Archive for category Catatan Harian

Short Diary #1

Saya nggak tahu bagaimana masyarakat di desa-desa lokasi KKNM yang lain menerima para mahasiswa. Yang jelas, menjalani KKNM di Desa Bantarkalong adalah pengalaman yang tak terlupakan. Warga desa di sini menerima mahasiswa dengan tangan terbuka, saking ramahnya sampai-sampai kami sempat kewalahan di minggu pertama karena padatnya jadwal undangan untuk menghadiri berbagai perhelatan di desa. Warga desa pun nampak excited dengan ide universitas bahwa mereka tak ubahnya dosen untuk para mahasiswa karena KKNM adalah proses pembelajaran bagi mahasiswa untuk hidup bersama di tengah masyarakat. Pada beberapa event, saya sering mendengar tokoh masyarakat yang sedang memberikan sambutan mengangkat topik tersebut untuk mengingatkan warga desa bahwa mereka saat ini adalah bapak-ibu dosen bagi kami. Berikut ini adalah beberapa kegiatan di mana kami berinteraksi dengan warga secara luas.

Selasa, 28/06/11

Menghadiri perayaan Isra’ Miraj di Masjid Jami Al-Ikhlas. Terharu rasanya mendengar pak kiai berdoa buat kami dan diamini ratusan orang.

Kamis, 30/06/11

Resepsi Kenaikan Kelas dan Pelepasan MI&MTs Satu Atap (SA) Muara. Agak miris melihat anak-anak cewek kecil berkerudung menari pakai lagu semacam… “Playboy”.

Jumat, 01/07/11

Snapshot: @ Dusun Mekarjaya

Resepsi kenaikan kelas dan perpisahan SDN Bantarkalong yang jaraknya kira-kira 3 menit jalan kaki dari rumah pondokan kami. Ngomong-ngomong, baru kali ini saya menghadiri acara SD yang selesainya tengah malam lebih dikit! Whoopss. *takjub*

Sabtu, 02/07/2011

Diajak Pak Okto (Bag. Irigasi Provinsi Jabar) dan Pak Toha (Ketua BPD) hiking plus ngaliwet di Gua Sarongge. Baca selengkapnya di sini. Sebenarnya agak irrelevant tapi penting–> Hasbul, mahasiswa FK asal Malaysia, ulang tahun. Dengan baiknya dia naik motor ke Simpang (tempat perbelanjaan dan jajan paling dekat) dan kembali satu jam kemudian dengan berbagai penganan. Happy birthday bro, wish you many happy returns! :)

First Cake!

*bersambung…*

No Comments

Berpetualang ke Gua Sarongge

 

Gua Sarongge, gua dengan dua 'pintu masuk'

Siapa sangka kalau di Desa Bantarkalong, Cipatujah – Jawa Barat pun ada objek wisata? :D

Gua Sarongge adalah gua horizontal yang konon panjangnya mencapai 1000 m. Sayangnya, sampai sekarang belum ada penjelajah yang menelusuri gua tersebut sampai ke ujungnya. Apakah hanya pecinta alam yang bisa main ke Sarongge? Tenang saja, menjelajah sampai kira-kira 30 m ke dalam pun cukup, kok. Kamu akan terpesona dengan suara kelebatan ratusan pasang sayap kelelawar di langit-langit gua. Haus atau kegerahan di dalam gua? Kira-kira 30 m dari mulut gua, ada mata air alami yang airnya segar dan layak langsung minum.

Kabar baiknya, bukan hanya gua yang menjadi daya tarik di kawasan Gua Sarongge. Tepat di depan mulut gua, terdapat balong yang sangat luas dengan dua saung di pinggirnya yang cocok banget buat ngaliwet –nasi dimasak di kuali lalu disantap dengan ikan bakar, sambal,  dan lalapan segar.

Ngaliwet - ikan bakar

Ngaliwet pakai daun pisang

Lokasi gua yang berada di tengah cekungan, dikelilingi pepohonan dengan tinggi belasan sampai puluhan meter, belum lagi balong dengan bunga teratai, dan saung dari bambu benar-benar membuat kawasan ini seperti little paradise. Kalau kalian punya waktu barang 3-5 jam di Desa Bantarkalong, silahkan ke sini.

Hidden Little Paradise

Rute menuju Gua Sarongge yaitu,

  1. masuk ke gang di samping Masjid Jami Al-Ikhlas dengan jalan kaki atau naik motor,
  2. terus naik ke atas sampai keluar dari perkampungan,
  3. bertemu dengan perempatan yang kalau belok kiri menuju Makam Syekh Zaenuddin; ambil lurus,
  4. bertemu dua kali pertigaan; ambil kiri untuk keduanya,
  5. buat yang bawa motor, kalian harus menitipkannya ke rumah yang di dekatnya ada kandang sapi sebab jalan selanjutnya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki,
  6. kira-kira jarak setengah jam setelah mendaki dari persimpangan arah makam… selamat! Kalian sudah sampai di Sarongge. :)

***

Foto-foto

Ampar-ampar Pisang -menunggu Pak Toha & Pak Okto

Pemandangan saat hiking menuju Sarongge

Penampakan mulut gua

1 Comment

Tamparan Itu Bernama Mekarjaya

Sore beberapa hari yang lalu pukul 16:00, saya dan 12 orang lainnya menelusuri jalan raya, jalan setapak, dan jalan terjal berbatu yang dibubuhi tai munding (=kerbau) di sana-sini. Dari ketiga kepala dusun, hanya Mekarjaya yang pak kepala dusun/punuh-nya belum berhasil diwawancarai.

Setengah jam kemudian, kami pun sampai. Setelah sepanjang jalan disuguhi pemandangan semak belukar, sawah bekas dipanen, dan bangunan bekas perusahaan tepung aci yang bangkrut, kini rumah pak kadus nampak di depan mata.

Rumah Pak Rohyan, Kadus Mekarjaya, bukanlah tipikal rumah yang eye-catching. Rumah sangat sederhana itu bahkan tidak dicat, dan engsel pintu antar ruangan di dalamnya tidak dipasangi daun pintu. Ruang tamunya polos, kecuali sebuah jam yang warnanya sudah pudar, tergantung di dinding. Ya ampun, saya mengelus dada mengingat cerita Pak Mispar -Kadus Bantarkalong- kalau ‘jabatan’ kadus tidak digaji. Masa jabatan yang bisa mencapai 20 tahun adalah cerminan kepercayaan warga, bukan karena gila kekuasaan.

Tamparan kedua datang dari Pak Ruhiyat, ketua RT 12 di wilayah Dusun Mekarjaya, yang masih bertetangga dengan Pak Rohyan. Selesai bercerita tentang longsor lima bulan lalu yang merusak pipa irigasi untuk seluruh Desa Bantarkalong namun sampai sekarang belum diperbaiki karena (saurna mah) pemerintah kekurangan dana, tanpa berniat menyombongkan diri beliau berkata,

“Tapi bagaimanapun keadaannya, petani di sini taat bayar pajak. Cuma butuh waktu dua minggu untuk menagih pajak. Bahkan ya dek, banyak juga petani yang sebelum ditagih udah nyetor duluan uang pajaknya (prepaid). Bandingkan sama dusun sebelah yang mayoritas warganya sarjana tetapi butuh waktu sampai tiga bulan untuk menagih pajak.”

Catatan: Dusun Mekarjaya adalah daerah dengan jumlah warga terbanyak, wilayah dusun terluas, dan keadaan infrastruktur & ekonomi paling sederhana di Desa Bantarkalong

Dang! Petani, yang mayoritas lulusan SD dan berpenghasilan tidak seberapa bahkan lebih taat bayar pajak dibandingkan dengan sarjana yang notabene berpendidikan dan berpenghasilan lebih baik. Malu euy, malu.

