Doa warisan nabi untuk mengobati kegelisahan, keresahan, kegundahan, kegalauan

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. “ ( Qs Yunus : 62-63 )

Salah satu bentuk penderitaan manusia adalah hati yang tidak tenang (gelisah). Perasaan-perasaan yang mengusik hati dan menyiksa jiwa, sehingga hidup terasa mendung, keruh dan sempit. Perasaan ini dapat dibagi menjadi tiga :
1. Huzn (kesedihan akan apa yang terjadi di masa lalu)
2. Hamm (Keresahan / kekhawatiran terhadap masa yang akan datang
3. Ghamm (gundah karena menghadapi kenyataan sulit yang dihadapi sekarang)

Perasaan negatif ini bisa jadi sulit dikendalikan oleh orang yang bersangkutan. Dan pada saat ini biasanya orang-orang mencari cara praktis dan cepat (semacam P3K) keluar dari masalah ini. Sedangkan golongan ruhaniawan biasanya memberikan nasehat penawar kegelisahan melalui ketulusan penuh untuk kembali kepada Allah, kesempurnaan perasaan hina di hadapan-Nya, kerendahan hati kepada-Nya, ketundukan dan kepasrahan terhadap perintah-Nya, percaya akan ketentuan-Nya, mengenal-Nya dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, percaya kepada kitab-Nya, selalu membaca dan merenungi serta mengamalkan segala kandungannya. Dengan itu semua -bukan dengan yang lain – segala kekacauan hati itu akan sirna, dada menjadi lapang, dan kebahagiaan pun akan datang, demikian kata ulama.

I. Doa warisan dari Rasulullah saw.

Dalam Musnad Ahmad dan Shahih Ibni Hibban serta lainnya, ‘Abdullah bun Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan doa berikut (ini) tatkala ia didera keresahan atau kesedihan melainkan Allah pasti akan menghilangkan keresahannya dan akan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan. Para Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sudah seharusnya kami mempelajari doa tersebut. Rasulullah menjawab, “Benar. Sudah seharusnya orang yang mendengarnya mau mempelajarinya”. Musnad Ahmad 1/391 (Ash-Shahihah no 199)

Doa yang dimaksud berbunyi: (majalah As-Sunnah Edisi 02/Thn. XIV, Jumadil Awwal 1431 H, Mei 2010 M)
Doa-Nabi
Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku.[al-Fawa’id karya Imam Ibnul Qayyim hlm. 44]

Sudah selayaknya seorang Muslim mempelajari dan berupaya kuat untuk mengucapkannya kala ditimpa kesedihan, keresahan maupun kegalauan. Dan hendaknya ia juga tahu bahwa ungkapan-ungkapan doa tersebut hanya akan bermanfaat bila ia memahami maknanya, merealisasikan tujuannya dan mengamalkan kandungannya.

Berdoa dengan doa-doa yang bersumber dari Nabi dan berdzikir dengan wirid yang disyariatkan tanpa ada pemahaman terhadap maknanya dan tanpa mengejawantahkan kandungannya, tidak mendatangkan pengaruh baik dan manfaat yang banyak. Doa ini memuat empat pilar yang agung. Tak ada cara bagi seorang hamba untuk menggapai kebahagiaan dan melenyapkan keresahan, kegalauan dan kesedihan kecuali dengan merealisasikannya.

Pilar pertama,
Merealisasikan ibadah hanya untuk Allah, merasa hina di hadapan-Nya, mengaku bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan-Nya sekaligus hamba-Nya, baik dirinya maupun kakek dan nenek moyangnya, mulai dari bapak ibu kandungnya yang terdekat sampai berpangkal pada Adam dan Hawa. Semua adalah hamba dari Allah. Dialah yang menciptakan mereka, Rabb mereka, Penguasa mereka, yang menangani segala urusan mereka.
Di antara bentuk realisasi pengakuan-pengakuan di atas adalah konsistensi seorang hamba dalam beribadah kepadaNya yang terwujud dalam rasa keterhinaan dan ketundukannya kepada Allah, melaksanakan titah dan menjauhi laranganNya, selalu merasa butuh kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, tawakkal kepada-Nya, meminta perlindungan kepada-Nya, dan agar hati tak bertaut pada selain-Nya, baik dalam hal kecintaan, rasa takut, maupun pengharapan.

Pilar kedua,
hendaknya seorang hamba mengimani qadha dan qadar Allah. Juga meyakini apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sedang yang tidak dikehendaki-Nya tak akan terjadi. Demikian pula bahwa tidak ada yang sanggup mengintervensi hukum Allah (merubah ataupun membatalkannya), tak ada pula yang dapat menolak keputusan-Nya (Lihat QS Fathir/35:2).

Karena itulah, dalam doa tersebut dinyatakan, “Ubun-ubunku ada ditangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku terhadapku, keputusan-Mu terhadapku adil semata.” Ubun-ubun seorang hamba, yakni kepada bagian depan, ada di tangan Allah. Allah memperlakukannya sekehendak-Nya; juga memberi ketentuan terhadapnya sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tak ada yang bisa mencampuri ketentuan-Nya, tidak ada pula yang bisa menolak keputusan-Nya, tidak ada pula yang bisa menolak keputusan-Nya. Maka dari itu, kehidupan seorang hamba, kematiannya, kematiannya, kebahagiaannya, kesengsaraannya, kesehatannya, cobaan yang ia terima, semua itu kembali pada Allah, tak ada sama sekali yang menjadi wewenang hamba.

Bila seorang hamba percaya bahwa ubun-ubunnya dan juga ubun-ubun semua hamba lainnya ada di tangan Allah, Dia akan memperlakukan mereka sesuai dengan kehendak-Nya, maka setelah itu ia tidaklah takut kepada sesama hamba, tidak menaruh harap pada mereka, tidak memposisikan mereka sebagai pemilik dirinya, tidak menggantungkan asa dan harapannya pada mereka. Ketika itu, barulah tauhid, tawakkal dan penghambaannya kepada Alllah benar-benar terwujud. (Lihat surat Hud 11:56)

Ungkapan dalam doa “ketentuan-Mu berlaku atas diriku” ini mencakup dua ketentuan; ketentuan dalam agama dan ketentuan dalam agama dan ketentuan takdir berkenaan dengan semesta. Dua ketentuan ini akan berlaku pada diri hamba, ia terima ataupun tolak. Hanya saja ketentuan takdir tidak mungkin untuk dilawan. Sedangkan ketentuan agama terkadang dilanggar oleh seorang hamba dan ia terancam mendapatkan hukuman siksa sesuai dengan pelanggaran yang ia lakukan.

Ungkapan “keputusan-Mu terhadapku adil semata”, ini mencakup semua keputusan Allah terhadap hamba-Nya dari segala sisi, baik sehat atau sakit, kaya atau miskin, rasa nikmat atau rasa nyeri, hidup atau mati, mendapat siksa atau mendapat ampun; semua yang Allah putuskan terhadap hamba itu adalah adil semata.

Pilar ketiga
adalah hendaknya seorang hamba mempercayai nama-nama Allah yang indah (asmaul husna) dan sifat-sifat-Nya yang agung yang terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah; bertawassul kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya. Ini sebagaimana firman Allah, Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu (Qs al-Araf/7:180)

Semakin kuat seorang hamba mengenal Allah, nama dan sifat-Nya, maka ia akan semakin takut kepada Allah, semakin besar merasakan pengawasan-Nya terhadap dirinya dan akan semakin jauh dari kemaksiatan dan hal-hal yang Allah murkai.

Karena itulah, hal terbesar yang dapat mengusir rasa resah, sedih dan gelisah adalah kala hamba mengenal Rabbnya, memenuhi hatinya dengan pengetahuan tentang Allah dan bertawassul kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya. Karena itulah dalam doa tersebut dinyatakan, aku memohon kepada-Mu dengan segenap nama milik-Mu yang Engkau sandangkan pada diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada seseorang dari sekalian hamba-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri di ilmu gaib yang ada pada sisi-Mu. Ini adalah wasilah kepada Allah yang paling Allah cintai.

Pilar keempat
adalah memberikan perhatian pada al-Quranul Karim yang sama sekali tidak mengandung kebatilan sedikit pun, yang memuat petunjuk, kesembuhan, kecukupan dan keselamatan. Semakin besar perhatian seorang hamba pada al-Qur’an, baik dengan membaca, menghafal, mengkaji dan merenungkannya, mengamalkan, dan mengejawantahkannya, ia akan menggapai kebahagiaan, ketenangan, kelapangan dada, hilangnya resah, gelisah dan kesedihan sesuai dengan tingkat perhatiannya terhadap Kitabullah.

Inilah empat pilar yang agung yang dipetik dari doa yang penuh berkah ini. Sudah sepantasnya kita menghayatinya dan berupaya untuk mewujudkannya, agar kita bisa menggapai janji mulia dan keutamaan agung ini berupa sirnanya keresahan yang berganti dengan kebahagiaan dan jalan keluar. Diangkat dari at-Tabyin li Da’awatil Mardha wal Mushabin karya Syaikh ‘Abdur Razzaq hlm. 40-45.

Doa ini juga di bahas pada buku Ad-daa’ wa ad-dawaa’ yang artinya adalah Macam-macam penyakit hati yang membahayakan dan resep pengobatannya.

II. ISMUL A’ZHAM

Do’a ismul a’zhom penyembuh kegundahan & kegelisahan hati

ﻴﺎ ﺤﻠﻴﻡ ﻴﺎﻋﻠﻴﻡ ﻴﺎﻋﻠﻲ ﻴﺎﻋﻇﻴﻡ

“ Yaa Haliimu Yaa ‘Aliimu Yaa ‘Aliyyu Yaa ‘Azhiimu “.

Artinya : “ Ya Allaah Tuhan Yang Maha Kasih Sayang, yang Maha Mengetahui dan Maha Tinggi lagi Maha Agung “.

Keterangan :
Pada suatu hari Muthrib Bin Abdullah Bin Mash’ab Al-Madani pergi berkunjung kerumah Khalifah Al Manshur. Muthrib mengetahui kalau raut muka khalifah terlihat murung, mungkin karena ada sesuatu yang menimpa dirinya.

Sebelum Muthrib mengucapkan sepatah kata, khalifah berkata : “ Wahai saudaraku Muthrib, aku telah berhari-hari ditimpa kegundahan dan aku tidak dapat menghilangkannya dengan segera”. Muthrib menjawab : “ Wahai Amirul Mu’miniin, Muhammad Bin Tsabit pernah bercerita kepadaku, bahwa salah seorang penduduk bashrah telah ditimpa mushibah, menderita sakit telinga beberapa hari lamanya yang menyebabkan dia tidak bisa tidur. Hasan Bashri berkata kepada sipenderita itu : “ bacakanlah ‘Ismul A’zhom’ yang selalu menjadi ‘amalan sehari-hari ‘Ula bin Khadrami. Ia pernah berada dalam kesulitan, yaitu pernah kehabisan air ditengah-tengah padang pasir. Dan ia pernah hendak menyeberangi laut Bahrain bersama kudanya ketika dalam peperangan, sedangkan kapal dan alat penyeberangannya tidak ada pada saat itu ia bersama Abu Hurairah.

Mendengar cerita Muthrib yang begitu menarik, khalifah berkata : “ Hai Muthrib, teruskanlah ceritamu itu “.Lalu Muthrib meneruskan ceritanya, bahwa ketika ‘Ula bin Khadrami sedang dalam perjalanan ditengah-tengah padang pasir, ia kehabisan air sehingga hampir saja ia mati karena kehausan. Lalu ia mengerjakan shalat 2 rakaat lalu dibacanya kalimat yang tersebut diatas. Akhirnya tidak berapa lama kemudian mendungpun datang yang disusul dengan turun hujan yang deras tercurah dari langit. ‘Ula bin Khadrami minum sepuas-puasnya serta mengisi kantong kulitnya dengan air hujan untuk bekal melanjutkan perjalanannya.

Lalu Muthrib melanjutkan ceritanya, bahwa ketika ‘Ula bin Khadrami hendak menyeberangi laut Bahrain, iapun mengerjakan sholat 2 rakaat kemudian membaca kalimat tersebut beberapa kali. Lalu dikendarailah kudanya itu. Tanpa ragu-ragu diseberangilah laut Bahrain yang luas itu bagaikan berjalan diatas tanah, hingga ia selamat sampai keseberang ”.

Sementara khalifah yang sangat tertarik mendengarkan cerita ini, lalu bertanya :
“ Bagaimana dengan seorang laki-laki yang menderita sakit telinga tadi ? “. Muthrib menjawab seraya melanjutkan ceritanya, bahwa lelaki itu membaca terus kalimat tersebut dengan tidak henti-hentinya serta berharap agar Allaah menyembuhkan penyakitnya itu. Tiba-tiba pada suatu hari lelaki itu dikejutkan seolah-olah ada sesuatu yang keluar dari dalam telinganya kemudian terbang. Sejak saat itu dia sembuh dari sakit telinga yang dideritanya.

Adapun khalifah setelah mendengar cerita itu lalu memohon diri kapada Muthrib masuk kekamar ibadahnya. Tidak beberapa lama kemudian ia keluar dengan raut muka yang berseri-seri dan wajah yang tampak gembira seraya berkata : “ Hai Muthrib Allaah telah menghilangkan kegundahanku berkat do’a ‘Ula bin Khadrami itu. Sejurus kemudian khalifah mengajak Muthrib makan bersama sebagai tanda rasa bersyukur kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aala dengan hilangnya kegundahan dan kegelisahan yang mencekam dirinya.

III. Do’a untuk menghilangkan rasa was-was

ﺍﻤﻧﺎ ﺒﺎﺍﷲ ﻭﺮﺴﻭﻟﻪ ﻫﻭﺍﻻﻭﻞ ﻭﺍﻻﺨﺮﻭ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻭﺍﻟﺒﺎﻂﻦ ﻮﻫﻮ ﺒﻜﻞ ﺸﻴﻰﺀ ﻋﻟﻴﻢ

“ Aamanna Billaahi Warusulihi Huwal Awwalu Wal Aakhiru Wazh Zhoohiru Wal Baathinu Wa Huwa Bikulli Syai_in ‘Aliimun “.

Artinya : “ Kami telah beriman kepada Allaah dan kepada segenap Rasul-Nya, Dialah yang tidak berawalan dan tidak berakhir, dan Dialah yang nyata dan yang bersembunyi, Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu “.

Keterangan :
Menurut riwayat Ibnu Sunni yang bersumber dari ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anhaa, bahwasanya Rasuulullaah Shallallaahu ‘alaihi Wa Aalihi Wa Sallam bersabda :
“ Barang siapa yang menemukan was-was didalam hatinya.yaitu ; Allaah menjadikan makhluk ini, lalu siapakah yang menjadikan Allaah itu ? maka hendaklah ia membaca “ Aamanna Billaahi warusulihi “, sebanyak 3 kali.karena dengan demikian dapat menghilangkan keraguan/was-was itu dari padanya.

Menurut riwayat Muslim yang bersumber dari ‘ Utsman Bin Abil ‘Ash Radhiyallaahu ‘anhu ia berkata : “ wahai Rasuulullaah sesungguhnya syetan itu melindungiku antara daku dengan shalat dan bacaanku, ia kacaukan shalatku sampai hilang kekhusyu’anku.
Rasuulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wa Sallam bersabda : “ Itulah syetan yang disebut orang namanya “ Khanzab “ maka apabila kamu merasakan adanya gangguan itu, berlindunglah kepada Allaah dari padanya dengan mengucapkan “ A’uudzu Billaah “ lalu meludahlah kesebelah kirimu sebanyak 3 kali “. Dan setelah aku melakukan anjuran beliau itu, maka Allaah menghilangkan was-was itu dariku “.

Menurut riwayat Abu Dawud yang bersumber dari Abu Rumail Radhiyallaahu ‘Anhu bahwa ia berkata : “ Aku menceritakan kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallaahu ‘Anhu tentang yang aku alami yang terjadi didalam dadaku. Ia bertanya : “ Apakah itu ? “. Aku menjawab : Demi Allaah, aku tidak dapat menceritakannya. Ia berkata kepadaku : “ Apakah itu, sesuatu yang berupa Keraguan ? seraya tersenyum kemudian ia melanjutkan ucapannya : “ Tiada seorangpun selamat dari padanya hingga Allaah menurunkan Firman-Nya (yang artinya) : “ Maka jika kamu berada didalam keragu-raguan tentang siapa yang Kami turunkan kepadamu maka tanyakan kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya setelah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu “.(Al Quran Surat Yunus ayat 94).

Ia berkata lagi kepadaku : “ Apabila kamu mendapatkan sesuatu didalam dirimu, maka bacalah: “ Huwal Awwalu Wal Akhiiru Wazh Zhoohiru Wal Baathinu, Wahuwa Bikulli Syai-in ‘Aalliim “.

IV. Do’a untuk penyembuh penyakit was-was

ﺴﺒﺤﺎﻦ ﺍﻟﻤﻟﻚ ﺍﻟﻗﺪﻮﺱ ﺍﻠﺧﻼﻖ ﺍﻟﻔﻌﺎﻞ ﺍﻦ ﻴﺸﺄ ﻴﺬﻫﺒﻜﻢ ﻮﻴﺄﺖ ﺒﺨﻠﻖ ﺠﺪﻴﺪ ﻮﻤﺎ ﺫﻠﻚ ﻋﻟﻰ ﺍﷲ ﺒﻌﺯﻴﺯ

“ Subhaanal Malikil Qudduusil Khollaaqil Fa’ ‘Aali In Yasya’ Yudzhibkum Wa Ya’ti Bikholqin Jadiidin Wa Maa Dzaalika ‘Alallaahi Bi ‘Aziiz “.

Artinya : “ Maha Suci Tuhan Yang Maha Memiliki, Yang Maha Quddus, Yang Menjadikan dan yang Memperbuat. Jika Dia menghendaki dihilangkan dan digantinya dengan kejadian yang baru, yang demikian itu tidaklah susah bagi Allaah “.

Keterangan :
Berkenaan dengan bacaan diatas, ada seorang laki-laki bernama Abul Hasan yang telah ditimpa penyakit was-was didalam setiap ia mengerjakan wudhu.

Karena terlalu susahnya penyakit yang menimpa dirinya itu, maka ia akan mengadukan kepada gurunya yang yang bernama Abul ‘Abbas Al Marisi.. Lalu sang guru itupun berkata : “ inilah orang yang sedang bermain-main dengan syetan, bukan syetan yang mempermainkannya ”.

Hanya perkataan itulah yang diucapkan oleh sang guru kepada muridnya, akan tetapi didalam perkataan itu terkandung satu pengertian bahwa ia dilarang untuk memberikan kesempatan kepada syetan untuk bermain didalam hati, karena syetan tidak akan bisa membuat was-was dalam hati seseorang. Akan tetapi, rasa was-was itu masih tetap terdapat didalam hati Abul Hasan. Kemudian sang guru itu berkata kepadanya : “ Ucapkanlah kalimat tasbih (seperti yang tertera diatas,berulang-ulang)dan yakinkanlah didalam hati bahwa Tuhan lebih kuat dari pada syetan,” selanjutnya sang guru berkata : “ apabila rasa was-was itu belum juga hilang dari hatimu, selama itu janganlah kamu datang kemari “.

Sejak itu Abul Hasan melaksanakan saran-saran dari sang guru, pada akhirnya berkat usaha kerasnya itu ia pun berhasil. kemudian ia datang menjelaskan kepada gurunya bahwa pada mulanya ia mengalami kesulitan yang sukar untuk diatasi, namun sekarang penyakit was-was yang menimpa pada dirinya telah hilang sama sekali.

V. Do’a untuk menghilangkan rasa gelisah

ﺍﻋﻴﺫ ﺒﻜﻠﻤﺎﺖ ﺍﷲ ﺍﻟﺘﺎﻤﺎﺖ ﻤﻦ ﻏﺿﺒﻪ ﻮﻋﻘﺎﺒﻪ ﻮﺸﺮﻋﺒﺎﺪﻩ ﻮﻤﻦ ﻫﻤﺯﺍﺓ ﺍﻠﺷﻴﺎﻂﻴﻦ ﻭﺍﻦ ﻴﺤﺿﺭﻮﻦ

“ U’iidzu Bikalimaatillaahit Taammaati Min Ghodhobihi, Wa ‘Iqoo Bihi Wa Syarri ‘IbadihiWa Min Hamazaatisy Syayathiini Wa An Yahdhuruuni “.

Artinya : “ Aku berlindung dengan menyebut kalam Allaah yang sempurna dari kemurkaan-Nya, siksa-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya dari gangguan syetan dan kedatangan mereka kepadaku “.

Keterangan :
Menurut riwayat Ibnu Sunni bahwa pada suatu hari datanglah Al Walid Bin Walid kehadapan Rasuulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam untuk menceritakan dirinya yang semalaman tidak bisa tidur karena hatinya merasa gelisah. Oleh Rasuulullaah ia disuruh membaca bacaan diatas, apabila ia akan mengambil tempat tidur, niscaya syetan tidak akan mengganggunya atau tidak akan mendekatinya.

VI. Do’a untuk menyembuhkan hati yang gundah

ﺴﺑﺤﺎﻦ ﺍﻠﻤﻠﻚ ﺍﻠﻗﺪﻮﺱ ﺭﺐ ﺍﻠﻤﻼﺀﻜﺔ ﻮﺍﻟﺭﻮﺡ ﺠﻠﻠﺕ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻮﺍﻻﺭﺽ ﺑﺍﻠﻌﺯﺓ ﻮﺍﻠﺟﺑﺭﻮﺖ

“ Subhaanal Malikil Qudduus Robbul Malaaikati War Ruuhi Jallalatis Samaawaati Wal Ardho Bil ’izzati Wal Jabaruuti “

Artinya : “ Maha Suci Allaah Penguasa yang Maha Qudduus, Tuhan yang disembah oleh para malaikat. Engkau penuhi langit dan bumi dengan kemuliaan dan keperkasaan-Mu”

Keterangan :
Menurut riwayat Ibnu Sunni bahwa ada seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasuulullaah shallallaahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wa Sallam tentang kegundahan hati yang mencekamnya. Kemudian beliau memerintahkan untuk membaca sebanyak-banyaknya bacaan di atas. Maka setelah orang itu membacanya, hilanglah kegundahannya.

VII. Untuk mengusir dan menghilangkan kesedihan dari diri kita, Rasulullah shallahu ‘alahi wassalam mengajarkan kepada kita doa :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ كَثِيرًا يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ

“ Dari Anas bin Malik : Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdo’a: “Allahumma Inni A’uudzu Bika Minal ‘Ajzi Wal Kasali Wal Bukhli Wal Jubni Wa Dhal’i ad-Daini Wa Ghalabatir Rijaal” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan orang lain“ ( HR Bukhari )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk berlindung kepada Allah dari delapan perkara, setiap dua perkara saling berdekatan maknanya, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qayim di dalam bukunya “ Badai’ al- Fawaid : 2/ 433 “ .

Pertama dan Kedua : al-Hamm dan al –Hazan

Al-Hamm ( Kegelisahan ) dan al-Hazan ( Kesedihan ) keduanya sama-sama membuat jiwa menjadi tidak tenang, dan tidak nyaman. Tidak seorangpun menginginkan jiwa gelisah dan sedih. Adapun perbedaan antara keduanya, bahwa al-Hamm adalah kegelisahan terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Sedang al Hazan adalah kesedihan terhadap sesuatu yang telah terjadi atau kehilangan sesuatu yang dicintai.

Ketiga dan keempat : Al-‘Ajz dan al-Kasal,

Al-‘Ajz ( lemah ) dan al-Kasal ( malas ) keduanya menjadi penyebab rasa tidak nyaman dalam jiwa, karena lemah dan malas akan menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang dicintainya dan membahagiakandirinya. al-‘Ajzu ( lemah ) adalah tidak adanya kemampuan diri untuk mengerjakan sesuatu walau sebenarnya dia punya kemauan, sedangkan al-Kasal ( malas ) adalah tidak adanya kemauan untuk melakukan pekerjaan, walaupun sebenarnya dia mampu.

Kelima dan keenam : al-Jubnu dan al-Bukhlu

Al-Jubnu ( penakut ) dan al-bukhlu ( bakhil ) keduanya menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran yang ada di dalam dirinya tentang nasib jiwa dan hartanya di masa mendatang, maka dia menjadi penakut dan bakhil. Pengecut khusus bagi orang yang takut jiwanya terancam, sedang bakhil khusus bagi orang yang takut hartanya habis.

Kedua sifat itu tentunya merupakan penyakit jiwa yang harus dihilangkan dari diri kita selain membahayakan akherat dan agamanya, juga membahayakan dunia dan kesehatannya.

Ketujuh dan Kedelapan : Ghalabat ad-Dain dan Qahru ar-Rijal.

Ghalabat ad-Dain ( Hutang yang melilit ) dan Qahru ar-Rijal ( Penguasaan orang ), dua hal yang sering melekat satu dengan yang lainnya. Bagaimana ? Ya, seseorang yang punya hutang banyak, sehingga hutangnya melilit diri dan kehidupannya, maka secara otomatis dia dibawah pengawasan dan kekuasaan orang yang menghutanginya.

Oleh karenanya, sering kita dapatkan seseorang yang mempunyai hutang yang sangat banyak kepada seseorang dan tidak sanggup membayarnya, dia rela mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh orang yang memberikan hutang kepadanya asal hutangnya lunas, bahkan kadang rela menjual dirinya dan kehormatannya demi untuk membayar hutang-hutangnya.Na’udzubillah min dzalik.

Di dalam hadist riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“ Dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat membaca do’a: “ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al Masihid Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan hutang.” ( HR Bukhari dan Muslim )

Apa hubungan antara perbuatan dosa dan hutang, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan antara keduanya ? Ya, karena orang yang sering berhutang, biasanya dia akan berbuat dosa. Dia sering berjanji akan melunasi hutang tersebut pada tanggal sekian, tapi ketika ditagih, dia mangkir dan memberikan alas an-alasan. Inilah perbuatan dosa.

Begitu juga, seseorang yang berhutang sering kali berkata bohong. Ketika ditagih hutangnya, dia berusaha untuk mencari alasan-alasan yang kebanyakan dibuat-buat, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan antara kedua sifat itu, karena saling berdekatan dan saling terkait.

Di dalam hadits tersebut, ada seseorang berkata kepada beliau, “Kenapa tuan banyak meminta perlindungan dari hutang?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menjawab :

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

“Sesungguhnya seseorang apabila berhutang dia akan cenderung berkata dusta dan berjanji lalu mengingkarinya.“

VIII. TADABUR QURAN

1. SURAT AL HADIT AYAT 22-23

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembiraterhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri

2. SURAT AT TAUBAH AYAT 51

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

3. SURAT FUSHILAT AYAT 30-32

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. 32. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Fushilat 30-32)

4. SURAT AT-HUR 48-49

“ Ya Allah telah Kau ingatkan pada kami agar kami bersabar dengan apa yang telah kau tetapkan bagi kami. Sesungguhnya kami berada dalam pengawasan dan penjagaanMu. Dan telah Kau ingatkan pada kami agar kami bertasbih mensucikan namaMu ketika kami bangun dan berdiri, dan telah Kau ingatkan pula pada kami agar kami bertasbih menyebut namaMu dimalam hari hingga terbenam bintang dilangit. Ya Allah Tolong kami untuk bersabar dengan apa yang telah Kau tetapkan pada kami, tetapkan hati kami untuk bertasbih mensucikan namaMu dimanapun kami berada , jadikan kami dalam pengawasan dan penjagaanMU. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah”

One thought on “Doa warisan nabi untuk mengobati kegelisahan, keresahan, kegundahan, kegalauan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *