GPL Unpad, berdiri pada sekitar bulan September tahun 1971. Banyak musisi yang sudah punya nama dalam musik nasional masuk Unpad, dalam kampus itulah mereka bergabung membuat suatu kelompok musik. Misalnya Rudi (drummer Bimbo), Benny Subardja dan Albert Warnerin (Giant Step) serta Indra Rivai.
GPL dapat dikatakan pelopor pada era tahun 1970-an ketika para remaja menyukai lagu-lagu rakyat. Kegiatan GPL ini juga menjadi pemicu apa yang disebut vocal grup, yang pada kemudian menjamur di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia saat itu.
Anggota GPL yang tampil dalam suatu panggung bisa terdiri dari sekitar 40 sampai 50 orang. Selain muncul dengan kekuatan suara, kekuatan mereka lainnya adalah penonjolan flute dan harmonika dalam musiknya.
Lagu-lagu yang dinyanyikan GPL, meliputi berbagai lagu rakyat dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya Henematov dari Afghanistan dan Haavanashirra lagu rakyat milik orang Yahudi.

Indonesia – Malaysia:
Bersatu dalam Musik Pop?

R. Muhammad Mulyadi

Latar Belakang
Pada kunjungan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono ke Malaysia bulan Januari 2008 secara khusus diadakan suatu konser musik di Auditorium Perdana Angkasapuri. Konser bernama ‘Konsert Setiakawan’ itu dimeriahkan oleh artis terkenal dari kedua negara. Menurut keterangan pemerintah Malaysia yang dinyatakan oleh Menteri Penerangan, Datuk Seri Zainuddin Maidin, “Konsert Setiakawan merupakan lambang semangat setia kawan kedua negara, sekaligus merayakan ulang tahun ke-50 hubungan Malaysia-Indonesia. Dalam acara tersebut menampilkan hubungan seni dan budaya kedua negara serumpun itu yang tidak dapat dipisahkan. Read the rest of this entry »

Homeschooling Cara Agus Salim

Oleh : Muhammad Mulyadi

Agus Salim dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional yang besar perhatiannya terhadap pendidikan. Hal itu dapat dilihat dari pendapat-pendapatnya baik secara lisan maupun melalui artikel-artikel yang ditulisnya mengenai pendidikan. Akan tetapi, Agus Salim ternyata punya cara lain tentang mendidik anak-anaknya. Dan caranya berbeda dengan semangat pendidikan yang digembar-gemborkan pada waktu itu. Dia tidak memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal. Padahal sebagai orang yang dipersamakan kedudukannya dengan orang Belanda, dia dapat dengan mudah memasukkan anak-anaknya ke sekolah Belanda. Alasan yang dikemukakan Agus Salim mengenai hal ini adalah, dia tidak mau anak-anaknya belajar pada sekolah penjajah. Alasan lain yang dikemukakan Agus Salim adalah bahwa dia sendiri lebih banyak mendapat pengetahuan dari luar sekolah. Read the rest of this entry »

Malay Pop Music: between market and national identity

R Muhammad Mulyadi

Brief History of Malay Pop Music
Pioneered by royal musicians in the 1930s, the truest form of Malaysian popular music is made up of a fusion of various elements from various musical cultures in the country. P Ramlee in the 1940s, created a uniquely Malaysian style, based on Malay folk music but infused with elements from various local music cultures. His over 250 songs reflected the influence of Malay music forms syncretism, especially the inang, zapin, masri, asli, boria, and joget forms, as well as Western dance rhythms (rumba, slow fox, waltz, cha-cha, mambo and twist), and Hindustani and Arabic melodies and rhythms. The emergence of recording companies in Malaysia accompanied Malaysian pop music industry development. Read the rest of this entry »