, ,

No Comments

Lensa Pun Bicara

Pada hari kedua kami di Desa Bantarkalong, saya dan beberapa cewek lainnya memutuskan buat curi start berkeliling desa. Curiousity dan ke-teudaekcicingdiimah-an kami pun mengantar kami berkeliling desa tanpa nyasar dengan modal nekat nanya ke penduduk desa yang kami jumpai sepanjang perjalanan.

Di akhir cerita, jalan-jalan siang dadakan itu pun berbuah kesang, kunjungan ke rumah nenek yang sebelumnya tidak kami kenal, seplastik penuh rambutan rapiah, dan foto-foto berikut. Selamat menikmati. :)

Kunci kamar cewek. Centil pakai pita.

 

Penetrasi pasar Gucci ternyata sampai ke pelosok Indonesia.

Bantarkalong Surga Manggis (juga Duren, Petay, Kelapa, Sirsak, Rambutan)

'Jembatan' yang biasa digunakan kuli pengangkut batu ini sebenarnya adalah pipa irigasi.

Yang mayoritas yang tersisihkan. Pardon my finger there.

Pipa irigasi desa yang jadi korban longsor +-5 bulan lalu mengakibatkan tanah jadi sekering ini.

Kesempatan di dalam kesempitan.

Berkenalan dengan seorang nenek di pinggir jalan. Dijamu di rumah beliau, Hj. Siti Maryam Subagjana. Renovasi rumah beliau bekas longsor memakan biaya Rp8-10juta.

, ,

No Comments

Ziarah Ke Makam Syekh Zaenuddin

Sore hari ini, sekitar pukul 16:15 tanggal 30 Juni 2011, akhirnya kesampaian juga niat kami untuk berziarah ke makam Syekh Zaenuddin. Sekedar info, salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan kepada kami sejak hari pertama kedatangan adalah, “Sudah ziarah ke makam?”

Siapakah Syekh Zaenuddin? Menurut cerita beberapa sesepuh desa (salah satunya Aki Adi; baca di sini), Syekh Zaenuddin adalah salah satu kiai yang menyebarkan ajaran Islam ke bagian selatan Tasikmalaya. Keturunan dari beliau dan keempat istrinya (Sempah Sepuh, Sempah Muhammad, Sempah Wetan, dan Sempah Apun) kelak menjadi penduduk asli Desa Bantarkalong. Menurut Aki Adi, Pak Sekdes yang saat ini menjabat masih merupakan keturunan Sempah Sepuh, Bu Hj. Atih keturunan Sempah Muhammad, sedangkan Aki Adi sendiri masih merupakan keturunan Sempah Apun. Sebagaimana di makam-makam karuhun lainnya, doa yang dipanjatkan di makam beliau pun diyakini akan dijabah.

Makam beliau terletak di tengah hutan mungil, dilindungi dinding bata-lantai porselen-atap limas segiempat sehingga berbentuk mirip mushola, dengan kelambu berenda putih yang menaungi seluruh nisan. Seperti lazimnya makam orang-orang zaman dulu, panjang kuburan beliau pun cukup panjang, yaitu sekitar dua meter.


Emm, kalau kamu kebetulan singgah ke Desa Bantarkalong dan berminat ziarah ke makam beliau (dan istri-istri serta keturunannya), sebaiknya: (1) jangan pakai sepatu bersol licin, (2) datanglah selagi hari masih terang karena di sana tidak ada penerangan, (3) siapkan energi sebab jalan menuju makam yang dari arah Jl. Raya Cipatujah bentuknya sangat, sangat, sangat menanjak –kemiringan tangga sekitar 80 derajat, lah.

