Pandemi Covid-19 tidak hanya merusak kesehatan fisik namun juga mental

Dilansir dari CNN Indonesia, sejak dikumandangkannya work from home dan social distancing akibat pandemi Covid-19, permintaan obat anti-cemas serta demand untuk mendatangi profesional kesehatan meningkat. Kecemasan bersumber dari banyaknya pemberitaan pandemi Covid-19 dan kemudahan dalam pengaksesan informasi yang membuat masyarakat takut. Bahkan, kecemasan masyarakat juga berpindah ke bidang ekonomi akibat karantina jangka panjang serta PHK yang tercatat oleh Kemenaker.

Di samping itu, setelah sepekan era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dilaksanakan di Jawa Barat, angka kejadian kasus baru Covid-19 masih meningkat secara signifikan. 

Stress atau cemas dalam jangka panjang akan berpengaruh terhadap kondisi sistem imun tubuh yang menurunkan sistem imun humoral. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko individu terinfeksi Covid-19. Untuk membantu masyarakat mencegah dan mengurangi kecemasan, sosialisasi menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan.

Selain itu, sosialisasi dilaksanakan sebagai salah satu upaya edukasi agar masyarakat lebih siap dalam menghadapi era AKB di tengah pandemi Covid-19.

 

Sumber 

CNN Indonesia. (2020, 23 April). Permintaan Obat Anti-cemas Meningkat Sejak Pandemi Covid-19.

AyoPurwarkarta.com (2020, 12 Juni). Survei : Kecemasan Covid-19 Pindah ke Ekonomi

detikNews. (2020, 2 Juli). Sepekan AKB, Kasus Positif Covid-19 di Jabar Malah Merangkak Naik

Referensi

https://pikobar.jabarprov.go.id/

Morey JN, Boggero IA, Scott AB, Segerstrom SC. Current Directions in Stress and Human Immune Function. Curr Opin Psychol. 2015;5:13-17. doi:10.1016/j.copsyc.2015.03.007

https://www.alomedika.com/kesehatan-mental-dalam-kondisi-pandemik-virus-corona

https://lamongankab.go.id/dinkes/menjaga-kesehatan-mental/

Meningkatkan Imunitas di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Total kasus yang sudah terkonfirmasi serta angka mortalitas COVID-19 di seluruh dunia, menurut peta penyebaran penyakit yang disusun oleh Johns Hopkins University, sampai saat ini masih terus meningkat. Hal tersebut disebabkan karena masih adanya penyebaran dari orang ke orang. Ada berbagai cara yang dilakukan pemerintah dalam menekan angka penyebaran dari orang ke orang. Salah satunya adalah dengan pemberlakuan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Namun, per tanggal 26 Juni 2020, pemerintah Jawa Barat memberlakukan Adaptasi Kebiasaan Baru yang disingkat menjadi AKB sebagai kelanjutan dari PSBB.

AKB (yang dilaksanakan di seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Bogor, Depok, dan Bekasi) merupakan era dilaksanakannya kembali bidang-bidang kehidupan masyarakat secara bertahap yang dilakukan di daerah zona biru dan hijau dengan tetap menganut tiga protokol kesehatan, yaitu: Cuci tangan, penggunaan masker, dan pembatasan jarak minimal 1,5 meter dengan orang lain pada saat sedang di luar rumah. Dikutip dari Detik News, setelah sepekan era (AKB) dilaksanakan di Jawa Barat, masih terjadi penambahan kasus Covid-19 yang signifikan. Rata-rata kenaikan kasus baru sekitar 47 kasus perhari sejak PSBB dihentikan. Per 3 Juli 2020, kasus terkonfirmasi positif di Jabar berdasarkan Pusat Informasi dan Koorfinasi Covid-19, mencapai 3344 kasus.Tingginya total kasus dan angka mortalitas baik di dunia maupun di Indonesia, membuat banyak orang mengalami gejala kecemasan.

Kecemasan sudah sewajarnya dirasakan oleh tiap individu di tengah-tengah keadaan yang meresahkan ini. Gejala kecemasan muncul karena adanya ketakutan akan terkena penyakit ini pada diri sendiri maupun keluarga, adanya keterbatasan seseorang dalam berobat langsung ke dokter akibat karantina, dan karena seseorang terlalu banyak membaca berita negatif tentang COVID-19. Tidak hanya pada masyarakat, namun dampak psikologis juga dialami oleh tenaga kesehatan. Bekerja di lingkungan dengan risiko penularan tinggi, adanya peningkatan atensi, kebutuhan energi, serta durasi kerja dalam pencegahan dan pengobatan Covid-19 akan berpengaruh terhadap kondisi mental tenaga medis.

Dampak psikologis yang berujung kepada stress atau cemas akan berpengaruh terhadap kondisi sistem imun tubuh yaitu menurunkan sistem imun humoral. Ketika seseorang mengalami stress, tubuh akan merespon dengan mengeluarkan hormon kortisol. Hormon ini pada awalnya memiliki efek anti-inflamasi dan dapat meningkatkan respon imun. Namun, peningkatan kadar kortisol dalam jangka waktu lama akan menyebabkan sistem imun menjadi resisten. Lebih jauh lagi, hal tersebut dapat menyebabkan peningkatan produksi sitokin proinflamasi dan akan membuat tubuh mengalami tanda-tanda peradangan yang hampir mirip dengan tanda-tanda infeksi, seperti Covid-19. Ironinya, stress dan cemas yang diakibatkan oleh kondisi pandemi meningkatkan risiko individu terinfeksi Covid-19 itu sendiri.

Stress, sistem imun, dan penyakit memiliki efek resiprokal (Current Directions in Stress and Human Immune Function, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26086030/)

Kenaikan kasus yang masih signifikan menandakan bahwa strategi pencegahan penularan masih kurang efektif. Menurut Kim, pada Using Psychoneurommunity Against COVID-19, Brain, Behavior, and Immunity (2020), strategi prevensi yang efektif dalam kasus Covid-19 adalah kombinasi pencegahan fisikal dan biopsikososial. Upaya pencegahan fisikal telah dilaksanakan oleh pemerintah melalui peraturan protokol kesehatan di era AKB. Pencegahan fisikal bertujuan untuk mencegah paparan patogen secara langsung antar-individu. Pencegahan biopsikososial merupakan upaya yang bertujuan untuk meningkatkan sistem imun individu. Diberlakukannya AKB mengartikan bahwa pencegahan penularan Covid-19 akan sangat bergantung pada kedisiplinan individu baik dalam menjalankan upaya pencegahan fisikal maupun upaya masing-masing dalam pencegahan secara biopsikososial.

Pencegahan secara biopsikososial dapat dilakukan dengan edukasi dan intervensi. Berlatih meditasi dengan mendengarkan musik dan mengatur napas dengan teknik pernapasan dalam dapat membantu merelaksasikan pikiran seseorang sehingga dapat mengurangi kecemasan. Self hypnosis merupakan salah satu cara untuk mengurangi kecemasan dengan dibantu oleh media audio visual. Media intervensi dapat dilihat melalui http://injabar.unpad.ac.id/hipnosis/

Selain itu, tingginya tingkat kecemasan masyarakat pada saat pandemi berlangsung, dapat diatasi salah satunya dengan berlatih teknik pernapasan dalam. Sebuah jurnal membuktikan dengan melakukan teknik pernapasan dalam, seseorang dapat mengontrol emosinya dengan baik sehingga kesejahteraan psikologisnya menjadi lebih baik.

Menurut Medical News Today, cara yang mudah untuk mengatasi kecemasan akibat terlalu banyak membaca berita adalah dengan membaca berita dari sumber yang terpercaya seperti pada laman resmi pemerintah di www.covid19.go.id. Selain itu, seseorang perlu beristirahat dari membaca berita yang terlalu banyak. Untuk mengalihkan perhatian dari berita, seseorang bisa melakukan hal lain seperti melakukan hobinya. Selain dapat mengalihkan pikiran, hal tersebut bisa membantu mengatur emosi serta membuat pikiran menjadi positif sehingga kecemasan dapat teratasi.

Telemedicine dalam hal ini Teledentistry merupakan suatu metode perawatan kesehatan gigi dan mulut yang disajikan dalam bentuk media. Dengan penerapan Telemedicine atau Teledentistry, masyarakat tidak perlu merasa cemas apabila mengalami keluhan atau sekadar ingin berkonsultasi, namun tidak dapat berkunjung ke fasilitas kesehatan terdekat.Hal ini memungkinkan pasien untuk tetap bisa berobat dan berkonsultasi mengenai kesehatan gigi dan mulutnya tanpa harus bertatap muka dengan dokter. Cara ini merupakan cara paling efektif yang dapat dilakukan dalam merawat kesehatan gigi dan mulut pada masa pandemi ini

 

Meningkatkan Imunitas di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

 

Daftar Pustaka

Detiknews. (26 Juni 2020). PSBB Jabar Dihentikan, Ridwan Kamil: 100 Persen Daerah Siap AKB. Diakses pada 3 Juli 2020, dari https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5068886/psbb-jabar-dihentikan-ridwan-kamil-100-persen-daerah-siap-akb

Detiknews. (2 Juli 2020). Sepekan AKB, Kasus Positif COVID-19 Jabar Malah Merangkak Naik. Diakses pada 3 Juli 2020, dari https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5076883/sepekan-akb-kasus-positif-covid-19-di-jabar-malah-merangkak-naik

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. (2020). Data Sebaran Kasus COVID-19. Diakses pada 3 Juli 2020, dari https://www.covid19.go.id

Johns Hopkins University & Medicine. (2020). COVID-19 Dashboard by the Center for Systems and Engineering (CSEE) at Johns Hopkins University. Diakses pada 3 Juli 2020, dari https://coronavirus.jhu.edu/map.html

Kim, S-W., Su, K-P., Using psychoneuroimmunity against COVID-19, Brain, Behavior, and Immunity (2020), doi: https://doi.org/10.1016/j.bbi.2020.03.025

MedicalNewsToday. (16 Januari 2020). Anxious about the news? Our top tips on how to cope. Diakses pada 3 Juli 2020, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/327516

Morey JN, Boggero IA, Scott AB, Segerstrom SC. Current Directions in Stress and Human Immune FunctionCurr Opin Psychol. 2015;5:13-17. doi:10.1016/j.copsyc.2015.03.007

Pusat Informasi & Koordinasi COVID-19 Provinsi Jawa Barat. (2020). Angka Kejadian di Jawa Barat. DIakses pada 3 Juli 2020, dari https://pikobar.jabarprov.go.id/

Zaccaro, A., Piarulli, A., Laurino, M., Garbella, E., Menicucci, D., Neri, B., & Gemignani, A. (2018). How Breath-Control Can Change Your Life: A Systematic Review on Psycho-Physiological Correlates of Slow BreathingFrontiers in human neuroscience12, 353. https://doi.org/10.3389/fnhum.2018.00353

 

Disusun Oleh:

Putri Nur Amalia Dewi (130110170230)

Salsabilla Nadhifa Gunarso (130110170008)

Tazkia Rizkia Azzahra (160110170149)

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

putri17031@mail.unpad.ac.id; salsabilla17002@mail.unpad.ac.id; tazkia17002@mail.unpad.ac.id

 

Kejadian Penularan Covid-19 dari Hewan Peliharaan ke Manusia

Berdasarkan informasi dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Covid 19 merupakan penyakit emerging disease yang berasal dari hewan liar tepatnya kelelawar ke manusia yang menyebar dari manusia ke manusia lainnya melalui droplets. Namun, baru – baru ini terdapat isu yang beredar bahwa covid 19 dapat menular dari manusia ke hewan serta dari hewan ke manusia atau merupakan penyakit zoonosis. Hal tersebut tentu menimbulkan keresahan masyarakat, khususnya para pemilik hewan peliharaan/ companion animal dimana pada era modern ini hewan peliharaan sudah awam dimiliki oleh masyarakat. Informasi yang beredar dan tidak credible tentunya dapat membuat kecemasan yang dimana kecemasan tersebut tentu saja akan mengakibatkan permasalahan berantai terhadap masyarakat dan juga hewan-hewan peliharaan yang ada. Permasalahan kecemasan pada manusia tentunya akan berefek pada tingkat imunitas pada masing-masing individu. Ketika imunitas menurun, tubuh dapat terserang penyakit dengan mudah sehingga adanya kemungkinan peningkatan kasus covid 19 baru di masyarakat. Selain itu permasalahan ini juga dapat menyebabkan para pemilik hewan menjadi panik sehingga menelantarkan hewan – hewan peliharaan mereka, dimana hewan peliharaan tidak terbiasa untuk mandiri di jalanan dan melanggar animal welfare.

Oleh karena itu menurut saya, permasalahan yang ada dapat diatasi dengan melakukan edukasi secara baik dan benar serta menggunakan data – data yang berasal dari sumber-sumber terpercaya. CDC dan OiE (World Organisation for Animal Health) menjelaskan bahwa penularan dari hewan peliharaan ke manusia sangat kecil kemungkinannya begitupun sebaliknya dari manusia ke hewan, sehingga masyarakat tidak perlu panik dan tetap memperlakukan hewan peliharaannya seperti anggota keluarga sendiri. Hewan-hewan yang memungkinkan untuk tertular covid 19 walaupun kecil kemungkinannya adalah non-human primate, musang, kucing, hamster dan anjing sementara berdasarkan penelitian yang ada, tikus, babi, ayam dan bebek diketahui tidak terinfeksi ataupun tidak menyebarkan virus covid 19. Hewan peliharaan yang diketahui terkena covid 19 diketahui karena kontak yang sangat dekat dengan masyarakat yang mengidap covid 19 oleh karena itu sebaiknya dilakukan tindakan pencegahan seperti jaga jarak hewan peliharaan setidaknya dua meter dari masyarakat selain keluarga dan menerapkan sanitasi dan higiane yang baik. Jika hewan peliharaan terduga dan terkonfirmasi mengidap covid 19, jangan panik karena sejauh ini gejala yang muncul hanyalah gejala ringan ataupun tanpa gejala. Menurut CDC tindakan yang dilakukan setelah hewan peliharaan terkonfirmasi mengidap covid 19 adalah melakukan isolasi hewan peliharaan tersebut dan tidak perlu membawanya ke dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan atau treatment secara tatap muka, telemedicine merupakan langkah yang tepat dan yang terpenting adalah melakukan update kesehatan hewan peliharaan yang terkonfirmasi mengidap covid 19 secara rutin.

KEJADIAN PENULARAN COVID 19 DARI HEWAN PELIHARAAN KE MANUSIA

Daftar Pustaka

Centers for Disease Control and Prevention. Pets and Other Animals. Dari https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/positive-pet.html (Diakses, 03 Juli 2020).

World Organisation for Animal Health. Specific technical information and recommendations. Dari https://www.oie.int/scientific-expertise/specific- information-and-recommendations/questions-and-answers-on-2019novel- coronavirus/ (Diakses, 03 Juli 2020).

Disusun Oleh :

Khairunnisa Lazuardini (130210170046)

Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Khairunnisa17004@mail.unpad.ac.id

Upaya Mengatasi Kecemasan Masyarakat dari Sudut Pandang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Hasil survei yang dijalankan oleh Center For Social Political Economic and Law (CESPELS) menyatakan sebanyak 45% responden menilai pemerintah lamban mengatasi penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia. Hal ini berpengaruh terhadap rasa cemas dan takut di masyarakat karena virus corona dapat menyebar lebih luas dibandingkan sebelumnya. Lembaga Riset CESPELS juga menggelar survei tentang pandangan masyarakat terkait Covid-19, penanganan pemerintah dan dampak sosial ekonominya. Sebanyak 1053 responden dilibatkan, lalu survei yang dilakukan menghasilkan data bahwa tingkat kecemasan masyarakat terhadap Covid- 19 cukup tinggi. Survei yang melibatkan 34 provinsi di Indonesia ini menyebutkan bahwa tingkat kecemasan masyarakat yang cukup tinggi, tercermin dari temuan bahwa mayoritas responden merasa cemas (54,4%) dan sangat cemas (35,6%) akibat Covid-19. Selain itu, mayoritas responden (51%) juga merasa lingkungan sekitarnya kurang aman.

Berangkat dari fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini, diketahui bahwa jumlah kasus positif Covid-19 masih terus mengalami peningkatan setiap harinya. Hal ini tidak terlepas dari keputusan pemerintah yang telah menetapkan kebijakan new normal setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar atau yang biasa kita kenal dengan istilah PSBB kembali dilonggarkan. Untuk mendorong keberhasilan new normal atau tatanan normal baru ini diperlukan adanya sinergitas antara pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Baik pemerintah maupun masyarakat harus memiliki kedisiplinan dalam melaksanakan protokol kesehatan di berbagai aktivitas sehari-hari, terlebih bagi orang-orang dengan pekerjaan atau kegiatan yang memang membutuhkan interaksi dengan banyak orang.

Kemunculan Covid-19 di Indonesia menyebabkan beragam dampak yang merugikan banyak pihak. Virus ini memicu kekhawatiran di seluruh penjuru dunia karena belum juga mereda. Kekhawatiran yang disebabkan oleh Covid-19 ini harus ditanggapi secara cepat oleh pemerintah sebagai pemegang otoritas. Salah satu tugas utama pemerintah adalah meredakan kecemasan masyarakat dengan cara komunikasi. Komunikasi publik menjadi salah satu upaya yang bisa dijadikan solusi bagi pemerintah untuk meredakan kecemasan dan kekhawatiran publik. Komunikasi menjadi sangat krusial di tengah pandemi karena banyak nya informasi yang bersebaran tanpa bukti yang valid. Edukasi, sosialisasi, dan komunikasi memang menjadi garda utama untuk memerangi kesimpangsiuran informasi. Pemerintah pun tidak bisa bergerak sendiri, akan tetapi harus ada bantuan dan dukungan dari masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga harus memberi edukasi kepada masyarakat bahwa dari angka kematian akibat COVID-19, maka masyarakat harus memiliki proteksi diri yang baik. Yakni, dengan selalu menggunakan masker saat berada di luar rumah, sering cuci tangan, dan hidup bersih. Edukasi ini penting untuk mengurangi gejala stres publik. Kenapa pemerintah harus mengedukasikan hal tersebut? Jawabannya, di samping media (surat kabar/elektornik) memainkan peran, ialah karena pemerintah sebagai sumber kepercayaan informasi dari masyarakat, sehingga mau-tidak-mau edukasi terkait hal tersebut sangat penting. Pemerintah juga bisa bekerja sama dengan pihak kesehatan untuk memberikan layanan psikologis melalui aplikasi elektronik. Melalui cara ini, maka pemerintah dapat membantu meringankan gangguan psikologis publik akibat wabah Covid-19. Solusi lain yang tidak kalah penting yaitu dengan memberikan atau menyediakan layanan informasi terpadu dari satu pintu yang dapat dipercaya dan diakses dengan mudah oleh masyarakat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi penyebaran berita atau informasi yang simpang siur dan tidak benar kepada masyarakat, jika hal ini tidak diatasi dengan baik dan tepat maka masyarakat akan selalui dihantui oleh perasaan cemas dan khawatir akan kasus Covid 19.

Sekarang penggunaan masker adalah sebuah kewajiban ketika di luar rumah. Pemerintah juga mewajibkan semua orang untuk memakai masker guna mencegah penyebaran Covid-19. Hal tersebut juga didukung oleh WHO sebagai upaya mendukung pemerintah yang ingin memiliki pendekatan terukur untuk penggunaan masker dan memasukkan itu sebagai bagian dari strategi komprehensif untuk mengendalikan penyakit ini. Sebenarnya masih ada pro-kontra terhadap penggunaan masker di Indonesia maupun di luar negeri. Pemerintah Indonesia telah menginstruksikan penggunaan masker kepada warganya saat berada di luar rumah demi mencegah penularan virus corona. Dalam keadaan yang tepat, masker sangat membantu untuk mengurangi penularan infeksi. Penggunaan masker pun sangat dianjurkan bagi petugas medis,” kata Dr Killingley dikutip dari mirror.co.uk. Wakil Pejabat Medis Tertinggi di Australia Profesor Paul Kelly justru mengatakan masker sangat penting bagi tenaga medis, melansir ABC News. Dari pernyataan di atas saja sudah membuktikan antara satu negara dengan negara lain saja bisa beda pandangan apalagi antar masyarakat. Dari masalah di atas perlu diketahui kondisi terkini masyarakat, aturan social distancing, penggunaan masker, dan gaya hidup bersih mereka.

Untuk mengetahui alasan tersebut bisa digunakan dari sebuah sumber data. Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. (Sugiyono, 2013:196) juga mengemukakan sumber data menggunakan dua sumber yaitu Data Primer dan Data Sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2013:225). Metode pengumpulan data primer dengan menggunakan angket atau kuisioner, wawancara, focus group discussion, dan diservasi. Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, tetapi melihat orang lain atau dengan dokumen (Sugiyono, 2013:225). Metode pengumpulan data sekunder dengan menggunakan studi literatur dan studi dokumentasi. Kondisi seperti sekarang yang mengharuskan untuk melakukan semua nya dari rumah, kita bisa menggunakan metode pengumpulan data primer.

Metode penelitian atau desain penelitian merupakan bagian dari metodologi. Metodologi penelitian bisa digunakan ke berbagai macam riset desain. Ada beberapa macam desain penelitian yang bisa kita pilah sesuai dengan penelitian yang ingin kita lakukan, antara lain metode correlational, metode, causal comperative, metode experimental, metode ethnographic yang biasanya digunakan dalam bidang sosial, metode historica research, metode survey dan ada juga action research dimana penelitian ini para penelitinya terlibat langsung di dalamnya, penelitian ini biasanya digunakan dalam penelitian bidang sosial. Penelitian survei termasuk ke dalam penelitian yang bersifat kuantitatif untuk meneliti perilaku suatu individu atau kelompok. Pada umumnya penelitian survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengambil data. Angket atau Kuesioner adalah metode pengumpulan data, instrumennya disebut sesuai dengan nama metodenya. Bentuk lembaran angket dapat berupa sejumlah pertanyaan tertulis, tujuannya untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang ia alami dan ketahuinya. Seiring dengan perkembangan, kuisioner bisa dilakukan secara online dengan menggunakan google form. Nantinya pilihan jawaban akan diberikan namun responden tetap diberi kesempatan untuk menjawab sesuai dengan apa yang mereka alami. Kuisioner tersebut akan berisi pertanyaan dan/atau pernyataan seputar keadaan masyarakat di tengah pandemi, social distancing, penggunaan masker, kebiasaan cuci tangan, dan mengenai komunikasi publik yang sudah dilakukan pemerintah. Keseluruhan data responden tersebut nantinya akan disimpulkan mengenai poin-poin di atas dan di analisa poin mana yang belum dilakukan dengan baik. Selain itu juga untuk mengetahui apakah sampai sekarang kecemasan dan keresahan masih dirasakan masyarakat, karena keadaan di bulan Maret dengan Juli ini sudah sangat berbeda. Dan apakah tingkat kecemasan mereka berbeda juga atau tidak.

Dengan adanya angket atau kuisioner tersebut dapat diketahui pula apakah masyarakat sudah menerapkan kebijakan New Normal yang digagas pemerintah. Dikarenakan pemerintah yang sepenuhnya memegang data valid mengenai fakta kondisi pandemi Covid-19, kita bisa membantu untuk mempublikasikan mengenai penggunaan masker, kebiasaan cuci tangan, pola hidup bersih, upaya mengatasi kecemasan, edukasi mengenai komunikasi publik, dan social distancing di media sosial yang sering digunakan oleh masyarakat pada umumnya seperti Instagram, Twitter, Youtube, dan lain-lain se kreatif mungkin guna menarik perhatian masyarakat. Selain itu juga bisa dibuat sebuah forum komunikasi sebagai wadah untuk menyampaikan keluh kesah masyarakat guna mengurangi kecemasan mereka. Diharapkan dengan upaya tersebut dapat mengurangi kecemasan dan menambah kesadaran akan pentingnya kesehatan sendiri dan orang lain.

Daftar Pustaka

A, S. Ss. (2015). DASAR METODOLOGI PENELITIAN. In Dr. Sandu Siyoto, SKM., M.Kes, Dasar Metodologi Penelitian; Editor: Ayup—Cetakan 1—Yogyakarta: Literasi Media Publishing, Juni 2015.

CNN Indonesia. 2020. WHO Kini Dukung Semua Orang Pakai Masker Cegah Covid-19. Tersedia di https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200405061442-134- 490399/who-kini-dukung-semua-orang-pakai-masker-cegah-covid-19

CNN Indonesia. 2020. Survei: Mayoritas Warga Sebut Pemerintah Lamban Atasi Corona. Tersedia di https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200511183044-20-502218/survei- mayoritas-warga-sebut-pemerintah-lamban-atasi-corona

Nisaputra, Rezkiana. 2020. Tingginya Tingkat Kecemasan Masyarakat Akan Covid-19. Tersedia di https://infobanknews.com/topnews/tingginya-tingkat-kecemasan-masyarakat-akan- covid-19/

Pelupessy, M. K. (2020). Mencegah Kecemasan Publik Akibat Wabah COVID-19. Tersedia di https://beritabeta.com/opini/mencegah-kecemasan-publik-akibat-wabah-covid-19/

Singestecia, R., Handoyo, E., & Isdaryanto, N. (2018). Partisipasi Politik Masyarakat Tionghoa dalam Pemilihan Kepala Daerah di Slawi Kabupaten Tegal. JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan Dan Sosial Politik UMA (Journal of Governance and Political Social UMA).

Disusun Oleh :

Gelah Lesik Marwa (170410170051)

Novia Rahmah Dinnilhaq (170810170026)

Syafa Risya Azahra (170110180072)

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran

gelah17001@mail.unpad.ac.id; novia17004@mail.unpad.ac.id; syafa18002@mail.unpad.ac.id

Konsumsi Protein Hewani Sebagai Salah Satu Upaya dalam Meningkatkan Imunitas Tubuh di Masa New Normal

Pada awal tahun 2020, seluruh dunia digemparkan dengan adanya wabah baru yang berasal dari Wuhan, China. Wabah ini menyebar dengan sangat cepat ke lebih dari 190 negara. Wabah ini diberi nama Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Pada Desember 2019, kasus ini pertama kali dikaitkan dengan pasar ikan di Wuhan yang belum diketahui sumber penularannya. Kasus ini semakin hari semakin meningkat di China hingga menyebar ke negara lainnya. Virus corona ditularkan dari manusia ke manusia. WHO mengumumkan bahwa Coronavirus disease 2019 (COVID-19) sebagai pandemik pada 12 Maret 20201.

Pada tanggal 2 Maret 2020, pertama kali dilaporkan bahwa kasus Covid- 19 di Indonesia sejumlah dua kasus2. Per 03 Juli 2020, terdapat 60.695 terkonfirmasi kasus, 30.091 dalam perawatan, 27.568 sembuh dan 3.036 kasus kematian di Indonesia3. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar penyebaran covid 19 ini tidak meluas, mulai dari melakukan social distancing, physical distancing, lockdown kemudian pembatasan sosial berskala besar (PSBB) serta PSBB Transisi diberbagai daerah dan saat ini adalah new normal dengan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Penyebaran wabah pandemik ini memberi dampak yang sangat luar biasa dan nyata secara luas baik sosial maupun ekonomi. Pemerintah terus melakukan berbagai upaya yang bisa dilakukan agar wabah ini tidak menyebar secara luas lagi. Informasi mengenai covid-19 terus disampaikan kepada masyarakat, mulai dari update kasus covid-19, terus mengingatkan protokol kesehatan, memakai masker, sering mencuci tangan, pola hidup sehat, social distancing, dan lainnya.

Pemberitaan mengenai covid-19 setiap harinya tidak ada hentinya bahkan banyak pula informasi hoaks menyebar luas yang seringkali membuat masyarakat waswas terhadap isu-isu yang bermunculan di media sosial. Oleh karena itu, masyarakat harus selektif dalam memahami berita serta mencari tahu kembali berita tersebut akan kebenarannya, salah satunya bisa melalui website resmi dari pemerintah seperti https://covid19.go.id/. Sikap was-was yang berkepanjangan dapat membuat seseorang mengalami kecemasan ataupun stress yang berlebih. Hal ini perlu diwaspadai, ketika tingkat kecemasan seseorang meningkat, maka dapat membuat sistem imun menurun. Padahal, daya tahan tubuh yang baik dapat mencegah virus ini masuk ke dalam tubuh.

Rehatta (1999); Guyton & Hall (1997) menjelaskan bahawa konsep psikoneuroimunologi menjelaskan kecemasan sebagai stresor yang bisa menurunkan imun tubuh. Hal ini terjadi melalui serangkaian aksi yang diperantarai oleh aksi Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal sehingga merangsang hormon hipofisis anterior untuk meningkatkan produksi ACTH (Adrenocorticotropic hormone). Hormon ini akan merangsang korteks adrenal untuk meningkatkan sekresi kortisol yang selanjutnya akan menekan sistem imun tubuh. Selain rasa cemas ataupun stress yang dapat dialami oleh seseorang bukan hanya dari pemberitaan tentang covid-19 saja, akan tetapi terlalu lama dirumah dengan kegiatan yang itu itu saja juga dapat mempengaruhi kesehatan.

Menjaga imunitas tubuh sangatlah penting dilakukan pada masa pandemi covid-19 ini. Selain menjaga pola hidup bersih dan sehat, diperlukan juga asupan makanan yang baik yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Salah satunya dengan banyak mengkonsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung protein tinggi. Bahan pangan sumber protein hewani diantaranya ada telur, susu dan daging yang mengandung protein tinggi dan penghasil komponen bioaktif untuk meningkatkan imun tubuh yang dikenal dengan Conjugated Linoleic Acid (CLA). Standar nasional untuk konsumsi daging adalah sebanyak 10,3 kg/kapita/tahun, telur 6,5 kg/kapita/tahun dan susu 7,2 kg/kapita/tahun4.

Perekonomian masyarakat pada masa pandemi covid-19 ini terbatas, diantara bahan pangan sumber protein hewani yang dapat menjadi alternatif adalah telur. Sebab harga telur lebih terjangkau dibandingkan dengan bahan pangan sumber protein lainnya. Telur juga memiliki keunggulan lainnya yang dijelaskan oleh Manik (2020), bahwa telur mengandung air, karbohidrat, lemak, protein, bermacam vitamin dan mineral, serta trace element lainnya. Lemak pada bagian kuningnya (yolk) yang disebut High Density Lipoprotein (HDL), yang selama ini dikenal sebagai asam lemak baik. Serta OMEGA 3, OMEGA 6, bahkan OMEGA 9 yang terakumulasi pada bagian yolk-nya dan dapat memperbaiki respons imun serta vitamin A, yang mampu menjaga kesehatan kulit dan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, harus terus dilakukan sosialisasi ataupun kampanye secara daring akan pentingnya mengkonsumsi protein hewani sehingga dapat meningkatkan imunitas tubuh sehingga terhindar dari virus ini serta aksi nyata seperti membagikan telur secara gratis kepada masyarakat. Semua pihak harus saling bekerja sama dalam mewujudkan ini semua ini, saling mengingatkan serta meningkatkan sikap tidak acuh terhadap kesehatan diri.

 

Daftar Pustaka

World Health Organization. WHO Director-General’s opening remarks at the media briefing on COVID-19. Dari https://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-generals-opening- remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19—11- march-2020 (Diakses, 03 Juli 2020).1

World Health Organization. Situation Report – 42. Dari https://www.who.int/docs/defaultsource/coronaviruse/situationreports/202 00302-sitrep-42-covid-19.pdf?sfvrsn=224c1add_2. (Diakses, 03 Juli 2020).2

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Info Data Peta Sebaran. Dari https://covid19.go.id/peta-sebaran. (Diakses, 03 Juli 2020).3

Rehatta, N.M. 1999. Pengaruh Pendekatan Psikologis Prabedah T erhadap Toleransi Nyeri Dan Respon Ketahanan Imunologik Pasca Bedah (Disertasi, Pasca Sarjana Universitas Airlangga) Universitas Airlangga, Surabaya.

Guyton, & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. (Terjemahan bahasa indonesia)

Drh. Edy Dharma. 2020. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah. Dari https://disnakkeswan.jatengprov.go.id/read/melawan- pandemi-covid-19-melalui-peningkatan-konsumsi-protein-hewani (Diakses 03 Juli 2020).4

Manik Eirry Sawitri. 2020. UB: Manfaat Telur Tingkatkan Imunitas untuk Cegah Covid-19. Dari https://www.medcom.id/pendidikan/riset- penelitian/GKdOp5dk-ub-manfaat-telur-tingkatkan-imunitas-untuk-cegah- covid-19 (Diakses 04 Juli 2020).

Disusun Oleh :

Ina Marlina (200110170100)

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

Ina17001@mail.unpad.ac.id

Edukasi Covid-19 Secara Daring Kepada Masyarakat Guna Mengurangi Kecemasan di Masa Pandemi

Sejak Indonesia mengonfirmasi adanya pasien positif virus corona, banyak orang yang menjadi panik dan reaktif yang sebenarnya justru merugikan diri sendiri. Karena kepanikan pula, banyak orang yang percaya begitu saja pada setiap informasi yang diterimanya melalui media sosial atau aplikasi percakapan. Banyak pula informasi hoax, termasuk soal corona yang beredar sehingga menambah rasa kecemasan. Rasa stres dan cemas berlebihan akan tertular penyakit sebenarnya justru bisa menurunkan kekebalan tubuh. Padahal, untuk mencegah infeksi virus dibutuhkan daya tahan tubuh yang baik. Tak sedikit penelitian yang menyebutkan efek stres pada sistem imun. Ketika kita dilanda stres, kemampuan sel darah putih untuk melawan infeksi (limfosit) berkurang. Makin rendah limfosit, makin rentan kita terinfeksi virus, termasuk influenza dan peradangan. Akhir-akhir ini, masyarakat diselimuti kekhawatiran akibat wabah virus Corona. Pasalnya, infeksi yang menyerang sistem pernapasan ini memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa. Baik flu biasa maupun COVID-19 sama-sama disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernapasan manusia. Gejala yang mirip dengan flu biasa ini membuat masyarakat menjadi sangat cemas,apalagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan (awam) yang tidak tahu kebeneran mengenai virus ini yang hanya menerima informasi atau berita dari rumah ke rumah sehingga menyebabkan berita yang simpang siur. Banyak orang yang mengira apabila tubuhnya merasa demam sedikit,batuk dan bersin sudah langsung beranggapan bahwa dirinya sudah terjangkit virus corona.

Pada kenyataannya virus corona ini sangat lah berbeda dengan flu biasa, kedua virus ini berasal dari golongan yang berbeda dan memiliki karakteristik yang berbeda pula.Virus penyebab flu berasal dari golongan rhinovirus. Virus ini menyebar dari manusia ke manusia dan paling sering menyerang anak- anak atau remaja. Infeksi rhinovirus bisa terjadi sepanjang tahun, tapi paling sering di musim hujan. Sedangkan COVID-19 disebabkan oleh virus dari golongancoronavirus. Flu biasa terjadi ketika rhinovirus menyerang saluran pernapasan. Umumnya, keluhan yang muncul datang dari hidung dan tenggorokan (saluran pernapasan atas) disertai bersin-bersin,hidung tersumbat dan berair ,sakit tenggorokan,sakit kepala ringan,batuk dan demam (jarang). Namun flu umumnya dapat sembuh sendiri dalam waktu 4–9 hari. Semakin kuat daya tahan tubuh, semakin cepat flu sembuh. Oleh karena itu, dokter akan menyarankan penderita flu untuk banyak beristirahat, makan makanan bernutrisi, dan minum air putih yang cukup. Sedangkan Gejala penyakit flu yang diakibatkan COVID-19 adalah demam, batuk kering, dan nafas pendek. Keberadaan virus ini di paru-paru akan mengubah pola kolonisasi bakteri yang ikut menginfeksi paru-paru dan meningkatkan kemampuan adhesi bakteri ke jaringan epitel paru-paru. Kasus fatal yang diakibatkan nCoV-2019 adalah kerusakan pada difusi alveolar di paruparu [1]. Ketakutan masyarakat terhadap COVID-19 lebih disebabkan karena virus nCoV-2019 dengan cepat menyebabkan flu yang diikuti dengan manifestasi pneumonia yang berlanjut dengan kegagalan pernafasan yang parah. Adanya komplikasi dengan penyakit bawaan seperti hipertensi, kardiovaskular, masalah ginjal, liver, asma dan diabetes, sering kali menjadi penyebab kematian pasien COVID-19. Masa inkubasi virus nCoV-2019 terjadi antara 2-14 hari setelah terinfeksi virus [2]. Penularan virus paling utama terjadi melalui kontak langsung dengan penderita COVID-19 dan penderita COVID-19 yang telah sembuh, melalui partikel cairan dari bersin, batuk dan berbicara, juga dari partikel virus yang melekat benda serta di sarana publik seperti transportasi umum, toilet umum, gedung pertemuan dan pusat perbelanjaan.

Dari perspektif pandangan biologi masalah kecemasan yang terjadi oleh masyarakat akibat pandemi virus corona ini dapat diaatasi dengan cara membagikan informasi ke media sosial dengan membagikan informasi (Ilmu) yang jelas kepada masyarakat tentang virus coronanya sendiri ,cara penyebaran dan ciri –ciri yang benar mengenai gejala covid ini,serta membudayakan hidup yang bersih dan sehat salah satu nya membersihkan pekarangan rumah maupun lingkungan sekitar, dengan membagikan informasi yang jelas kepada masyarakat dapat mengurangi tingkat kecemasan masyarakat terhadap pandemi virus corona ini.

 

Daftar Pustaka 

[1] F. Eun-hyung Lee and J. J. Treanor, Infectious Diseases of the Lungs 32 Viral

Infections, Sixth Edit. Elsevier Inc., 2016.
[2] Z. Chen et al., “From SARS-CoV to Wuhan 2019-nCoV Outbreak: Similarity of

Early Epidemic and Prediction of Future Trends,” SSRN Electron. J., 2020.

Disusun Oleh :

Febri Deyanti Putri (140410170010)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran

febri17003@mail.unpad.ac.id

Literasi Digital Sebagai Upaya Meningkatkan Sikap Bijak Dalam Menerima Informasi di Masa Pandemi Covid-19

Saat ini, virus Covid-19 masih banyak diperbincangkan di tengah masyarakat. Artikel, siaran dan diskusi tentang virus ini setiap hari menjadi asupan masyarakat yang sedang mencari informasi. Namun, dengan banyaknya permasalahan yang terjadi di masa pandemi Covid-19 ini, masyarakat lebih banyak menerima informasi yang berkonotasi negatif daripada yang positif. Hal ini diperparah dengan adanya berita hoax atau berita yang tidak sepenuhnya benar. Kecemasan dan hoax dalam masyarakat pun tidak terelakkan. Adanya kecemasan dapat membuat masyarakat menjadi stress. Oleh karena itu, penggunaan bahasa dalam menyampaikan informasi harus diperhatikan oleh setiap sumber. Seperti yang Yule (1996) katakan, selain memenuhi kebutuhan manusia dalam melakukan tindakan melalui ucapan mereka, bahasa juga sangatlah dibutuhkan untuk menyampaikan pesan atau informasi antara sesama. Penggunaan bahasa yang bersifat satu arah dari awak media, seperti berita dari radio, siaran televisi, surat kabar, majalah, dan lain-lain, sangatlah rentan dalam mempengaruhi pandangan dan reaksi masyarakat. Keadaan ini akan sangat berbahaya terutama dalam masa penyebaran virus seperti saat sekarang ini. Selain mengikuti protokol kesehatan, menurunkan kecemasan dalam masyarakat dapat membantu mereka menjaga imunitas humoral, sehingga kekebalan tubuh mereka akan lebih baik. Salah satu cara dalam melakukan ini adalah memberikan kesadaran ke masyarakat akan masalah penggunaan bahasa yang cenderung

terjadi, serta memberikan solusi penanggulangan seperti sikap yang baik dalam menerima informasi. Oleh karena itu, mensosialisasikan dan memberikan edukasi akan literasi digital ke masyarakat dapat menurunkan kecemasan mereka dari penerimaan informasi negatif di masa pandemi Covid-19.

Informasi dapat disalurkan dalam berbagai cara, salah satunya adalah melalui media digital. Sutrisna (269: 2020) menyatakan bahwa media digital adalah salah satu alat yang telah memudahkan penggunanya dalam membagikan informasi. Berdasarkan hasil survei yang didapat oleh APJII 2016, tercatat sebesar 97,5% aktivitas penyebaran informasi dalam penggunaan media digital. Sehingga hal ini lah yang menjadi aktivitas tertinggi dalam jenis media tersebut. Dengan begitu, tak dapat dipungkiri bahwa wadah ini sangatlah berpengaruh pada konsumsi berita masyarakat, terutama tentang pandemi Covid-19. Mudahnya informasi yang tersebar luas menurunkan keamanan dan kepastian sumber informasi yang diberikan. Masyarakat pun mudah termakan informasi dengan kredibilitas tidak jelas, provokatif, negatif, hingga hoax. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan pada masyarakat.

Informasi-informasi negatif yang muncul saat terjadinya pandemi virus Covid-19 begitu beragam, salah satu contohnya adalah hoax. Adanya hoax di Indonesia telah membuktikan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memiliki kemampuan atas literasi digital. Dalam pembahasannya, Sutrisna (270: 2020) menyatakan bahwa generasi abad ke-21 lah yang memiliki kompetensi digital paling baik. Generasi ini diyakini memiliki keahlian dalam mengakses media digital. Namun, selain paham bagaimana mengakses, perlu juga paham bagaimana menggunakan media digital agar tidak salah dalam pemanfaatannya. Ditambah lagi, belum tentu pula semua golongan masyarakat memiliki kompetensi yang sama baiknya.

Literasi digital penting digunakan untuk dapat mengantisipasi penyebaran informasi- informasi negatif. Akan menjadi sangat bermanfaat bagi kita untuk mengetahui arti dari literasi digital yang begitu dibutuhkan dalam penggunaannya di tengah-tengah pandemi, beserta langkah-langkah dalam pemanfaatannya. Literasi digital dapat diartikan sebagai keterampilan dalam mengakses, memahami, lalu menyebarluaskan informasi. Konsep literasi digital sama seperti kegiatan menulis dan membaca pada umumnya. Namun, kemampuan literasi digital bukan hanya menitikberatkan pada kemampuan teknologi saja, melainkan juga kemampuan dalam memiliki sikap berpikir yang kritis, kreatif, dan inspiratif. Pekerjaan-pekerjaan tiap individu yang dialihkan dengan dikerjakan di rumah dalam masa pandemi Covid-19 membuat masyarakat semakin sering menggunakan teknologi. Hal ini membuat pemanfaatan media digital menjadi semakin tinggi dalam mencari informasi.

Oleh karena itu, literasi digital menjadi hal yang begitu dibutuhkan pada masa pandemi Covid-19. Sosialisasi literasi digital kepada masyarakat tidak terlepas dari adanya tujuan untuk mengedukasi masyarakat dalam pemanfaatan media digital. Pemanfaatan media ini pun dapat melalui beberapa tahapan; tahap menemukan, mengevaluasi, menggunakan, mengelola, dan membuat beragam informasi secara bijaksana. Adapun strategi yang dapat dilakukan dalam rangka mengedukasi masyarakat mengenai literasi digital:

  1. Sosialisasi hukum dalam Undang-Undang No. 19 tahun 2016 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik juga pembelajaran mengenai etika bermedia digital.
  2. Edukasi mengenai penggunaan aplikasi literasi digital, seperti Goodreads, Google Play Book, dan sejenisnya. Dapat pula memberikan arahan kepada masyarakat untuk mengikuti website resmi dari pemerintah untuk mendapatkan informasi akurat mengenai berita Covid-19 terbaru.
  3. Memberikan informasi dan pembelajaran terkait literasi digital untuk menurunkan kecemasan atas adanya informasi-informasi negatif yang tersebar luas di masyarakat. Di tengah pandemi virus Covid-19, banyak informasi-informasi negatif yang muncul karena situasi yang kurang baik, ditambah lagi dengan penggunaan bahasa yang terkadang rancu dan berfokus pada sisi buruk saja. Adanya hoax adalah salah satu contoh dari konsumsi informasi yang negatif di masyarakat. Munculnya hoax dan informasi yang bersifat negatif dapat membuat masyarakat menjadi cemas dan stress. Hal ini tentu saja dapat membahayakan imunitas humoral mereka terutama di masa pandemi ini. Salah satu cara untuk menanggulangi kecemasan dalam masyarakat adalah dengan memahami kemampuan literasi digital yang baik. Literasi digital adalah kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima di era digital termasuk media sosial. Kemampuan ini sangat dibutuhkan di pada saat ini, bahkan sifatnya wajib. Selain literasi digital, diperlukan juga kemampuan menerima, mengolah, dan memilih informasi. Dengan memahami tiga cara ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam memproses informasi. Oleh karena itu kemampuan literasi digital dapat membantu masyarakat untuk tetap tenang di tengah pandemi, karena dalam situasi penyebaran virus Covid-19, sangat penting untuk kita semua bisa menjaga dan bijak dalam berbagi informasi serta tetap terhubung dengan teman-teman dan keluarga.

Literasi Digital di Masa Pandemi Covid-19

Daftar Pustaka

Sutrisna, I Putu Gede. 2020. Gerakan Literasi Digital Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Stilistika. Vol. 8, No. 2.

Yule, G. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.

Disusun Oleh :

Havieka Juliandita Yoan (180410170086)

Hani Halimatussadiah  (180110180015)

Linda Choeriah Fitriani (180910170008)

Salsha Meidi Aviva (180510170006)

Dhyaza Nuri Amilla (180510170009)

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

havieka17001@mail.unpad.ac.id; hani18001@mail.unpad.ac.id; linda17003@mail.unpad.ac.id; salsha17001@mail.unpad.ac.id; dhyaza17001@mail.unpad.ac.id

Efektivitas Komunikasi di masa Pandemi Covid-19

Dunia kini sedang digemparkan oleh masa pandemi Covid-19, dampak yang diberikan oleh pandemi ini tentu tidak hanya merugikan satu pihak tetapi seluruh pihak yang di dunia termasuk Indonesia. Sejak febuari Indonesia telah melakukan pencegahan penyebaran virus covid-19 dengan cara melakukan Work From Home, untuk sebagian masyarakat Indonesia tersendiri tentu ini merupakan hal baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Melihat dari kegiatan Work From Home yang dilakukan pada saat pandemi ini menimbulkan beberapa efek yaitu terbatas nya jaringan komunikasi terutama efektivitas dalam komunikasi itu sendiri. Pada saat ini teknologi memang menjadi senjata utama dalam menjalankan kegiatan WFH, terlepas dari itu sendiri teknologi juga tidak sepenuhnya dapat melakukan kegiatan efektivitas komunikasi yang cukup ketimbang bertatap muka langsung.

Berbicara mengenai pandemi tentunya masyarakat membutuhkan informasi real mengenai perkembangan virus ini, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebab penyebaran virus covid-19 ini. Pada saat ini satu-satunya kepercayaan informasi untuk didapatkan masyarakat yaitu melalui pemerintah, sebuah pusat informasi yang diberikan masyarakat melalui saluran media kemudian masyarakat memberikan feedback kepada si komunikator. Model komunikasi ini juga dapat diambil dari sumber model komunikasi Laswell yaitu:

Who (Communicator) Peran yang dimainkan pada saat ini adalah pemerintah sebagai sebuah sumber informasi atau sebagai pembuat pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat sekaligus penanggung jawab atas kebenaran sebuah pesan tersebut. Kemudian In which channel (Medium) yaitu sebagai saluran penyampaian informasi melalui media seperti media sosial, radio, televisi, yang menjadi media informasi pada saat ini dipakai oleh kebanyaan masyarakat Indonesia, lalu diterima oleh To whom (Receiver) masyarakat itu sendiri dari informasi yang dibuat oleh pemerintah disampaikan melalui media kemudian informasi tersebut disaring atau biasa disebut gatekeeper agar pesan tersebut dapat diterima oleh masyarakat. Bagian terakhir dari sebuah model ini adalah feedback dimana masyarakat memberikan sebuah tanggapan atau efek dari informasi yang mereka terima baik itu positif maupun negatif semua itu tergantung dari pesan yang disampaikan kepada masyarakat.

Fakta yang terjadi pada saat ini ternyata tidak seperti apa yang dijelaskan sebelumnya. Mengingat bahwa dunia digital pada saat ini sangat menguasai pasar menjadikan media pada saat ini berkompetisi untuk mencari berita terbaru dengan tujuan untuk mengajak masyarakat menerima informasi dari satu media saja. Akibat dari hal tersebut pesan yang diberikan oleh komunikator kepada media tidak dapat diproses melalui gatekeeper terlebih dahulu, karena proses tersebut membutuhkan waktu sedangkan media sekarang ini lebih mengoptimalkan jam tayang ketimbang sebuah isi pesan. Ketika pesan tersebut tersampaikan kepada masyarakat menimbulkan feedback baik kepada media itu sendiri maupun kepada komunikator, masyarakat bisa menjadi marah, cemas, bingung, atau kehilangan kepercayaan terhadap media tersebut maupun komunikator itu sendiri. Efek yang ditimbulkan masyarakat selain itu adalah mereka akan mencari sebuah informasi dari sumber lain untuk mendapatkan informasi yang lainnya tanpa ada hambatan maupun membesarkan satu pihak didalam informasi tersebut, dari aspek ini lah berita hoax bermunculan dan ini menjadi salah satu masalah yang seringkali terjadi di masyarakat.

Sebagai penulis saya ingin memberikan sebuah solusi yang mungkin dapat menyelesaikan sebuah permasalahan yang terjadi pada saat ini menurut sudut pandang penulis. Saya sebagai masyarakat lebih suka ketika sebuah informasi yang datang kepada saya yaitu dari orang terdekat ataupun orang yang terpercaya. Saya percaya informasi yang diberikan pemerintah mengenai pemberitaan covid-19 ini baik terpercaya dan real, tetapi proses tersampaikan informasi tersebut yang menjadi pertimbangan untuk saya, terkadang media selalu menghebohkan sebuah informasi yang tidak perlu yang pada akhirnya masyarakat ikut dalam perdebatan yang seharusnya itu tidak menjadi sebuah perdebatan. Hal itulah banyak yang terjadi sekarang. Salah satu contoh nya ketika Covid 19 pertama kali masuk Indonesia, seharusnya ini dapat kita hadapi dengan tenang dan disiplin, akan tetapi akibat pemberitaan yang dilakukan media terlalu meledak, Efeknya yang terjadi di masyarakat adalah melakukan panic buying yang sebenarnya itu bukan hal yang seharusnya dilakukan. Dari aspek inilah membuat saya terpikirkan untuk bagaimana jika pemerintah memberikan sebuah informasi tidak hanya dari media, mungkin bisa dilakukan dengan penyuluhan kepada kelurahan masing- masing daerah kemudian kelurahan tersebut menyampaikan informasi tersebut kepada RT dan RW warga setempat melalui media yang sering kali terdapat berita hoax, sehingga efek yang diberikan masyarakat akan tetap patuh dan masyarakat juga tidak perlu takut lagi akan adanya kesalahan sebuah informasi yang diberikan dan tentunya akan terhindar dari berita hoax.

Efektivitas Komunikasi di masa Pandemi Covid-19

Daftar Pustaka

Budi, R. (2010). Pengantar Ilmu Komunikasi. Makassar. Kretakupa Print.

Disusun Oleh :

Ilham Satria Wibawa (210110170081)

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

ilham17006@mail.unpad.ac.id