. Pada awalnya, mereka berdua tidak menyadari bahwa tubuh mereka berbeda sampai seseorang mengatakannya. Setelah itu, mereka mulai membandingkan tubuh mereka dengan tubuh orang lain dan menemukan apa yang berbeda dengan tubuh mereka, bahwa mereka tidak memiliki bentuk tubuh yang ideal bagi seorang remaja perempuan,
“Through comparison, the participants developed a vision, an idealized image and a belief about how they should have looked.” (Johnson, 1994).

Langkah kedua adalah valuing (menghargai). Melalui valuing mereka mencari pengakuan dari orang lain untuk membuktikan bahwa mereka berguna untuk masyarakat. Dalam langkah ini, mereka membutuhkan apresiasi dari orang lain. Ursula dan Franky menunjukan bahwa mereka ingin dikagumi dan diakui atas sesuatu. Menurut saya, alasan mereka adalah karena mereka merasa memiliki kekurangan, mereka berharap dapat menutupi kekurangan tersebut. Akan tetapi, apabila mereka gagal, itu akan membuat mereka depresi dan kecewa. Situasi ini terjadi saat Ursula kalah dalam kompetisi basket dan saat Franky membantah perkataan ayahnya. Saya melihat bahwa Ursula dan Franky terkadang masih merasakan kebingungan mengenai diri mereka sendiri, dan mereka berdua menggambarkan diri mereka seperti apa yang orang lain gambarkan seperti yang Johnson katakan apabila orang – orang terutama perempuan menemukan jati diri mereka melalui penilaian orang lain. Inilah alasannya mengapa mereka berdua percaya apa yang orang lain pikirkan mengenai tubuh mereka adalah mereka yang sesungguhnya.
Langkah ketiga dan keempat adalah desiring (mengagumi) dan striving (bekerja keras). Saya memperhatikan bahwa kedua novel ini memiliki langkah akhir yang berbeda. Johnson berpendapat bahwa Desiring dan striving terjadi saat seseorang ingin mengubah bentuk tubuh mereka menjadi bentuk ideal yang dapat mengakibatkan makan yang tidak teratur, anoreksia dan penyakit lainnya yang berasal dari proses diet. Akan tetapi, dalam teks kedua karakter ini tidak melakukan diet ataupun usaha untuk mengubah bentuk tubuh mereka menjadi bentuk yang mereka kagumi. Tubuh yang Ursula kagumi adalah adik perempuannya,
“My kid sister’s eyes were so beautiful, warm and dark and fine-lashed like a doll’s eyes, that sometimes it was hard for Ugly Girl to be jealous of her.”(Oates, 2002).

Begitu juga dengan Franky, “She was a dreamy ten-year-old with a sweet, shy disposition and beautiful dark eyes no one would ever call freaky.”(Oates, 2003). Menurut saya, langkah terakhir yang terjadi dalam teks adalah accepting (menerima). Mereka belajar untuk menerima tubuh mereka dan menggunakannya untuk mendapatkan sesuatu yang mereka sadari tidak dapat didapatkan oleh tubuh ‘normal’. Tubuh mereka yang dianggap merusak sistem membuat mereka dapat berbuat sesuatu diluar sistem. Contohnya, saat perempuan lainnya tidak bisa berhadapan dengan laki – laki karena bentuk tubuh mereka yang normal membuat mereka harus ‘tunduk’, Ursula tidak harus mengalami hal itu dan itu memberikannya kesenangan tersendiri. Selain itu, saat Franky menerima Freaky, Franky dapat keluar dari tekanan ayahnya dan dapat mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Johnson juga berpendapat bahwa,
“Young women realize that beauty lends them limited power although beauty and youth provide only temporary acceptance and attention. The Cult of beauty is a survival strategy that allows women to maneuver safely around rather than threaten men’s privilege and power.” (Johnson, 1994).

Namun, kondisi ini tidak terjadi ada Ursula. Dia memilih untuk membuat tubuhnya lebih tinggi dan tegap untuk mengancam hak istimewa dan kekuatan laki – laki. Menurut saya, Ursula sadar apabila dia berusaha untuk membentuk tubuhnya menjadi apa yang konstruksi masyarakat inginkan, dia harus mengakui kekuasaan laki – laki.
Penelitian yang terakhir sebuah disertasi dalam ranah kajian feminis dari Universitas California dengan judul Girl Avengers: Revising Feminist Approaches to Sexuality, Violence, and Power in Representation oleh Katie M. Kanagawa. Penelitian yang terakhir adalah disertasi yang menganalisis tentang perilaku kekerasan seorang remaja perempuan terhadap orang yang mengopresi mereka. Disertasi ini mengidentifikasi bahwa perilaku ini muncul karena adanya opresi terhadap mereka. Perlawanan ini pun terjadi di dalam teks. Ursula dan Franky melawan dan mengintimidasi orang – orang yang menekan mereka, dan mereka juga memperoleh kesenangan dan kekuasaan dari kecemasan orang lain.
Kanagawa menjelaskan bahwa mereka sengaja membentuk kuasa dan kepercayaan diri mereka untuk memperoleh perilaku itu, terutama Ursula.
“These narratives’ textual ambivalence and their feminist potential by exploring the dialectical processes of female sexual victimization and empowerment that they consistently produce.” (Kanagawa, 2009).

