Keadaan Usaha Kuliner Terhadap Pandemi Covid-19

Indonesia diumumkan terampak virus oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 maret 2020, sekaligus menyebutnya sebagai bencana. Bandan Nasional Penanggulangan bencana  (BNPB) secara khusus mengatakan Covid-19 sebagai bencana non alam dengan skala cakupan nasional. Dibandingkan dengan kejadian tahun 2003, ketika kasus SARS terjadi berdampak pada melambatnya perekonomian Indonesia hingga 0,03%.

Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia berdampak pada berbagai sektor termasuk sektor kuliner. Sektor kuliner yang terdampak bukan hanya pemilik usaha kiliner berkembang. Usaha kuliner ternama dan food and beverage juga terdampak dan harus berjuang bersama untuk mempertahankan usahanya.  Dampak yang sangat terasa adalah menurunnya omset pendapatan usaha bahkan adapula yang harus gulung tikar. Namun beberapa usaha dapat bertahan bahkan mengalami kenaikan omset selama pandemic Covid-19. Hal in dipengaruhi dengan protocol kesehatanyang diperhatikan oleh pemilik usaha, cara promosi, mengefektifkan sistem cashless, dan jenis usaha. Kuliner yang menjajakan makanan pokok lebih bisa bertahan dibandingkan dengan kuliner yang menjajakan cemilan. Dalam survey yang dilakukan oleh MicroMentor Indonesia terhadap 250 pengguna UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) tercatat bahwa 67% pendapatan UMKM menurun, 10% UMKM kesulitan memperoleh bahan baku, dan 5% UMKM mengalami ketidakstabilan cash-flow.

Naik turunnya omset dapat dipengaruhi dengan kebijakan pemerintah. Pada awal ditetapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) oleh pemerintah mengakibatkan turunnya omset pendapatan usaha kuliner, hal ini dikarenakan masyarakat lebih memilih untuk membeli kebutuhan pangan segar dan mengolahnya di rumah untuk meminimalisir terkena virus Covid-19. Pendapatan usaha kuliner didapat dari pelanggan tetap, pelanggan yang dekat dengan lokasi, dan pelanggan yang memesan melalui aplikasi online. Berjalannya PSBB mengakibatkan pemilik usaha kuliner harus tetap bertahan disituasi pandemic sehingga penerapan protocol kesehatan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh sebagian besar pemilik usaha kuliner untuk mengurangi resiko terkena Covid-19 dan membuat pembeli tidak khawatir terhadap kuliner yang mereka beli. Contoh pada usaha kuliner Mc Donald memberikan keterangan suhu tubuh pembuat makanan pada kemasan agar adanya transparansi terhadap pembeli dan tidak membuat khawatir pembeli.

Dengan adanya Pandemi Covid-19 menyebabkan munculnya usaha kuliner rumahan yang dilakukan sebagai usaha sampingan. Hal ini dikarenakan kondisi ekonomi yang menurun karena pandemic Covid-19 dan peluang usaha kuliner lebih terbuka dibanding sektor lain. Banyaknya karyawan yang di phk dan beberapa kondisi yang mengurangi pendapatan mengakibatkan masyarakat harus dapat bertaham dalam situasi ini dan mengandalkan usaha kuliner dengan berbagai inovasi dan kreativitas sebagai alternative bertahan hidup. Hal yang dikatakan sebagai peluang bagi sebgaian besar usaha kuliner namun menjadi ancaman bagi kuliner yang sudah ada sebelumnya. Dengan bertambahnya usaha kuliner maka pangsa pasar semakin sedikit dan menurunnya omset penjualan.

Kondisi yang mulai normal dengan memperhatikan kesehatan atau dikenal dengan New Normal. Pada kondisi New Normal usaha kuliner yang dapat bertahan mengalami sedikit kenaikan pendaptan dibandingan kondisi PSBB. Kenaikan ini tidak melebihi pendapatan pada sebelum masa Pandemi. Kondisi bahan baku yang sudah mulai mudah di dapat sehingga pemilik usaha kuliner dapat berjualan seperti sebelum adanya pandemic Covid-19.

 

Sumber:

  1. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Bisnis dan Eksistensi Platform Online, Taufik 2020
  2. UMKM Beradaptasi dalam Merespon Dampak Covid-19, Kementrian Koperasi dan Usaa Kecil dan Menengah Republik Indonesia, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *