Pengalaman Berhadapan Dengan Komersialisasi Layanan Medis

Pengalaman saya kemaren membawa anak saya di opname sungguh sangat tidak menyenangkan.

Ketika saya mendaftarkan anak saya untuk di opname, dengan jelas saya menspesifikasikan bahwa anak saya adalah peserta askes, dan hal itu tercantum di formulir. Ketika perawatan pun hal tersebut diperjelas dengan meminta surat keterangan rawat untuk askes. Tapi betapa terkejutnya saya bahwa ketika anak saya pulang, saya dikatakan bahwa biaya ditanggung pribadi, karena saya tidak mengurusnya ke loket askes yang ada di rumah sakit tersebut. Proses penggunaan ASKES itu tidak berlangsung otomatis.

What…….

Pertanyaannya adalah, kalau memang prosedurnya seperti itu, kenapa saya tidak dikasih tahu ? Itu kan sama saja dengan penyembunyian informasi agar saya tidak bisa mempergunakan hak saya sebagai peserta askes.

Hampir saja saya bikin ribut di rumah sakit itu, andaikan tidak ada seorang suster yang dengan baik hati mengurus perbedaan pendapat itu.

Hal tersebut membuat saya jadi berpikir tentang layanan medis negeri ini.

1. Kalau memang mau bener-bener mau dapat layanan ASKES gratis di Bandung, ya harus ke RS h*** s***. Tapi kan sudah jadi rahasia umum bahwa RS h*** s**** juga menjadi rumah sakit pendidikan, sehingga saya merasa kalau jadi pasien di sana, sama aja jadi kelinci percobaan. Lihat saja, setiap kali ada visite dokter, pasti di buntuti oleh mahasiswa. Dan seluruh mahasiswa tersebut akan ikut-ikutan melakukan pengecekan medis terhadap pasien. Sial bener. Sudah pasien harus bayar, dijadikan percobaan pulak…. Kalau memang calon dokter itu masih belajar, atau menjadikan pasien percobaan, minimal pengobatan di gratisin…. Ini mah sama aja untuk jadi kelinci percobaan, kita sebagai pasien, harus bayar pulak……

2. Pengalaman saya waktu istri saya dirawat di RS H*** S*** juga sungguh tidak menyenangkan. Dari mulai masuk gawat darurat sampai mendapatkan injeksi anti biotik membutuhkan beberapa hari. Memang harus selama itu untuk mendiagnosa ? Atau karena pake ASKES, maka pengobatan harus yang semurah-murahnya ?

3. Pengalaman saya waktu ayah saya dirawat di rumah sakit juga, ketika saya mengambil obat dengan menyodorkan kartu askes, petugasnya dengan santai mengembalikan kartu askes saya tanpa berkata apapun. Besoknya barulah saya tahu, bahwa obat untuk penyandang askes diambil di loket yang lain. Dan obat yang malam itu saya ambil, harus dibayar tunai. Penyembunyian informasi yang gila kan ?

4. Walaupun sudah pake askes, masih ada obat yang ditanggung bersama antara pasien dan askes. Bah…. binatang macam apa pula itu ?

5. Ngak semua rumah sakit menerima ASKES secara penuh. Beberapa Cuma punya kontrak ASKES untuk kamar aja. Selebihnya, tanggung sendiri.

Timbul pertanyaan, di manakah mereka yang berpenghasilan rendah mendapatkan pelayanan kesehatan atau pelayanan medis yang dapat dijangkau? Lantas di mana dan bagaimana saya bisa mendapatkan penanganan medis yang benar ?

Keterbatasan pengetahuan tidak memungkinkan pasien untuk menilai dan memilih. Apalagi sakit bukan merupakan kegiatan rutin, sehingga pengalaman pasien membeli jasa kesehatan sangat minim. Pasien menjadi mahluk yang masuk hutan belantara pelayanan medis, kemudian kebingungan mencari mana yang benar.

Belum lagi penyembunyian informasi cara penggunaan ASKES atau ASKESKIN untuk GAKIN oleh rumah sakit, membuat pemilik ASKES atau ASKESKIN tidak bisa mempergunakan fasilitas kesehatan yang dimilikinya.

Maka pasien menjadi mahluk lemah yang sangat patut dilindungi.

KOMERSIALISASI LAYANAN MEDIS

Komersialisasi medis adalah ancaman kemanusiaan yang paling mengerikan pada era global. Mengapa? Sebab, perkembangan teknologi yang begitu pesat membutuhkan biaya. Semua beban dipikul pasien. Dan, hukum supply and demand amat rawan terjadi. Terlebih dalam hal ini, pasien tidak memiliki pilihan sama sekali kecuali mengikuti anjuran dokter.

Goldsmith mengingatkan, sudah kodratnya spirit kejujuran ilmiah akan selalu berlawanan dengan spirit industri. Di situlah sumpah dokter menjadi relevan. Tetapi, itu pun menjadi dilematis. Dokter mulia tanpa menguasai teknologi, percuma saja. Ironisnya, teknologi justru dikuasai kaum industri.

Kelihatannya dengan globalisasi ekonomi, sektor medis layanan kesehatan pun tidak lolos dari cengkraman pasar. Jadilah pengobatan sepenuhnya menjadi proses jual beli. Muncullah pelayanan kesehatan yang bersifat komersial. Begitu jauhnya intervensi bisnis, sehingga mereka yang berpenghasilan rendah tidak dapat menjangkau baik biaya jasa pelayanan medis maupun harga obat. Karena itu, mereka melarikan diri ke pengobatan tradisional yang kadang-kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan ilmu kedokteran.

Di sisi lain, lebih dari 80 persen rakyat kita tak mampu membeli jasa kesehatan. Artinya, melepas sepenuhnya sektor kesehatan pada mekanisme pasar sama dengan meninggalkan rakyat. Sifat dasar komersialisasi adalah profit motive.

Lihat saja, harga ganti verban kecil sudah Rp. 10.000, kalau beli di apotik berapa sih ?

Sektor kesehatan merupakan bagian dari komoditas ekonomi yang mengarah pada eksploitasi hak kesehatan publik.

Melambung tingginya harga obat dan biaya pelayanan medis lainnya yang dikarenakan intervensi bisnis mengakibatkan banyak di antara mereka yang berpenghasilan rendah menderita penyakit.

Hanya doa saja yang mengiringi mereka menuju ke alam baka.

UDAH SEMUA ? BELUM !!

Pasien yang sepenuhnya awam bisa saja digiring untuk menggunakan teknologi mutakhir yang belum tentu diperlukan.

Newsweek October 30, 2006, memuat penelitian Prof John Wennberg dan Elliott Fisher, Dartmouth Atlas Project, tentang hubungan penggunaan teknologi tinggi dan kualitas pelayanan medik. Menarik, ternyata lebih banyak menggunakan teknologi tinggi bukan berarti kualitas pelayanan menjadi lebih baik. Sebaliknya, kualitas medik justru lebih tinggi di daerah yang tidak banyak menggunakan teknologi. The less the better!

Pengalaman saya penggunaan teknologi laboratorium medis pun ada yang ngak bisa di google. Contohnya pada bon di bawah, RAFID DHF senilai Rp 195.000 tak pernah muncul di google, sehingga susah untuk melakukan verifikasi mandiri.

SUDAH SEMUA ? BELUM !!

Ada lagi medico-pharmaco complex, hubungan tidak sehat antara dokter dan perusahaan farmasi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa industri farmasi memberikan insentif kepada dokter yang meresepkan obat yang diproduksinya. Dan uang insentif itu (PASTI) akan dibebankan kepada pasien sebagai konsumen obat.

Di sinilah, value base medicine menjadi mutlak! Artinya, setiap biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan nilai yang diterima.

ADAKAH SOLUSI ? BELUM !!
LHO, KAN ADA DOKTER ?

Keterkaitan antara pemilik mobil dan bengkel saat ini ibarat hubungan dokter dan pasiennya pada tahun 70an. Apapun yang dikatakan oleh dokter, pastilah benar di mata pasien. Dan, seorang pasien tanpa reserve, selalu mengikuti apa yang dianjurkan dan menelan obat yang disarankan dokternya tanpa banyak tanya. Lama-lama terdengar keluhan tentang ketidakjujuran dokter, saran pemberian obat yang sebetulnya belum perlu, permainan harga sampai pemilihan obat yang hanya berdasarkan kesepakatan dokter dengan produsen farmasinya.

Waktu kemudian mengajarkan, tidak semua hal yang dikatakan dokter itu adalah langkah paling mujarab. Timbul kasus-kasus malpraktek, pasien tidak sembuh-sembuh dan aroma komersialisasi medis pun makin menyengat.

