Dunia kini sedang digemparkan oleh masa pandemi Covid-19, dampak yang diberikan oleh pandemi ini tentu tidak hanya merugikan satu pihak tetapi seluruh pihak yang di dunia termasuk Indonesia. Sejak febuari Indonesia telah melakukan pencegahan penyebaran virus covid-19 dengan cara melakukan Work From Home, untuk sebagian masyarakat Indonesia tersendiri tentu ini merupakan hal baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Melihat dari kegiatan Work From Home yang dilakukan pada saat pandemi ini menimbulkan beberapa efek yaitu terbatas nya jaringan komunikasi terutama efektivitas dalam komunikasi itu sendiri. Pada saat ini teknologi memang menjadi senjata utama dalam menjalankan kegiatan WFH, terlepas dari itu sendiri teknologi juga tidak sepenuhnya dapat melakukan kegiatan efektivitas komunikasi yang cukup ketimbang bertatap muka langsung.

Berbicara mengenai pandemi tentunya masyarakat membutuhkan informasi real mengenai perkembangan virus ini, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebab penyebaran virus covid-19 ini. Pada saat ini satu-satunya kepercayaan informasi untuk didapatkan masyarakat yaitu melalui pemerintah, sebuah pusat informasi yang diberikan masyarakat melalui saluran media kemudian masyarakat memberikan feedback kepada si komunikator. Model komunikasi ini juga dapat diambil dari sumber model komunikasi Laswell yaitu:

Who (Communicator) Peran yang dimainkan pada saat ini adalah pemerintah sebagai sebuah sumber informasi atau sebagai pembuat pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat sekaligus penanggung jawab atas kebenaran sebuah pesan tersebut. Kemudian In which channel (Medium) yaitu sebagai saluran penyampaian informasi melalui media seperti media sosial, radio, televisi, yang menjadi media informasi pada saat ini dipakai oleh kebanyaan masyarakat Indonesia, lalu diterima oleh To whom (Receiver) masyarakat itu sendiri dari informasi yang dibuat oleh pemerintah disampaikan melalui media kemudian informasi tersebut disaring atau biasa disebut gatekeeper agar pesan tersebut dapat diterima oleh masyarakat. Bagian terakhir dari sebuah model ini adalah feedback dimana masyarakat memberikan sebuah tanggapan atau efek dari informasi yang mereka terima baik itu positif maupun negatif semua itu tergantung dari pesan yang disampaikan kepada masyarakat.

Fakta yang terjadi pada saat ini ternyata tidak seperti apa yang dijelaskan sebelumnya. Mengingat bahwa dunia digital pada saat ini sangat menguasai pasar menjadikan media pada saat ini berkompetisi untuk mencari berita terbaru dengan tujuan untuk mengajak masyarakat menerima informasi dari satu media saja. Akibat dari hal tersebut pesan yang diberikan oleh komunikator kepada media tidak dapat diproses melalui gatekeeper terlebih dahulu, karena proses tersebut membutuhkan waktu sedangkan media sekarang ini lebih mengoptimalkan jam tayang ketimbang sebuah isi pesan. Ketika pesan tersebut tersampaikan kepada masyarakat menimbulkan feedback baik kepada media itu sendiri maupun kepada komunikator, masyarakat bisa menjadi marah, cemas, bingung, atau kehilangan kepercayaan terhadap media tersebut maupun komunikator itu sendiri. Efek yang ditimbulkan masyarakat selain itu adalah mereka akan mencari sebuah informasi dari sumber lain untuk mendapatkan informasi yang lainnya tanpa ada hambatan maupun membesarkan satu pihak didalam informasi tersebut, dari aspek ini lah berita hoax bermunculan dan ini menjadi salah satu masalah yang seringkali terjadi di masyarakat.

Sebagai penulis saya ingin memberikan sebuah solusi yang mungkin dapat menyelesaikan sebuah permasalahan yang terjadi pada saat ini menurut sudut pandang penulis. Saya sebagai masyarakat lebih suka ketika sebuah informasi yang datang kepada saya yaitu dari orang terdekat ataupun orang yang terpercaya. Saya percaya informasi yang diberikan pemerintah mengenai pemberitaan covid-19 ini baik terpercaya dan real, tetapi proses tersampaikan informasi tersebut yang menjadi pertimbangan untuk saya, terkadang media selalu menghebohkan sebuah informasi yang tidak perlu yang pada akhirnya masyarakat ikut dalam perdebatan yang seharusnya itu tidak menjadi sebuah perdebatan. Hal itulah banyak yang terjadi sekarang. Salah satu contoh nya ketika Covid 19 pertama kali masuk Indonesia, seharusnya ini dapat kita hadapi dengan tenang dan disiplin, akan tetapi akibat pemberitaan yang dilakukan media terlalu meledak, Efeknya yang terjadi di masyarakat adalah melakukan panic buying yang sebenarnya itu bukan hal yang seharusnya dilakukan. Dari aspek inilah membuat saya terpikirkan untuk bagaimana jika pemerintah memberikan sebuah informasi tidak hanya dari media, mungkin bisa dilakukan dengan penyuluhan kepada kelurahan masing- masing daerah kemudian kelurahan tersebut menyampaikan informasi tersebut kepada RT dan RW warga setempat melalui media yang sering kali terdapat berita hoax, sehingga efek yang diberikan masyarakat akan tetap patuh dan masyarakat juga tidak perlu takut lagi akan adanya kesalahan sebuah informasi yang diberikan dan tentunya akan terhindar dari berita hoax.

Efektivitas Komunikasi di masa Pandemi Covid-19

Daftar Pustaka

Budi, R. (2010). Pengantar Ilmu Komunikasi. Makassar. Kretakupa Print.

Disusun Oleh :

Ilham Satria Wibawa (210110170081)

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

ilham17006@mail.unpad.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *