Resistensi Dua Tokoh Perempuan dalam Film Seri BBC Jane Eyre

Pendahuluan

Sejak berabad-abad lamanya, perempuan selalu ditempatkan pada posisi yang berada di bawah laki-laki. Melalui sudut pandang kebudayaan patriarki, posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya terepresi oleh gender dan seks tetapi juga ditentukan oleh kelas dan ras. Oleh karena itu, opresi yang diterima oleh perempuan dapat menjadi berkali lipat apabila kondisinya ditempelkan dengan semua atribut tersebut. Seperti yang dijabarkan oleh Tong (1998) bahwa kaum perempuan memiliki kemungkinan yang besar dalam mengalami opresi yang berlipat karena begitu banyaknya atribut-atribut yang ditempelkan pada kaum perempuan. Film Jane Eyre versi seri BBC tahun 1983 ini merupakan salah satu sekian karya dari adaptasi novel karya Charlotte Bronte yang dipublikasikan pada tahun 1847.

Film Jane Eyre (1983) menceritakan kisah seorang perempuan bernama Jane Eyre yang mencoba bertahan untuk hidup dari kemalangan yang menimpanya hingga akhirnya menemukan kebahagiannya. Film Jane Eyre menunjukkan adanya opresi budaya patriarki yang memposisikan perempuan berdasarkan gender, kelas, dan status sosial dalam kehidupan bermasyarakat pada masa Victoria yang menjadi latar belakang cerita Jane Eyre. Perempuan yang teropresi dalam dalam film adalah tokoh utama perempuan Jane Eyre dan Bertha Antoinetta Mason tokoh istri Mr. Rochester yang gila. Kedua tokoh tersebut mengalami opresi dari atribut-atribut yang ditempelkan oleh kebudayaan patriarki pada kedua tokoh tersebut. Penempelan atribut-atribut tersebut kemudian menempatkan kedua tokoh perempuan itu berada pada posisi yang lebih subordinan daripada posisi tokoh laki-laki. Namun, pada akhir cerita kedua tokoh tersebut disajikan melakukan perlawanan atas opresi yang mereka alami. Penyajian atas opresi yang memposisikan kedua tokoh perempuan tersebut dalam film Jane Eyre akan dipaparkan selanjutnya.

 

Analisis

Tokoh Jane dalam film ini tersajikan sebagai tokoh utama perempuan yang teropresi oleh atribut-atribut patriarki. Opresi tersebut terepresentasi dalam seks dan gendernya sebagai perempuan, status kelasnya sebagai anak yatim piatu. Opresi tersebut terbentuk melalui konstruksi budaya patriarki. Meskipun Jane berasal dari keluarga terhormat dengan status kelas sosial menengah ke atas akan tetapi karena kondisinya sebagai anak yatim piatu yang tinggal bersama bibinya menjadikan kondisi tersebut sebagai bentuk opresi yang Jane terima dalam lingkungan keluarganya. Opresi yang tidak hanya Jane terima melalui tokoh laki-laki tetapi juga tokoh perempuan. Seperti yang dipaparkan oleh Cheng (1996), bahwa laki-laki sebagai yang dikonstruksi sebagai seks yang dominan dengan maskulinitas sebagai ideologi gender yang utama dalam masyarakat tidak lantas opresi terhadap kaum perempuan hanya dilakukan oleh laki-laki melainkan juga oleh perempuan sebab kuasa maskulinitas atas femininitas juga dapat diperoleh perempuan. Dalam film ini, Jane mendapatkan opresi dari tokoh perempuan seperti bibinya, dua sepupunya, Nona Ingram, dan perempuan tua penjaga toko roti.

Menurut pemaparan Rosemarie Putnam Tong (1998), posisi dan ketidakberdayaan sosial perempuan terhadap laki-laki tidak terlalu berhubungan dengan kondisi biologis perempuan melainkan sangat berhubungan dengan konstruksi sosial atas femininitas. Berhubungan dengan latar belakang dalam film tersebut, masa Victoria memiliki peran dalam mengkonstruksi perempuan sebagai posisi yang subordinan dari pada laki-laki. Pada masa Victoria masih begitu terasa kebudayaan patriarki yang mengopresi posisi perempuan dalam masyarakat. Posisi dan status kaum perempuan lantas akan berada di bawah masyarakat apabila perempuan tersebut tidak dapat memenuhi tuntutan budaya yang dikonstruksikan sebagai sifat-sifat yang wajib dimiliki perempuan, seperti lembut, penurut, mahir dalam menyulam, menggambar, memainkan musik, menari dan berasal dari keluarga yang terhormat. Tuntutan tersebut dibentuk oleh konstruksi masyarakat Victoria untuk menilai dan mengkategorikan perempuan ideal dalam komunitasnya.

Dalam film, lingkungan keluarga bibi Jane begitu mengopresi Jane melalui perlakuan dan perkataan seluruh anggota keluarga terutama pada bibinya Bibi Reed dan sepupu laki-lakinya John Reed. Narasi Bibi Reed memaparkan bahwa Jane merupakan anak yatim piatu yang tidak tahu untung, nakal, penuh tipu daya, tidak bermoral dan melarang ketiga anaknya untuk berasosiasi dengan Jane. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagai bibinya, Bibi Reed tidak menerima Jane sebagai keponakannya dan mengopresi posisi Jane dalam keluarga karena hal tersebut. Sejak awal dipaparkan bahwa sebelum Tuan Reed wafat, dia mengadopsi Jane sebagai anak angkatnya dan meminta Bibi Reed untuk menganggap Jane sebagai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi, sebelum ajalnya menjelang Bibi Reed menarasikan bahwa dirinya mengakui telah melanggar permintaan suaminya mengenai Jane dan berbuat tidak adil padanya. Selain itu, opresi yang dilakukan Bibi Reed terhadap Jane dapat dilihat atas perlakuannya yang menghukum Jane untuk ditinggal semalaman dalam ruang gelap tanpa lilin karena John memfitnah Jane (episode 1, menit 03:11). Bias tersebut juga menjadi suatu opresi terhadap Jane karena Bibi Reed tidak dapat melihat kebenaran yang meliputi Jane.

Opresi lain yang juga dialami Jane terlihat dari perlakuan dan perkataan tokoh John Reed. Dalam film Jane Eyre, John merepresi Jane terlihat ketika John mengadu dan memfitnah Jane perihal buku yang dibaca oleh Jane kepada Bibi Reed, Ibu John. Oleh karena itu, Jane dihukum oleh bibinya. John mengopresi Jane melalui statusnya Jane sebagai sepupu perempuannya yang menumpang di keluarganya sebagai anak adopsi ibunya. Status tersebut dimanfaatkan oleh John untuk mengopresi Jane. Hal tersebut juga terlihat ketika John menyuruh Jane untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Master’ dibandingkan memanggil John dengan namanya (episode 1, menit 02:19). Penyebutan master yang diperintahkan oleh John kepada Jane menunjukkan bahwa John tidak melihat Jane sebagai sepupunya, sebagai keluarga, melainkan sebagai pelayan yang harus melayani dirinya, sang tuan. Bahkan, John meminta Jane untuk berlutut ketika berhadapan dengannya.

Pada awalnya Jane menerima perlakuan John karena John mengancam akan mengadukan Jane kepada bibinya. Akan tetapi, ketika John hendak memukul Jane dengan buku, Jane melawan John (episode 1, menit 14:10). Perlawanan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk resistensi Jane terhadap opresi yang dilakukan oleh John. Resistensi Jane ditampilkan sebagai cara dirinya untuk keluar dari opresi John yang selalu menganggap dirinya lebih rendah dari John. Resistensi juga ditunjukkan oleh Jane ketika berhadapan dengan opresi bibinya. Hal tersebut disajikan ketika setiap kali Jane dipermalukan dan dihukum  oleh Bibi Reed (episode 1, menit 23:19), Jane melawan perlakuan Bibi Reed dengan membentak, memberontak dan membalas ucapan Bibi Reed dengan berteriak. Kemudian, dalam film dipaparkan bahwa Jane benar-benar terbebas dari opresi Bibi Reed dan John Reed ketika Jane keluar dari kediaman keluarga Reed dan tinggal di sekolah asrama Lowood.

Akan tetapi, meskipun Jane telah berhasil keluar dari opresi Bibi Reed dan John Reed, Jane kembali teropresi dalam lingkungan sekitarnya, seperti salah satunya yaitu Lowood, yang opresinya direpresentasikan oleh Mr. Brocklehurst. Mr. Brocklehurst adalah kepala yayasan sekolah asrama Lowood yang diperuntukan untuk anak-anak perempuan yang dianggap melenceng dari ajaran agama Kristen. Opresi Mr. Brocklehurst disajikan ketika dirinya mengumumkan di hadapan semua murid dan guru bahwa Jane adalah anak yang nakal, penuh tipu daya, dusta dan tidak ada yang boleh menemani dan bersikap baik kepada Jane baik itu murid ataupun guru (episode 2, menit 14:42). Dan kemudian, represi tersebut berhasil dilewati Jane karena bantuan dari Ibu Temple yang kagum atas kepintaran dan kemampuan Jane. Dengan kata lain Jane terbebas dari opresi Mr. Brocklehurst karena kecerdasan dan prestasi Jane yang mendominasi kelas, bahwa Jane murid terbaik di kelasnya. Sebagaimana Cheng (1996) jelaskan dalam bukunya bahwa pengetahuan atau kecerdasan dapat digunakan sebagai pendekatan untuk melawan represi yang didapatkan. Kemudian, dalam film Jane memainkan dan mengambil keuntungan bahwa dia pintar sebagai sebuah alat supaya dirinya dapat terbebas dari opresi dan menjadi mandiri.

Opresi selanjutnya berhubungan dengan status dan kelas sosial Jane Eyre dalam kondisi masyarakat pada masa Victoria. Pada masa Victoria dalam karya dapat dilihat bahwa adanya pembagian kelas dan strata status sosial yang berpengaruh terhadap posisi dan status Jane yang dihadirkan pada tokoh-tokoh Mr. Rochester, John, Blanche Ingram, St. John dan tokoh yang ditemuinya ketika Jane terlantar. Hal-hal yang mempengaruhi status tokoh-tokoh tersebut adalah uang, pendidikan dan pekerjaan. Ketiga hal tersebut mempengaruhi baik laki-laki dan perempuan. Seperti halnya dalam kondisi Nona Ingram, posisi Ingram berada di atas Jane Eyre karena kondisi uang dan pekerjaan yang mempengaruhi status sosial mereka yang melebihi Jane Eyre yang saat itu hanyalah seorang guru privat. Begitu juga pada tokoh perempuan penjaga toko roti, uang dan pekerjaan yang pada saat itu tidak dimiliki oleh Jane Eyre karena dirinya meninggalkan Thornfield. Opresi yang dilakukan oleh Ingram dan perempuan tua itu terjadi ketika mereka memandang rendah Jane yang dibandingkan dengan posisi Ingram dan perempuan tua itu. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya status atas uang dan pekerjaan pada masa Victoria yang melatarbelakangi cerita film Jane Eyre.

Selanjutnya, opresi yang dilakukan tokoh laki-laki dewasa seperti Mr. Rochester dan St. John. Opresi tersebut terlihat dalam nada bicara kedua tokoh yang mengindikasikan nada perintah setiap kali berbicara dengan Jane Eyre. Selain itu, opresi juga terjadi karena status posisi sosial dan gender. Seperti yang dipaparkan oleh Tong (1998), masa Victoria begitu kental dengan kebudayaan patriarki yang mengatur posisi perempuan dan laki-laki. Perempuan pada masa itu memiliki kriteria-kriteria yang harus terpenuhi untuk dianggap sebagai perempuan ideal. Kriteria tersebut adalah mahir dalam menggambar, musik, menari dan menyulam. Kemudian, dalam film ini Jane sangat mahir dalam menggambar dan menyulam namun, tidak dalam menari dan bermain piano. Ketidakmahiran tersebut yang dinilai oleh Mr. Rochester sebagai kekurangan Jane akan tetapi, hal itu kemudian tidak dipedulikan karena Jane dijadikan sebagai calon istrinya. Opresi-opresi dari Mr. Rochester muncul ketika dirinya memberikan nada perintah setiap kali berkata dengan Jane terutama ketika pertama kali mereka bertemu (episode 4, menit 02:02). Mr. Rochester menyuruh Jane untuk memainkan piano untuk dinilai kepantasan dirinya sebagai pengasuh Adele. Akan tetapi, opresi tersebut menimbulkan resistensi Jane terhadap Mr. Rochester. Hal tersebut ditampilkan ketika Jane menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban cerdas yang dilontarkan oleh Jane. Hal tersebut menunjukkan bahwa Jane adalah perempuan yang cerdas dan tidak dapat begitu saja ditindas layaknya perempuan lainnya. Selanjutnya, resistensi Jane disajikan ketika dirinya menolak untuk dijadikan istri kedua Mr. Rochester dengan alasan agama yang melarang bigamy. Dan kemudian, resistensi tersebut menuntun Jane kepada opresi yang lain yaitu opresi yang dilakukan oleh St. John.

Pada awalnya St. John tidak dipaparkan memberikan opresi terhadap Jane karena mungkin adanya kecurigaan bahwa Jane adalah perempuan dengan status yang tinggi tanpa mengetahui latar belakangnya. Akan tetapi, opresi yang dilakukan St. John mulai muncul ketika posisi mereka dalam status sosial menjadi setara. Hal itu terjadi ketika Jane mendapatkan uang warisan dari pamannya dan membagi seluruh harta sama rata dengan tiga sepupu barunya termasuk St. John. Opresi terjadi setelah pembagian harta tersebut. St. John ditampilkan mulai memberikan nada perintah kepada Jane, bahkan perintah untuk menikahinya dengan menggunakan alasan agama sebagai pembenaran atas ucapannya (episode 10, menit 24:51). St. John meminta secara terus-menerus hingga akhirnya Jane setuju untuk ikut dengan dirinya menuju India sebagai istrinya. Akan tetapi, baru saja Jane menyetujui secepat itu pula Jane meninggalkan St. John untuk mencari tahu bagaimana keadaan Mr. Rochester. Hal tersebut menunjukkan bahwa Jane berhasil keluar dari opresi St. John dengan meninggalkannya. Setelah meninggalkan St. John dan kembali pada Mr. Rochester, Jane tidak lagi mendapatkan opresi dari St. John, Mr. Rochester maupun dari sosial karena posisi dan kelas sosial Jane naik pada posisi atas sedangkan posisi dan kelas sosial Mr. Rochester menurun karena kehilangan segala bahkan menjadi cacat. Pada akhirnya, segala opresi yang diterima oleh Jane dari keadaan sosial karena kelas, seks dan gender menjadi luruh akibat resistensi dan upaya dirinya untuk mengangkat derajat dirinya menjadi lebih baik.

Selain Jane sebagai tokoh perempuan yang teropresi dalam film, ada juga tokoh lain yang disajikan begitu teropresi oleh kondisi sosial Victoria, yaitu Bertha istri pertama Mr. Rochester. Bertha digambarkan sebagai perempuan gila yang disekap di sebuah kamar di atap kediaman Mr. Rochester (episode 8, menit 4:18). Penyekapan Bertha dapat dilihat sebagai upaya Mr. Rochester untuk mempertahankan posisi dan status kedudukannya di sosial sebagai laki-laki terhormat. Sebagaimana yang dipaparkan Figes (1970) bahwa laki-laki diharuskan untuk mementingkan pandangan orang lain terhadapnya. Oleh karena itu, sebagai upaya mempertahankan harga dirinya, Mr. Rochester memperlakukan Bertha seperti itu dan lantas tidak memberikannya pengobatan. Opresi yang didapatkan oleh Bertha terjadi karena kondisi dirinya sebagai perempuan gila yang tidak dapat memenuhi kewajiban dirinya sebagai istri. Hal tersebutlah yang menjadi pemicu utama mengapa Mr. Rochester menginginkan untuk menikahi Jane sebab dirinya tidak mendapatkan apa yang seharusnya bisa ia dapatkan dari seorang istri yang sehat jiwa dan raga, seperti melayani dirinya dalam hubungan suami dan istri. Lantas ketika orang-orang mengetahui bahwa Mr. Rochester mengurung Bertha, orang-orang tersebut tidak melakukan apapun sebab mereka menganggap apa yang dilakukan oleh Mr. Rochester adalah wajar dan tidak menunjukkan rasa ketidakmanusiaan.

Opresi pada Bertha juga berasal dari Mr. Rochester dan juga masyarakat. Opresi yang dialami Bertha dapat dilihat sebagai bentuk pasivitas perempuan. Thompson (1964) memaparkan bahwa pasivitas perempuan sebagai produk dari serangkaian hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak simestris yang akhirnya mengakibatkan kepatuhan konstan kepada otoritas laki-laki. Akan tetapi, Bertha menunjukkan pemberontakan pada bentuk pasivitas yang dilakukan Mr. Rochester terhadapnya. Dalam film, Bertha disajikan beberapa kali seperti membakar tempat tidur dan kediaman Mr. Rochester. Pada percobaan yang pertama dimana Bertha membakat tempat tidur Mr. Rochester, percobaan itu digagalkan oleh Jane (episode 4, menit 25:37). Resistensi terus dilakukan Bertha ketika dirinya membakar rumah Mr. Rochester (episode 11, menit 05:48). Kejadian terbakarnya rumah juga menyebabkan Mr. Rochester menjadi buta dan kehilangan sebelah lengannya. Api sebagai media resistensi bagi Bertha menjadi simbol tersendiri. Api adalah media untuk menghancurkan sesuatu menjadi abu, ketidakadaan. Bertha menggunakan api untuk membakar tempat tidur Mr. Rochester adalah untuk menghancurkan opresi Mr. Rochester yang mengurungnya. Kemudian, Bertha membakar rumah sebagai bentuk penghilangan tempat dirinya teropresi sebab dengan menghancurkan rumah Mr. Rochester, Bertha jelas akan terbebas dari opresi pengurungan yang dilakukan Mr. Rochester dan sosial.

Perbedaan bentuk resistensi yang dilakukan kedua tokoh, Jane dan Bertha, menunjukkan kondisi dan posisi sosial dimana tokoh ditempatkan dalam masyarakat. Resistensi yang dilakukan tokoh Jane dan Bertha merupakan upaya mereka untuk keluar dari kondisi yang mengopresi dan mengkonstruksi diri mereka untuk sesuai dengan tuntutan kebudayaan Victoria. Sebagaimana Thompson (1964) paparkan bahwa semua manusia manusia, baik laki-laki maupun perempuan, menginginkan hal yang sama, kesempatan untuk membentuk takdirnya sendiri secara kreatif dan aktif. Hal tersebut disajikan pada Jane dan Bertha yang ingin aktif dalam menentukan nasibnya tanpa campur tangan konstruksi sosial.

 

Kesimpulan

Film Jane Eyre mencoba menunjukkan resistensi perempuan atas pemposisian perempuan sebagai kaum yang teropresi dalam kebudayaan patriarki. Dalam film ini, opresi disajikan menimpa tokoh utama perempuan Jane Eyre dan tokoh perempuan lainnya, Bertha. Kedua tokoh disajikan mengalami opresi yang didapatkan dari tokoh laki-laki dan juga keadaan sosial pada masa Victoria. Kemudian, resistensi muncul sebagai dampak dari opresi yang mereka dapatkan. Selain itu, film ini juga dapat dikatakan sebagai kritik sosial terhadap kaum perempuan yang hanya menerima kondisi mereka yang teropresi oleh masyarakat sebagai keadaan mereka yang kodrati yang kemudian kondisi tersebut diruntuhkan oleh sikap resistensi Jane dan Bertha yang melawan budaya patriarki untuk meraih kebahagian dan kebebasan yang mereka impikan. Oleh karena itu, penyajian opresi dalam film ini memperlihatkan bahwa dengan melakukan resistensi tokoh-tokoh yang teropresi akan terbebas dari tekanan-tekanan yang membelenggunya. Dengan kata lain, kisah film ini merubuhkan konstruksi budaya patriarki pada masa Victoria.

 

Daftar Pustaka

Film Seri

Jane Eyre versi BBC rilis pada tahun 1983

 

Buku

Cheng, Cliff. (1996). Masculinity in Organization. Michigan: Sage Publication.

Figes, Eva. 1970. Patriarchal Attitudes.Great Britain: Faber and Faber.

Thompson, Clara. (1964). Problems of Womanhood. Dalam Green, M. P. (penyunting), Interpersonal Psychoanalysis: The Selected Papers of Clara Thompson. New York: Basic Books.

Tong, Rosemarie Putnam. (1998). Feminist Thought. Yogyakarta: Jalasutra.

Leave a Reply