Dampak yang kita rasakan di era tahun 2000an, di beberapa kalangan muncul sikap tidak percaya dan skeptis kepada kemampuan dokter di Indonesia. Mereka pun ramai-ramai eksodus ke Singapura, Malaysia atau bahkan ke Amerika jika terpaksa menjalani perawatan tertentu.

Sehingga, di sana-sini mulai muncul sikap skeptis terhadap dokter atau tenaga medis tertentu. Pasien pun mulai pasang telinga lebih lebar agar tidak tertipu mentah-mentah.

LHO, DI PUSKESMAS KAN BISA MINTA SECOND OPINION ?

Dengan adanya otonomi daerah, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah, atau disebutkan dengan pelayanan kesehatan swadana, sehingga fungsi sosialnya terabaikan.

Puskesmas yang tadinya gratis, kemudian uang pendaftaran menjadi Rp 3.000 per sekali kunjungan, belum termasuk obat-obatan dan lain-lain, apalagi pasien anak-anak yang memerlukan puyer sebagai obat, harus mereka tebus jauh lebih tinggi dari biasanya. Akan pergi ke praktik dokter swasta masih tertumbuk dengan biaya ongkos periksa dokter umum yang rata-rata Rp 35.000 per setiap kunjungan.

Lagi pula meminta second opinion dari dokter lain hanya menambah beban biaya untuk konsul dokter.

LHO, KAN ADA RUMAH SAKIT ?

Melihat mahluk bernama rumah sakit, memang sebuah sistem yang kompleks. Kemewahan gedung, ramahnya pelayanan medis tidak menjadi satu-satunya faktor penentu. Ketepatan penanganan dan kelayakan biaya adalah masalah lain. Semua tindakan harus terukur! Ada Guideline, Efficiency & Effectiveness and Patient Safety Procedure yang rinci.

Mahluk bernama RS ini bisa menjadi mahluk yang berbuat mulia untuk masyarakat, atau sebaliknya, menjadi mahluk buas yang membuat SADIKIN (sakit dikit langsung miskin) para pasien.

Bahkan kini, rumah sakit milik pemerintah sudah mulai bergerak ke arah swakelola dengan memasang tarif hampir menyerupai rumah sakit swasta lainnya. Pokok persoalan nilai-nilai sosial dari pelayanan kesehatan atau pelayanan medis telah ter-erosi.

Pelayanan kesehatan atau pelayanan medis yang didanai dan dimiliki pemerintah mulai menutup pintu bagi mereka yang berpenghasilan rendah secara gratis, dengan menetapkan dana swakelola atau swadana, sehingga fungsi sosial jauh ditinggalkan.

Rawat inap di rumah sakit diminta uang muka dalam jumlah yang tidak dapat ditebus mereka yang berpenghasilan rendah. Apalagi dengan menggunakan alat canggih di dalam menegakkan diagnosis penyakit dengan biaya ratusan ribu rupiah yang tidak akan pernah disinggung oleh mereka yang miskin, serta berbagai pelayanan kesehatan lainnya tidak terjangkau oleh mereka yang miskin.

Sejauh ini institusi kesehatan lebih berfungsi sebagai ‘pemadam kebakaran’ untuk menyembuhkan penyakit. Padahal prinsip kesehatan yang utama adalah “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Semangat ini harus mewarnai setiap aktivitas publik termasuk implementasi setiap kebijakan daerah di sektor kesehatan di tengah keterbatasan keuangan daerah.

Tapi itu belum semua, kaum industrialis mengatakan bahwa rumah sakit bagus adalah yang membawa keuntungan sebesar-besarnya untuk investor.

Cobalah memasuki sebuah rumah sakit. Kemudian lihatlah visi dan misinya (biasanya digantung dan di kasih pigura). Kemudian carilah satu point yang mengatakan bahwa visi atau misinya adalah “untuk menyehatkan bangsa ini”. Kalau ada, kasih tahu saya ya.

Semoga berhasil……

Dengan demikian, menyehatkan rakyat, itu bukan urusan rumah sakit! Investasi telanjur mahal, segala cara menjadi halal.

AH TAK SEMUA KOMERSIL, ADA JUGA BAKTI SOSIALNYA

Berbagai pihak, seperti lembaga, individu, atau organisasi, pada satu hari atau saat tertentu-misalnya pada hari ulang tahun (HUT)-mengadakan bakti sosial dalam pelayanan kesehatan gratis, pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan secara cuma-cuma, memberikan sembako, atau sunatan massal gratis. Bisa juga diadakan setahun sekali atau bersifat insidental.

