Objektifikasi Tubuh Perempuan dalam Ekranisasi Manga-Anime ‘One Piece’ Karya Eichiiro Oda

Latar Belakang

Manga adalah suatu karya yang berasal dari Jepang yang berbentuk visual naratif yang gambarnya dengan sengaja memunculkan banyak pilihan teknik penggambaran seperti karakter dengan stereotip mata yang besar dan dagu yang runcing yang kemudian pembaca menganggapnya sebagai ciri khas manga (Johnson-wood. 2010). Beberapa pendapat mengatakan bahwa manga bukan sebuah karya seni akan tetapi, seiring dengan perkembangan manga yang semakin meluas dan kini sudah banyak dijadikan bahan penelitian untuk bidang akademik dapat dikatakan bahwa manga juga merupakan karya seni yang kaya akan makna dan filosofi. Oleh karena itu, konsep mengenai apa itu manga tidak terbatasi oleh apakah karya tersebut dianggap seni atau bukan tetapi bagaimana pembaca menggunakan karya tersebut. Sedangkan untuk genre manga sendiri sangatlah banyak karena terbagi ke dalam berbagai minat, umur, kesukaan, kelompok bahkan orientasi seksual, satu manga dapat dikelompokkan ke dalam lima genre yang berbeda sekaligus (Johnson-wood. 2010). Perkembangan genre tersebut terpengaruhi oleh perkembangan kehidupan sosial yang ada di Jepang bahkan dunia.

Tidak hanya manga namun anime juga mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Animasi jepang atau yang lebih dikenal sebagai anime adalah sebuah media yang khusus menggabungkan elemen visual dengan susunan atas struktur filosofis yang umum dan tematik untuk memproduksi sebuah dunia estetis yang unik, bahkan seringkali dunia yang diciptakan dalam anime lebih berani tragis dan lebih berunsur seksual (bahkan dalam genre romantis komedi yang ringan) dan mengandung jalan cerita yang lebih kompleks dan rumit apabila dibandingkan dengan komik populer yang ditawarkan Amerika (Napier. 2005). Selain itu, Napier (2005) juga berpendapat bahwa anime juga dianggap sebagai karya yang kaya akan makna dan berguna sebagai cerminan atas isu, harapan, atau bahkan mimpi buruk masyarakat modern Jepang.

Menurut Henshall (1999) kebudayaan Jepang didominasi oleh kaum laki-laki. Terlihat dalam kebudayaan Jepang seperti halnya Samurai, kaum perempuan tidak dipandang layak untuk menjadi seorang ahli pedang dalam sejarah masyarakat Jepang. Namun, dalam sejarah Jepang meskipun kaum perempuan tercatat pernah menduduki posisi yang begitu tinggi, Henshall (1999) menjelaskan bahwa posisi tersebut lantas berubah dalam kehidupan masyarakat Jepang saat ini. Kaum perempuan menduduki posisi kedua dalam hirarki sosial dan tidak dapat terbebas dari ekspektasi masyarakat seperti melayani dan tunduk pada ayah dan ayah mertua (sebagai anak), suami (sebagai istri), anak laki-laki (sebagai janda). Selain itu, kaum perempuan juga dipandang sebagai objek, pelayan dan mesin pembuat keturunan (Eri Izawa. 2000). Kaum laki-lakilah yang kemudian dipandang sebagai halangan oleh kaum perempuan dalam meraih kesetaraannya di Jepang. Meskipun begitu, tidak hanya kaum perempuan, kaum laki-laki pun ikut terjebak dalam perilaku yang dibatasi oleh tradisi mengenai peran-peran gender yang tidak lain ditetapkan oleh laki-laki dan juga perempuan.

Karya tertulis yang dialihwahanakan ke dalam bentuk visual (film) disebut sebagai ekranisasi. Peralihan wahana akan selalu menghadirkan perbedaan-perbedaan dari karya sumbernya. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai perwujudan atau pemusatan ideologi yang berbeda atau sebagai cara untuk meningkatkan minat penonton. Karya ekranisasi dalam penelitian ini adalah seri manga One Piece karya Eiichiro Oda yang dialihwahanakan menjadi sebuah seri animasi dengan judul yang sama dan juga produksi yang melibatkan pencipta One Piece. Seri manga One Piece pertama kali rilis pada tahun 1997 dan hingga saat ini (tahun 2017) masih berlanjut hingga 800 bab lebih. Seri manga ini mengisahkan seorang anak laki-laki, yang bernama Monkey D. Luffy, yang memutuskan untuk mengarungi lautan untuk menggapai impiannya menjadi raja bajak laut. Adaptasi seri anime ini cukup setia dengan seri manganya akan tetapi, dalam seri anime ada beberapa perbedaan yang memunculkan adanya penyajian ideologi yang lebih digambarkan secara jelas yaitu karakter perempuan dalam anime dijadikan sebagai objek yang merupakan representasi dari pergeseran nilai sosial kebudayaan Jepang yang menggunakan media visual anime. Perbedaan-perbedaan itu terlihat ketika penyajian tubuh karakter perempuan yang digambarkan lebih jelas dan terpapar daripada penggambaran dalam seri manga.

Pada awalnya anime One Piece cukup diminati di banyak negara lain namun, penyiaran anime ini dihentikan karena penyajian konten cerita yang dinilai mulai berubah dan menampilkan konten yang vulgar dianggap mengganggu penonton di bawah umur. Sedangkan menurut kriteria masyarakat Jepang, konten yang seperti itu sama sekali tidak menimbulkan ketidaknyamanan dan dianggap pantas untuk disiarkan di media televise Jepang. Adanya perbedaan dalam hal kepantasan dalam konten anime One Piece menyebabkan peralihan wahana seri manga-anime One Piece ini hanya disiarkan di FUNAnimation Stasiun TV Jepang, cabang FUNAnimation di Amerika, internet streaming online dan DVD sebagai mediator resmi dari rumah produksi anime One Piece.

