Kecantikan sebagai Eksistensi Diri dalam ‘The Mirror’ Karya Catulle Mendès

Pendahuluan

The Mirror (1910) karya Catulle Mendès diterjemahkan dari karya aslinya berjudul Le Miroir  pada tahun 1888. Cerita ini menyajikan penggambaran mitos kecantikan bagi kaum perempuan sebagai bentuk dari eksistensi mereka dalam kehidupan bermasyarakat. The Mirror (1910) diceritakan melalui narator sudut pandang orang ketiga serba tahu yang tidak terfokus pada karakter manapun. Dengan kata lain, narator dalam cerita tidak berpihak ataupun mewakili sudut pandang manapun yaitu hanya bertugas sebagai pendongeng jalannya cerita. Eksistensi diri perempuan dalam cerita ini disajikan melalui benda-benda yang memunculkan sebuah refleksi. Dalam penggambaran eksistensi tersebut, kecantikan menjadi sebuah tolak ukur bagi para tokoh perempuan untuk mendapatkan pengakuan dan menjadi eksis.

Dalam The Mirror (1910), tokoh perempuan digambarkan sangat mementingkan penampilan sebagai bukti dari eksistensi mereka dalam masyarakat. Dalam cerita, kecantikan ditampilkan melalui penilaian dalam sudut pandang laki-laki, tidak hanya melalui pandangan mereka tetapi juga melalui benda-benda yang menampilkan refleksi. Dengan demikian, hipotesa penulis adalah cerita ini menyajikan kecantikan perempuan sebagai bukti eksistensi mereka. Kecantikan menjadi hal yang penting untuk membuktikan mereka ada yang kemudian menuntun penulis pada makna simbolik dari benda-benda yang merepresentasikan bayangan refleksi. Oleh karena itu, dalam bab analisis, penulis akan melihat bagaimana kecantikan perempuan dikonstruksi dalam cerita ini. Kemudian, bagaimana penggambaran kecantikan menjadi hal yang penting bagi eksistensi tokoh perempuan melalui benda-benda yang merepresentasi refleksi bayangan. Dalam menganalisis data ini, penulis menggunakan konsep gender dan kecantikan Wolf (2002), konsep eksistensialime Sartrè (1966), dan konsep semiotik milik Johansen (2005).

 

Sinopsis

The Mirror (1910) bercerita mengenai kisah di sebuah kerajaan dengan seorang ratu yang digambarkan tidak menawan. Sebab, digambarkan tidak menawan, dan tidak ingin ada perempuan lain yang menganggap dirinya lebih cantik daripada dirinya, ratu memerintahkan untuk menghancurkan semua kaca yang ada. Begitu juga dengan semua hal-hal yang bisa memunculkan bayangan. Seorang gadis bernama Jacinta yang begitu cantik oleh penilaian seorang laki-laki, calon suaminya, Valentin. Kabar mengenai Jacinta yang bahagia dan segera akan dipersunting karena kecantikannya sampai pada ratu. Dalam sekejap kecantikan Jacinta berubah menjadi kejelekannya karena pendapat dari seorang nenek tua yang berpendapat bahwa Jacinta adalah mahluk paling jelek yang pernah ia temui. Mendengar pendapat tersebut, kebahagian Jacinta lenyap begitu saja dan menolak untuk menikah dengan Valentin karena menganggap bahwa laki-laki itu berbohong atas kecantikannya. Valentin membawa Jacinta bertemu dengan ratu untuk meminta pertolongannya memperbolehkan Jacinta melihat dirinya dalam cermin. Ratu menolak permintaan Valentin dan meminta kedua orang tersebut dieksekusi mati. Namun, ketika aljogo mengangkat senjatanya, kampak aljogo menampilkan refleksi wajah Jacinta dan ratu. Keduanya menjerit, Jacinta menjerit karena kecantikannya sedangkan ratu menjerit karena kejelekannya.

 

Analisis

Konstruksi kecantikan dalam The Mirror

Dalam The Mirror (1910), saya melihat adanya isu mengenai kecantikan bagi para tokoh perempuan. Kecantikan dalam cerpen ini digambarkan begitu penting bagi para tokoh perempuan. Dan kemudian, penulis anggap penggambaran kecantikan tersebut sebagai bentuk dari eksistensi diri. Para tokoh perempuan menganggap kecantikan sebagai hal yang penting untuk dapat mendefinisikan dirinya sebagai perempuan. Penggambaran kecantikan dalam cerpen ini juga dilihat sebagai konstruksi tentang bentuk fisik perempuan. Perempuan diharuskan berparas cantik untuk dapat menarik perhatian dan sebagai pembuktian eksistensi diri. Melalui sudut pandang antropologi, Wolf (2002) melihat bahwa cantik menjadi hal yang wajib dimiliki oleh perempuan agar dapat dipilih oleh laki-laki. Begitu juga dalam cerita ini, kecantikan pada tokoh perempuan merupakan suatu hal yang penting. Kecantikan dianggap sebagai standar kondisi seorang perempuan. Hal itu terlihat pada kedua tokoh perempuan dalam cerita, ratu dan Jacinta. Keduanya menjunjung ide mengenai kecantikan pada perempuan.

Meskipun begitu, karena kondisi penampilan mereka digambarkan berbeda, tanggapan atas ide tersebut berbeda pula. Ratu yang digambarkan memiliki paras yang jelek menanggapi penampilannya dengan rasa takut akan kecantikan. Menurut penulis, upaya ratu untuk menghancurkan seluruh kaca menunjukkan bahwa dirinya takut pada kondisi kecantikan yang tidak dia miliki dan pada orang yang memilikinya sebab bukan hanya kaca yang dihancurkan, tetapi juga setiap orang yang berusaha melihat diri dalam pantulan. Ratu dipaparkan tidak ingin ada perempuan yang merasa telah memenuhi kondisi kecantikan yang ideal. Oleh sebab itu, ratu mengeksekusi setiap perempuan yang mencoba untuk melihat refleksi wajah mereka. Penghancuran semua kaca juga dapat dilihat sebagai bentuk ketersiksaan ratu atas gambaran parasnya. Dirinya tidak ingin melihat refleksi parasnya sendiri, yang terlihat dalam narasi,

The queen was dreadfully ugly, and she did not wish to be exposed to the risk of meeting her own image; and, knowing herself to be hideous…” (Mendès. 1910:41).

Sedangkan, tanggapan mengenai kecantikan pada Jacinta digambarkan berbeda. Jacinta yang digambarkan memiliki paras yang cantik menunjukkan kegembiraan terhadap wajahnya. Namun, dalam teks paras ratu tidak dideskripsikan secara jelas hanya digambarkan bahwa dirinya memiliki wajah yang jelek. Penggambaran atas paras yang cantik hanya disajikan ada pada tokoh Jacinta. Akan tetapi, ada suatu ketika Jacinta digambarkan dengan paras yang jelek. Hal tersebut terlihat ketika dirinya bertemu dengan seorang perempuan tua. Pendapat perempuan tua itu membuat Jacinta merasa terpuruk. Pada kedua kondisi ratu dan Jacinta dapat dilihat bahwa kondisi kecantikan yang ditempelkan pada mereka sangat penting dan berpengaruh pada kondisi emosi dan perilaku kedua tokoh.

Kondisi kecantikan tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan dibentuk oleh pihak yang memegang andil dalam pembentukan konstruksi (Wofl, 2002). Kondisi kecantikan perempuan diatur oleh konstruksi masyarakat sebagai institusi yang memiliki hak untuk membentuk opini mengenai kecantikan perempuan, terutama kaum laki-laki. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Wolf (2002) bahwa kecantikan itu sendiri bukan terfokus pada kaum perempuan, melainkan menunjukkan kuatnya kuasa laki-laki sebagai institusi yang membentuknya. Oleh karena itu, seakan wajar apabila ada perempuan melakukan hal-hal yang dapat mempercantik diri demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Tidak hanya kecantikan dipuja-puja oleh kaum perempuan, tetapi juga oleh laki-laki. Dalam teks, kecantikan Jacinta digambarkan melalui sudut pandang laki-laki, Valentin.

Tell me the truth,’ she would say; ‘what is the color of my eyes?’

‘They are like dewy forget-me-nots.’

‘And my skin is not quite black?’

“You know that your forehead is whiter than freshly fallen snow, and your cheeks are like blush roses.’

‘How about my lips?’

‘Cherries are pale beside them.’

‘And my teeth if you please?’

‘Grains of rice are not as white.’

‘But my ears, should I be ashamed of them?’

‘Yes, if you should be ashamed of two little pink shells among your pretty curls.’ (Mendès. 1910: 41-42).

 

Menurut penulis, pemaparan pendapat Valentin di atas menjadi konstruksi atas kecantikan yang ideal dan Valentin merupakan representasi dari institusi masyarakat normatif yang membentuk kecantikan sebagai kondisi yang wajib dimiliki bagi perempuan. Dengan kata lain, teks ini menyajikan kecantikan yang diproduksi oleh pendapat laki-laki melalui mata laki-laki.

Sebagaimana kecantikan menjadi kondisi yang selalu diinginkan oleh perempuan, konstruksi atas kecantikan juga telah membuat laki-laki menginginkan perempuan dengan kecantikan ideal (Wolf, 2002). Dalam teks, kecantikan Jacinta menjadi tolak ukur akan konstruksi kecantikan ideal. Sebab, kecantikan ideal yang dimiliki Jacinta menjadi hal yang diinginkan oleh perempuan dan juga laki-laki dalam cerita. Valentin yang digambarkan terus memuji kecantikan Jacinta kemudian menjadi calon suami Jacinta. Kecantikan Jacinta yang digambarkan melalui sudut pandang Valentin telah menyebabkan Jacinta bergantung pada pujian-pujian atas kekaguman Valentin terhadap kecantikannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Valentin memiliki kuasa lebih dalam relasi antara dirinya dengan Jacinta dengan sudut pandangnya yang menggambarkan nilai kecantikan Jacinta, menjadikan Jacinta merasa bernilai dan diinginkan.

 

Kecantikan sebagai eksistensi diri

Selain mengkonstruksi kecantikan, penulis melihat bahwa cerpen ini juga melihat kecantikan sebagai eksistensi mereka sebagai perempuan. Sebagaimana menurut konsep eksistensialisme Sartre (1966) bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Dalam cerpen ini, ratu tidak eksis karena berdasarkan narasi, ratu digambarkan memiliki wajah yang buruk rupa. Sebab ratu tidak eksis sebagai perempuan yang menarik, dirinya tidak lagi dapat meraih esensinya sebagai perempuan yang memenuhi konstruksi atas kecantikan ideal. Oleh karena itu, sang ratu memerintahkan semua kaca dan benda-benda yang dapat memantulkan refleksi bayangan dihancurkan. Hal tersebut dapat dilihat sebagai esensi yang didapatkan ratu berdasarkan makna eksistensinya sebagai perempuan dengan paras jelek. Eksistensi ratu sebagai perempuan dianggap tidak memenuhi esensi sebagai perempuan yang cantik, sehingga dirinya menghilangkan semua kemungkinan perempuan lain untuk mendapatkan esensi diri yang berupa kecantikan.

The queen was dreadfully ugly, and she did not wish to be exposed to the risk of meeting her own image; and, knowing herself to be hideous, it was a consolation to know that other women at least could not see that they were pretty. (Mendès. 1910: 41)

 

Pemaparan pada narasi di atas bukan hanya menunjukkan bahwa ratu dengan sengaja menghancurkan kesempatan untuk perempuan lain mendapatkan esensi dari eksistensi diri mereka, tetapi juga karena tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ratu tidak memiliki makna dari eksistensinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa peraturan ratu untuk menghancurkan cermin yang dapat menampilkan bayangan dapat dilihat sebagai penolakan ratu terhadap pemaknaan kecantikan yang tidak dimilikinya. Kuasa ratu juga dapat dilihat sebagai pengganti atas hilangnya kesempatan bagi ratu untuk mendapatkan eksistensi dari parasnya.

Kuasa ratu sebagai pemimpin kerajaan memberikan dirinya hak dan tanggung jawab untuk mengatur semua makna eksistensi para tokoh perempuan lain. Seperti pemaparan Sartrè (1966) bahwa seorang manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan juga kepada seluruh manusia. Dalam teks ini, ratu dipaparkan bertanggung jawab terhadap dirinya dan juga orang lain karena peraturan yang dibuatnya. Dirinya bertanggung jawab atas penghilangan makna eksistensi orang lain yang dapat diraih melalui pantulan bayangan. Penghilangan makna eksistensi tersebut terepresentasikan dengan penghancuran kaca dan benda-benda yang dapat merefleksikan bayangan. Refleksi bayangan dipaparkan dapat memberikan kepuasan tersendiri untuk menilai dan mengagumi keberadaan diri dalam dunia. Dalam teks, pantulan diri disajikan sebagai bukti untuk melihat eksistensi diri, seperti hal cerita Narkisos yang berasal dari mitos Yunani yang kemudian disebut sebagai sifat narsisme. Seperti halnya Narkisos yang dapat mengagumi parasnya melalui pantulan dirinya, penghilangan media untuk melihat pantulan diri dalam teks menggambarkan perempuan di wilayah kerajaan tidak puas karena tidak dapat melihat bukti eksistensi mereka dengan mengagumi diri mereka sendiri,

You may imagine that the young girls of the country were not at all satisfied. What was the use of being beautiful if you could not admire yourself” (Mendès. 1910: 41).

Narasi tersebut menunjukkan bahwa pantulan dianggap sebagai media yang dapat memberikan bukti eksistensi perempuan yang diwakili oleh kecantikan.

Sang ratu memang tidak mendapatkan makna kecantikan sebagai bukti atas eksistensinya sebagai perempuan, akan tetapi ia berhasil mendapatkan eksistensinya dengan kekuasaannya sebagai seorang ratu. Sedangkan, Jacinta yang digambarkan sebagai satu-satunya perempuan yang memiliki kecantikan lebih baik daripada perempuan lainnya. Jacinta mendapatkan esensi atas eksistensinya sebagai perempuan dengan paras yang cantik. Jacinta mendapatkan eksistensinya melalui sudut pandang Valentin yang menggambarkan kecantikan Jacinta pada setiap aspek penampilannya; mata, kulit, bibir, gigi dan kuping. Semua aspek yang digambarkan oleh Valentin dan hasrat Valentin untuk menikah dengan Jacinta dapat dijadikan sebagai bukti dari eksistensi Jacinta sebagai perempuan berparas cantik. Dalam teks, Jacinta dipaparkan merasa begitu bahagia dengan eksistensinya,

“[…] she delighted, he still more charmed, for his words came from the depth of his heart and she had the pleasure of hearing herself praised, […]” (Mendès. 1910: 42).

Narasi tersebut menunjukkan bahwa kecantikan membawa kebahagiaan pada Jacinta karena pengakuan yang dia terima dari Valentin. Dengan kata lain, eksistensi Jacinta sebagai perempuan telah diakui oleh pihak lain karena kecantikannya.

Selanjutnya, eksistensi Jacinta digambarkan hilang ketika pendapat mengenai parasnya berubah. Kondisi tersebut terjadi ketika Jacinta bertemu perempuan tua yang diperintahkan sang ratu untuk menghancurkan kebahagian Jacinta. Ratu mengganti semua pendapat Valentin mengenai kecantikan Jacinta dengan hal-hal yang buruk; mata, kulit, bibir, gigi dan telinga. Eksistensi Jacinta yang sebelumnya dikenal sebagai perempuan dengan paras yang cantik berubah menjadi mahluk terjelek,

the ugliest creatures I ever beheld.” (Mendès. 1910: 42).

Perubahan pendapat tersebut mengubah eksistensi Jacinta, dirinya yang tidak lagi digambarkan sebagai perempuan yang cantik. Eksistensinya seakan hilang setelah gambaran kecantikan hilang. Hal itu terlihat ketika Jacinta tidak dapat mengendalikan dirinya yang terus bersedih, keinginannya untuk hidup hampir hilang. Perubahan tersebut juga membuat makna hidup dan kebahagiaan Jacinta lenyap. Betapa kecantikan bagi diri Jacinta terlihat sangat penting. Eksistensi Jacinta memudar seraya kepercayaan bahwa diri Jacinta tidak cantik. Meskipun, Valentin berusaha untuk menyakinkan Jacinta bahwa dirinya adalah perempuan cantik, Jacinta tidak mempercayainya. Pernikahan pun batal. Jacinta bernarasi bahwa dirinya seorang perempuan buruk rupa tidak pantas mendapatkan seorang suami.

Namun, eksistensi Jacinta sebagai perempuan yang cantik kembali dihadirkan dalam teks. Dinarasikan bahwa Valentin membawa Jacinta ke kerajaan untuk meminta kepada sang ratu memperbolehkan Valentin menggunakan kaca sebagai usaha terakhir untuk meyakinkan kecantikan Jacinta. Akan tetapi, alih-alih diberikan ijin, ratu memerintahkan algojo untuk memenggal kepala Valentin dan Jacinta. Pasrah akan eksistensi kecantikannya yang telah hilang, Jacinta menerima keputusan ratu. Namun, saat eksekusi hendak terjadi, eksistensi Jacinta kembali. Melainkan eksistensi sang ratulah yang hilang,

The executioner raised his gleaming axe just as Jacinta came to herself and opened her eyes. Then two shrieks pierced the air. One was a cry of joy, for the glittering steel Jacinta saw herself, so charmingly pretty—and the other a scream of anguish, as the wicked soul of the queen took flight, unable to bear the sight of her face in the impromptu mirror. (Mendès. 1910: 44).

 

Narasi di atas menceritakan ketika algojo mengangkat kapaknya dan menunjukkan refleksi paras Jacinta dan ratu. Sang ratu yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena memiliki paras yang buruk rupa menunjukkan bahwa kematian lebih baik apabila dibandingkan dengan hidup tanpa kecantikan. Eksistensi dirinya tidak akan memunculkan esensinya sebagai perempuan yang dikonstruksikan harus berparas  cantic yang dirinya ganti dengan esensinya sebagai ratu. Melalui penggambaran tersebut pula, pentingnya kecantikan bagi perempuan yang dapat dilihat sebagai bentuk dari eksistensi diri. Dengan kata lain, dalam cerpen ini kecantikan berperan sebagai pemaknaan atas diri tokoh perempuan.

Dalam The Mirror, pemberian makna eksistensi dihadirkan oleh refleksi pantulan bayangan melalui kaca dan benda-benda lainnya yang dapat memantulkan bayangan. Meskipun benda-benda yang dapat memantulkan bayangan dihilangkan dalam teks, media tersebut digantikan oleh mata. Penggambaran kecantikan sebagai eksistensi diri yang sangat penting bagi tokoh perempuan disampaikan dan dikonstruksikan melalui tokoh laki-laki dari sudut pandangnya, yaitu melalui mata Valentin. Menurut ilmu tanda, mata dalam teks ini dapat dilihat sebagai benda yang menggantikan cermin. Johansen (2005) memaparkan bahwa apapun itu dapat berfungsi sebagai tanda dan tanda adalah sebuah fenomena yang dapat merepresentasikan dan saling berhubungan dengan fenomena lain seperti benda, peristiwa, perilaku, proses yang berulang, keadaan atau situasi emosional dan seterusnya. Mata Valentin berperan sebagai pengganti cermin dalam cerita. Cermin yang dapat mengungkapkan apa yang terpantulkan. Begitu juga sebaliknya, cermin merepresentasikan sudut pandang laki-laki karena dalam hal ini yang cermin perlihatkan adalah kecantikan paras perempuan yang ideal.

Penggambaran kecantikan Jacinta melalui mata laki-laki juga dapat dilihat bahwa laki-laki lah yang memiliki kuasa dalam memberikan label cantik untuk perempuan. Kecantikan Jacinta yang selanjutnya luruh oleh opini perempuan dan kemudian kembali lagi karena upaya Valentin dan kapak algojo yang digunakan untuk mengeksekusi Jacinta menjadi cara narator untuk mengembalikan eksistensi pada Jacinta. Demikian, tokoh laki-laki dalam cerita, Valentin dan algojo, mempunyai peran penting dalam konstruksi dan pemberian makna cantik bagi Jacinta. Tokoh laki-laki lah yang memiliki hak istimewa untuk penempelan label tersebut. Maka dari itu, sejak awal hingga akhir narasi, cerita pendek The Mirror memperkokoh konstruksi kuasa laki-laki di atas perempuan yang membentuk bahwa perempuan baru dapat eksis apabila memiliki paras yang cantik sebagaimana konstruski kecantikan dalam budaya patriarki.

 

Kesimpulan

Kecantikan dalam cerpen The Mirror digambarkan sebagai sesuatu yang penting bagi diri perempuan sebagai bentuk dari bukti eksistensi diri. Kecantikan sebagai eksistensi diri terpaparkan pada kedua tokoh perempuan, Jacinta dan sang ratu. Kecantikan yang ditempelkan pada tokoh Jacinta selain memberikan eksistensi juga memunculkan kebahagian. Sedangkan, pada akhirnya tokoh ratu dimatikan karena tidak memiliki kecantikan sebagai eksistensi. Tokoh laki-laki dalam The Mirror berperan penting sebagai pihak yang mengkonstruksikan kecantikan bagi para tokoh perempuan. Konstruksi tersebut terpaparkan melalui sudut pandang laki-laki yang direpresentasikan oleh cermin, kapak dan mata Valentin. Dengan kata lain, cerpen ini memperkokoh budaya patriarki yang mengkonstruksi eksistensi perempuan melalui penggambaran kecantikan yang ideal.

 

Daftar Pustaka

Johansen, J. D. & Larsen, S. Erik. (2005). Signs in use: an introduction to semiotic. (Gorlee, Dinda L. & Irons, John). New York: Routledge. (Karya asli diterbitkan pada 2002).

Mendès, Catulle. (1910). The mirror. Dalam Reynolds, Francis J dan William Patten (Penyunting), international short stories vol. III. United States: P.F. Collier & Son.

Satrè, Jean-Paul. (1966). Existentialism and humanism. (Mairet, Phillip, Penerjemah). London: Methuen & CO Ltd. (Karya asli diterbitkan pada 1946).

Wolf, Naomi. (2002). The beauty myth. United States: HarperColins Publishers.

2 Responses to “ Kecantikan sebagai Eksistensi Diri dalam ‘The Mirror’ Karya Catulle Mendès ”

  1. thank you for information

Leave a Reply