Page 1
Standard

Simbolisasi Seks dalam Cerpen ‘Sepatu Bot’ Karya Emile Zola

(Artikel ini sudah dipresentasikan dan diterbitkan dalam  prosiding seminar HISKI Universitas Sanata Dharma, yang dapat didownload pada laman http://bit.ly/prosidinghiski2017)

Simbolisasi Seks dalam Cerpen ‘Sepatu Bot’ Karya Emile Zola

 

Indah Wulansari

Universitas Indonesia

wulansariindah84@gmail.com

 

Abstrak

Cerita pendek ‘Sepatu Bot’ (2016) karya Emile Zola yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anton Kurnia menyajikan simbol-simbol seksualitas yang merepresentasikan tubuh tokoh si Perempuan dalam cerita. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana Zola menyajikan simbol-simbol seksualitas yang merepresentasikan tubuh perempuan sebagai bentuk penggambaran kuasa melalui sudut pandang laki-laki. Konsep yang digunakan untuk menganalisis cerita pendek ini adalah konsep semiotik Chandler (2007), konsep tubuh Butler (1993) dan kecantikan Wolf (2004), dan konsep patriarkal dan feminis Figes (1987). Konsep semiotik Chandler akan digunakan untuk menganalisis simbol-simbol yang menggambarkan tubuh perempuan. Butler dan Wolf menyajikan konsep tubuh dan kecantikan untuk memaparkan hasil dari representasi simbol yang terpaparkan. Sedangkan, konsep Figes digunakan untuk melihat hubungan antara tokoh si Perempuan dan si Bangsawan dalam cerita. Pemaparan simbol-simbol seksualitas dalam cerpen menunjukkan adanya penempatan kuasa atas siapa yang memandang dan dipandang. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemaparan simbol-simbol yang dipaparkan oleh tokoh Bangsawan untuk menggambarkan tubuh tokoh perempuaan dan kuasa tokoh Bangsawan pada akhirnya menghancurkan kuasa patriarki yang dikokohkan selama narasi berlangsung.

 

Kata kunci: semiotik, seksualitas, representasi tubuh perempuan, feminis, Emile Zola.

 

 

A. Pengantar

Cerita pendek Sepatu Bot (2016) karya Emile Zola diterjemahkan dari The Maid and the Dauber dalam antologi Famous French Stories  pada tahun 1947 menyajikan penggambaran tokoh perempuan dari sudut pandang orang ketiga yang mengikuti sudut pandang tokoh laki-laki. Sepatu Bot diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga yang mengikuti pandangan tokoh laki-laki, Bangsawan. Penggambaran tokoh Perempuan disajikan sebagai sesuatu yang dipandang sensual, dapat membangkitkan sensasi seksual dan memunculkan kepuasan pribadi bagi tokoh Bangsawan dengan membandingkan tubuh tokoh Perempuan dengan benda-benda lain. Dalam cerita pendek ini, tubuh Perempuan disajikan sebagai objek pandang dan seksual Bangsawan. Tokoh Bangsawan menggambarkan tubuh tokoh Perempuan dengan konstruksi-konstruksi yang ditetapkan padanya. Penggambaran tubuh tokoh Perempuan dalam cerita ini dipandang memalui sudut pandang laki-laki yang merepresentasikan tubuh dan kecantikan perempuan. Meskipun begitu, selain representasi tubuh dan kecantikan perempuan, saya menemukan bahwa pembandingan tersebut memunculkan metafora sebagai simbolisasi seks Perempuan yang disajikan melalui pandangan Bangsawan sebagai simbolisasi seks yang menghadirkan unsur seksualitas dan sensualitas pada tokoh Perempuan dalam cerita pendek ini.

Penggambaran atas tubuh dan kecantikan tokoh Perempuan juga mewakili wacana atas isu feminis dan patriarkal yang membahas mengenai subjek objek. Untuk menganalisis cerita pendek ini, saya menggunakan konsep semiotik Chandler (2007) dan Johansen (2005) dan konsep tubuh milik Butler (1993) dan kecantikan milik Wolf (2004). Penelitian ini akan menganalisis beberapa permasalahan yang ditemukan dalam cerita. Pertama, bagaimana tokoh laki-laki menggambarkan tubuh dan kecantikan tokoh Perempuan melalui metafora-metafora simbol. Kedua, bagaimana penggambaran simbol-simbol yang disajikan mewakili wacana feminis dan patriarkal dalam hubungan antara tokoh laki-laki dan perempuan. Ketiga, melalui pembahasan kedua permasalahan itu kesimpulan apa yang dapat ditarik dalam wacana hubungan feminis dan patriarkal dalam cerpen.

 

 

B.  Simbol-simbol atas tubuh tokoh Perempuan melalui sudut pandang tokoh Bangsawan

Dalam cerita pencek Sepatu Bot (2016) karya Zola ini peniliti melihat adanya isu seksualitas yang terepresentasi melalui simbol-simbol berdasarkan penggambaran tokoh laki-laki. Seksualitas yang terpaparkan adalah tubuh tokoh perempuan. Kriteria tubuh tokoh perempuan digambarkan dengan jelas dengan menggunakan simbol-simbol seperti batu pualam, anggur, mahkota, dan benda-benda berharga lainnya. Dalam cerita pendek ini, tubuh perempuan disajikan secara sensual seakan-akan dengan sengaja hendak menghadirkan sensasi seksual dan kepuasan bagi yang melihatnya. Terlihat pada awal narasi Sepatu Bot, tokoh Bangsawan mengenalkan tokoh Perempuan melalui sudut pandangnya yang difokuskan pada penggambaran kondisi tubuhnya, 

Perempuan itu masih terbaring di tempat tidur, setengah telanjang. (Zola. 2016: 558)

Penggambaran tersebut menunjukkan bahwa posisi tokoh Perempuan dalam teks merupakan tokoh yang dipandang sedangkan tokoh Bangsawan merupakan tokoh yang memandang. Posisi tersebut seakan-akan membentuk konstruksi yang memberikan kesan bahwa tubuh tokoh Perempuan adalah objek bagi tokoh Bangsawan.

Sebagaimana yang Butler (1993) paparkan bahwa tubuh dapat dilihat sebagai sebuah konstruksi yang muncul seperti yang sudah ditetapkan oleh konstruksi tersebut. Hal itu memberikan makna bahwa karakter tersebut tidak dapat hadir, bertahan atau hidup tanpa penggambaran tubuhnya yang diproduksi oleh skema yang sudah ditetapkan. Dalam Sepatu Bot, tubuh tokoh Perempuan selalu digambarkan oleh sudut pandang tokoh Bangsawan. Dengan demikian, keberadaan tokoh perempuan dalam cerpen baru dapat hadir dalam narasi setelah adanya penggambaran yang dilakukan tokoh Bangsawan atas tubuhnya. Hampir keseluruhan narasi menggambarkan sosok tokoh Perempuan yang disajikan dengan menggambarkan kemolekkan, keindahan dan kesensualitasan tubuhnya. Sebagaimana pandangan masyarakat patriarki yang mengkontruksikan bahwa tubuh perempuan memang memiliki citra yang seperti itu, dipandang sebagai objek seksual dan sensual bagi yang memandangnya. Hal tersebut dipaparkan oleh tokoh Bangsawan yang menggambarkan si Perempuan yang begitu menggoda meskipun dalam keadaan diam,

Lehernya yang jenjang begitu menggoda, mengintip malu-malu dari balik helai-helai rambutnya yang kemerahan. Gairah terbangkit apabila mata memandang leher yang berkilau lembut itu. (Zola. 2016: 558). 

Penggambaran seperti itu terus-menerus dilakukan oleh tokoh Bangsawan. Butler (1993) mengungkapkan bahwa konstruksi merupakan suatu proses pernyataan ulang yang dimana subjek dan tindakan muncul secara keseluruhan yang prosesnya terus diulang tidak berhenti dan tetap berlanjut. Dari konstruksi itulah, terlihat jelas bahwa tokoh Bangsawan menempatkan posisi tokoh Perempuan sebagai objek yang dibentuk oleh dirinya sebagai subjek. Pemaparan tersebut menunjukkan bahwa tokoh Bangsawan memiliki kuasa lebih untuk menggambarkan tokoh Perempuan secara terus-menerus dan berkelanjutan.

Selain mengkonstruksi tubuh tokoh Perempuan dengan pemaparan keindahan-keindahan tubuhnya, tokoh Bangsawan juga membandingkan tubuh tokoh Perempuan dengan menggunakan simbol-simbol yang dapat merepresentasikan aspek seksualitas dan sensualitas tokoh Perempuan. Perbandingan tersebut membentuk metafora yang dapat menciptakan tanda yang merepresentasikan hal lain. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Johansen (2005) bahwa apapun itu dapat berfungsi sebagai tanda dan tanda adalah sebuah fenomena yang dapat merepresentasikan dan saling berhubungan dengan fenomena lain seperti benda, peristiwa, perilaku, proses yang berulang, keadaan atau situasi emosional dan seterusnya. Pemaparan tubuh tokoh Perempuan dalam teks dibandingkan dengan objek-objek lain yang tertangkap pandangan tokoh Bangsawan. Objek-objek lain tersebut menjadi simbol-simbol yang merepresentasikan seksualitas dan sensualitas tokoh Perempuan dalam sudut pandang Bangsawan.

Selanjutnya, untuk menganalisis tanda-tanda yang dipaparkan oleh tokoh Bangsawan sebagai simbol yang merepresentasikan seks atas tokoh Perempuan, peneliti menggunakan konsep semiotik dari Daniel Chandler (2007). Chandler (2007) merujuk pemikiran Eco yang memaparkan bahwa semiotik berfokus pada segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai tanda. Dengan kata lain, semiotik tidak hanya mempengaruhi wacana konsep atas apa yang dirujuknya sebagai ‘tanda’ dalam percakapan sehari-hari, melainkan segala sesuatu yang dapat mengartikan untuk sesuatu yang lain. Tokoh Bangsawan memberikan metafora pada setiap bagian dari tubuh tokoh Perempuan dengan hal lain. Hal-hal tersebut menjadi simbol seksualitas dan sensualitas yang dapat dianalisis maknanya.

Tokoh Bangsawan merepresentasikan rambut tokoh Perempuan layaknya sebuah mahkota. Seperti yang kita tahu bahwa mahkota adalah hiasan para ratu dan raja yang dipasangkan dikepalanya begitu indah, berharga dan juga sebagai simbol atas pembeda kedudukannya dengan rakyat jelata, begitu pula dengan rambut yang digunakan sebagai pembeda antara perempuan dan laki-laki. Istilah rambut adalah mahkota tidak berlaku pada laki-laki karena dikonstruksikan oleh kaum laki-laki dan hanya berlaku pada kaum perempuan. Pada masyarakat patriarki, mahkota selalu disimbolkan untuk merepresentasikan rambut perempuan ‘rambut adalah mahkota perempuan’, bahwa rambut dikonstruksikan sebagai sesuatu yang sangat penting bagi perempuan layaknya mahkota, yang kemudian apabila rambut itu tidak panjang terurai indah, penggambaran tersebut tidak sesuai untuk konstruksi perempuan. Begitu pula dengan tokoh Perempuan dalam teks ini, dia digambarkan dengan rambut nan panjang terurai indah yang dapat disimpulkan bahwa penggambaran tersebut merupakan bentuk konstruksi atas tubuh perempuan dalam budaya patriarki. Fenomena tersebut menjadi simbol yang dapat diartikan bahwa memang sudah seharusnya simbol rambut seperti mahkota para bidadari surga dimiliki oleh perempuan yang ingin dianggap menarik oleh masyarakat.

Selain rambut, bagian tubuh yang lain juga dibandingkan dengan simbol lainnya, yaitu warna kulit. Dalam teks, tokoh Bangsawan menggambarkan bahwa tokoh Perempuan memiliki kulit leher yang lembut, putih dan bahu seperti pualam. Narasi tersebut tidak lain memaparkan warna kulit tokoh Perempuan yang putih direpresentsikan seperti batu pualam. Kulit putih tokoh Perempuan yang disandingkan dengan batu pualam atau dengan sebutan lain adalah batu marmer, yang dikenal dengan warna putihnya, merepresentasikan fenomena atas konstruksi warna kulit yang ideal untuk kaum perempuan. Selain itu, penggambaran warna kulit putih pada tokoh si Perempuan juga merepresentasikan simbol sensualitas yang disandingkan pada kulitnya, seakan-akan kulit putih bak pualam tersebut dapat berperan sebagai pembangkit gairah bagi siapapun yang memandang tubuhnya,  

gairah terbangkit apabila mata memandang leher yang berkilau lembut itu. (Zola. 2016: 558)

Narasi tersebut menjelaskan bahwa tokoh Perempuan dalam teks merupakan objek seksual yang dapat membangkitkan hasrat.

            Akan tetapi, penggambaran-penggambaran tokoh Bangsawan atas tubuh tokoh Perempuan dengan menggunakan simbol tidak secara jelas mengatakan apakah parasnya digambarkan sebagai perempuan yang cantik. Hal tersebut tidak dipaparkan secara jelas dalam narasi,

Cantikkah dia? Sulit diungkapkan. Wajahnya tersembunyi oleh rambut yang lebat (Zola. 2016: 559­),

bahkan ketika wajahnya tidak lagi tersembunyi tidak ada narasi yang mengungkapkan bahwa perempuan itu cantik karena setelahnya tokoh Bangsawan terus menggambarkan tubuh Perempuan dan betapa sensual dirinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam teks ini bukanlah paras yang menjadi penting untuk dikonstruksi melainkan tubuh tokoh Perempuan. Tokoh Bangsawan terus membentuk citra tokoh Perempuan sebagai mahluk yang penuh dengan kesan sensual yang menggairahkan, bahkan tokoh Bangsawan menggunakan kata ‘meracuni’ untuk memaparkan pengaruh tubuh tokoh Perempuan kepada pikiran dan birahi laki-laki, yang juga dapat berarti bahwa tokoh Perempuanlah yang bertanggung jawab atas pikiran-pikiran senonoh yang muncul dan bangkitnya birahi tokoh Bangsawan.

            Narasi tokoh Bangsawan juga secara gamblang membandingkan tokoh Perempuan dengan dekorasi dan perabotan yang ada di kamar Bangsawan. Narasi tersebut memaparkan kemewahan  dan kemegahan dekorasi kamarnya yang telah menghabiskan banyak uang untuk membentuk kamarnya seindah itu yang kemudian dia selaraskan dengan tokoh Perempuan, 

keindahan perempuan itu dan kecantikan perabotan di kamar ini. Semuanya selaras, (Hal. 560)

begitulah pandangannya. Dengan menyelaraskan tubuh Perempuan dengan kamarnya, narasi Bangsawan menunjukkan bahwa dirinya menyamakan dekorasi kamar dan Perempuan tersebut sebagai sesuatu yang sama-sama dapat dibentuk dan didekorasi ulang sesuai dengan kehendaknya, yang sama seperti tubuh perempuan yang dapat dibentuk dan dikonstruksikan sesuai dengan konsep ideal bagi masyarakat normatif.  Simbol dekorasi dan perabotan kamar sebagai benda mati yang jelas-jelas tidak dapat memberikan pendapatnya akan bentukan-bentukan dari Bangsawan, dia selaraskan dengan tokoh Perempuannya. Pembandingan tersebut memberikan makna bahwa tokoh Perempuan pada cerita ini juga tidak diberikan suara untuk memberikan pendapatnya akan konstruksi-konstruksi yang ditetapkan padanya, hanya dibentuk untuk memuaskan Bangsawan tanpa bisa menolak.

Selain menggunakan simbol mahkota, pualam, dan dekorasi kamar tokoh Bangsawan juga mengumpamakan tubuh tokoh Perempuan dengan segelas anggur yang dapat memabukkan. Penggambaran sensasi sensual pada tubuh Perempuan yang digambarkan tokoh Bangsawan seperti anggur yang memabukkan menunjukkan bahwa tidak hanya dapat meracuni tetapi juga dapat memberikan sensasi memabukkan yang dapat membuat pikiran laki-laki tidak dapat berpikir dengan jernih setiap kali memandangnya.  Simbol-simbol yang digunakan tokoh Bangsawan untuk merepresentasikan tubuh tokoh Perempuan dapat dilihat sebagai konstruksi-konstruksi atas bentuk tubuh ideal bagi perempuan yang dibentuk oleh masyarakat budaya patriarki, bahwa perempuan harus bertubuh putih seperti pualam, rambut seindah mahkota, lekuk tubuh yang menggairahkan, perempuan yang sempurna pada setiap bagian tubuhnya dan ketidakmampuan untuk bersuara. Hal tersebut semata-mata untuk menjadi objek pandangan kaum laki laki.

Setelah penyajian metafora-metafora atas citra tubuh tokoh Perempuan yang diselaraskan dengan simbol-simbol benda mati, tokoh Bangsawan juga membandingkannya dengan seekor kuda yang dilihat Bangsawan melalui jendela kamarnya. Dalam teks, narasi Bangsawan memaparkan bahwa dirinya melihat seekor kuda yang tidak bisa bangkit dan dipaksa bangkit hingga akhirnya bangkit kembali. Setelah itu, dirinya melihat Perempuan yang masih terbaring di atas kasur dan tidak bangkit. Ketika tokoh Perempuan bangkit dan begitu juga kuda yang ada diluar, tokoh Bangsawan menunjukkan rasa puas terhadap hal itu. Hubungan dari keduanya memperlihatkan bahwa kuda adalah hewan peliharaan dan dalam teks ini tokoh si Perempuan juga merupakan simpanan Bangsawan yang dirawat olehnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tokoh Bangsawan menyamakan tokoh Perempuan sebagai objek peliharaan yang dapat dia perintahkan.

Selain membandingkan dengan objek-objek sebagai simbol seksualitas, tokoh Bangsawan juga menempelkan sifat-sifat spesifik yang dikonstruksikan sebagai sifat-sifat yang harus dimiliki oleh perempuan. Dalam teks, ketika tokoh Bangsawan membandingkan tokoh Perempuan dengan objek-objek yang sudah disebutkan di atas, tokoh Bangsawan juga menyandingkan sifat-sifat tertentu kepadanya seperti malu-malu saat berniat untuk menggoda. Selanjutnya, ditambah lagi dengan sifat-sifat lainnya

keliaran dan kekanak-kanakkan, serta keberanian dan kepolosan berbaur. Menggoda hasrat untuk mengecup. (Zola. 2016: 558-559).

Sifat-sifat tersebut dikonstruksikan sebagai sifat pada tokoh Perempuan itu dan juga menunjukkan adanya sifat inferior seperti, liar, kekanak-kanakkan, berani, dan polos yang menimbulkan keinginan untuk menguasai tokoh Perempuan dengan sifat tersebut. Ditambah lagi dengan narasi yang memaparkan bahwa sifat-sifat tersebut dapat memancing tokoh Bangsawan untuk menciumnya dan menunjukkan siapa yang memegang kuasa atas tokoh Perempuan.

 

 

C. Relasi tokoh Perempuan dan tokoh Bangsawan

Dalam teks, pemaparan simbol-simbol tersebut hanya digunakan untuk merepresentasikan tokoh Perempuan melalui sudut pandang tokoh laki-laki, tokoh Bangsawan. Relasi antara tokoh Perempuan dan tokoh Bangsawan bukan hanya terlihat melalui penggambaran tubuh tokoh Perempuan melalui sudut pandang tokoh Bangsawan tetapi, juga melalui pemaparan nama yang mengidentitfikasi status antara kedua tokoh tersebut. Cerpen ini tidak memberikan nama pada tokoh perempuan maupun laki-laki. Meskipun begitu, ada perbedaan antara penyebutan tokoh, tokoh perempuan hanya disebut dengan tokoh Perempuan sedangkan tokoh laki-laki disebut dengan menggunakan status sosialnya di masyarakat, yaitu Bangsawan. Penyebutan ini mengidentifikasi bahwa kedudukan tokoh laki-laki lebih dielu-elukan daripada tokoh perempuan yang terlihat pada penyebutan status saat memperkenalkan tokoh laki-laki. Selain kuasa dalam penjabaran status dalam nama, kuasa tokoh Bangsawan juga terlihat pada narasi yang disuarakan melalui sudut pandang tokoh Bangsawan. Tokoh Perempuan dalam teks tidak diberikan suara dari awal cerita hingga akhir, tokoh Perempuan selalu dijadikan objek pandang. Kecantikan tokoh Perempuan memang tidak dipaparkan secara jelas oleh tokoh Bangsawan bahwa dirinya cantik, akan tetapi penjabaran atas simbol-simbol tersebut mengidentifikasikan bahwa tokoh Perempuan dalam cerpen ini terkungkung pada mitos kecantikan yang ditetapkan oleh tokoh Bangsawan. Wolf (2004) memaparkan bahwa mitos kecantikan mempunyai campur tangan yang mengambil alih kontrol sebagai kontrol sosial. Tokoh Perempuan tidak hanya terdominasi oleh tokoh Bangsawan tetapi juga oleh mitos kecantikan. Mitos kecantikan memang tidak secara langsung menjerat tokoh Perempuan tetapi melalui penggambaran tokoh Bangsawan yang menetapkan standar kecantikan baginya.

Seperti halnya yang dipaparkan oleh Figes (1987) bahwa penjabaran atas sesuatu yang ideal diciptakan melalui sudut pandang laki-laki baik itu gambaran mengenai laki-laki maupun perempuan. Dalam cerita ini, penggambaran tubuh tokoh Perempuanlah yang terus digambarkan dan distabilkan sebagaimana tokoh Bangsawan melihatnya karena hampir keseluruhan narasi dalam cerita ini terus menggambarkan sosok tokoh Perempuan melalui pembandingan simbol-simbol. Ketika penggambaran tersebut tidak sesuai dengan harapan atas citra tubuh perempuan yang telah ditetapkan (tokoh perempuan harus digambarkan cantik, bersih, mulus dan mempesona), maka tokoh Perempuan tersebut mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan. Begitu pula yang terjadi pada tokoh Perempuan di teks ini, ketika dirinya tidak lagi digambarkan menarik saat tubuhnya dipenuhi dengan coreng-moreng noda lumpur dari sepatu bot Bangsawan yang dia bersihkan, tokoh Bangsawan menampar tokoh Perempuan atas ketidakpuasaannya atas perilaku tokoh Perempuan yang membersihkan sepatunya. Gambaran tokoh Perempuan yang sejak awal digambarkan dengan banyak simbol yang menjadikannya begitu cantik dan sensual rusak hanya dengan satu paparan peristiwa. Pada akhir cerita, semua simbol-simbol yang menjadi konstruksi-konstruksi yang telah dibentuk oleh tokoh Bangsawan melalui sudut pandangnya terbantahkan. Hal tersebut ditunjukkan ketika konstruksi atas tubuhnya yang putih, rambutnya yang indah, lekuk tubuhnya yang menggairahkan semua konstruksi tersebut dihancurkan ketika tokoh Perempuan tersebut sedang membersihkan sepatu bot milik Bangsawan. Kondisi tubuhnya tidak lagi seindah yang digambarkan oleh tokoh Bangsawan saat awal-awal narasi, melainkan kotor penuh dengan kotoran dari lumpur sepatu bot, keadaan sekelilingnya tidak lagi menunjukkan kemewahan seperti halnya saat berada di sekitar perabotan indah di kamar Bangsawan tetapi kotoran dan debu dari sepatu. Penggambaran tersebut menghancurkan pandangan tokoh Bangsawan atas gambaran ideal tokoh Perempuan.

Seperti yang dipaparkan oleh Figes (1987) bahwa konsep laki-laki atas perempuan tidaklah objektif melainkan kombinasi antara apa yang mereka hendaki dan apa yang mereka takuti atas perempuan, hal-hal yang mereka tetapkanlah yang harus dipatuhi oleh perempuan. Kehendak tokoh Bangsawan dan apa yang ditakutinya terjadi pada tokoh Perempuan dimana si Perempuan tidak lagi memenuhi gambaran ideal yang ada di benak tokoh Bangsawan. Perilaku tokoh Perempuan tidak mematuhi keinginan Bangsawan untuk tetap menjadi cantik dan menggairahkan dan bertindak berlawanan dengan apa yang Bangsawan inginkan. Tokoh Bangsawan memaparkan bahwa dirinya sangat puas dengan tubuh tokoh Perempuan yang sangat sesuai berada di tempat tinggalnya yang begitu mewah, akan tetapi kondisi tokoh Perempuan di akhir cerita meruntuhkan itu semua dengan berpenampilan yang dianggap tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh tokoh Bangsawan dan dengan begitu hubungan mereka berakhir. Meskipun begitu, sebelum hubungan mereka berakhir tokoh Bangsawan memaparkan bahwa dirinya sangat suka melihat sepatu botnya yang selalu bersih dan mengkilap setiap harinya. Namun, dia memang tidak mengetahui siapa gerangan yang membersihkan sepatu botnya hingga begitu bersih, Bangsawan mengira bahwa pembantunyalah yang membersihkannya.

Pemaparan narasi atas pikiran Bangsawan tersebut menjelaskan bahwa meskipun hasil pekerjaan yang dilakukan oleh si Perempuan sangat memuaskan Bangsawan tetap menghukumnya dengan tamparan dipipi karena tokoh Perempuan telah melanggar konstruksinya atas tubuh tokoh Perempuan yang telah dia bangun sejak awal narasi cerita dengan membuat tubuhnya kotor dan penuh dengan noda lumpur dari sepatu bot. Seluruh bagian tubuhnya yang direpresentasikan oleh simbol-simbol mahkota, pualam, anggur dan lainnya digambarkan ulang oleh tokoh Bangsawan dengan cara yang merusak penggambaran awal seperti halnya rambut dan bahunya basah oleh keringat dan tubuhnya kotor dengan bintik-bintik hitam. Akan tetapi, dalam penggambaran kondisi tubuh tokoh Perempuan yang demikian, pada akhirnya tokoh Perempuan digambarkan memiliki emosi dan melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh dirinya sendiri tidak seperti gambar atau boneka yang hanya menjadi obyek yang terdefinisi ketika tokoh Bangsawan mendefinisikannya. Tokoh Perempuan digambarkan bahagia saat Bangsawan memergokinya sedang membersihkan sepatu bot itu. Pada saat itu juga muncul suara tokoh Perempuan yang memaparkan alasan dirinya suka sekali membersihkan sepatu bot tokoh Bangsawan. Tokoh Perempuan selalu teringat dengan masa kecilnya ketika ayahnya yang seorang penyemir sepatu, hal itu memberikannya kebahagaiaan. Keputusan tokoh Perempuan untuk membersikan sepatu bot merupakan pilihannya sendiri bukan karena adanya dominasi atau paksaan dari tokoh Bangsawan. Hal tersebut juga semakin meruntuhkan konstruksi bahwa tokoh Perempuan tidak memiliki kuasa karena melalui peristiwa tersebut menunjukkan adanya kuasa terutama kuasa atas dirinya sendiri. Selain itu, kuasa tokoh Perempuan juga terlihat ketika dirinya memutuskan untuk membayar semua pemberian yang telah diberikan oleh tokoh Bangsawan selama mereka bersama. Meskipun pada awal teks, tokoh Bangsawan menunjukkan adanya konstruksi budaya patriarki atas tubuh Perempuan, namun pada akhirnya semua konstruksi-konstruksi itu runtuh melalui perilaku tokoh Perempuan yang membuat tubuhnya terlepas dari semua konstruksi awal.

 

 

Kesimpulan

Cerita pendek Sepatu Bot (2016) menyajikan penggambaran simbolisasi seks atas tubuh tokoh Perempuan yang dikonstruksikan oleh tokoh Bangsawan. Dalam cerpen ini, tubuh tokoh Perempuan dibandingkan oleh simbol-simbol seperti mahkota, batu pualam, anggur, dekorasi kamar, dan kuda. Simbol-simbol tersebut menunjukkan adanya konstruksi atas tubuh tokoh Perempuan yang dibentuk oleh tokoh Bangsawan melalui sudut pandangnya dalam teks. Konstruksi tokoh Bangsawan atas tubuh tokoh Perempuan memperlihatkan bahwa dirinya memiliki kuasa atas tokoh Perempuan dan tidak sebaliknya. Akan tetapi, pada akhir cerita, konstruksi-konstruksi tersebut runtuh oleh perilaku dan kondisi tokoh Perempuan yang melanggar bentukkan konstruksi atas dirinya. Pada akhir cerita dapat dikatakan bahwa konstruksi masyarakat patriarki atas pandangan tubuh perempuan hancur.  Oleh karena itu, penyajian atas penggambaran kondisi tokoh Perempuan pada akhir cerita meruntuhkan semua konstruksi-konstruksi tubuh tokoh Perempuan yang semula direpresentasikan melalui simbolisasi seks dalam narasi.

 

 

Referensi

Butler, Judith. (1993). Bodies that Matter on the Discursive Limits of Sex. New York: Routledge.

Butler, Judith. (1999). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. New York: Routledge.

Chandler, Daniel. (2007). Semiotics The Basic. New York: Routledge.

Figes, Eva. (1987). Patriarchal Attitudes Women in Society. New York: First Parsea.

Johansen, Jorgen Dines dan Svend Erik Larsen. (2005). Signs in Use: An Introduction to Semiotik. (Diterjemahkan oleh Gorlee, Dinda L. dan John Irons). New York: Routledge. (Karya asli diterbitkan pada 2002).

Wolf, Naomi. (2004). Mitos Kecantikan. (Diterjemahkan dari The Beauty Myth: How Images of Beauty are Used Against Women oleh Swastika, Alia). Yogyakarta: Niaga. (Karya asli diterbitkan pada 2002).

Zola, Emile. (2016). Sepatu Bot. Dalam Kurnia, Anton (Penterjemah), Cinta Semanis Racun 99 Cerita dari 9 Penjuru Dunia (Hlm. 558-562).  Yogyakarta: Diva Press.

 

 

Standard

Kecantikan sebagai Eksistensi Diri dalam ‘The Mirror’ Karya Catulle Mendès

Pendahuluan

The Mirror (1910) karya Catulle Mendès diterjemahkan dari karya aslinya berjudul Le Miroir  pada tahun 1888. Cerita ini menyajikan penggambaran mitos kecantikan bagi kaum perempuan sebagai bentuk dari eksistensi mereka dalam kehidupan bermasyarakat. The Mirror (1910) diceritakan melalui narator sudut pandang orang ketiga serba tahu yang tidak terfokus pada karakter manapun. Dengan kata lain, narator dalam cerita tidak berpihak ataupun mewakili sudut pandang manapun yaitu hanya bertugas sebagai pendongeng jalannya cerita. Eksistensi diri perempuan dalam cerita ini disajikan melalui benda-benda yang memunculkan sebuah refleksi. Dalam penggambaran eksistensi tersebut, kecantikan menjadi sebuah tolak ukur bagi para tokoh perempuan untuk mendapatkan pengakuan dan menjadi eksis.

Dalam The Mirror (1910), tokoh perempuan digambarkan sangat mementingkan penampilan sebagai bukti dari eksistensi mereka dalam masyarakat. Dalam cerita, kecantikan ditampilkan melalui penilaian dalam sudut pandang laki-laki, tidak hanya melalui pandangan mereka tetapi juga melalui benda-benda yang menampilkan refleksi. Dengan demikian, hipotesa penulis adalah cerita ini menyajikan kecantikan perempuan sebagai bukti eksistensi mereka. Kecantikan menjadi hal yang penting untuk membuktikan mereka ada yang kemudian menuntun penulis pada makna simbolik dari benda-benda yang merepresentasikan bayangan refleksi. Oleh karena itu, dalam bab analisis, penulis akan melihat bagaimana kecantikan perempuan dikonstruksi dalam cerita ini. Kemudian, bagaimana penggambaran kecantikan menjadi hal yang penting bagi eksistensi tokoh perempuan melalui benda-benda yang merepresentasi refleksi bayangan. Dalam menganalisis data ini, penulis menggunakan konsep gender dan kecantikan Wolf (2002), konsep eksistensialime Sartrè (1966), dan konsep semiotik milik Johansen (2005).

 

Sinopsis

The Mirror (1910) bercerita mengenai kisah di sebuah kerajaan dengan seorang ratu yang digambarkan tidak menawan. Sebab, digambarkan tidak menawan, dan tidak ingin ada perempuan lain yang menganggap dirinya lebih cantik daripada dirinya, ratu memerintahkan untuk menghancurkan semua kaca yang ada. Begitu juga dengan semua hal-hal yang bisa memunculkan bayangan. Seorang gadis bernama Jacinta yang begitu cantik oleh penilaian seorang laki-laki, calon suaminya, Valentin. Kabar mengenai Jacinta yang bahagia dan segera akan dipersunting karena kecantikannya sampai pada ratu. Dalam sekejap kecantikan Jacinta berubah menjadi kejelekannya karena pendapat dari seorang nenek tua yang berpendapat bahwa Jacinta adalah mahluk paling jelek yang pernah ia temui. Mendengar pendapat tersebut, kebahagian Jacinta lenyap begitu saja dan menolak untuk menikah dengan Valentin karena menganggap bahwa laki-laki itu berbohong atas kecantikannya. Valentin membawa Jacinta bertemu dengan ratu untuk meminta pertolongannya memperbolehkan Jacinta melihat dirinya dalam cermin. Ratu menolak permintaan Valentin dan meminta kedua orang tersebut dieksekusi mati. Namun, ketika aljogo mengangkat senjatanya, kampak aljogo menampilkan refleksi wajah Jacinta dan ratu. Keduanya menjerit, Jacinta menjerit karena kecantikannya sedangkan ratu menjerit karena kejelekannya.

 

Analisis

Konstruksi kecantikan dalam The Mirror

Dalam The Mirror (1910), saya melihat adanya isu mengenai kecantikan bagi para tokoh perempuan. Kecantikan dalam cerpen ini digambarkan begitu penting bagi para tokoh perempuan. Dan kemudian, penulis anggap penggambaran kecantikan tersebut sebagai bentuk dari eksistensi diri. Para tokoh perempuan menganggap kecantikan sebagai hal yang penting untuk dapat mendefinisikan dirinya sebagai perempuan. Penggambaran kecantikan dalam cerpen ini juga dilihat sebagai konstruksi tentang bentuk fisik perempuan. Perempuan diharuskan berparas cantik untuk dapat menarik perhatian dan sebagai pembuktian eksistensi diri. Melalui sudut pandang antropologi, Wolf (2002) melihat bahwa cantik menjadi hal yang wajib dimiliki oleh perempuan agar dapat dipilih oleh laki-laki. Begitu juga dalam cerita ini, kecantikan pada tokoh perempuan merupakan suatu hal yang penting. Kecantikan dianggap sebagai standar kondisi seorang perempuan. Hal itu terlihat pada kedua tokoh perempuan dalam cerita, ratu dan Jacinta. Keduanya menjunjung ide mengenai kecantikan pada perempuan.

Meskipun begitu, karena kondisi penampilan mereka digambarkan berbeda, tanggapan atas ide tersebut berbeda pula. Ratu yang digambarkan memiliki paras yang jelek menanggapi penampilannya dengan rasa takut akan kecantikan. Menurut penulis, upaya ratu untuk menghancurkan seluruh kaca menunjukkan bahwa dirinya takut pada kondisi kecantikan yang tidak dia miliki dan pada orang yang memilikinya sebab bukan hanya kaca yang dihancurkan, tetapi juga setiap orang yang berusaha melihat diri dalam pantulan. Ratu dipaparkan tidak ingin ada perempuan yang merasa telah memenuhi kondisi kecantikan yang ideal. Oleh sebab itu, ratu mengeksekusi setiap perempuan yang mencoba untuk melihat refleksi wajah mereka. Penghancuran semua kaca juga dapat dilihat sebagai bentuk ketersiksaan ratu atas gambaran parasnya. Dirinya tidak ingin melihat refleksi parasnya sendiri, yang terlihat dalam narasi,

The queen was dreadfully ugly, and she did not wish to be exposed to the risk of meeting her own image; and, knowing herself to be hideous…” (Mendès. 1910:41).

Sedangkan, tanggapan mengenai kecantikan pada Jacinta digambarkan berbeda. Jacinta yang digambarkan memiliki paras yang cantik menunjukkan kegembiraan terhadap wajahnya. Namun, dalam teks paras ratu tidak dideskripsikan secara jelas hanya digambarkan bahwa dirinya memiliki wajah yang jelek. Penggambaran atas paras yang cantik hanya disajikan ada pada tokoh Jacinta. Akan tetapi, ada suatu ketika Jacinta digambarkan dengan paras yang jelek. Hal tersebut terlihat ketika dirinya bertemu dengan seorang perempuan tua. Pendapat perempuan tua itu membuat Jacinta merasa terpuruk. Pada kedua kondisi ratu dan Jacinta dapat dilihat bahwa kondisi kecantikan yang ditempelkan pada mereka sangat penting dan berpengaruh pada kondisi emosi dan perilaku kedua tokoh.

Kondisi kecantikan tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan dibentuk oleh pihak yang memegang andil dalam pembentukan konstruksi (Wofl, 2002). Kondisi kecantikan perempuan diatur oleh konstruksi masyarakat sebagai institusi yang memiliki hak untuk membentuk opini mengenai kecantikan perempuan, terutama kaum laki-laki. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Wolf (2002) bahwa kecantikan itu sendiri bukan terfokus pada kaum perempuan, melainkan menunjukkan kuatnya kuasa laki-laki sebagai institusi yang membentuknya. Oleh karena itu, seakan wajar apabila ada perempuan melakukan hal-hal yang dapat mempercantik diri demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Tidak hanya kecantikan dipuja-puja oleh kaum perempuan, tetapi juga oleh laki-laki. Dalam teks, kecantikan Jacinta digambarkan melalui sudut pandang laki-laki, Valentin.

Tell me the truth,’ she would say; ‘what is the color of my eyes?’

‘They are like dewy forget-me-nots.’

‘And my skin is not quite black?’

“You know that your forehead is whiter than freshly fallen snow, and your cheeks are like blush roses.’

‘How about my lips?’

‘Cherries are pale beside them.’

‘And my teeth if you please?’

‘Grains of rice are not as white.’

‘But my ears, should I be ashamed of them?’

‘Yes, if you should be ashamed of two little pink shells among your pretty curls.’ (Mendès. 1910: 41-42).

 

Menurut penulis, pemaparan pendapat Valentin di atas menjadi konstruksi atas kecantikan yang ideal dan Valentin merupakan representasi dari institusi masyarakat normatif yang membentuk kecantikan sebagai kondisi yang wajib dimiliki bagi perempuan. Dengan kata lain, teks ini menyajikan kecantikan yang diproduksi oleh pendapat laki-laki melalui mata laki-laki.

Sebagaimana kecantikan menjadi kondisi yang selalu diinginkan oleh perempuan, konstruksi atas kecantikan juga telah membuat laki-laki menginginkan perempuan dengan kecantikan ideal (Wolf, 2002). Dalam teks, kecantikan Jacinta menjadi tolak ukur akan konstruksi kecantikan ideal. Sebab, kecantikan ideal yang dimiliki Jacinta menjadi hal yang diinginkan oleh perempuan dan juga laki-laki dalam cerita. Valentin yang digambarkan terus memuji kecantikan Jacinta kemudian menjadi calon suami Jacinta. Kecantikan Jacinta yang digambarkan melalui sudut pandang Valentin telah menyebabkan Jacinta bergantung pada pujian-pujian atas kekaguman Valentin terhadap kecantikannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Valentin memiliki kuasa lebih dalam relasi antara dirinya dengan Jacinta dengan sudut pandangnya yang menggambarkan nilai kecantikan Jacinta, menjadikan Jacinta merasa bernilai dan diinginkan.

 

Kecantikan sebagai eksistensi diri

Selain mengkonstruksi kecantikan, penulis melihat bahwa cerpen ini juga melihat kecantikan sebagai eksistensi mereka sebagai perempuan. Sebagaimana menurut konsep eksistensialisme Sartre (1966) bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Dalam cerpen ini, ratu tidak eksis karena berdasarkan narasi, ratu digambarkan memiliki wajah yang buruk rupa. Sebab ratu tidak eksis sebagai perempuan yang menarik, dirinya tidak lagi dapat meraih esensinya sebagai perempuan yang memenuhi konstruksi atas kecantikan ideal. Oleh karena itu, sang ratu memerintahkan semua kaca dan benda-benda yang dapat memantulkan refleksi bayangan dihancurkan. Hal tersebut dapat dilihat sebagai esensi yang didapatkan ratu berdasarkan makna eksistensinya sebagai perempuan dengan paras jelek. Eksistensi ratu sebagai perempuan dianggap tidak memenuhi esensi sebagai perempuan yang cantik, sehingga dirinya menghilangkan semua kemungkinan perempuan lain untuk mendapatkan esensi diri yang berupa kecantikan.

The queen was dreadfully ugly, and she did not wish to be exposed to the risk of meeting her own image; and, knowing herself to be hideous, it was a consolation to know that other women at least could not see that they were pretty. (Mendès. 1910: 41)

 

Pemaparan pada narasi di atas bukan hanya menunjukkan bahwa ratu dengan sengaja menghancurkan kesempatan untuk perempuan lain mendapatkan esensi dari eksistensi diri mereka, tetapi juga karena tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ratu tidak memiliki makna dari eksistensinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa peraturan ratu untuk menghancurkan cermin yang dapat menampilkan bayangan dapat dilihat sebagai penolakan ratu terhadap pemaknaan kecantikan yang tidak dimilikinya. Kuasa ratu juga dapat dilihat sebagai pengganti atas hilangnya kesempatan bagi ratu untuk mendapatkan eksistensi dari parasnya.

Kuasa ratu sebagai pemimpin kerajaan memberikan dirinya hak dan tanggung jawab untuk mengatur semua makna eksistensi para tokoh perempuan lain. Seperti pemaparan Sartrè (1966) bahwa seorang manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan juga kepada seluruh manusia. Dalam teks ini, ratu dipaparkan bertanggung jawab terhadap dirinya dan juga orang lain karena peraturan yang dibuatnya. Dirinya bertanggung jawab atas penghilangan makna eksistensi orang lain yang dapat diraih melalui pantulan bayangan. Penghilangan makna eksistensi tersebut terepresentasikan dengan penghancuran kaca dan benda-benda yang dapat merefleksikan bayangan. Refleksi bayangan dipaparkan dapat memberikan kepuasan tersendiri untuk menilai dan mengagumi keberadaan diri dalam dunia. Dalam teks, pantulan diri disajikan sebagai bukti untuk melihat eksistensi diri, seperti hal cerita Narkisos yang berasal dari mitos Yunani yang kemudian disebut sebagai sifat narsisme. Seperti halnya Narkisos yang dapat mengagumi parasnya melalui pantulan dirinya, penghilangan media untuk melihat pantulan diri dalam teks menggambarkan perempuan di wilayah kerajaan tidak puas karena tidak dapat melihat bukti eksistensi mereka dengan mengagumi diri mereka sendiri,

You may imagine that the young girls of the country were not at all satisfied. What was the use of being beautiful if you could not admire yourself” (Mendès. 1910: 41).

Narasi tersebut menunjukkan bahwa pantulan dianggap sebagai media yang dapat memberikan bukti eksistensi perempuan yang diwakili oleh kecantikan.

Sang ratu memang tidak mendapatkan makna kecantikan sebagai bukti atas eksistensinya sebagai perempuan, akan tetapi ia berhasil mendapatkan eksistensinya dengan kekuasaannya sebagai seorang ratu. Sedangkan, Jacinta yang digambarkan sebagai satu-satunya perempuan yang memiliki kecantikan lebih baik daripada perempuan lainnya. Jacinta mendapatkan esensi atas eksistensinya sebagai perempuan dengan paras yang cantik. Jacinta mendapatkan eksistensinya melalui sudut pandang Valentin yang menggambarkan kecantikan Jacinta pada setiap aspek penampilannya; mata, kulit, bibir, gigi dan kuping. Semua aspek yang digambarkan oleh Valentin dan hasrat Valentin untuk menikah dengan Jacinta dapat dijadikan sebagai bukti dari eksistensi Jacinta sebagai perempuan berparas cantik. Dalam teks, Jacinta dipaparkan merasa begitu bahagia dengan eksistensinya,

“[…] she delighted, he still more charmed, for his words came from the depth of his heart and she had the pleasure of hearing herself praised, […]” (Mendès. 1910: 42).

Narasi tersebut menunjukkan bahwa kecantikan membawa kebahagiaan pada Jacinta karena pengakuan yang dia terima dari Valentin. Dengan kata lain, eksistensi Jacinta sebagai perempuan telah diakui oleh pihak lain karena kecantikannya.

Selanjutnya, eksistensi Jacinta digambarkan hilang ketika pendapat mengenai parasnya berubah. Kondisi tersebut terjadi ketika Jacinta bertemu perempuan tua yang diperintahkan sang ratu untuk menghancurkan kebahagian Jacinta. Ratu mengganti semua pendapat Valentin mengenai kecantikan Jacinta dengan hal-hal yang buruk; mata, kulit, bibir, gigi dan telinga. Eksistensi Jacinta yang sebelumnya dikenal sebagai perempuan dengan paras yang cantik berubah menjadi mahluk terjelek,

the ugliest creatures I ever beheld.” (Mendès. 1910: 42).

Perubahan pendapat tersebut mengubah eksistensi Jacinta, dirinya yang tidak lagi digambarkan sebagai perempuan yang cantik. Eksistensinya seakan hilang setelah gambaran kecantikan hilang. Hal itu terlihat ketika Jacinta tidak dapat mengendalikan dirinya yang terus bersedih, keinginannya untuk hidup hampir hilang. Perubahan tersebut juga membuat makna hidup dan kebahagiaan Jacinta lenyap. Betapa kecantikan bagi diri Jacinta terlihat sangat penting. Eksistensi Jacinta memudar seraya kepercayaan bahwa diri Jacinta tidak cantik. Meskipun, Valentin berusaha untuk menyakinkan Jacinta bahwa dirinya adalah perempuan cantik, Jacinta tidak mempercayainya. Pernikahan pun batal. Jacinta bernarasi bahwa dirinya seorang perempuan buruk rupa tidak pantas mendapatkan seorang suami.

Namun, eksistensi Jacinta sebagai perempuan yang cantik kembali dihadirkan dalam teks. Dinarasikan bahwa Valentin membawa Jacinta ke kerajaan untuk meminta kepada sang ratu memperbolehkan Valentin menggunakan kaca sebagai usaha terakhir untuk meyakinkan kecantikan Jacinta. Akan tetapi, alih-alih diberikan ijin, ratu memerintahkan algojo untuk memenggal kepala Valentin dan Jacinta. Pasrah akan eksistensi kecantikannya yang telah hilang, Jacinta menerima keputusan ratu. Namun, saat eksekusi hendak terjadi, eksistensi Jacinta kembali. Melainkan eksistensi sang ratulah yang hilang,

The executioner raised his gleaming axe just as Jacinta came to herself and opened her eyes. Then two shrieks pierced the air. One was a cry of joy, for the glittering steel Jacinta saw herself, so charmingly pretty—and the other a scream of anguish, as the wicked soul of the queen took flight, unable to bear the sight of her face in the impromptu mirror. (Mendès. 1910: 44).

 

Narasi di atas menceritakan ketika algojo mengangkat kapaknya dan menunjukkan refleksi paras Jacinta dan ratu. Sang ratu yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena memiliki paras yang buruk rupa menunjukkan bahwa kematian lebih baik apabila dibandingkan dengan hidup tanpa kecantikan. Eksistensi dirinya tidak akan memunculkan esensinya sebagai perempuan yang dikonstruksikan harus berparas  cantic yang dirinya ganti dengan esensinya sebagai ratu. Melalui penggambaran tersebut pula, pentingnya kecantikan bagi perempuan yang dapat dilihat sebagai bentuk dari eksistensi diri. Dengan kata lain, dalam cerpen ini kecantikan berperan sebagai pemaknaan atas diri tokoh perempuan.

Dalam The Mirror, pemberian makna eksistensi dihadirkan oleh refleksi pantulan bayangan melalui kaca dan benda-benda lainnya yang dapat memantulkan bayangan. Meskipun benda-benda yang dapat memantulkan bayangan dihilangkan dalam teks, media tersebut digantikan oleh mata. Penggambaran kecantikan sebagai eksistensi diri yang sangat penting bagi tokoh perempuan disampaikan dan dikonstruksikan melalui tokoh laki-laki dari sudut pandangnya, yaitu melalui mata Valentin. Menurut ilmu tanda, mata dalam teks ini dapat dilihat sebagai benda yang menggantikan cermin. Johansen (2005) memaparkan bahwa apapun itu dapat berfungsi sebagai tanda dan tanda adalah sebuah fenomena yang dapat merepresentasikan dan saling berhubungan dengan fenomena lain seperti benda, peristiwa, perilaku, proses yang berulang, keadaan atau situasi emosional dan seterusnya. Mata Valentin berperan sebagai pengganti cermin dalam cerita. Cermin yang dapat mengungkapkan apa yang terpantulkan. Begitu juga sebaliknya, cermin merepresentasikan sudut pandang laki-laki karena dalam hal ini yang cermin perlihatkan adalah kecantikan paras perempuan yang ideal.

Penggambaran kecantikan Jacinta melalui mata laki-laki juga dapat dilihat bahwa laki-laki lah yang memiliki kuasa dalam memberikan label cantik untuk perempuan. Kecantikan Jacinta yang selanjutnya luruh oleh opini perempuan dan kemudian kembali lagi karena upaya Valentin dan kapak algojo yang digunakan untuk mengeksekusi Jacinta menjadi cara narator untuk mengembalikan eksistensi pada Jacinta. Demikian, tokoh laki-laki dalam cerita, Valentin dan algojo, mempunyai peran penting dalam konstruksi dan pemberian makna cantik bagi Jacinta. Tokoh laki-laki lah yang memiliki hak istimewa untuk penempelan label tersebut. Maka dari itu, sejak awal hingga akhir narasi, cerita pendek The Mirror memperkokoh konstruksi kuasa laki-laki di atas perempuan yang membentuk bahwa perempuan baru dapat eksis apabila memiliki paras yang cantik sebagaimana konstruski kecantikan dalam budaya patriarki.

 

Kesimpulan

Kecantikan dalam cerpen The Mirror digambarkan sebagai sesuatu yang penting bagi diri perempuan sebagai bentuk dari bukti eksistensi diri. Kecantikan sebagai eksistensi diri terpaparkan pada kedua tokoh perempuan, Jacinta dan sang ratu. Kecantikan yang ditempelkan pada tokoh Jacinta selain memberikan eksistensi juga memunculkan kebahagian. Sedangkan, pada akhirnya tokoh ratu dimatikan karena tidak memiliki kecantikan sebagai eksistensi. Tokoh laki-laki dalam The Mirror berperan penting sebagai pihak yang mengkonstruksikan kecantikan bagi para tokoh perempuan. Konstruksi tersebut terpaparkan melalui sudut pandang laki-laki yang direpresentasikan oleh cermin, kapak dan mata Valentin. Dengan kata lain, cerpen ini memperkokoh budaya patriarki yang mengkonstruksi eksistensi perempuan melalui penggambaran kecantikan yang ideal.

 

Daftar Pustaka

Johansen, J. D. & Larsen, S. Erik. (2005). Signs in use: an introduction to semiotic. (Gorlee, Dinda L. & Irons, John). New York: Routledge. (Karya asli diterbitkan pada 2002).

Mendès, Catulle. (1910). The mirror. Dalam Reynolds, Francis J dan William Patten (Penyunting), international short stories vol. III. United States: P.F. Collier & Son.

Satrè, Jean-Paul. (1966). Existentialism and humanism. (Mairet, Phillip, Penerjemah). London: Methuen & CO Ltd. (Karya asli diterbitkan pada 1946).

Wolf, Naomi. (2002). The beauty myth. United States: HarperColins Publishers.

Standard

Resistensi Dua Tokoh Perempuan dalam Film Seri BBC Jane Eyre

Pendahuluan

Sejak berabad-abad lamanya, perempuan selalu ditempatkan pada posisi yang berada di bawah laki-laki. Melalui sudut pandang kebudayaan patriarki, posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya terepresi oleh gender dan seks tetapi juga ditentukan oleh kelas dan ras. Oleh karena itu, opresi yang diterima oleh perempuan dapat menjadi berkali lipat apabila kondisinya ditempelkan dengan semua atribut tersebut. Seperti yang dijabarkan oleh Tong (1998) bahwa kaum perempuan memiliki kemungkinan yang besar dalam mengalami opresi yang berlipat karena begitu banyaknya atribut-atribut yang ditempelkan pada kaum perempuan. Film Jane Eyre versi seri BBC tahun 1983 ini merupakan salah satu sekian karya dari adaptasi novel karya Charlotte Bronte yang dipublikasikan pada tahun 1847.

Film Jane Eyre (1983) menceritakan kisah seorang perempuan bernama Jane Eyre yang mencoba bertahan untuk hidup dari kemalangan yang menimpanya hingga akhirnya menemukan kebahagiannya. Film Jane Eyre menunjukkan adanya opresi budaya patriarki yang memposisikan perempuan berdasarkan gender, kelas, dan status sosial dalam kehidupan bermasyarakat pada masa Victoria yang menjadi latar belakang cerita Jane Eyre. Perempuan yang teropresi dalam dalam film adalah tokoh utama perempuan Jane Eyre dan Bertha Antoinetta Mason tokoh istri Mr. Rochester yang gila. Kedua tokoh tersebut mengalami opresi dari atribut-atribut yang ditempelkan oleh kebudayaan patriarki pada kedua tokoh tersebut. Penempelan atribut-atribut tersebut kemudian menempatkan kedua tokoh perempuan itu berada pada posisi yang lebih subordinan daripada posisi tokoh laki-laki. Namun, pada akhir cerita kedua tokoh tersebut disajikan melakukan perlawanan atas opresi yang mereka alami. Penyajian atas opresi yang memposisikan kedua tokoh perempuan tersebut dalam film Jane Eyre akan dipaparkan selanjutnya.

 

Analisis

Tokoh Jane dalam film ini tersajikan sebagai tokoh utama perempuan yang teropresi oleh atribut-atribut patriarki. Opresi tersebut terepresentasi dalam seks dan gendernya sebagai perempuan, status kelasnya sebagai anak yatim piatu. Opresi tersebut terbentuk melalui konstruksi budaya patriarki. Meskipun Jane berasal dari keluarga terhormat dengan status kelas sosial menengah ke atas akan tetapi karena kondisinya sebagai anak yatim piatu yang tinggal bersama bibinya menjadikan kondisi tersebut sebagai bentuk opresi yang Jane terima dalam lingkungan keluarganya. Opresi yang tidak hanya Jane terima melalui tokoh laki-laki tetapi juga tokoh perempuan. Seperti yang dipaparkan oleh Cheng (1996), bahwa laki-laki sebagai yang dikonstruksi sebagai seks yang dominan dengan maskulinitas sebagai ideologi gender yang utama dalam masyarakat tidak lantas opresi terhadap kaum perempuan hanya dilakukan oleh laki-laki melainkan juga oleh perempuan sebab kuasa maskulinitas atas femininitas juga dapat diperoleh perempuan. Dalam film ini, Jane mendapatkan opresi dari tokoh perempuan seperti bibinya, dua sepupunya, Nona Ingram, dan perempuan tua penjaga toko roti.

Menurut pemaparan Rosemarie Putnam Tong (1998), posisi dan ketidakberdayaan sosial perempuan terhadap laki-laki tidak terlalu berhubungan dengan kondisi biologis perempuan melainkan sangat berhubungan dengan konstruksi sosial atas femininitas. Berhubungan dengan latar belakang dalam film tersebut, masa Victoria memiliki peran dalam mengkonstruksi perempuan sebagai posisi yang subordinan dari pada laki-laki. Pada masa Victoria masih begitu terasa kebudayaan patriarki yang mengopresi posisi perempuan dalam masyarakat. Posisi dan status kaum perempuan lantas akan berada di bawah masyarakat apabila perempuan tersebut tidak dapat memenuhi tuntutan budaya yang dikonstruksikan sebagai sifat-sifat yang wajib dimiliki perempuan, seperti lembut, penurut, mahir dalam menyulam, menggambar, memainkan musik, menari dan berasal dari keluarga yang terhormat. Tuntutan tersebut dibentuk oleh konstruksi masyarakat Victoria untuk menilai dan mengkategorikan perempuan ideal dalam komunitasnya.

Dalam film, lingkungan keluarga bibi Jane begitu mengopresi Jane melalui perlakuan dan perkataan seluruh anggota keluarga terutama pada bibinya Bibi Reed dan sepupu laki-lakinya John Reed. Narasi Bibi Reed memaparkan bahwa Jane merupakan anak yatim piatu yang tidak tahu untung, nakal, penuh tipu daya, tidak bermoral dan melarang ketiga anaknya untuk berasosiasi dengan Jane. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagai bibinya, Bibi Reed tidak menerima Jane sebagai keponakannya dan mengopresi posisi Jane dalam keluarga karena hal tersebut. Sejak awal dipaparkan bahwa sebelum Tuan Reed wafat, dia mengadopsi Jane sebagai anak angkatnya dan meminta Bibi Reed untuk menganggap Jane sebagai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi, sebelum ajalnya menjelang Bibi Reed menarasikan bahwa dirinya mengakui telah melanggar permintaan suaminya mengenai Jane dan berbuat tidak adil padanya. Selain itu, opresi yang dilakukan Bibi Reed terhadap Jane dapat dilihat atas perlakuannya yang menghukum Jane untuk ditinggal semalaman dalam ruang gelap tanpa lilin karena John memfitnah Jane (episode 1, menit 03:11). Bias tersebut juga menjadi suatu opresi terhadap Jane karena Bibi Reed tidak dapat melihat kebenaran yang meliputi Jane.

Opresi lain yang juga dialami Jane terlihat dari perlakuan dan perkataan tokoh John Reed. Dalam film Jane Eyre, John merepresi Jane terlihat ketika John mengadu dan memfitnah Jane perihal buku yang dibaca oleh Jane kepada Bibi Reed, Ibu John. Oleh karena itu, Jane dihukum oleh bibinya. John mengopresi Jane melalui statusnya Jane sebagai sepupu perempuannya yang menumpang di keluarganya sebagai anak adopsi ibunya. Status tersebut dimanfaatkan oleh John untuk mengopresi Jane. Hal tersebut juga terlihat ketika John menyuruh Jane untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Master’ dibandingkan memanggil John dengan namanya (episode 1, menit 02:19). Penyebutan master yang diperintahkan oleh John kepada Jane menunjukkan bahwa John tidak melihat Jane sebagai sepupunya, sebagai keluarga, melainkan sebagai pelayan yang harus melayani dirinya, sang tuan. Bahkan, John meminta Jane untuk berlutut ketika berhadapan dengannya.

Pada awalnya Jane menerima perlakuan John karena John mengancam akan mengadukan Jane kepada bibinya. Akan tetapi, ketika John hendak memukul Jane dengan buku, Jane melawan John (episode 1, menit 14:10). Perlawanan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk resistensi Jane terhadap opresi yang dilakukan oleh John. Resistensi Jane ditampilkan sebagai cara dirinya untuk keluar dari opresi John yang selalu menganggap dirinya lebih rendah dari John. Resistensi juga ditunjukkan oleh Jane ketika berhadapan dengan opresi bibinya. Hal tersebut disajikan ketika setiap kali Jane dipermalukan dan dihukum  oleh Bibi Reed (episode 1, menit 23:19), Jane melawan perlakuan Bibi Reed dengan membentak, memberontak dan membalas ucapan Bibi Reed dengan berteriak. Kemudian, dalam film dipaparkan bahwa Jane benar-benar terbebas dari opresi Bibi Reed dan John Reed ketika Jane keluar dari kediaman keluarga Reed dan tinggal di sekolah asrama Lowood.

Akan tetapi, meskipun Jane telah berhasil keluar dari opresi Bibi Reed dan John Reed, Jane kembali teropresi dalam lingkungan sekitarnya, seperti salah satunya yaitu Lowood, yang opresinya direpresentasikan oleh Mr. Brocklehurst. Mr. Brocklehurst adalah kepala yayasan sekolah asrama Lowood yang diperuntukan untuk anak-anak perempuan yang dianggap melenceng dari ajaran agama Kristen. Opresi Mr. Brocklehurst disajikan ketika dirinya mengumumkan di hadapan semua murid dan guru bahwa Jane adalah anak yang nakal, penuh tipu daya, dusta dan tidak ada yang boleh menemani dan bersikap baik kepada Jane baik itu murid ataupun guru (episode 2, menit 14:42). Dan kemudian, represi tersebut berhasil dilewati Jane karena bantuan dari Ibu Temple yang kagum atas kepintaran dan kemampuan Jane. Dengan kata lain Jane terbebas dari opresi Mr. Brocklehurst karena kecerdasan dan prestasi Jane yang mendominasi kelas, bahwa Jane murid terbaik di kelasnya. Sebagaimana Cheng (1996) jelaskan dalam bukunya bahwa pengetahuan atau kecerdasan dapat digunakan sebagai pendekatan untuk melawan represi yang didapatkan. Kemudian, dalam film Jane memainkan dan mengambil keuntungan bahwa dia pintar sebagai sebuah alat supaya dirinya dapat terbebas dari opresi dan menjadi mandiri.

Opresi selanjutnya berhubungan dengan status dan kelas sosial Jane Eyre dalam kondisi masyarakat pada masa Victoria. Pada masa Victoria dalam karya dapat dilihat bahwa adanya pembagian kelas dan strata status sosial yang berpengaruh terhadap posisi dan status Jane yang dihadirkan pada tokoh-tokoh Mr. Rochester, John, Blanche Ingram, St. John dan tokoh yang ditemuinya ketika Jane terlantar. Hal-hal yang mempengaruhi status tokoh-tokoh tersebut adalah uang, pendidikan dan pekerjaan. Ketiga hal tersebut mempengaruhi baik laki-laki dan perempuan. Seperti halnya dalam kondisi Nona Ingram, posisi Ingram berada di atas Jane Eyre karena kondisi uang dan pekerjaan yang mempengaruhi status sosial mereka yang melebihi Jane Eyre yang saat itu hanyalah seorang guru privat. Begitu juga pada tokoh perempuan penjaga toko roti, uang dan pekerjaan yang pada saat itu tidak dimiliki oleh Jane Eyre karena dirinya meninggalkan Thornfield. Opresi yang dilakukan oleh Ingram dan perempuan tua itu terjadi ketika mereka memandang rendah Jane yang dibandingkan dengan posisi Ingram dan perempuan tua itu. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya status atas uang dan pekerjaan pada masa Victoria yang melatarbelakangi cerita film Jane Eyre.

Selanjutnya, opresi yang dilakukan tokoh laki-laki dewasa seperti Mr. Rochester dan St. John. Opresi tersebut terlihat dalam nada bicara kedua tokoh yang mengindikasikan nada perintah setiap kali berbicara dengan Jane Eyre. Selain itu, opresi juga terjadi karena status posisi sosial dan gender. Seperti yang dipaparkan oleh Tong (1998), masa Victoria begitu kental dengan kebudayaan patriarki yang mengatur posisi perempuan dan laki-laki. Perempuan pada masa itu memiliki kriteria-kriteria yang harus terpenuhi untuk dianggap sebagai perempuan ideal. Kriteria tersebut adalah mahir dalam menggambar, musik, menari dan menyulam. Kemudian, dalam film ini Jane sangat mahir dalam menggambar dan menyulam namun, tidak dalam menari dan bermain piano. Ketidakmahiran tersebut yang dinilai oleh Mr. Rochester sebagai kekurangan Jane akan tetapi, hal itu kemudian tidak dipedulikan karena Jane dijadikan sebagai calon istrinya. Opresi-opresi dari Mr. Rochester muncul ketika dirinya memberikan nada perintah setiap kali berkata dengan Jane terutama ketika pertama kali mereka bertemu (episode 4, menit 02:02). Mr. Rochester menyuruh Jane untuk memainkan piano untuk dinilai kepantasan dirinya sebagai pengasuh Adele. Akan tetapi, opresi tersebut menimbulkan resistensi Jane terhadap Mr. Rochester. Hal tersebut ditampilkan ketika Jane menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban cerdas yang dilontarkan oleh Jane. Hal tersebut menunjukkan bahwa Jane adalah perempuan yang cerdas dan tidak dapat begitu saja ditindas layaknya perempuan lainnya. Selanjutnya, resistensi Jane disajikan ketika dirinya menolak untuk dijadikan istri kedua Mr. Rochester dengan alasan agama yang melarang bigamy. Dan kemudian, resistensi tersebut menuntun Jane kepada opresi yang lain yaitu opresi yang dilakukan oleh St. John.

Pada awalnya St. John tidak dipaparkan memberikan opresi terhadap Jane karena mungkin adanya kecurigaan bahwa Jane adalah perempuan dengan status yang tinggi tanpa mengetahui latar belakangnya. Akan tetapi, opresi yang dilakukan St. John mulai muncul ketika posisi mereka dalam status sosial menjadi setara. Hal itu terjadi ketika Jane mendapatkan uang warisan dari pamannya dan membagi seluruh harta sama rata dengan tiga sepupu barunya termasuk St. John. Opresi terjadi setelah pembagian harta tersebut. St. John ditampilkan mulai memberikan nada perintah kepada Jane, bahkan perintah untuk menikahinya dengan menggunakan alasan agama sebagai pembenaran atas ucapannya (episode 10, menit 24:51). St. John meminta secara terus-menerus hingga akhirnya Jane setuju untuk ikut dengan dirinya menuju India sebagai istrinya. Akan tetapi, baru saja Jane menyetujui secepat itu pula Jane meninggalkan St. John untuk mencari tahu bagaimana keadaan Mr. Rochester. Hal tersebut menunjukkan bahwa Jane berhasil keluar dari opresi St. John dengan meninggalkannya. Setelah meninggalkan St. John dan kembali pada Mr. Rochester, Jane tidak lagi mendapatkan opresi dari St. John, Mr. Rochester maupun dari sosial karena posisi dan kelas sosial Jane naik pada posisi atas sedangkan posisi dan kelas sosial Mr. Rochester menurun karena kehilangan segala bahkan menjadi cacat. Pada akhirnya, segala opresi yang diterima oleh Jane dari keadaan sosial karena kelas, seks dan gender menjadi luruh akibat resistensi dan upaya dirinya untuk mengangkat derajat dirinya menjadi lebih baik.

Selain Jane sebagai tokoh perempuan yang teropresi dalam film, ada juga tokoh lain yang disajikan begitu teropresi oleh kondisi sosial Victoria, yaitu Bertha istri pertama Mr. Rochester. Bertha digambarkan sebagai perempuan gila yang disekap di sebuah kamar di atap kediaman Mr. Rochester (episode 8, menit 4:18). Penyekapan Bertha dapat dilihat sebagai upaya Mr. Rochester untuk mempertahankan posisi dan status kedudukannya di sosial sebagai laki-laki terhormat. Sebagaimana yang dipaparkan Figes (1970) bahwa laki-laki diharuskan untuk mementingkan pandangan orang lain terhadapnya. Oleh karena itu, sebagai upaya mempertahankan harga dirinya, Mr. Rochester memperlakukan Bertha seperti itu dan lantas tidak memberikannya pengobatan. Opresi yang didapatkan oleh Bertha terjadi karena kondisi dirinya sebagai perempuan gila yang tidak dapat memenuhi kewajiban dirinya sebagai istri. Hal tersebutlah yang menjadi pemicu utama mengapa Mr. Rochester menginginkan untuk menikahi Jane sebab dirinya tidak mendapatkan apa yang seharusnya bisa ia dapatkan dari seorang istri yang sehat jiwa dan raga, seperti melayani dirinya dalam hubungan suami dan istri. Lantas ketika orang-orang mengetahui bahwa Mr. Rochester mengurung Bertha, orang-orang tersebut tidak melakukan apapun sebab mereka menganggap apa yang dilakukan oleh Mr. Rochester adalah wajar dan tidak menunjukkan rasa ketidakmanusiaan.

Opresi pada Bertha juga berasal dari Mr. Rochester dan juga masyarakat. Opresi yang dialami Bertha dapat dilihat sebagai bentuk pasivitas perempuan. Thompson (1964) memaparkan bahwa pasivitas perempuan sebagai produk dari serangkaian hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak simestris yang akhirnya mengakibatkan kepatuhan konstan kepada otoritas laki-laki. Akan tetapi, Bertha menunjukkan pemberontakan pada bentuk pasivitas yang dilakukan Mr. Rochester terhadapnya. Dalam film, Bertha disajikan beberapa kali seperti membakar tempat tidur dan kediaman Mr. Rochester. Pada percobaan yang pertama dimana Bertha membakat tempat tidur Mr. Rochester, percobaan itu digagalkan oleh Jane (episode 4, menit 25:37). Resistensi terus dilakukan Bertha ketika dirinya membakar rumah Mr. Rochester (episode 11, menit 05:48). Kejadian terbakarnya rumah juga menyebabkan Mr. Rochester menjadi buta dan kehilangan sebelah lengannya. Api sebagai media resistensi bagi Bertha menjadi simbol tersendiri. Api adalah media untuk menghancurkan sesuatu menjadi abu, ketidakadaan. Bertha menggunakan api untuk membakar tempat tidur Mr. Rochester adalah untuk menghancurkan opresi Mr. Rochester yang mengurungnya. Kemudian, Bertha membakar rumah sebagai bentuk penghilangan tempat dirinya teropresi sebab dengan menghancurkan rumah Mr. Rochester, Bertha jelas akan terbebas dari opresi pengurungan yang dilakukan Mr. Rochester dan sosial.

Perbedaan bentuk resistensi yang dilakukan kedua tokoh, Jane dan Bertha, menunjukkan kondisi dan posisi sosial dimana tokoh ditempatkan dalam masyarakat. Resistensi yang dilakukan tokoh Jane dan Bertha merupakan upaya mereka untuk keluar dari kondisi yang mengopresi dan mengkonstruksi diri mereka untuk sesuai dengan tuntutan kebudayaan Victoria. Sebagaimana Thompson (1964) paparkan bahwa semua manusia manusia, baik laki-laki maupun perempuan, menginginkan hal yang sama, kesempatan untuk membentuk takdirnya sendiri secara kreatif dan aktif. Hal tersebut disajikan pada Jane dan Bertha yang ingin aktif dalam menentukan nasibnya tanpa campur tangan konstruksi sosial.

 

Kesimpulan

Film Jane Eyre mencoba menunjukkan resistensi perempuan atas pemposisian perempuan sebagai kaum yang teropresi dalam kebudayaan patriarki. Dalam film ini, opresi disajikan menimpa tokoh utama perempuan Jane Eyre dan tokoh perempuan lainnya, Bertha. Kedua tokoh disajikan mengalami opresi yang didapatkan dari tokoh laki-laki dan juga keadaan sosial pada masa Victoria. Kemudian, resistensi muncul sebagai dampak dari opresi yang mereka dapatkan. Selain itu, film ini juga dapat dikatakan sebagai kritik sosial terhadap kaum perempuan yang hanya menerima kondisi mereka yang teropresi oleh masyarakat sebagai keadaan mereka yang kodrati yang kemudian kondisi tersebut diruntuhkan oleh sikap resistensi Jane dan Bertha yang melawan budaya patriarki untuk meraih kebahagian dan kebebasan yang mereka impikan. Oleh karena itu, penyajian opresi dalam film ini memperlihatkan bahwa dengan melakukan resistensi tokoh-tokoh yang teropresi akan terbebas dari tekanan-tekanan yang membelenggunya. Dengan kata lain, kisah film ini merubuhkan konstruksi budaya patriarki pada masa Victoria.

 

Daftar Pustaka

Film Seri

Jane Eyre versi BBC rilis pada tahun 1983

 

Buku

Cheng, Cliff. (1996). Masculinity in Organization. Michigan: Sage Publication.

Figes, Eva. 1970. Patriarchal Attitudes.Great Britain: Faber and Faber.

Thompson, Clara. (1964). Problems of Womanhood. Dalam Green, M. P. (penyunting), Interpersonal Psychoanalysis: The Selected Papers of Clara Thompson. New York: Basic Books.

Tong, Rosemarie Putnam. (1998). Feminist Thought. Yogyakarta: Jalasutra.

Standard

Objektifikasi Tubuh Perempuan dalam Ekranisasi Manga-Anime ‘One Piece’ Karya Eichiiro Oda

Latar Belakang

Manga adalah suatu karya yang berasal dari Jepang yang berbentuk visual naratif yang gambarnya dengan sengaja memunculkan banyak pilihan teknik penggambaran seperti karakter dengan stereotip mata yang besar dan dagu yang runcing yang kemudian pembaca menganggapnya sebagai ciri khas manga (Johnson-wood. 2010). Beberapa pendapat mengatakan bahwa manga bukan sebuah karya seni akan tetapi, seiring dengan perkembangan manga yang semakin meluas dan kini sudah banyak dijadikan bahan penelitian untuk bidang akademik dapat dikatakan bahwa manga juga merupakan karya seni yang kaya akan makna dan filosofi. Oleh karena itu, konsep mengenai apa itu manga tidak terbatasi oleh apakah karya tersebut dianggap seni atau bukan tetapi bagaimana pembaca menggunakan karya tersebut. Sedangkan untuk genre manga sendiri sangatlah banyak karena terbagi ke dalam berbagai minat, umur, kesukaan, kelompok bahkan orientasi seksual, satu manga dapat dikelompokkan ke dalam lima genre yang berbeda sekaligus (Johnson-wood. 2010). Perkembangan genre tersebut terpengaruhi oleh perkembangan kehidupan sosial yang ada di Jepang bahkan dunia.

Tidak hanya manga namun anime juga mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Animasi jepang atau yang lebih dikenal sebagai anime adalah sebuah media yang khusus menggabungkan elemen visual dengan susunan atas struktur filosofis yang umum dan tematik untuk memproduksi sebuah dunia estetis yang unik, bahkan seringkali dunia yang diciptakan dalam anime lebih berani tragis dan lebih berunsur seksual (bahkan dalam genre romantis komedi yang ringan) dan mengandung jalan cerita yang lebih kompleks dan rumit apabila dibandingkan dengan komik populer yang ditawarkan Amerika (Napier. 2005). Selain itu, Napier (2005) juga berpendapat bahwa anime juga dianggap sebagai karya yang kaya akan makna dan berguna sebagai cerminan atas isu, harapan, atau bahkan mimpi buruk masyarakat modern Jepang.

Menurut Henshall (1999) kebudayaan Jepang didominasi oleh kaum laki-laki. Terlihat dalam kebudayaan Jepang seperti halnya Samurai, kaum perempuan tidak dipandang layak untuk menjadi seorang ahli pedang dalam sejarah masyarakat Jepang. Namun, dalam sejarah Jepang meskipun kaum perempuan tercatat pernah menduduki posisi yang begitu tinggi, Henshall (1999) menjelaskan bahwa posisi tersebut lantas berubah dalam kehidupan masyarakat Jepang saat ini. Kaum perempuan menduduki posisi kedua dalam hirarki sosial dan tidak dapat terbebas dari ekspektasi masyarakat seperti melayani dan tunduk pada ayah dan ayah mertua (sebagai anak), suami (sebagai istri), anak laki-laki (sebagai janda). Selain itu, kaum perempuan juga dipandang sebagai objek, pelayan dan mesin pembuat keturunan (Eri Izawa. 2000). Kaum laki-lakilah yang kemudian dipandang sebagai halangan oleh kaum perempuan dalam meraih kesetaraannya di Jepang. Meskipun begitu, tidak hanya kaum perempuan, kaum laki-laki pun ikut terjebak dalam perilaku yang dibatasi oleh tradisi mengenai peran-peran gender yang tidak lain ditetapkan oleh laki-laki dan juga perempuan.

Karya tertulis yang dialihwahanakan ke dalam bentuk visual (film) disebut sebagai ekranisasi. Peralihan wahana akan selalu menghadirkan perbedaan-perbedaan dari karya sumbernya. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai perwujudan atau pemusatan ideologi yang berbeda atau sebagai cara untuk meningkatkan minat penonton. Karya ekranisasi dalam penelitian ini adalah seri manga One Piece karya Eiichiro Oda yang dialihwahanakan menjadi sebuah seri animasi dengan judul yang sama dan juga produksi yang melibatkan pencipta One Piece. Seri manga One Piece pertama kali rilis pada tahun 1997 dan hingga saat ini (tahun 2017) masih berlanjut hingga 800 bab lebih. Seri manga ini mengisahkan seorang anak laki-laki, yang bernama Monkey D. Luffy, yang memutuskan untuk mengarungi lautan untuk menggapai impiannya menjadi raja bajak laut. Adaptasi seri anime ini cukup setia dengan seri manganya akan tetapi, dalam seri anime ada beberapa perbedaan yang memunculkan adanya penyajian ideologi yang lebih digambarkan secara jelas yaitu karakter perempuan dalam anime dijadikan sebagai objek yang merupakan representasi dari pergeseran nilai sosial kebudayaan Jepang yang menggunakan media visual anime. Perbedaan-perbedaan itu terlihat ketika penyajian tubuh karakter perempuan yang digambarkan lebih jelas dan terpapar daripada penggambaran dalam seri manga.

Pada awalnya anime One Piece cukup diminati di banyak negara lain namun, penyiaran anime ini dihentikan karena penyajian konten cerita yang dinilai mulai berubah dan menampilkan konten yang vulgar dianggap mengganggu penonton di bawah umur. Sedangkan menurut kriteria masyarakat Jepang, konten yang seperti itu sama sekali tidak menimbulkan ketidaknyamanan dan dianggap pantas untuk disiarkan di media televise Jepang. Adanya perbedaan dalam hal kepantasan dalam konten anime One Piece menyebabkan peralihan wahana seri manga-anime One Piece ini hanya disiarkan di FUNAnimation Stasiun TV Jepang, cabang FUNAnimation di Amerika, internet streaming online dan DVD sebagai mediator resmi dari rumah produksi anime One Piece.

Dalam peralihan wahana seri manga One piece ke anime pun masih terlihat adanya ketidaksetaraan gender yang ditunjukkan oleh penggambaran karakter perempuan dalam manga yang kemudian menjadi terlihat sangat jelas dalam seri anime. Hal tersebut terpaparkan dalam penyajian tubuh karakter perempuan yang dijadikan sebagai objek visual dalam cerita. Dengan demikian, hipotesa peneliti atas perbedaan penggambaran objektifikasi tubuh karakter perempuan yang disajikan dalam seri anime adalah sebuah gambaran untuk mencerminkan atau menggambarkan kondisi seksual remaja Jepang selain untuk menarik perhatian penonton. Oleh karena itu, penelitian ini akan menyoroti penggambaran tubuh karakter perempuan dan laki-laki dalam manga dan anime One Piece. Kemudian, peneliti akan melihat bagaimana tubuh karakter perempuan dalam anime One Piece diobyektifikasikan.

 

Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian ini, saya menemukan empat penelitan terdahulu dengan isu yang cukup berkelindan dan korpus yang berbeda dengan penelitian ini yang kemudian dapat dijadikan sebagai bahan acuan atau wawasan untuk memahami korpus dan isu yang akan diteliti. Penelitian terdahulu yang saya rujuk adalah Eri Izawa (2000), Joel Gwynne (2013) dan Lien Fan Shen (2007).

Dalam analisisnya Eri Izawa (2000) memaparkan bahwa relasi antara perempuan dan laki-laki dalam manga dan anime dibagi ke dalam empat kategori; pertama, the unequal relationship yaitu hubungan dimana karakter perempuan digambarkan pemalu, lemah, berada pada posisi kedua di bawah posisi laki-laki dan berperan sebagai pelengkap tokoh utama laki-laki; kedua, adjusting relationship yaitu hubungan yang lebih natural dan lebih realistis antara karakter perempuan dan laki-laki, akan tetapi karakter laki-laki sering digambarkan menjadi penolong karakter perempuan untuk mencapai kondisi ‘normal’ —kondisi yang menggambarkan karakter perempuan menjadi karakter yang lebih lemah atau lembut (lebih bergantung); ketiga, the stable equal relationship yaitu kondisi relasi yang menunjukkan posisi yang lebih setara antara karakter laki-laki yang digambarkan lebih kuat dan karakter perempuan yang digambarkan lebih pintar; keempat, initially unequal relationship yaitu hubungan yang didominasi oleh karakter perempuan yang digambarkan mengangkat derajat dan posisi karakter laki-laki, sedangkan karakter laki-laki mencoba untuk menaikkan posisinya untuk setara dengan karakter perempuan, dalam hubungan ini biasanya digambarkan dengan kesetaraan hubungan relasi pada akhir cerita manga sebagai hasilnya. Analisis yang dilakukan Eri Izawa (2000) dapat dipergunakan sebagai model untuk menganalisis relasi gender antara karakter perempuan dan laki-laki baik dalam manga maupun anime. Relasi gender tersebut dapat mengindikasikan konstruksi atas peran karakter perempuan dalam kedua media.

Gwynne (2013) menyajikan analisis atas karakter-karakter perempuan dalam manga yang ditulis oleh pengarang laki-laki yang digambarkan sebagai karakter perempuan yang berpenampilan layaknya anak-anak dan polos akan tetapi penggambaran pun kian berubah seiring dengan kecemasan aktifitas maskulin yang disebabkan oleh kepanikan moral yang melingkupi perilaku seksual kaum perempuan di Jepang. Oleh karena itu, Gwynne (2013) memaparkan bahwa banyak manga-ka laki-laki berkembang dalam teknik penggambaran karakter perempuan yaitu dengan lebih menyajikan karakter perempuan dengan penampilan yang lebih seksual dan sensual dengan mengerotiskan penampilan tubuhnya dan penggambaran perilaku menggoda yang dikonstruksikan sebagai senjata mereka untuk mendominasi karakter-karakter laki-laki. Dalam wacana posfeminis, penyajian karakter perempuan yang ditampilkan seperti itu dalam media anime dapat dikategorikan sebagai upaya media pembuat anime untuk mendominasi dan menarik perhatian kaum laki-laki heteroseksual. Peneliti dapat meminjam analisis dari Gwynne (2013) untuk melihat bagaimana penggambaran tubuh karakter perempuan dalam manga dan anime yang mengalami perubahan penyajian dan makna apa yang tersajikan dalam perubahan itu.

