Blog KKNM UNPAD 2012 di Desa Cijambe, Paseh, Sumedang

Seni dan budaya

Budaya di Desa Cijambe tetap terjaga dan terlestarikan, meskipun ada beberapa budaya yang hampir ditinggalkan oleh penduduknya. Budaya tradisional ternyata masih sangat kental dalam kehidupan penduduk Desa Cijambe. Budaya Sunda merupakan budaya satu-satunya yang berada di dalam Desa Cijambe ini dengan konsensus yang tetap bertahan dan tidak terlalu dimodifikasi oleh penduduknya. Hal ini sangat memengaruhi bahasa yang paling dominan digunakan di desa ini, yaitu Bahasa Sunda.

Dalam bidang budaya, hal yang paling disorot adalah bidang seni, mengingat Desa Cijambe disebut sebagai gudang seni di Kecamatan Paseh. Hal ini dikarenakan banyaknya variasi seni unik yang bisa ditemukan di Desa Cijambe.

Seni yang ada di Desa Cijambe merupakan seni tradisional yang berasal dari budaya Sunda dan dikembangkan oleh penduduk Desa Cijambe tanpa mengubah nilai-nilai yang terkandung di dalam seni tersebut. Sebagai contoh, Seni Longser, Seni Doger, Seni Reog, Seni Umbul, Seni Pantun, dan Seni Calung. Namun Seni Longser, Seni Doger, dan Seni Reog telah hilang keberadaannya dikarenakan pelestarian dari seni-seni tersebut sangat kurang. Berikut ini akan dipaparkan seni-seni tradisional yang masih dikembangkan.

Seni Umbul merupakan seni tari yang ditampilkan khusus oleh perempuan. Seni ini secara murni memang bukan berasal dari Desa Cijambe, namun dikembangkan sendiri di Desa Cijambe pada tahun 1990-an oleh Bapak Dirmansyah setelah beredar isu bahwa Seni Umbul hilang keberadaannya di Desa Cijambe.

Seni Pantun adalah seni tradisional yang khusus ditampilkan oleh satu orang ahli pantun di daerah tersebut. Pantun sudah dimulai dari tahun 1940-an. Ahli pantun di Desa Cijambe adalah Bapak Arinta.

Seni Calung merupakan seni musik khas Sunda yang dikembangkan di Desa Cijambe. Calung merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul. Permainan musik calung di Desa Cijambe dikombinasikan dengan alunan pukulan gendang dan tiupan terompet. Mempelajari Seni Calung ini bukan merupakan hal yang mudah. Seni Calung dapat dimainkan oleh kalangan muda dan dewasa, tetapi kebanyakan Seni Calung dimainkan oleh kalangan dewasa di Desa Cijambe ini.

Di Desa Cijambe beberapa aktivitas dapat disebut sebagai budaya, diantaranya budaya bertani, budaya berumah tangga, budaya hukum, dan budaya keamanan. Dalam budaya bertani dideskripsikan lebih pada cara bercocok tanam di Desa Cijambe ini. Cara bercocok tanamnya masih tradisional yang digabungkan dengan cara bercocok tanam standar pemerintah. Dalam kehidupan/budaya berumah tangga dapat dijelaskan terdapat suatu konsensus yang telah dilaksanakan warga Desa Cijambe seperti tidak adanya nikah muda, nikah kontrak, dan nikah siri. Dalam konteks hukum, Desa Cijambe ini menetapkan konsensus yang berujung pada perilaku sadar hukum. Hal ini telah dilaksanakan oleh warga Desa Cijambe yang ditujukan untuk meminimalisasi adanya kejahatan yang mungkin terjadi. Dalam keamanan, ronda yang dilakukan setiap hari disebut juga sebagai budaya yang ditetapkan oleh desa ini.

PROGRAM KERJA BIDANG SENI DAN BUDAYA

Seni Pantun

Bapak Arinta.

Seni Pantun merupakan seni tradisional yang ditampilkan dengan memainkan sebuah kecapi dengan diiringi oleh syair dan nyanyian tentang legenda. Pantun hampir mirip dengan Wayang Golek namun tidak terdapat pelakon atau wayang di dalamnya, hanya sebuah cerita legenda bernarasi panjang yang dilantunkan dengan Bahasa Sunda. Untuk tempat pelaksanaan, pantun bisa dilaksanakan dimana saja, seperti di panggung atau di rumah. Cerita dalam pantun sendiri dapat sangat terasa jika didukung dengan lakon dan pakaian pencerita yang sesuai.

Seni Pantun memiliki dua faktor yang membuatnya khas, yakni bagaimana pencerita atau pelakon merupakan tuna netra, dan lama ceritanya yang bisa dimainkan sehari semalam tanpa henti. Di Desa Cijambe, Seni Pantun dimainkan oleh satu-satunya maestro Seni Pantun di Desa Cijambe yaitu Bapak Arinta.

Kami dibantu oleh Bapak Dirmansyah dalam menghubungi Bapak Arinta dalam mempersiapkan beberapa kebutuhan untuk prosesi Seni Pantun tersebut. Sebelum memulai kegiatannya kami harus menyiapkan beberapa sesajen yang terdiri dari bubur merah putih, pisang, kopi manis, kopi pahit, kelapa, jarajan pasar, dan lain-lain. Kami hanya menonton beberapa syair yang dilantunkan oleh sang maestro Seni Pantun dengan menggunakan kecapinya. Lantunan pembuka dan syair yang diucapkan dari mulut sang maestro sangat memukau di usianya yang renta. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Arinta melantunkan syair dan sedikit ceritanya sekitar satu setengah jam saja.

Sesajen dalam Seni Pantun.

Dimulai dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan YME dan dilanjutkan dengan pembukaan yang berasal dari petikan kecapi. Setelah itu, dilantunkanlah beberapa syair yang merupakan cerita legenda yang berasal dari Sunda, yaitu Prabu Ratu Galuh yang menugaskan Paman Lengser untuk melihat segala keadaan dari berbagai aspek yang ada di dalam masyarakat. Keadaan yang paling diperhatikan dalam hal ini adalah kehidupan perekonomian dan keamanan. Prabu Ratu Galuh menugaskan Paman Lengser untuk memastikan masyarakat (negara) tersebut subur makmur, gemah ripah, lohjinawi, teu kurang sandang, teu kurang pangan. Berikut ini adalah potongan dari beberapa baris syair yang dilantunkan sang maestro pantun:

Dandan dandan dandan
Paman Lengser dandan
Baju tujuh dipake kabeh 
Dijubang dijabing dibaju kukulitmuning
Kangaro brendel sawidak lima…
…Leumpang ti peuting lain rek maling,
Lain rek neangan seseula pingping…

Setelah melihat beberapa prosesi dari Seni Pantun sendiri, dapat disimpulkan bahwa Seni Pantun bukan seni yang mudah untuk dipelajari dan bukan sembarang orang bisa mempelajarinya. Diperlukan beberapa keahlian dimulai dari penggunaan Bahasa Sunda yang lancar, hafalan cerita, mimik pencerita, kemampuan memetik kecapi dan lain-lain. Selain keahlian, hal penting lainnya adalah bagaimana orang tersebut memiliki niat untuk mempelajari seni ini dan segala konsekuensi yang nantinya dia dapat.

Seni Umbul

Seni Umbul merupakan seni tari yang ditampilkan khusus oleh perempuan. Seni ini secara murni memang bukan berasal dari Desa Cijambe, namun dikembangkan sendiri oleh desa ini pada tahun 1990-an oleh Bapak Dirmansyah setelah isu bahwa Seni Umbul hilang keberadaannya di daerah ini.

Seni Umbul dari Cijambe berbeda dengan Seni Umbul yang ada sejak dahulu. Hal yang membedakannya adalah pada letak gerakannya yang lebih sopan dan mengedepankan gerakan tari pada tangan dan pola langkahnya. Seni Umbul yang dibawakan oleh Desa Cijambe pernah mendapatkan prestasi ketika ditampilkan, dan merupakan seni yang sangat dilestarikan oleh pemerintah Jawa Barat sebagai seni lokal.

Mempelajari Seni Umbul dapat dilaksanakan melalui dua tahap, tahap pertama adalah mempelajari gerakan tarinya tanpa diiringi lagu dan tahap kedua dengan diiringi lagu. Mempelajari Seni Umbul bukan merupakan hal yang sulit, namun harus dengan keterampilan dan bakat seni yang terdapat pada penarinya. Jika tidak terdapat bakat, diprediksikan gerakan umbul ini tidak akan terlihat maksimal. Dalam melaksanakan Seni Umbul ini, tarian biasanya diiringi dengan pukulan gendang sebagai pengatur tempo serta suling dan sinden.

Dalam pelaksanaan program mempelajari Seni Umbul, kami dibantu oleh Pak Dirmansyah. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai desa. Kami belajar Seni Umbul bersama anak-anak dan ternyata anak-anak sudah mengetahui gerakan Seni Umbul tersebut. Gerakan Seni Umbul ini diwariskan dari sesepuh Desa Cijambe kepada Pak Dirmansyah, kemudian Pak Dirmansyah membagi ilmu tari tersebut kepada orang dewasa. Anak-anak belajar gerakan Seni Umbul tersebut di Sekolah Dasar masing-masing. Kami pun menari bersama anak-anak dengan bimbingan Pak Dirmansyah. Lama waktu tarian yang kami lakukan adalah 15 menit. Setelah mengamati gerakan umbul, ternyata ada empat gerakan utama di tarian tersebut. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 16.00-17.00 WIB. Mempelajari Seni Umbul ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.

Anak-anak SD menari umbul bersama Pak Dirmansyah.

Gerakan lain Tari Umbul.

Tags: , , ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.