Perbedaan Dua Perjalanan Spiritual Tokoh Gjorg Berisha dalam Novel Broken April Karya Ismail Kadare

Dalam karya penggambaran kematian, terutama saat seorang menusia sedang menjalani sebuah proses kematian, selalu disajikan dengan ketakukan, kemarahan, penderitaan, penolakan, harapan, penerimaan dan lain-lain. Kematian seakan-akan digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan untuk dialami dan dibayangkan. Dalam novel Broken April (2003) karya pengarang Albania Ismail Kadare, kematian digambarkan sebagai sesuatu yang berbeda, adanya romantisasi kematian dan turut campur dari hal-hal duniawi yang disangkut-pautkan dengan hal-hal spiritual. Dalam novel ini, saya melihat adanya perubahan spiritualitas dan cara pandang tokoh utama terhadap kematian yang akan dihadapinya. Dan kemudian, sebelum membahas isu-isu yang saya temukan, terlebih dahulu saya akan menggambarkan sedikit alur cerita Broken April (2003).

Novel ini bercerita tentang sebuah tempat  di Albania yang bernama High Pleatau yang memiliki tradisi yang ‘unik’. Tradisi tersebut memperbolehkan membunuh untuk balas dendam yang disebut dengan blood-feud. Pertumpahan darah antara dua keluarga, Berisha dan Kryeqyqe telah berlangsung dalam beberapa generasi karena keluarga Kryeqyqe telah membunuh seorang tamu yang berkunjung ke keluarga Berisha. Cerita dimulai dengan kejadian dimana Gjorg Berisha yang sedang bersembunyi menunggu kedatangan laki-laki yang harus dibunuhnya, Zef Kryeqyqe. Setelah Gjorg membunuh Zef, pembalasan pada Gjorg akan datang dari keluarga Kryeqyqe setelah 30 hari berlangsung, salah satu dari mereka akan membunuh Gjorg. Kemudian selama 30 hari kedepan Gjorg melakukan dua perjalanan yang setiap perjalanannya memberikan dampak yang berbeda bagi dirinya. Kejadian pembunuhan ini merupakan salah satu hukumyang dianut oleh masyarakat Albania yang berada di High Pleatau yaitu pembunuhan akan dibalas dengan pembunuhan, begitu seterusnya hingga seluruh anggota laki-laki dalam keluarga salah satunya habis. Hukum tersebut disebut Kanun dan hukum yang dijalani oleh Gjorg disebut blood-feud. Dalam novel disebutkan bahwa Kanun adalah landasan dari segala aturan aktifitas kehidupan di High Pleatau,

 

“It’s power reached everywhere, covering lands, the boundaries fields. It made its way into the foundations of houses, into tombs, to churches, to roads, to markets, to weddings. It climbed up to mountain pastures, and even higher still, to the very skies, whence it fell in the form of rain to fill the watercourse, which were the cause of a good third of all murders.”(Broken April, 2003: 27)

 

Penjelasan di atas mengenai Kanun dalam novel menggambarkan betapa besar kuasa Kanun dalam menetapkan aturan-aturan yang melingkupi kehidupan masyarakat High Pleatau. Begitu juga dalam keadaan sosial yang benar-benar terjadi di Albania, dalam jurnalnya, Stephame Voell (2003) menjabarkan bahwa pada awalnya Kanun terdiri dari aturan-aturan lisan yang berkembang secara turun-temurun dari generasi ke generasi dan kemudian menjadi aturan-aturan tertulis yang kemudian bertahan sampai masa liberal pada tahun 1944. Akan tetapi, budaya Kanun tidak serta-merta hilang, di Albania sendiri pada tahun 1970an Kanun masih dikenal meskipun tidak seluruh praktiknya dilakukan. Dalam pemaparan pada buku Encyclopedia of Europe since 1945 (2001), hukum Kanun sendiri dianut oleh semua orang tanpa terkecuali, meskipun adanya perbedaan agama pada masyarakat di Albania, Kristen ataupun Islam, semuanya patuh pada hukum Kanun. Jadi, dalam kebudayaan ini agama sama sekali tidak berpengaruh pada hukum adat.

April dalam  Broken April merupakan setting waktu dalam novel dengan rentang waktu pertengahan pada bulan Maret dan berakhir pada pertengahan bulan April, waktu hidup Gjorg yang terbatas hanya hingga pertengahan April. Dalam teks, disisa-sisa waktu yang Gjorg punya sebelum kematiannya, Gjorg melakukan dua kali perjalanan. Perjalanan pertama adalah perjalanan menuju Kulla of Orosh, tempat Gjorg membayar pajak yang disebut sebagai blood-tax atas pembunuhan Zef Kryeqyqe. Kedua adalah perjalanan yang dilakukan oleh Gjorg untuk mencari seorang perempuan yang bernama Diana. Kedua perjalanan tersebut memberikan penggambaran yang berbeda mengenai kematian dan keadaan spiritualitas Gjorg.

Dalam novel, sebelum Gjorg melakukan perjalanan pertama digambarkan bahwa Gjorg masih tidak dapat menerima sisa waktu hidupnya dan merasa bahwa kematian merupakan hal yang mengerikan. Hal tersebut digambarkan ketika Gjorg harus membunuh Zef pada awal cerita. Gjorg dipaparkan tidak ingin membunuh Zef yang terlihat pada penggambaran kondisi tubuhnya yang tiba-tiba membeku ketika menunggu kedatangan Zef dan ingin melarikan diri dari persembunyiannya. Hal ini juga tergambarkan pada kegelisahan dan keraguan yang muncul dibenak Gjorg. Ketika Gjorg memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi apabila keluarganya tidak terikat dalam adat blood-feud, kehidupan orang-orang yang tidak terikat oleh hukum Kanun,

 

He had already thought of that on another occasion. The world was divided into two parts: the one that fell under the blood-law, and the other that was outside that law.” (Broken April. 2003:30)

 

Penggambaran imajinasi Gjorg merenung bagaimana kehidupan orang-orang tersebut, pasti terasa sangat mengagumkan dan bebas, itulah yang ada dalam benak Gjorg. Dalam novel, perjalanan pertama Gjorg memaparkan bahwa dia menerima nasib kematiannya, akan tetapi dalam setiap langkahnya Gjorg selalu mengingat akan sisa waktu-waktunya dalam kegelisahan dan angan-angan apabila keluarga tidak terikat pada Kanun. Kemudian, saat melakukan perjalanan untuk membayar pajak di Kulla of Orosh, disela-sela perjalanannya Gjorg singgah di beberapa tempat untuk beristirahat dan bertemu dengan beberapa orang. Dalam singgahan yang pertama, Gjorg melihat reruntuhan desa yang pernah digambarkan oleh bapaknya sebagai desa yang menolak untuk melakukan adat blood-feud dan sebagai balasannya desa itu dihancurkan oleh penegak hukum Kanun. Selama perjalanan menuju Kulla of Orosh, Gjorg digambarkan bahwa dirinya selalu mengingat kematian dan waktunya yang tersisa. Gjorg terlihat sangat memperhatikan waktu dan terburu-buru ingin segera membereskan urusannya dalam membayar blood-tax. Hal ini terlihat ketika dirinya terus-menerus bertanya kapan dirinya akan sampai pada Kulla of Orosh pada setiap orang yang ditemuinya dijalan.

Penggambaran kegelisahan itu diteruskan dengan ilusi-ilusi mengenai Kulla of Orosh yang sudah ada dihadapannya dan kekeliruan Gjorg dalam menggambarkan waktu antara siang dan malam. Meskipun sebelumnya dipaparkan bahwa Gjorg telah menerima waktu kematiannya, “It was only half an hour since he had been granted the thirty-day truce, and already he was almost used to the idea that his life had been cleft in two.” (Broken April, 2003; 19). Dan kemudian, pada perjalanan pertama Gjorg selalu sadar akan kematian dan waktu yang dia punya. Renungan-renungan yang dilakukannya selalu mengenai kematian.

Akan tetapi, selain digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan, ditengah-tengah perjalanan saat Gjorg memaparkan kematian ada kalanya digambarkan sebagai sesuatu yang mengagumkan. Perbedaan penggambaran inilah yang menurut Baker (2005) unik dalam benak manusia, yaitu bahwa manusia memiliki caranya tersendiri untuk menyadari kematian mereka. Seperti halnya Gjorg yang menggambarkan kematiannya sebagai sesuatu yang luar biasa,

 

But that was not the important thing; what was happening within him was the important things. Something terrifying and majestic at the same time. He could not have explained it. He felt that his heart had leaped from his chest, and, opened up in that way, he was vulnerable, sensitive to everything, so that he might rejoice in anything, be cast down by anything, small or large, a butterfly, a leaf, boundless snow, or the depressing rain falling on that very day.” (Broken April, 2003; 34)

 

Menurut saya, kutipan di atas juga menggambarkan kondisi spiritual Gjorg yang melihat kematian sebagai sesuatu yang di luar dirinya, membuat dirinya menjadi lebih menghargai semua hal yang ada karena dirinya mengetahui bahwa waktunya terbatas. Selanjutnya, dalam perjalanan pulang dari Kulla of Orosh, Gjorg bertemu dengan seorang perempuan, yang datang mengunjungi High Pleatau untuk berbulan madu, bernama Diana. Perjalanan pertama Gjorg pun berakhir dan Gjorg masih memiliki tiga minggu tersisa.

Dalam novel, perjalanan pertama Gjorg yang seakan menggambarkan penerimaan Gjorg atas kematiannya juga terbantahkan saat Gjorg menghabiskan waktunya di rumah sepulang perjalanan pertama. Gjorg digambarkan menjadi gelisah dalam menunngu habisnya perjanjian tiga puluh hari. Penantian Gjorg digambarkan seperti dirinya kehilangan arah, tidak ada lagi renungan-renungan atau angan-angan apabila dirinya terlepas dari Kanun,

 

The next morning, he woke late, Where am I? he asked two or three times, and he fell asleep again. When at least he got up, his head was heavy and felt as if it were stuffed with sponge. He was not up to doing anything. Not even thinking. The day passed, and the next day and the next. He went through the house several times, noticing listlessly a section of the wall that had been need of repair for a long time, or a corner of the roof that had fallen in winter. He had no heart for work. The worst of it was that any repair seems useless to him.(Broken April, 2003;158-159)

 

Kutipan di atas memberikan penegasan bahwa kematian yang mengikutinya memang mempengaruhi dirinya. Namun, berbeda dengan penggambaran angan-angannya pada perjalanan pertama, Gjorg mulai memberikan pilihan yang lebih nyata untuk menghindari kematian.

Bagaimanapun juga, penerimaan Gjorg dan angan-angannya yang digambarkan sebelum dan pada perjalanan pertama tidak menyajikan solusi yang nyata untuk situasi Gjorg, hanya pilihan-pilihan yang berakhir lebih mengerikan, seperti desa yang melawan Kanun. Akan tetapi, semakin dekat dengan hari kematian, pemikiran-pemikiran Gjorg lebih disajikan kepada hal-hal yang jelas-jelas nyata, tidak hanya angan. Gjorg lebih digambarkan mengejar sesuatu yang memberikan hasil. Hal tersebut disajikan ketika Gjorg mulai memikirkan pilihannya untuk meninggalkan High Pleatau dan terlepas dari Kanun yang memang dapat dilakukan dan tidak ada hukuman yang akan ditimpakan pada desanya,

 

After those somnolent days, his thoughts began to stir. And the first thing that his mind began to seek was a way of keeping himself from death and blindness. There was only one way, and he thought about it at great length: to be an itinerant woodcutter.”(Broken April, 2003:159)

 

Kutipan di atas memaparkan pilihan untuk menjadi pemotong kayu mulai disajikan sebagai pilihan Gjorg. Akan tetapi, pilihan ini urung dilaksanakannya dengan alasan harga dirinya akan hilang. Meskipun demikian, karena sedikitnya pilihan yang ada Gjorg memutuskan untuk melakukan perjalanan lagi dengan harapan dirinya mendapatkan apa yang digambarkan hilang dalam dirinya. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Shaver (2002) bahwa orang yang sedang menghadapi kematian cenderung melupakan kondisi fisiknya dan mencari dirinya yang sejati dan yang diinginkannya. Oleh karena itulah, Gjorg memutuskan untuk pergi dengan harapan mendapatkan apa yang diinginkannya, seketika itu hal yang ingin dilihatnya adalah pegunungan.