Tapi penyakit datangnya seperti pencuri, tidak diketahui kapan datangnya, sehingga pengobatan massal atau pemberian obat-obatan secara gratis bersifat dadakan serta tidak berkesinambungan, kurang mengenai sasaran. Alasannya, berbagai penyakit, pemberian obat dengan dosis tertentu dalam jangka waktu tertentu pula, sehingga pemeriksaan atau pemberian obat secara cuma-cuma yang bersifat insidental dan setahun sekali dalam pelaksanaannya merupakan suatu pekerjaan yang cari muka.

Yang diperlukan oleh mereka yang berpenghasilan rendah atau masyarakat miskin adalah pelayanan kesehatan berkesinambungan, biaya terjangkau, dan pelayanan secara cinta kasih yang tidak terintervensi jauh oleh komersialisasi pelayanan. Bakti sosial kesehatan secara insidental diperlukan pada saat terjadi kemiskinan yang mendadak, yaitu saat bencana alam seperti banjir, kebakaran, gunung meletus, dan korban tindak kekerasan.

Hikmah dari bakti sosial pelayanan kesehatan secara cuma-cuma yang bersifat insidental adalah di dalam hati sanubari setiap individu terpendam adanya keinginan membantu sesama, baik dalam pelayanan kesehatan maupun di berbagai bidang lainnya. Rupanya setiap individu memiliki hasrat untuk berbuat baik bagi sesama. Namun, masalahnya adalah bagaimana menggerakkannya

KAN SEKARANG SUDAH ADA OBAT MURAH YANG SERBA SERIBU ?

Sekedar informasi, program obat murah yang serba seribu itu, sudah mengambil untung 30%. (dan ini perkataan mentri kesehatan ibu Menkes Siti Fadilah Supari di sebuah acara TV swasta, kalau tidak salah di acara “save our nation” sekitar bulan maret 2009.).

Hal itu berarti, jika perusahaan farmasi tidak mengambil keuntungan, maka harga obat itu bisa dijual Rp. 700. Ah, apa sih bedanya Rp 300. BANYAK !! bagi orang-orang miskin, uang senilai itu memiliki nilai yang besar, apalagi jika mereka perlu mengkonsumsinya secara rutin dan terjadwal.

Tampak sekali bahwa kerja kolektif untuk menyehatkan bangsa tidak terbentuk. Padahal pemerintah bisa membuat pabrik farmasi yang bersifat non-profit, tak hanya mengandalkan obat-obat yang tersedia di pasar.

Janganlah sampai rakyat miskin menjadi arena, di mana makhluk-makhluk bernama produsen farmasi tersebut saling bunuh berebut mangsa. Berharap si raksasa pemodal asing akan menyehatkan bangsa? Mustahil! Mereka petarung-petarung ulung yang hadir hanya untuk kepentingan dirinya.

Lagi pula, obat serba seribu tersebut hanyalah obat-obat umum. Saya pikir penyakit yang membutuhkan obat yang tidak hanya senilai seribu, lebih banyak, dibanding yang bisa disembuhkan dengan obat serba seribu.

Bahkan ketika anak saya terkena demam berdarah, dia dikasih obat anti biotik injeksi yang (bagi saya) mahal, terlebih itu diberikan secara periodik. Yang menjadi pertanyaan, apakah harus antibiotik itu yang diberikan. Setahu saya antibiotik mahal hanya diberikan jika pasien sudah resisten terhadap antibiotik biasa. Sementara itu, anak saya tidak pernah memiliki record medis resisten terhadap sebuah antibiotik. Jadi dimanakah letaknya obat serba seribu itu ?

Pemerintah di Mana?

Berbicara masalah sistem, berarti kita berbicara tentang negara. Rumah Sakit seharusnya adalah subsistem dari SKN (Sistem Kesehatan Nasional). SKN itulah yang membawa rakyat negeri ini mencapai kesehatan setinggi-tingginya dan dengan biaya semurah-murahnya.

Manusia adalah investasi tertinggi nilainya. Sebab, tak ada satu pun negara akan maju bila SDM-nya lemah. Selain itu, borosnya biaya kesehatan akan mengurangi modal kerja negara. Tanpa SKN yang kuat dan operasional, RS akan bermain sendiri-sendiri menuruti wataknya.