Dalam peralihan wahana seri manga One piece ke anime pun masih terlihat adanya ketidaksetaraan gender yang ditunjukkan oleh penggambaran karakter perempuan dalam manga yang kemudian menjadi terlihat sangat jelas dalam seri anime. Hal tersebut terpaparkan dalam penyajian tubuh karakter perempuan yang dijadikan sebagai objek visual dalam cerita. Dengan demikian, hipotesa peneliti atas perbedaan penggambaran objektifikasi tubuh karakter perempuan yang disajikan dalam seri anime adalah sebuah gambaran untuk mencerminkan atau menggambarkan kondisi seksual remaja Jepang selain untuk menarik perhatian penonton. Oleh karena itu, penelitian ini akan menyoroti penggambaran tubuh karakter perempuan dan laki-laki dalam manga dan anime One Piece. Kemudian, peneliti akan melihat bagaimana tubuh karakter perempuan dalam anime One Piece diobyektifikasikan.

 

Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian ini, saya menemukan empat penelitan terdahulu dengan isu yang cukup berkelindan dan korpus yang berbeda dengan penelitian ini yang kemudian dapat dijadikan sebagai bahan acuan atau wawasan untuk memahami korpus dan isu yang akan diteliti. Penelitian terdahulu yang saya rujuk adalah Eri Izawa (2000), Joel Gwynne (2013) dan Lien Fan Shen (2007).

Dalam analisisnya Eri Izawa (2000) memaparkan bahwa relasi antara perempuan dan laki-laki dalam manga dan anime dibagi ke dalam empat kategori; pertama, the unequal relationship yaitu hubungan dimana karakter perempuan digambarkan pemalu, lemah, berada pada posisi kedua di bawah posisi laki-laki dan berperan sebagai pelengkap tokoh utama laki-laki; kedua, adjusting relationship yaitu hubungan yang lebih natural dan lebih realistis antara karakter perempuan dan laki-laki, akan tetapi karakter laki-laki sering digambarkan menjadi penolong karakter perempuan untuk mencapai kondisi ‘normal’ —kondisi yang menggambarkan karakter perempuan menjadi karakter yang lebih lemah atau lembut (lebih bergantung); ketiga, the stable equal relationship yaitu kondisi relasi yang menunjukkan posisi yang lebih setara antara karakter laki-laki yang digambarkan lebih kuat dan karakter perempuan yang digambarkan lebih pintar; keempat, initially unequal relationship yaitu hubungan yang didominasi oleh karakter perempuan yang digambarkan mengangkat derajat dan posisi karakter laki-laki, sedangkan karakter laki-laki mencoba untuk menaikkan posisinya untuk setara dengan karakter perempuan, dalam hubungan ini biasanya digambarkan dengan kesetaraan hubungan relasi pada akhir cerita manga sebagai hasilnya. Analisis yang dilakukan Eri Izawa (2000) dapat dipergunakan sebagai model untuk menganalisis relasi gender antara karakter perempuan dan laki-laki baik dalam manga maupun anime. Relasi gender tersebut dapat mengindikasikan konstruksi atas peran karakter perempuan dalam kedua media.

Gwynne (2013) menyajikan analisis atas karakter-karakter perempuan dalam manga yang ditulis oleh pengarang laki-laki yang digambarkan sebagai karakter perempuan yang berpenampilan layaknya anak-anak dan polos akan tetapi penggambaran pun kian berubah seiring dengan kecemasan aktifitas maskulin yang disebabkan oleh kepanikan moral yang melingkupi perilaku seksual kaum perempuan di Jepang. Oleh karena itu, Gwynne (2013) memaparkan bahwa banyak manga-ka laki-laki berkembang dalam teknik penggambaran karakter perempuan yaitu dengan lebih menyajikan karakter perempuan dengan penampilan yang lebih seksual dan sensual dengan mengerotiskan penampilan tubuhnya dan penggambaran perilaku menggoda yang dikonstruksikan sebagai senjata mereka untuk mendominasi karakter-karakter laki-laki. Dalam wacana posfeminis, penyajian karakter perempuan yang ditampilkan seperti itu dalam media anime dapat dikategorikan sebagai upaya media pembuat anime untuk mendominasi dan menarik perhatian kaum laki-laki heteroseksual. Peneliti dapat meminjam analisis dari Gwynne (2013) untuk melihat bagaimana penggambaran tubuh karakter perempuan dalam manga dan anime yang mengalami perubahan penyajian dan makna apa yang tersajikan dalam perubahan itu.

Lien Fan Shen (2007) meneliti anime sebagai sebuah tempat untuk mencapai kenikmatan dari hasil konstruksi kuasa dan perlawanan atas seksualitas normatif. Artikel ini memfokuskan penelitian pada bagaimana anime dapat menawarkan kesempatan untuk mengembangkan bukan untuk terbebas dari konstruksi ideologi, yaitu dengan menemukan cara-cara baru atas pembuatan dan perlawanan yang kreatif terhadap pengaturan kuasa dalam kehendak pelaksana. Kenikmatan yang dimaksud oleh Lien Fan Shen (2007) dalam analisisnya merujuk pada kenikmatan yang terjadi ketika adanya kuasa yang melingkupi suatu objek, seperti halnya tatapan voyeuristik laki-laki terhadap tubuh perempuan dalam cinema. Berdasarkan penelitian ini, ada keterkaitan antara hubungan tubuh karakter perempuan yang dijadikan objek dengan relasi kuasa dan juga kenikmatan yang didapatkan baik oleh karakter laki-laki atau penonton dan juga karakter perempuan itu sendiri. Keterkaitan tersebut dapat menjadi rujukan untuk analisis dalam penelitian ini.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh ketiga peneliti di atas merupakan analisis yang dapat dikatakan cukup dekat dengan penelitian yang akan dilakukan penulis. Masing-masing topik penelitian sebelumnya membahas isu dan topik yang sama yang dapat membantu peneliti untuk membongkar korpus ini dengan menggunakan metode yang sama. Di samping itu, penelitian ini juga berbeda dalam hal karya  dan genre yang diteliti. Penelitian ini memiliki kesamaan pendekatan dengan penelitian Gwynne dan Lien Fan Shen yang menggunakan sudut pandang feminis.

 

Kerangka Teori

Dalam membahas isu-isu yang saya temukan dalam penelitian ini, saya meminjam beberapa teori yang digunakan untuk menganalisis alih wahana ekranisasi manga-anime One Piece. Saya menggunakan konsep hubungan relasi laki-laki dan perempuan dalam kebudayaan masyarakat Jepang Kenneth G. Henshall (1999), konsep manga-anime dan relasi seksual antara perempuan dan laki-laki di dalam manga dan anime oleh Tania Darlington dan Sara Cooper (2010) dan Susan J. Napier (2005), dan konsep representasi perempuan dan gaze terhadap karakter perempuan dalam anime dalam artikel Susan J. Napier (2006).

Henshall (1999) memaparkan bahwa dalam kebudayaan Jepang, status dan peran perempuan berada dalam posisi yang terdominasi oleh kebudayaan patriarki. Dengan demikian, dalam kebudayaan Jepang kaum perempuan ditempatkan pada posisi yang selalu terikat oleh konstruksi masyarakat yang melekatkan ekspektasi mereka akan pencitraan perempuan ideal dalam tradisi kebudayaan Jepang. Peran dan posisi perempuan dalam kebudayaan Jepang ini dimunculkan pada beberapa karya sastra Jepang, salah satunya adalah manga. Seperti dalam manga dan anime One Piece, relasi antara laki-laki dan perempuan digambarkan dalam posisi yang hirarkis. Penyajian tersebut terlihat pada penggambaran posisi perempuan yang dalam karya selalu ditempatkan dalam posisi kedua tanpa mempertimbangkan peran dan status  karakter perempuan yang sebenarnya lebih unggul daripada karakter laki-laki.

Menurut Darlington (2010) manga Jepang lebih berani dan terbuka untuk membahas isu-isu gender dan seksualitas daripada komik Amerika. Penggambaran tersebut merupakan ekspektasi pembaca Jepang yang tertarik pada bagaimana manga dapat menggambarkan asumsi-asumsi mengenai gender dan seksualitas. Akan tetapi, ekspektasi tersebut dapat dilihat sebagai cerminan peran gender dan relasi hubungan heteroseksual yang secara terus-menerus memperkokoh kebudayaan patriarki dan hegemoni heteronormatif, terutama dalam konteks hubungan karakter perempuan dan laki-laki dalam manga. Hal tersebut tergambarkan dalam manga One Piece yang menyajikan hubungan relasi antara karakter laki-laki dan perempuan.

Napier (2005) menjelaskan bahwa tubuh karakter perempuan dalam anime sering kali dijadikan objek untuk dipandang, diperkosa dan disiksa daripada dalam manga. Dengan menjadikan tubuh karakter perempuan sebagai objek, anime seringkali melakukan perubahan pada tubuh tokoh perempuan tersebut dan terkadang perubahan tersebut berlawanan dengan gambaran yang disajikan sebelumnya. Pada akhirnya, tranformasi yang terjadi merupakan manifestasi dari hubungan relasi karakter perempuan dan laki-laki yang tergambarkan dalam anime, yaitu karakter perempuanlah yang menjadi objek. Tranformasi tersebut juga dapat diidentifikasikan sebagai upaya penambahan rangsangan bagi penonton. Perubahan penyajian tubuh karakter perempuan sebagai objek dari manga ke anime dapat diidentifikasikan sebagai manifestasi dari hubungan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial Jepang yang kini menghadapi krisis atas relasi dan posisi peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Sebagaimana menurut Napier (2005), anime bukan hanya sebagai refleksi atas dunia nyata melainkan respon atas isu yang sedang berkembang dalam kehidupan sosial.

Dalam artikel selanjutnya, Napier (2006) memaparkan bahwa penyajian karakter perempuan dalam anime adalah sebagai hiburan baik digambarkan dengan kecantikan ideal ataupun tidak dan hiburan tersebut selalu diperuntukkan bagi penonton laki-laki. Oleh karena itu, karakter perempuan seringkali dijadikan ikon dan obyek dalam manga terlebih lagi dalam anime karena melibatkan moving visual yang menjadikan karakter perempuan sebagai manifestasi hasrat dari pandangan laki-laki seperti pada bagian dada, tubuh, wajah dan suara yang dianggap sebagai bagian-bagian yang mewakili hasrat laki-laki. Perubahan yang terjadi dari manga dan anime seringkali terjadi pada fokus pergantian scene dan suara yang tidak dapat tersajikan dalam manga sebaik dan sejelas dalam anime.

