Archive for category Budaya

Pencak Silat Yang Terus Menggeliat (KKNM 2012)

Hari itu sore yang indah, begitu indah berjalan disepanjang sungai kecil dengan riakan air yang tenang dan ikan ikan mas dan mujair dengan mulut mengaga. Saat itu kami menelurusi sebuah tambak ikan di sekitar dusun Neglasari RW 04 Desa Sukamaju sambil mengambil beberapa foto ditengah landscape sawah yang cantik. Tak sengaja kami pun bertemu dengan segerombolan anak yang saat aku Tanya mereka hendak berlatih pencak silat di sebuah pemondokan. Itulah awal pertemuan pertamaku dengan sebuah padepokan pencak silat yang ada di Desa Sukamaju.

Padepokan pencak silat yang ada di Sukamaju ini merupakan bagian dari cabang IPSI atau Ikatan Pencak Silat Indonesia. Di rumah berbahan bilik  yang sederhana inilah, sekitar 50 murid berlatih rutin sesuai jadwal, yaitu 4 kali seminggu, setiap Selasa, Jumat, malam minggu, dan minggu. Dan murid di padepokan ini banyak didominasi oleh murid usia Sekolah Dasar dengan sabuk hijaunya, dan Sekolah Menengah Pertama dengan sabuk kuningnya dan 5 orang usia Sekolah Menengah Atas dengan sabuk berwarna biru.

Walaupun bisa terlihat dengan jelas bahwa padepokan ini berada dalam kondisi yang kurang maksimal namun hal ini tidak menghambat murid – murid dari padepokan ini untuk dapat berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya salah satu murid dari padepokan ini yang pernah diundang untuk tampil dalam suatu acara Pekan Olahraga nasional di Gelora Bung Karno Senayan dan juga sederet piala yang pernah diraih murid padepokan ini dalam Pasanggiri Pencak Silat di tingkat Kota Sumedang. Selain prestasi – prestasi yang cukup membanggakan tersebut, murid – murid dari Padepokan Pencak Silat inipun seringkali diundang untuk memeragakan kemampuan pencak silat mereka sebagai hiburan dalam acara – acara di sekitar daerah Kota Sumedang, bahkan pada saat kami mengunjungi Padepokan ini, murid – murid padepokan inipun bercerita bahwa mereka baru saja diundang di sebuah acara di daerah  Cimalaka.

Bapak Enjang, selaku pelatih Pencak Silat yang telah mengabdikan dirinya untuk melestarikan budaya local ini berharap bisa mendapatkan bantuan pemerintah untuk melengkapi fasilitas penunjang kegiatan pencak silat ini, misalnya untuk membangun padepokan yang lebih layak, pemenuhan alat-alat penunjang seperti Gendang, terompet, atau untuk melengkapi senjata-senjata untuk berlatih. Ia pun Berharap kesenian olahraga ini bisa terus menggeliat dan berprestasi di masa depan

 

 

No Comments

Ngaben Domba di Cisoka (KKNM 2012)

Matahari pagi menyambut kedatangan kami di RW 02 Desa Sukamaju pada Hari Minggu yang cerah 8 Januari lalu. Hamparan sawah yang menghijau ditambah udara yang bersih membuat perjalanan kami yang cukup jauh dari Ciakar terasa tak berarti.  Semua lelah dan keringat terbayar sudah tergantikan oleh suasana Desa  nan Asri. Cisoka, itulah dusun yang kami kunjungi itu, Sebuah dusun nun jauh di atas bukit dengan segala pesona bentang sawah yang memanjankan mata dan pesona budaya yang sarat dengan kearifan lokal. Saat itu aku merasa seperti di kampung halamanku sendiri, sepandang mata memandang dikelilingi sawah yang saat itu baru ditamani. Para petani penuh semangat menanam Oriza sativa sambil bergerak mundur dalam lumpur dan sayup-sayup menyapa kami dari pematang sawah.

Cisoka merupakan nama sebuah Dusun yang sejak dulu terkenal karena kekhasan budaya dan istiadat yang masih terasa kental hingga sekarang. Selain Jentreng atau tarawangsa, ternyata kami pada hari baru mengetahui bahwa Disoka pun sering diadakan pertunjukan budaya lain, yaitu :” Ngaben Domba” . Ngaben domba merupakan acara hiburan masyarakat yang mempertandingkan domba-domba adu. Domba-domba yang telah dihiasi secantik mungkin itu diadukan oleh pemiliknya dengan tujuan untuk mengetahui domba mana yang paling tangguh

 

