Tanaman pangan ( padi ) yang menjadi komoditas utama di Cibitung

 Di daerah Cibitung rata-rata mata pencaharian utama mereka adalah sebagai petani.Permasalahan  pertanian yang muncul pada saat ini adalah adanya penyakit “hama bereum” atau tungro.

Disini juga info tentang pertanian sudah lumayan cukup up date karena PPL yang ada di desa ini sering memantau. Sekolah lapangan pun rutin diadakan oleh PPL yang mungkin sangat berguna bagi para petani. Karena disitu para petani bisa mendapat banyak informasi yang mungkin belum mereka ketahui dan selalu diadakan juga sharing data (mensinkronkan antara teori dan praktek ).

Disini saya juga mengangkat tentang hama bereum atau sering juga disebut tungro. Tungro adalah penyakit virus pada padi yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Penyakit ini pun dikendalikan dengan cara disemprot dengan pestisida.

Pembahasan

Permasalahan

Masalah utama yang di hadapi sebagian petani pada musim ini terserang penyakit “hama bereum”/ tungro

  • Tungro adalah penyakit virus pada padi yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai kuning-oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi. Dua spesies wereng hijau Nephotettix malayanus dan N.virescens adalah serangga yang menyebarkan (vektor) virus tungro.
  • Gejala : Kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-  bercak berwarna coklat. Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian pangkal. Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa. Infeksi virus tungro juga menurunkan jumlah malai perrumpun, malai pendek sehingga jumlah gabah per malai rendah.
  • Penyebab “hama beureum”

–          RTBV (Rice Tungro Baciliform Virus)  ukuran (150 – 350) x 35 nano meter.

–          RTSV (Rice Tungro Spherical Virus)  diameter antara 30 – 33 nm.

–          wereng hijau (Nephotettix spp.)  atau wereng loreng (Recilia dorsalis)

  • penyebaran dan penularan hama bereum

Rentang efisiensi penularan virus oleh populasi N. virescens antara 35-83%, N. nigropictus antara 0-27%. Spesies wereng hijau lainnya seperti N. malayanus dan N. parvus memiliki kemampuan menularkan virus berturut-turut 40% dan 7%

Potensi

Tanaman padi yang ada di sini menjadi sumber komoditas utama yang ada di desa Cibitung dan mata pencaharian sebagai petani pun menjadi pekerjaan utama sebagian masyarakat Cibitung Pemberian contoh tentang cara pemakaiannya obat dekomposer tersebut

Rekomendasi

Supaya mendapatkan hasil yang maksimal, maka penyakit ini harus dikendalikan dengan konsep PHTP ( Pengendalian Hama dan Peyakit Terpadu)

  • Varietas tahan

Penggunaan varietas tahan seperti Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Bondoyudo, dan Kalimas merupakan cara terbaik untuk mengendalikan tungro. Rotasi varietas penting untuk mengurangi gangguan ketahanan.

  • Pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi

Hal ini dilakukan untuk mengurangi sumber penyakit dan menghancurkan telur dan tempat penetasan wereng hijau. Bajak segera setelah panen bila tanaman sebelumnya terkena penyakit.

  • Cabut dan bakar tanaman yang sakit

Ini perlu dilakukan kecuali bila serangan tungro sudah menyeluruh. Bila serangan sudah tinggi maka mungkin ada tanaman yang terinfeksi tungro tapi kelihatan sehat. Mencabut tanaman yang terinfeksi dapat mengganggu wereng hijau sehingga makin menyebarluaskan infeksi tungro.

  • Tanam benih langsung (Tabela)

Infeksi tungro biasanya lebih rendah pada tabela karena lebih tingginya populasi tanaman (bila dibandingkan tanam pindah). Dengan demikian wereng cenderung mencari dan makan serta menyerang tanaman yang lebih rendah populasinya.

  • Waktu Tanam

Tanam padi saat populasi wereng hijau dan tungro rendah.

  • Tanam serempak

Upayakan petani tanam serempak. Ini mengurangi penyebaran tungro dari satu lahan ke lahan lainnya karena stadium tumbuh yang relatif seragam.

  • Bera atau rotasi

Pertanaman padi terus-menerus akan meningkatkan populasi wereng hijau sehingga sulit mencegah infeksi tungro. Adanya periode bera atau tanaman lain selain padi dapat mengurangi populasi wereng hijau dan ketersediaan inang untuk virus tungro.

  • Hindari penanaman varietas rentan di daerah endemik tungro.
  • Setelah panen, segera benamkan jerami dan sisa-sisa tanaman dari yang terinfesi tungro dengan bajak dan garu
  • Mengatur waktu tanam serempak minimal 20 ha luasan sawah
  • Menanam bibit pada saat yang tepat, yaitu dengan menanam bibit sebulan  sebelum puncak kepadatan wereng hijau tercapai
  •  Menanam dengan cara jajar legowo

Sawah jangan dikeringkan, biarkan kondisi air pada kapasitas lapang agar wereng hijau tidak aktif berpencar menyebarkan virus.

Pilihan Pengelolaan Tungro

  • Tanam varietas tahan, seperti Kalimas, Bondoyudo, Tukad Petanu, terutama bila tanam dilakukan terlambat dari petani sekitarnya.
  • Hindari penanaman varietas rentan di daerah endemik tungro.
  • Setelah panen, segera benamkan jerami dan sisa-sisa tanaman dari yang terinfesi tungro dengan bajak dan garu.

Pengendalian juga perlu dilakukan untuk wereng hijau dengan menggunakan insektisida yang berbahan aktif BPMC, buprofezin, etofenproks, imidakloprid, karbofuran, MIPC, atau tiametoksam.

Hasil kegiatan pemetaan sosial_Nur Maullidiah A_150510090063_Fakultas Pertanian


Leave a Reply