Dia terus membentuk tubuhnya menjadi lebih kuat. Menurut pendapat Kanagawa, Ursula melakukan hal itu untuk mempertahankan bentuk tubuhnya (bentuk tubuh yang tidak seperti perempuan) dengan maksud untuk mempertahankan posisinya sebagai seorang girl avenger. Akan tetapi perilaku ini tidak akan terjadi apabila tidak adanya tekanan yang datang dari lawan karakter. Contohnya, ketika Ursula sedang bersama Matt atau ketika orang tuanya tidak mengganggu Ursula, dia tidak menjadi Ugly Girl. Ini seakan – akan menjadikan Ugly Girl hanyalah sebuah baju special yang hanya bisa dikenakan pada saat yang tepat, Ursula tidak akan mengenakan ‘bajunya’ apabila ia tidak merasa perlu.
“It was strange about Ugly Girl. She was like a uniform, or a skin, I could slip into, but she wasn’t right for all occasion.”(Oates, 2002).

Hal ini berbeda bagi Franky, dia tidak terus – menerus menggunakan Freaky. Menurut saya hal ini dikarenakan Freaky muncul akibat peristiwa pemerkosaan yang hampir Franky alami. Dalam kasus ini, penolakan yang dilakukan oleh Franky mengejutkan Cameron. Cameron yang mendapatkan penolakan melontarkan umpatan. Saya tidak yakin apakan mata Franky benar – benar mengganggu Cameron atau umpatan itu dia lontarkan hanya karena penolakan yang terjadi. Dengan demikian, saya mengerti mengapa Franky tidak dapat menggunakan Freaky sebagai baju seperti Ursula karena Freaky hanyalah mata hijau yang berwujudkan suara di dalam kepala Franky. Franky selalu mendengar apa yang Freaky katakan, dia tidak bisa melepas atau menghilangkan suara itu. Pilihannya hanya ada dua, memilih untuk mendengarkan Freaky atau tidak.
Kanagawa menjabarkan bahwa,
“Girl avenger narratives feature adolescent girl subjects who engage in acts of violence to avenge their own (or other girls’ or women’s) sexual subjugation….. Rather than reiterating the paradigm of woman-as-agent versus woman-as-victim, these narratives posit dialectical relations between experiences of resistance and domination….. Girl avenger narratives posit domination as a key context for resistance, closing the distance between seemingly contradictory experiences.” (Kanagawa, 2009).

Kanagawa membantu saya untuk mengerti mengapa kedua karakter utama tersebut melakukan perlawanan untuk mencapai tujuan mereka. Hal ini dikarenakan mereka telah mengalami perlawanan dari dominasi orang lain yang telah menekan keinginan dan kebebasan mereka.
Kesimpulan yang saya dapatkan setelah menjelaskan keempat penelitian terdahulu ini adalah teks ini menyajikan kedua karakter yang memiliki tubuh grotesk. Tubuh mereka telah dikonstrusikan oleh orang – orang/budaya dan lingkungan mereka untuk dikelompokan sebagai tubuh abnormal, dan mereka percaya seperti itulah tubuh mereka. Kedua teks novel telah menunjukan bahwa para karakter telah melalui beberapa proses untuk akhirnya menerima tubuh mereka, membandingkan dengan tubuh lain, menghargai tubuh mereka sendiri dengan cara mendapatkan pengakuan dari orang lain, mendambakan tubuh ideal dalam benak mereka, dan ahirnya menerima bentuk tubuh mereka apa adanya. Dengan menerima tubuh grotesk mereka, itu membuat mereka dapat keluar dari konstruksi patriarki. Mereka dapat melawan, mendominasi dan melakukan perilaku menantang yang tidak dapat dilakukan oleh karakter lain. Isu, permasalahan, dan permbahasan dari penelitian saya ini mengenai body and beauty images dalam novel – novel ini, saya harap dapat mendukung dan meperkaya penelitian mengenai isu yang sama.
Work Cited
Johnson, N. P. (1994). Young Women’s Voices On Body Image: The Beauty Myth. Dalhousie University, Nova Scotia.
Kanagawa, K. M. (2009). Girl Avengers: Revising Feminist Approaches to Sexuality, Violence, and Power in Representation. University of California, Santa Cruz.
Oates, J. C. (2002). Big Mouth & Ugly Girl. New York: HarperCollins.
Oates, J. C. (2003). Freaky Green Eyes. New York: HarperCollins.
Sari, Y. P. (2011). Konstruksi Tubuh & Tehnik Epistolari dalam Tiga Novel Gotik Abad ke-19. Universitas Padjadjaran.

Leave a Reply