Kritikan Sosial dan Kuasa dalam Puisi Apa Apa dengan Kalian Karya A. Mustofa Bisri

Dalam penelitian ini, saya akan menganalisis puisi karya A. Mustofa Bisri yang berjudul Ada Apa dengan Kalian. Analisis akan saya lakukan dengan menggunakan pendekatan strukturalisme dan sosiologi sastra. Ada beberapa hal yang menurut saya menarik pada puisi ini. Pertama adalah pemilihan diksi ‘kalian’ sebagai yang dituju. Kedua adalah unsur sakral dan profan yang ada dalam puisi. Ketiga, saya melihat puisi ini juga mencerminkan kritik sosial terhadap individu, kelompok atau golongan, bahkan organisasi pemerintah yang disebabkan oleh kapitalisme.

Dalam puisi ini akulirik adalah pencerita dalam puisi yang mengekspresikan kekecewaan, kekesalan dan kemarahannya kepada individu-individu dan kelompok-kelompok yang dimaksud oleh akulirik dengan mengajukan pertanyaan ada apa dengan kalian pada setiap akhir bait. Menurut saya, Akulirik dalam puisi ini mengungkapkan ‘kemarahannya’ melalui pertanyaan-pertanyaan dan perumpamaan yang dilihat akulirik sebagai suatu fenomena yang menurutnya tidak pantas. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu penggalan baitnya “Kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla”, “Tapi malas memakmurkannya”. Puisi ini tidak menggunakan penetapannya bait dengan baris yang sama disetiap baitnya, akan tetapi rima pada setiap barisnya berbunyi sama seperti “Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat” “Sambil terus mensekutukan diri kalian dengan Tuhan penuh semangat”.

Menurut Mangunwijaya segala sastra adalah religius (1988. Hal. 11), termasuk juga puisi ini karena karya ini mengandung peristiwa atau unsur-unsur yang bersifat keagamaan. Menurut saya, pemilihan diksi yang digunakan Mustofa Bisri dalam puisi Ada Apa dengan Kalian merupakan diksi-diksi yang biasa kita temui. Selain itu dalam puisi ini, akulirik menggunakan diksi ‘kalian’ untuk merujuk langsung pada individu atau kelompok yang ditujunya tanpa adanya keinginan untuk menutupinya, seakan-akan akulirik memang ingin langsung ‘kalian’ dalam puisi ini mengerti bahwa merekalah yang dimaksud “Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat”. Akan tetapi pada setiap baitnya, diksi ‘kalian’ dalam puisi ini merujuk pada hal yang berbeda. Hal tersebut akan saya bahas dalam paragraph lain. Selain itu, dalam puisi ini ada satu kalimat yang terus-menerus diulang di setiap bait berakhir, “Ada apa dengan kalian?”.

Kalimat ini diulang sebanyak empat kali. Menurut saya, ada beberapa kemungkinan mengapa kalimat it uterus diulang, yaitu selain sebagai judul dari puisi tersebut kalimat itu juga sebagai penegasan atas pertanyaan akulirik yang menggambarkan perasaan marah, geram, kesal atas penggambaran fenomena-fenomena pada bait-bait sebelumnya. Kalimat yang terus diulang itu juga sebagai penggambaran tidak adanya atau belum adanya jawaban yang akulirik dapatkan dari individu atau kelompok-kelompok yang dituju, sehingga kalimat itu selalu muncul untuk mempertanyakan maksud ‘kalian’ dalam puisi.

Menurut KBBI,sakral adalah perihal yang dianggap suci atau keramat oleh agama atau kepercayaan tertentu sedangkan profan adalah sesuatu yang duniawi, atau yang tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan, tidak suci atau kudus. Dalam puisi ini, Mustofa Bisri menggunakan diksi-diksi yang merujuk pada unsur sakral dan profan untuk mengungkapkan maksudnya

