Doa barang hilang

kami tidak menjumpai satu amalan atau doa khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seseorang kehilangan barang. Hanya saja, terdapat riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dimana beliau mengajarkan doa ketika kehilangan barang. Dari Umar bin Katsir, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau menjelaskan amalan ketika kehilangan barang,

يتوضأ ويصلي ركعتين ويتشهد ويقول: «يا هادي الضال، وراد الضالة اردد علي ضالتي بعزتك وسلطانك فإنها من عطائك وفضلك»

”Dia berwudhu, kemudian shalat 2 rakaat, setelah salam lalu mengucapkan syahadat, kemudian berdoa,

يَا هَادِيَ الضَّال، وَرَادَّ الضَّالَة ارْدُدْ عَلَيَّ ضَالَتِي بِعِزَّتِكَ وَسُلْطَانِكَ فَإِنَّهاَ مِنْ عَطَائِكَ وَفَضْلِكَ

Ya Allah, Dzat yang melimpahkan hidayah bagi orang yang sesat, yang mengembalikan barang yang hilang. Kembalikanlah barangku yang hilang dengan kuasa dan kekuasaan-Mu. Sesungguhnya barang itu adalah bagian dari anugrah dan pemberian-Mu’.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf no. 29720, al-Baihaqi dalam ad-Da’awat al-Kabir (2/54). Baihaqi mengatakan,

هذا موقوف وهو حسن

Ini adalah hadits mauquf [perkataan shahabat] dan hadits ini statusnya adalah hasan”

Demikian pula dinyatakan oleh Abdurrahman bin Hasan, bahwa perawi untuk riwayat Baihaqi adalah perawi yang tsiqqah (terpercaya). (Tahqiq al-Wabil as-Shayib, Abdurrahman bin Hasan dibawah bimbingan Dr. Bakr Abu Zaid)

ATAU

diriwayatkan oleh Abi Syaibah di dalam Mushannif nya dan Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Umar yang maknanya adalah barangsiapa yang kehilaangan sesuatu maka hendaklah dirinya berwudhu, shalat dua rakaat, tasyahhud lalu mengucapkan :

بِسمِ اللهِ يَا هَادِي الضَّلاَل وَرَادَّ الضَّالَّةِ اردُد عَلَيَّ ضَالَتِي بِعِزَّتِكَ وَسُلطَانِكَ فَإِنَّهَا مِن عَطَائِكَ وَفَضلِكَ”

Bismillah Yaa Hadii adh Dhalal wa Roodda adh Dhaalah Urdud ‘alayya Dhalatiy bi ‘Izzatika wa Sulthanika Fa Innaha min Athaaika wa Fadhlika (Dengan nama Allah, Wahai Yang Menunjuki yang tersesat dan Yang Mengembalikan yang hilang (maka) kembalikanlah kepadaku (sesuatu) yang hilang (dari) ku dengan keagungan-Mu dan kekuasaan-Mu. Sesungguhnya ia (sesuatu) itu adalah pemberian-Mu dan karunia-Mu).”

Al Hakim mengatakan bahwa para perawinya adalah orang-orang yang bisa dipercaya (mautsuq) dari orang-orang Madinah dan tak satu pun dari mereka cacat. (Markaz al Fatwa No. 6815)

Doa menengok orang yang sakit.

Sakit adalah takdir yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Setiap orang tidak selamanya merasakan sehat. Suatu saat, ia pasti pernah atau akan mengalami sakit. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk gemar menjenguk orang yang sakit. Selain mengetahui keadaannya, penjenguk juga disunahkan mendoakan orang yang sakit agar segera dikaruniai kesembuhan.

Di antara doa yang biasa dibaca oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam saat menjenguk orang sakit adalah:

1. Doa dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam jika menjenguk orang yang sakit, beliau membacakan doa:

«لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»

“Bukan penyakit yang membahayakan, justru akan menggugurkan dosa-dosa, insya Allah.” (HR. Bukhari no. 3616)

2. Apabila engkau lagi berkunjung kepada orang yang sedang sakit cukuplah kita ucapkan kepada-nya;

لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.
“Tidak mengapa semoga sakitmu membuat dosamu bersih inshaAllah” [HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 10/ 118.]

3. Doa dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun menjenguk orang sakit yang belum ditakdirkan datang ajalnya, lalu ia membaca doa berikut ini sebanyak tujuh kali:

أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

“Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb dari ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu.”

Kecuali orang yang sakit itu akan dikaruniai kesembuhan.” (HR. Abu Daud no. 3106, Tirmidzi no. 2083, Ahmad no. 2137 dan Al-Hakim no. 1269. Hadits shahih)

catatan kaki: “Tidaklah seorang hamba Muslim mengunjungi orang sakit yang belum datang ajalnya, lalu membaca sebanyak tujuh kali maka: … (Al-Hadits) kecuali pasti disembuhkan, HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud.

4.

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ فَأَنْتَ الشَّافيِ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

ALLAHUMMA ROBBANNAS ADZHIBILBA’ SA ISYFI ANTASYSYAFI LA SYIFAUKA SYIFA’ AN LA YUGHODIRU SAQOMA .

“Yaa rabban naas, adzhibil ba’sa, isyfi antasy syaahii, laa syifaa-a illaa syifaauka, syifaa-an laa yughaadiru saqaman”

“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. (hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi.” ( HR. Bukhori Muslim)

——————–
عَنْ عَائِشَةَ. قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اشْتَكَى مِنَّا إِنْسَانٌ، مَسَحَهُ بِيَمِيْنِهِ. ثُمَّ قَالَ: أَذْهِبِ الْبَأْسَ. رَبَّ النَّاسِ. وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي. لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ. شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
فَلَمَّا مَرِضَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَثَقُلَ، أَخَذْتُ بِيَدِهِ ِلأَصْنَعُ بِهِ نَحْوَ مَا كَانَ يَصْنَعُ. فَاِنْتَزَعَ يَدَهُ مِنْ يَدَيَّ. ثُمَّ قَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَاجْعَلْنِي مَعَ الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى
قَالَتْ: فَذَهَبْتُ أَنْظُرُ، فَإِذَا هُوَ قَدْ قَضَى
Hadits riwayat Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:
Biasanya apabila ada seorang di antara kami menderita sakit, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengusapnya dengan tangan kanan beliau, kemudian beliau berdoa: Hilangkanlah penyakitnya, wahai Tuhan manusia! Berilah kesembuhan karena Engkaulah Penyembuh (segala penyakit). Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menderita sakit dan semakin parah, aku pegang tangan beliau untuk melakukan seperti yang biasa beliau lakukan. Namun beliau menarik tangan beliau dari tanganku kemudian berdoa: “Ya Allah! Ampunilah aku dan jadikanlah aku bersama Rafiq A`la (Tuhan).” Aku bergegas untuk melihat, ternyata beliau telah wafat

Agar lebih jelas , do’anya ditulis ulang
أَذْهِبِ الْبَأْسَ. رَبَّ النَّاسِ. وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي. لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ. شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Adz hibil ba’tsa robbannaasi Wasyfi Antasysyaafiiy Laa syifaa a illaa syifaa uka Syifaa an laa yughoodiru saqoman
Hilangkanlah penyakitnya, wahai Tuhan manusia! Berilah kesembuhan karena Engkaulah Penyembuh (segala penyakit). Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit

5. Dari Tsabit, ia berkata: Wahai Abu hamzah (Anas), aku mengeluh (padamu tentang sakit). Lalu Anas berkata: Maukah kalian saya bacakan doa (ruqyah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Ia menjawab: Ya. Lanjut Anas: (Doanya adalah)

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ الْبَاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لا شَافِىَ إِلا أَنْتَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Tuhan manusia, Penyembuh sakit, sembuhkanlah! Engkaulah Dzat Yang Menyembuhkan. Tidak ada yang dapat menyembuhkan kecuali Engkau. Kesembuhan yang tidak menyisakan sakit.” (HR. Bukhari)

6. Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah pernah memohonkan perlindungan (pada Allah) dengan mengusapkan tangan kanannya (pada bagian yang sakit) sambil berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِى لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah sakit (ini), sembuhkanlah ia, engkau adalah Dzat Yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan sakit.” (HR. Bukhari)

7. Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membacakan doa ruqyah untuk orang sakit (dengan doa berikut):

اِمْسَحِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ

“Hapuskanlah petaka (sakit)nya wahai Tuhan manusia, di tangan-Mulah kesembuhan. Tidak ada yang menyembuhkannya kecuali Engkau.”

8. Dari Aisyah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan (doa) untuk orang sakit (dengan doa berikut):

بِسْمِ اللَّه، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا

“Bismillah, tanah bumi kami dengan air ludah sebagian kami, semoga disembuhkan orang sakit kami, dengan izin Tuhan kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

9. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seorang badui (arab pedesaan), sebelumnya Rasulullah jika menjenguk orang sakit, beliau mengatakan doa ini:

لا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّه

“Tidak apa-apa, bersih/suci insya Allah” (HR. Bukhari)

Keterangan: maksud dari bersih/suci adalah semoga sakitnya dapat membersihakan (menghapuskan) dosa-dosanya.

10. Dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang sakitnya bukan kedatangan ajal, lalu ia berdoa di sisinya sebanyak tujuh kali, dengan doa berikut:

أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Aku memohon kepada Allah Yang Agung, Tuhan arsy yang agung, agar menyembuhkanmu

maka Allah akan menyembuhkan dari sakit yang dideritanya (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani)

11.Dari Utsman bin Abil ‘Ash bahwasanya ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan ketika itu ia sedang sakit yang hampir mematikannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata letakkanlah/usapkanlah tangan kananmu (pada bagian yang sakit) sebanyak tujuh kali sambil berdoa (berikut):

بِسْمِ اللهِ بِسْمِ اللهِ بِسْمِ اللهِ أَعُوذُ بِعِزَّةِ الله وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Bismillah bismillah bismillah, aku berlindung kepada Allah dari kejahatan (sakit) yang aku dapati dan aku khawatirkan.”

Lalu Utsman berdoa dengan doa tersebut dan dihilangkan sakitnya oleh Allah. Ia senantiasa menganjurkan keluarga dan orang-orang untuk senantiasa berdoa dengan doa tersebut (HR. Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)

12.

اَللَّهُمَّ اَزِلْ عَنْهُ الْعِلَلَ وَالدَّآءَ، وَاَعِدْهُ اِلَى الصِّحَّةِ وَالشِّفَآءِ، وَاَمِدَّهُ بِحُسْنِ الْوِقَايَةِ، وَرُدَّهُ اِلَى حُسْنِ الْعَافِيَةِ، وَاجْعَلْ مَانَالَهُ فِي مَرَضِهِ هَذَا مَادَةً لِحَيَاتِهِ وَكَفَّارَةً لِسَيِّئَاتِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Allâhumma azil ‘anhu, wa a’idhu ilash shihhati wasy-syifâ’, wa amiddahu bi-husnil wiqâyah, wa ruddahu ilâ husnil ‘âfiyah, waj’al mâ nâlahu fî maradhihi hâdzâ mâddatan lihayâtihi wa kaffâratan lisayyiâtih(i). Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad.

Ya Allah, hilangkan dari dirinya penyakit, kembalikan dia kepada kesehatan dan kesembuhan Bantulah dia dengan sebaik-baik perlindungan, dan kembalikan dia kepada sebaik-baik kesembuhan. Jadikanlah apa saja yang dirasakannya pada waktu sakitnya sebagai pahala untuk kehidupannya dan penghapus atas segala kesalahan-nya. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Doa Orang Teraniaya / Terdzalimi

PENGANTAR

Didzalimi dan dianiaya, pasti setiap orang tidak suka. Sehingga saat terzalimi ia akan berbuat apa saja agar terhindar dari kezaliman itu. Jika mampu, ia akan menghentikan kezaliman atas dirinya dengan tenaganya atau lisannya. Namun bagaimana jika ia tidak memiliki kemampuan?

Boleh jadi doa menjadi senjata terakhir baginya. Ia menghaturkan dan mengembalikan urusannya kepada penguasa alam semesta (AllahSubhanahu wa Ta’ala) atas kezaliman yang dialaminya dan meminta kebinasaan untuk orang yang telah berbuat zalim kepadanya. Dan berdasarkan sabda Rasul-Nya, Allah akan mengabulkan doa orang yang terzalimi.

DEFINISI ORANG TERANIAYA / TERDZALIMI

Orang teraniaya atau orang yang dizhalimi yaitu orang yang diperlakukan secara tidak benar oleh orang lain. Orang-orang ini tidak mendapatka hak yang wajib diterimanya.

———————–

BENTUK BENTUK KEDZALIMAN

1. Mengambil harta orang lain tanpa hak

Di antara bentuk kezaliman yang berkaitan dengan harta benda adalah:

1a. Tidak membayar utang
1b. Menunda membayar utang

Selalu menunda pembayaran utang, meskipun Allah telah menganugerahinya harta yang cukup untuk melunasi utangnya adalah salah satu bentuk kezaliman.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,”Penundaan seorang yang mampu adalah kezaliman.” (HR. Jama’ah).

Dalam sebuah hadits, dari Qatadah al Harits bin Rabi’, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdiri di tengah-tengah para sahabat. Beliau menyebutkan bahwa jihad fi sabilillah dan beriman kepada Allah adalah amalan yang paling utama. Maka seorang laki-laki berdiri lalu berkata, “Wahai, Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda, jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah diampuni seluruh dosa-dosaku? Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Iya, jika kamu terbunuh di jalan Allah, sedangkan kamu bersabar dan mengharap pahala-Nya, maju dan tidak mundur (lari).” Namun sejenak kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Tadi apa yang kamu katakan?” Maka orang tersebut kembali berkata, “Bagaimana pendapat Anda, jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah diampuni seluruh dosa-dosaku?” Maka beliau bersabda lagi, “Iya, jika kamu terbunuh di jalan Allah, sedangkan kamu bersabar dan mengharap pahala-Nya, maju dan tidak mundur (lari), kecuali hutang, karena Jibril mengatakan yang demikian itu kepadaku.” (HR. Muslim).

1c. Seseorang menagih uangnya kepada orang lain, tetapi yang ditagih ternyata mengingkari hutangnya. Penagih semacam ini termasuk dalam kategori orang yang teraniaya.

1d. Seorang buruh menutut gaji kepada majikannya. Oleh majikan gaji tersebut tidak dibayarkan atau dibayar kurang dari seharusnya dia terima. Buruh semacam ini termasuk orang-orang yang teraniaya.

1e. Seorang istri tidak diberi uang belanja oleh suaminya, bahkan disuruh mencari nafkah sendiri. Orang-orang ini termasuk golongan yang teraniaya.

2. Merampas tanah orang
Yaitu dengan mengubah batas atau mengambil sejengkal tanah orang lain serta melanggar apa yang menjadi haknya.

Dari Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,“Barang siapa berbuat zalim dengan mengambil sejengkal tanah (orang lain), maka akan dipikulkan kepadanya tujuh lapis bumi.” (Muttafaqun ‘alaihi)

3. Sumpah palsu untuk merampas hak orang
Dari Umamah Iyas bin Tsa’labah al Haritsi Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa mengambil hak seorang Muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan untuknya neraka dan mengharamkan atasnya surga.” Maka seseorang bertanya, “Bagaimana jika yang diambil itu sesuatu yang ringan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Walaupun hanya sepotong kayu siwak.” (HR. Muslim).

4. Mencuri atau korupsi
Selain terancam oleh doa orang yang didzaliminya, seorang pencuri masih terancam oleh hukum fiqh pidana :

sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Tangan pencuri tidak dipotong hingga ia mencuri (harta) senilai seperempat dinar atau lebih.” (HR. Muslim). Artinya, barang curian bernilai di atas seperempat dinar, maka tangan pencurinya harus dipotong.

Seperti juga hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

sabda beliau (saw), yang diriwayatkan oleh ‘Adi bin Amirah Al Kindi Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa dari kalian yang aku angkat atas suatu jabatan, kemudian dia menyembunyikan dari kami (meskipun) sebuah jarum, atau sesuatu yang lebih kecil dari itu, maka itu adalah ghulul (pencurian) yang pada hari kiamat akan ia bawa.” ‘Adi bin ‘Amirah berkata, “Kemudian seorang laki-laki hitam dari Anshar—sepertinya saya pernah melihatnya—berdiri sambil berkata, “Wahai, Rasulullah! Kalau begitu, aku meminta kepadamu pengurangan beban tugasku.” Beliau balik bertanya, “Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Saya telah mendengar bahwa Anda pernah bersabda seperti ini dan seperti ini.” Beliau bersabda, “Sekarang aku sampaikan, barangsiapa dari kalian yang aku tugasi atas suatu pekerjaan, hendaklah ia datang baik dengan sedikit atau banyaknya. Apa yang memang diberikan untuknya ia boleh mengambilnya, dan apa yang memang dilarang untuknya, maka ia harus dapat menahan diri (dari mengambilnya).” (HR. Muslim).

5. Sesorang dituduh melakukan suatu kejahatan, padahal yang bersangkutan sama sekali tidak melakukannya. Ia lalu dijatuhi hukuman.

6. Sebuah contoh dalam sejarah yang dikemukakan oleh Allah dalam Al-Qur’an ialah tindakan Fir’aun yang berbuat aniaya dan zhalim kepada kaum Nabi Musa. Walaupun kaum Nabi Musa tidak mampu membalas kezhaliman Fir’aun secara langsung dan bahkan Musa dengan kaumnya dikejar-kejar oleh Fir’aun secara langsung dan bahkan Musa dengan kaumnya dikejar-kejar oleh Fir’aun dan tentaranya untuk dibunuh, namun ternyata allah yang membalas kezhaliman Fir’aun dan tentaranya. Allah menenggelamkan mereka di Laut Merah ketika mengejar Musa dan Kaumnya. Jadi, yang langsung menghancurkan dan menghukum Fir’aun dan pasukannya adalah Allah sendiri. Kejadian ini wajib menjadi pelajaran bagi kita dimana saja dan kapan sajha bahwa orang-orang yang teraniaya dekat dengan Allah. Allah selalu memberikan pembelaan dan pertolongan kepada mereka untuk membalas orang-orang yang menganiayanya.

Dan masih banyak bentuk–bentuk kezaliman yang lain, seperti menipu dan sumpah palsu dalam jual beli, mengurangi timbangan dan takaran, menuduh orang berbuat zina dan menyebarkannya, mencela dan memaki sesama muslim, dll.

HADIST TERKAIT

1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ
“Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang puasa sampai ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Al-Tirmidzi)

2. Rasulullah saw. bersabda:
“Tiga do’a yang dikabulkan, yaitu do’a orang yang berpuasa, do’a orang yang bepergian, dan do’a orang yang teraniaya.” (HR. Uqaili, dari Abu Hurairah)

3. ”Ada tiga doa yang tak akan ditolak oleh Allah SWT, yakni doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang teraniaya, dan doa seorang musafir.” (HR. Abu Hurairah)

4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan kepada Mu’ad bin Jabal saat mengutusnya ke Yaman,
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Dan takutlah doa orang terzalimi, karena tidak ada hijab (penghalang) antara ia dengan Allah.” (Muttafaq ‘Alaih)

5. Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”.(Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38)

6. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendak mengutus salah seorang sahabatnya, Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu ke Yaman, beliau menitipkan beberapa pesan, di antaranya adalah, “Beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka zakat yang diambil dari kalangan orang mampu dari mereka dan dibagikan kepada kalangan yang faqir dari mereka. Jika mereka menaati kamu dalam hal itu, maka janganlah kamu mengambil harta-harta pilihan mereka. Dan takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena antara dia dan Allah tidak ada hijab (pembatas yang menghalangi)nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita akan bahaya doa orang yang teraniya, agar kita tidak berlaku aniaya kepada orang lain, karena doa mereka tidak terhijab dan akan dikabulkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala. Sekalipun mereka adalah para pelaku dosa besar, yang dibesarkan dari makanan-makanan haram. Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dikatakan, walaupun orang yang teraniaya itu adalah seorang kafir.

Kezaliman telah diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala atas seluruh umat manusia. Apa pun agamanya. Allah Subhaanahu Wata’ala tidak meridhai tindakan zalim kepada orang-orang non muslim, sebagaimana Allah tidak ridha seorang muslim dizalimi.

Allah Azza Wajalla berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun.” (QS. Yunus: 44).

Maknanya mencakup seluruh manusia, tak terkecuali

Adapun firman Allah Subhaanahu Wata’ala, yang artinya, “Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14).

Berkaitan dengan permohonan mereka untuk dibebaskan dari api neraka di akhirat kelak. Adapun doa mereka untuk meminta pertolongan atau pembalasan dari orang-orang yang menganiaya mereka di dunia, tidak dinafikan oleh ayat tersebut.

Jika doa orang kafir yang teraniaya pun mustajab, maka apatah lagi jika yang terzalimi itu adalah seorang muslim yang taat?

Orang-orang yang teraniaya tidak perlu berputus asa menghadapi keperkasaan dan kekuatan penganiayanya. Mereka dijanjikan oleh Allah untuk mendapat pembelaan, perlindungan, dan pertolongan guna melawan penganiaya itu. Cara memperoleh jaminan tersebut adalah dengan selalu berdo’a kepada Allah agar para penganiaya itu mendapat adzab dan siksa dari Allah sehingga mereka tidak merajalela berbuat kezhaliman ditengah masyarakat. Karena itu, mereka seharusnya tidak meremehkan senjata do’a sebagai saran melawan kezhaliman orang-orang yang berbuat zhalim, karena permohonan mereka dikabulkan oleh Allah. Sebaliknya, orang-orang yang suka menganiaya seharusnya takut dan berhati-hati menghadapi orang-orang yang teraniaya, karena orang-orang yang teraniaya itu pasti dibela dan dilindungi oleh Allah. Permohonan apa saja untuk penganiayanya akan dikabulkan oleh Allah.

DOA ORANG TERANIAYA

1. ‘Ya ALLAH, mereka ini ( sebutkan nama mereka ) zalim/menipu/aniaya pada aku. Aku mohon balasan yang setimpal ke atas mereka serta bantulah aku keluar dari kesusahan ini’

2. Mohon pada Allah, untuk menggantikan penipuan dan sebagainya dengan rezeki yang lebih baik dan bertambah-tambah. Baca ” Allahuma ajurni fi musibati, wakh lufli khairan minha “. Sangat mujarab bagi orang-orang yang dizalimi dan cepat pula dapat jawapan dari Allah.

SEBERAPA CEPAT DOA TERSEBUT DIKABULKAN ?

Terkadang, dengan niat yang mulia, untuk meninggikan agama Allah Subhaanahu Wata’ala, orang-orang yang bersemangat memperjuangkan Islam menggunakan cara-cara yang justru menimbulkan banyak pihak tak bersalah menjadi korban, harta maupun nyawa. Maka, hendaknya mereka takut akan doa-doa orang yang mereka zalimi. Karena doa mereka akan dikabulkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala, cepat atau lambat.

Hampir di seluruh belahan dunia saat ini, umat Islam mengalami penindasan. Di Palestina, Checnya, Cina (muslim Uighur), Afghanistan, Pakistan, Thailand (Pattani), Pilipina (Moro), Iraq dan di negara-negara lainnya, darah umat Islam ditumpahkan tanpa harga.

Di belahan bumi lain, umat Islam termarginalkan. Hak-hak dan kebebasan mereka diabaikan. Ada larangan terhadap cadar dan jilbab. Di sana tak ada ijin mendirikan masjid. Tak jarang mereka menerima tindak kekerasan, hanya karena mereka muslim.

Lalu mana jawaban atas doa-doa mereka yang terzalimi? Bukankah doa mereka mustajab?

Dulu, di Makkah, pada masa awal dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau sering dianiaya oleh orang-orang musyrik Quraisy. Di antaranya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang bersujud di Ka’bah, lalu sekelompok orang Quraisy yang diwakili oleh ‘Uqbah bin Abi Mu’aith meletakkan isi perut bangkai onta di punggung beliau. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan kebinasaan bagi mereka bertujuh. Tiga belas tahun kemudian, barulah doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikabulkan oleh Allah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada peristiwa perang Badr dengan binasa dan terbunuhnya ketujuh orang tersebut.

Maka seorang muslim, tidak boleh merasa lelah dan jenuh dalam berdoa untuk meminta pertolongan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala, dan mengharapkan kehancuran musuh-musuh Allah Subhaanahu Wata’ala. Karena cepat atau lambat, doa-doa itu akan dikabulkan oleh Allah Azza Wajalla.Wallahu Sami’ Mujib

———————–
LANTAS BAGAIMANAKAH MENGAMALKAN ILMU INI ?

Bilamana orang yang yang teraniaya memohon kepada Allah agar membinasakan penganiayanya, maka do’anya dijanjikan oleh Allah akan dikabulkan. Karena itu, seorang muslim wajib takut kepada orang-orang yang teraniaya oleh perbuatannya. Sebab walaupun mereka tidak mampu membalas kejahatan yang menimpanya secara langsung, namun do’a mereka akan menjadi senjata yang ampuh nuntuk menghancurkan melalui adzab dan siksa yang diturunkan oleh Allah.

Berhati-hatilah terhadap doa orang yang teraniaya. Di antara dirinya dengan Tuhan tidak ada hijab. Sumpah, cacian dan kata-katanya adalah doa yang didengar Allah. Jangan sekali-kali menganiaya orang lain, baik dengan kata-kata maupun tindakan, baik dalam bentuk perampasan kehormatan maupun perampasan kepemilikan, sekecil apapun. Berikan hak orang sebagaimana mestinya. Karena orang yang dianiaya itu akan dibela Allah…

Allah berfirman dalam hadits qudsi: Demi kemuliaan-ku, Aku akan tolong orang yang teraniaya itu dalam waktu dekat’.

APA JANJI ALLAH BAGI KAUM YANG TERDZHALIMI ?

Allah tidak akan membiarkan orang yang teraniaya terus menerus dalam penderitaannya akibat perbuatan buruk orang yang zalim. Salah satunya ialah bahwa Allah akan mengabulkan do’a-do’anya. Selain itu, Allah akan kembalikan hak-haknya yang telah di rampas. Sementara orang-orang yang berlaku aniaya segera akan mendapatkan laknat, siksaan dan kebinasaan.

Allah berfirman, Artinya:
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)

Ayat ini menegaskan, bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan perbuatan orang yang menganiaya, sekaligus memberi hiburan kepada orang yang teraniaya, bahwa dengan kesabarannya ia pasti akan memperoleh hak-haknya (kemenangan) yang telah dirampas oleh pelaku kezaliman.

Yah, Allah akan menjadi penolong baginya, cepat atau lambat ia pasti akan memperoleh hak-haknya dan Dia juga akan menimpakan azab kepada mereka yang aniaya (zalim) terhadap orang lain.

Dalam sebuah hadits qudsi dinyatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dan Allah berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu (wahai hamba yang terzalimi) sekalipun tidak segera.” (HR. Turmudzi)

Salah satu pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang teraniaya ialah dengan mengabulkan do’a-do’anya terhadap orang yang menganiaya dirinya. Hal mana sama seperti Allah mengabulkan do’anya seorang ibu kepada anaknya, atau do’anya kaum muslimin kepada saudaranya dari kejauhan. Sungguh do’a-do’a mereka itu adalah do’a yang sangat dahsyat mustajab.

Salah satu hikmah di ijabahnya do’a orang teraniaya adalah agar orang tidak seenaknya melakukan penganiayaan terhadap orang lain, atau terhadap pihak manapun.

—————————-

HUKUM MENDOAKAN KEBURUKAN ATAS ORANG ZALIM

Pada dasarnya, dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.

Allah Ta’ala berfirman,
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nisa’: 148)

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: “Allah tidak suka seseorang mendoakan keburukan untuk selainnya, kacuali ia dalam keadaan dizalimi. Allah memberikan keringanan baginya untuk mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.dan itu ditunjukkan oleh firman-Nya, “Kecuali oleh orang yang dianiaya.” (namun), jika bersabar maka itu lebih baik baginya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat di atas)

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ
“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka.” (QS. Al-Syuura: 41)

. . . dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya. . .

Namun, apakah ini yang terbaik baginya? Tidak. Jika ia membalas kepada orang yang menzaliminya dengan doa keburukan, maka ia tidak mendapat apa-apa karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan (kepuasan).
Berbeda jika doanya dengan niatan agar orang-orang tidak lagi menderita akibat kejahatannya, maka ia mendapat pahala dengannya. Terlebih jika niatnya untuk menghilangkan kezaliman, menegakkan syariat Allah dan hukum-Nya, maka pahala yang didapatkannya lebih banyak.

Namun, jika ia bersabar, memaafkan, dan membalas keburukan dengan kebaikan maka ia mendapat pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Al-Syuura: 40)

Maksudnya: Allah tidak akan menyia-nyiakan sikapnya itu di sisi-Nya. Tetapi Allah akan memberikan pahala yang besar dan balasan baik yang setimpal. Disebutkan dalam hadits shahih, “Tidaklah Allah menambah kepada hamba melalui maaf yang ia berikan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35)

Maksud “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik,” adalah: apabila ada orang yang berbuat buruk kepadamu baik dengan perkataan atau perbuatan, maka balaslah dengan kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu, maka sambunglah. Jika ia menzalimimu maka maafkan ia. Jika membicarakan keburukanmu –baik di depan atau di belakangmu- maka jangan engkau balas, tapi maafkan ia dan bebicara kepadanya dengan lemah lembut. Jika ia mengucilkanmu dan tidak mau berbicara denganmu, maka berbicaralah yang baik dan mulailah berilah salam kepadanya.

Tidaklah taufiq Allah ini diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar atas keburukan yang ia dapatkan dan menyikapinya dengan sesuatu yang Allah cinta. Karena sifat dasar manusia –inginnya- membalas keburukan dengan keburukan agar terpuasaan. Ia tidak mau memberikan maaf. Tapi sifat dalam ayat ini sangat istimewa, bukan hanya maaf yang ia berikan, tapi membalas keburukan dengan memberikan kebajikan. Ia sadar bahwa membalas keburukan dengan keburukan tidaklah mendatangkan kebaikan untuk dirinya, khususnya di akhirat. Sementara jika ia berbuat baik kepadanya, kebaikannya itu akan tetap dicatat kebaikan.

Bersikap seperti di atas tidaklah akan merendahkan martabatnya, tetapi sebaliknya, Allah akan meninggikannya dengan akhlak mulia tersebut. Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat karena mulianya akhlak yang ia tampilkan.

Demikian inilah tuntunan Islam, yang memberi hak kepada manusia untuk dapat menjalani hidupnya dengan bebas mandiri tanpa tekanan pihak mana pun.

Wallahu Ta’ala A’lam.

CERITA I :

Seluruh anggota keluarga telah berada di depan meja makan untuk menunggu datangnya waktu maghrib, untuk berbuka puasa. Sekalipun makanan yang terhidang sangat sederhana, sesuai dengan kemiskinan mereka, tetapi mereka sangat mensyukurinya.

Sementara sang ayah, pikirannya sedang kacau karena memikirkan sikap orang yang menghutanginya uang. Orang tersebut bersifat sombong dan selalu mengancam jika hari ini tidak bisa melunasi hutangnya.Dari mana keluarga miskin ini akan dapat mengembalikan hutangnya, sedangkan dia juga tidak bisa memberi makan anak-anaknya? Bagaimana nanti dia akan menemui orang yang sombong tapi bodoh itu?
Tiba-tiba, ketika dia sedang bingung, terdengar pintu rumahnya diketuk sangat keras, seolah-olah rumah akan roboh, diiringi gertakan yang mengagetkan. Kemudian, laki-laki miskin itu membukakan pintu dengan tangan gemetar. Ternyata yang mengetuk pintu ialah pria yang sombong, dengan tatapan mata yang penuh kemarahan. Tanpa berbicara sepatah kata pun, lelaki sombong itu langsung menampar dan menendang serta mencaci lelaki miskin di hadapan anak-anaknya. Anak-anaknya menangis dan berteriak minta tolong, demikian juga dengan ibunya sehingga para tetangga berdatangan. Setelah bermusyawarah–sementara lelaki miskin itu pingsan–orang sombong tersebut
menyanggupi akan meninggalkan rumah si miskin. Ketika itulah azan maghrib bergema.

Bersamaan dengan azan, lelaki miskin itu siuman, lalu menatap lelaki sombong sambil menengadahkan tangan ke langit. Dengan suara terbata-bata dan linangan air mata dia berdoa, “Semoga Allah membalas kejahatanmu, semoga Allah membalas kejahatanmu. “

Berselang sepuluh hari dari kejadian yang memilukan ini, orang sombong itu merasa sakit di bagian betisnya. Dia sudah berkali-kali memeriksakannya ke dokter. Akan tetapi, tidak juga membuahkan hasil. Lalu pindah ke dokter yang lain, di pusat kota. Di rumah sakit inilah kemudian dia dirawat. Ketika masuk ke rumah sakit, dia memiliki dua buah betis utuh, setelah keluar betisnya tinggal satu.

Ternyata dia terkena penyakit kanker pada bagian kakinya. Tidak lama berselang, kakinya yang lain terserang kanker juga. Kini dia meninggalkan rumah sakit tanpa memiliki kaki, tidak bisa berjalan dan harus dibantu orang lain.

Orang sombong tersebut terkena doanya orang miskin yang dizaliminya. Beginilah akhir kehidupan orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menunda siksa-Nya, Dia tidak pernah lalai mengawasi perbuatan hamba-Nya. [Mawaqif Dzatu ‘Ibar, Dr.Umar al-Asqar]

Dikutip dari Buku Bila Amal Dibayar Kontan, Penerbit Darul Falah

—————————————————————-

CERITA II

Suatu pagi seorang laki-laki pergi berburu untuk mendapatkan rejeki yang halal.

Namun hingga sore, ia belum mendapat satu pun binatang buruan. Lalu ia berdoa dengan tulus:”Ya Allah, anak-anakku menunggu kelaparan di rumah, berilah aku seekor binatang buruan”. setelah doanya ia panjatkan, Allah memberikan nya rejeki, jala yang dibawa pemburu itu mengenai seekor ikan yang sangat besar. Ia pun bersyukur kepada Allah. kemudian, beranjaklah ia pulang dengan hati riang.

Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan kelompok orang dengan seorang raja yang hendak berburu. Raja heran dan takjub luar biasa begitu melihat ikan besar yang dibawa pemburu itu. Lalu, ia menyuruh pengawal untuk merampas ikan itu dari sang pemburu.

Tanpa susah payah, raja itupun mendapatkan ikan itu. dengan gembira, ia langsung pulang.

Ketika sampai di istana, ia mengeluarkan dan membolak-balik ikan itu sambil tertawa ria. tiba-tiba ikan itu mengigit jarinya. akibatnya, badan sang raja panas dingin, sehingga malam itu sang raja tidak bisa tidur. dengan rasa cemas, raja itupun memerintahkan agar seluruh dokter dihadirkan untuk mengobati sakitnya. semua dokter menyarankan agar jarinya itu dipotong untuk menghindari tersebarnya racun ke anggota badan lain.

Raja pun menyetujui nasihat mereka. Namun setelah jarinya dipotong, ia tetap tidak dapat istirahat karena ternyata racun itu telah menyebar ke bagian tubuh lainnya, Para dokter pun menyarankan agar pergelangan tangan raja dipotong dan raja pun menyetujuinya.

Namun setelah pergelangan tangannya dipotong, tetap saja raja tidak dapat memejamkan matanya, bahkan rasa sakitnya makin bertambah. ia berteriak dan meringis dengan keras karena racun itu telah merasuk dan menyebar ke anggota tubuh lainnya.

Seluruh dokter akhirnya menyarankan agar tangan hingga siku raja dipotong. raja pun menyetujuinya.

Setelah tangan hingga sikunya dipotong, sakit jasmaninya kini telah hilang, tetapi diri dan jiwanya tetap belum tenang. Semua dokter akhirnya menyarankan agar raja dibawa ke seorang dokter jiwa (ahli hikmah).

Dibawalah sang raja menemui seorang dokter jiwa. dan diceritakan seluruh kejadian seputar ikan yang ia rampas dari pemburu itu. Mendengar hal itu, ahli hikmah berkata, “Jiwa Tuan tetap tidak akan tenang selamanya sampai pemburu itu memaafkan dosa dan kesalahan yang telah Tuan perbuat.”

Kemudian raja itupun mencari pemburu itu.setelah didapatkan, raja menceritakan kejadian yang dialaminya. dan ia memohon agar si pemburu itu memaafkan semua kesalahannya.

Si pemburu pun memaafkannya sambil berjabat tangan. Sang raja penasaran ingin mengetahui apa yang dikatakan si pemburu ketika raja merampas ikannya.

“Wahai pemburu apakah yang kau katakan ketika aku merampas ikanmu itu?” tanya sang raja.

“Aku hanya mengatakan ‘ya Allah sesungguhnya dia telah menampakkan kekuatan nya kepadaku, perlihatkanlah kekuatan-Mu kepadanya!” jawab pemburu itu.

Sungguh, doa orang teraniaya sangat mustajab, maka berhati-hatilah dalam bertindak….

—————————————————

CERITA III

Ada satu kisah yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik Leadership yang bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasi sekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliau menceritakan satu kisah dengan sangat APIK dan membuat air mata pendengar berurai. Berikut ini adalah kisahnya:

Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur. Saya sudah berusaha membantu agar istri saya bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap, masih susah tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat. Akhirnya saya membawa istri saya ke RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3 hari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya. Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor. Selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan selalu kehausan sehingga setiap malam minum 3 galon air Aqua. Setelah dirawat 3 bulan di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya.

Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Mereka di Jakarta dan langsung di rawat di ruang ICU. Satu malam berada di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta. Badan istri saya –maaf- tidak memakai sehelai pakaian pun. Dengan ditutupi kain, badan istri saya penuh dengan kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu penyakit istri saya belum bisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.

Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui saya dan bertanya, “Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti obat istri bapak.”
“Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter minta izin ?”
“Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya disuntikkan ke istri bapak.”
“Berapa harganya dok?”
“Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak.”
“Satu hari berapa kali suntik dok?”
“Sehari 3 kali suntik.”
“Berarti sehari 36 juta dok?”
“Iya pak Jamil.”
“Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong temukan penyakit istri saya dok.”
“Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri bapak. Kami sudah mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.”
“Tolong dok…., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok dicari”
“Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami akan mengganti obatnya.” Kemudian dokter memeriksa lagi.
“Iya dok.”

Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua raka’at. Selesai shalat dhuha, saya berdoa dengan menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasululloh,
“Ya Allah, ya Tuhanku….., gerangan maksiat apa yang aku lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang tak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya Allah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit tak kunjung sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah. Bagimu amat mudah menyembuhkan penyakit istriku semudah Engkau mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah.”

Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya teringat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu sebanyak Rp150,-.

Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu itu SPP bulanannya adalah Rp 25,-. Setiap pagi wali kelas memanggil dan menanyakan saya, “JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ?” Malu saya. Dan ketika waktu istrirahat saya pulang dari sekolah, saya menemukan ada uang Rp150,- di bawah bantal ibu saya. Saya mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan Rp75,- saya gunakan untuk jajan.

Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya mengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi mengingatnya ??. Maka saya berkesimpulan mungkin ini petunjuk dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah itu saya menelpon ibu saya,

“Assalamu’alaikum Ma…”
“Wa’alaikumus salam Mil….” Jawab ibu saya.
“Bagaimana kabarnya Ma ?”
“Ibu baik-baik saja Mil.”
“Trus, bagaimana kabarnya anak-anak Ma ?”
“Mil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana kabar istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak ?” –dengan suara terbata-bata dan menahan sesenggukan isak tangisnya-.
“Belum sembuh Ma.”
“Yang sabar ya Mil.”
Setelah lama berbincang sana-sini –dengan menyeka butiran air mata yang keluar-, saya bertanya, “Ma…, Mama masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ?”
“Yang mana Mil ?”
“Kejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan di bawah bantal ?”
Kemudian di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding setiap kali mengingatnya)

“Mil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan melupakannya.” (suara mama semakin pilu dan menyayat hati),
“Gara-gara uang itu hilang, mama dicaci-maki di depan banyak orang. Gara-gara uang itu hilang mama dihina dan direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu itu mama punya hutang sama orang kaya di kampung kita Mil. Uang itu sudah siap dan mama simpan di bawah bantal namun ketika mama pulang, uang itu sudah tidak ada. Mama memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan memohon maaf karena uang yang sudah mama siapkan hilang. Mendengar alasan mama, orang itu merendahkan mama Mil. Orang itu mencaci-maki mama Mil. Orang itu menghina mama Mil, padahal di situ banyak orang. …rasanya Mil. Mamamu direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi mama dihinakan di depan banyak orang. SAKIT…. SAKIT… SAKIT rasanya.”

Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar penderitaan dan sakit hati yang dialami mama pada waktu itu, saya bertanya, “Mama tahu siapa yang mengambil uang itu ?”

“Tidak tahu Mil…Mama tidak tahu.”

Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan suara serak,
“Ma, yang mengambil uang itu saya Ma….., maka melalui telphon ini saya memohon keikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil Ma…., Jamil berjanji nanti kalau bertemu sama Mama, Jamil akan sungkem sama mama. Maafkan saya Ma, maafkan saya….”

Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana,
“Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim…..Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Maafkanlah dia ya Allah, ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia ya Allah.”
“Ma, benar mama sudah memaafkan saya ?”

“Mil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama mama memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau yang mengambil uang itu adalah kamu Mil.”
“Ma, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?”
“Mil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah saya maafkan, termasuk mengambil uang itu.”
“Ma, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat sembuh.”

“Ya Allah, ya Tuhanku….pada hari ini aku telah memaafkan kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya yang lain. Ya Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku ya Allah.”

Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terima kasih kepada mama. Dan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan pada pukul 11.45 wib seorang dokter mendatangi saya sembari berkata,

“Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan.”
“Apa dok?”
“Infeksi prankreas.”
Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata kebahagiaan, “Terima kasih dokter, terima kasih dokter. Terima kasih, terima kasih dok.”

Selesai memeluk, dokter itu berkata, “Pak Jamil, kalau boleh jujur, sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan sama dengan sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas. Dan kami meminta izin kepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu mengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi agar lebih mudah.”
Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat, saya kembali ke Bogor untuk sungkem kepada mama bersimpuh meminta maaf kepadanya, “Terima kasih Ma…., terima kasih Ma.”