Seri manga dan anime One Piece karya Eichiiro Oda tidak lagi dikategorikan sebagai kartun bagi anak-anak karena One Piece sendiri memunculkan penggambaran yang vulgar. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan apabila anak-anak pun dapat membaca manga ini. Dalam seri manga dan anime One Piece, penggambaran tubuh perempuan mengalami perubahan yang menimbulkan fokus isu yang semakin diperjelas dalam alih wahana ke dalam bentuk anime yaitu tubuh karakter perempuan yang dijadikan objek pandangan. Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan penggambaran tubuh karakter perempuan menjadi objek dalam jalan cerita.

 

Obyektifikasi Tubuh Karakter Perempuan dalam Anime One Piece

Manga dan anime One Piece merupakan karya yang cukup setia dalam alur penceritaan. Namun, penggambaran peran dan porsi tubuh perempuan dalam media anime One Piece menunjukkan adanya perbedaan yang penulis lihat sebagai bentuk obyektifikasi atas tubuh tokoh perempuan. Perpindahan dari manga One Piece menuju anime menunjukkan adanya perluasan ideologi dari manga. Ketika peralihan pada manga menuju anime, penulis melihat perluasan ideology dari manga yang menunjukkan adanya penyajian tubuh karakter perempuan yang tergambarkan begitu jelas sesuai dengan peran dan porsi setiap karakter dalam frame anime One Piece yang terfokus pada bagian tubuh perempuan. Perluasan tersebut muncul dalam anime karena adanya keterbatasan pada media manga untuk menyajikan isu tersebut.

Dalam media manga, seperti yang dipaparkan oleh Johnson-Wood (2010), adalah karya dalam bentuk gambar yang disajikan dalam ruang kolom yang terbatas. Pemfokusan gambar tidak dapat banyak dilakukan dalam manga, terlebih lagi media manga hanyalah karya yang berbentuk visual dua dimensi saja. Namun, keterbatasan tersebut terlepas dalam media anime. Sebab, bentuknya yang merupakan media yang bergerak dan bersuara membuat eksplorasi setiap gambar dan karakter menjadi lebih memungkinkan. Manga One Piece menyajikan tubuh perempuan sebagai obyek sedangkan dalam anime, tubuh tersebut semakin di perjelas karena adanya kelebihan media anime dengan keistimewaan gambar yang bergerak dan memunculkan suara. Penyajian tubuh perempuan memenuhi seluruh frame yang dalam manga tidak dihadirkan fokus atas penyajian tubuh yang memenuhi satu halaman penuh. Selain itu, obyektifikasi tubuh perempuan juga hanya berlaku pada karakter yang dianggap cantik dan ideal. Karakter perempuan lainnya yang digambarkan tidak menarik seperti Big Mom, Kokoro Baasan, dan Lola sama sekali tidak mengalami perubahan gambar dalam anime sebagai obyek, bahkan tubuh mereka dianggap sebagai tubuh yang menjijikan dan tidak menarik hasrat laki-laki. Hal tersebut memperlihatkan bahwa hanya tubuh ideal yang dapat memunculkan hasrat dan dijadikan sebagai obyek seksual laki-laki.

Dalam anime One Piece, penulis melihat bahwa tidak semua tubuh perempuan dijadikan sebagai obyek, melainkan hanya beberapa karakter saja. Penyajian tubuh perempuan tersebut terbagi ke dalam dua kategori yaitu perempuan yang mempunyai tubuh yang dianggap ideal dan yang tidak. Karakter perempuan dengan tubuh ideal yang dijadikan sebagai obyek. Dengan kata lain, selain dihadirkan sebagai obyek, tubuh perempuan juga dijadikan sebagai konstruksi atas tubuh yang ideal. Sedangkan untuk tubuh laki-laki sendiri tidak ada pengobyektifikasian yang dapat diidentifikasi sebagai bentuk konstruksi. Tubuh karakter perempuan yang dijadikan sebagai obyek dalam anime tergambar dalam empat karakter akan tetapi hanya dua karakter yang akan penulis bahas sebagai representasi dari keempat karakter perempuan yaitu Nami dan Putri Shirahosi. Penulis memilih kedua karakter tersebut karena kedua karakter tersebut mewakili dua kelompok karakter perempuan yang dibagi ke dalam jenis manusia dan duyung. Selain itu, kedua karater tersebut juga lebih banyak mengalami obyektifikasi daripada karakter perempuan lainnya.

Dalam manga One Piece begitu juga dalam animenya, penggambaran karakter perempuan, Nami, mengalami perubahan yang begitu terlihat. Sebagaimana Napier (2005) menjelaskan bahwa tubuh karakter perempuan dalam anime juga digambarkan selalu mengalami perubahan bentuk, baju dan make-up sedangkan perubahan pada tokoh laki-laki tidaklah banyak. Perubahan tersebut terlihat pada penyajian bentuk tubuh kedua karakter perempuan. Nami yang sebelumnya digambarkan sebagai remaja yang memakai pakaian lengkap berubah menjadi pakaian yang serba terbuka. Sedangkan perubahan Putri Shirahosi terlihat pada proses pertumbuhan dirinya yang disajikan dari ia kecil hingga dewasa. Perubahan atas penyajian Putri Shirahosi dan keterbukaan akan tubuh Nami disajikan berbeda antara manga dan anime. Dalam manga maupun anime One Piece, kondisi ketika remaja Nami digambarkan dengan pakaian yang lengkap terpakai pada tubuhnya tidak ada obyektifikasi begitu juga dengan Putri Shirahosi. Namun, anime One Piece menyajikan perubahan gambar pada Nami dan Putri Shirahosi yang sudah dewasa dapat dilihat sebagai obyektifikasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada persoalan mengenai kepantasan akan karakter yang bisa dijadikan obyek, yaitu tokoh perempuan dewasa.

  1. Penggambaran Vulgar sebagai Obyek dalam Anime One Piece

Perubahan dan perbedaan penyajian tubuh perempuan dalam anime One Piece dianggap lebih vulgar dan terbuka karena memperlihatkan bagian tubuh perempuan dengan begitu jelas dibandingkan manganya.  Perbedaan tersebut terlihat pada karakter Nami dimana bagian tubuh payudaranya ditampilkan memenuhi frame anime sedangkan dalam manga payudara tersebut tidak disajikan sama dengan anime. Hal tersebut dapat dilihat dalam gambar dibawah ini,

a. Anime One Piece Ep. 517                  b. Manga One Piece Ch. 598: 16

Pada kedua gambar di atas, terlihat perbedaan atas penyajian tubuh Nami yang diobyektifikasikan. Dalam animenya, penyajian bagian payudara Nami ditampilkan memenuhi frame selama beberapa detik, sedangkan pada kolom manga (di bagian bawah sebelah kanan) bagian payudara Nami tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti halnya disajikan dengan gambar penuh. Selain itu, dalam visual anime disajikan dengan sangat jelas posisi Nami ketika ia gembira bertemu dengan Usop dan memeluk Usop dengan menariknya ke dadanya. Hidup panjang Usop digambarkan begitu jelasnya berada tepat di tengah-tengah payudara Nami yang dapat dilihat sebagai bentuk obyektifikasi atas payudara Nami. Selain itu, posisi hidung Usop yang diapit oleh payudara Nami juga mereprsentasikan kesan vulgar, berbeda dengan penggambaran dalam manga yang hanya menyajikan posisi tersebut melalui sudut pandang dari depan sehingga tidak memperlihatkan posisi hidung Usop dan payudara Nami yang berhimpitan.

Obyektifikasi juga terjadi tidak hanya pada penyajian bagian payudara tetapi juga pada bagian tubuh lainnya seperti pinggang, bokong, dan bagian perut bawah. Sebagaimana dipaparkan oleh Napier (2006) bahwa bagian-bagian tubuh seperti halnya dada, pinggang, wajah, dan suara karakter perempuan dapat dijadikan sebagai obyek yang dapat menarik perhatian penonton karena merupakan bagian-bagian tubuh yang mewakili hasrat seksual laki-laki. Dalam anime, setiap bagian lekuk tubuh Nami dan karakter perempuan lainnya diperlakukan sebagai obyek namun berbeda dalam manga. Hal tersebut terlihat, ketika Nami atau karakter perempuan lainnya digambarkan sedang berinteraksi dengan karakter lain, sudut pandang penonton dituntun menuju bagian tubuh mereka yang kemudian ditampilkan memenuhi setengah frame anime. Bahkan, pengarahan pada tubuh perempuan pun terjadi ketika tokoh lain yang berdialog atau ketika tokoh lain sedang bertarung.

Apabila dibandingkan dengan posisi Nami yang sebelumnya sedang memeluk Usop, penyajian tubuh karakter perempuan juga dapat secara tiba-tiba disisipkan dalam pandangan visual ketika antar tokoh berdialog, seperti misalnya tokoh Putri Shirahosi. Penyisipan tubuhnya dalam anime tidak menunjukkan adanya keterkaitan antara percakapan antar tokoh dan penggambaran tubuh yang dimunculkan. Sedangkan dalam manga, bagian tubuh Shirahosi tidak digambarkan ada sedikitpun dalam percakapan itu. Akan tetapi dalam anime, penyajian bagian tubuh Shirahosi dimunculkan  dengan begitu jelas yang disisipkan disela-sela percapakan karakter-karakter lain.

c. Anime One Piece Ep. 548                              d. Manga One Piece Ch. 628: 16

Dalam anime, tubuh Shirahosi dimunculkan disela-sela pembicaraan antara Luffy dan Jimbei. Apa yang sedang dibincangkan mereka pada saat itu adalah ketika Hordy yang menantang Luffy dan anggotanya untuk bertarung memperebutkan kekuasaan di Pulau Duyung. Dalam pertarungan ini, Putri Shirahosi berperan sebagai tokoh yang harus dimusnahkan oleh kelompok Hordy karena ketakutan mereka akan kemampuan Shirahosi yang dapat mengontrol raja monster laut untuk menghancurkan dunia yang dikenal sebagai salah satu dari tiga senjata kuno yang tersebar di dunia.

Meskipun Shirahosi memiliki kekuatan yang begitu hebat, posisinya dalam pertarungan tersebut adalah menjadi umpan untuk mengalihkan perhatian musuh dan pihak yang dilindungi oleh kelompok Luffy karena dipandang lemah dan tidak berdaya. Kemampuan Shirahosi yang digambarkan belum sepenuhnya bangkit, membuat dirinya menjadi tokoh yang harus dilindung karena kepolosan dan sikap penakutnya. Menurut penulis, kemunculan penyajian Shirahosi dalam anime ketika scene tersebut sebagai gambaran bahwa Shirahosi khawatir dengan kondisi perang yang akan terjadi di Pulang Duyung terlihat dari kepalan tangannya. Akan tetapi, penggambaran tubuh bagian bawah perut Shirahosi tidak memunculkan makna apapun selain objek vulgar. Dengan kata lain, baik dalam penggambaran peran dan juga tubuhnya, Shirahosi digambarkan sebagai pihak yang pasif, lemah dan harus dilindungi. Dengan demikian, putri Shirahosi bukan hanya ia mengalami obyektifikasi tetapi dirinya ditempelkan dengan konstruksi gender feminin yang dianggap sebagai perempuan yang pasif, lemah dan harus dilindungi.

Penulis berpendapat bahwa penyajian tersebut bukan hanya menunjukkan tubuh perempuan sebagai obyek tetapi juga sebagai representasi dari hasrat seksual. Hal tersebut dapat dilihat dalam penyajian Putri Shirahosi untuk pertama kalinya. Dalam manga maupun anime, Putri Shirahosi sengaja dikunci di kamarnya sendiri selama sepuluh tahun untuk mencegah orang yang ingin melukainya. Dan kemudian, Luffy, karakter utama laki-laki, menemukan kamar Shirahosi. Dalam anime, kemunculan Shirahosi disajikan berbeda dengan manga. Luffy masuk ke kamar Shirahosi yang gelap, namun ketika lampu menyala, hal yang pertama kali diperlihatkan adalah payudara.

Sedangkan dalam manga, Shirahosi dimunculkan dari wajahnya. Selain payudara Putri Shirahosi yang dijadikan obyek, bagian tubuh lainnya pun mendapat perlakuan yang sama. Obyektifikasi yang dialami oleh Putri Shirahosi melebihi dari obyektifikasi yang dialami karakter Nami karena bukan hanya tubuhnya yang dijadikan obyek tetapi juga suara Shirahosi. Putri Shirahosi disajikan sebagai Putri dari Raja Neptunus yang digambarkan sebagai perempuan paling cantik namun juga polos. Ketika Putri Shirahosi keluar dari kamarnya dan menuju dunia luar, tubuhnya diobyektifisikasikan kembali. Penggambaran dirinya yang baru saja keluar dan diperkenalkan pada masyarakat menjadikan tubuhnya tidak terlepas dari pandangan yang melihatnya sebagai obyek. Namun, perkenalan dirinya pada dunia luar digambarkan berbeda dari manga ke anime.

e. Anime One Piece 537                  f. Manga One Piece Ch.  618: 4

Dalam manga, penggambaran Putri Shirahosi hanya difokuskan pada ekspresi tangisannya saja yang kemudian membuat Sanji, karakter laki-laki dalam gambar menjadi terpesona. Akan tetapi, pada anime, bagian-bagian dan lekuk tubuh Putri Shirahosi disajikan secara jelas dan gamblang atas bagian mana saja yang dipandang oleh Sanji yang menjadikan dirinya sebagai objek hasrat seksual Sanji. Selain sebagai representasi atas obyek seksual bagi karakter laki-laki dalam cerita, Nami dan Putri Shirahosi juga menjadi obyek seksual bagi hasrat para penonton anime ini.

  1. Refleksi terhadap Kondisi Sosial Jepang dalam Anime One Piece

Adapatasi anime pada periode pertama menyajikan kesetiaan antara penggambaran dari kertas ke layar dan tidak memunculkan perubahan (Cavarallo. 2010). Akan tetapi, adaptasi anime One Piece sebagai adaptasi anime periode ketiga telah mengalami perubahan yang cukup banyak dari perpindahan media manga ke anime yang kemudian adaptasi tersebut mengubah genre atas adaptasi anime One Piece. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Cavarallo (2010) bahwa perubahan adaptasi anime Jepang terkadang memunculkan perubahan jenis genre atas karya sumber dan perubahan tersebut bertujuan untuk hiburan, refleksi dan representasi kebudayaan Jepang. Seperti halnya dalam anime One Piece, Eichiiro Oda mencoba untuk mengubah genre dan target penonton anime One Piece dengan mengeksplor bentuk tubuh karakter perempuan dalam cerita.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fujimoto Yukari (2014) target pembaca bagi manga Naruto dan One Piece adalah anak-anak dan remaja laki-laki akan tetapi dalam surveynya anime One Piece lebih banyak ditonton oleh remaja perempuan. Oleh karena itu, penulis berasumsi bahwa adaptasi anime One Piece yang mengobyektifikasikan tubuh perempuan sebagai upaya untuk menarik target utama, remaja laki-laki, yang diinginkan oleh Oda. Upaya tersebut ditunjukkan ketika tubuh Nami, Putri Shirahosi ataupun karakter perempuan lainnya menjadi obyek seksual dari karakter laki-laki, Sanji. Setiap kali penggambaran tubuh karakter perempuan disajikan jelas dengan kevulgarannya dalam anime, pengarahan pandangan yang diwakili oleh tokoh Sanji sebagai male gaze memunculkan asumsi bahwa pengarahan tersebut dapat memunculkan ketertarikan hasrat bagi penonton laki-laki.

Meskipun Jepang dipaparkan masih kental dengan kebudayaan tradisional yang konsevatif dan Otaku (penggemar fanatik anime) dipandang sebelah mata, anime Jepang, yang telah dianggap sebagai salah satu kebudayaan popular Jepang, tetap berkembang lebih bebas dalam cerita maupun konten gambar dibandingkan kartun barat (Napier. 2001).  Anime One Piece, sebagai salah satu anime Jepang dapat dikatakan cukup vulgar apabila dibandingkan dengan anime-anime Jepang lainnya yang memiliki genre yang sama, seperti halnya anime Naruto, Bleach, Fairy Tale, dan lainnya. Anime lain tidak menyajikan tubuh perempuan sejelas dan sevulgar One Piece (Yukari. 2014). Anime lain cenderung sesuai dengan penggambaran yang sama dengan karya manganya. Oleh karena itu, penyiaran One Piece lebih dibatasi daripada penyiaran anime lain di negara lainnya karena ada perbedaan ukuran atas kepantasan konten yang diperbolehkan dalam sensor penyiaran Jepang dan negara lain. Dengan kata lain, konten gambar anime One Piece yang berbeda dengan manganya dalam hal penggambaran tubuh perempuan yang dijadikan sebagai obyek seksual masih dianggap pantas karena sampai saat ini (Mei 2017) perbedaan konten tersebut tidak lantas memberhentikan penyiaran anime One Piece di Jepang.