Kegiatan ini sangat diminati, sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi warga. Tidak hanya itu ajang ini juga menjadi ajang untuk mempertahankan kebudayaan local lainnya seperti Degungan dan Gamelan. Karena kegiatan yang dilakukan setiap bulan ini selalu diiringi oleh berbagai pertunjukan kesenian lokal, seperti gamelan dan jaipongan

 

No Comments

Uniknya Jentreng! (KKNM 2012)

Kesenian Tarawangsa, atau yang biasa disebut Jentreng oleh warga setempat adalah kesenian yang telah menjadi ciri khas daerah Rancakalong, bahkan di Kantor Kecamatan Rancakalong pun terdapat patung relief monumen kecil yang menggambarkan kesenian ini. komponen dari Jentreng ini hanyalah dua jenis alat musik kecapi dan Rebab dan juga diiringi oleh  tari-tarian. Namun, yang menjadi keunikan dari kesenian ini adalah sentuhan unsur mistis yang telah terasimilasi dengan budaya Islam. Contoh paling nyata dari asimilasi ini adalah penampilan Tarawangsa pada upacara Ngalaksa yang dilakukan pada setiap tanggal 10 Muharram. Biasanya penampilan Tarawangsa menghabiskan waktu “Sapoe jedur – Sapeuting Jedor” atau sekitar satu malam penuh dengan menampilkan sekitar 20 lagu. Namun saat kami mengunjungi Bapak Aat yang merupakan salah satu seniman dan tokoh masyarakat di bidang Seni di Dusun Cisoka, beliau hanya memainkan sekitar empat lagu untuk menghilangkan rasa penasaran kami terhadap kesenian ini. Walaupun kami belum berkesempatan untuk menyaksikan penampilan kesenian Tarawangsa yang sesungguhnya, paling tidak melalui kunjungan sederhana ke rumah Bapak Aat ini kami bisa menyaksikan unsur musik yang merupakan komponen utama dari kesenian Tarawangsa dan menambah pengetahuan kami tentang kebudayaan lokal di daerah Desa Sukamaju.

No Comments

Umbul-umbul Penyambut Bupati Sumedang

Seribu satu cara dalam menghormati petinggi yang datang ke sebuah acara pada satu desa. Hal ini dicontohkan dengan Pemasangan umbul-umbul pada hari sabtu, 2 Juli 2011 untuk menyambut tamu undangan dalam acara upacara adat tahunan “Ngalangsa”  di kecamatan Rancakalong . Undangan yang dihadiri meliputi bupati dan  aparat pemerintah Kabupaten Sumedang. Umbul-umbul dipasang disepanjang jalan utama yang dilalui tamu undangan. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kampung Panyindangan, desa Sukamaju ikut berpartisipasi dalam memperingati serangkaian acara upacara adat tahunan “Ngalangsa”. Read the rest of this entry »

, ,

No Comments

Ngalaksa, Kesenian Tradisional dari Kecamatan Rancakalong

Seperti telah kita ketahui, daerah Jawa Barat merupakan suatu daerah yang terdapat di Pulau Jawa yang memiliki berbagai macam kesenian tradisional yang sangat menarik. Ngalaksa itu sendiri adalah kesenian tradisional yang sudah dilakukan secara turun-temurun dan telah menjadi ajang tahunan di daerah Rancakalong Kabupaten Sumedang. Pada awalnya, Ngalaksa hanya dilakukan sebagai simbol ucapan terima kasih para petani akan rezeki yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa berupa hasil pertanian. Namun masyarakat Rancakalong mempercayai bahwa hasil pertanian yang mereka dapatkan adalah pemberian dari Dewi Sri, yaitu Dewi Padi atau Dewi Pertanian. Read the rest of this entry »

, , , , ,

No Comments

“Jentreng”

Sebenarnya, nama asli dari Jentreng adalah Tarawangsa. Lalu, kenapa akhirnya disebut Jentreng? Konon katanya, karena musik di acara Tarawangsa ini terdengar seperti bunyi “treng.. treng.. treng..“. Maka Tarawangsa juga dapat disebut Jentreng.

Apa itu Jentreng? Jentreng adalah suatu adat istiadat  atau kebiasaan berupa tarian yang terdapat di masyarakat khususnya Desa Pasir Biru, umumnya Kecamatan Rancakalong yang diadakan setiap setahun sekali sebagai ucapan syukur atas hasil panen. Pada saat ini hal tersebut lebih dikesampingkan. Saat ini Jentreng tidak harus dilakukan tiap setahun sekali, tergantung orang yang mampu melaksanakannya namun tetap dalam rangka pengucapan syukur atas hasil panen. Yang terlintas sejenak dibenak kita apabila membayangkan seorang penari biasanya adalah gadis muda yang masih belia, hal itulah yang ada di benak kami sebelum kami melihat acara tersebut. Read the rest of this entry »

, ,

No Comments