Sebelum perjalanan yang kedua Gjorg dimulai, bapaknya berpesan agar dirinya tidak melupakan sisa-sisa hari yang dia miliki dan berlindung di menara para pengungsi (tower of refugee) untuk menghindari orang yang akan membunuhnya. Akan tetapi, dalam teks digambarkan bahwa Gjorg tidak mendengarkan pesan bapaknya, kepalanya hanya dipenuhi oleh keinginannya melihat pegunungan. Penggambaran perjalanan Gjorg yang kedua tidak beberda jauh dengan yang pertama, Gjorg singgah di beberapa tempat dan bertemu dengan beberapa orang. Akan tetapi, dalam perjalanan itu digambarkan ketika dirinya berada di sekitar orang, Gjorg disajikan mencari sesuatu, Gjorg menemukan dirinya mendengarkan percakapan orang-orang mengenai Diana, perempuan yang ditemuinya dalam perjalanan pulang dari Kulla of Orosh. Diana digambarkan sebagai perempuan yang cantik dengan mata dan rambut pirang yang indah, bahkan ada yang menggambarkannya sebagai seorang peri cantik. Melalui percakapan itulah, Gjorg digambarkan mengetahui apa yang ingin dilihatnya bahwa dirinya ingin bertemu dengan Diana.

 

And suddenly it came to him in complete clarity why it was he had undertaken this journey. He had dismissed it from his mind obstinately, had suppressed it, but the reason why was right there, in the center of his being: if he had set out on the road, it wasn’t to look at the mountains, but to see that woman again.” (Broken April, 2003; 162)

 

Kutipan di atas menjelaskan bahwa memang Dianalah yang dicarinya dalam perjalanan kedua yang dilakukannya. Seorang perempuan, benda hidup yang nyata bukanlah hal-hal spiritual seperti kedamaian. Akan tetapi, meskipun dalam perjalanan kedua ini Gjorg dipaparkan mencari hal yang bersifat duniawi, Gjorg tidak digambarkan memiliki pemikiran-pemikiran atau kegelisahan mengenai kematian dan sisa waktunya. Gjorg disajikan fokus dalam mencari Diana dan kereta kudanya. Hal tersebut terlihat pada setiap kali Gjorg bertemu dengan seseorang dijalan, Gjorg selalu menanyakan apakah mereka melihat sebuah kereta kuda dengan perempuan di dalamnnya,

 

Now he no longer hid from himself that he was hoping to find that carriage. He did not even conceal it from others. He had inquired several times, ‘You didn’t happen to see a carriage with a curious body with odd lines…. it’s hard to explain.’.” (Broken April, 2003;164)

 

Kutipan tersebut memaparkan bahwa dalam perjalanannya yang kedua Gjorg dengan sadar mencari sebuah kereta kuda dengan perempuan didalamnya. Meskipun begitu, saya menemukan hal tersebut agak ironis.

Dalam novel, perjalanan kedua Gjorg memang tidak diperlihatkan bahwa perjalanan tersebut memberikan dirinya kondisi spiritual yang seharusnya dimiliki oleh orang yang tinggal memiliki sedikit waktu dalam hidupnya seperti halnya lebih mendekatkan diri pada pencipta, berbuat baik bagi banyak orang ketimbang memikirkan hasrat pribadinya. Namun, saya melihat penggambaran kematian dalam novel ini sungguh manusiawi. Terlepas dari ironi tersebut, penggambaran kematian yang dipaparkan dalam perjalanan Gjorg yang kedua selalu digambarkan sebagai sesuatu yang indah dan gaib. Dalam perjalanan kedua, Gjorg disajikan mencari Diana dan keretanya yang terkesan mencari sesuatu yang duniawi. Akan tetapi, menurut saya yang Gjorg lakukan bukanlah mencari Diana dan keretanya melainkan mencari kematian karena dalam teks Diana dan keretanya merepresentasikan kematian. Hal tersebut dipaparkan pada kutipan berikut, “In reality, with its gloomy appearance, bronze door-handles, and complicated lines, the carriage reminded him of a coffin that he had seen at on time.” (Broken April, 2003; 163). Dalam benak Gjorg, penggambaran kereta itu yang seperti peti mati yang merupakan simbol dari kematian yang diromantisasi ke dalam bentuk kereta kuda yang indah.

Selain meromantisasi kematian ke dalam bentuk sebuah benda, dalam teks kematian juga diromantisasikan ke dalam wujud manusia yaitu perempuan, Diana. Diana digambarkan seperti sesuatu yang bukan manusia,

 

and inside that carriage, butterfly-coffin, were the eyes of the woman with the auburn hair, that he had breathed in with a sweetness and an emotion that he had never felt in the presence of any other being in the world” (Broken April. Pg.163).

 

Pada kutipan di atas, Gjorg memaparkan bahwa dirinya tidak pernah merasakan hal yang ia rasakan ketika bertemu Diana, yang dijelaskan menggunakan kalimat, dia belum pernah merasakan kehadiran Diana seperti mahluk hidup yang ada di dunia. Lantas, darimanakah Diana berasal? Menurut saya, penjabaran Gjorg atas Diana tidak hanya merepresentasikan kematian melainkan malaikat maut, Diana sebagai representasi dari malaikat maut dan keretanya sebagai kematian. Ketika waktu yang dimiliki Gjorg hampir habis, dia digambarkan melupakan pesan bapaknya untuk berlindung di Tower of Refugee dan hanya memikirkan bagaimana ia dapat bertemu dengan Diana. Pada akhir cerita digambarkan bahwa Gjorg bertemu dengan seorang laki-laki yang membawa seekor lembu hitam dan memberitahunya bahwa ia melihat kereta yang dimaksudkan oleh Gjorg. Hal tersebut membuat Gjorg senang dan melupakan semuanya, “He overwhelmed to see her. She never been so near and he named her as his fairy.” (Broken April, 2003; 214). Kutipan ini juga meromantisasikan Diana yang digambarkan sebagai seorang peri. Akan tetapi, pada akhirnya Gjorg dipaparkan tidak dapat memenuhi hasratnya untuk menemui Diana sebelum waktunya habis. Gjorg ditembak mati oleh lelaki dengan lembu hitam yang sebelumnya memberitahu dirinya mengenai Diana. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Bataille (1962) bahwa kehidupan manusia tidak dapat mengikuti pergerakan yang menarik mereka menuju kematian tanpa rasa takut dan keinginan untuk mencurangi kematian. Oleh karena itu, Gjorg disajikan tidak dapat bertemu dengan Diana yang merepresentasikan kematian dalam novel, melainkan kematian itu sendirilah yang menjemput Gjorg.

Novel ini menggambarkan dua perjalanan seseorang yang diambang kematian dengan cara yang berbeda. Sebelumnya pada perjalanan Gjorg yang pertama, kematian digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan karena Gjorg selalu memikirkan bagaimana kehidupannya apabila dirinya terbebas dari Kanun, tidak harus mati dalam waktu tiga puluh hari ke depan. Meskipun dalam perjalanan ini Gjorg terkesan menerima nasibnya yang terbantahkan dengan semua pemikiran-pemikirannya yang memunculkan kegelisahan akan kematian. Akan tetapi, dalam perjalanannya yang kedua, Gjorg digambarkan tidak peduli pada kematian dan mencari hal yang dia inginkan. Gjorg pergi mencari Diana dan keretanya yang digambarkan seperti merepresentasi kematian, seakan-akan Gjorg menjemput kematian itu sendiri dengan mencari Diana. Novel ini menyajikan bahwa meskipun kematian Gjorg telah ditentukan pada waktu tertentu dan dirinya telah mempersiapkan apa yang akan dilakukan menjelang kematiannya, tetap saja kematian Gjorg datang di waktu yang tidak diduga ketika dirinya mencari hal yang seakan menuntunnya mendekati kematian.

Daftar Pustaka

Baker, Lynne R. 2005. Death and the Afterlife. William Wainwrights (Ed.), 2001. The Oxford Handbook of Philosophy of Religion, Oxford: Oxford University Press, pp.366-390.

Bataille, Georges. (1962). Death and Sensuality. United States: Walker and Company.

Cook,Bernard. (2001). Encyclopedia of Europe Since 1945. New York: Garland Publishing Inc.

Kadare, Ismail. (2003). Broken April. London: Vintage.

Shaver, W. A. (2002). Suffering and the role of abandonment of self. Journal of Hospice and Palliative Nursing, 4 (I), 46-53.

Voell, Stephane. (2003). The Kanun in the City. (Hal.85-101). Switzerland: Anthropos Institute.

 

 

Leave a Reply