Namun…., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah namun justru mama yang meminta maaf. “Bukan kamu yang harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya minta maaf.”

Sahabat Hikmah…
Maha benar sabda Rasulullaah shalallaahu ’alaihi wa sallam :
“Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)

“Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka:
orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang teraniaya.
Doa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, ‘Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.” (HR. Attirmidzi)

Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa:
Bila kita seorang anak:
* Janganlah sekali-kali membuat marah orang tua, karena murka mereka akan membuat murka Allah subhanau wa ta’ala. Dan bila kita ingin selalu diridloi-Nya maka buatlah selalu orang tua kita ridlo kepada kita.
* Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada orang lain, apalagi kepada kedua orang tua, karena doa orang teraniaya itu terkabul.
Bila kita sebagai orang tua:
* Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena kemarahan kita dan ucapan kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan kadang penyesalan adalah ujungnya.
* Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada Anak, berdoalah untuk kebaikan anak-anak kita, maafkanlah mereka.
Semoga bermanfaat dan bisa mengambil HIKMAH..
Wassalam
Diambil dari Mutiara Hikmah

Al Hikam Ayat 1 – Sisi 1

Belum lama ini, mendapatkan tugas untuk “menterjemahkan” kitab yang sangat populer, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain, yaitu kitab Al-Hikam, khususnya Ayat 1 yang ditulis oleh Ibnu Atha’illah Al Sakandari, ke dalam pengamalan kehidupan sehari-hari. Bunyi ayat 1 itu sebagai berikut :

مِنْ عَلَامَةِ الْاعْتِمَادِ عَلَىَ الْعَمَلِ – نُقْصَانُ الْرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الْزَّلَلِ

Salah satu tanda bergantung kepada amal adalah berkurangnya harapan saat mengalami kegagalan [A sign of dependence on deeds is the lack of hope when you slip into an error.]

Orang-orang yang membaca ayat ini pertama kali pasti sedikit mengeryitkan dahi. Berpikir keras untuk menterjemahkannya. Bahkan saya menemukan beberapa syarah (keterangan) ayat ini berbeda dari satu penulis ke penulis lain.

Namun demikian, saya mendapatkan tulisan Zig Ziglar yang mampu menggambarkan salah satu sisi (dari bayak sisi) ayat ini. Tulisannya berupa dongeng sbb :
———————————————–
Seorang pemuda menemui ayahnya dan berkata : “Ayah ada sebuah pohon yang roboh dan ia menghalangi jalanku. Aku tidak bisa memindahkannya.”

Ayahnya bertanya, “Anakku, apakah kamu sudah mengerahkan seluruh kekuatanmu ?”

“Mungkin belum ayah,” kata si pemuda mengakui, dan ia pun mencoba lagi. Namun, ia tetap tidak bisa memindahkan kayu tersebut, ia berkata lagi kepada ayahna, “Aku tidak bisa memindahkan pohon itu, ayah”

Lagi-lagi sang ayah bertanya, “Apakah kamu sudah mengerahkan seluruh kekuatanmu ?”

Pemuda itu berpikir keras, kemudian berkata, “Mungkin belum,” untuk kedua kalinya. Sekarang ia pergi ke garasi, mengambil balok dan katrol, memasangnya, dan mencoba untuk memindahkan kayu itu. Setelah itu, ia kembali kepada ayahnya, “Ayah, aku benar-benar tidak bisa memindahkan kayu itu.”

“Anakku, apakah kamu sudah mengerahkan seluruh kekuatanmu ?” Sayang ayah mengulangi pertanyaannya.

Pemuda itu berpikir keras, dan akhirnya berkata, “Ya Ayah, aku sudah mengerahkan seluruh kekuatanku.”

“Tidak”, kamu belum mengerahkan seluruh kekuatanmu,” kata sang ayah, “Jika kamu mengerahkan seluruh kekuatanmu, maka kamu pasti akan meminta pertolongan”
———————————————–
Cerita ini memberikan hikmah bahwa seringkali manusia merasa dapat berdiri dengan sendiri dan mampu berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi atau dibantu oleh sesiapa dan sesuatu (termasuk Tuhan). Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang pergantungan dengan Tuhan. Pergantungan mereka hanyalah kepada amalan semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah s.w.t, pergantungan itu bercampur dengan keraguan.

Fenomena ini banyak terjadi, walaupun dalam kesehariannya, orang tersebut banyak berdzikir :

لا حول ولاقوة إلا بالله
Tiada daya dan upaya kecuali beserta Allah.

Sekiranya Tuhan izinkan, kerohanian seseorang meningkat kepada maqam yang lebih tinggi. Nyata di dalam hatinya maksud kalimat :

“Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!” (QS As-Saaffaat : 96)

To Be Continued….

Ya Allah, Ramadhankan Diriku di bulan Ramadhanmu – Memoar 2012

Ya Allah, Ramadhankan Diriku di bulan Ramadhanmu.

Salam atasmu, wahai sebaik-baik waktu untuk ditemani, wahai bulan yang teragung dari sekian hari dan waktu lainnya. Keselamatan bagimu, engkaulah bulan di mana seluruh harapan mendekat, dan seluruh amalan menyebar. Keselamatan bagimu, sahabat yang mulia kedudukannya di saat berada di tengah-tengah kami, sahabat yang sangat disayangkan ketidakhadirannya bagi yang ditinggalkan, sahabat yang sangat diharapkan dan sangat tidak diinginkan perpisahannya. Keselamatan bagimu, engkaulah teman yang sangat disenangi kedatangannya, dan sangat disayangkan jika kembali dan meninggalkan kami. Keselamatan bagimu, engkaulah sahabat yang membuat hati jadi tenteram dan dosa-dosa berkurang. Keselamatan bagimu, yang hari-harinya terasa panjang bagi para pendosa, dan alangkah agungnya engkau di dalam jiwa orang-orang beriman. Keselamatan bagimu, wahai bulan yang tak tertandingi oleh hari dan bulan lainnya, yang membawa keselamatan kepada segala urusan. Keselamatan bagimu, engkau bulan yang tak di benci dalam bersahabat dan yang tak dicela dalam berkawan. Keselamatan bagimu, wahai bulan yang dinanti-nanti kedatangannya, dan ditangisi sebelum habis masanya. Keselamatan bagimu, tiada kami harapkan di hari-hari kemarin selain dirimu, tiada pula yang kami rindukan di hari-hari esok selain dirimu.

Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan kebenaran bulan ini, dan orang-orang yang berbakti kepada-Mu baik dari kalangan malaikat-Mu maupun para Rasul-Mu. Ataupun kaum shalihin yang Engkau istimewakan di bulan ini sejak dari awal hingga penghujungnya, agar Engkau limpahkanlah sejahtera kepada Nabi Muhammad dan keluarganya di setiap waktu dan kesempatan. Sejumlah hitungan salawat-Mu kepada orang-orang yang mengucapkan salawat kepada beliau. Dan dalam hitungan yang berlipat-lipat dari semua itu, yang tak mampu dihitung oleh makhluk-Mu yang lain, selain diri-Mu. Sungguh Engkau teramat kuasa melakukan sesuatu. Dan sebagaimana Engkau limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad saw., dan keluarganya, limpahkan pula kepada kami kemuliaan-Mu seperti yang Engkau janjikan kepada para kekasih-Mu.

Ya Allah, bagimu segala puji. Terimalah uzur dan halangan kami dalam melalaikan segala hak-Mu di bulan Ramadhan. Maafkan kami telah banyak ceroboh dan menyia-nyiakan Ramadhan-Mu. Karena itu limpahkanlah kepada kami karunia dan pahala yang mampu membuat kami memperbaiki kesalahan kami

Ya Allah, pada setiap malam dari bulan ini pula, ada leher-leher yang terbebas oleh ampunanmu. Maka masukanlah leher kami kepada golongan leher-leher itu. Hapuskanlah dosa-dosa kami bersamaan dengan Engkau menghapus dan menutupi cahaya bulan, hapuskan pula semua kesalahan-kesalahan kami bersamaan dengan berakhirnya hari demi hari di bulan ini. Sehingga, ketika bulan ini berlalu dari hadapan kami, Engkau telah membersihkan diri kami dari segala dosa dan kesalahan.

Ya Allah, yang menjadikan di dalamnya waktu-waktu tertentu yang tak bisa ditunda dan dimajukan. Yang kemudian memuliakan satu malam dari malam-malam lain yang keutamaannya melebihi seribu bulan. Di mana malam itu para malaikat dan ruh turun dengan izin-Mu dengan membawa segala urusan-urusan. Malam itu penuh dengan kesejahteraan dan keberkahan sehingga terbitnya fajar kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dari hamba-hamba-Mu dengan segala ketentuan-Mu.

Biarkan aku bertemu lagi dengan lailatul qadar-Mu.
Berikanlah aku kesempatan lagi untuk bertakzim dengan makhluk-mahlukmu yang lain
Biarkan aku bertakzim pada-Mu bersama gemuruh tasbih beribu malaikat yang turun
Biarkan aku bertakzim pada-Mu bersama ketakziman angin yang berhenti bertiup
Biarkan aku bertakzim pada-Mu bersama ketakziman air yang berhenti mengalir
Biarkan aku bertakzim pada-Mu bersama ketakziman waktu yang berhenti berdetak

Ya Allah, tolonglah kami untuk tetap melakukan ibadah puasa dengan menahan semua anggota badan melakukan kemaksiatan untukku senantiasa beramal sesuai dengan yang Engkau ridai. Dan bantulah kami untuk mengisi bulan Ramadhan ini dengan ketekunan beribadah kepadamu. Hiasilah seluruh waktu yang dikandungnya baik siang maupun malam hari dengan ketaatan kami kepada-Mu. Sehingga kami tidak lengah di siang hari dan kami tidak terbujur dalam kemalasan di malam hari. Kumpulkan kami ke dalam golongan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut karena mereka tahu, bahwa mereka pasti kembali ke Tuhan mereka. Gabungkanlah kami kepada kelompok orang yang bergegas dalam meraih kebaikan dan mereka yang segera memperolehnya. Balaslah pula amalan kami seperti balasan-Mu kepada para hamba-Mu yang gemar mentaati-Mu, kumpulkan kami beserta orang yang berhak memperoleh pangkat dan derajat yang tinggi berkat rahmat-Mu

Ya Allah, jika kami menyimpang di bulan ini, maka luruskanlah kami. Bila kami mengalami kebengkokan, maka tegakkanlah kami. Bila setan menguasai kami, maka lepaskanlah pengaruh musuh-Mu itu. Hingga pendengaran kami tidak condong untuk mendengarkan kesia-siaan, penglihatan kami tidak pula menyenangi pandangan yang penuh dengan kepercumaan. Hingga tangan kami tidak pula mendekati semua yang diharamkan, kaki kami tidak lagi melangkah ke daerah yang terlarang. Hingga perut kami tak menelan kecuali yang engkau halalkan, lidah kami hanya mengucapkan kata-kata yang engkau anggap patut dan berharga. Hingga kami tak berperilaku kecuali yang mendatangkan pahala-Mu dan tidak pula saling memberi kecuali yang tak mengundang siksa-Mu.

Ya Allah, bersihkan semua amalan kami dari sikap riya’ orang-orang yang riya dan sum’ah (menyebut-nyebut kebaikan), agar aku tidak menyekutukan-Mu dan tiada pula yang dapat ku harapkan dari-Mu. Tunjukilah kepada kami jalan untuk menyambung tali silaturahmi dan kebaikan di antara sesama keluarga kami, untuk tetap menjaga dan memperhatikan para tetangga kami dengan menghaturkan kepada mereka kemurahan dan pemberian. Agar harta kami bersih dari kotoran-kotoran dan hak-hak orang lain serta menjadi suci dengan mengeluarkan zakatnya, agar kami dapat menyambung kasih dengan orang yang terpisah dengan kami.

Ya Allah sadarkan orang yang menganiaya kami, untuk menghentikan permusuhan orang yang memusuhi kami, kecuali orang yang merupakan musuh-Mu karena mereka adalah musuh, tak mungkin kami sukai golongan yang tidak kami puji

Ya Allah, inilah Ramadhan, di mana kami berada, yang membawa pujian dan kebaikan, yang memberi banyak ganjaran, yang lebih mulia dari yang ada di seluruh alam semesta. Ia sebentar lagi meninggalkan kami. Ketika waktunya telah sempurna, masanya telah berakhir dan jumlah bilangannya telah habis. Kami mengucapkan selamat tinggal kepada yang perpisahannya berat sekali, merisaukan, menyedihkan dan membuat kami berduka atas kepergiannya. Padanya kami mempunyai janji yang terjaga, kesucian yang terpelihara, dan hak-Mu yang terpenuhi. Kami tak pernah berharap ia tinggalkan, tidak pula kami meninggalkan ia karena merasa bosan.

Karena itu penuhi permintaanku yang satu ini, ya Allah
Ramadhankan hatiku, Ramadhan ruh dan jiwaku, ramadhankan ragaku, ramadhankan segala-ku. Amin………..

Bukan TAQABBALLAHU, Tapi TAQABBALALLAHU!

Apa ya do’a atau ucapan yang disyariatkan kepada kita khususnya terkait dengan hari Idul Fitri ini?

Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar [dikutip dari Kitab Fathul Bari 2/446 yaitu kitab hadist Bukhari] :

“Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata :

“Artinya : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

Sering kali, saya menjumpai, penulisan yang KELIRU pada do’a ini, yakni TAQABBALLAHU, ini jelas SALAH, karena yang benar adalah TAQABBALALLAHU (TAQABBAL -mudah-mudahan dimaqbulkan ALLAHU-oleh Allah)

Perkara Menjawab Do’a ini.

saya belum menemukan keterangan bahwa, ketika seseorang mendoakan temannya dengan kalimat ini kemudian dijawab dengan kalimat:

Taqabbal ya kariim!

Ada yang bisa menambahkan ?


Masalah Tambahan Kalimat.

Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin, kullu aamin, wa antum bi khair.

atau ketika seorang rekan mengirimkan SMS lebih panjang lagi

Taqobbalallahu minnaa wa minkum, ja’alanaallaahu wa iyyaakum, minal ‘aaidina wal faaiziina, kullu ‘aamin wa antum bi khoirin.

wallahu a’lam, saya belum menemukan keterangan doa ini. Ada yang bisa menambahkan ?

Wallahu a’lam