Page 1
Standard

Perempuan dalam Budaya Patriarki

 image

 

Photo by Google, search key Gender ads

 

Gambar diatas menampilkan dua orang dengan jenis kelamin (gender) yang berbeda. Perempuan dan Laki-laki. Laki-laki itu memasukkan baju-baju kotor kedalam mesin cuci, yang ternyata dari samping mesin cuci itu, bisa terlihat atau ‘transparan’, yaitu seorang perempuan sedang mencucikan pakaian-pakaian kotor si laki-laki. Menurut saya, saya melihat metafora seperti ini hampir mencerminkan kondisi posisi Antara perempuan dan laki-laki dalam ranah kehidupan. Kebudayaan manusia yang terbentuk akibat doktrin-doktrin yang di bentuk dalam setiap aspek kehidupan dan aktifitas-aktifitas manusia,  Bekker memberikan konsep, “budaya adalah hasil dari setiap aktifitas manusia.”. Kemudian pstriarki pun menjadi salah satu budaya manusia.

 

Ketimpangan gender yang didominasi oleh lebih tingginya ‘kedudukan’ laki-laki daripada perempuan telah menjadi hal yang dipercayai hampir oleh semua orang. Perbicangan mengenai ‘kedudukan’ ini bahkan ‘didukung’ dan/atau ‘diperkuat’ oleh budaya, agama, moral, bahasa, sastra, sejarah, dan norma. Seluruh aspek kehidupan mendukung laki-laki atau hal-hal yang bernilai maskulin sebagai sesuatu yang dianggap lebih tinggi

 

Ideologi patriarki yang terus bertahan sejak dulu hingga saat ini ternyata bukan hanya dilanggengkan oleh aspek-aspek yang telah saya sebutkan sebelumnya, meskipun ideologi ini menghasilkan kedudukan gender yang tidak setara dan meninggikan posisi laki-laki dan/atau maskulinitas dalam kehidupan sosial ternyata dalam praktik kelangsungan ideologi ini diteruskan ke generasi-generasi baru oleh kaum perempuan itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Toril Moi, “it follows that the very fact of being female does not necessarily guarantee a feminist approach.” (hal. 120) tidak semua perempuan merupakan penganut ideologi feminis, sebab pada kenyataan perempuanlah yang melanggengkan patriarki. Seorang Ibu, perempuan, mengajarkan pada anaknya, perempuan, bahwa dia harus dapat dan/atau mahir dalam mengerjakan ‘tugas’ perempuan seperti memasak, menjahit, membersihkan rumah, dan bermain dengan hal-hal yang feminin, terikat oleh hal-hal taboo, tidak diperbolehkan bermain permainan yang bersifat maskulin seperti bola, mobil. Sedangkan anak laki-laki diperbolehkan melakukan apapun yang mereka mau. Terlebih lagi bahwa perempuan mempunyai 3 kewajiban yang selalu membayangi hidupnya, anak yang berbakti pada orang tua, kelak besar nanti mengabdi kepada suami, dan setelah mempunyai anak harus merawat anak dengan sebaik mungkin, seperti yang Shoshana Felman paparkan (hal. 2) “The social role assigned to the woman is that of serving an image, authoritative and central, of man: a woman is a first and foremost a daughter/ a mother/ a wife.” Bahkan dalam agama,  disebutkan bahwa perempuan (istri) diwajibkan ‘berbakti’ kepada suaminya.

 

Toril Moi juga berpendapat (hal,. 118), “there is no pure feminist or female space from which we can speak. All ideas, including feminist ones, are in this sense ‘contaminated’ by patriarchal ideology.”  Pandangan ini memaparkan bagaimana ideologi feminis ataupun perempuan tidak ada yang murni menolak ideologi patriarki karena semua gagasan, termasuk feminis, sudah terkontaminasi oleh ideologi patriarki. Dengan kata lain, tidak hanya laki-laki yang mendapatkan keuntungan dalam ideologi ini, melainkan juga perempuan. Perempuan mendapatkan keuntungan yang perempuan sendiri ‘nikmati’, contohnya, karena perempuan dianggap mahluk yang lebih ‘lemah’ daripada laki-laki dalam situasi tertentu, seperti ada perempuan yang berdiri di dalam bus (tidak mendapakan tempat duduk) laki-laki ‘merasa berkewajiban’ dan perempuan ‘merasa lebih berhak’ untuk duduk, dengan alasan ‘norma’ kesopanan, yang lagi-lagi ideologi patriarki ‘dibungkus’ kedalam norma.

 

Perempuan selalu diposisikan dalam keadaan pasif, itulah yang diciptakan oleh patriarki untuk perempuan. Keadaan ini sangat terlihat dalam karya-karya sastra, seperti; novel, drama, puisi, bahkan dalam cerita anak-anak.“From dream to dream, and always in second position,” pendapat yang dikemukakan oleh Helene Cixous (hal. 43) ungkapkan. Contohnya dalam cerita dongeng untuk anak-anak, seperti Cinderella, Sleeping Beauty, dan Snow White. Mereka adalah perempuan yang bernasib malang dan baru bisa bahagia setelah ‘diselamatkan’ oleh laki-laki. Hal ini juga diperkuat oleh moral dan norma. Tidaklah sesuai dengan moral dan norma apabila perempuan menjadi individu yang lebih agresif daripada laki-laki. Perempuan selalu menjadi pihak yang ‘menunggu’ (pasif) laki-laki untuk bergerak lebih dulu, dengan alasan ‘sudah kodratnya’ atau malu. Begitu juga dalam sejarah sastra, sebelum tahun 1960an penulis perempuan tidak bisa menerbitkan tulisanya menggunakan nama asli, melainkan menggunakan nama laki-laki sebagai nama pena, setelah itu tulisannya baru bisa dipublikasikan. Dalam bahasa, bahasa Inggris salah satunya, bahasa Inggris untuk perempuan adalah Woman yang merupakan kepanjangan dari bahasa Inggris untuk laki-laki Man.

 

Kuatnya doktrin yang ‘mencuci’ otak baik laki-laki dan perempuan membuat patriarki sebagai salah satu budaya yang sulit untuk dihilangkan yang ada di Indonesia, bahkan di dunia.  Akan tetapi sebagai perempuan kita harus bisa memilah dan hati-hati akan ideologi patriarki, seperti tagline yang tertulis pada iklan “Life is too short for THE WRONG JOB”

 

Bibliography

 

Cixous, H. (1981). Castration or Decapitation. Journal of Women in Culture and Society, 7(1), 43.

 

Felman, S. (1975). Woman and Madness. Diactitics, 5(04), 2.

 

Moi, T. (1989). Feminist, Female, Feminine. The Feminist Reader, 118-120.