Sore hari ini, sekitar pukul 16:15 tanggal 30 Juni 2011, akhirnya kesampaian juga niat kami untuk berziarah ke makam Syekh Zaenuddin. Sekedar info, salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan kepada kami sejak hari pertama kedatangan adalah, “Sudah ziarah ke makam?”
Siapakah Syekh Zaenuddin? Menurut cerita beberapa sesepuh desa (salah satunya Aki Adi; baca di sini), Syekh Zaenuddin adalah salah satu kiai yang menyebarkan ajaran Islam ke bagian selatan Tasikmalaya. Keturunan dari beliau dan keempat istrinya (Sempah Sepuh, Sempah Muhammad, Sempah Wetan, dan Sempah Apun) kelak menjadi penduduk asli Desa Bantarkalong. Menurut Aki Adi, Pak Sekdes yang saat ini menjabat masih merupakan keturunan Sempah Sepuh, Bu Hj. Atih keturunan Sempah Muhammad, sedangkan Aki Adi sendiri masih merupakan keturunan Sempah Apun. Sebagaimana di makam-makam karuhun lainnya, doa yang dipanjatkan di makam beliau pun diyakini akan dijabah.
Makam beliau terletak di tengah hutan mungil, dilindungi dinding bata-lantai porselen-atap limas segiempat sehingga berbentuk mirip mushola, dengan kelambu berenda putih yang menaungi seluruh nisan. Seperti lazimnya makam orang-orang zaman dulu, panjang kuburan beliau pun cukup panjang, yaitu sekitar dua meter.


Emm, kalau kamu kebetulan singgah ke Desa Bantarkalong dan berminat ziarah ke makam beliau (dan istri-istri serta keturunannya), sebaiknya: (1) jangan pakai sepatu bersol licin, (2) datanglah selagi hari masih terang karena di sana tidak ada penerangan, (3) siapkan energi sebab jalan menuju makam yang dari arah Jl. Raya Cipatujah bentuknya sangat, sangat, sangat menanjak –kemiringan tangga sekitar 80 derajat, lah.