Penggambaran tubuh perempuan dalam anime One Piece diidentifikasikan sebagai obyek dalam pandangan budaya patriarki yang dapat dilihat sebagai refleksi dari kondisi kebudayaan Jepang saat ini di mana generasi muda sudah tidak tertarik lagi untuk menjalin hubungan. Hal tersebut terlihat dalam anime One Piece ketika Sanji disajikan bermimpi sedang bermain-main di sungai yang mengalir di antara payudara-payudara.

g. Anime One Piece 588                                      h. Manga One Piece Ch. 663: 14

Dalam kedua gambar di atas, antara manga dan anime One Piece seperti menunjukkan hal yang berbeda. Namun, pada dasarnya kedua gambar tersebut menyajikan kondisi yang sama. Dalam manga diceritakan semua kru Luffy kembali berkumpul dan menceritakan kondisi masing-masing awak kapal setelah berpisah. Dalam manga, kolom ditengah terlihat Sanji[1] yang terluka dengan benjolan diatas kepalanya karena dipukul oleh Nami karena menunjukkan payudaranya kepada yang lain. Dalam manga maupun anime, ditengah-tengah Luffy dan yang lainnya saling menceritakan kondisi mereka, Sanji diperlihatkan terluka dan kemudian berhasil sadarkan diri. Namun, dalam anime (gambar 7 dalam kolom kanan bawah) disajikan pengakuan Sanji yang ketika ia pingsan, dirinya bermimpi sedang bermain-main di antara sungai-sungai payudara. Sedangkan dalam manga, mimpi Sanji tidak disajikan sama sekali dalam manga.

Menurut penulis, penggambaran mimpi Sanji yang sedang bermain-main di sungai beberapa pasang payudara, menunjukkan kevulgaran bagian tubuh perempuan yang digambarkan sebagai objek hasrat laki-laki. Selain itu, penyajian payudara yang digambarkan ada beberapa pasang dalam mimpi Sanji seakan-akan menunjukkan kewajaran bagi laki-laki untuk tidak hanya terpaku pada satu perempuan saja, yang ditunjukkan dengan banyaknya payudara dalam mimpi Sanji. Namun, karena hal itu adalah hanya mimpi, penulis mengasumsikan bahwa mimpi Sanji sebagai hubungan perempuan dan laki-laki yang direpresentasikan oleh Nami dan Sanji hanyalah sebuah angan yang tidak bisa diraih, yaitu laki-laki hanya dapat menikmati tubuh perempuan dalam pandangan dan mimpi saja. Seperti halnya keadaan masyarakat Jepang yang lebih menikmati hiburan-hiburan semu daripada hubungan yang nyata dengan orang lain[2], baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, sebanyak obyektifikasi tubuh yang dilakukan oleh anime One Piece, tidak lantas memunculkan satu pun kisah percintaan dalam cerita.

Seperti yang dipaparkan Yukari (2014) adaptasi anime Naruto, Bleach atau Fairy Tales menghadirkan kisah cinta antara tokoh disela-sela konflik. Meskipun, dalam anime Sanji selalu disajikan tertarik pada setiap tokoh perempuan yang ditemuinya dan berperan sebagai male gaze yang menuntun penonton untuk mengobyektifikasikan visual vulgar tubuh perempuan. Akan tetapi, Oda menjelaskan bahwa One Piece lebih terfokus pada penggambaran kisah cinta pada sesuatu yang abstrak seperti kebebasan dan laut, tidak akan ada penggambaran kisah cinta antar tokoh[3]. Oleh karena itu, penulis berasumsi bahwa perubahan dalam adaptasi anime One Piece dalam mengobyektifikasikan tubuh perempuan sebagai refleksi atau gambaran seksualitas masyarakat Jepang yang unik; remaja Jepang hanya tertarik dalam menyalurkan hasrat mereka melalui gambar tubuh dalam media virtual baik laki-laki ataupun perempuan.

Penyajian hubungan dan posisi antara karakter perempuan dan laki-laki dalam anime pun terlihat lebih timpang daripada dalam manga. Dalam manga, hubungan antara karakter perempuan dan laki-laki dapat diidentifikasi sebagai the stable equal relationship[4], karakter perempuan memang menempati peran penting dalam cerita. Namun, dalam anime hubungan tersebut terkadang berubah menjadi tidak setara seperti, adanya obyektifikasi tubuh perempuan yang telah dipaparkan sebelumnya memunculkan asumsi bahwa perempuan dalam anime One Piece sebagai pihak yang lemah, pasif yang hanya dijadikan sebagai obyek pandang dari tokoh laki-laki dan sebagai tokoh yang harus dilindungi. Sedangkan, obyektifikasi atas tubuh karakter laki-laki sama sekali tidak ada dalam manga maupun anime, bahwa hanya laki-laki yang dapat menjadikan perempuan sebagai obyek tapi tidak sebaliknya.

Selanjutnya, pemaparan ketidaksetaraan hubungaan antara tokoh perempuan dan laki-laki juga terlihat dalam struktur kekuasaan dalam kru Luffy. Tokoh Nami yang berperan sebagai navigator tidak memiliki kuasa dalam menentukan kemana sebaiknya mereka berlayar, keputusannya hanya digunakan ketika memprediksi cuaca karena Nami digambarkan sangat sensitif dengan perubahan cuaca. Sedangkan yang memiliki kuasa penuh dalam menentukan kemana mereka berlayar adalah tokoh laki-laki yaitu Luffy. Posisi tokoh perempuan dalam anime One Piece selalu berada diposisi kedua, tokoh perempuan ditonjolkan dengan keputusan yang selalu dilandaskan dengan perasaan dan intuisi juga disajikan sebagai pihak yang hanya dapat memberikan pilihan-pilihan. Sedangkan tokoh laki-laki berkuasa atas penentuan keputusan yang pengambilannya didasari oleh keberanian.