, ,

No Comments

Episode Silaturahmi

Pada acara pengajian dan sholawatan dalam rangka menyambut Isra’ Miraj di Masjid Jami Al-Ikhlas malam Rabu kemarin, bapak ustadz yang memberi ceramah berkata, “Wargi Bantarkalong mah resep duduluran (Warga Bantarkalong suka menjalin tali persaudaraan).” Nyatanya, kami yang baru lima hari berada di sini pun sudah merasakan kebenaran kata-kata tersebut. :)

Salah satu kegiatan yang pertama kali kami lakukan adalah silaturahmi ke para tokoh masyarakat. Kendala pertama: Bantarkalong adalah desa yang (cukup) luas dengan lingkup kekuasaan meliputi tiga dusun: Bantarkalong (yup, nama desa ini sekaligus menjadi nama dusun), Mekarjaya, dan Jibal. Kendala kedua: hampir seluruh laki-laki usia produktif hanya berada di rumah pada pagi dan sore hari, sebab +-80% penduduk Bantarkalong bekerja di sawah/kebun. Kendala ketiga: di sekitar rumah pemondokan, tidak ada alat transportasi yang kami gunakan. Angkot aja hanya lewat sekitar sekali per jam.

Jadi, demi efektivitas dan efisiensi, kami pun membagi diri ke dalam tiga kelompok silaturahmi per dusun. Kebetulan saya kebagian Dusun Bantarkalong.

Nah, dari sekian banyak tokoh masyarakat yang kami datangi, dua di antaranya akan diceritakan di tulisan ini. Enjoy!

 

H. Ali Imron & Istri

Pak Ali dan Bu Ali eh kok jadi kayak tulisan di Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 1 SD, ya? adalah pasutri yang hangat dan komunikatif. Dari beliau berdua, kami mendapatkan gambaran garis besar permasalahan yang terjadi di desa dan DKM Masjid Jami Al-Ikhlas. Beberapa hal yang menjadi kekhawatiran Pak Ali diantaranya,

  1. Ketidakjelasan pos-pos pemasukan dan pengeluaran masjid. FYI, penerimaan biasanya berasal dari zakat dan infak.
  2. Lemahnya kontrol terhadap aset-aset masjid. Alhasil, mulai dari sapu sampai toa (pengeras suara) sering jadi sasaran pencurian.
  3. Kurangnya generasi penerus yang bisa diandalkan dalam perihal ketakwaan dan kepemimpinan.

 

H. Hanadi

Aki Adi, demikian beliau biasa dipanggil, adalah seorang laki-laki lanjut usia paling humoris yang kami pernah jumpai dalam lima hari ini. Selama +- 1 jam bertamu ke rumah beliau, ga terhitung berapa kali beliau membuat kami tertawa terbahak-bahak. Misalnya,

  • Di awal pembicaraan, Aki Adi selalu menyebut dirinya dengan kata akang. Beberapa saat kemudian, beliau baru ngeh lalu buru-buru mengganti dengan aki sambil terkekeh-kekeh.
  • “Dulu, bupati X sebelum terpilih juga sempat dagang ka dieu (=ke sini), dia janji ini-itu.” “Hah, dagang, Ki? Kampanye mungkin?” “Oh enya, kampanye maksud aki teh. Eeh ari geus kapilih mah ngaleungit geura si jurig teh! (=Eh, setelah terpilih si setan malah menghilang.)
  • Sedang membahas topik strata ekonomi di dalam masyarakat. Kata Aki Adi, “Ah, ai aki mah, ka luhur teu naik ka handap teu napak (=bukan orang kaya, bukan juga orang tak mampu).” Kami, dalam hati, “Upami teu napak mah jurig atuh Akiii.. hahaha.”
  • Aki Adi bercerita tentang Alm. Syeikh Zaenudin yang memiliki empat istri, di mana keturunannya dari empat istri tersebut konon merupakan cikal-bakal Desa Bantarkalong. Di tengah rasa takjub, Aki Adi menambahkan, “Aki mah lain keturunan sasaha… keturunan ucing mereun aki mah (=aki bukan keturunan siapa-siapa, keturunan kucing mungkin).” Hmmpppphhh… hahahaha.

