Archive for the ‘Serba-Serbi desa Sirap’ Category

Ada hal menarik lainnya yang dapat ditemukan di desa Sirap selain dari yang telah kami ceritakan sebelumnya. Kali ini ada sebuah kegiatan yang kami simpulkan sebagai bisnis namun beralaskan tradisi di desa Sirap. Bentuk kegiatan ini adalah ‘adu domba’.

Adu domba di desa Sirap ini diadakan sebagai perwujudan kolaborasi antara kesenian, hiburan, bisnis, kompetisi, dan silaturahmi masyarakat

Ya, betul sekali kali ini istilah ‘adu domba’ bukan digunakan sebagai istilah politik, namun benar-benar sebuah kegiatan ‘mengadu hewan yaitu domba’. Pertama kali kami melihat kegiatan warga yang satu ini, hati kecil kami bertanya ‘apakah ini sebuah tradisi atau hanya hiburan warga saja?’, ‘namun mengapa disini rutin dilaksanakan tiap 2 minggu sekali?’ pertanyaan kami terjawab sesaat setelah kami berbincang-bincang dengan salah satu warga yang kami tanyai, kebetulan juga warga tersebut adalah peserta dari adu domba, tentunya domba peliharaannya lah yang diturutsertakan.

Kegiatan adu domba ini ternyata selain untuk hiburan, adalah sebagai kegiatan ajang ‘pamer’ domba unggulan. Nah ceritanya nih ternyata adanya kegiatan ini memang diadakan untuk mempertemukan para peternak domba, sekaligus bursa pembelian domba yang mungkin diantara para penonton disini salah satunya atau beberapa memang sama-sama peternak domba yang berminat membeli domba yang bagus. Domba-domba yang diadu ini bukan berarti ajang adu kuat saja, tetapi penampilan domba ini juga dinilai berdasarkan menarik tidaknya pola tanduk domba, dada, kaki, bulu, serta hal-hal unik lainnya yang dapat dipertunjukkan oleh domba yang diadu. Tentu saja penjurian kali ini yang diadakan di desa Sirap berasal dari kabupaten Tanjungsiang.

Suara iringan sinden dan tarian menambah suasana seru adu domba ini. Penonton juga diperbolehkan untuk ikut ‘nyawer’ dan ikut menari bersama penari yang diiringi suara kendang dan alunan musik tradisional.

Hal unik lainnya ternyata domba yang pada akhirnya sakit atau nyaris mati akibat adu domba ini oleh pemiliknya langsung dijual murah kepada pemilik usaha apakah itu usaha sate atau rumah makan lainnya yang kebetulan ada disitu.

Terakhir kenapa kami menyebutnya sebagai tradisi disini karena kegiatan ini melibatkan kesenian khas jawa barat lainnya seperti jaipong, ada rampak kendang, dll, dan disisipi bisnis diantara para pemilik domba ini. Jadi selain untuk hiburan, kegiatan ini juga memiliki simbiosis mutualisme antara pekerja seni, masyarakat biasa, usahawan, peternak domba, dan para wisatawan yang datang pada khususnya.

Seminggu sebelum peserta KKNM selesai seluruh warga desa Sirap, khusunya ibu-ibu PKK tengah mempersiapkan sebuah kegiatan yang melibatkan hampir seluruh warga Sirap termasuk kita yang sedang melaksanakan kegiatan KKN. Sebenarnya inisiatif kami untuk berpartisipasi dalam acara PKK tersebut adalah wujud peduli kami dan rasa solidaritas kami dalam rangka menjadi bagian dari masyarakat desa Sirap sendiri yang tidak hanya belajar bersama masyarakat tersebut, namun turut serta juga dalam membantu aktivitas warga Sirap, khusunya ibu-ibu PKK tersebut.

ibu-ibu PKK di Desa Sirap

Dalam rangka monitoring dan evaluasi pemerintah terkait,  PKK desa sirap menjadi perwakilan kecamatan tanjung siang. Kegiatan tersebut adalah (monitoring dan evaluasi PKK tingkat kecamatan berupa data dan kenyataan dilapangan, sehingga dalam memenuhi aspek monitoring dan evaluasi tersebut yang dilakukan PKK salah satunya yaitu membantu modal janda-janda untuk modal usaha sendiri, lalu terkait dengan hal posyandu, aspek yang dinilai sangat beragam.

seluruh anggota PKK Sirap yang turut serta dalam bagian melaksanakan evaluasi dan monitoring dari pemerintah kabupaten

Tugas PKK sirap yaitu merapikan data yg ada, termasuk dilapangan poin-poinnya yaitu tentang ibu dan anak, kebersihan desa, administrasi desa, peka (kegiatan memberikan dana kepada para janda agar hidup mandiri), diberi ketrampilan dan pelatihan –menjahit membuat karangan bunga, dan selain itu dalam bidang keberishan desa mesti ditingkatkan—blok kantor desa, makam, dll.

Beberapa anggota kkn membantu kegiatan PKK tersebut, diantaranya yaitu MC, mempersiapan kantor kepala desa, bersih-bersih lingkungan desa.

Hasil evaluasi PKK sirap lolos kualifikasi menuju tahap selanjutnya.

anggota KKN Sirap ambil bagian dalam kegiatan membantu ibu PKK dalam hal kebersihan lingkungan desa

 

anggota KKN turut pula dalam mempersiapkan acara monitoring pemerintah kabupaten yang akan hadir di desa Sirap

Setelah sekian lama beradaptasi di desa Sirap, satu per satu dari rombongan KKNM Unpad di Desa Sirap pun masing-masing melaksanakan kewajibannya. Mulai dari membuat agenda kegiatan harian, dan bersilaturahmi ke warga sekitar sekaligus jalan-jalan menikmati keadaan di desa. Ada hal yang sangat menarik yang menurut kami hal tersebut menjadikan ciri khas dari desa ini, yaitu adanya ‘Kolecer’.

Apakaha kolecer itu? sepintas dari kami saat pertama mendengarkan kata ‘kolecer’ sungguh asing, karena itu pertama kalinya kami diberitahu tentang adanya ‘benda yang menyerupai kincir angin’. Namun rasa penasaran kami hilang sesaat setelah kami melihat langsung ‘benda’ yang menjadi ciri khas desa Sirap ini. Untuk berbagi pengalaman saja, kami akan menjelaskan apakah ‘kolecer’ itu…

ini adalah bentuk kolecer yang kebetulan saat diambilnya gambar ini kolecer tersebut sedang 'tanpa baling-baling'

Kolecer, bentuknya tiang yang ujung atasnya terdapat baling-baling (mirip seperti kincir angin yang ada di luar negeri-yaitu Belanda), pada awalnya kolecer dibuat untuk menakuti burung yang pada perkembangannnya kolecer tersebut memiliki suara yang khas.. Kolecer terdiri dari beberapa bagian, seperti Tatanger. Tatanger itu sejenis tiang yang diikat dengan ikatan beberapa buah, (tiang terbuat dari bambu yang diikat yang tiap ikatannya terdiri dari beberapa bambu dengan ketinggian rata2 5-10 meter tergantung besar baling2 bambu yang dipakai. Biasanya bambu yang digunakan jenisnya ada beberapa, yaitu bambu bitung, bambu surat, dan untuk talinya itu memakai awi tali (tali khusus untu mengikat bambu) , bagian selanjutnya yang menempel yaitu sengked yang masih terbuat dari bamboo yang bentuknya seperti tangga berfungsinya sebagai tempat naik turun, kemudian bagian lain bernama ‘ebeg’ (sejenis ijuk yang disusun seperti bentuk sapu sehingga berbentuk segitiga siku2 yang fungsinya untuk mengarahkan kolecer menghadap sesuai arah angin, 3. solobong (sejenis bambu tempat ditancapkannya gagang kolecer dan layang2 kolecer), 4. barungbung (sejenis bamboo kecil / pada perkembangannya berbentuk kayu tengahnya bolong yang digunakan sebagai lubang pemutar….kolecer (baling-baling) bagian yang berputar terbuat dari bambu/kayu, pada prinsipnya pada kolecer yang panjang diatas 3 meter memakai bahan dari kayu, beberapa kayu yang digunakan untuk kolecer antar lain kayu jati, kayu tisuk, kayu kimau, kayu kitanah, dan kayu kiwelang, bagian terakhir langlayang (bagian ini terbuat dari bambu yang berbentuk panjang menancap pada gagang yang melalui solobong dan bentuk ini mirip kalajengking…fungsinya ini untuk penyeimbang…(menempelnya ebeg).

kolecer yang dipasang di sawah dago

Biasanya musim kolecer dipasang ketika saat musim angin barat dan biasanya desa ini ditempel di sawah kulon sampai ratusan  dan ketika musim kemarau dimana datang angin dari timur pemilik kolecer memasangnya di sawah dago. Kolecer dipasang di tengah sawah dan diarahkan sesuai datangnya arah angin. kolecer ini diperjualbelikan juga, namun intinya hanya untuk hiburan masyarakat desa saja.

kolecer ini tingginya bisa mencapai 5-10 meter