 

Kesimpulan

Adaptasi alih wahana anime One Piece menyajikan perbedaan dalam penggambaran bentuk tubuh perempuan. Alur cerita atas manga cukup setia ketika mengalami perpindahan media tetapi tidak dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang direpresentasikan oleh konten gambar tubuh perempuan sebagai objek pandang dan penyajian posisi tokoh perempuan dan laki-laki. Perubahan konten gambar tubuh perempuan dari manga ke dalam visual anime One Piece menampilkan obyektifikasi atas perempuan melalui penggambaran payudara, pinggang, dan perut bagian bawah perempuan. Obyektifikasi yang ditampilkan dalam alih wanaha anime One Piece berbeda dengan anime lain seperti Naruto, Bleach ataupun Fairy Tale yang tidak menampilkan gambar yang vulgar bagi genre sejenis. Anime One Piece menyajikan bahwa tokoh laki-lakilah yang mendapatkan hak istimewa untuk mengobyektifikasikan tubuh perempuan sedangkan tidak ada obyektifikasi atas tubuh tokoh laki-laki. Perubahan gambar tubuh tokoh perempuan yang disajikan dalam anime dengan vulgar dan lebih diperjelas daripada dalam manga dapat dilihat sebagai bentuk refleksi atau gambaran seksualitas masyarakat Jepang yang generasi mudanya tidak lagi tertarik dalam menjalin hubungan di dunia nyata melainkan lebih tertarik dalam menjalin hubungan virtual.

 

Daftar Pustaka

Cavarallo, Dani. (2010). Anime and the Art of Adaption. North Caroline: McFarland & Company Inc.

Darlington, Tania dan Sara Cooper. (2010). The Power of Truth: Gender and Sexuality in Manga. Dalam Johnson-Woods, Tony (Penyunting), Manga An Anthology of Global and Cultural Perspective (Hlm. 157-172). New York: Continuum Books.

Eri Izawa. (2000). Gender and Gender Relations in Manga and Anime. http://www.mit.edu/~rei/manga-gender.html\

Fujimoto Yukari. (2014). Women in “Naruto”, Women Reading “Naruto”. Dalam Berndt, Jaqueline dan Bettina Kümmerling-Meibauer (Penyunting), Manga’s Cultural Crossroads (Hlm. 172-191).  New York: Routledge.

Gwynne, Joel. (2013). Japan, Postfeminism and the Consumption of Sexual(ized) Schoolgirls in Male-authored Contemporary Manga. New York: Palgrave Macmillan.

Henshall, Kenneth G. (1999). Dimension of Japanese Society Gender, Margins and Mainstream. New Zealand: Macmillan Ltd.

Johnson-Woods, Toni. (2010). Manga An Anthology of Global and Cultural Perspective. New York: Continuum Books.

Lien Fan Shen. (2007). Anime Pleasures as a Playground of Sexuality, Power and Resistance. International Conference, MiT5, Media in Transition: Creativity, Ownership, and Collaboration in the Digital Age.

Napier, Susan J. (2001). Anime from Akira to Princess Mononoke. New York: Palgrave: Macmillan.

Napier, Susan J. (2005). Anime from Akira to Howl’s Moving Castle. New York: Plagrave Macmillan.

Napier, Susan J. (2006). “Excuse Me, Who Are You?” Performance, the Gaze, and the Female in the Works of Kon Satoshi. Dalam Brown, Steven T. (Penyunting), Cinema Anime Critical Engagements with Japanese Animation (Hlm. 23-42). New York: Plagrave Macmillan.

 

Footnote

[1] Pertukaran tubuh ini terjadi karena kekuatan dari salah satu kapten bajak laut lain, Trafalgar Law, yang dapat menukar jiwa dan raga seseorang dengan orang lain. Sebelumnya, diceritakan bahwa Law menukar tubuh Nami, Sanji, Franky dan Chopper dengan rincian; Nami di dalam tubuh Franky, Franky di dalam tubuh Chopper, Chopper di dalam tubuh Sanji dan Sanji di dalam tubuh Nami.

[2] Penelitian menjabarkan bahwa kondisi angka kelahiran menurun drastis beberapa tahun ini. Menurut survey, kelompok otaku (pecinta anime) yang terobsesi dengan anime makin meningkat, baik laki-laki maupun perempuan, di Jepang lebih senang menghabiskan waktunya dalam dunia virtual. Perkembangan teknologi melihat kondisi ini dan kemudian menciptakan lahan bagi mereka untuk melepaskan hasrat para masyarakat Jepang yang tidak lagi tertarik dengan hubungan nyata.  https://news.vice.com/story/japans-holographic-anime-girlfriend., http://www.newshub.co.nz/home/entertainment/2016/12/holographic-anime-virtual-wives-on-sale-in-japan.html, http://www.bbc.com/news/magazine-24614830.

[3] http://www.onepiecegold.com/romantic-relationships-in-one-piece/2/

[4] Salah satu hubungan laki-laki dan perempuan yang dikelompokkkan oleh Izawa (2000)

2 Responses to “ Objektifikasi Tubuh Perempuan dalam Ekranisasi Manga-Anime ‘One Piece’ Karya Eichiiro Oda ”

  1. that’s why one piece cuma untuk ditonton 15 tahun keatas

Leave a Reply