Tanpa campur tangan pemerintah dalam kendali mutu, biaya, serta aturan main layanan medis, maka masyarakat akan menjadi bulan-bulanan.

Tanpa terjaminnya akses rakyat, berarti kematian.

Melepaskan tanggung jawab investasi manusia berarti memusnahkan masa depan bangsa.

Sehat menurut WHO, a state of physical, mental and social well-being, and not merely the absence of disease or infirmity.

Askeskin jelas bukan investasi manusia! Hanya alat pemadam kebakaran semata.

Benarkah negeri ini mempunyai grand design yang mampu membawa rakyat sehat dan terhormat di mata dunia?

Saya jadi curiga bahwa Indonesia menjadi target serangan senjata biologis ringan untuk membuat penjualan obat menjadi laku.

LAYANAN APA SETELAH KOMERSIALISASI LAYANAN MEDIS

1. Tombol pemanggil perawat yang tidak berfungsi

Terbayang kalau pasien ngak ada yang nunggu, atau yang nunggunya tertidur, terus terjadi kejadian darurat, udah mati aja tuh pasien.

2. Ruang jaga perawat yang kosong dan gelap pada jam 5 pagi. Padahal saya yakin, perawat dibayar untuk tetap bangun. Tiga shift untuk jaga 24 jam.

3. No Security

Udah gitu, lemarinya tidak memiliki kunci lagi.

4. Sampah medis, tergeletak di meja (jorok banget sih…..)

5. Dari 3 bed yang ada di sebuah ruangan, hanya dua yang ditutupi gordyn. Selebihnya terbuka.

Cita-cita layanan medis saya

Saya ingin membuat lembaga medis, di mana isinya adalah dokter-dokter orang-orang yang dalam hati sanubarinya memiliki ingin berbuat baik bagi sesama manusia. Mereka akan dibayar oleh lembaga secara pantas. Tapi mereka memberikan layanan medis secara gratis kepada setiap pasien yang datang. Sumber dana lembaga ini bisa didapat dari pemerintah atau para penyumbang abadi. Pada lembaga ini, setiap dokter akan di latih menjadi customer service, sehingga pelayanan kesehatan lebih menyenangkan.

Lembaga medis ini memiliki farmasi standar, sehingga dokter tidak bisa meresepkan obat seenaknya. Seorang pharmasist akan ikut mengecek kebenaran resep dari seorang dokter untuk pasiennya.

Untuk setiap warga negara akan ditunjuk seorang dokter, sehingga pasien bisa mengatakan “My Doctor”. Dengan demikian tiap dokter akan bertanggung jawab penuh terhadap kesehatan pasiennya.

Terakhir, setiap berobat, seorang pasien akan di sensus mengenai waktu kesembuhannya. Sehingga terdapat standar dalam waktu kesembuhan.

Mungkin cita-cita saya terlalu muluk untuk saat ini, bagi rumah sakit, yang isinya memang orang-orang pada “SAKIT” semua.

Kelihatannya rakyat miskin ngak boleh sakit, soalnya SADIKIN (Sakit Dikit Langsung Miskin).

Saya memang bukan dokter, tapi tak perlu dokter yang paling pintar untuk mengelola rumah sakit. Cukup orang yang mampu me-manage dokter-dokter yang pinter, sehingga bisa memberikan layanan medis terbaik untuk bangsa. (halah……..)

Komersialisasi layanan medis ? Tega bener….. ngak punya hati kali yak…..?

We will not go down (Song for Gaza)

Jikalau kami gugur syahid, dan kalian sekalian terus diam membisu dan hanya menyaksikan sahaja, nantikan hari pembalasan. Kami akan tuntut dari Allah di atas kelembapan kalian semua.

Kami tidak akan redha terhadap kelesuan dan kebisuan kalian semua. Kami tidak akan memaafkannya..

Inilah menjadi medan di mana keringat, darah, dan air mata kami menjadi pupuk yang membasahi tanah jihad bagi kaum muslimin. Dan biarlah Allah menjadi saksi !!!

Inilah lagu untuk ahli Palestinians di Gaza,

http://www.michaelheart.com/
http://michaelheart.com/Song_for_Gaza.html (unduh di sini)

Lyrics:

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In the night, without a fight

We will not go down
In Gaza tonight