Beliau banyak bercerita tentang sejarah Desa Bantarkalong. Pertemuan di sore hari itu pun ditutup dengan ajakan ngaliwet sebelum kami pulang ke Bandung kira-kira dua puluh hari lagi, oleh-oleh setoples kue dan keripik pisang.

p.s. Salah satu hal yang memberatkan sekaligus menyenangkan dari silaturahmi di sini adalah oleh-oleh! Dalam dua hari saja kami sudah dibekali tiga sisir pisang, makan siang, sebungkus opak, sebungkus kue kering, sebungkus keripik pisang, dua keresek besar rambutan, dsb.

 

Give and take, itulah filosofi dasar dalam hidup. Rasanya kami sudah mendapat terlalu banyak kebaikan di sini, mudah-mudahan melalui kegiatan-kegiatan selama KKNM ini kami pun bisa memberikan sedikit balasan yang sepadan untuk Desa Bantarkalong. Amin. :)

, ,

No Comments

Induk Semang Kami

‘Induk semang’ merupakan istilah resmi yang dipakai di Buku Harian KKNM untuk menyebut pemilik/penjaga rumah tempat kami tinggal selama KKNM.

Induk semang kami adalah Ibu Hj. Atih.

Bu Hj. Atih

Beliau adalah perempuan berumur senja yang baiiik sekali. Bahkan sebelum kami berduapuluh satu (plus DPL) datang pada tanggal 25 Juni, rumah yang memiliki tiga kamar tamu milik beliau sudah dibereskan dalam rangka menyambut kedatangan kami.

Beliau pun sangat ramah dan murah hati, setiap hari ada saja bermacam-macam penganan yang dihidangkan. Favorit kami, sih: bubu sampeu. Nyamm. :9

Ralat: makin ke sini, barulah kami ngeh kalau ternyata seluruh penduduk Desa Bantarkalong pun murah hati seperti beliau.

Lanjut. Yang paling mengagumkan, ternyata Bu Hj. Atih adalah mantan kepala desa perempuan pertama baik di Desa Bantarkalong maupun seluruh Kecamatan Cipatujah. Beliau menjabat selama sepuluh tahun yang diakhiri pada tahun ’94-an. Di salah satu dinding yang retak karena gempa, saya menemukan piagam berbingkai dengan tulisan, “Pejuang Perempuan di Bidang Pemerintahan dan Sosial”.

Wow, angkat topi buat beliau!

 

, ,

No Comments

Day 1

Journey -image by mferrell24

07:30 Berangkat dari UNPAD Jatinangor

13:40 Sampai di pondokan KKNM Desa Bantarkalong (rumah Ibu Hj. Atih), Jl. Raya Cipatujah.

14:10 Bu Maria Komariyah, dosen pembimbing lapangan, pulang ke Bandung. Wish us luck, mam.


Suatu ayat di Al-Qur’an yang saya lupa dari surat mana berbunyi kira-kira begini, “Orang yang bepergian ke banyak tempat itu melihat lebih banyak hal dibandingkan dengan yang tidak bepergian ke manapun.”

Melihat adalah awal dari mengenal. Tak kenal, maka tak sayang.

Seorang sesepuh Wanadri juga pernah mengatakan hal yang mirip. Katanya, sebagai anak muda kita harus banyak mendaki gunung dan mengunjungi pelosok-pelosok Indonesia bahkan sampai ke tempat-tempat yang tidak tercatat di peta agar kita bisa mencintai tanah air kita.

Beberapa teman dari kampus lain mungkin pernah bertanya, “Waah, untung di kampus gue gak ada KKNM. Pasti susah air, susah sinyal, susah ke mana-mana, *dsb dsb* yaa?”

Buat beberapa tempat mungkin iya (alhamdulillah di Bantarkalong sarana prasarananya bagus, internetan aja lancarrrr :D ), tapi haloooooo, tolong lah lihat lebih jauh ke balik tujuan mulia diadakannnya KKNM PPMD Integratif ini sendiri. Setiap cerita pasti ada hikmahnya, kan. So, let’s just sit back and relax. ;)

, ,

No Comments