Lien Fan Shen (2007) meneliti anime sebagai sebuah tempat untuk mencapai kenikmatan dari hasil konstruksi kuasa dan perlawanan atas seksualitas normatif. Artikel ini memfokuskan penelitian pada bagaimana anime dapat menawarkan kesempatan untuk mengembangkan bukan untuk terbebas dari konstruksi ideologi, yaitu dengan menemukan cara-cara baru atas pembuatan dan perlawanan yang kreatif terhadap pengaturan kuasa dalam kehendak pelaksana. Kenikmatan yang dimaksud oleh Lien Fan Shen (2007) dalam analisisnya merujuk pada kenikmatan yang terjadi ketika adanya kuasa yang melingkupi suatu objek, seperti halnya tatapan voyeuristik laki-laki terhadap tubuh perempuan dalam cinema. Berdasarkan penelitian ini, ada keterkaitan antara hubungan tubuh karakter perempuan yang dijadikan objek dengan relasi kuasa dan juga kenikmatan yang didapatkan baik oleh karakter laki-laki atau penonton dan juga karakter perempuan itu sendiri. Keterkaitan tersebut dapat menjadi rujukan untuk analisis dalam penelitian ini.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh ketiga peneliti di atas merupakan analisis yang dapat dikatakan cukup dekat dengan penelitian yang akan dilakukan penulis. Masing-masing topik penelitian sebelumnya membahas isu dan topik yang sama yang dapat membantu peneliti untuk membongkar korpus ini dengan menggunakan metode yang sama. Di samping itu, penelitian ini juga berbeda dalam hal karya  dan genre yang diteliti. Penelitian ini memiliki kesamaan pendekatan dengan penelitian Gwynne dan Lien Fan Shen yang menggunakan sudut pandang feminis.

 

Kerangka Teori

Dalam membahas isu-isu yang saya temukan dalam penelitian ini, saya meminjam beberapa teori yang digunakan untuk menganalisis alih wahana ekranisasi manga-anime One Piece. Saya menggunakan konsep hubungan relasi laki-laki dan perempuan dalam kebudayaan masyarakat Jepang Kenneth G. Henshall (1999), konsep manga-anime dan relasi seksual antara perempuan dan laki-laki di dalam manga dan anime oleh Tania Darlington dan Sara Cooper (2010) dan Susan J. Napier (2005), dan konsep representasi perempuan dan gaze terhadap karakter perempuan dalam anime dalam artikel Susan J. Napier (2006).

Henshall (1999) memaparkan bahwa dalam kebudayaan Jepang, status dan peran perempuan berada dalam posisi yang terdominasi oleh kebudayaan patriarki. Dengan demikian, dalam kebudayaan Jepang kaum perempuan ditempatkan pada posisi yang selalu terikat oleh konstruksi masyarakat yang melekatkan ekspektasi mereka akan pencitraan perempuan ideal dalam tradisi kebudayaan Jepang. Peran dan posisi perempuan dalam kebudayaan Jepang ini dimunculkan pada beberapa karya sastra Jepang, salah satunya adalah manga. Seperti dalam manga dan anime One Piece, relasi antara laki-laki dan perempuan digambarkan dalam posisi yang hirarkis. Penyajian tersebut terlihat pada penggambaran posisi perempuan yang dalam karya selalu ditempatkan dalam posisi kedua tanpa mempertimbangkan peran dan status  karakter perempuan yang sebenarnya lebih unggul daripada karakter laki-laki.

Menurut Darlington (2010) manga Jepang lebih berani dan terbuka untuk membahas isu-isu gender dan seksualitas daripada komik Amerika. Penggambaran tersebut merupakan ekspektasi pembaca Jepang yang tertarik pada bagaimana manga dapat menggambarkan asumsi-asumsi mengenai gender dan seksualitas. Akan tetapi, ekspektasi tersebut dapat dilihat sebagai cerminan peran gender dan relasi hubungan heteroseksual yang secara terus-menerus memperkokoh kebudayaan patriarki dan hegemoni heteronormatif, terutama dalam konteks hubungan karakter perempuan dan laki-laki dalam manga. Hal tersebut tergambarkan dalam manga One Piece yang menyajikan hubungan relasi antara karakter laki-laki dan perempuan.

Napier (2005) menjelaskan bahwa tubuh karakter perempuan dalam anime sering kali dijadikan objek untuk dipandang, diperkosa dan disiksa daripada dalam manga. Dengan menjadikan tubuh karakter perempuan sebagai objek, anime seringkali melakukan perubahan pada tubuh tokoh perempuan tersebut dan terkadang perubahan tersebut berlawanan dengan gambaran yang disajikan sebelumnya. Pada akhirnya, tranformasi yang terjadi merupakan manifestasi dari hubungan relasi karakter perempuan dan laki-laki yang tergambarkan dalam anime, yaitu karakter perempuanlah yang menjadi objek. Tranformasi tersebut juga dapat diidentifikasikan sebagai upaya penambahan rangsangan bagi penonton. Perubahan penyajian tubuh karakter perempuan sebagai objek dari manga ke anime dapat diidentifikasikan sebagai manifestasi dari hubungan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial Jepang yang kini menghadapi krisis atas relasi dan posisi peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Sebagaimana menurut Napier (2005), anime bukan hanya sebagai refleksi atas dunia nyata melainkan respon atas isu yang sedang berkembang dalam kehidupan sosial.

Dalam artikel selanjutnya, Napier (2006) memaparkan bahwa penyajian karakter perempuan dalam anime adalah sebagai hiburan baik digambarkan dengan kecantikan ideal ataupun tidak dan hiburan tersebut selalu diperuntukkan bagi penonton laki-laki. Oleh karena itu, karakter perempuan seringkali dijadikan ikon dan obyek dalam manga terlebih lagi dalam anime karena melibatkan moving visual yang menjadikan karakter perempuan sebagai manifestasi hasrat dari pandangan laki-laki seperti pada bagian dada, tubuh, wajah dan suara yang dianggap sebagai bagian-bagian yang mewakili hasrat laki-laki. Perubahan yang terjadi dari manga dan anime seringkali terjadi pada fokus pergantian scene dan suara yang tidak dapat tersajikan dalam manga sebaik dan sejelas dalam anime.

Seri manga dan anime One Piece karya Eichiiro Oda tidak lagi dikategorikan sebagai kartun bagi anak-anak karena One Piece sendiri memunculkan penggambaran yang vulgar. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan apabila anak-anak pun dapat membaca manga ini. Dalam seri manga dan anime One Piece, penggambaran tubuh perempuan mengalami perubahan yang menimbulkan fokus isu yang semakin diperjelas dalam alih wahana ke dalam bentuk anime yaitu tubuh karakter perempuan yang dijadikan objek pandangan. Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan penggambaran tubuh karakter perempuan menjadi objek dalam jalan cerita.

 

Obyektifikasi Tubuh Karakter Perempuan dalam Anime One Piece

Manga dan anime One Piece merupakan karya yang cukup setia dalam alur penceritaan. Namun, penggambaran peran dan porsi tubuh perempuan dalam media anime One Piece menunjukkan adanya perbedaan yang penulis lihat sebagai bentuk obyektifikasi atas tubuh tokoh perempuan. Perpindahan dari manga One Piece menuju anime menunjukkan adanya perluasan ideologi dari manga. Ketika peralihan pada manga menuju anime, penulis melihat perluasan ideology dari manga yang menunjukkan adanya penyajian tubuh karakter perempuan yang tergambarkan begitu jelas sesuai dengan peran dan porsi setiap karakter dalam frame anime One Piece yang terfokus pada bagian tubuh perempuan. Perluasan tersebut muncul dalam anime karena adanya keterbatasan pada media manga untuk menyajikan isu tersebut.

Dalam media manga, seperti yang dipaparkan oleh Johnson-Wood (2010), adalah karya dalam bentuk gambar yang disajikan dalam ruang kolom yang terbatas. Pemfokusan gambar tidak dapat banyak dilakukan dalam manga, terlebih lagi media manga hanyalah karya yang berbentuk visual dua dimensi saja. Namun, keterbatasan tersebut terlepas dalam media anime. Sebab, bentuknya yang merupakan media yang bergerak dan bersuara membuat eksplorasi setiap gambar dan karakter menjadi lebih memungkinkan. Manga One Piece menyajikan tubuh perempuan sebagai obyek sedangkan dalam anime, tubuh tersebut semakin di perjelas karena adanya kelebihan media anime dengan keistimewaan gambar yang bergerak dan memunculkan suara. Penyajian tubuh perempuan memenuhi seluruh frame yang dalam manga tidak dihadirkan fokus atas penyajian tubuh yang memenuhi satu halaman penuh. Selain itu, obyektifikasi tubuh perempuan juga hanya berlaku pada karakter yang dianggap cantik dan ideal. Karakter perempuan lainnya yang digambarkan tidak menarik seperti Big Mom, Kokoro Baasan, dan Lola sama sekali tidak mengalami perubahan gambar dalam anime sebagai obyek, bahkan tubuh mereka dianggap sebagai tubuh yang menjijikan dan tidak menarik hasrat laki-laki. Hal tersebut memperlihatkan bahwa hanya tubuh ideal yang dapat memunculkan hasrat dan dijadikan sebagai obyek seksual laki-laki.

Dalam anime One Piece, penulis melihat bahwa tidak semua tubuh perempuan dijadikan sebagai obyek, melainkan hanya beberapa karakter saja. Penyajian tubuh perempuan tersebut terbagi ke dalam dua kategori yaitu perempuan yang mempunyai tubuh yang dianggap ideal dan yang tidak. Karakter perempuan dengan tubuh ideal yang dijadikan sebagai obyek. Dengan kata lain, selain dihadirkan sebagai obyek, tubuh perempuan juga dijadikan sebagai konstruksi atas tubuh yang ideal. Sedangkan untuk tubuh laki-laki sendiri tidak ada pengobyektifikasian yang dapat diidentifikasi sebagai bentuk konstruksi. Tubuh karakter perempuan yang dijadikan sebagai obyek dalam anime tergambar dalam empat karakter akan tetapi hanya dua karakter yang akan penulis bahas sebagai representasi dari keempat karakter perempuan yaitu Nami dan Putri Shirahosi. Penulis memilih kedua karakter tersebut karena kedua karakter tersebut mewakili dua kelompok karakter perempuan yang dibagi ke dalam jenis manusia dan duyung. Selain itu, kedua karater tersebut juga lebih banyak mengalami obyektifikasi daripada karakter perempuan lainnya.

Dalam manga One Piece begitu juga dalam animenya, penggambaran karakter perempuan, Nami, mengalami perubahan yang begitu terlihat. Sebagaimana Napier (2005) menjelaskan bahwa tubuh karakter perempuan dalam anime juga digambarkan selalu mengalami perubahan bentuk, baju dan make-up sedangkan perubahan pada tokoh laki-laki tidaklah banyak. Perubahan tersebut terlihat pada penyajian bentuk tubuh kedua karakter perempuan. Nami yang sebelumnya digambarkan sebagai remaja yang memakai pakaian lengkap berubah menjadi pakaian yang serba terbuka. Sedangkan perubahan Putri Shirahosi terlihat pada proses pertumbuhan dirinya yang disajikan dari ia kecil hingga dewasa. Perubahan atas penyajian Putri Shirahosi dan keterbukaan akan tubuh Nami disajikan berbeda antara manga dan anime. Dalam manga maupun anime One Piece, kondisi ketika remaja Nami digambarkan dengan pakaian yang lengkap terpakai pada tubuhnya tidak ada obyektifikasi begitu juga dengan Putri Shirahosi. Namun, anime One Piece menyajikan perubahan gambar pada Nami dan Putri Shirahosi yang sudah dewasa dapat dilihat sebagai obyektifikasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada persoalan mengenai kepantasan akan karakter yang bisa dijadikan obyek, yaitu tokoh perempuan dewasa.

  1. Penggambaran Vulgar sebagai Obyek dalam Anime One Piece

Perubahan dan perbedaan penyajian tubuh perempuan dalam anime One Piece dianggap lebih vulgar dan terbuka karena memperlihatkan bagian tubuh perempuan dengan begitu jelas dibandingkan manganya.  Perbedaan tersebut terlihat pada karakter Nami dimana bagian tubuh payudaranya ditampilkan memenuhi frame anime sedangkan dalam manga payudara tersebut tidak disajikan sama dengan anime. Hal tersebut dapat dilihat dalam gambar dibawah ini,

a. Anime One Piece Ep. 517                  b. Manga One Piece Ch. 598: 16

Pada kedua gambar di atas, terlihat perbedaan atas penyajian tubuh Nami yang diobyektifikasikan. Dalam animenya, penyajian bagian payudara Nami ditampilkan memenuhi frame selama beberapa detik, sedangkan pada kolom manga (di bagian bawah sebelah kanan) bagian payudara Nami tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti halnya disajikan dengan gambar penuh. Selain itu, dalam visual anime disajikan dengan sangat jelas posisi Nami ketika ia gembira bertemu dengan Usop dan memeluk Usop dengan menariknya ke dadanya. Hidup panjang Usop digambarkan begitu jelasnya berada tepat di tengah-tengah payudara Nami yang dapat dilihat sebagai bentuk obyektifikasi atas payudara Nami. Selain itu, posisi hidung Usop yang diapit oleh payudara Nami juga mereprsentasikan kesan vulgar, berbeda dengan penggambaran dalam manga yang hanya menyajikan posisi tersebut melalui sudut pandang dari depan sehingga tidak memperlihatkan posisi hidung Usop dan payudara Nami yang berhimpitan.

Obyektifikasi juga terjadi tidak hanya pada penyajian bagian payudara tetapi juga pada bagian tubuh lainnya seperti pinggang, bokong, dan bagian perut bawah. Sebagaimana dipaparkan oleh Napier (2006) bahwa bagian-bagian tubuh seperti halnya dada, pinggang, wajah, dan suara karakter perempuan dapat dijadikan sebagai obyek yang dapat menarik perhatian penonton karena merupakan bagian-bagian tubuh yang mewakili hasrat seksual laki-laki. Dalam anime, setiap bagian lekuk tubuh Nami dan karakter perempuan lainnya diperlakukan sebagai obyek namun berbeda dalam manga. Hal tersebut terlihat, ketika Nami atau karakter perempuan lainnya digambarkan sedang berinteraksi dengan karakter lain, sudut pandang penonton dituntun menuju bagian tubuh mereka yang kemudian ditampilkan memenuhi setengah frame anime. Bahkan, pengarahan pada tubuh perempuan pun terjadi ketika tokoh lain yang berdialog atau ketika tokoh lain sedang bertarung.

Apabila dibandingkan dengan posisi Nami yang sebelumnya sedang memeluk Usop, penyajian tubuh karakter perempuan juga dapat secara tiba-tiba disisipkan dalam pandangan visual ketika antar tokoh berdialog, seperti misalnya tokoh Putri Shirahosi. Penyisipan tubuhnya dalam anime tidak menunjukkan adanya keterkaitan antara percakapan antar tokoh dan penggambaran tubuh yang dimunculkan. Sedangkan dalam manga, bagian tubuh Shirahosi tidak digambarkan ada sedikitpun dalam percakapan itu. Akan tetapi dalam anime, penyajian bagian tubuh Shirahosi dimunculkan  dengan begitu jelas yang disisipkan disela-sela percapakan karakter-karakter lain.

c. Anime One Piece Ep. 548                              d. Manga One Piece Ch. 628: 16

Dalam anime, tubuh Shirahosi dimunculkan disela-sela pembicaraan antara Luffy dan Jimbei. Apa yang sedang dibincangkan mereka pada saat itu adalah ketika Hordy yang menantang Luffy dan anggotanya untuk bertarung memperebutkan kekuasaan di Pulau Duyung. Dalam pertarungan ini, Putri Shirahosi berperan sebagai tokoh yang harus dimusnahkan oleh kelompok Hordy karena ketakutan mereka akan kemampuan Shirahosi yang dapat mengontrol raja monster laut untuk menghancurkan dunia yang dikenal sebagai salah satu dari tiga senjata kuno yang tersebar di dunia.

Meskipun Shirahosi memiliki kekuatan yang begitu hebat, posisinya dalam pertarungan tersebut adalah menjadi umpan untuk mengalihkan perhatian musuh dan pihak yang dilindungi oleh kelompok Luffy karena dipandang lemah dan tidak berdaya. Kemampuan Shirahosi yang digambarkan belum sepenuhnya bangkit, membuat dirinya menjadi tokoh yang harus dilindung karena kepolosan dan sikap penakutnya. Menurut penulis, kemunculan penyajian Shirahosi dalam anime ketika scene tersebut sebagai gambaran bahwa Shirahosi khawatir dengan kondisi perang yang akan terjadi di Pulang Duyung terlihat dari kepalan tangannya. Akan tetapi, penggambaran tubuh bagian bawah perut Shirahosi tidak memunculkan makna apapun selain objek vulgar. Dengan kata lain, baik dalam penggambaran peran dan juga tubuhnya, Shirahosi digambarkan sebagai pihak yang pasif, lemah dan harus dilindungi. Dengan demikian, putri Shirahosi bukan hanya ia mengalami obyektifikasi tetapi dirinya ditempelkan dengan konstruksi gender feminin yang dianggap sebagai perempuan yang pasif, lemah dan harus dilindungi.

Penulis berpendapat bahwa penyajian tersebut bukan hanya menunjukkan tubuh perempuan sebagai obyek tetapi juga sebagai representasi dari hasrat seksual. Hal tersebut dapat dilihat dalam penyajian Putri Shirahosi untuk pertama kalinya. Dalam manga maupun anime, Putri Shirahosi sengaja dikunci di kamarnya sendiri selama sepuluh tahun untuk mencegah orang yang ingin melukainya. Dan kemudian, Luffy, karakter utama laki-laki, menemukan kamar Shirahosi. Dalam anime, kemunculan Shirahosi disajikan berbeda dengan manga. Luffy masuk ke kamar Shirahosi yang gelap, namun ketika lampu menyala, hal yang pertama kali diperlihatkan adalah payudara.

Sedangkan dalam manga, Shirahosi dimunculkan dari wajahnya. Selain payudara Putri Shirahosi yang dijadikan obyek, bagian tubuh lainnya pun mendapat perlakuan yang sama. Obyektifikasi yang dialami oleh Putri Shirahosi melebihi dari obyektifikasi yang dialami karakter Nami karena bukan hanya tubuhnya yang dijadikan obyek tetapi juga suara Shirahosi. Putri Shirahosi disajikan sebagai Putri dari Raja Neptunus yang digambarkan sebagai perempuan paling cantik namun juga polos. Ketika Putri Shirahosi keluar dari kamarnya dan menuju dunia luar, tubuhnya diobyektifisikasikan kembali. Penggambaran dirinya yang baru saja keluar dan diperkenalkan pada masyarakat menjadikan tubuhnya tidak terlepas dari pandangan yang melihatnya sebagai obyek. Namun, perkenalan dirinya pada dunia luar digambarkan berbeda dari manga ke anime.

e. Anime One Piece 537                  f. Manga One Piece Ch.  618: 4

Dalam manga, penggambaran Putri Shirahosi hanya difokuskan pada ekspresi tangisannya saja yang kemudian membuat Sanji, karakter laki-laki dalam gambar menjadi terpesona. Akan tetapi, pada anime, bagian-bagian dan lekuk tubuh Putri Shirahosi disajikan secara jelas dan gamblang atas bagian mana saja yang dipandang oleh Sanji yang menjadikan dirinya sebagai objek hasrat seksual Sanji. Selain sebagai representasi atas obyek seksual bagi karakter laki-laki dalam cerita, Nami dan Putri Shirahosi juga menjadi obyek seksual bagi hasrat para penonton anime ini.

  1. Refleksi terhadap Kondisi Sosial Jepang dalam Anime One Piece

Adapatasi anime pada periode pertama menyajikan kesetiaan antara penggambaran dari kertas ke layar dan tidak memunculkan perubahan (Cavarallo. 2010). Akan tetapi, adaptasi anime One Piece sebagai adaptasi anime periode ketiga telah mengalami perubahan yang cukup banyak dari perpindahan media manga ke anime yang kemudian adaptasi tersebut mengubah genre atas adaptasi anime One Piece. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Cavarallo (2010) bahwa perubahan adaptasi anime Jepang terkadang memunculkan perubahan jenis genre atas karya sumber dan perubahan tersebut bertujuan untuk hiburan, refleksi dan representasi kebudayaan Jepang. Seperti halnya dalam anime One Piece, Eichiiro Oda mencoba untuk mengubah genre dan target penonton anime One Piece dengan mengeksplor bentuk tubuh karakter perempuan dalam cerita.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fujimoto Yukari (2014) target pembaca bagi manga Naruto dan One Piece adalah anak-anak dan remaja laki-laki akan tetapi dalam surveynya anime One Piece lebih banyak ditonton oleh remaja perempuan. Oleh karena itu, penulis berasumsi bahwa adaptasi anime One Piece yang mengobyektifikasikan tubuh perempuan sebagai upaya untuk menarik target utama, remaja laki-laki, yang diinginkan oleh Oda. Upaya tersebut ditunjukkan ketika tubuh Nami, Putri Shirahosi ataupun karakter perempuan lainnya menjadi obyek seksual dari karakter laki-laki, Sanji. Setiap kali penggambaran tubuh karakter perempuan disajikan jelas dengan kevulgarannya dalam anime, pengarahan pandangan yang diwakili oleh tokoh Sanji sebagai male gaze memunculkan asumsi bahwa pengarahan tersebut dapat memunculkan ketertarikan hasrat bagi penonton laki-laki.

Meskipun Jepang dipaparkan masih kental dengan kebudayaan tradisional yang konsevatif dan Otaku (penggemar fanatik anime) dipandang sebelah mata, anime Jepang, yang telah dianggap sebagai salah satu kebudayaan popular Jepang, tetap berkembang lebih bebas dalam cerita maupun konten gambar dibandingkan kartun barat (Napier. 2001).  Anime One Piece, sebagai salah satu anime Jepang dapat dikatakan cukup vulgar apabila dibandingkan dengan anime-anime Jepang lainnya yang memiliki genre yang sama, seperti halnya anime Naruto, Bleach, Fairy Tale, dan lainnya. Anime lain tidak menyajikan tubuh perempuan sejelas dan sevulgar One Piece (Yukari. 2014). Anime lain cenderung sesuai dengan penggambaran yang sama dengan karya manganya. Oleh karena itu, penyiaran One Piece lebih dibatasi daripada penyiaran anime lain di negara lainnya karena ada perbedaan ukuran atas kepantasan konten yang diperbolehkan dalam sensor penyiaran Jepang dan negara lain. Dengan kata lain, konten gambar anime One Piece yang berbeda dengan manganya dalam hal penggambaran tubuh perempuan yang dijadikan sebagai obyek seksual masih dianggap pantas karena sampai saat ini (Mei 2017) perbedaan konten tersebut tidak lantas memberhentikan penyiaran anime One Piece di Jepang.

Penggambaran tubuh perempuan dalam anime One Piece diidentifikasikan sebagai obyek dalam pandangan budaya patriarki yang dapat dilihat sebagai refleksi dari kondisi kebudayaan Jepang saat ini di mana generasi muda sudah tidak tertarik lagi untuk menjalin hubungan. Hal tersebut terlihat dalam anime One Piece ketika Sanji disajikan bermimpi sedang bermain-main di sungai yang mengalir di antara payudara-payudara.

g. Anime One Piece 588                                      h. Manga One Piece Ch. 663: 14

Dalam kedua gambar di atas, antara manga dan anime One Piece seperti menunjukkan hal yang berbeda. Namun, pada dasarnya kedua gambar tersebut menyajikan kondisi yang sama. Dalam manga diceritakan semua kru Luffy kembali berkumpul dan menceritakan kondisi masing-masing awak kapal setelah berpisah. Dalam manga, kolom ditengah terlihat Sanji[1] yang terluka dengan benjolan diatas kepalanya karena dipukul oleh Nami karena menunjukkan payudaranya kepada yang lain. Dalam manga maupun anime, ditengah-tengah Luffy dan yang lainnya saling menceritakan kondisi mereka, Sanji diperlihatkan terluka dan kemudian berhasil sadarkan diri. Namun, dalam anime (gambar 7 dalam kolom kanan bawah) disajikan pengakuan Sanji yang ketika ia pingsan, dirinya bermimpi sedang bermain-main di antara sungai-sungai payudara. Sedangkan dalam manga, mimpi Sanji tidak disajikan sama sekali dalam manga.

Menurut penulis, penggambaran mimpi Sanji yang sedang bermain-main di sungai beberapa pasang payudara, menunjukkan kevulgaran bagian tubuh perempuan yang digambarkan sebagai objek hasrat laki-laki. Selain itu, penyajian payudara yang digambarkan ada beberapa pasang dalam mimpi Sanji seakan-akan menunjukkan kewajaran bagi laki-laki untuk tidak hanya terpaku pada satu perempuan saja, yang ditunjukkan dengan banyaknya payudara dalam mimpi Sanji. Namun, karena hal itu adalah hanya mimpi, penulis mengasumsikan bahwa mimpi Sanji sebagai hubungan perempuan dan laki-laki yang direpresentasikan oleh Nami dan Sanji hanyalah sebuah angan yang tidak bisa diraih, yaitu laki-laki hanya dapat menikmati tubuh perempuan dalam pandangan dan mimpi saja. Seperti halnya keadaan masyarakat Jepang yang lebih menikmati hiburan-hiburan semu daripada hubungan yang nyata dengan orang lain[2], baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, sebanyak obyektifikasi tubuh yang dilakukan oleh anime One Piece, tidak lantas memunculkan satu pun kisah percintaan dalam cerita.

Seperti yang dipaparkan Yukari (2014) adaptasi anime Naruto, Bleach atau Fairy Tales menghadirkan kisah cinta antara tokoh disela-sela konflik. Meskipun, dalam anime Sanji selalu disajikan tertarik pada setiap tokoh perempuan yang ditemuinya dan berperan sebagai male gaze yang menuntun penonton untuk mengobyektifikasikan visual vulgar tubuh perempuan. Akan tetapi, Oda menjelaskan bahwa One Piece lebih terfokus pada penggambaran kisah cinta pada sesuatu yang abstrak seperti kebebasan dan laut, tidak akan ada penggambaran kisah cinta antar tokoh[3]. Oleh karena itu, penulis berasumsi bahwa perubahan dalam adaptasi anime One Piece dalam mengobyektifikasikan tubuh perempuan sebagai refleksi atau gambaran seksualitas masyarakat Jepang yang unik; remaja Jepang hanya tertarik dalam menyalurkan hasrat mereka melalui gambar tubuh dalam media virtual baik laki-laki ataupun perempuan.

Penyajian hubungan dan posisi antara karakter perempuan dan laki-laki dalam anime pun terlihat lebih timpang daripada dalam manga. Dalam manga, hubungan antara karakter perempuan dan laki-laki dapat diidentifikasi sebagai the stable equal relationship[4], karakter perempuan memang menempati peran penting dalam cerita. Namun, dalam anime hubungan tersebut terkadang berubah menjadi tidak setara seperti, adanya obyektifikasi tubuh perempuan yang telah dipaparkan sebelumnya memunculkan asumsi bahwa perempuan dalam anime One Piece sebagai pihak yang lemah, pasif yang hanya dijadikan sebagai obyek pandang dari tokoh laki-laki dan sebagai tokoh yang harus dilindungi. Sedangkan, obyektifikasi atas tubuh karakter laki-laki sama sekali tidak ada dalam manga maupun anime, bahwa hanya laki-laki yang dapat menjadikan perempuan sebagai obyek tapi tidak sebaliknya.

Selanjutnya, pemaparan ketidaksetaraan hubungaan antara tokoh perempuan dan laki-laki juga terlihat dalam struktur kekuasaan dalam kru Luffy. Tokoh Nami yang berperan sebagai navigator tidak memiliki kuasa dalam menentukan kemana sebaiknya mereka berlayar, keputusannya hanya digunakan ketika memprediksi cuaca karena Nami digambarkan sangat sensitif dengan perubahan cuaca. Sedangkan yang memiliki kuasa penuh dalam menentukan kemana mereka berlayar adalah tokoh laki-laki yaitu Luffy. Posisi tokoh perempuan dalam anime One Piece selalu berada diposisi kedua, tokoh perempuan ditonjolkan dengan keputusan yang selalu dilandaskan dengan perasaan dan intuisi juga disajikan sebagai pihak yang hanya dapat memberikan pilihan-pilihan. Sedangkan tokoh laki-laki berkuasa atas penentuan keputusan yang pengambilannya didasari oleh keberanian.

 

Kesimpulan

Adaptasi alih wahana anime One Piece menyajikan perbedaan dalam penggambaran bentuk tubuh perempuan. Alur cerita atas manga cukup setia ketika mengalami perpindahan media tetapi tidak dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang direpresentasikan oleh konten gambar tubuh perempuan sebagai objek pandang dan penyajian posisi tokoh perempuan dan laki-laki. Perubahan konten gambar tubuh perempuan dari manga ke dalam visual anime One Piece menampilkan obyektifikasi atas perempuan melalui penggambaran payudara, pinggang, dan perut bagian bawah perempuan. Obyektifikasi yang ditampilkan dalam alih wanaha anime One Piece berbeda dengan anime lain seperti Naruto, Bleach ataupun Fairy Tale yang tidak menampilkan gambar yang vulgar bagi genre sejenis. Anime One Piece menyajikan bahwa tokoh laki-lakilah yang mendapatkan hak istimewa untuk mengobyektifikasikan tubuh perempuan sedangkan tidak ada obyektifikasi atas tubuh tokoh laki-laki. Perubahan gambar tubuh tokoh perempuan yang disajikan dalam anime dengan vulgar dan lebih diperjelas daripada dalam manga dapat dilihat sebagai bentuk refleksi atau gambaran seksualitas masyarakat Jepang yang generasi mudanya tidak lagi tertarik dalam menjalin hubungan di dunia nyata melainkan lebih tertarik dalam menjalin hubungan virtual.

 

Daftar Pustaka

Cavarallo, Dani. (2010). Anime and the Art of Adaption. North Caroline: McFarland & Company Inc.

Darlington, Tania dan Sara Cooper. (2010). The Power of Truth: Gender and Sexuality in Manga. Dalam Johnson-Woods, Tony (Penyunting), Manga An Anthology of Global and Cultural Perspective (Hlm. 157-172). New York: Continuum Books.

Eri Izawa. (2000). Gender and Gender Relations in Manga and Anime. http://www.mit.edu/~rei/manga-gender.html\

Fujimoto Yukari. (2014). Women in “Naruto”, Women Reading “Naruto”. Dalam Berndt, Jaqueline dan Bettina Kümmerling-Meibauer (Penyunting), Manga’s Cultural Crossroads (Hlm. 172-191).  New York: Routledge.

Gwynne, Joel. (2013). Japan, Postfeminism and the Consumption of Sexual(ized) Schoolgirls in Male-authored Contemporary Manga. New York: Palgrave Macmillan.

Henshall, Kenneth G. (1999). Dimension of Japanese Society Gender, Margins and Mainstream. New Zealand: Macmillan Ltd.

Johnson-Woods, Toni. (2010). Manga An Anthology of Global and Cultural Perspective. New York: Continuum Books.

Lien Fan Shen. (2007). Anime Pleasures as a Playground of Sexuality, Power and Resistance. International Conference, MiT5, Media in Transition: Creativity, Ownership, and Collaboration in the Digital Age.

Napier, Susan J. (2001). Anime from Akira to Princess Mononoke. New York: Palgrave: Macmillan.

Napier, Susan J. (2005). Anime from Akira to Howl’s Moving Castle. New York: Plagrave Macmillan.

Napier, Susan J. (2006). “Excuse Me, Who Are You?” Performance, the Gaze, and the Female in the Works of Kon Satoshi. Dalam Brown, Steven T. (Penyunting), Cinema Anime Critical Engagements with Japanese Animation (Hlm. 23-42). New York: Plagrave Macmillan.

 

Footnote

[1] Pertukaran tubuh ini terjadi karena kekuatan dari salah satu kapten bajak laut lain, Trafalgar Law, yang dapat menukar jiwa dan raga seseorang dengan orang lain. Sebelumnya, diceritakan bahwa Law menukar tubuh Nami, Sanji, Franky dan Chopper dengan rincian; Nami di dalam tubuh Franky, Franky di dalam tubuh Chopper, Chopper di dalam tubuh Sanji dan Sanji di dalam tubuh Nami.

[2] Penelitian menjabarkan bahwa kondisi angka kelahiran menurun drastis beberapa tahun ini. Menurut survey, kelompok otaku (pecinta anime) yang terobsesi dengan anime makin meningkat, baik laki-laki maupun perempuan, di Jepang lebih senang menghabiskan waktunya dalam dunia virtual. Perkembangan teknologi melihat kondisi ini dan kemudian menciptakan lahan bagi mereka untuk melepaskan hasrat para masyarakat Jepang yang tidak lagi tertarik dengan hubungan nyata.  https://news.vice.com/story/japans-holographic-anime-girlfriend., http://www.newshub.co.nz/home/entertainment/2016/12/holographic-anime-virtual-wives-on-sale-in-japan.html, http://www.bbc.com/news/magazine-24614830.

[3] http://www.onepiecegold.com/romantic-relationships-in-one-piece/2/

[4] Salah satu hubungan laki-laki dan perempuan yang dikelompokkkan oleh Izawa (2000)

Standard

Perbedaan Dua Perjalanan Spiritual Tokoh Gjorg Berisha dalam Novel Broken April Karya Ismail Kadare

Dalam karya penggambaran kematian, terutama saat seorang menusia sedang menjalani sebuah proses kematian, selalu disajikan dengan ketakukan, kemarahan, penderitaan, penolakan, harapan, penerimaan dan lain-lain. Kematian seakan-akan digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan untuk dialami dan dibayangkan. Dalam novel Broken April (2003) karya pengarang Albania Ismail Kadare, kematian digambarkan sebagai sesuatu yang berbeda, adanya romantisasi kematian dan turut campur dari hal-hal duniawi yang disangkut-pautkan dengan hal-hal spiritual. Dalam novel ini, saya melihat adanya perubahan spiritualitas dan cara pandang tokoh utama terhadap kematian yang akan dihadapinya. Dan kemudian, sebelum membahas isu-isu yang saya temukan, terlebih dahulu saya akan menggambarkan sedikit alur cerita Broken April (2003).

Novel ini bercerita tentang sebuah tempat  di Albania yang bernama High Pleatau yang memiliki tradisi yang ‘unik’. Tradisi tersebut memperbolehkan membunuh untuk balas dendam yang disebut dengan blood-feud. Pertumpahan darah antara dua keluarga, Berisha dan Kryeqyqe telah berlangsung dalam beberapa generasi karena keluarga Kryeqyqe telah membunuh seorang tamu yang berkunjung ke keluarga Berisha. Cerita dimulai dengan kejadian dimana Gjorg Berisha yang sedang bersembunyi menunggu kedatangan laki-laki yang harus dibunuhnya, Zef Kryeqyqe. Setelah Gjorg membunuh Zef, pembalasan pada Gjorg akan datang dari keluarga Kryeqyqe setelah 30 hari berlangsung, salah satu dari mereka akan membunuh Gjorg. Kemudian selama 30 hari kedepan Gjorg melakukan dua perjalanan yang setiap perjalanannya memberikan dampak yang berbeda bagi dirinya. Kejadian pembunuhan ini merupakan salah satu hukumyang dianut oleh masyarakat Albania yang berada di High Pleatau yaitu pembunuhan akan dibalas dengan pembunuhan, begitu seterusnya hingga seluruh anggota laki-laki dalam keluarga salah satunya habis. Hukum tersebut disebut Kanun dan hukum yang dijalani oleh Gjorg disebut blood-feud. Dalam novel disebutkan bahwa Kanun adalah landasan dari segala aturan aktifitas kehidupan di High Pleatau,

 

“It’s power reached everywhere, covering lands, the boundaries fields. It made its way into the foundations of houses, into tombs, to churches, to roads, to markets, to weddings. It climbed up to mountain pastures, and even higher still, to the very skies, whence it fell in the form of rain to fill the watercourse, which were the cause of a good third of all murders.”(Broken April, 2003: 27)

 

Penjelasan di atas mengenai Kanun dalam novel menggambarkan betapa besar kuasa Kanun dalam menetapkan aturan-aturan yang melingkupi kehidupan masyarakat High Pleatau. Begitu juga dalam keadaan sosial yang benar-benar terjadi di Albania, dalam jurnalnya, Stephame Voell (2003) menjabarkan bahwa pada awalnya Kanun terdiri dari aturan-aturan lisan yang berkembang secara turun-temurun dari generasi ke generasi dan kemudian menjadi aturan-aturan tertulis yang kemudian bertahan sampai masa liberal pada tahun 1944. Akan tetapi, budaya Kanun tidak serta-merta hilang, di Albania sendiri pada tahun 1970an Kanun masih dikenal meskipun tidak seluruh praktiknya dilakukan. Dalam pemaparan pada buku Encyclopedia of Europe since 1945 (2001), hukum Kanun sendiri dianut oleh semua orang tanpa terkecuali, meskipun adanya perbedaan agama pada masyarakat di Albania, Kristen ataupun Islam, semuanya patuh pada hukum Kanun. Jadi, dalam kebudayaan ini agama sama sekali tidak berpengaruh pada hukum adat.

April dalam  Broken April merupakan setting waktu dalam novel dengan rentang waktu pertengahan pada bulan Maret dan berakhir pada pertengahan bulan April, waktu hidup Gjorg yang terbatas hanya hingga pertengahan April. Dalam teks, disisa-sisa waktu yang Gjorg punya sebelum kematiannya, Gjorg melakukan dua kali perjalanan. Perjalanan pertama adalah perjalanan menuju Kulla of Orosh, tempat Gjorg membayar pajak yang disebut sebagai blood-tax atas pembunuhan Zef Kryeqyqe. Kedua adalah perjalanan yang dilakukan oleh Gjorg untuk mencari seorang perempuan yang bernama Diana. Kedua perjalanan tersebut memberikan penggambaran yang berbeda mengenai kematian dan keadaan spiritualitas Gjorg.

Dalam novel, sebelum Gjorg melakukan perjalanan pertama digambarkan bahwa Gjorg masih tidak dapat menerima sisa waktu hidupnya dan merasa bahwa kematian merupakan hal yang mengerikan. Hal tersebut digambarkan ketika Gjorg harus membunuh Zef pada awal cerita. Gjorg dipaparkan tidak ingin membunuh Zef yang terlihat pada penggambaran kondisi tubuhnya yang tiba-tiba membeku ketika menunggu kedatangan Zef dan ingin melarikan diri dari persembunyiannya. Hal ini juga tergambarkan pada kegelisahan dan keraguan yang muncul dibenak Gjorg. Ketika Gjorg memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi apabila keluarganya tidak terikat dalam adat blood-feud, kehidupan orang-orang yang tidak terikat oleh hukum Kanun,

 

He had already thought of that on another occasion. The world was divided into two parts: the one that fell under the blood-law, and the other that was outside that law.” (Broken April. 2003:30)

 

Penggambaran imajinasi Gjorg merenung bagaimana kehidupan orang-orang tersebut, pasti terasa sangat mengagumkan dan bebas, itulah yang ada dalam benak Gjorg. Dalam novel, perjalanan pertama Gjorg memaparkan bahwa dia menerima nasib kematiannya, akan tetapi dalam setiap langkahnya Gjorg selalu mengingat akan sisa waktu-waktunya dalam kegelisahan dan angan-angan apabila keluarga tidak terikat pada Kanun. Kemudian, saat melakukan perjalanan untuk membayar pajak di Kulla of Orosh, disela-sela perjalanannya Gjorg singgah di beberapa tempat untuk beristirahat dan bertemu dengan beberapa orang. Dalam singgahan yang pertama, Gjorg melihat reruntuhan desa yang pernah digambarkan oleh bapaknya sebagai desa yang menolak untuk melakukan adat blood-feud dan sebagai balasannya desa itu dihancurkan oleh penegak hukum Kanun. Selama perjalanan menuju Kulla of Orosh, Gjorg digambarkan bahwa dirinya selalu mengingat kematian dan waktunya yang tersisa. Gjorg terlihat sangat memperhatikan waktu dan terburu-buru ingin segera membereskan urusannya dalam membayar blood-tax. Hal ini terlihat ketika dirinya terus-menerus bertanya kapan dirinya akan sampai pada Kulla of Orosh pada setiap orang yang ditemuinya dijalan.

Penggambaran kegelisahan itu diteruskan dengan ilusi-ilusi mengenai Kulla of Orosh yang sudah ada dihadapannya dan kekeliruan Gjorg dalam menggambarkan waktu antara siang dan malam. Meskipun sebelumnya dipaparkan bahwa Gjorg telah menerima waktu kematiannya, “It was only half an hour since he had been granted the thirty-day truce, and already he was almost used to the idea that his life had been cleft in two.” (Broken April, 2003; 19). Dan kemudian, pada perjalanan pertama Gjorg selalu sadar akan kematian dan waktu yang dia punya. Renungan-renungan yang dilakukannya selalu mengenai kematian.

Akan tetapi, selain digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan, ditengah-tengah perjalanan saat Gjorg memaparkan kematian ada kalanya digambarkan sebagai sesuatu yang mengagumkan. Perbedaan penggambaran inilah yang menurut Baker (2005) unik dalam benak manusia, yaitu bahwa manusia memiliki caranya tersendiri untuk menyadari kematian mereka. Seperti halnya Gjorg yang menggambarkan kematiannya sebagai sesuatu yang luar biasa,

 

But that was not the important thing; what was happening within him was the important things. Something terrifying and majestic at the same time. He could not have explained it. He felt that his heart had leaped from his chest, and, opened up in that way, he was vulnerable, sensitive to everything, so that he might rejoice in anything, be cast down by anything, small or large, a butterfly, a leaf, boundless snow, or the depressing rain falling on that very day.” (Broken April, 2003; 34)

 

Menurut saya, kutipan di atas juga menggambarkan kondisi spiritual Gjorg yang melihat kematian sebagai sesuatu yang di luar dirinya, membuat dirinya menjadi lebih menghargai semua hal yang ada karena dirinya mengetahui bahwa waktunya terbatas. Selanjutnya, dalam perjalanan pulang dari Kulla of Orosh, Gjorg bertemu dengan seorang perempuan, yang datang mengunjungi High Pleatau untuk berbulan madu, bernama Diana. Perjalanan pertama Gjorg pun berakhir dan Gjorg masih memiliki tiga minggu tersisa.

Dalam novel, perjalanan pertama Gjorg yang seakan menggambarkan penerimaan Gjorg atas kematiannya juga terbantahkan saat Gjorg menghabiskan waktunya di rumah sepulang perjalanan pertama. Gjorg digambarkan menjadi gelisah dalam menunngu habisnya perjanjian tiga puluh hari. Penantian Gjorg digambarkan seperti dirinya kehilangan arah, tidak ada lagi renungan-renungan atau angan-angan apabila dirinya terlepas dari Kanun,

 

The next morning, he woke late, Where am I? he asked two or three times, and he fell asleep again. When at least he got up, his head was heavy and felt as if it were stuffed with sponge. He was not up to doing anything. Not even thinking. The day passed, and the next day and the next. He went through the house several times, noticing listlessly a section of the wall that had been need of repair for a long time, or a corner of the roof that had fallen in winter. He had no heart for work. The worst of it was that any repair seems useless to him.(Broken April, 2003;158-159)

 

Kutipan di atas memberikan penegasan bahwa kematian yang mengikutinya memang mempengaruhi dirinya. Namun, berbeda dengan penggambaran angan-angannya pada perjalanan pertama, Gjorg mulai memberikan pilihan yang lebih nyata untuk menghindari kematian.

Bagaimanapun juga, penerimaan Gjorg dan angan-angannya yang digambarkan sebelum dan pada perjalanan pertama tidak menyajikan solusi yang nyata untuk situasi Gjorg, hanya pilihan-pilihan yang berakhir lebih mengerikan, seperti desa yang melawan Kanun. Akan tetapi, semakin dekat dengan hari kematian, pemikiran-pemikiran Gjorg lebih disajikan kepada hal-hal yang jelas-jelas nyata, tidak hanya angan. Gjorg lebih digambarkan mengejar sesuatu yang memberikan hasil. Hal tersebut disajikan ketika Gjorg mulai memikirkan pilihannya untuk meninggalkan High Pleatau dan terlepas dari Kanun yang memang dapat dilakukan dan tidak ada hukuman yang akan ditimpakan pada desanya,

 

After those somnolent days, his thoughts began to stir. And the first thing that his mind began to seek was a way of keeping himself from death and blindness. There was only one way, and he thought about it at great length: to be an itinerant woodcutter.”(Broken April, 2003:159)

 

Kutipan di atas memaparkan pilihan untuk menjadi pemotong kayu mulai disajikan sebagai pilihan Gjorg. Akan tetapi, pilihan ini urung dilaksanakannya dengan alasan harga dirinya akan hilang. Meskipun demikian, karena sedikitnya pilihan yang ada Gjorg memutuskan untuk melakukan perjalanan lagi dengan harapan dirinya mendapatkan apa yang digambarkan hilang dalam dirinya. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Shaver (2002) bahwa orang yang sedang menghadapi kematian cenderung melupakan kondisi fisiknya dan mencari dirinya yang sejati dan yang diinginkannya. Oleh karena itulah, Gjorg memutuskan untuk pergi dengan harapan mendapatkan apa yang diinginkannya, seketika itu hal yang ingin dilihatnya adalah pegunungan.

Sebelum perjalanan yang kedua Gjorg dimulai, bapaknya berpesan agar dirinya tidak melupakan sisa-sisa hari yang dia miliki dan berlindung di menara para pengungsi (tower of refugee) untuk menghindari orang yang akan membunuhnya. Akan tetapi, dalam teks digambarkan bahwa Gjorg tidak mendengarkan pesan bapaknya, kepalanya hanya dipenuhi oleh keinginannya melihat pegunungan. Penggambaran perjalanan Gjorg yang kedua tidak beberda jauh dengan yang pertama, Gjorg singgah di beberapa tempat dan bertemu dengan beberapa orang. Akan tetapi, dalam perjalanan itu digambarkan ketika dirinya berada di sekitar orang, Gjorg disajikan mencari sesuatu, Gjorg menemukan dirinya mendengarkan percakapan orang-orang mengenai Diana, perempuan yang ditemuinya dalam perjalanan pulang dari Kulla of Orosh. Diana digambarkan sebagai perempuan yang cantik dengan mata dan rambut pirang yang indah, bahkan ada yang menggambarkannya sebagai seorang peri cantik. Melalui percakapan itulah, Gjorg digambarkan mengetahui apa yang ingin dilihatnya bahwa dirinya ingin bertemu dengan Diana.

 

And suddenly it came to him in complete clarity why it was he had undertaken this journey. He had dismissed it from his mind obstinately, had suppressed it, but the reason why was right there, in the center of his being: if he had set out on the road, it wasn’t to look at the mountains, but to see that woman again.” (Broken April, 2003; 162)

 

Kutipan di atas menjelaskan bahwa memang Dianalah yang dicarinya dalam perjalanan kedua yang dilakukannya. Seorang perempuan, benda hidup yang nyata bukanlah hal-hal spiritual seperti kedamaian. Akan tetapi, meskipun dalam perjalanan kedua ini Gjorg dipaparkan mencari hal yang bersifat duniawi, Gjorg tidak digambarkan memiliki pemikiran-pemikiran atau kegelisahan mengenai kematian dan sisa waktunya. Gjorg disajikan fokus dalam mencari Diana dan kereta kudanya. Hal tersebut terlihat pada setiap kali Gjorg bertemu dengan seseorang dijalan, Gjorg selalu menanyakan apakah mereka melihat sebuah kereta kuda dengan perempuan di dalamnnya,

 

Now he no longer hid from himself that he was hoping to find that carriage. He did not even conceal it from others. He had inquired several times, ‘You didn’t happen to see a carriage with a curious body with odd lines…. it’s hard to explain.’.” (Broken April, 2003;164)

 

Kutipan tersebut memaparkan bahwa dalam perjalanannya yang kedua Gjorg dengan sadar mencari sebuah kereta kuda dengan perempuan didalamnya. Meskipun begitu, saya menemukan hal tersebut agak ironis.

Dalam novel, perjalanan kedua Gjorg memang tidak diperlihatkan bahwa perjalanan tersebut memberikan dirinya kondisi spiritual yang seharusnya dimiliki oleh orang yang tinggal memiliki sedikit waktu dalam hidupnya seperti halnya lebih mendekatkan diri pada pencipta, berbuat baik bagi banyak orang ketimbang memikirkan hasrat pribadinya. Namun, saya melihat penggambaran kematian dalam novel ini sungguh manusiawi. Terlepas dari ironi tersebut, penggambaran kematian yang dipaparkan dalam perjalanan Gjorg yang kedua selalu digambarkan sebagai sesuatu yang indah dan gaib. Dalam perjalanan kedua, Gjorg disajikan mencari Diana dan keretanya yang terkesan mencari sesuatu yang duniawi. Akan tetapi, menurut saya yang Gjorg lakukan bukanlah mencari Diana dan keretanya melainkan mencari kematian karena dalam teks Diana dan keretanya merepresentasikan kematian. Hal tersebut dipaparkan pada kutipan berikut, “In reality, with its gloomy appearance, bronze door-handles, and complicated lines, the carriage reminded him of a coffin that he had seen at on time.” (Broken April, 2003; 163). Dalam benak Gjorg, penggambaran kereta itu yang seperti peti mati yang merupakan simbol dari kematian yang diromantisasi ke dalam bentuk kereta kuda yang indah.

Selain meromantisasi kematian ke dalam bentuk sebuah benda, dalam teks kematian juga diromantisasikan ke dalam wujud manusia yaitu perempuan, Diana. Diana digambarkan seperti sesuatu yang bukan manusia,

 

and inside that carriage, butterfly-coffin, were the eyes of the woman with the auburn hair, that he had breathed in with a sweetness and an emotion that he had never felt in the presence of any other being in the world” (Broken April. Pg.163).

 

Pada kutipan di atas, Gjorg memaparkan bahwa dirinya tidak pernah merasakan hal yang ia rasakan ketika bertemu Diana, yang dijelaskan menggunakan kalimat, dia belum pernah merasakan kehadiran Diana seperti mahluk hidup yang ada di dunia. Lantas, darimanakah Diana berasal? Menurut saya, penjabaran Gjorg atas Diana tidak hanya merepresentasikan kematian melainkan malaikat maut, Diana sebagai representasi dari malaikat maut dan keretanya sebagai kematian. Ketika waktu yang dimiliki Gjorg hampir habis, dia digambarkan melupakan pesan bapaknya untuk berlindung di Tower of Refugee dan hanya memikirkan bagaimana ia dapat bertemu dengan Diana. Pada akhir cerita digambarkan bahwa Gjorg bertemu dengan seorang laki-laki yang membawa seekor lembu hitam dan memberitahunya bahwa ia melihat kereta yang dimaksudkan oleh Gjorg. Hal tersebut membuat Gjorg senang dan melupakan semuanya, “He overwhelmed to see her. She never been so near and he named her as his fairy.” (Broken April, 2003; 214). Kutipan ini juga meromantisasikan Diana yang digambarkan sebagai seorang peri. Akan tetapi, pada akhirnya Gjorg dipaparkan tidak dapat memenuhi hasratnya untuk menemui Diana sebelum waktunya habis. Gjorg ditembak mati oleh lelaki dengan lembu hitam yang sebelumnya memberitahu dirinya mengenai Diana. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Bataille (1962) bahwa kehidupan manusia tidak dapat mengikuti pergerakan yang menarik mereka menuju kematian tanpa rasa takut dan keinginan untuk mencurangi kematian. Oleh karena itu, Gjorg disajikan tidak dapat bertemu dengan Diana yang merepresentasikan kematian dalam novel, melainkan kematian itu sendirilah yang menjemput Gjorg.

Novel ini menggambarkan dua perjalanan seseorang yang diambang kematian dengan cara yang berbeda. Sebelumnya pada perjalanan Gjorg yang pertama, kematian digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan karena Gjorg selalu memikirkan bagaimana kehidupannya apabila dirinya terbebas dari Kanun, tidak harus mati dalam waktu tiga puluh hari ke depan. Meskipun dalam perjalanan ini Gjorg terkesan menerima nasibnya yang terbantahkan dengan semua pemikiran-pemikirannya yang memunculkan kegelisahan akan kematian. Akan tetapi, dalam perjalanannya yang kedua, Gjorg digambarkan tidak peduli pada kematian dan mencari hal yang dia inginkan. Gjorg pergi mencari Diana dan keretanya yang digambarkan seperti merepresentasi kematian, seakan-akan Gjorg menjemput kematian itu sendiri dengan mencari Diana. Novel ini menyajikan bahwa meskipun kematian Gjorg telah ditentukan pada waktu tertentu dan dirinya telah mempersiapkan apa yang akan dilakukan menjelang kematiannya, tetap saja kematian Gjorg datang di waktu yang tidak diduga ketika dirinya mencari hal yang seakan menuntunnya mendekati kematian.

Daftar Pustaka

Baker, Lynne R. 2005. Death and the Afterlife. William Wainwrights (Ed.), 2001. The Oxford Handbook of Philosophy of Religion, Oxford: Oxford University Press, pp.366-390.

Bataille, Georges. (1962). Death and Sensuality. United States: Walker and Company.

Cook,Bernard. (2001). Encyclopedia of Europe Since 1945. New York: Garland Publishing Inc.

Kadare, Ismail. (2003). Broken April. London: Vintage.

Shaver, W. A. (2002). Suffering and the role of abandonment of self. Journal of Hospice and Palliative Nursing, 4 (I), 46-53.

Voell, Stephane. (2003). The Kanun in the City. (Hal.85-101). Switzerland: Anthropos Institute.

 

 

Standard

Kritikan Sosial dan Kuasa dalam Puisi Ada Apa dengan Kalian Karya A. Mustofa Bisri

Dalam penelitian ini, saya akan menganalisis puisi karya A. Mustofa Bisri yang berjudul Ada Apa dengan Kalian. Analisis akan saya lakukan dengan menggunakan pendekatan strukturalisme dan sosiologi sastra. Ada beberapa hal yang menurut saya menarik pada puisi ini. Pertama adalah pemilihan diksi ‘kalian’ sebagai yang dituju. Kedua adalah unsur sakral dan profan yang ada dalam puisi. Ketiga, saya melihat puisi ini juga mencerminkan kritik sosial terhadap individu, kelompok atau golongan, bahkan organisasi pemerintah yang disebabkan oleh kapitalisme.

Dalam puisi ini akulirik adalah pencerita dalam puisi yang mengekspresikan kekecewaan, kekesalan dan kemarahannya kepada individu-individu dan kelompok-kelompok yang dimaksud oleh akulirik dengan mengajukan pertanyaan ada apa dengan kalian pada setiap akhir bait. Menurut saya, Akulirik dalam puisi ini mengungkapkan ‘kemarahannya’ melalui pertanyaan-pertanyaan dan perumpamaan yang dilihat akulirik sebagai suatu fenomena yang menurutnya tidak pantas. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu penggalan baitnya “Kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla”, “Tapi malas memakmurkannya”. Puisi ini tidak menggunakan penetapannya bait dengan baris yang sama disetiap baitnya, akan tetapi rima pada setiap barisnya berbunyi sama seperti “Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat” “Sambil terus mensekutukan diri kalian dengan Tuhan penuh semangat”.

Menurut Mangunwijaya segala sastra adalah religius (1988. Hal. 11), termasuk juga puisi ini karena karya ini mengandung peristiwa atau unsur-unsur yang bersifat keagamaan. Menurut saya, pemilihan diksi yang digunakan Mustofa Bisri dalam puisi Ada Apa dengan Kalian merupakan diksi-diksi yang biasa kita temui. Selain itu dalam puisi ini, akulirik menggunakan diksi ‘kalian’ untuk merujuk langsung pada individu atau kelompok yang ditujunya tanpa adanya keinginan untuk menutupinya, seakan-akan akulirik memang ingin langsung ‘kalian’ dalam puisi ini mengerti bahwa merekalah yang dimaksud “Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat”. Akan tetapi pada setiap baitnya, diksi ‘kalian’ dalam puisi ini merujuk pada hal yang berbeda. Hal tersebut akan saya bahas dalam paragraph lain. Selain itu, dalam puisi ini ada satu kalimat yang terus-menerus diulang di setiap bait berakhir, “Ada apa dengan kalian?”.

Kalimat ini diulang sebanyak empat kali. Menurut saya, ada beberapa kemungkinan mengapa kalimat it uterus diulang, yaitu selain sebagai judul dari puisi tersebut kalimat itu juga sebagai penegasan atas pertanyaan akulirik yang menggambarkan perasaan marah, geram, kesal atas penggambaran fenomena-fenomena pada bait-bait sebelumnya. Kalimat yang terus diulang itu juga sebagai penggambaran tidak adanya atau belum adanya jawaban yang akulirik dapatkan dari individu atau kelompok-kelompok yang dituju, sehingga kalimat itu selalu muncul untuk mempertanyakan maksud ‘kalian’ dalam puisi.

Menurut KBBI,sakral adalah perihal yang dianggap suci atau keramat oleh agama atau kepercayaan tertentu sedangkan profan adalah sesuatu yang duniawi, atau yang tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan, tidak suci atau kudus. Dalam puisi ini, Mustofa Bisri menggunakan diksi-diksi yang merujuk pada unsur sakral dan profan untuk mengungkapkan maksudnya

Unsur-unsur sakral dalam puisi ini adalah; syahadat, Tuhan, jihad, syariat, akhirat, Rasulurrahmah Al-Amien, laknatan lil’aalamien, masjid, mushalla, zakat, infak, puasa, haji, umrah, khotbah, sakral dan halal. Sedangkan unsur-unsur profannya adalah; nikmat, mensekutukan, perang, malas, warung, tega, keji, makanan, rokok, alcohol, nikotin, minyak babi, pajak, korupsi, mie, minyak, sabun, bumbu penyedap, jajanan, dan iklan. Kedua unsur sakral dan profan dalam puisi ini saling berhubungan satu sama lain karena dalam puisi ini dengan menggunakan kedua unsur akulirik dapat membandingkan dan mengumpamakan maksudnya dengan baik, seperti dalam bait ini

 

Kalian bangga menjadi panitia zakat dan infak

Seolah olah kalian yang berzakat dan berinfak

Kalian berniat puasa di malam hari

Dan iman kalian ngeri

Melihat warung buka di siang hari

Kalian setiap tahun pergi umrah dan haji

Tapi kalian masih terus tega berlaku keji

 

Bait di atas menunjukkan adanya unsur sakral dan unsur profan yang saling berdampingan untuk memaparkan isi bait puisi. Menurut saya, unsur sakral dan unsur profan dalam sebuah karya baik dalam bentuk puisi ataupun prosa tidak bisa dipisahkan satu sama lain atau hanya menampilkan satu unsur saja dalam satu karya karena merujuk pada paparan Mangunwijaya bahwa sakral dan profan dalam realita kehidupan merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.

Adanya unsur sakral dan profan dalam puisi juga merupakan proses sekularisasi yang menurut Mangunwijaya bahwa,

 

“Sekularisasi adalah proses alami biasa yang melihat dunia dan zaman sebagai sesuatu yang positif dan berharga, di mana manusia ditugaskan membuat saeculum menjadi sejarah yang artinya manusia tidak perlu ragu-ragu untuk aktif dan berinisiatif membuat dunia menjadi lebih baik, lebih berharga dari semula, bahwa setelah “kepastian nasib” kita berganti nilai menjadi ‘tantangan sejarah’, hal-hal yang alami dapat kita bentuk menjadi kebudayaan” (Mangunwijaya, 1988. Hal. 33).

 

Sekularisasi membentuk manusia untuk menciptakan kebudayaan yang dapat diubah oleh karena itu seharusnya sekularisasi dapat menjadi sebuah proses dimana kebudayaan itu menjadi alat manusia lebih mengagungkan Tuhan karena hal-hal yang diciptakan manusia itu dalam kebudayaan. Sesuai dengan yang Mangunwijaya paparkan bahwa kita tidak perlu membuat dualisme antara kebesaran manusia dan keagungan Allah (1988. Hal. 34). Dalam puisi ini, unsur sakral dan profan saling berelasi satu dan lainnya dalam setiap baris dan baitnya. Contohnya pada bait pertama terdapat kata jihad (unsur sakral) lalu perang (unsur profan), ketiga unsur sakral tersebut memberikan penjalasan kepada unsur profan bahwa ada beberapa peperangan belaka yang berdalihkan jihad.

Akulirik dalam puisi ini memaparkan kekecewaannya terhadap beberapa individu, kelompok atau golongan yang merupakan hasil dari Capitalisme. Menurut Barker (2002) Capitalisme adalah kuasa terstruktur yang berada dibalik ketidaksetaraan manusia sebagai salah satu akibat dari ekploitasi sistem kelas yang tidak hanya menghasilkan perbedaan ekonomi tetapi juga menyokong ketidakadilan di dalam kuasa budaya. Dengan menggunakan unsur sakral dan profan akulirik mengkritik perilaku-perilaku ‘kalian’ yang ada dalam kehidupan sosial masyarakat. Menurut Bertolt Brecht, sebuah karya bukan hanya sebagai cerminan yang menggambarkan realitas tetapi juga sebuah palu yang dipakai untuk membentuk (menghancurkan) kenyataan itu sendiri. Penggambaran yang disajikan dalam puisi ini mencerminkan capitalisme dan juga mengkritik hasil dari budaya tersebut. Pada setiap baitnya akulirik mengkritik hal yang berbeda-beda namun tetap berkaitan. Menurut saya, terdapat empat kritik sosial yang dihadirkan dalam puisi Ada Apa dengan Kalian yang ditandai dengan pertanyaan ‘Ada apa dengan kalian?’ pada setiap akhir baitnya. Contohnya kritikan sosial pada fenomena di tiga bait pertama,

 

Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat

Sambil terus mensekutukan diri kalian dengan Tuhan penuh semangat

Berjihad di jalan kalian Berjuang menegakkan syariat kalian

Memerangi hamba hambaNya yang seharusnya kalian ajak ke jalanNya

Seolah olah kalian belum tahu bedanya

Antara mengajak yang diperintahkanNya

Dan memaksa yang dilarangNya

 

Kalian kibarkan Rasulurrahmah Al Amien dimana mana

Sambil menebarkan laknatan lil’aalamien kemana mana

 

Ada apa dengan kalian?

 

Dalam baris tersebut adanya kritik sosial kepada individu ataupun golongan yang selalu mengagung-agungkan asma Tuhan dan pembenaran mereka sendiri atas nama agama untuk melakukan hal-hal yang dia atau mereka anggap ‘benar’. Dia atau mereka berdalih atas nama jihad untuk memerangi yang mereka anggap tidak berada dijalan-Nya dengan menggunakan cara yang salah. Apabila dilihat dari konteks sosial, individu atau golongan yang dimaksud dalam penggalan bait tersebut adalah individu dan golongan-golongan yang melakukan pertumpahan darah atau perang (adanya diksi memerangi) dan melakukan pemaksaan atas keyakinan yang mereka anut dengan cara memaksakan kehendak mereka dan memusnahkan siapa saja yang dianggapnya tidak berada dijalan yang mereka anggap ‘benar’. Akan tetapi, dalam bait itu juga akulirik memaparkan apabila ada kemungkinan para individu atau golongan-gologan tersebut mengetahui bahwa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang tidak boleh dipaksakan,bahwa mereka dapat membedakannya. Individu dan golongan-golongan tersebut menunjukkan bahwa mereka benar sedangkan yang berlawanan dengan mereka adalah kaum yang tidak akan selamat. Dalam akhir fenomena pada ketiga bait ini ditutup dengan pertanyaan ada apa dengan kalian untuk menunjukkan kekesalan akulirik pada ‘kalian’.

Selanjutnya, ‘Mulut kalian berbuih akhirat Kepala kalian tempat dunia yang kalian anggap nikmat’. Fenomena yang ada pada bait keempat dan kelima menurut saya merupakan kritik sosial yang ditujukan kepada golongan orang-orang yang terus berbicara mengenai agama akan tetapi dia tetap melakukan hal-hal yang bersifat duniawi.  Pembanding antara diksi akhirat dan nikmat pada dua baris ini menunjukkan bahwa unsur sakral dan profan dapat berkaitan dalam menjelaskan satu sama lain. Tentu saja, pada akhir bait akulirik kembali mengulang pertanyaannya, ada apa dengan kalian.

Pada bait keenam, tujuh dan delapan masih, menurut saya akulirik masih mengekspresikannya kepada individu ataupun golongan yang sama seperti yang dipaparkan pada bait keempat dan kelima. Akan tetapi golongan pada ketiga bait ini lebih umum.

 

Kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla
Tapi malas memakmurkannya
Kalian bangga menjadi panitia zakat dan infak
Seolah olah kalian yang berzakat dan berinfak
Kalian berniat puasa di malam hari
Dan iman kalian ngeri
Melihat warung buka di siang hari
Kalian setiap tahun pergi umrah dan haji
Tapi kalian masih terus tega berlaku keji
Ada apa dengan kalian?

 

Kritik sosial pada bait-bait ini merujuk pada semua orang yang melakukan peribadatan-peribadatan yang hanya untuk memberikan kesan baik terhadap orang lain dan manfaat dari peribadatan tersebut tidak mencerminkan perilaku mereka. Hal ini terlihat pada baris ‘kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla tapi malas memakmurkannya’. Pada tiga bait di atas mengkritik masyarakat yang melakukan ibadah hanya untuk pamer, seperti halnya membangun masjid hanya untuk pamer. Menurut saya diksi memakmurkannya pada baris itu mengkritik masyarakat yang berlomba-lomba membangun tempat beribadah nan megah yang terlalu berlebihan yang tanpa diimbangi dengan pemanfaatan atas penggunaan tempat beribadah dengan sebaik-baiknya bukan hanya bangunan megah untuk dipertontonkan atau mendapatkan pujian. Begitu juga dengan bait selanjutnya, individu atau kelompok masyarakat yang melakukan peribadatan hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya merupakan orang yang religious tanpa memiliki religiusitas, beribadah hanya untung pamer harta, wibawa dan ibadah yang tidak diikuti dengan perilaku yang baik. Pada akhir bait kembali ditutup dengan rasa kekesalan akulirik yang dipaparkan dalam pertanyaan ada apa dengan kalian.

Selanjutnya, keenam bait terakhir selain mengkritik pada jenis masyarakat sosial yang sama seperti bait-bait sebelumnya, bait ini juga mengkritik pada beberapa kelompok masyarakat yang lebih khusus namun berkaitan seperti pengusaha dan oknum organisasi atau kelompok dalam jajaran pemerintahan sebuah Negara. Contohnya pada bait ini akulirik mengkritik organisasi yang mengawasi pengedaran dan perijinan produk yang dikonsumsi oleh masyarakat, seperti makanan, minuman, perlengkapan mandi dan make-up dan segala produk yang dikonsumsi. Akulirik mengkritik bahwa label-label halal yang di pasangkan dalam kemasan hanyalah settingan belaka ada pada keterangan di bait berikut;

 

Dan agar terkesan sakral

Kalian gunakan sebutan mulia, label halal

 

Dan diteruskan dengan kekecewaan akulirik mengenai perhatian yang salah ditunjukkan kepada fenomena tersebut, hal apa yang harusnya diperangi malah dibiarkan begitu saja karena adanya faktor-faktor yang menguntungkan mereka sendiri tanpa mengindahkan bahwa yang mereka lakukan itu salah atau meskipun mereka menyadari itu salahmereka tidak perduli pada konsekuensi yang akan mereka terima baik di dunia ataupun di akhirat.

Kritik-kritik sosial yang telah saya paparkan dengan mengkaji puisi ini melalui bait perbait, dalam pemaparan tersebut juga dapat dilihat isu apa yang diangkat dan disajikan oleh Mustofa Bisri dalam puisi ‘Ada Apa dengan Kalian’ ini. Isu-isu dalam puisi ini adalah efek dari kapitalis ekonomi maupun sosial dan kuasa orang-orang yang dianggap lebih tinggi atas orang lain yang menurut pendapat Marx menimbulkan adanya kelas sosial dalam masyarakat. Namun, dalam puisi tidak memaparkan bagaimana reaksi orang-orang yang dirugikan oleh pihak yang berkuasa. Penulis hanya memaparkan pendapatnya mengenai golongan-golongan yang dimaksudnya karena jelas perilaku mereka sangat merugikan orang lain tanpa harus dijelaskan, seperti halnya peperangan yang berdalih jihad dan korupsi seperti yang dipaparkan oleh akulirik pada bait terakhir;

 

Kapan kalian berhenti membanguan kandang kandang babi
Di perut dan hati kalian dengan merusak kanan-kiri?
Sampai kalian mati dan dilaknati?

 

Dipaparkan bahwa tidak ada kesadaran dan dari kelompok tersebut bahwa mereka menyebabkan orang lain kesusahan ‘kalian dengan merusak kanan-kiri’.

Puisi Ada Apa dengan Kalian oleh Mustofa Bisri ini menyajikan kritik sosial yang ditimbulkan dari efek kelas sosial ekonomi dan kuasa pada individu-individu yang beribadah hanya untuk pamer ilmu dan sombong akan peribadatannya, kelompok-kelompok yang menyusahkan masyarakat lain hanya untuk kekuasaan dan kenikmatan dunia semata tanpa mengindahkan orang lain  dan golongan yang haus akan kekuasaan.

 

Referensi

Barker, Chris. 2002. Making Sense of Cultural Studies. London: Sage Publication Ltd.

Brecht, Bertolt. 2006. Paulo Freire: A Critical Encounter. Peter McLaren dan Peter Leonard (Penyunting). United Kingdom: Routledge.

Bisri, Mustofa. Ada Apa dengan Kalian.

Mangunwijaya, Y.B. 1988. Sastra dan Religiositas. Yogyakarta: Kanisius.

Standard

SEJARAH SASTRA: PENULISAN WACANA TUBUH DALAM PERIODISASI KESUSASTRAAN AMERIKA

  1. Latar Belakang

Kepenulisan kesustraan mencerminkan berbagai macam wacana yang dianggap merepresentasikan realitas, yang kemudian wacana tersebut terus berkembang dan bertambah menjadi wacana-wacana lainnya seiring dengan perkembangan jaman dan pemikiran manusia. Wacana-wacana tersebut muncul sebagai fenomena, aliran, ataupun genre yang dikelompokkan berdasarkan kategori-kategori yang diatur untuk dimasukkan ke dalam periodisasi sastra. Perkembangan wacana-wacana tersebut tidak terlepas dari ikut campurnya manusia dalam kontribusinya kepada kepenulisan sastra. Dalam buku sejarah kepenulisan sastra Amerika, Gray (2012) memaparkan bahwa Kesusastraan Amerika dimulai ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika dan membentuk koloni New England disana. Masa itu disebut sebagai periode kolonial dan revolusioner. Meskipun pada kemunculan kesusastraan Amerika dipelopori oleh orang Inggris dan bahasa Inggris akan tetapi disebut sebagai kesusastraan Amerika karena karya-karya tersebut lahir di benua Amerika. Seperti halnya eksplorasi yang dilakukan oleh Columbus dan bangsa Eropa lainnya, kedatangan mereka memunculkan tulisan-tulisan yang diawali dengan jurnal perjalanan mereka hingga kedatangan mereka ke benua Amerika. Pada masa tersebut kepenulisan yang dominan merupakan sastra tentang koloni dan puritan. Kepenulisan sastra tersebut memunculkan banyak karakter laki-laki dan perempuan dalam karya yang mencerminkan kebudayaan yang satu dan lainnya serta pengalaman hidup dari berbagai sudut pandang. Kebudayaan dan pengalaman tersebut berkelindan menjadi suatu campuran yang rumit namun juga saling menggambarkan satu dan lainnya yang pada akhirnya membentuk kesusastraan Amerika.

Sejak awal sejarah kepenulisan sastra Amerika, pada masa tersebut pun wacana mengenai tubuh telah muncul sebagai salah satu pembahasan dalam kepenulisan sastra Amerika. Menurut Gray (2011) wacana tubuh tersebut juga muncul dalam kepenulisan sejarah sastra Amerika karena kepenulisan pada masa koloni memberikan gambaran mengenai perbedaan fisik atas bangsa Eropa dan bangsa asli Amerika. Wacana tubuh tersebut menggambarkan citra tubuh antara dua ras yang berbeda, sensasi dan cerminan yang muncul dari kepenulisan dan penggambaran penulis. Sejak saat itu pula, Gray (2011) memaparkan bahwa kepenulisan atas wacana tubuh tersebut digunakan sebagai alat untuk mengonstruksi bahwa bangsa asli Amerika lebih inferior atas tubuh dan kecerdasan daripada bangsa Eropa, yang sebenarnya hanyalah sebuah kecurigaan tanpa dasar. Pencerminan wacana-wacana yang ada dalam kepenulisan sastra digunakan sebagai alat untuk memunculkan ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang ingin disampaikan kepada pembaca, termasuk wacana tubuh. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Butler (1993) bahwa tubuh juga merupakan alat untuk kepentingan budaya yang dapat menentukan maksud dari kebudayaan tersebut. Berdasarkan penjelasan tersebut, makalah ini membahas mengenai penulisan wacana tubuh dalam periodisasi kesusastraan Amerika.

 

  1. Metodologi

Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah studi riset; mengumpulkan bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai sumber referensi. Kemudian, memahami dan menganalisis wacana tubuh dalam periode kepenulisan sastra Amerika.

 

  1. Analisis

Kepenulisan cerita dalam sastra Amerika, menurut Gray (2012), bukanlah sebuah cerita yang monolit dan juga bukanlah suatu peleburan melainkan sebuah mosaik: sebuah lingkungan multikultural yang setiap individunya berusaha untuk menegosiasikan identitas mereka untuk diri mereka sendiri dengan setiap perbedaan tradisi yang mereka temui. Perbedaan tradisi yang ditemui dalam cerita juga memunculkan penulisan wacana mengenai tubuh baik karakter laki-laki maupun karakter dalam cerita. Penulisan wacana tubuh dalam kesusastraan Amerika mengalami perkembangan sepanjang periodisasi kepenulisan kesusastraan Amerika. Terlebih lagi seperti yang dipaparkan oleh Borch (2008) bahwa wacana tubuh pada tahun 1980an telah menjadi salah satu fokus akademik dalam ilmu sastra dan ilmu pengetahuan sosial.

Richard Gray (2012) mengelompokkan kesusastraan Amerika kedalam lima periode, yaitu the First Americans, The making of American Literature 1800-1865, The Development of American Literature 1865-1900, The Emergence of Modern American Literature 1900-1945, dan American Literature since 1945. Dalam kelima periode itu perkembangan kepenulisan wacana tubuh dalam kesusastraan Amerika berkembang sesuai dengan jaman dan kebudayaan yang terjadi pada saat itu di Amerika.

Periode yang pertama adalah pada masa Indian, kolonialisme dan perlawanan. Pada periode ini kepenulisan sastra didominasi oleh kepenulisan mengenai puritan, kolonial dan perlawanan terhadap kolonialisasi. Meskipun sebelumnya karya sastra telah ada, akan tetapi karya tersebut berupa karya oral. Sedangkan, ketika kolonialisme berlangsung muncul karya-karya tertulis yang dihasilkan oleh bangsa Eropa yang menduduki benua Amerika. Dalam periode ini kepenulisan wacana tubuh dalam sastra Amerika digambarkan dengan membedakan antara tubuh bangsa Eropa, asli Amerika—Indian, dan Negro—orang-orang Afrika yang dibawa oleh bangsa Eropa ke Amerika untuk dijadikan budak. Wacana tubuh pada periode kolonialisme tidak terlepas dari wacana kuasa yang ditempelkan pada tubuh karakter dalam karya sastra. Penggambaran wacana tubuh bangsa Eropa selalu digambarkan dengan baik dan memiliki subyektifitas atas tubuhnya, sedangkan tubuh Indian selalu menjadi obyek dan terlebih lagi bangsa Negro yang terkadang wacana tubuhnya digambarkan seakan ‘kotor’. Banyak karya-karya sastra yag menjadikan bangsa Eropa sebagai karakter utama, sedangkan karya sastra dengan bangsa Indian ataupu Negro sebagai karakter utama muncul pada akhir periode pada tahun-tahun pemberontakan terjadi.

Selanjutnya pada periode the making of American Literature tahun 1800-1865, kepenulisan wacana tubuh berkembang dengan cukup pesat. Meneruskan kepenulisan wacana tubuh pada akhir periode pertama, penggambaran tubuh dalam karya sastra mengalami berbagai macam perluasan, tidak hanya terfokus pada wacana tubuh bangsa Eropa saja melainkan pencitraan tubuh yang lain. Pada periode ini pun, menurut Gray (2012) jenis-jenis genre pun mulai bertambah seperti halnya, genre fiksi gotik, perjalanan, mitos, legenda, religius, dan lainnya. Kepenulisan wacana tubuh berkembang dalam genre fiksi gotik dan karya-karya  fiksi lainnya yang ditulis oleh bangsa Indian dan Afrika-Amerika. Dalam karya tersebut, wacana tubuh ditampilkan tidak berbeda dengan periode pertama. Akan tetapi, dalam genre fiksi gotik muncul kepenulisan wacana tubuh yang ditampilkan sebagai monster—tubuh yang jauh dari penggambaran manusia ‘normal’. Menurut saya, hal ini terpengaruh oleh penulisan novel Inggris Frankenstein karya Mary Shelley  yang terbit pada tahun 1818 di era Romantisme. Wacana tubuh dalam karya-karya fiksi gotik digambarkan sebagai tubuh abjek yang semakin berkembang pada periode ketiga. Begitu juga kepenulisan perempuan yang dimulai pada pertengahan periode kedua tersebut. Gerakan perempuan atau Women’s Suffarage pada tahun 1848 yang memicu munculnya kepenulisan perempuan dalam kesusastraan Amerika. Gray (2012) memaparkan bahwa beberapa karya dalam kepenulisan perempuan ini menggambarkan wacana tubuh perempuan sebagai suatu tempat pengalaman dan pengetahuan bernaung, juga menggunakan sudut pandang perempuan sebagai karakter utama dalam karya tersebut yang menggambarkan perlawanan perempuan untuk mendapatkan hak-haknya. Kepenulisan wacana mengenai tubuh perempuan ini semakin berkembang pesat dalam periode ketiga dan seterusnya karena dilatarbelakangi oleh gerakan perempuan yang sedang terjadi di Amerika pada saat itu.

Penggambaran wacana tubuh perempuan dalam periode ketiga pada masa perkembangan kesusastraan Amerika 1865-1900 dipaparkan Gray (2012) dengan pencitraan tubuh abjek, kemunculan hasrat dan kebutuhan yang muncul dari tubuh perempuan, pemaparan kuasa atas tubuh, dan misteri-misteri mengenai tubuh. Seperti yang dipaparkan sebelumnya mengenai kepenulisan wacana tubuh abjek, dalam periode ketiga ini juga muncul beberapa karya yang menggambarkan wacana tubuh yang tidak ideal atau tubuh abjek, tubuh grotesque dan monstrous. Penulisan tubuh abjek dalam kesusatraan Amerika muncul pada karya-karya yang menggambarkan tubuh sebagai bentuk tubuh yang tidak normal seperti layaknya bentuk tubuh ‘normal’. Kristeva (1982) memaparkan bahwa tubuh abjek dikategorikan sebagai tubuh yang dianggap tidak ‘berterima’, tidak normal, atau tidak sesuai dengan konstruksi masyarakat mengenai penggambaran tubuh ideal dan juga mengganggu identitas, tatanan dan sistem karena menimbulkan penggambaran tidak patuh dan memberontak pada konstruksi masyarakat. Menurut saya, kepenulisan wacana tubuh abjek merupakan salah satu perkembangan atas penggambaran tubuh yang selalu digambarkan dalam batas ‘normal’ atau sebagai tubuh yang ideal yang dikonsruksikan oleh masyarakat. Wacana tubuh mulai digambarkan dengan lebih beragam dan variatif, meskipun dalam karya tanggapan akan tubuh-tubuh abjek dan tidak ideal masih dipandang sebagai tubuh yang harus dirubah menjadi tubuh ideal.

Wacana tubuh perempuan telah digambarkan lebih bebas dan kemunculan karakter-karakter utama perempuan baik kulit putih maupun kulit hitam yang digambarkan dalam karya sastra sudah memunculkan kuasa atas tubuhnya meskipun begitu, kuasa tersebut masih berada dibawah pengaruh kuasa laki-laki dan juga ras ataupun etnis. Hal tersebut menunjukkan bahwa wacana tubuh dan kuasa karakter perempuan dalam kesusastraan Amerika pada periode ini masih terepresi dengan karakter laki-laki—tak hanya karakter perempuan yang mengalami represi, bahkan karakter laki-laki hitam pun mengalami kekerasan bahkan terbunuh oleh karakter kulit putih. Pembagian kelas pada era koloialisme masih memberikan pengaruh terhadap kesusastraan Amerika hingga ke periode selanjutnya—orang kulit hitam digambarkan sebagai karakter yang terepresi. Selain kepenulisan perempuan yang berkembang pesat, muncul juga karya-karya mengenai ras-ras lainnya seperti cina-amerika dan india-amerika yang juga memunculkan wacana tubuh perempuan dari etnis-etnis tersebut.

Selanjutnya, periode keempat the emergence of modern American literature 1900-1945 kepenulisan wacana tubuh kembali menggambarkan tubuh-tubuh perempuan cantik meskipun tubuh abjek masih bermunculan juga. Lalu pada periode ini juga aliran Harlem Renaissance  lahir dan berkembang pesat dalam kesusastraan Amerika seiring dengan bertambahnya penduduk orang-orang kulit hitam di Amerika. Pada masa ini juga, Gray (2012) memaparkan bahwa kreatifitas berkembang dalam karya-karya sastra dan wacana tubuh perempuan digambarkan sebagai alat untuk melawan subyektifitas karakter laki-laki dengan cara yang ‘aneh dan cantik’ namun mengagumkan. Selain itu, wacana tubuh juga dikenalkan dengan cara dipaparkan sebagai alat untuk melawan dan memenangkan pandangan masyarakat yang didasari oleh sebuah kemunafikan besar yang melibatkan kompetisi antara seorang laki-laki dengan laki-laki lainnya. Gray (2012) merujuk Le Sueur yang memaparkan bahwa pengakuan-pengakuan tersebut lebih mudah untuk perempuan karena perempuan masih dibayang-bayangi oleh kuasa laki-laki,

Their history has very often been suppressed within the history of man, which is why the recognition is hidden from American society and one reason they had to focus on female experience. They pick up at its source, in the human body, in the making of the body, and the feeding and nurturing of it day in and day out. So that, they have eventually being born into a complete new body, biological and spiritual, personal and social with men and women enjoying a polarity of equal, a dialectic of equal opposite. (Gray. 2012: 460)

 

Dalam kutipan di atas dipaparkan bahwa pengakuan bisa didapatkan karakter perempuan melalui pengalaman yang mereka alami setiap harinya dan dikembangkan menjadi sebuah cara untuk menjadi lawan yang seimbang untuk karakter laki-laki. Selain itu, penulisan mengenai tubuh perempuan juga digambarkan sebagai objek pandangan dan seksual laki-laki. Oleh karenanya, tubuh ideal karakter perempuan mulai dibentuk sesuai dengan hasrat karakter laki-laki. Hal tersebut mempengaruhi bentuk tubuh ideal yang didambakan perempuan dan laki-laki dalam realitas. Keadaan tersebut mempengaruhi kondisi yang disebut Frost (2001) dengan body-hatred, hal ini marak terjadi di kalangan remaja. Penulisan mengenai wacana tubuh yang menggambarkan ras yang berbeda masih banyak dan makin berkembang dalam periode ini, terutama ras negro karena kemunculan aliran harlem reinassance dan juga kepenulisan dari ras lain, Asian.

Pada masa New American setelah 1945, penulisan wacana tubuh perempuan berkembang menjadi sebuah tempat dimana perempuan tersebut memiliki subyektifitas atas identitas dan tubuhnya. Selain itu, wacana tubuh perempuan juga menyediakan kuasa untuk memberikan perlawanan terhadap kekerasan yang dihadapi oleh karakter dalam suatu cerita. Gray (2012) memaparkan bahwa pada masa New American penulisan wacana tubuh dalam sastra Amerika digambarkan sebagai bahasa—yaitu sebuah cara untuk keluar dari keadaan domestik dan disfungsi.  Hal tersebut terjadi karena adanya proses penerimaan bentuk tubuh dalam karya-karya sastra.

Pada periode terakhir inilah terjadi perkembangan yang sangat pesat mengenai penulisan wacana tubuh dalam kesusastraan Amerika. Tentu saja, hal tersebut tidak terlepas dari perkembangan manusia dan jaman. Seperti yang dipaparkan oleh Gatens (2003) bahwa kebudayaan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memberikan asumsi-asumsi kepada masyarakat bahwa tubuh manusia hidup dalam suatu budaya dan pemahaman tentang cara kerja tubuh itu sendiri merupakan produksi budaya yang kemudian nilai-nilai dan asumsi-asumsi budaya masyarakat menemukan jalan mereka untuk masuk ke dalam sastra. Pada periode ini, kepenulisan wacana tubuh dalam karya sastra menjadi salah satu alat untuk membentuk pandangan masyarakat akan tubuh ideal. Selanjutnya, dalam penulisan wacana tubuh dalam kesusastraan, perkembangan dan perubahan asumsi-asumsi tersebut dilakukan secara terus-menerus untuk menstabilkan batas dan bentuk tubuh yang dianggap sebagai penggambaran tubuh ideal.

Selain itu, Borch (2008) memaparkan bahwa perkembangan ini merupakan dampak dari perkembangan yang terjadi di kebudayaan barat dimana pemujaan dan kebudayaan atas bentuk tubuh tumbuh menjadi bagian yang hampir parodik semenjak konsumerisme telah memasuki semua kelas di lingkungan sosial. Seperti halnya, olahraga dijadikan sebuah landasan kapitalisme modern yang dianggap dapat membentuk tubuh menjadi lebih menarik dan dipandang sebagai sebuah obyek konsumen yang bentuknya merupakan pilihan bukan pemberian.

Penulisan wacana tubuh perempuan dalam karya sastra Amerika dalam periode ini sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang ada di luar kendali tubuh mereka sendiri. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Friðriksdóttir (2013), penulisan wacana tubuh karakter perempuan dalam cerita ditentukan oleh gender sebagai konstruksi budaya dan hubungan karakter tersebut dengan karakter laki-laki tanpa dilihat atas kelas, ras, etnis, seksualitas ataupun agamanya. Friðriksdóttir (2013) juga memaparkan, dengan mengutip pemikiran dari Foucauldian, bahwa tubuh merupakan sebuah konstruksi kebudayaan dan gagasan perempuan sebagai properti dimana yang menjadikan tubuh perempuan sebagai situs tempatnya berhadapan dengan kuasa antara laki-laki yang dipetakan, dimana satu laki-laki mendominasi yang lain dengan cara menyalahi propertinya.

Dari pemaparan di atas, penulisan wacana tubuh perempuan mengalami perkembangan yang signifikan sejak periode pertama hingga kelima, akan tetapi apakah penulisan wacana tubuh laki-laki tidak? Kepenulisan tubuh laki-laki pun menjadi salah satu topik yang menarik perhatian dalam kesusastraan. Wacana tubuh laki-laki juga mulai digambarkan dalam karya sastra sejak periode pertama yang juga untuk memberikan pembeda fisik antara bangsa Inggris, Indian, dan Negro. Seiring dengan berkembangnya jaman, terutama pada masa gerakan perempuan (Women’s Suffarage), tidak hanya wacana tubuh perempuan saja yang menjadi obyek dari konstruksi masyarakat wacana tubuh laki-laki pun mendapatkan perlakuan yang sama. Meskipun tidak mengalami perubahan yang beragam seperti wacana bentuk tubuh perempuan ideal, wacana bentuk tubuh laki-laki pun mengalami perubahan-perubahan yang menggambarkan wacana bentuk tubuh ideal dalam konstruksi masyarakat.

Dari sumber yang saya dapat bu,  perubahan wacana bentuk tubuh laki-laki ideal dikelompokkan berdasarkan ras dan etnis yang ada di dunia, yaitu atas warna kulit, dan bentuk wajah. Akan tetapi hampir seluruh wacana tubuh laki-laki digambarkan dengan bentuk tubuh yang muscular. Contohnya wacana bentuk tubuh ideal laki-laki Amerika berbeda dengan tubuh ideal laki-laki Inggris, akan tetapi perbedaan bentuk tersebut tidak terlalu signifikan. Contoh ini akan terlampir dalam bentuk gambar dalam bab lampiran. Sedangkan, wacana bentuk tubuh perempuan tidak dikelompokkan ke dalam ras atau etnis, melainkan dikategorikan dari masa ke masanya yang disesuaikan dengan perkembangan jaman sebagai panduan wacana bentuk tubuh ideal untuk semua perempuan. Contohnya, pada era kejayaan Hollywood dan era postmodern, wacana tbuh perempuan telah mengalami banyak perubahan dari bentuknya bukan dari rasa tau etnisnya. Menurut saya, hal tersebut menunjukkan bahwa wacana tubuh perempuan lebih dipandang sebagai obyek atas kuasa-kuasa yang mengonstruksi bentuk perempuan hingga saat ini. Gambar sumber akan terlampir dalam bab lampiran.

Selain itu, wacana tubuh pun berkembang dalam karya-karya remaja dan anak-anak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa penulisan wacana tubuh ideal memberikan dampak kondisi body-hatred, terutama pada kalangan remaja. Menurut Frost (2001), body-hatred terjadi ketika seorang remaja berpendapat bahwa tubuhnya tidak ideal dan melakukan hal-hal yang dianggap dapat membentuk tubuhnya menjadi ideal; contohnya seperti melakukan diet yang berlebihan hingga menimbulkan kondisi anorexia. Wacana tubuh dalam karya sastra remaja dan anak digambarkan sangat berpengaruh pada pembaca remaja dan anak-anak karena mereka seakan mencerminkan diri mereka terhadap karakter utama perempuan yang digambarkan dalam karya.

Merujuk pada Younger (2009) bahwa masa remaja adalah masa ketika tubuh dan seksualitas remaja perempuan dan laki-laki mengalami perubahan yang signifikan karena masa remaja digambarkan sebagai masa transisi yang harus dilalui setiap anak perempuan ataupun laki-laki untuk menjadi dewasa. Oleh karena itu, penulisan wacana tubuh ideal dalam sastra yang dikonstruksikan oleh budaya normatif sangat berpengaruh, baik bagi remaja perempuan maupun remaja laki-laki. Selain itu, penulisan wacana tubuh dalam karya sastra remaja juga menjadi sebuah tolak ukur akan tubuh para pembaca remaja yang juga sedang mengalami perubahan-perubahan menjadi tubuh dewasa.

 

  1. Kesimpulan

Pada perkembangannya, wacana tubuh dalam kesusastraan mulai menjadi studi penting yang semakin banyak disorot oleh banyak orang. Penulisan wacana tubuh perempuan dan laki-laki dalam kesusastraan Amerika banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar, terutama pada jaman teknologi sekarang ini, media memegang peranan penting dalam membentuk wacana tubuh ideal bagi perempuan dan laki-laki.

Kepenulisan wacana tubuh tersebut dipengaruhi oleh pandangan dan konstruksi masyarakat, terutama golongan-golongan tertentu. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa wacana tubuh yang dituliskan dalam kesusastraan Amerika dipengaruhi oleh kuasa. Dalam periodisasi kesusastraan Amerika penulisan wacana tubuh sudah muncul sejak masa kolonialisasi dan terus berkembang sepanjang sejarah kesusastraan Amerika terutama pada masa-masa ketika gerakan perempuan terjadi. Dalam kesusastraan Amerika, wacana tubuh tidak hanya digambarkan sebagai bentuk tubuh yang selalu ideal tetapi juga digambarkan sebagai tubuh abjek atau tubuh tidak ideal. Penulisan wacana tubuh tersebut berdampak pada kondisi nyata lingkungan masyarakat Amerika.

Penulisan wacana tubuh yang berbeda-beda dalam kesusastraan Amerika muncul karena tubuh tidak dapat diidentifikasi oleh diri sendiri yang memungkinkan untuk mengklaim sebagai subyek liberal, klaim tersebut bergantung pada penghapusan nilai-nilai pembeda tubuh seperti seks, ras dan etnisitas. Selain itu, penulisan wacana tubuh dalam kesusastraan Amerika menunjukkan bagaimana tubuh karakter perempuan menjadi tempat terjadinya kekerasan dalam perlawanannya atas kuasa dalam kelompok masyarakat dan juga untuk mengonstruksi perilaku heteroseksual. Oleh karena itu, penulisan wacana tubuh tidak bisa terlepas dengan isu-isu seperti seks, ras dan etnis yang melihat tubuh sebagai obyek yang dapat dibatasi, diatur, dibentuk dan dikendalikan.

 

  1. Lampiran

Diambil dari Video Men’s Standards Of Beauty Around The World oleh BuzzFeed

Diambil dari Video Women’s Ideal Body Types Throughout History oleh BuzzFeed

 

Daftar Pustaka

Broch, Mereta Falck. (2008). Bodies and Voices The Force-Field of Representation and Discourse in Colonial and Postcolonial Studies. New York: Rodopi.

Butler, Judith. (1993). Bodies that Matter on the Discursive Limits of Sex. New York: Routledge.

Friðriksdóttir, Jóhanna Katrín. (2013). Women in Old Norse Literature Bodies, Words, and Power. New York: Palgrave Macmillan.

Frost, Liz. (2001). Young Woman and the Body. New York: Palgrave.

Gatens, Moira. (2003). Imaginary Bodies. NewYork: Routledge.

Gray, Richard. (2011). A Brief History of American Literature. United Kingdom: Blackwell.

                        . (2012). A History of American Literature (2nd Ed). United Kingdom: Blackwell.

Kristeva, Julia. (1982). Approaching Abjection. (Roudiez, Leon S. Penj.). New York: Columbia University Press. (Karya asli diterbitkan pada 1941).

Younger, Beth. (2009). Learning Curves Body Images and Female Sexuality in Young Adult Literature. Maryland: Scarecrow Press Inc.

Situs Internet

Yang, Eugene Lee. (2015). “Women’s Ideal Body Types Throughout History”. BuzzFeed Standard Beauty for Women. 28 Jan 2015. Diakses pada 27 Juni 2015 < https://www.buzzfeed.com/eugeneyang/womens-ideal-body-types-throughout-history?utm_term=.omlR7wGkR#.wqjlEnmRl>.

                              . (2015). “Men’s Standards Of Beauty Around The World”. BuzzFeed Physical Attributes of the “Ideal Man”. 20 Maret 2015. Diakses pada 27 Juni 2015 < https://www.buzzfeed.com/eugeneyang/mens-standards-of-beauty-around-the-world?utm_term=.ji2pALNvp#.xoB29EmZ2>.

 

 

Standard

Fenomena ‘Zombie’ dalam Karya Sastra Zombie Renaissance pada Jaman Post-Modern

Perkembangan karya sastra telah kita ketahui telah berkembang dengan pesat. Munculnya fenomena-fenomena, aliran-aliran, atau genre-genre yang baru bertujuan untuk mengklasifikasikan karya-karya sastra yang baru muncul yang sesuai dengan jamannya. Perkembangan sastra-sastra baru pun tak lepas dari perkembangan budaya manusia, teknologi dan perubahan pola pikir. Namun, menurut saya munculnya aliran-aliran atau fenomena sastra yang baru juga merupakan perkembangan dari aliran-aliran yang sebelumnya.

Fenomena yang menarik perhatian saya adalah sastra zombie yang disebut dengan Zombie Renaissance. Dalam buku The Zombie Renaissance in Popular Culture, Zombie Renaissance adalah “the growing importance of zombie texts and zombie cultural practices in popular culture” (Haubner, 2014: 3). Perkembangan teknologi sangat berpengaruh pada perkembangan aliran ini. Pada karya Zombie Renaissance banyak yang mengambil latar tempat dengan perkembangan teknologi yang sudah canggih dan perubahan pola hidup masyarakat, seperti layaknya sekarang ini atau penggambaran apa yang akan terjadi di masa depan yang dijadikan acuan oleh teknologi dan pola hidup pada masa sekarang. Dengan demikian, karya Zombie Renaissance menyajikan after effect dari teknologi tersebut, misalnya seperti meledaknya bom nuklir yang memberikan dampak radioaktif, penyebaran infeksi virus, atau percobaan illegal terhadap manusia dan hewan yang mengakibatkan kebangkitan zombie. Karya-karya Zombie Renaissance juga mempunyai caranya sendiri untuk menggambarkan budaya konsumtif yang digambarkan melalui perilaku zombie saat memakan daging manusia.

Saya melihat adanya ketertarikan dan perkembangan pada fenomena zombie dalam karya sastra dalam beberapa tahun ini. Pengklasifikasian karya Zombie Renaissance mulai muncul pada tahun 2006 dengan ciri-ciri penggambaran perubahan kekuatan zombie dalam novel dan perkembangan munculnya zombie yang lebih modern. Ciri-ciri tersebut terlihat jelas apabila kita membandingkan perbedaan antara sastra zombie yang muncul pada era Romanticisim dan yang termasuk dalam Zombie Rennaisance. Contoh perbedaannya misalkan zombi-zombie yang muncul pada karya era Romanticism digambarkan lambat dan muncul dari kuburan atau dari eksperimen sedangkan karya Zombie Renaissance menggambarkan zombie yang lebih cepat, lebih kuat dan muncul atau menyebar di tempat-tempat yang lebih modern seperti tempat pembelanjaan, bandara atau di tengah kota metropolitan yang mengkrtitik bahwa peradaban telah maju sehingga zombie muncul di tempat-tempat dimana sebuah budaya dimulai. Seperti, tempat pembelanjaan sebagai penggambaran budaya konsumtif, bandara budaya berpergian dan di tengah kota metropolitan sebagai budaya urban.

Ada dua karya yang menarik perhatian saya karena keunikannya dan kontribusinya terhadap aliran Zombie Renaissance; yaitu Pride & Prejudice & Zombies oleh Seth Graham-Smith pada tahun 2009 dan Warm Bodies oleh Isaac Marion pada tahun 2010 karena karya-karya tersebut dapat diperdebatkan apakah kedua karya tersebut termasuk pada Zombie Renaissance atau tidak.. Akan tetapi, sebelum menjelaskan keunikan karya-karya tersebut ada baiknya kita melihat awal kemunculan dan perkembangan zombie pada karya sastra.

Kemunculan zombie pada karya sastra merupakan salah satu karakter dari karya sastra dengan genre gothic horror yang mengkombinasikan antara cerita fiksi, horor, kematian, bahkan terkadang juga romantis pada jaman Romanticism. Genre Gothic Horror dipengaruhi oleh gothic architecture pada jaman medieval. Masuknya karakter zombie pada teks sastra merupakan dampak dari modernisasi industrial yang memberi dampak perkembangan teknologi, adanya perombakan-perombakan pada industri-industri yang mengurangi jumlah pegawai mereka yang digantikan dengan mesin-mesin. Hal itu memunculkan gagasan mengenai sesuatu yang “unhuman” dan konsep “unlife” yang berkembang dari ketidaktenangan atas pertemuan teknologi dan kehidupan manusia (Mason, 2014: 193).

Menurut etimologi, kata zombie muncul pada 1871 dari bahasa Afrika Barat (yang dibandingkan dengan bahasa dari Kikongo Zumbi yang berarti ”fetish” dan Katundu nZambi yang berarti “god”) yang merujuk pada dewa ular. Selanjutnya, zombie diartikan sebagai mayat hidup yang dibangkitkan melalui praktik ilmu voodoo. Dalam kamus Oxford sendiri, zombie diartikan sebagai mayat yang dibangkitkan oleh ilmu sihir, terutama pada kepercayaan di bagian Afrika dan Karibia. Dalam budaya popular, zombie  adalah manusia atau mayat hidup yang telah diubah menjadi mahluk yang dapat bergerak namun tidak memiliki pikiran rasional dan memakan daging manusia.

Kata zombie pertama kali muncul pada teks digambarkan sebagai mayat hidup yang dibangkitkan dari praktik ilmu voodoo dalam karya W.B Seabrook di tahun 1929 yang berjudul The Magic Island. Dalam bukunya, Seabrook menggambarkan zombie sebagai “the dead” atau “living dead” yang bangkit dari kubur dan dapat berjalan meskipun tidak seperti manusia normal.

 

The zombie came from the grave, it was neither a ghost, nor yet a person who had been raised like Lazarus from the dead. The zombie, they say, is a soulless human corpse, still dead, but taken from the grave and endowed by sorcery with a mechanical semblance of life-it is a dead body which is made to walk and act and move as if it were alive. People who have the power to do this go to a fresh grave, dig up the body before it has had time to rot, galvanize it into movement, and then make of it a servant or slave, occasionally for the commission of some crime, ….” (Seabrook, 1929: 93)

 

Pada Kutipan di atas, zombie dikategorian sebagai mayat hidup yang sengaja dihidupkan kembali melalui praktek ilmu sihir yang dapat berjalan dan bergerak layaknya hidup dan dijadikan sebagai budak oleh orang yang membangkitkannya.

Akan tetapi, konsep zombie sebagai mayat hidup sebelumnya juga pernah muncul dalam Frankenstein karya Mary Shelley pada tahun 1818 dan karya H. P. Lovecraft yang berjudul Herbert West-Reanimator pada tahun 1921. Meskipun dalam kedua karya tersebut kedua pengarang tidak menyebutkan kata zombie, namun kedua pengarang menciptakan tokoh yang dapat dikategorikan sebagai mayat yang dihidupkan.

Novel karya Lovecraft tersebut menceritakan tentang seorang dokter yang menciptakan sebuah serum untuk membangkitkan orang yang sudah mati. Begitu juga dengan novel Frankenstein yang termasuk novel dengan genre gothic fiction pada era romanticism. Frankenstein menceritakan tentang seorang ilmuwan yang bernama Victor Frankenstein yang bereksperimen dengan mayat untuk dihidupkan kembali menggunakan teknologi yang diciptakannya, mayat yang berhasil dihidupkannya diberi nama Frankenstein. Novel ini yang terbit pada era romanticism bisa dilihat sebagai kritik sosial pada masyarakat saat itu, yaitu untuk mengkritik orang-orang dan aristrokat-aristrokat yang terlalu fokus pada pekerjaanya (yang pada saat itu industrial sedang sangat berkembang) politik, dan kehidupan social yang kemudian dari kekuasaan yang didapat mendatangkan keinginan-keinginan untuk menggunakan teknologi tersebut untuk memenuhi keperluan pribadi seperti halnya Victor Frankenstein yang menciptakan Frankenstein yang kemudian berhujung kematian.

Setelah kedua novel tersebut, zombie mulai bermunculan, baik pada karya sastra, sinema dan bahkan permainan. Seperti yang sebelumnya telah dipaparkan bahwa zombie merupakan perkembangan dari gothic fiction yang sebelumnya menyajikan tokoh-tokoh lain seperti vampire, werewolf dan Dracula yang selalu berada dan sembunyi dalam kegelapan malam. Oleh karena itu, menurut saya penambahan karakter zombie memberikan variasi pada genre gothic fiction, mahluk yang dapat bergerak meskipun dalam keadaan siang ataupun malam. Selain itu, yang menarik perhatian saya pada karya-karya sastra zombie salah satunya adalah karena adanya perkembangan dari penyajian zombie dalam novel-novel sejak tahun 1970 sampai era Zombie Renaissance pada tahun 2006-2016.  Contohnya seperti penyebab bangkitnya atau kemunculan zombie dan perbedaan dari penyajian zombie dalam novel.

Penggambaran zombie dalam karya sastra mengalami perubahan, mulai dari cara mereka bergerak ada yang disajikan sangat lambat ada pula yang disajikan hingga dapat berlari dan juga penggambaran dari penampilan zombie berbeda pada setiap karya. Hal tersebut sangat terlihat dalam film, perubahan make-up untuk para zombie sangat berbeda dari waktu ke waktu, ada yang bercucuran darah ada pula yang tidak. Selain itu, dalam karya sastra zombie, terdapat beberapa penyebab mengapa mereka muncul; seperti ritual kepercayaan atau praktek unsur magis, virus, bom nuklir, bahkan eksperimen-eksperimen yang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Penyebab-penyebab tersebut tidak lain merupakan kritikan atas pencerminan kehidupan social yang muncul pada jamannya.

Hal tersebut juga dibahas oleh Kevin Boon bahwa munculnya fenomena Zombie Renaissance akibat respon dari era modernisme yang runtuh karena peledakan Hirosima dan munculnya masa setelah bom nuklir (post-nuclear) pada abad ke-20. Meskipun tidak banyak, beberapa karya yang menceritakan zombie masih menggambarkan ritual keagamaan atau kepercayaan dan juga unsur-unsur magis (voodoo) sebagai penyebab bangkitnya zombie, seperti Illuminatus! Karya Robert Shea dan Robet Anton pada tahun 1976, On Stranger Tides karya Tim Powers tahun 1988, The Stupidest Angel: A Heartwarming Tale of Chrismast karya Christopher Moore tahun 2004, The Rising (2004) dan City of The Dead (2005) oleh Brian Keene dan lainnya.

Akan tetapi, yang menarik perhatian saya adalah ketika fenomena Zombie Renaissance memunculkan karya-karya sastra zombie yang disebabkan oleh perkembangan teknologi, seperti penyebaran virus dan infeksi, peledakan nuklir yang menyebabkan radiasi dan percobaan pada manusia. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa karya-karya tersebut seakan memberikan kritik kepada para negara pengembang nuklir dan percobaan-percobaan yang mengeksploitasi manusia maupun binatang demi tujuan yang hanya menguntungkan beberapa pihak atau karena keserakahan atas harta, kekuasaan ataupun hidup (ingin abadi). Pada perkembangan istilah zombie sebagai “unhuman” mulai bergeser pada konsep robot, android dan cyborg. Akan tetapi, saying tidak membahas ketiga perkembangan konsep tersebut. Kita hanya akan fokus pada istilah “unhuman” sebagai “dead creature that are nothing more than animated meat or animate flesh” (Mason, 2014: 194).

Penggambaran perilaku-perilaku zombie dalam karya sastra juga menjadi kiritk untuk manusia. Menurut Mason (2014), pada karya sastra perilaku zombie sering digambarkan lebih baik daripada manusia (kecuali perilaku mereka yang memakan daging manusia) karena mereka lebih terorganisir dan memiliki rasa persatuan yang kuat; mereka tidak disajikan saling berebut makanan untuk dapat bertahan hidup layaknya manusia. Menurut saya, pemaparan Mason tersebut mengkritik sikap manusia yang selalu berusaha untuk menjatuhkan manusia lainnya untuk bertahan hidup baik disaat genting ataupun tidak. Kebangkitan zombie pada karya-karya Zombie Renaissance akibat eksperimen nuklir ataupun penyebaran virus mulai bermunculan pada tahun 1980an, seperti pada novel On The Far Side of The Cadillac Desert with The Dead Folks oleh Joe R. Lansdale tahun 1989, Resident Evil Series karya S. D. Perry tahun 1998, Handling the Dead karya John Alvide Lindquist tahun 2005, Dead City oleh Joe Mckinney tahun 2006 dan masih banyak contoh lainnya. Selain itu, banyak juga karya-karya sastra Zombie Renaissance yang dikembangkan dan diadaptasi menjadi film seperti Resident Evil (1998 – 2002), I am Legend (1954 – 2007), World War Z (2006 – 2013), Pride & Prejudice and Zombies (2009 – 2016), dan Warm Bodies (2010 – 2013).

Pada Era millennium muncul berbagai macam novel yang mengandung permasalahan akan zombie  bahkan ada yang tokoh protagonistnya adalah zombie. Dua novel karya Zombie Renaissance yang menarik perhatian saya karena keunikan masing-masing novel. Novel yang pertama adalah Pride & Prejudice and Zombies karya Jane Austen dan Seth Graham-Smith pada tahun 2009. Novel ini seperti novel zombie lainnya yang mengangkat cerita zombie apocalypse dimana zombie adalah wabah yang harus diperangi. Namun, novel ini bukan hanya sekedar novel yang dibuat oleh Graham-Smith, tetapi karya ini merupakan novel klasik karya Jane Austen yang terbit pada tahun 1813 yang kemudian diterbitkan kembali oleh Graham-Smith setelah di ‘remake’ dengan menambahkan konflik yaitu zombie. Akan tetapi, Graham-Smith tidak mengubah struktur ataupun latar tempat dan konflik-konflik yang sudah ada sebelumnya, ia hanya menambahkan unsur zombie dan menambahkan genre gothic pada novel ini.

Pride & Prejudice and Zombies yang terbit pada 1 Mei 2009 mulai menjadi trendsetter bagi pengarang-pengarang lainnya untuk mengikuti langkah Graham-Smith dengan menambahkan atau merubah konflik, latar ataupun hal lain yang dianggap dapat diubah atau ditambahkan meskipun tidak mengubah struktur dan gaya penulisan awal. Contohnya seperti Adventures of Huckleberry Finn and Zombie Jim karya W. Bill Czolgosz yang terbit pada 10 Juli 2009, Alice in Zombieland  oleh Nickolas Cook pada 1 Maret 2011, The Adventures of Tom Sawyer and the Undead oleh Don Borchert pada 3 Agustus 2010 dan masih banyak lainnya.

Selain menambahkan zombie pada karya sastra klasik, para pengarang lainnya pun memasukan mahluk-mahluk “unhuman” lainnya ke dalam cerita seperti misalnya vampire dalam karya Emma and the Vampires oleh Wayne Josephson pada 1 Agustus 2010, android dalam Android Karenina karya Ben H. Winters pada 8 Juni 2010, sea monster dalam karya Sense and Sensibility and Sea Monsters oleh Ben H. Winters pada 15 Sep 2009 dan werewolf dalam karya Little Women and Werewolves oleh Porter Grand pada 4 Mei 2010. Masih banyak lagi karya-karya hasil dari remake dan penambahan pada karya sastra klasik yang muncul setelah Graham-Smith mempelopori hal tersebut dengan menerbitkan Pride & Prejudice and Zombies sebagai novel pertama dari hasil remake karya sastra klasik. Berdasarkan ciri-ciri karya sastra Zombie Renaissance, novel ini tidak termasuk dalam kategori Zombie Renaissance karena secara struktur, latar dan plot novel ini tidak berubah, zombie tidak muncul pada era teknologi melainkan mengikuti latar teknologi yang digambarkan dalam novel. Akan tetapi, pembuatan ulang novel ini diterbitkan pada tahun 2009 dimana karya sastra zombie dikategorikan sebagai Zombie Renaissance. Tidak ada batas-batas yang jelas, oleh karena itu novel ini juga dapat dikategorikan sebagai Zombie Renaissance apabila melihat ciri pada tahun terbit.

Novel kedua adalah Warm Bodies karya Isaac Marion tahun 2010. Novel ini menarik perhatian saya karena dua hal. Pertama, biasanya zombie merupakan karakter yang jahat dan sudut pandang ada pada tokoh manusia yang disajikan sebagai pembasmi zombie. Akan tetapi, pada novel ini sudut pandang dan jalannya cerita ada pada salah satu tokoh zombie yang bernama R. Teks ini menyuguhkan cerita dari sudut pandang zombie, bagaimana zombie meihat dirinya sebagai mahluk yang tidak hidup dan juga tidak mati dan melihat sekitarnya. Selain itu, keunikan novel ini juga memberikan metafor dan sudut pandang dari si zombie R terhadap proses disaat perubahan dirinya menjadi manusia kembali, apa yang dirasakan dan dipikirkan. Seakan-akan perubahan yang dirasakannya seperti mimpi, cinta, bahagia, rasa sakit adalah apa yang membuat kamu dikategorikan sebagai manusia — hal-hal yang sudah hilang saat mereka menjadi zombie. Hal itu juga menjadi sebuah kritik bagi masyarakat yang telah melupakan esensinya sebagai manusia.

Kedua, karena novel ini mengingatkan saya pada dua karya lain yaitu Romeo dan Juliet (1595) dan Twilight (2005). Seakan-akan novel ini adalah dua karya tersebut yang dijadikan satu dan dikemas dengan unsur zombie yang pada tahun 2000-an sedang naik daun. Munculnya pemikiran tersebut karena ada beberapa faktor yang saya lihat yaitu, pada saat Warm Bodies terbit pada tahun 2010, pada saat itu juga dan beberapa tahun sebelumnya zombie disajikan sebagai “the dead living” yang harus dimusnahkan tanpa diberikan suara untuk mengungkapkan pikiran-pikirannya dan kita pun tak tahu apa yang dirasakan oleh zombie sebagai mayat hidup buruan. Pembaca tidak diberi kesempatan untuk bersimpati pada mereka. Zombie pada Warm Bodies, R, disajikan sebagai tokoh utama dan diberikan suara yang memberikan efek simpati terhadapnya. R mengingatkan saya pada tokoh Edward si Vampire dari novel Twilight (2005) karya Stephanie Meyer. Kisah percintaan dalam novel Twilight menjadi booming karena menyajikan kisah percintaan yang berbeda yaitu antara dua spesies, manusia dan vampire. Begitu juga dengan kisah percintaan yang disajikan dalam Warm Bodies (2010), romansa antara zombie dan manusia.

Serupa tapi tak sama juga ada pada kisah percintaan pada novel ini dengan kisah Romeo & Juliet, yaitu hubungan yang tidak disetujui oleh orang-orang disekitar mereka karena perbedaan antara mereka dan juga karena kemiripan nama pada tokoh di Warm Bodies (2010); R dan Julie dan di Romeo and Juliet (1595); Romeo dan Juliet. Novel ini dikenal sebagai novel zombie yang disajikan dengan cara komedi-romantis antara manusia dan zombie, yang sangat berbeda dengan karya-karya pada Zombie Renaisssance lainnya.

Berbeda dari novel pertama, novel ini jelas dikategorikan sebagai Zombie Renaissance karena dua dari tiga ciri karya sastra Zombie Renaissance ada pada novel ini. Novel ini terbit pada tahun 2010 dan dalam novel ini zombie digambarkan muncul pada tempat-tempat yang ada pada era modern seperti, bandara, lapangan bisbol, mall dan lainnya. Bahkan ada beberapa karya sastra zombie yang terbit sebelum tahun 2006 memiliki ciri-ciri karya sastra Zombie Renaissance, hal tersebut juga menjadi perdebatan apakah karya tersebut masuk pada karya Zombie Renaissance.

Aliran Zombie Renaisssance memiliki karya-karya sastra menarik yang mengandung zombie di dalam cerita. Saya memilih dua karya yang telah saya paparkan di atas merupakan salah satu karya yang masuk pada Zombie Renaisssance. Novel Pride & Prejudice and Zombies (2009) sebagai karya mash-up antara Jane Austen dan Seth Graham-Smith dan Warm Bodies (2010) oleh Isaac Marion juga merupakan pelopor untuk karya selanjutnya yang serupa. Keunikan akan penggambaran zombie dan pemilihan cerita menjadi daya tarik kedua novel ini untuk aliran Zombie Renaisssance dan memberikan kategori yang lebih berwarna pada sejarah aliran-aliran sastra.

 

Work Cited

  • Boon, K.  (2011). The Zombie as Other: Mortality and the Monstrous in the Post-Nuclear Age. Dalam D. Christie dan J. Lauro (Penyunting), Better Off Dead: The Evolution of the Zombie as Post-Human. New York: Fordham University Press.
  • Haubner, Laura. (2014). The Zombie Renaissance in Popular Culture: An Introduction (hal. 3). United Kingdom: Palgrave Macmillan.
  • Mason, Fran. (2014). The Galvanic ‘Unhuman’: Technology, the Living Dead and the ‘Animal-Machine’ in Literature and Culture. Dalam Laura Haubner (Penyunting). The Zombie Renaissance in Popular Culture (hal. 193). United Kingdom: Palgrave Macmillan
  • Seabrook, W. B. (1929). The Magic Island. New York City: Blue Ribbon Inc.

Situs Internet

Etymologi online http://www.etymonline.com/

Oxford online https://www.oxforddictionaries

Standard

Short Story: Is It The Right Time?

I guessed everyone  have a dirty secret on their life. Trying to hide it, whatever it took. However, did you know that there’s nothing you can hide in this world forever? Just like aphorism said “sooner or later your secret will come up to the ground.” Well, I had some secrets that I wanted to hide. Trying to tell the truth was not as easy as you blink your eyes, but I believed every secret have it’s own time to reveal it’s dirt and I thought it’s time for my secret to be open.

AFTER A LONG TIME, I finally met him. He was The Guy that could make my heart beat faster and sometimes could hurt. I could hear his voice. He was calling my name. Even though, I couldn’t see if it was him who called my name. But, I was sure that it was him, there is no way I could forget his voice. My mother opened the door and asked him to come in. I was in my room. I froze and waited for him.

My heart was beating so fast. Suddenly, he was standing in front of my door. At that time, I was lying on bed. Thank God I already cleaned up my room this morning. The bad news was there were too much paper on the floor and the bed. He looked at me and smiled.

He asked “did you just wake up?” I couldn’t say anything.

I was sure that I was look like people who just woke up. He was still standing in front of my door. Honestly, it’s kind of funny to see how much my heart still have to beat this fast just because I saw him. He’s wearing grey t-shirt with blue jeans jacket and black jeans. There were some oil stains in his clothes. God, he’s still careless with his clothes.

“Well, I guess you’re still wearing the clothes that you wore on your practice study. Didn’t have time to change, huh?”

He smiled. “I think so. Sorry, I guess I disturbed your sleep time.” He still thought that I was sleeping before he arrived, he didn’t change; always kept asking if you didn’t answer him.

“I’m not sleeping just trying to get some rest for my brain. As you see, I have so much homework.” I was pointing at the papers that scattered on the floor.

“Always a diligent one.”

“How long you will stand there?”

“Is it okay if I come in?”

I nodded. I sat on the floor and told him to come in. He sat next to me and took something from his pocket. He gave me a flash disk. I turned on my laptop and tried to focus on it but, it took time to on. He was quiet and so did I. For some time, both of us didn’t say anything. Then, he moved. He tried to reach for something beside me. His hand was passing me by when he took it. I looked at him and saw what he was holding. He read my paper; he wrinkled his eyebrows and his lips. It was always interesting when he became like that, thinking hard made his face looks ridiculous but somehow it’s cute. Stupid! Stop think like a fool. I had to focus on the screen. I couldn’t make my heart beat any faster than this.

“Hmm, I can’t understand this. What is this?” He waved the paper at me.

“That is my homework. A short story that tells about my experience but, it isn’t finish yet. I’m stuck.”

He put the paper back. “You will finish that. Even, I don’t understand your homework, I’m sure that your short story will be good. You are good at it.”

I shrugged. I searched some movie that he wanted to. I opened some files and folders movie. Finally, I could focus on something besides focus on him. I connected the flash disk with my laptop and asked him to search by himself the movies that he wanted to. He started to search and because of that he became closer. I hoped he couldn’t hear how fast my heart beats. He copied the movies from my laptop to his flash disk.

I looked at him closely and my mind became ramble. Should I tell him the truth? The truth about what happened between us. I lied to him and to everyone. Yes, I guessed I should tell him the truth. I hoped he wouldn’t hate me after I told him the truth.

Moving 20 items (2.GB) from films Data (D:) to removable disk (F:) about thirty minutes remaining.

I closed my eyes and took a deep breath. “Can I tell you something? I have to tell you this before I change my mind.” He looked at me. He wrinkled his eyebrows again. He nodded.

I cleared my throat. Thinking what I have to say first. “Well, first I want to apologize to you.” I stopped, glanced at him.

Nothing happened. He didn’t say anything. I decided to continue without looking at him.

“I  lied to you. Did you remember when I gave you a letter? The letter that told you about the reason why I want to break up. I said I want to break up because it’s a test, right? Well, that was a lie. That was my made up reason so that I didn’t feel too guilty to you. Actually, the reason was because I liked somebody else. Even, when we started to have a relationship I wasn’t sure if it was a right choice for us because of my feeling for him. I’ve been trying to stop my feeling but it didn’t work. I could forget him for a while and a day after I liked him again. I tried I really tried to love you without having someone else in my heart. But then, it always ended up with me comparing you guys. How my heart was beating faster when I was with him than when I was with you. At first, I didn’t really know the different but then I knew one thing, that I did like him. He made me happy for just by his side, even if I just his friend. My relationship with him made me realized that there was something between him and me that other people noticed before we did. It was too late for us because I was already with you and it put him in such complicated position. The worst came, our relationship became a joke for me. I knew that I have to make something up so that we could break up. But after that, I didn’t happy at all. All I could feel just misery and regret. Why did I have to let you go? Why didn’t I just trying harder to make you the one. You were the only guy that taught me about caring and loving somebody unconditionally without any labels or conditions. Although, sometime you were so childish and have such an ego, I still wanted us to have a good relationship. So that’s why I created a reason in order to make you didn’t hate me or him. You could say that it was my selfishness but, I was really scared that you would hate him and he would lose his only friend. I never told him about my feelings but I was pretty sure that he knew. Although, we often spent some times together, we never more than friend. Even if I wanted, I would never consider cheating behind your back. So that…”

Suddenly, he sighed “Is he a guy that I know?”

“Well, I guess even if I don’t tell you, I know you knew who he is, don’t you?” I glanced at him and saw his hands became pale because he was grasping it too hard. He didn’t answer my question. His eyes were on the screen.

“I’m sorry.”

He was quiet.

“Well, say something.”

He giggled. “What should I say? Maybe deep down, I already knew that you liked him at that time. The way you saw him, laughed at him, talked to him. I just pretended not to know, because I realized that you would leave anytime you wanted if I told you that I knew. I didn’t want it. No, I could’t face it that you liked him instead of me. Even, if you liked him I knew that I had to endure it so that I could be with you.”

He knew. All that time, he knew. I was too naive if I was thinking he wouldn’t know about it. Stupid! Just because I didn’t want to feel guilty I lied to him that clearly knew it.

“But, there were many guys in our school. Why it have to be him?” He asked me.

“I’m sorry. I didn’t know why it had to be him. I just knew the fact that he was your best friend will more hurt you than anything else. I know that I’m outrageous, but can I ask one thing?”

“What?”

I hesitate. “Are we good? Can you forgive me and still be my friend?”

He smiled. “Just because you liked somebody else at that time, it doesn’t mean that I would be mad at you forever?. It was not completely your fault. You could love somebody else because I can make you only see me. So, it was my fault too. Of course we always can be friend. Beside, it was ages ago, so..”

“Thank you.” We both smiled.

Moving 20 items (2.GB) from films Data (D:) to removable disk (F:) about thirty seconds remaining.
Moving 20 items (2.GB) from films Data (D:) to removable disk (F:) about fifteen seconds remaining.
Moving 20 items (2.GB) from films Data (D:) to removable disk (F:) about five seconds remaining.

“Well. Thanks for the movies. I hope you’re not mind if I ask for more movies next time.”

“Hey, did you hear me?” He touched my hand. “Well, I guess your hobby wasn’t change at all, huh? daydreaming again are you?.”

I shaked my head over and over. “Huh. Oh, I’m sorry. What did you say?”

He laughed. “I said thanks for the movies. I hope you’re not mind if I ask for more movies next time.”

“Oh, sure. You can ask me anytime.”

“Nice. Well, then see you next time.”

“See you.” I smiled. Well, maybe it was not the right time for telling the truth after all.

 

Standard

Short story : The Protector

I opened my eyes and saw my teacher was standing in front of me with a red face. There was no one except me and him in class. Everybody had been left the class.
He took a deep breath and asked me with a sharp tone, “Did you have a good dream, Freya?”
I patted my cheek several times and answered “I’m sorry, sir.”
“Well, I hoped you enjoy your good dream and next time tried not to sleep during the class!” He walked out from the class.
I leaned on my chair and looked at the ceiling’s class. Thinking about what he asked. Good dream? I closed my eyes and smiled. Did I really have a good dream before? It would be good if I could have a dream, a good one or even a bad one. I looked around the class, it was really nice when there was no one around. I could be myself without trying hard to be someone else.
I stood up and walked out from the class. The hall was already empty. I passed by the locker without having to take my bag as usual and walked into the toilet on the corner hall. I saw someone on the mirror and recognized it as me. I washed my face then I went out. I identified some students who walk on the hall; one of them was waving at me, Nancy my classmate. She approached me and asked me to go home together. It was unusual.
“It’s okay. I’m used to go home alone.”
I wanted to walk away but she grabbed my arm “Oh, come on. I have something to tell you.
“Well, you can say it to me tomorrow.”
She held my hand tight and glared at me “No, you can’t go home alone today. You have to go home with me.”
“Why? Well, if what you want to say to me is really important, you can talk to me now.” I tried to let go from her grip.
She shook her head “I can’t”
“Then see you tomorrow.” She gave up and said “Okay, but please, try not to walking around of the street that you don’t really know.”
I nodded fast and walked away. Actually, I didn’t really understand why she said that, because usually we weren’t in a good term to talk. Even in this school there was no student that ever tried to talk to me. Then suddenly she talked to me and asked me to go home together.
When I was in front of the school’s gate, I saw someone standing. From the form, I could sure enough if it was a guy. His body was sturdy. He crossed his arm and leaned his back on the gate. He was wearing black sweater with hoody and jeans. He was facing me but I couldn’t see his face because of the hoody. It seemed he didn’t look at me because he bowed his head. I didn’t want to think about him. I just wanted to go home as soon as possible and slept right away.
I walked pass him by and kept walking. I almost fell asleep until I kicked a rock. I patted my cheek over and over so that I could keep awake. I looked around and realized that I couldn’t recognize the street. Did I lost? I didn’t know where I was. I tried to find people around but I couldn’t see anyone. I only saw buildings. There were old buildings everywhere. The building wasn’t like a normal building. All of the buildings were having black paint with some kind of white tattoo on it. Each building has different pattern. I felt like I knew this place. I was sure that I have seen those building before, especially the tattoos. It felt familiar. On different buildings there were only 4 doors, with different color blue, red, yellow, and gray. Those doors didn’t have any mark but the buildings were so full of it. What makes it weird was each door on the building have same handle form with different color. However, I didn’t feel like to open those doors, because I didn’t know why, but it seemed I knew what behind those doors. My heart recognized this place, but not my mind. I wanted to turn around but my eyes caught something. It was a door. The door was standing with a solid foundation on top of ruins. The ruins were at the end of the road. I noticed one door. That door was very full of color. There were many colors on that door, red, blue, yellow, pink, green, orange and purple. It was like a rainbow. The handle was round and black. I stepped closer to the ruins until someone patted my back.
“You can’t be here, Freya”
I jumped a little and turned around. I saw Nancy was standing behind me “Oh, God. Nancy. What are you doing in here?”
She didn’t talk. Her eyes stared at me “That was what I have suppose to ask you. What the hell are you doing here? Didn’t I tell you not to walking around on the street that you don’t know?”
“Yeah, you did. But this place is familiar for me, except that one. I want to see what behind it.” I pointed on the door.
She screamed. “No! You can’t do that Freya. There is nothing in here that familiar to you. We have to go now.”
I could feel a pressure on her. She really wanted me to go with her. She dragged me and made me follow her. I turned my head to the door and saw someone was standing in front of it. He was the guy that I saw before on the school gate. I couldn’t see his face again, he still wore that hoody. But I could see his lips. It moved, he said something. I couldn’t hear it or saw what he said. Suddenly, the wind blew and brought his voice to me.
The wind whispered in my ear “Come again. You will surely come again and soom we will meet again, Freya.”
I was frozen and so Nancy. She turned around and said. “Don’t, Freya. Never come here, ever again.” Could she hear that too?
I arrived at home and Nancy went as soon as I was home. She didn’t say anything and I didn’t even bother to ask her what have happened. I was thinking about the buildings, the door and him. What was the meaning of that? For the first time in life, I felt curious. My guts told me if there was something in taht place that was meant to me. I definitely have to see that place again. I sat on my bed and lied down. I closed my eyes and everytime I did this, I hoped that I could dream those buildings and the door, although I knew I couldn’t dream.
I opened my eyes and saw those buildings again. I looked around and I was sure it was the street that I saw before. But if I was not wrong, I already left this street with Nancy and I was at my room right now. Did I have a dream? I was still in my clothes that I wore before. I didn’t take more time to think if it was a dream or not because it must be a dream. I ran to the ruins. When I reached the ruins, I stepped through. I could feel some rock under my shoes. I was walking and looking around, searching the guy that I saw before. I didn’t see anyone so I reached the door. I took a step closer to that door and I feel my heart was going mad. It beat faster, —- faster, and —- faster. I slowly reached the door’s handle. The handle was so fragile. I thought if the handle was made from iron but it was not. The handle was made from wood.
I opened the door and entered. I could’t see anything for a while because it was so bright. My eyes adjusted the light little by little, then I smiled. This place was wonderful. If I was dreaming I was never know if a dream could be so beautiful like this. I saw a waterfall with a big rock in the bottom and a vast red rose garden. The waterfall was filling up the small lake with clear water. At the end of the waterfall, there was a rainbow. I bet the water was really fresh. I got closer and the water from waterfall splashed on my face and I realized the water made me feel excited. I saw some mosses in a side of the rock. There was no dent, even a scratch on that rock. I smelled the roses and the scent was filling in the air. When the wind blew and brought the haze of the waterfall, the scent of the roses with the mosses became stronger. I was lying on smooth green grass in front of the rose garden. The grass felt like feathers that caressed my body. With smile on my face, I closed my eyes to feel more. Then I heard someone laughing, his laugh was like a bell ringing. After that I heard a sound. It came from behind the rock and I caought a glimpse of a shadow behide it. I saw someone threw a rock to the water. I stood up and stepped closer. When I got in the water and reached the rock, I didn’t see anyone but I saw something on the rock.
There were some words on the rock.
It said “Welcome, Stranger. Try to stay out of the water if you want to stay alive.”
It seemed like a threat for me. I ignored the warning. I wanted to swim on this lake. I took off all of my clothes and swam. The water was so fresh. I explored the lake. I climbed the top of the waterfall and saw everything, the lake, the rose garden, even the rock was like a tiny rock from up here. Finally, I jumpped and made a big splash. Although the water was so cold, I didn’t feel it because the weather. It was so nice to swim in the hot weather like this. I did some jumps form the rock until I decided to go to the bottom of the waterfall. I washed my body. I closed my eyes to feel the water.
Suddenly, I heard something enter the water. I opened my eyes and saw a guy was sitting in the edge of the lake. I startled and hide behind the rock.
He giggled “It’s useless; I know you’re there.”
I brave myself and took a peek. He was a guy with short wavy hair and have a piercing in his left ear. He was wearing short jeans and blue t-shirt with a weird pattern on it. I couldn’t see his face because he was blocking the sun.
“Are you someone that throws a rock before?” I asked.
“Hmm, throw a rock? May be, but I guess you’re not obeying the warning”, he pointed at the words on the rock with his hand.
I cleared my throat “Oh really? Why I have to obey it? I can do whatever I want and I don’t care with that stupid words. It’s my dream.”
He giggled, “Well, I guess you’re very ecstatic about you finally have your first dream. But did you know? Those stupid words can save your life. I just try to warn you, but you said you don’t care. So, I guess I don’t have to waste my time to save you. Wait, did I want to save you.” He rubbed his chin, pretending like he’s thinking. He’s rude.
I still couldn’t see his face, “How did you know if it is my first dream? What do you mean? Why I have to stay out from the water?”
He stood up on and smirked I think,“Well, one question in time. I’m just guessing. You have to get out of the water now, because this is the sacred lake. If there is any stranger swim on this lake, he or she will die.”
“What? How can there’s be such a scary lake. You try to warn me but you wrote the warning in this stone. There is no other way to know what yo write if I don’t enter the water. Are you stupid or something?”
He laughed “If I do it smartly, I can’t see something interesting when I see you die.” He aas sure not a good guy.
“She won’t die.” There was another voice.
There. He was standing beside that rude guy. He was the guy that I saw on school and the ruins. I couldn’t see his face though, only his lips.
“You! You were the guy from before right?”
He smirked “I told you that we will meet again. Can you get out of the water now?”
I blushed “I can’t.”
“See, she actually wants to die. Just let her, I want to see her die.” The rude guy grinned.
“If you’re not comfortable because you’re naked you can wear that robe.” The hoody guy pointed at a tree near the lake.
I saw the tree and the robe. It’s blue, dark blue. I was counting the distance between me and the tree. It’s not really that far. Actually, it was preety close than my clothes that lying not far from their feet. But, that robe was hanging on a branch of the tree so if I took it I needed to come out of the water and my body would be seen by that two guys over there. It’s better to stay in the lake.
The rude guy laughed “So that’s why you dont want to come out of the lake because you ashamed of being naked. Relax, your body isn’t that good.”
That guy was really really rude. The hoody guy wanted to laugh too, I can see that. “Wow, both of you are really a gentleman. It is so obvious that makes me can’t see it.”
That rude guy stopped laughing. And the hoody guy came closer to the lake. “Well, if you like, we can turn around so you can come out.”
“Yeah. Sure, Princess.” The rude guy grinned, again.
I wanted both of them get out of my dream. They couldn’t tell me what to do. I walked away from the rock and came out of the lake, reached the robe and put it on without even trying to look at them. Now what, say that again. I dare you. I got closer to them and grabbed my clothes.
The rude guy gave me a little bag, “Well, I take back what I said. You’re not that bad. You can put your clothes in this bag. By the way, my name is Glenn.”
I took the bag the bag while the hoody guy took down his hoody. “And my name is Ethan.”
Finally, I saw them. They’re preety good-looking actually. Ethan had blue icy eyes with a cold smile as his eyes and Glenn had deep green eyes with a mysterious smile.
I put my clothes in the bag, may be I could wear this when I found some place to change.
“Follow us, Freya.” Ethan turned around and walked.
I followed them, didn’t sure it’s the right thing to do though. But I have so many question. “Why did you know my name?”
Glenn walked faster to face Ethan “Oh, Ethan. Why did you say she doesn’t have to die?”
Ethan answered “Because she is the protector.”
I stopped. “The what?”
Glenn stroked his chin, “Ahh, really. So that’s the reason why she doesn’t turn into something else and die when she entered the water. Hmmm, honestly I expect she will turn into something then die horribly. It’s been a long time to see someone die at that lake.” He giggled.
There had to be something’s wrong in these guys. How could you laugh about dying. It’s definitely not thing you could laugh at. Then the other guy, Ethan whatever his name was, wanted me to follow them. I stopped following them and waited, “What is the protector? And how did you know my name?”
Ethan stopped and answered without looking at me. “It is not something that I deserve to tell you. The holders will tell you.”
I didn’t understand what he’s talking about. “What did you mean with the protector? Who are the holders? Where do you want to take me?”
“Sweetheart, you seems like a quiet type but, you always ask many questions in the same time. Why don’t you start walking, follow us and you will find the answers.” Glenn giggled.
I couldn’t believe it. “No! Why do I need to follow you. I dont take orders from anyone. I demand the answers now, because this is my dream. I definitely have to know what has been going on in my dream.”
Finally, Ethan turned around and stepped closer to me. His eyes were piercing my eyes. His eyes looked cold as ice and he whispered on my ear “Did you really think, if right now, you are dreaming, Freya?”

To be continued….