Lintasan Sejarah Panggung Artis Asing

Oleh: R Muhammad Mulyadi

Kehadiran artis-artis asing ke Indonesia tampaknya semakin tidak dapat dibendung lagi. Fenomena kehadiran artis asing ke Indonesia sebagai bagian dari industri musik panggung merupakan suatu proses yang cukup panjang dalam sejarah industri musik di tanah air.
Pada saat orde lama mendatangkan artis asing dapat digolongkan sebagai tindakan melawan pemerintah. Hal itu disebabkan kebijakan pemerintah Soekarno melarang musik Barat yang digolongkan sebagai musik Ngak Ngik Ngok. Jangankan mendatangkan, memainkan lagu-lagu Barat saja dapat dikenakan hukuman penjara, seperti yang di alami band legendaris Koes Plus di Jakarta dan Bharata band di Surabaya. Beberapa penyanyi lainnya harus bolak-balik diinterogasi kejaksaan. Musik pada saat itu lebih mewujud sebagai alat politik, yaitu menentang neokolim. Read the rest of this entry »

Minggu, 10 Juni 2007
Laporan Utama Koran Tempo
(LAGU ANAK-ANAK)
Bermutu, tapi Sulit Populer
Pencipta lagu memadukan idealisme dan bisnis.
Deddy Dhukun pantang kapok. Meski lagu anak-anak ciptaannya tempo hari tidak laku di pasar dan sebagian besar anak sedang tersihir oleh lagu-lagu produk band remaja dan dewasa, ia tetap menciptakan lagu untuk anak-anak.
“Saya tidak akan putus asa dengan kondisi pasar saat ini. Akan terus berkarya,” kata Deddy, Rabu lalu. Sebagai bukti keseriusannya, kini Deddy sedang merilis album lagu bersama sejumlah anak berjudul Deddy dan Sobat.
“Beberapa lagu berkolaborasi dengan anak yang tergabung dalam Little Angel,” ujar Deddy. Lagu-lagunya bertema universal dan religius. “Meskipun untuk semua umur, lirik dan baitnya mudah dicerna dan diingat.” Seperti sembahyang, sehat itu mahal, dan mengajak ke kebaikan.
Agar bisa diterima pasar, lagu-lagu itu dikemas dengan sentuhan musik yang sedang jadi tren dan digemari anak-anak masa kini. “Perpaduan idealisme dan sisi komersialnya,” ujar Deddy.
Namun, supaya lagu laris manis, ada syarat yang diajukan Deddy, yakni dukungan pemerintah. “Dalam bentuk kebijakan pembatasan acara yang kurang edukatif di media massa,” katanya. Dengan regulasi, seniman terangsang kembali menciptakan karya yang mencerdaskan bangsa.
Persyaratan yang diajukan Deddy tersebut merupakan kata kunci setelah mengecap pengalaman pahit. Dua tahun lalu Deddy menciptakan lagu anak-anak dan berkolaborasi dengan bintang cilik Icha. Namun, album yang berjudul Lompat itu tidak sukses di pasar. “Jumlahnya kurang tahu, karena ditangani langsung oleh orang tua Icha sebagai produsernya,” kata Deddy.
Mengapa tidak sukses? Di antara kelemahannya, Deddy menambahkan, promosi albumnya tidak gencar. “Promosinya biasa saja, tidak dengan biaya besar.” Menurut Deddy, lirik lagunya telah sesuai dengan selera anak-anak dan mudah diingat.
Selain itu, lagu-lagu dewasa yang liriknya mudah diingat mulai menggeser lagu anak-anak. Populasi kelompok band remaja sedang memasuki puncak kejayaannya. “Di mana-mana ada pentas band, baik dalam acara off air maupun di siaran media massa,” kata Deddy. Akibatnya, media massa yang lebih mengutamakan keuntungan materi harus berpikir ulang mengganti tayangannya dengan acara lagu anak-anak. “Saat ini tayangan anak kurang menjual,” ujar Deddy.
