ULEN

Ulen (umumnya) adalah perkedel kentang,dan cieuh (pisang yang di tumbuk dan di campur dengan tepungkemudian di kukus)

Produk
(Pengolahannya) :

  1. Perebusan beras ketan

2. Penumbukan beras ketan

3. Pemberian minyak goreng pada cetakan ulen

4.  pengepresan, pengeringan dan pencetakan ulen

5.  Penggorengan Ulen

Pemasaran

Pemasaran ulen umumnya di dagangkan keliling desa,atau bisa datang langsung ke rumah Ibu Icih untuk memesannya  dan juga di sebarkan melalui perantara Ibu Icih.

Permasalahan

Sering mengalami kerugian jika dagangan tidak habis

Dokumentasi PKM

Pelatihan Manajemen Usaha dan Penerapan Sistem Informasi Pemasaran Usaha Kecil Menengah Pada Usaha Pengolahan Pangan di Desa Cibeusi.

LAMPIRAN

Data Pengusaha/Produsen Panganan di Desa Cibeusi Kecamatan Ciater

Kabupaten Subang

No. Nama Alamat Jenis Usaha Lama Usaha Omzet Usaha / Bulan
1. Ibu Tusih RW 2 / RT 9 Penadah dan Supplier 40 Tahun Rp 3.600.000,-
2. Ibu Ruhab RW 2 / RT 9 Produsen Gula Aren 20 Tahun Rp 750.000,-
3. Ibu Erum RW 2 / RT 6 Produsen Dapros 19 Tahun Rp 200.000,-
4. Ibu Neryati RW 2 / RT 7 Penggiling padi / beras 4 Tahun Rp 1.500.000,-
5. Ibu Sumnah RW / RT 7 Produsen Ulen 2 Tahun Rp 600.000,-
6. Ibu Unah RW / RT 7 Produsen Papais, Dapros, Garamang, Rengginan,dan Opak - Rp 200.000,-
7. Ibu Mimin RW 7 / RT 3 Pengusaha Dapros, Raginning, dan Garamang
8. Pak Herman RW 7 / RT 3 Produsen Keripik Ubi Ungu
9. Ibu Icih RW / RT Produsen Papais Manis Rp 450.000,-
10. Pak Ade dan  Ibu Neni RW 1 / RT 3 Penjual Bakso Rp 2.000.000,-
11. Ibu Mimin RW / RT Produsen Garamang dan Ranggining 2 Tahun

SIMPULAN

1.1 Simpulan

1.      Warga masyarakat di Desa Cibeusi sadar akan pentingnya perhatian pembenahan manajemen usaha pengolahan pangan, namun ada beberapa warga masyarakat yang kurang memperhatikan pentingnya pembenahan manajemen usaha pengolahan pangan.

2.      Kurangnya pengetahuan tentang pengolahan pangan masih menjadi kendala yang dihadapi masyarakat Desa Cibeusi. Namun dengan adanya penyuluhan tentang manajemen usaha pengolahan pangan, warga masyarakat Desa Cibeusi dapat meningkatkan pengetahuannya mengenai hal tersebut.

3.      Warga masyarakat Desa Cibeusi dapat meningkatkan keterampilan mengenai pengolahan pangan dan mulai menjalin jejaring mitra kerjasama antar warga masyarakat

4.      Dalam melakukan pengolahan produk pangan, warga Desa Cibeusi sudah memanfaatkan multi-komoditas perkebunan  rakyat yang dihasilkan menjadi produk yang berharga dan digemari yang dikelola oleh manajemen usaha yang baik.

5.      Produk olahan bahan pangan Desa Cibeusi belum dapat membantu aparat daerah untuk meningkatkan pendapatan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

1.2 Saran

1.      Manajemen produksi dan pemasaran mengenai bahan pangan di Desa Cibeusi perlu ditingkatkan lagi seperti UKM atau industri rumah tangga.

2.      Warga masyrakat yang memproduksi bahan pangan serta memasarkan produknya harus lebih meningkatkan pengetahuan tentang cara mengolah bahan pangan yang baik serta strategi memasarkan produk yang laku dipasaran.

3.      Warga Masyarakat Desa Cibeusi diharapkan dapat lebih memperhatikan kebersihan/higienitas pengolahan serta keamanan dalam pemilihan bahan baku panganan yang akan diolah.

4.      Diharapkan warga Desa Cibeusi lebih berani dalam memasarkan produk panganannya. Tidak hanya disekitar Desa Cibeusi dan objek wisata terdekat, namun lebih luas ke daerah lain yang dampaknya juga dapat meningkatkan omzet mereka.

5.      Para pengolah produk pangan diharapkan lebih kreatif dalam mengemas panganannya sehingga lebih menarik perhatian konsumen dan berbeda dari panganan sejenis lainnya.

6.      Para pengolah produk pangan di Desa Cibeusi diharapkan dapat lebih berani dalam menginvestasikan modalnya agar dapat lebih memajukan usaha yang dijalankannya. Mengubah mindset ekonominya yaitu modal sekecil-kecilnya untung sebesar-besarnya. Karena dizaman sekarang besarnya keberanian kita dalam berinvestasi akan berpengaruh pada keuntungan yang akan didapatkan.

7.      Yang terakhir, diharapkan warga Desa Cibeusi menyadari pentingnya bekerja sama dan gotong royong dalam meningkatkan kesejahteraan desa. Sudah saatnya Desa Cibeusi bangun bersama untuk membangun desa. Tinggalkan sikap individualisme dalam memajukan usahanya sendiri.

EVALUASI KEGIATAN PKM

Kegiatan penyuluhan tentang pengolahan pangan yang baik serta pemasarannya ternyata mendapat respon positif dari para pesertanya. Hal ini dapat diukur jika kita menggunakan Taksonomi Bloom dalam analisisnya.

Pada tahap kognitifnya, bagian ini dapat dilihat pada saat penyuluhan berlansung. Para secara aktif berinteraksi dengan pemateri dan menanyakan hal-hal yang mereka tidak ketahui kepada pemateri. Misalnya peserta penyuluhan menanyakan tentang bagaimana mengolah singkong menjadi kripik yang renyah dan gurih. Ternyata masyarakat Cibeusi keliru dalam mengolah kripik singkong sehingga tidak menghasilkan kripik singkong yang renyah. Setelah diberi tahu bagaimana mengolah kripik singkong yang benar maka para peserta pun berusaha untuk memahami dan menganalisis informasi yang didapatkan dan mengevaluasi kembali dengan cara membandingkan antara informasi baru tentang pengolahan kripik singkong yang didapatkan dengan cara mengolah kripik singkong yang biasa mereka kerjakan.

Hal lainnya yang menandakan kemajuan kognitif peserta dalam pengolahan pangan antara lain para peserta yang tadinya tidak tahu bagaimana mengolah makanan yang higienis sekarang sudah mulai sadar akan hal tersebut. Peserta yang tadinya berfikir individualis sekarang sudah mulai sadar tentang pentingnya bergotong-royong untuk bersama memajukan Desa Cibeusi. Dan berbagai pengetahuan dan informasi yang disampaikan pemateri ditanggapi secara positif dalam perubahan kognitif peserta penyulihan.

Selain secara kognitif, kegiatan penyuluhan juga dapat mencapai perubahan afektif para pesertanya untuk mau melakukan perubahan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Cibeusi itu sendiri. Hal ini dilihat dari respon gerak cepat dan aktif para ibu-ibu peserta penyuluhan untuk melakukan kegiatan mengolah kripik singkong dan lainnya secara bersama-sama yang mulai dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 7 Februari 2011. Ibu-ibu Desa Cibeusi menilai bahwa perubahan pola kerja untuk maju bersama harus segera diubah dari bekerja sendiri-sendiri di rumah menjadi pola kerja gotong-royong bersama-sama dalam mengerjakan produksi olahan pangan yang diharapkan berhasil nantinya.

Dengan diorganisasikan oleh Ibu Icih serta bantuan dari para peserta Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Universitas Padjadjaran maka kegiatan pengolahan keripik singkong pun mulai dilaksanakan tanggal 7 Februari 2011 kemarin. Peserta KKNM ikut serta membantu ibu-ibu untuk mengolah singkong menjadi keripik singkong, saling berbagi informasi, dan juga menyumbangkan ide label untuk keripik singkong buatan ibu-ibu tersebut.

Pada tahapan psikomotorik, ibu-ibu yang juga peserta penyuluhan ternyata sanggup melakukan gerakan yang terbimbing hasil analisis informasi terbaru dalam pengolahan kripik singkong oleh ibu-ibu tersebut. Walaupun sudah mulai bergerak sesuai panduan, namun gerakan yang direkomendasikan panduan tersebut masih belum terbiasa oleh mereka. Contohnya saja, prosedur waktu merendam singkong sebelum dimasak adalah 3 jam. Namun pada akhirnya para ibu hanya merendam singkongnya selama 1 jam alih-alih karena terlalu lama, masih ingin mengerjakan hal lain, dan ingin cepat-cepat selesai. Saat ditanyakan bagaimana prediksi pemasaran yang akan dilakukan selanjutnya, para ibu masih takut untuk memasarkan produknya secara luas.

Secara keseluruhan penyuluhan tentang pengolahan pangan dan pemasaran yang baik telah berhasil menimbulkan perubahan ke arah yang positif pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Desa Cibeusi.

Kegiatan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat)

1.1 Judul

Pelatihan Manajemen Usaha dan Penerapan Sistem Informasi Pemasaran Usaha Kecil Menengah Pada Usaha Pengolahan Pangan di Desa Cibeusi.

1.2 Lokasi dan Kelompok Sasaran

Khalayak sasaran ini adalah UKM dan pengrajin olahan pangan, ibu-ibu PKK, serta aktivis Karang Taruna di Desa Cibeusi.

1.3 Bidang Kegiatan Program/ Tema Kegiatan Program KKNM – PPMD Integratif

Peningkatan Pendapatan dan Pendidikan

1.4 Hasil yang Diharapkan

Manfaat kegiatan pelatihan ini meliputi tiga subyek yang berbeda :

1.      Dipandang dari segi sasarannya adalah meningkatkan pengetahuan dan Pendidikan   .

2.      Dipandang dari segi aparat kabupaten sendiri adalah membantu salah satu program aparat untuk memajukan masyarakat.

3.      Dipandang dari UNPAD sendiri adalah mengaplikasikan hasil penelitian ke masyarakat.

3.5 Waktu Kegiatan

Hari : Kamis

Tanggal : 27 Januari 2011

Pukul : 15.00-selesai

Tempat : Balai Desa Cibeusi Kecamatan Ciater Kabupaten Subang.

3.6 Susunan Kepanitiaan

Ketua Pelaksana : Aryo Genta

Wakil Ketua Pelaksana : M. Rezky Samsulhuda

Sekretaris : Paula Monica

Acara : Amyrah Zandra Dhiya

Indah Anggraini

Rizka Addina Kusumadewi

Humas : Fajar Arief Nugraha

Endi Berniyandi

Rendi Herdiansyah

Logistik : Masri Alanwari

Fouad Ahmad Ghafur

Retania Intan Nehemiah

Nita Febriyani

Vidya Aditiani Kurnia

Pubdok : Asa Gumilar

Feby Emani

Prita Karina

Wulan Sri Sopiathi

Sondang Devita Maria

Konsumsi : Fikri Alfian

Fajri Filardi

Deny Sudarno

Iriani P. Situmorang

3.7 Job Description Tiap Divisi

Ketua Pelaksana

-          Mengkoordinasikan setiap divisi agar dapat menjalankan job descriptionnya masing-masing

Wakil Ketua Pelaksana

-          Mengkoordinasikan setiap divisi agar dapat menjalankan job descriptionnya masing-masing

Sekretaris

-          Sebagai evaluator kegiatan penyuluhan

Acara

-          Membuat susunan acara penyuluhan mengenai pengolahan produk pangan yang baik serta pemasarannya

-          Membawakan susunan acara yang telah dibuat dari awal hingga akhir acara dilaksanakan

Humas

-          Mengundang warga masyarakat Desa Cibeusi berdasarkan kelompok sasaran

-          Mendapatkan izin dari aparat desa mengenai pengadaan acara dan peminjaman tempat untuk pelaksanakan acara yang bertempat dibalai desa

Logistik

-          Mempersiapkan segala keperluan logistik yang diperlukan demi kelancaran pelaksanaan acara

Pubdok

-          Mempublikasikan waktu dan tempat mengenai kegiatan penyuluhan kepada warga masyarakat Desa Cibeusi

-          Mendokumentasikan jalannya acara penyuluhan dari awal hingga akhir

Konsumsi

-          Membagikan konsumsi kepada warga masyarakat yang hadir dalam pelaksanaan acara penyuluhan

3.8 Susunan Acara (Setelah Disesuaikan)

No. Waktu Durasi Acara Standby In Charge
1. 15.45-15.46 1’ Pembukaan Oleh MC Fouad Acara, MC, Pubdok
2. 15.46-15.48 2’ Saritilawah dan Doa Aryo Genta (Ketua Pelaksana) Operator IT
3. 15.38-15.50 2’ Sambutan Ketua Pelaksana MC Aryo Genta, Acara, Pubdok
4. 15.50-15.51 1’ Perkenalan pembicara oleh moderator Konsumsi, Logistik, Moderator Moderator, Pembicara, Pubdok, Logistik, Operator IT, Acara
5. 15.51-17.00 69’ Acara Inti (materi+tanya jawab) Logistik Pembicara, Moderator, Pubdok, Operator IT, Konsumsi, Acara
6. 17.00-17.05 5’ Simpulan dari Moderator dan MC + Penutup Semua Divisi MC, Moderator, Pubdok, Acara

3.7 Materi Penyuluhan

Isi presentasi penyuluhan yang disampaikan Bapak Dwi Purnomo dan tim selaku pemateri berisi tentang bagaimanakah desain produk, pemasaran, dan kewirausahaan yang baik. Dengan bantuan power point untuk presentasi penyuluhan, presentasi menjadi menarik karena disertai berbagai gambar contoh produk panganan UKM dari negeri jiran yang sukses di bidang bisnis makanan.

Penyuluhan diawali dengan mempresentasikan perbandingan antara produk hasil olahan pangan dari UKM asal Malaysia dengan produk hasil olahan pangan dari UKM asal Indonesia. Dari gambar contoh produk yang disajikan, sangat terlihat bahwa UKM di Malaysia telah mampu diberdayakan secara maksimal baik dari sumber daya manusia dan sumber daya alamnya untuk menghasilkan produk yang baik serta SDM yang dapat menghasilkan teknik pengemasan dan pemasaran yang kreatif.

Dari segi cita rasa produk panganannya, memang diakui bahwa produk pangan dari Indonesia masih menjuarai bidang tersebut. Namun, dari segi produksi, pengemasan, hingga pemasarannya, diakui pula bahwa Indonesia masih jauh ketinggalannya. Dari sini lah masyarakat Indonesia yang berkecimpung di usaha kecil menengah hasil dapat meningkatkan kualitas produknya secara maksimal sehingga dapat bersaing dengan produk yang berasal dari negeri tetangga.

Berikut adalah contoh perbandingan produk hasil UKM Malaysia dan Indonesia:
Indonesia                                            Malaysia

Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa produk rempeyek buatan UKM Malaysia sudah dikemas secara menarik dan modern. Jika kita melihat rempeyek buatan UKM Indonesia, pengemasannya hanya dibungkus plastic bening dan diberi label sederhana. Sehingga dapat diartikan bahwa rempeyek UKM Malaysia memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan rempeyek UKM Indonesia.
Indonesia                                Malaysia
Dari gambar produk tauco diatas, produk tauco asal Indonesia masih dikemas dengan kemasan botol dan label yang terkesan kurang menarik. Berbeda dengan produk tauco dari UKM Malaysia yang telah mengemas tauco dengan kemasan jar yang lebih efisien dalam penggunaannya. Selain itu, label yang digunakan UKM Malaysia lebih menarik karena didesain dan diberi warna yang mencolok sehingga dapat menarik perhatian konsumen.

Indonesia                                Malaysia

Produk pecel lele yang biasa diproduksi di Indonesia umumnya tidak dikemas dan dipasarkan di rumah makan biasa. Daya tahan simpannya pun tergolong sangat singkat karena biasanya masyarakat Indonesia langsung mengonsumsi pecel lele tersebut. Namun, hebatnya Malaysia dalam menyiasati kekurangan produk pecel lele yang dipasarkan di Indonesia dapat mereka kembangkan menjadi pecel lele dalam kemasan kaleng. Waw, Amazing! Dengan demikian daya tahan simpan produk pecel lele buatan UKM Malaysia dapat bertahan lebih lama daripada pecel lele buatan Indonesia. Hal ini juga dapat meningkatkan nilai pemasaran yang dimiliki produk dari UKM Malaysia.
Indonesia                                Malaysia

Berdasarkan gambar produk cuka di atas, produsen cuka Indonesia umumnya masih mengemas cuka dapur dengan kemasan botol plastic yang dimana limbah yang dihasilkan kemasan cuka tersebut tidak ramah lingkungan. Sedangkan cuka dapur yang diproduksi Malaysia dikemas dengan menggunakan kemasan yang dapat daur ulang. Selain itu, kemasan cuka di Indonesia umumnya masih banyak yang tidak menggunakan label sehingga sulit untuk dikenali apakah botol tersebut berisi cuka atau bukan.

Esensi dari pemasaran adalah memahami kebutuhan pelanggan dan membuat rencana pemasaran yang berisikan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut. Cara terbaik mengembangkan bisnis adalah memfokuskan diri pada pertumbuhan perusahaan.  Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan yang bergerak di bidang pangan, yaitu :

a)      Menarik lebih banyak pelanggan baru

b)      Menarik pelanggan untuk  membeli lebih banyak

c)      Menarik pelanggan untuk membeli produk yang lebih mahal (sehingga marginnya lebih besar)

d)     Menarik pelanggan untuk membeli produk yang lebih menguntungkan.

e)      Menarik pelanggan untuk membeli lebih sering

Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah dengan cara:

a)      Melakukan riset sederhana dan membuat rencana pemasaran

b)      Mengarahkan pengembangan produk untuk menarik pelanggan yang belum bergerak dalam usaha pangan

c)      Merumuskan harga yang kompetitif

d)     Membuat pesan dan materi  pemasaran berdasarkan solution marketing

Pemasaran usaha ini dengan perusahaan besar sangat jauh berbeda. Kesalahan terbesar dari pelaku usaha pangan adalah menggunakan strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan besar yang bermodal sangat besar untuk diterapkan di perusahaan kecil.

Usaha pangan memiliki keterbatasan budget untuk pemasaran kalaupun ada biasanya sangat terbatas. Oleh karena itu dituntut kreatifitas yang lebih yaitu dengan mencari cara memasarkan produk atau jasa yang tidak memerlukan biaya begitu besar atau berbiaya rendah. Berikut ini adalah beberapa cara disampaikan yang dapat dilakukan:

a.       Mengumpulkan supplier/ vendor dan minta konsumen  mengadakan co-op marketing. Yakinkan konsumen  bahwa perusahaan usaha pangan ini  akan berkembang dengan pesat jika konsumen  dapat membantu dalam pemasaran yang pada gilirannya akan menguntungkan supplier/ vendor. Misalnya, usaha pangan  ini  bisa mencantumkan logo perusahaan supplier usaha pangan dalam materi  (kaos, brosur, x-banner, dll) sehingga biaya akan ditanggung bersama atau semua dari supplier. Membuat proposal, mencantumkan rencana pemasaran  dan target penjualan usaha produk pangan ini  serta memprediksi quantitas pembelian bahan baku usaha pangan yang dibeli dari supplier/ vendor.

b.      Meminta referral kepada pelanggan usaha produk pangan ini  (existing). Pembuatan  suatu skema, misalnya, jika orang yang direferensikan oleh konsumen  membeli produk pangan yang dihasilkan , konsumen  akan mendapatkan insentif tertentu, sehingga konsumen  akan dengan senang hati memberikan referensi.

c.       Membuat produk yang unik supaya dapat sorotan media. Produk yang unik tersebut ditujukan hanya sebagai umpan untuk membuat calon pelanggan  penasaran datang ke tempat usaha produk pangan ini . Ketika konsumen  datang, juga tawarkan produk-produk lainnya atau produk sampingan yang dihasilkan.

d.      Mengundang orang supaya datang ke tempat usaha ini. Misalnya,dalam suatu acara atau hajatan besar,  turut serta dalam penjualan  tiketnya, usaha produk pangan  ini  akan dapat publisitas media gratis karena menjadi tempat penjualan tiket.  Nama atau tempat usaha usaha produk pangan akan dikenal di media dan orang akan datang ke tempat usaha  ini. Sambut konsumen  dan menawarkan produk pangan ini .

Setelah usaha produk pangan  ini melakukan kampanye pemasaran, langkah selanjutnya adalah menelusuri dari mana konsumen  mengetahui tempat usaha produk pangan tersebut. Informasi tersebut sangat penting untuk mengetahui mana program pemasaran yang efektif dan mana yang kurang efektif. Kemudian, langkah selanjutnya melakukan perubahan strategi berdasarkan hasil temuan tersebut.

Dalam segmen penyampaian materi dan tanya jawab, dibahas pula tentang bagaimana kondisi pengolahan dan pemasaran produk pangan dari Desa Cibeusi. Saat peserta penyuluhan mengeluh tentang mengapa gula aren yang diproduksi masyarakat Cibeusi tidak bisa bersaing dengan produk gula aren dari daerah lain. Dan berbagai keluhan yang disampaikan masyarakat Cibeusi yang umumnya kurang berhasil dalam mengolah produk panganan.

Setelah digali secara mendalam didapatkan bahwa masyarakat Desa Cibeusi kurang higienis dalam proses produksi panganan mereka. Diakui memang masyarakat Desa Cibeusi kurang pengetahuannya tentang bagaimana proses produksi pangan yang higienis. Sehingga berakibat pada pendeknya daya tahan simpan produk panganan yang mereka produksi.

Selain itu, pemateri juga memberikan usulan kepada para peserta penyuluhan jika mereka ingin meningkatkan nilai jual produk panganannya, maka mereka harus kreatif dalam mengemas produk pangan yang akan dijual agar berbeda dan dapat bersaing dengan produk sejenis dari produsen lain. Selain itu, usulan lain yang dikemukakan pemateri adalah memberikan label pada produk pangan yang diproduksi karena label berguna sebagai ciri khas produk untuk menarik perhatian konsumen dan sebagai pembangun jati diri produk pangan tersebut sehingga berbeda dengan produk pesaingnya.

Sebuah produk tidak hanya semata-mata hanya memiliki cirri khas produknya saja, namun juga harus terkonsepkan secara matang. Contohnya seperti warung makan Ibu Imas yang menggunakan konsep makan masyarakat sunda asli, dimana masyarakat sunda beranggapan bahwa berkumpul bersama-sama adalah hal paling penting, terutama saat kita sedang menyantap makanan. Konsep ini diwujudkan dalam bentuk meja makan yang saling sambung-menyambung seperti ular (oorayan).

Untuk mewujudkan Desa Cibeusi yang maju dan mandiri, maka sudah seharusnya masyarakat Desa Cibeusi bersama-sama bergotong-royong mensejahterakan diri mereka sendiri. Jangan hanya berfikir untuk berusaha sendiri-sendiri. Namun, jika dikerjakan bersama-sama akan lebih mudah dan dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Dengan membangun koperasi simpan-pinjam Desa Cibeusi maka akan membantu masyarakat dalam pemodalan usaha yang akan dijalankan.

2.2.3 Analisis Produk

Produk – produk pangan yang dihasilkan di daerah Cibeusi cukup variatif. Dari makanan ringan sampai makanan berat dihasilkan dengan jenis – jenis yang bermacam–macam pula. Makanan ringan lebih banyak diproduksi dibandingkan makanan berat. Makanan ringan dari kue basah hingga kue kering di produksi oleh warga cibeusi.

Kebanyakan proses pengolahan yang dilakukan untuk membuat menjadi suatu makanan sangat sederhana dengan meminimalisir modal yang dibutuhkan. Dari alat-alat yang digunakan dapat dibilang masih tradisional dan bahan pangan yang digunakan kebanyakan diambil dari ladang petani.  Dari identifikasi yang telah dilakukan, dapat dianalisis bahwa mutu dan kualitas pangan yang diproduksi kurang baik. Hal tersebut dapat dikarenakan kurangnya perhatian tentang higienitas dan kebersihan dari alat-alat maupun bahan pangan yang digunakan pada saat proses pengolahan dan pengemasan. Akan tetapi ada juga produsen yang memperhatikan hiegenitas dan kebersihan dari produk yang dihasilkannya.  Karena untuk dapat memasarkan produk yang baik dan memperhatikan kepuasan konsumen, produsen harus tetap menjaga mutu dan kualitas suatu produk tersebut.

Ada beberapa produk makanan yang dihasilkan memiliki masa kadaluarsa yang cukup singkat seperti pangan yang berjenis basah. Hal tersebut juga merupakan permasalahan dari segi produk-produk yang dihasilkan. Untuk dapat menghasilkan produk yang lebih baik dan memiliki masa kadaluarsa yang lebih panjang harusnya didukung penuh dengan pengetahuan pendidikan mengenai pengolahan pangan  tersebut. Ini merupakan masalah yang perlu diperhatikan  warga masyarakat Desa Cibeusi dalam memajukan produk pangan yang dihasilkannya.

2.2.2 Analisis Pemasaran

Secara keseluruhan, masyarakat Desa Cibeusi yang melakukan usaha pangan melakukan pemasarannya sendiri. Rata-rata mereka membawa barang dagangannya atau membuka warung makanan di tempat-tempat objek wisata seperti Sari Ater, Ciater, atau Tangkuban Parahu. Jangkauan pemasarannya pun tergolong tidak luas, hanya sekedar di daerah Desa Cibeusi dan objek wisata di dekat Desa Cibeusi. Jikapun luas, itupun hanya beberapa orang yang melakukan pemasarannya seperti mengirimkan bahan-bahan pangan hingga kepasar cibitung didaerah Bekasi.

Warga masyarakat kurang kreatif dalam memasarkan produknya kepasaran. Hal tersebut dapat dilihat dari kemasan produk yang dihasilkan. Kemasan yang digunakan sangatlah sederhana dan kurang menjual dipasaran. Di tambah lagi tidak adanya label produk pada produk dagangannya yang memungkinkan produk tersebut sulit untuk diingat konsumen. Mungkin hal ini dikarenakan kurangnya pendidikan masyarakat dalam cara memasarkan suatu produk yang dapat menarik konsumen untuk membeli produk-produk pangan tersebut. Selain itu dari segi marketing, para produsen tidak dapat melihat peluang dalam memasarkan produknya lebih luas. Hal-hal tersebut merupakan suatu permasalahan yang perlu diperhatikan warga masyarakat Desa Cibeusi apabila suatu produknya ingin lebih menjual dalam pasaran.

2.2.1 Analisis Masalah

Setelah melakukan identifikasi mengenai pengolahan bahan pangan serta pemasarannya dari warga masyarakat Desa Cibeusi, dapat ditemukan berbagai permasalahan yang timbul mengenai hal tersebut. Permasalahan utamanya adalah kurangnya kemauan dan kesadaran warga masyarakat untuk memajukan usahanya dalam mensejahterakan perekonomian dan pendapatan dalam bidang produksi dan pemasaran pada Desa Cibeusi secara bersama-sama.  Kebanyakan untuk memproduksi pangan dilakukan secara individual, artinya warga masyarakat Desa Cibeusi dalam melakukan usahanya tidak dilakukan secara gotong royong atau sendiri-sendiri. Setiap rumah tangga melakukan produksi tersebut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya saja. Jadi tidak ada keinginan untuk memperluas lapangan kerja seperti industri rumah tangga yang lebih besar ataupun UKM yang dapat memajukan produk-produk pangan yang dihasilkan.

Pada awalnya program penyuluhan ini hanya akan melibatkan pengrajin pada usaha pengolahan nenas saja sesuai dengan proposal yang diajukan, namun karena antusiasme masyarakat yang begitu besar terhadap penyuluhan pengolohan pangan dan pemasaran yang baik, maka kegiatan penyuluhan ini diperluas cakupannya hingga usaha pengolahan pangan lainnya sehingga masyarakat Cibeusi secara keseluruhan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi-informasi yang bermanfaat dari penyuluhan tersebut.

Selain itu modal juga menjadi suatu masalah yang dihadapi warga masyarakat. Secara keseluruhan warga masyarakat tidak memiliki keinginan dan keberanian untuk mengeluarkan dan menginvestasikan modal yang lebih besar untuk memajukan usahanya tersebut. Inisiatif untuk bekerja gotong rotong bersama dengan warga memang ada dari beberapa orang. Namun pemikiran individualis masyarakat Desa Cibeusi masih mampu mengalahkan semangat kebersamaan yang dicoba dibangun oleh mereka yang berkeinginan tinggi untuk bangun bersama. Kemudian kurangnya pengetahuan pendidikan dari warga masyarakat untuk dapat mengolah bahan pangan yang benar dan baik dan kurangnya pengetahuan pendidikan dalam cara memasarkan produknya juga merupakan masalah yang ditemukan dari warga masyarakat Desa Cibeusi. Sehingga timbulah permasalahan dari segi produksi dan pemasaran dari warga masyarakat Desa Cibeusi.

GARAMANG dan RANGGINING

Ibu Mimin adalah seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya menjaga anak-anaknya sembari membuat makanan ringan khas desa Cibeusi seperti garamang, dan ranggining. Ibu mimin membuat makanan tersebut untuk dikonsumsi pribadi, seserahan apabila ada acara hajatan, dan juga untuk dijual.

Produk

Ibu mimin membuat ranggining dan garamang dengan cara yang hampir sama. Proses pembuatan produk antara lain dengan cara: beras dihaluskan, kemudian digiling, lalu dikukus. Setelah itu dibumbui (diberi aci) kemudian dicetak, dikukus lagi, kemudian dijemur sampai kering.

ranggining dan garamang tersebut hanya dijual dengan harga murah yaitu Rp. 3000,-/bungkus. Setiap bungkusnya masing-masing berisi 25 buah, baik itu ranggining maupun garamang. Setiap harinya ibu Mimin dapat memproduksi sekitar 300 buah ranggining dan garamang, yang artinya setiap harinya ibu mimin dapat membuat 12 bungkus garamang dan ranggining setiap harinya. Hal ini membuat ibu Mimin mendapatkan omzet sekitar Rp.36000,- setiap harinya.

Pemasaran

Ibu Mimin telah membuat dan menjual ranggining selama 2 tahun lamanya. Ia menjual barang hasil produksinya melalui penyalur yang notabene adalah mertuanya. Penyalur tersebut sering mendatangi rumahnya, kemudian menyalurkan barang produksi ibu Mimin ke desa tetangga seperti desa nagrak dan neglasari.

Permasalahan

Namun terdapat permasalahan yang saat ini menjadi kendala ibu Mimin dalam menjual hasil produknya. Permasalahan tersebut dikarenakan pihak yang menyalurkan produk tersebut sudah jarang lagi mengambil produk hasil olahan ibu Mimin. Hal ini tentu saja menjadi penghambat keberlangsungan usaha ibu Mimin sehingga usahanya tidak berkelanjutan.