Unsur-unsur sakral dalam puisi ini adalah; syahadat, Tuhan, jihad, syariat, akhirat, Rasulurrahmah Al-Amien, laknatan lil’aalamien, masjid, mushalla, zakat, infak, puasa, haji, umrah, khotbah, sakral dan halal. Sedangkan unsur-unsur profannya adalah; nikmat, mensekutukan, perang, malas, warung, tega, keji, makanan, rokok, alcohol, nikotin, minyak babi, pajak, korupsi, mie, minyak, sabun, bumbu penyedap, jajanan, dan iklan. Kedua unsur sakral dan profan dalam puisi ini saling berhubungan satu sama lain karena dalam puisi ini dengan menggunakan kedua unsur akulirik dapat membandingkan dan mengumpamakan maksudnya dengan baik, seperti dalam bait ini

 

Kalian bangga menjadi panitia zakat dan infak

Seolah olah kalian yang berzakat dan berinfak

Kalian berniat puasa di malam hari

Dan iman kalian ngeri

Melihat warung buka di siang hari

Kalian setiap tahun pergi umrah dan haji

Tapi kalian masih terus tega berlaku keji

 

Bait di atas menunjukkan adanya unsur sakral dan unsur profan yang saling berdampingan untuk memaparkan isi bait puisi. Menurut saya, unsur sakral dan unsur profan dalam sebuah karya baik dalam bentuk puisi ataupun prosa tidak bisa dipisahkan satu sama lain atau hanya menampilkan satu unsur saja dalam satu karya karena merujuk pada paparan Mangunwijaya bahwa sakral dan profan dalam realita kehidupan merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.

Adanya unsur sakral dan profan dalam puisi juga merupakan proses sekularisasi yang menurut Mangunwijaya bahwa,

 

“Sekularisasi adalah proses alami biasa yang melihat dunia dan zaman sebagai sesuatu yang positif dan berharga, di mana manusia ditugaskan membuat saeculum menjadi sejarah yang artinya manusia tidak perlu ragu-ragu untuk aktif dan berinisiatif membuat dunia menjadi lebih baik, lebih berharga dari semula, bahwa setelah “kepastian nasib” kita berganti nilai menjadi ‘tantangan sejarah’, hal-hal yang alami dapat kita bentuk menjadi kebudayaan” (Mangunwijaya, 1988. Hal. 33).

 

Sekularisasi membentuk manusia untuk menciptakan kebudayaan yang dapat diubah oleh karena itu seharusnya sekularisasi dapat menjadi sebuah proses dimana kebudayaan itu menjadi alat manusia lebih mengagungkan Tuhan karena hal-hal yang diciptakan manusia itu dalam kebudayaan. Sesuai dengan yang Mangunwijaya paparkan bahwa kita tidak perlu membuat dualisme antara kebesaran manusia dan keagungan Allah (1988. Hal. 34). Dalam puisi ini, unsur sakral dan profan saling berelasi satu dan lainnya dalam setiap baris dan baitnya. Contohnya pada bait pertama terdapat kata jihad (unsur sakral) lalu perang (unsur profan), ketiga unsur sakral tersebut memberikan penjalasan kepada unsur profan bahwa ada beberapa peperangan belaka yang berdalihkan jihad.

Akulirik dalam puisi ini memaparkan kekecewaannya terhadap beberapa individu, kelompok atau golongan yang merupakan hasil dari Capitalisme. Menurut Barker (2002) Capitalisme adalah kuasa terstruktur yang berada dibalik ketidaksetaraan manusia sebagai salah satu akibat dari ekploitasi sistem kelas yang tidak hanya menghasilkan perbedaan ekonomi tetapi juga menyokong ketidakadilan di dalam kuasa budaya. Dengan menggunakan unsur sakral dan profan akulirik mengkritik perilaku-perilaku ‘kalian’ yang ada dalam kehidupan sosial masyarakat. Menurut Bertolt Brecht, sebuah karya bukan hanya sebagai cerminan yang menggambarkan realitas tetapi juga sebuah palu yang dipakai untuk membentuk (menghancurkan) kenyataan itu sendiri. Penggambaran yang disajikan dalam puisi ini mencerminkan capitalisme dan juga mengkritik hasil dari budaya tersebut. Pada setiap baitnya akulirik mengkritik hal yang berbeda-beda namun tetap berkaitan. Menurut saya, terdapat empat kritik sosial yang dihadirkan dalam puisi Ada Apa dengan Kalian yang ditandai dengan pertanyaan ‘Ada apa dengan kalian?’ pada setiap akhir baitnya. Contohnya kritikan sosial pada fenomena di tiga bait pertama,

 

Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat

Sambil terus mensekutukan diri kalian dengan Tuhan penuh semangat

Berjihad di jalan kalian Berjuang menegakkan syariat kalian

Memerangi hamba hambaNya yang seharusnya kalian ajak ke jalanNya

Seolah olah kalian belum tahu bedanya

Antara mengajak yang diperintahkanNya

Dan memaksa yang dilarangNya

 

Kalian kibarkan Rasulurrahmah Al Amien dimana mana

Sambil menebarkan laknatan lil’aalamien kemana mana

 

Ada apa dengan kalian?

 

Dalam baris tersebut adanya kritik sosial kepada individu ataupun golongan yang selalu mengagung-agungkan asma Tuhan dan pembenaran mereka sendiri atas nama agama untuk melakukan hal-hal yang dia atau mereka anggap ‘benar’. Dia atau mereka berdalih atas nama jihad untuk memerangi yang mereka anggap tidak berada dijalan-Nya dengan menggunakan cara yang salah. Apabila dilihat dari konteks sosial, individu atau golongan yang dimaksud dalam penggalan bait tersebut adalah individu dan golongan-golongan yang melakukan pertumpahan darah atau perang (adanya diksi memerangi) dan melakukan pemaksaan atas keyakinan yang mereka anut dengan cara memaksakan kehendak mereka dan memusnahkan siapa saja yang dianggapnya tidak berada dijalan yang mereka anggap ‘benar’. Akan tetapi, dalam bait itu juga akulirik memaparkan apabila ada kemungkinan para individu atau golongan-gologan tersebut mengetahui bahwa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang tidak boleh dipaksakan,bahwa mereka dapat membedakannya. Individu dan golongan-golongan tersebut menunjukkan bahwa mereka benar sedangkan yang berlawanan dengan mereka adalah kaum yang tidak akan selamat. Dalam akhir fenomena pada ketiga bait ini ditutup dengan pertanyaan ada apa dengan kalian untuk menunjukkan kekesalan akulirik pada ‘kalian’.

Selanjutnya, ‘Mulut kalian berbuih akhirat Kepala kalian tempat dunia yang kalian anggap nikmat’. Fenomena yang ada pada bait keempat dan kelima menurut saya merupakan kritik sosial yang ditujukan kepada golongan orang-orang yang terus berbicara mengenai agama akan tetapi dia tetap melakukan hal-hal yang bersifat duniawi.  Pembanding antara diksi akhirat dan nikmat pada dua baris ini menunjukkan bahwa unsur sakral dan profan dapat berkaitan dalam menjelaskan satu sama lain. Tentu saja, pada akhir bait akulirik kembali mengulang pertanyaannya, ada apa dengan kalian.

Pada bait keenam, tujuh dan delapan masih, menurut saya akulirik masih mengekspresikannya kepada individu ataupun golongan yang sama seperti yang dipaparkan pada bait keempat dan kelima. Akan tetapi golongan pada ketiga bait ini lebih umum.

 

Kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla
Tapi malas memakmurkannya
Kalian bangga menjadi panitia zakat dan infak
Seolah olah kalian yang berzakat dan berinfak
Kalian berniat puasa di malam hari
Dan iman kalian ngeri
Melihat warung buka di siang hari
Kalian setiap tahun pergi umrah dan haji
Tapi kalian masih terus tega berlaku keji
Ada apa dengan kalian?

 

Kritik sosial pada bait-bait ini merujuk pada semua orang yang melakukan peribadatan-peribadatan yang hanya untuk memberikan kesan baik terhadap orang lain dan manfaat dari peribadatan tersebut tidak mencerminkan perilaku mereka. Hal ini terlihat pada baris ‘kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla tapi malas memakmurkannya’. Pada tiga bait di atas mengkritik masyarakat yang melakukan ibadah hanya untuk pamer, seperti halnya membangun masjid hanya untuk pamer. Menurut saya diksi memakmurkannya pada baris itu mengkritik masyarakat yang berlomba-lomba membangun tempat beribadah nan megah yang terlalu berlebihan yang tanpa diimbangi dengan pemanfaatan atas penggunaan tempat beribadah dengan sebaik-baiknya bukan hanya bangunan megah untuk dipertontonkan atau mendapatkan pujian. Begitu juga dengan bait selanjutnya, individu atau kelompok masyarakat yang melakukan peribadatan hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya merupakan orang yang religious tanpa memiliki religiusitas, beribadah hanya untung pamer harta, wibawa dan ibadah yang tidak diikuti dengan perilaku yang baik. Pada akhir bait kembali ditutup dengan rasa kekesalan akulirik yang dipaparkan dalam pertanyaan ada apa dengan kalian.

Selanjutnya, keenam bait terakhir selain mengkritik pada jenis masyarakat sosial yang sama seperti bait-bait sebelumnya, bait ini juga mengkritik pada beberapa kelompok masyarakat yang lebih khusus namun berkaitan seperti pengusaha dan oknum organisasi atau kelompok dalam jajaran pemerintahan sebuah Negara. Contohnya pada bait ini akulirik mengkritik organisasi yang mengawasi pengedaran dan perijinan produk yang dikonsumsi oleh masyarakat, seperti makanan, minuman, perlengkapan mandi dan make-up dan segala produk yang dikonsumsi. Akulirik mengkritik bahwa label-label halal yang di pasangkan dalam kemasan hanyalah settingan belaka ada pada keterangan di bait berikut;

 

Dan agar terkesan sakral

Kalian gunakan sebutan mulia, label halal

 

Dan diteruskan dengan kekecewaan akulirik mengenai perhatian yang salah ditunjukkan kepada fenomena tersebut, hal apa yang harusnya diperangi malah dibiarkan begitu saja karena adanya faktor-faktor yang menguntungkan mereka sendiri tanpa mengindahkan bahwa yang mereka lakukan itu salah atau meskipun mereka menyadari itu salahmereka tidak perduli pada konsekuensi yang akan mereka terima baik di dunia ataupun di akhirat.

Kritik-kritik sosial yang telah saya paparkan dengan mengkaji puisi ini melalui bait perbait, dalam pemaparan tersebut juga dapat dilihat isu apa yang diangkat dan disajikan oleh Mustofa Bisri dalam puisi ‘Ada Apa dengan Kalian’ ini. Isu-isu dalam puisi ini adalah efek dari kapitalis ekonomi maupun sosial dan kuasa orang-orang yang dianggap lebih tinggi atas orang lain yang menurut pendapat Marx menimbulkan adanya kelas sosial dalam masyarakat. Namun, dalam puisi tidak memaparkan bagaimana reaksi orang-orang yang dirugikan oleh pihak yang berkuasa. Penulis hanya memaparkan pendapatnya mengenai golongan-golongan yang dimaksudnya karena jelas perilaku mereka sangat merugikan orang lain tanpa harus dijelaskan, seperti halnya peperangan yang berdalih jihad dan korupsi seperti yang dipaparkan oleh akulirik pada bait terakhir;

 

Kapan kalian berhenti membanguan kandang kandang babi
Di perut dan hati kalian dengan merusak kanan-kiri?
Sampai kalian mati dan dilaknati?

 

Dipaparkan bahwa tidak ada kesadaran dan dari kelompok tersebut bahwa mereka menyebabkan orang lain kesusahan ‘kalian dengan merusak kanan-kiri’.

Puisi Ada Apa dengan Kalian oleh Mustofa Bisri ini menyajikan kritik sosial yang ditimbulkan dari efek kelas sosial ekonomi dan kuasa pada individu-individu yang beribadah hanya untuk pamer ilmu dan sombong akan peribadatannya, kelompok-kelompok yang menyusahkan masyarakat lain hanya untuk kekuasaan dan kenikmatan dunia semata tanpa mengindahkan orang lain  dan golongan yang haus akan kekuasaan.

 

Referensi

Barker, Chris. 2002. Making Sense of Cultural Studies. London: Sage Publication Ltd.

Brecht, Bertolt. 2006. Paulo Freire: A Critical Encounter. Peter McLaren dan Peter Leonard (Penyunting). United Kingdom: Routledge.

Bisri, Mustofa. Ada Apa dengan Kalian.

Mangunwijaya, Y.B. 1988. Sastra dan Religiositas. Yogyakarta: Kanisius.

Leave a Reply