Skip to content


> Program “Cerdas Cermat Upin dan Apin”

Mereka yang Bermimpi

“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, bos di sini saja cuma lulusan SD”, ujar salah satu warga yang saya ajak berbincang. Ya, pendidikan, bagi kebanyakan warga bukanlah prioritas utama. Bagi mereka, tanpa pengetahuan yang luas pun, semua orang bisa sukses. Tingkat pendidikan rata-rata Desa Ciandum memang hanya hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama. Lulusan Sekolah Menengah Atas di sini masih bisa dihitung dengan jari, apalagi lulusan perguruan tinggi, nyaris tidak ada.

 

 

 

 

Walau kebanyakan warga mengeluhkan perihal biaya, sebenarnya bukan itu yang menjadi permasalahan utama. Namun kemauan untuk melanjutkan pendidikanlah yang masih sangat kurang. Pola pikir yang harus diubah, dan itu yang sulit. Rasanya, akan lebih efektif untuk merubah pola pikir ketika dalam masa kanak-kanak. Anak cenderung lebih mudah dalam meyerap hal-hal baru. Ya, itulah hal yang bisa saya dan teman-teman lakukan di sini, memotivasi anak-anak di usia emas untuk menuntut ilmu setinggi langit.

Hampir setiap malam kami melakukan interaksi dengan anak-anak di sekitar rumah pemondokan, dari mulai mengaji hingga membuat origami. Anak- anak terlihat sangat antusias, mereka mau belajar menerima hal-hal baru. Dan yang paling mengagumkan, anak-anak di sini punya mimpi yang mulia untuk memajukan desanya. Tanpa pengetahuan atau pendidikan yang memadai, mimpi-mimpi hanya sekedar mimpi. Akhirnya, didasari hal inilah kami mencoba memberikan stimulus bagi mereka lewat sebuah program kegiatan. “Upin  Apin” namanya, merupakan kependekan dari Uji Kepintaran Anak Pintar. Sebuah perlombaan cerdas cermat yang kami tujukan untuk anak-anak yang duduk di Sekolah Dasar di Desa Ciandum

Bukan hal yang mudah untuk mensosialisasikan kegiatan ini kepada anak-anak di seluruh Desa Ciandum. Desa ini cukup luas, terbagi dalam lima dusun yang berjauhan dan kendala paling utama adalah akses jalan yang sulit dijangkau. Bahkan kami harus naik-turun gunung agar setiap anak perwakilan dari setiap dusun bisa berpartisipasi dalam lomba ini. Sedikit pesimis awalnya, kami ragu jumlah peserta tidak akan memenuhi target awal, karena hingga batas waktu pendaftaran masih ada dusun yang belum mendaftarkan anak-anaknya.

Namun ternyata pada hari kegiatan, jumlah peserta mencapai target kami, 20 peserta yang merupakan 4 orang perwakilan dari setiap dusun. Mengesankan, walaupun jarak rumah yang cukup jauh dengan Balai Desa (tempat diadakannya cerdas cermat) mereka bisa hadir untuk mengikuti perlombaan ini tepat waktu.  Saya jadi teringat dengan Lintang yang harus melewati sarang buaya untuk mencapai sekolahnya dalam film “Laskar Pelangi”, sebuah pengorbanan untuk mengejar mimpi. Merekalah, “Lintang” dari Desa Ciandum.

Tepat pukul 10 pagi acara dimulai, mereka, keduapuluh peserta dipersilahkan duduk di atas tikar yang kami bawa seadanya. Perlombaan ini dibagi dua sesi, di sesi pertama peserta diberi beberapa lembar kertas dan spidol berwarna untuk menulis jawaban dari 20 pertanyaan yang kami siapkan. Masing-masing jawaban benar diberikan poin, tiga peserta dengan poin terbesar akan maju ke sesi ke-2.

Sesi pertama “Upin Apin”ini memang tidak seperti biasanya, bukan memencet bel dan adu cepat menjawab pertanyaan. Kami mengadopsi konsep kuis Rangking 1 yang ditayangkan Trans TV, bagi kami atau kita mungkin konsep seperti ini sudah tidak asing lagi, tapi bagi mereka ini sedikit membingungkan. Intruksi yang kami berikan tidak bisa dilakukan dengan baik oleh mereka. Kebanyakan soal yang kami buat juga ternyata sulit untuk mereka jawab, dari 20 pertanyaan hanya sekitar 6 sampai 7 soal yang dapat terjawab. Ekspektasi kami terhadap mereka mungkin terlalu tinggi, tapi memang bukan itu yang ingin dicapai, karena sejak awal tujuan kami, sekali lagi, adalah untuk memotivasi mereka menggapai mimpi-mimpinya.

 

Sesi pertama berakhir, sebagai jembatan ke sesi ke-2 dilakukan penayangan video Upin & Ipin episode cita – cita. Inilah inti dari acara ini. Setelah selesai menonton, anak-anak diminta menuliskan 20 hal yang menjadi impian mereka pada sebuah kertas. Sekali lagi, mereka membuat kami kagum. Ada yang ingin bermain bola bersama C. Gonzales, ada yang ingin memberangkatkan kedua orangtuanya naik haji, dan bahkan ada yang ingin memperbaiki jalan di Desa Ciandum yang rusak. Siapa sangka, ada di antara mereka sudah memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya dengan ingin memperbaiki jalan. Seperti saya bilang sebelumnya, aksesbilitas adalah salah satu kendala di desa ini. Untuk mencapai sekolahnya mereka harus melewati jalan berbatu, sawah dan naik-turun gunung. Mungkin itulah alasan mengapa anak ini punya mimpi untuk memperbaiki jalan, luar biasa!

Rasanya akhir dari acara ini bukan lagi menjadi hal yang penting untuk diceritakan disini. Kami memang tidak berorientasi kepada hasil tapi lebih kepada proses, yang terpenting kami telah berhasil memotivasi mereka. Dan bukan hanya mereka, kami, khususnya saya, juga mendapatkan pelajaran berharga, tentang arti sebuah mimpi. Dulu saya sering bermimpi, dan sekarang mereka yang bermimpi telah menambahkan mimpi saya. Ya, mimpi baru saya kelak ingin bertemu mereka setelah beranjak dewasa. Mereka menghampiri, menyapa saya seraya berujar senang, “Kak, mimpi-mimpi saya dulu menjadi kenyataan!”

 


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.