Archive for July, 2011
Penyuluhan Tata Kelola Keuangan DKM
Posted by kknmbantarkalong2011 in Laporan Kegiatan on July 17, 2011
Hari Sabtu tanggal 16 Juli 2011 kemarin, bersikap idealistis berarti berani mencoba mengawinkan konsep amanah di Islam dengan konsep sistem pengendalian internal dan mempresentasikannya di depan bapak-bapak tokoh agama Desa Bantarkalong, para pengurus DKM yang sudah menjabat selama belasan tahun.
Di desa ini bahkan belum ada tempat praktek dokter umum, apalagi administrasi keuangan yang apik. Namun, sekali lagi idealisme mencuat dan menantang zona nyaman di dalam pikiran buat membuktikan kalau everything is really possible. Alhamdulillah responnya jauh lebih positif dari yang dibayangkan.
“Jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi sebuah penghinaan dan penyesalan nanti pada Hari Kiamat, kecuali bagi orang yang memikulnya dengan sungguh-sungguh dan menunaikannya menurut hak-hak yang terdapat di dalam jabatan tersebut.”
- HR Imam Muslim
Beberapa tanggapan dari bapak-bapak undangan,
“Neng, gimana caranya ya biar masyarakat teh mau mematuhi aturan wajib izin ke pengurus sebelum pinjam peralatan DKM? Pernah sekali diberi tahu tapi katanya, ‘Ah da lain nu silaing ieu’. Pusing bapak teh, Neng.”
“Nyi, sebenarnya ada alasan kenapa saldo kas nggak ditulis di papan Masjid. Soalnya kalau ditulis pasti besoknya langsung pada ngutang da pikirannya DKM banyak duit.”
Atau yang paling gokil, waktu Pak H. M. Sodik (Ketua DKM Al-Ikhlas) meminta solusi dari kami tentang generasi muda desa yang, menurut beliau, mengkhawatirkan. Apatis terhadap pembangunan desa, sekuler, menolak masuk SMA karena malas, banyak yang kerjaannya cuma nongkrong tiap hari, hampir tidak ada yang berjiwa pemimpin. Tipikal klise remaja korban siaran televisi yang gak mendidik.
Para tetua itu takut ketika mereka meninggal nanti, bukannya maju, desa justru akan mengalami kemunduran. Lucunya, mereka menganggap kalau remaja di perkotaan memiliki akhlak yang jauh lebih baik dari di desa.
p.s. Silahkan klik di sini buat baca atau download Tata Cara Pengelolaan Keuangan DKM (Standard Operating Procedure) dan handout materi penyuluhan Tata Kelola Keuangan DKM. SOP ini bisa diaplikasikan untuk DKM manapun.
Short Diary #1
Posted by kknmbantarkalong2011 in Catatan Harian, Laporan Kegiatan on July 14, 2011
Saya nggak tahu bagaimana masyarakat di desa-desa lokasi KKNM yang lain menerima para mahasiswa. Yang jelas, menjalani KKNM di Desa Bantarkalong adalah pengalaman yang tak terlupakan. Warga desa di sini menerima mahasiswa dengan tangan terbuka, saking ramahnya sampai-sampai kami sempat kewalahan di minggu pertama karena padatnya jadwal undangan untuk menghadiri berbagai perhelatan di desa. Warga desa pun nampak excited dengan ide universitas bahwa mereka tak ubahnya dosen untuk para mahasiswa karena KKNM adalah proses pembelajaran bagi mahasiswa untuk hidup bersama di tengah masyarakat. Pada beberapa event, saya sering mendengar tokoh masyarakat yang sedang memberikan sambutan mengangkat topik tersebut untuk mengingatkan warga desa bahwa mereka saat ini adalah bapak-ibu dosen bagi kami. Berikut ini adalah beberapa kegiatan di mana kami berinteraksi dengan warga secara luas.
Selasa, 28/06/11
Menghadiri perayaan Isra’ Miraj di Masjid Jami Al-Ikhlas. Terharu rasanya mendengar pak kiai berdoa buat kami dan diamini ratusan orang.
Kamis, 30/06/11
Resepsi Kenaikan Kelas dan Pelepasan MI&MTs Satu Atap (SA) Muara. Agak miris melihat anak-anak cewek kecil berkerudung menari pakai lagu semacam… “Playboy”.
Jumat, 01/07/11
Snapshot: @ Dusun Mekarjaya
Resepsi kenaikan kelas dan perpisahan SDN Bantarkalong yang jaraknya kira-kira 3 menit jalan kaki dari rumah pondokan kami. Ngomong-ngomong, baru kali ini saya menghadiri acara SD yang selesainya tengah malam lebih dikit! Whoopss. *takjub*
Sabtu, 02/07/2011
Diajak Pak Okto (Bag. Irigasi Provinsi Jabar) dan Pak Toha (Ketua BPD) hiking plus ngaliwet di Gua Sarongge. Baca selengkapnya di sini. Sebenarnya agak irrelevant tapi penting–> Hasbul, mahasiswa FK asal Malaysia, ulang tahun. Dengan baiknya dia naik motor ke Simpang (tempat perbelanjaan dan jajan paling dekat) dan kembali satu jam kemudian dengan berbagai penganan. Happy birthday bro, wish you many happy returns!
*bersambung…*
Berpetualang ke Gua Sarongge
Posted by kknmbantarkalong2011 in Catatan Harian, Objek Wisata on July 13, 2011
Siapa sangka kalau di Desa Bantarkalong, Cipatujah – Jawa Barat pun ada objek wisata?
Gua Sarongge adalah gua horizontal yang konon panjangnya mencapai 1000 m. Sayangnya, sampai sekarang belum ada penjelajah yang menelusuri gua tersebut sampai ke ujungnya. Apakah hanya pecinta alam yang bisa main ke Sarongge? Tenang saja, menjelajah sampai kira-kira 30 m ke dalam pun cukup, kok. Kamu akan terpesona dengan suara kelebatan ratusan pasang sayap kelelawar di langit-langit gua. Haus atau kegerahan di dalam gua? Kira-kira 30 m dari mulut gua, ada mata air alami yang airnya segar dan layak langsung minum.
Kabar baiknya, bukan hanya gua yang menjadi daya tarik di kawasan Gua Sarongge. Tepat di depan mulut gua, terdapat balong yang sangat luas dengan dua saung di pinggirnya yang cocok banget buat ngaliwet –nasi dimasak di kuali lalu disantap dengan ikan bakar, sambal, dan lalapan segar.
Lokasi gua yang berada di tengah cekungan, dikelilingi pepohonan dengan tinggi belasan sampai puluhan meter, belum lagi balong dengan bunga teratai, dan saung dari bambu benar-benar membuat kawasan ini seperti little paradise. Kalau kalian punya waktu barang 3-5 jam di Desa Bantarkalong, silahkan ke sini.
Rute menuju Gua Sarongge yaitu,
- masuk ke gang di samping Masjid Jami Al-Ikhlas dengan jalan kaki atau naik motor,
- terus naik ke atas sampai keluar dari perkampungan,
- bertemu dengan perempatan yang kalau belok kiri menuju Makam Syekh Zaenuddin; ambil lurus,
- bertemu dua kali pertigaan; ambil kiri untuk keduanya,
- buat yang bawa motor, kalian harus menitipkannya ke rumah yang di dekatnya ada kandang sapi sebab jalan selanjutnya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki,
- kira-kira jarak setengah jam setelah mendaki dari persimpangan arah makam… selamat! Kalian sudah sampai di Sarongge.
***
Foto-foto
Tamparan Itu Bernama Mekarjaya
Posted by kknmbantarkalong2011 in Catatan Harian, Laporan Kegiatan on July 8, 2011
Sore beberapa hari yang lalu pukul 16:00, saya dan 12 orang lainnya menelusuri jalan raya, jalan setapak, dan jalan terjal berbatu yang dibubuhi tai munding (=kerbau) di sana-sini. Dari ketiga kepala dusun, hanya Mekarjaya yang pak kepala dusun/punuh-nya belum berhasil diwawancarai.
Setengah jam kemudian, kami pun sampai. Setelah sepanjang jalan disuguhi pemandangan semak belukar, sawah bekas dipanen, dan bangunan bekas perusahaan tepung aci yang bangkrut, kini rumah pak kadus nampak di depan mata.
Rumah Pak Rohyan, Kadus Mekarjaya, bukanlah tipikal rumah yang eye-catching. Rumah sangat sederhana itu bahkan tidak dicat, dan engsel pintu antar ruangan di dalamnya tidak dipasangi daun pintu. Ruang tamunya polos, kecuali sebuah jam yang warnanya sudah pudar, tergantung di dinding. Ya ampun, saya mengelus dada mengingat cerita Pak Mispar -Kadus Bantarkalong- kalau ‘jabatan’ kadus tidak digaji. Masa jabatan yang bisa mencapai 20 tahun adalah cerminan kepercayaan warga, bukan karena gila kekuasaan.
Tamparan kedua datang dari Pak Ruhiyat, ketua RT 12 di wilayah Dusun Mekarjaya, yang masih bertetangga dengan Pak Rohyan. Selesai bercerita tentang longsor lima bulan lalu yang merusak pipa irigasi untuk seluruh Desa Bantarkalong namun sampai sekarang belum diperbaiki karena (saurna mah) pemerintah kekurangan dana, tanpa berniat menyombongkan diri beliau berkata,
“Tapi bagaimanapun keadaannya, petani di sini taat bayar pajak. Cuma butuh waktu dua minggu untuk menagih pajak. Bahkan ya dek, banyak juga petani yang sebelum ditagih udah nyetor duluan uang pajaknya (prepaid). Bandingkan sama dusun sebelah yang mayoritas warganya sarjana tetapi butuh waktu sampai tiga bulan untuk menagih pajak.”
Catatan: Dusun Mekarjaya adalah daerah dengan jumlah warga terbanyak, wilayah dusun terluas, dan keadaan infrastruktur & ekonomi paling sederhana di Desa Bantarkalong
Dang! Petani, yang mayoritas lulusan SD dan berpenghasilan tidak seberapa bahkan lebih taat bayar pajak dibandingkan dengan sarjana yang notabene berpendidikan dan berpenghasilan lebih baik. Malu euy, malu.
Lensa Pun Bicara
Posted by kknmbantarkalong2011 in Catatan Harian on July 2, 2011
Pada hari kedua kami di Desa Bantarkalong, saya dan beberapa cewek lainnya memutuskan buat curi start berkeliling desa. Curiousity dan ke-teudaekcicingdiimah-an kami pun mengantar kami berkeliling desa tanpa nyasar dengan modal nekat nanya ke penduduk desa yang kami jumpai sepanjang perjalanan.
Di akhir cerita, jalan-jalan siang dadakan itu pun berbuah kesang, kunjungan ke rumah nenek yang sebelumnya tidak kami kenal, seplastik penuh rambutan rapiah, dan foto-foto berikut. Selamat menikmati.
Ziarah Ke Makam Syekh Zaenuddin
Posted by kknmbantarkalong2011 in Catatan Harian, Laporan Kegiatan on July 1, 2011
Sore hari ini, sekitar pukul 16:15 tanggal 30 Juni 2011, akhirnya kesampaian juga niat kami untuk berziarah ke makam Syekh Zaenuddin. Sekedar info, salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan kepada kami sejak hari pertama kedatangan adalah, “Sudah ziarah ke makam?”
Siapakah Syekh Zaenuddin? Menurut cerita beberapa sesepuh desa (salah satunya Aki Adi; baca di sini), Syekh Zaenuddin adalah salah satu kiai yang menyebarkan ajaran Islam ke bagian selatan Tasikmalaya. Keturunan dari beliau dan keempat istrinya (Sempah Sepuh, Sempah Muhammad, Sempah Wetan, dan Sempah Apun) kelak menjadi penduduk asli Desa Bantarkalong. Menurut Aki Adi, Pak Sekdes yang saat ini menjabat masih merupakan keturunan Sempah Sepuh, Bu Hj. Atih keturunan Sempah Muhammad, sedangkan Aki Adi sendiri masih merupakan keturunan Sempah Apun. Sebagaimana di makam-makam karuhun lainnya, doa yang dipanjatkan di makam beliau pun diyakini akan dijabah.
Makam beliau terletak di tengah hutan mungil, dilindungi dinding bata-lantai porselen-atap limas segiempat sehingga berbentuk mirip mushola, dengan kelambu berenda putih yang menaungi seluruh nisan. Seperti lazimnya makam orang-orang zaman dulu, panjang kuburan beliau pun cukup panjang, yaitu sekitar dua meter.


Emm, kalau kamu kebetulan singgah ke Desa Bantarkalong dan berminat ziarah ke makam beliau (dan istri-istri serta keturunannya), sebaiknya: (1) jangan pakai sepatu bersol licin, (2) datanglah selagi hari masih terang karena di sana tidak ada penerangan, (3) siapkan energi sebab jalan menuju makam yang dari arah Jl. Raya Cipatujah bentuknya sangat, sangat, sangat menanjak –kemiringan tangga sekitar 80 derajat, lah.

























