Archive for category Laporan Kegiatan

Penyuluhan Tata Kelola Keuangan DKM

Hari Sabtu tanggal 16 Juli 2011 kemarin, bersikap idealistis berarti berani mencoba mengawinkan konsep amanah di Islam dengan konsep sistem pengendalian internal dan mempresentasikannya di depan bapak-bapak tokoh agama Desa Bantarkalong, para pengurus DKM yang sudah menjabat selama belasan tahun.

Di desa ini bahkan belum ada tempat praktek dokter umum, apalagi administrasi keuangan yang apik. Namun, sekali lagi idealisme mencuat dan menantang zona nyaman di dalam pikiran buat membuktikan kalau everything is really possible. Alhamdulillah responnya jauh lebih positif dari yang dibayangkan. :D

“Jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi sebuah penghinaan dan penyesalan nanti pada Hari Kiamat, kecuali bagi orang yang memikulnya dengan sungguh-sungguh dan menunaikannya menurut hak-hak yang terdapat di  dalam jabatan tersebut.”

- HR Imam Muslim

Beberapa tanggapan dari bapak-bapak undangan,

“Neng, gimana caranya ya biar masyarakat teh mau mematuhi aturan wajib izin ke pengurus sebelum pinjam peralatan DKM? Pernah sekali diberi tahu tapi katanya, ‘Ah da lain nu silaing ieu’. Pusing bapak teh, Neng.”

“Nyi, sebenarnya ada alasan kenapa saldo kas nggak ditulis di papan Masjid. Soalnya kalau ditulis pasti besoknya langsung pada ngutang da pikirannya DKM banyak duit.”

Atau yang paling gokil, waktu Pak H. M. Sodik (Ketua DKM Al-Ikhlas) meminta solusi dari kami tentang generasi muda desa yang, menurut beliau, mengkhawatirkan. Apatis terhadap pembangunan desa, sekuler, menolak masuk SMA karena malas, banyak yang kerjaannya cuma nongkrong tiap hari, hampir tidak ada yang berjiwa pemimpin. Tipikal klise remaja korban siaran televisi yang gak mendidik.

Para tetua itu takut ketika mereka meninggal nanti, bukannya maju, desa justru akan mengalami kemunduran. Lucunya, mereka menganggap kalau remaja di perkotaan memiliki akhlak yang jauh lebih baik dari di desa.

p.s. Silahkan klik di sini buat baca atau download Tata Cara Pengelolaan Keuangan DKM (Standard Operating Procedure) dan handout materi penyuluhan Tata Kelola Keuangan DKM. SOP ini bisa diaplikasikan untuk DKM manapun.

 

 

 

No Comments

Short Diary #1

Saya nggak tahu bagaimana masyarakat di desa-desa lokasi KKNM yang lain menerima para mahasiswa. Yang jelas, menjalani KKNM di Desa Bantarkalong adalah pengalaman yang tak terlupakan. Warga desa di sini menerima mahasiswa dengan tangan terbuka, saking ramahnya sampai-sampai kami sempat kewalahan di minggu pertama karena padatnya jadwal undangan untuk menghadiri berbagai perhelatan di desa. Warga desa pun nampak excited dengan ide universitas bahwa mereka tak ubahnya dosen untuk para mahasiswa karena KKNM adalah proses pembelajaran bagi mahasiswa untuk hidup bersama di tengah masyarakat. Pada beberapa event, saya sering mendengar tokoh masyarakat yang sedang memberikan sambutan mengangkat topik tersebut untuk mengingatkan warga desa bahwa mereka saat ini adalah bapak-ibu dosen bagi kami. Berikut ini adalah beberapa kegiatan di mana kami berinteraksi dengan warga secara luas.

Selasa, 28/06/11

Menghadiri perayaan Isra’ Miraj di Masjid Jami Al-Ikhlas. Terharu rasanya mendengar pak kiai berdoa buat kami dan diamini ratusan orang.

Kamis, 30/06/11

Resepsi Kenaikan Kelas dan Pelepasan MI&MTs Satu Atap (SA) Muara. Agak miris melihat anak-anak cewek kecil berkerudung menari pakai lagu semacam… “Playboy”.

Jumat, 01/07/11

Snapshot: @ Dusun Mekarjaya

Resepsi kenaikan kelas dan perpisahan SDN Bantarkalong yang jaraknya kira-kira 3 menit jalan kaki dari rumah pondokan kami. Ngomong-ngomong, baru kali ini saya menghadiri acara SD yang selesainya tengah malam lebih dikit! Whoopss. *takjub*

Sabtu, 02/07/2011

Diajak Pak Okto (Bag. Irigasi Provinsi Jabar) dan Pak Toha (Ketua BPD) hiking plus ngaliwet di Gua Sarongge. Baca selengkapnya di sini. Sebenarnya agak irrelevant tapi penting–> Hasbul, mahasiswa FK asal Malaysia, ulang tahun. Dengan baiknya dia naik motor ke Simpang (tempat perbelanjaan dan jajan paling dekat) dan kembali satu jam kemudian dengan berbagai penganan. Happy birthday bro, wish you many happy returns! :)

First Cake!

*bersambung…*

No Comments

Tamparan Itu Bernama Mekarjaya

Sore beberapa hari yang lalu pukul 16:00, saya dan 12 orang lainnya menelusuri jalan raya, jalan setapak, dan jalan terjal berbatu yang dibubuhi tai munding (=kerbau) di sana-sini. Dari ketiga kepala dusun, hanya Mekarjaya yang pak kepala dusun/punuh-nya belum berhasil diwawancarai.

Setengah jam kemudian, kami pun sampai. Setelah sepanjang jalan disuguhi pemandangan semak belukar, sawah bekas dipanen, dan bangunan bekas perusahaan tepung aci yang bangkrut, kini rumah pak kadus nampak di depan mata.

Rumah Pak Rohyan, Kadus Mekarjaya, bukanlah tipikal rumah yang eye-catching. Rumah sangat sederhana itu bahkan tidak dicat, dan engsel pintu antar ruangan di dalamnya tidak dipasangi daun pintu. Ruang tamunya polos, kecuali sebuah jam yang warnanya sudah pudar, tergantung di dinding. Ya ampun, saya mengelus dada mengingat cerita Pak Mispar -Kadus Bantarkalong- kalau ‘jabatan’ kadus tidak digaji. Masa jabatan yang bisa mencapai 20 tahun adalah cerminan kepercayaan warga, bukan karena gila kekuasaan.

Tamparan kedua datang dari Pak Ruhiyat, ketua RT 12 di wilayah Dusun Mekarjaya, yang masih bertetangga dengan Pak Rohyan. Selesai bercerita tentang longsor lima bulan lalu yang merusak pipa irigasi untuk seluruh Desa Bantarkalong namun sampai sekarang belum diperbaiki karena (saurna mah) pemerintah kekurangan dana, tanpa berniat menyombongkan diri beliau berkata,

“Tapi bagaimanapun keadaannya, petani di sini taat bayar pajak. Cuma butuh waktu dua minggu untuk menagih pajak. Bahkan ya dek, banyak juga petani yang sebelum ditagih udah nyetor duluan uang pajaknya (prepaid). Bandingkan sama dusun sebelah yang mayoritas warganya sarjana tetapi butuh waktu sampai tiga bulan untuk menagih pajak.”

Catatan: Dusun Mekarjaya adalah daerah dengan jumlah warga terbanyak, wilayah dusun terluas, dan keadaan infrastruktur & ekonomi paling sederhana di Desa Bantarkalong

Dang! Petani, yang mayoritas lulusan SD dan berpenghasilan tidak seberapa bahkan lebih taat bayar pajak dibandingkan dengan sarjana yang notabene berpendidikan dan berpenghasilan lebih baik. Malu euy, malu.

, ,

No Comments

Ziarah Ke Makam Syekh Zaenuddin

Sore hari ini, sekitar pukul 16:15 tanggal 30 Juni 2011, akhirnya kesampaian juga niat kami untuk berziarah ke makam Syekh Zaenuddin. Sekedar info, salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan kepada kami sejak hari pertama kedatangan adalah, “Sudah ziarah ke makam?”

Siapakah Syekh Zaenuddin? Menurut cerita beberapa sesepuh desa (salah satunya Aki Adi; baca di sini), Syekh Zaenuddin adalah salah satu kiai yang menyebarkan ajaran Islam ke bagian selatan Tasikmalaya. Keturunan dari beliau dan keempat istrinya (Sempah Sepuh, Sempah Muhammad, Sempah Wetan, dan Sempah Apun) kelak menjadi penduduk asli Desa Bantarkalong. Menurut Aki Adi, Pak Sekdes yang saat ini menjabat masih merupakan keturunan Sempah Sepuh, Bu Hj. Atih keturunan Sempah Muhammad, sedangkan Aki Adi sendiri masih merupakan keturunan Sempah Apun. Sebagaimana di makam-makam karuhun lainnya, doa yang dipanjatkan di makam beliau pun diyakini akan dijabah.

Makam beliau terletak di tengah hutan mungil, dilindungi dinding bata-lantai porselen-atap limas segiempat sehingga berbentuk mirip mushola, dengan kelambu berenda putih yang menaungi seluruh nisan. Seperti lazimnya makam orang-orang zaman dulu, panjang kuburan beliau pun cukup panjang, yaitu sekitar dua meter.


Emm, kalau kamu kebetulan singgah ke Desa Bantarkalong dan berminat ziarah ke makam beliau (dan istri-istri serta keturunannya), sebaiknya: (1) jangan pakai sepatu bersol licin, (2) datanglah selagi hari masih terang karena di sana tidak ada penerangan, (3) siapkan energi sebab jalan menuju makam yang dari arah Jl. Raya Cipatujah bentuknya sangat, sangat, sangat menanjak –kemiringan tangga sekitar 80 derajat, lah.

, ,

No Comments

Episode Silaturahmi

Pada acara pengajian dan sholawatan dalam rangka menyambut Isra’ Miraj di Masjid Jami Al-Ikhlas malam Rabu kemarin, bapak ustadz yang memberi ceramah berkata, “Wargi Bantarkalong mah resep duduluran (Warga Bantarkalong suka menjalin tali persaudaraan).” Nyatanya, kami yang baru lima hari berada di sini pun sudah merasakan kebenaran kata-kata tersebut. :)

Salah satu kegiatan yang pertama kali kami lakukan adalah silaturahmi ke para tokoh masyarakat. Kendala pertama: Bantarkalong adalah desa yang (cukup) luas dengan lingkup kekuasaan meliputi tiga dusun: Bantarkalong (yup, nama desa ini sekaligus menjadi nama dusun), Mekarjaya, dan Jibal. Kendala kedua: hampir seluruh laki-laki usia produktif hanya berada di rumah pada pagi dan sore hari, sebab +-80% penduduk Bantarkalong bekerja di sawah/kebun. Kendala ketiga: di sekitar rumah pemondokan, tidak ada alat transportasi yang kami gunakan. Angkot aja hanya lewat sekitar sekali per jam.

Jadi, demi efektivitas dan efisiensi, kami pun membagi diri ke dalam tiga kelompok silaturahmi per dusun. Kebetulan saya kebagian Dusun Bantarkalong.

Nah, dari sekian banyak tokoh masyarakat yang kami datangi, dua di antaranya akan diceritakan di tulisan ini. Enjoy!

 

H. Ali Imron & Istri

Pak Ali dan Bu Ali eh kok jadi kayak tulisan di Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 1 SD, ya? adalah pasutri yang hangat dan komunikatif. Dari beliau berdua, kami mendapatkan gambaran garis besar permasalahan yang terjadi di desa dan DKM Masjid Jami Al-Ikhlas. Beberapa hal yang menjadi kekhawatiran Pak Ali diantaranya,

  1. Ketidakjelasan pos-pos pemasukan dan pengeluaran masjid. FYI, penerimaan biasanya berasal dari zakat dan infak.
  2. Lemahnya kontrol terhadap aset-aset masjid. Alhasil, mulai dari sapu sampai toa (pengeras suara) sering jadi sasaran pencurian.
  3. Kurangnya generasi penerus yang bisa diandalkan dalam perihal ketakwaan dan kepemimpinan.

 

H. Hanadi

Aki Adi, demikian beliau biasa dipanggil, adalah seorang laki-laki lanjut usia paling humoris yang kami pernah jumpai dalam lima hari ini. Selama +- 1 jam bertamu ke rumah beliau, ga terhitung berapa kali beliau membuat kami tertawa terbahak-bahak. Misalnya,

  • Di awal pembicaraan, Aki Adi selalu menyebut dirinya dengan kata akang. Beberapa saat kemudian, beliau baru ngeh lalu buru-buru mengganti dengan aki sambil terkekeh-kekeh.
  • “Dulu, bupati X sebelum terpilih juga sempat dagang ka dieu (=ke sini), dia janji ini-itu.” “Hah, dagang, Ki? Kampanye mungkin?” “Oh enya, kampanye maksud aki teh. Eeh ari geus kapilih mah ngaleungit geura si jurig teh! (=Eh, setelah terpilih si setan malah menghilang.)
  • Sedang membahas topik strata ekonomi di dalam masyarakat. Kata Aki Adi, “Ah, ai aki mah, ka luhur teu naik ka handap teu napak (=bukan orang kaya, bukan juga orang tak mampu).” Kami, dalam hati, “Upami teu napak mah jurig atuh Akiii.. hahaha.”
  • Aki Adi bercerita tentang Alm. Syeikh Zaenudin yang memiliki empat istri, di mana keturunannya dari empat istri tersebut konon merupakan cikal-bakal Desa Bantarkalong. Di tengah rasa takjub, Aki Adi menambahkan, “Aki mah lain keturunan sasaha… keturunan ucing mereun aki mah (=aki bukan keturunan siapa-siapa, keturunan kucing mungkin).” Hmmpppphhh… hahahaha.

Beliau banyak bercerita tentang sejarah Desa Bantarkalong. Pertemuan di sore hari itu pun ditutup dengan ajakan ngaliwet sebelum kami pulang ke Bandung kira-kira dua puluh hari lagi, oleh-oleh setoples kue dan keripik pisang.

p.s. Salah satu hal yang memberatkan sekaligus menyenangkan dari silaturahmi di sini adalah oleh-oleh! Dalam dua hari saja kami sudah dibekali tiga sisir pisang, makan siang, sebungkus opak, sebungkus kue kering, sebungkus keripik pisang, dua keresek besar rambutan, dsb.

 

Give and take, itulah filosofi dasar dalam hidup. Rasanya kami sudah mendapat terlalu banyak kebaikan di sini, mudah-mudahan melalui kegiatan-kegiatan selama KKNM ini kami pun bisa memberikan sedikit balasan yang sepadan untuk Desa Bantarkalong. Amin. :)

, ,

No Comments