Hal ini berdampak keputusan produser yang menghindari lagu anak. Deddy pernah mengalami kesulitan mencari produser ketika menciptakan lagu bersama penyanyi Tasya. “Susah mencari produser,” kata Deddy.
Lain lagi Agustinus Gusti Nugroho alias Nugie, yang mengklaim lagu anak-anak ciptaannya laris manis, seperti Kangen Dongeng dan Lonjak-lonjak, yang dinyanyikan Joshua Suherman. “Saat itu Joshua sangat berpengaruh terhadap anak-anak seusianya,” kata Nugie.
Kiatnya, berkompromi dengan sponsor yang menjadi payung produksi. Alasannya, komersialisasi tidak bisa dihindarkan. Meski begitu, idealisme tetap dipertahankan. “Saya bisa menciptakan lagu karena (terinspirasi) lagu-lagu Ibu Sud, Ibu Kasur, dan Pak A.T. Mahmud,” kata Nugie.
Nugie melihat saat ini tidak ada sosok penyanyi yang mewakili anak-anak seperti di masa Joshua, Trio Kwek-kwek, Adi Bing Slamet, dan Chicha Koeswoyo. “Yang muncul, anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa, atau suaranya sudah berteknik tinggi.”
Mantan penyanyi cilik Joshua Suherman berharap, agar lagu anak-anak dapat bangkit kembali, pencipta lagu dan produser harus melakukan kolaborasi antara artis cilik yang baru dan mantan artis cilik. “Kalau dengan kolaborasi, masih memungkinkan dibandingkan dengan membuat album untuk anak,” kata Joshua.
Keresahan sebagai dampak maraknya lagu dewasa yang diminati anak-anak pun mendera pencipta lagu Enteng Tanamal. Untuk menyiasatinya, sejumlah pencipta lagi anak-anak membuat lagu anak bersuasana rohani Kristen dan Islam. Sisi bisnis dan idealisme di ranah ini bisa didapat lantaran memiliki pasar tersendiri.
“Biasanya album kaset atau CD dijual saat pelayanan,” kata Enteng. Pesannya pun sampai, yaitu menghargai alam, sesama, orang tua, dan sang Pencipta. Sedangkan untuk menciptakan lagu anak-anak bertema umum, dalam situasi pasar yang belum berpihak pada lagu anak-anak, dia merasakan kesulitan menciptakan lagu.
Ahli sejarah industri musik Universitas Padjadjaran, Bandung, Muhammad Mulyadi, menilai di era anak-anak menggemari lagu remaja ini memang sulit menjadikan lagu anak-anak sebagai ajang bisnis. “Ini masanya lagu sebagai industri,” kata Mulyadi.
Meski begitu, ada cara yang bisa ditempuh untuk mempertahankan eksistensi lagu anak-anak. Yakni, bila lagu anak-anak sedang mengalami booming, produser harus menciptakan penyanyi baru lainnya sebagai pelapis atau pengganti. “Kalau Joshua dan Meisi turun panggung dan ada pelapisnya, mungkin nasib lagu anak-anak tak separah sekarang,” ujar Mulyadi.
Mulyadi sependapat dengan Deddy Dhukun soal pentingnya peran pemerintah dalam mendukung lagu anak-anak. Caranya, lagu anak yang baru dan bagus untuk pengembangan pendidikan anak mesti diajarkan di sekolah-sekolah. “Lagu-lagu A.T. Mahmud, Bu Kasur, dan Bu Sud bisa dinikmati anak-anak karena diajarkan di sekolah,” ujar Mulyadi.
ALI ANWAR | EKO ARI WIBOWO | YOPHIANDI

Faktor-faktor Penentu Produk Industri Budaya

Oleh : R Muhammad Mulyadi
(Makalah diseminarkan di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia pada 2007)

Album musik (dalam berbagai bentuknya seperti cd, kaset, atau vcd) dan sinetron merupakan dua bentuk produk industri budaya. Kedua produk tersebut merupakan kerja dari beberapa sekelompok orang yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Album musik, contohnya adalah merupakan kerja dari musisi, arranger, pencipta lagu, dan produser rekaman. Sedangkan suatu sinetron merupakan suatu produk yang dihasilkan dari interaksi sekelompok orang yang terdiri dari produser, penulis naskah, penulis skenario, artis, sutradara, dan kru film lainnya.
Kerja sekelompok orang yang menghasilkan dua produk industri budaya di atas berhadapan dengan beberapa faktor penentu suatu produk industri budaya. Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Industri Budaya Pusat Penelitian Kemasyarakat dan Budaya (PPKB) Fakultas Ilmu Budaya sejak tahun 2003 sampai 2007 menemukan beberapa faktor penentu dari produk industri budaya. Faktor-faktor penentu tersebut adalah modal, teknologi, dan regulasi. Read the rest of this entry »

Bharata Band asal kota Malang. Sejak tahun 1963 sudah memainkan lagu-lagu The Beatles ketika lagu-lagu jenis tersebut dilarang pemerintah. Akibatnya mereka ditahan selama satu tahun. Nama Bharata merupakan kependekan dari nama-nama anggota grup band itu yaitu Bambang, Harry, Harly dan Tato. Karena kesibukan kerja masing-masing Band ini tenggelam namanya.
Setelah vakum sejak tahun 1967 Bharata band kemudian terkenal kembali pada pertengahan tahun 1980-an dengan tambahan personil yaitu Abadi Soesman. Bharata Band menspesialiskan diri pada lagu-lagu The Beatles dalam pe-mentasan panggung.
Kebangkitan mereka tepatnya pada tanggal 11 Juli 1984 ketika Yapto SS (ketua Pemuda Pancasila) membuat acara memperingati matinya The Beatles di Taman Ismail Marzuki. Mereka diajak Yapto untuk bermain dalam kesempatan tersebut.
Kejayaan Bharata band muncul kembali antara tahun 1984 sampai tahun 1990. Ketika personelnya didukung oleh Tato, Harry, Abadi Soeman dan Jelly Tobing. Jadwal show mereka pada tahun-tahun tersebut dikatakan penuh, bahkan honor mereka dikatakan masuk kelompok bayaran yang tinggi. Grup ini kembali vakum setelah Abadi Soesman mengundurkan diri dari Bharata.
Kemudian Bharata aktif kembali di panggung musik setahun kemudian setelah tampil dalam acara musik The Beatles di Pasar Seni Ancol. Posisi Abadi Soesman digantikan oleh Wawan HID mantan anggota Mat Beatles dari Bandung. Kemudian Cindy yang juga berasal dari Bandung menggantikan Jelly Tobing. Tahun 1994 Jelly Tobing masuk lagi menggantikan Cindy.

Sebelum mencapai ‘kesuksesannya” di tahun 1990 Jefry sudah puluhan tahun menekuni musik. Namanya meledak seiring kesuksesan dalam memunculkan apa yang disebut sebagai disko-dangdut pada tahun 1990. Disko-dangdut yang dikembangkannya sering pula disebut dengan tekno-dangdut. Istilah tersebut (tekno-dangdut maupun disko dangdut) digunakan untuk menyebut jenis musik dangdut yang suara musiknya dihasilkan lewat teknologi computer. Dengan kata lain bunyi drum, gitar bas, seruling, dan alat musik lainnya sudah deprogram dalam computer dan bisa dimainkan hanya oleh satu orang saja.
Jefry Bule bukan orang pertama yang menggunakan teknologi tersebut, jauh sebelumnya banyak musisi Indonesia juga menggunakan teknologi yang sama. Hanya saja sejak Jefry Bule menyadur lagu India dan dikemas dalam lagu Makin Gila (1990) musik teknologi ini langsung menjadi wabah dan merajai pasar musik Indonesia. Read the rest of this entry »

Penyanyi bertubuh kekar yang dibesarkan di Cimahi Bandung ini terkenal dengan aksi panggungnya yang lincah, terutama menaiki tumpukkan sound system di panggung. Hari Moekti mengakhiri kariernya sebagai penyanyi dengan menjadi dai pendakwah. Read the rest of this entry »