Sejak Indonesia mengonfirmasi adanya pasien positif virus corona, banyak orang yang menjadi panik dan reaktif yang sebenarnya justru merugikan diri sendiri. Karena kepanikan pula, banyak orang yang percaya begitu saja pada setiap informasi yang diterimanya melalui media sosial atau aplikasi percakapan. Banyak pula informasi hoax, termasuk soal corona yang beredar sehingga menambah rasa kecemasan. Rasa stres dan cemas berlebihan akan tertular penyakit sebenarnya justru bisa menurunkan kekebalan tubuh. Padahal, untuk mencegah infeksi virus dibutuhkan daya tahan tubuh yang baik. Tak sedikit penelitian yang menyebutkan efek stres pada sistem imun. Ketika kita dilanda stres, kemampuan sel darah putih untuk melawan infeksi (limfosit) berkurang. Makin rendah limfosit, makin rentan kita terinfeksi virus, termasuk influenza dan peradangan. Akhir-akhir ini, masyarakat diselimuti kekhawatiran akibat wabah virus Corona. Pasalnya, infeksi yang menyerang sistem pernapasan ini memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa. Baik flu biasa maupun COVID-19 sama-sama disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernapasan manusia. Gejala yang mirip dengan flu biasa ini membuat masyarakat menjadi sangat cemas,apalagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan (awam) yang tidak tahu kebeneran mengenai virus ini yang hanya menerima informasi atau berita dari rumah ke rumah sehingga menyebabkan berita yang simpang siur. Banyak orang yang mengira apabila tubuhnya merasa demam sedikit,batuk dan bersin sudah langsung beranggapan bahwa dirinya sudah terjangkit virus corona.

Pada kenyataannya virus corona ini sangat lah berbeda dengan flu biasa, kedua virus ini berasal dari golongan yang berbeda dan memiliki karakteristik yang berbeda pula.Virus penyebab flu berasal dari golongan rhinovirus. Virus ini menyebar dari manusia ke manusia dan paling sering menyerang anak- anak atau remaja. Infeksi rhinovirus bisa terjadi sepanjang tahun, tapi paling sering di musim hujan. Sedangkan COVID-19 disebabkan oleh virus dari golongancoronavirus. Flu biasa terjadi ketika rhinovirus menyerang saluran pernapasan. Umumnya, keluhan yang muncul datang dari hidung dan tenggorokan (saluran pernapasan atas) disertai bersin-bersin,hidung tersumbat dan berair ,sakit tenggorokan,sakit kepala ringan,batuk dan demam (jarang). Namun flu umumnya dapat sembuh sendiri dalam waktu 4–9 hari. Semakin kuat daya tahan tubuh, semakin cepat flu sembuh. Oleh karena itu, dokter akan menyarankan penderita flu untuk banyak beristirahat, makan makanan bernutrisi, dan minum air putih yang cukup. Sedangkan Gejala penyakit flu yang diakibatkan COVID-19 adalah demam, batuk kering, dan nafas pendek. Keberadaan virus ini di paru-paru akan mengubah pola kolonisasi bakteri yang ikut menginfeksi paru-paru dan meningkatkan kemampuan adhesi bakteri ke jaringan epitel paru-paru. Kasus fatal yang diakibatkan nCoV-2019 adalah kerusakan pada difusi alveolar di paruparu [1]. Ketakutan masyarakat terhadap COVID-19 lebih disebabkan karena virus nCoV-2019 dengan cepat menyebabkan flu yang diikuti dengan manifestasi pneumonia yang berlanjut dengan kegagalan pernafasan yang parah. Adanya komplikasi dengan penyakit bawaan seperti hipertensi, kardiovaskular, masalah ginjal, liver, asma dan diabetes, sering kali menjadi penyebab kematian pasien COVID-19. Masa inkubasi virus nCoV-2019 terjadi antara 2-14 hari setelah terinfeksi virus [2]. Penularan virus paling utama terjadi melalui kontak langsung dengan penderita COVID-19 dan penderita COVID-19 yang telah sembuh, melalui partikel cairan dari bersin, batuk dan berbicara, juga dari partikel virus yang melekat benda serta di sarana publik seperti transportasi umum, toilet umum, gedung pertemuan dan pusat perbelanjaan.

Dari perspektif pandangan biologi masalah kecemasan yang terjadi oleh masyarakat akibat pandemi virus corona ini dapat diaatasi dengan cara membagikan informasi ke media sosial dengan membagikan informasi (Ilmu) yang jelas kepada masyarakat tentang virus coronanya sendiri ,cara penyebaran dan ciri –ciri yang benar mengenai gejala covid ini,serta membudayakan hidup yang bersih dan sehat salah satu nya membersihkan pekarangan rumah maupun lingkungan sekitar, dengan membagikan informasi yang jelas kepada masyarakat dapat mengurangi tingkat kecemasan masyarakat terhadap pandemi virus corona ini.

 

Daftar Pustaka 

[1] F. Eun-hyung Lee and J. J. Treanor, Infectious Diseases of the Lungs 32 Viral

Infections, Sixth Edit. Elsevier Inc., 2016.
[2] Z. Chen et al., “From SARS-CoV to Wuhan 2019-nCoV Outbreak: Similarity of

Early Epidemic and Prediction of Future Trends,” SSRN Electron. J., 2020.

Disusun Oleh :

Febri Deyanti Putri (140410170010)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran

febri17003@mail.unpad.ac.id

One thought on “Edukasi Covid-19 Secara Daring Kepada Masyarakat Guna Mengurangi Kecemasan di Masa Pandemi

  1. Edukasi covid-19 secara daring sangat bermanfaat sekali dan menjadikan masyarakat waspada akan bahaya covid. Terimakasih sudah berbagi artikel yang menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *