Definisi Ulama Warasatul Anbiya

Oleh : Prof. DR. H.SS. Muhammad Amin

Dirasakan banyak sekali kesimpang-siuran dalam penafsiran Hadits: “al-Ulama’u warosatul an biyaa’i” (Ulama itu adalah pewaris nabi, H.R. Turmudzi) baik di Indonesia maupun di negara Islam lainnya, karena bagi orang awam sulit membedakan Ulama yang pewaris. Lebih-lebih lagi kalau kita dengar, bahwa rusaknya agama ada kalanya oleh Ulama itu sendiri. Sehingga ada fatwa seorang arif yang mengatakan Islam itu dirusak dari dalam oleh orang Islam sendiri. “al-Islamu mahjuubun bil muslim”. Maka makin kaburlah pengertian pewaris itu.

Dalam kitab Durratun Nasihin kita baca sebuah Hadits/ fatwa : “Akan datang pada manusia satu zaman dimana Islam tidak ada, kecuali namanya dan tidak ada agama kecuali undang-undangnya, dan tidak ada al-Qur’an kecuali bacaannya, mereka ikut membangun meramaikan masjid yang besar-besar padahal ia kosong dari roh Islam (dzikrullah). Yang paling jelek di akhir zaman adalah Ulamanya, fitnah akan timbul dari mereka dan menimpa mereka. Semua itu adalah tanda-tanda/ isyarat akan dekatnya hari kiamat”.

Pada umumnya orang awam menganggap Ulama itu adalah seorang yang menguasai lautan Ilmu Islam, banyak pengikutnya dan lama bermukim di Mekkah ditambah fasih bahasa Arabnya, sebagaimana dia melihat dan mendengarnya. Itulah kira-kira ukuran/ penilaian mereka tentang Ulama secara lahiriah. Ada juga yang mengatakan seorang Ulama itu adalah seorang yang berilmu dan memberi pelajaran yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada ummat, yaitu ilmu yang berhubungan dengan DIEN (‘Ulumuddin).

Definisi Ulama Pewaris menurut ukuran-ukuran tersebut di atas dalam haqiqinya belum dapat disebut Pewaris Nabi seperti dimaksud Hadits tersebut. Karena Ulama yang disebut Pewaris Nabi itu menurut hakikatnya harus yang mewarisi dzahir dan bathiniah Nabi yaitu peragaan jasmani/ perilaku serta kesucian rohani Nabi. Dengan kesucian rohnya itu menerima wahyu yang tidak ada duanya manusia di dunia (kecuali Rasul Allah sebelumnya) serta mensucikan arwah insan. Inilah perbedaan manusia anak cucu bani Adam yang bernama Muhammad bin Abdullah dan kita sebagai manusia yang juga anak cucu bani Adam.

Perbedaan inilah yang dianggap sementara orang kecil artinya dan dianggap sepele oleh sementara pendapat, sehingga mensejajarkan dengan manusia biasa karena terbatas pola fikirnya, tenggelam dengan ilmu dzahirnya, tidak dapat melihat dengan mata hatinya yang berada dalam Ilmu Tasawuf Islam, lapisan al-Qur’an sebelah dalam.

Ucapan dan fikirannya bersikeras bahwa Muhammad itu manusia biasa, yang tak perlu diagung-agungkan/ dilebih-lebihkan, walaupun Beliau seorang Nabi, tanpa mengkaji siapa Rasul Allah/ Kekasih Allah secara haqiqi dan siapa itu Muhammad bin Abdullah. Padahal hanya Muhammad yang dianggap manusia biasa oleh sementara ahli Fiqih satu-satunya manusia di kolong langit ini yang pernah sampai ke Hadirat-Nya menurut kitab suci al-Qur’an. Namun hal ini tidak diriset yang tentunya ada suatu hubungan yang sangat akrab/ tahqiq antara yang mengutus dan yang diutus sehingga hanya ummat yang ditunjuki-Nya saja yang dapat merasakan arti haqiqinya siapa utusan Allah yang satu-satunya itu dan apa itu Wahyu yang tak berhuruf dan tak bersuara dapat diteruskan dengan bahasa manusia.

Para Sufi berkias : “Ada Muhammad anak Abdullah bin Abdul Muthalib (dzahir) dan ada Muhammad Rasul Allah (Nur)”.

Seumpama kita mewarisi sebidang tanah, tentu berikut apa yang ada di dalam tanah itu, bukan hanya pohon-pohon dan bangunannya saja. Andaikata di dalam tanah yang diwariskan itu mengandung bahan-bahan tambang yang berharga seperti emas, minyak bumi, dan bahan-bahan galian lainnya tentu menjadi pemilik si pewaris, sekurang-kurangnya si pewaris mendapat manfaat.

Kalau Waris Nabi itu diukur dengan apa yang dilihat dan didengar saja, alangkah keliru dan ruginya kaum Muslimin di Dunia, karena para Orientalis Barat maupun Orientalis Timur bisa lama bermukim di Mekkah, bisa mengajar di Perguruan Islam sedunia al-Azhar dan bisa banyak jamaahnya, buku-buku tentang Agama Islam bisa beratus-ratus judul jumlahnya, baik yang disumbangkan maupun yang diperjualbelikan. Mereka itu jenius-jenius yang pandai berayat dan berhadits, ahli sastra Arab yang merupakan pendakwah syari’at agama yang mengagumkan walaupun kafir hatinya, sekalipun otak dan mentalnya sudah Islam 100% tetapi hatinya lebih jahat dari Nasrani dan Yahudi yang jahat.

W A R I S artinya pelimpahan dari satu pada yang lain dalam keadaan utuh dan komplit. Kalau berupa Ilmu yang diwariskan tentu meliputi segala lapisannya sebab segala sesuatunya itu berlapis, Surga berlapis, Bumi berlapis, Langit berlapis dan Ilmu agama Islampun berlapis. Ada Syari’at, ada Thariqat, ada Hakikat dan ada Ma’rifat.

Jadi jelas sekali, bahwa Waris Nabi itu harus yang mewarisi Ilmu lahiriah dan Ilmu batiniah Nabi sesuai dengan yang dicontohkan Nabi sendiri, karena Nabi itu sendiri dari dua unsure yaitu diri jasmani dan diri rohani. Kalau kita diwarisi hanya Ilmu lahiriah saja seperti Ilmu Fiqih/ Mantiq/ Bayan/ Sastra Arab dan Falsafahnya berarti menerima waris yang tidak lengkap, kalau ada istilah “setengah waris” itu jauh dari arti yang dimaksud Hadits.

Oleh karenanya sulit sekali kita mendapatkan seorang Ulama Waris Nabi, tidak mudah seperti apa yang disangka orang awam. Untuk gambaran ini, baiklah kita ikuti fatwa seorang Tasawuf. Bahwa yang digolongkan Ulama Pewaris Nabi itu adalah seorang Ulama yang mewarisi rahasia Nabi yang mempusakai apa yang dipusakai Nabi dari pada Allah SWT. Ulama itu yang menerima rahasia (Sirr) yang sama turun kepada Rasul ke hati sanubari (hati nurani-kalbu)nya. Seluruh isi kalbu Rasul diwarisinya, karena diwariskan oleh Rasul itu sendiri, tanpa melalui otak/ ratio, tetapi melalui hati sanubari ke hati sanubari.

Bukankah segala Nabi juga menerima wahyu melalui hati sanubarinya, yang telah disucikan dengan kalbu bukan dengan otak (ratio), kemudian wahyu itu baru disalurkan melalui lisan. Pada waktu ini para Alim Ulama banyak menuntut Agama secara ratio semata-mata memenuhi otaknya dengan Ilmu Fiqih. Sehingga mereka menjadi Ulama besar yang mewarisi Ilmu agama secara dzahir saja, tetapi belum tentu menjadi Ulama Allah atau Ulama Pewaris Nabi karena sebagian Ilmu tentang agama Islamnya ditinggalkan.

Walaupun sangat sulit menemukan seorang Ulama Waris Nabi tetapi kita wajib untuk berusaha mencarinya sebab sangat pentingnya mendapat tuntunan seorang Imam/ Guru dalam hidup kita. Yaitu seorang Guru yang berpredikat Warosatul Anbiyaa’i (Waris Nabi). Seorang filosof arif mengatakan : “Belum cukuplah engkau mendapatkan seorang Guru yang dapat menunjukkan engkau tentang adanya Tuhan, tetapi bergurulah engkau kepada seorang Guru yang dapat menuntun engkau (rohani) ke hadirat-Nya”. Tegasnya, rohani adalah alat munajat kepada Tuhan. Rasul bersabda : “Siapa saja meninggal tanpa seorang Imam, maka ia meninggal secara jahiliah”.

Kita baca kitab suci al-Qur’an, surat al-Isra’ ayat 71 yang artinya sebagai berikut : “Pada hari kami panggil tiap-tiap manusia dengan Imamnya”.

Untuk mencari Guru serta Imam seperti yang tertera dalam al-Qur’an dan Hadits tersebut, berpedomanlah pada dua ayat kitab suci al-Qur’an yaitu surat an-Nahl ayat 43 dan surat al-Anbiyaa’i ayat 7, dimana kedua ayat ini mempunyai kesamaan arti : “Tanyakanlah kepada Ahli Dzikir kalau kamu tidak mengetahuinya”.

Tasbih, Tahmid dan Tahlil

سبحان الله – Subhanallah (tasbih) – Maha Suci Allah
الحمد لله – Alhamdulillah (tahmid) – Segala Puji Bagi Allah
لا إله إلا الله – La Ilaha Ilallah (tahlil) – Tiada Tuhan Selain Allah
الله أكبر – Allahu Akbar (takbir) – Allah Maha Besar
لا حول ولاقوة إلا بالله – (Ḥawqala‎ / الحوقلة ) La Haula Wa La Quwwata Illa Billah – Tidak adalah daya-upaya dan kekuatan ( yang sebenar / yang terutama ) melainkan dengan izin ( pertolongan ) Allah

لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم – La Haula Wa La Quwwata Illa Billah (al-‘Aliyyil ‘Adzim)

Mengucapkan kalimat bacaan tasbih, tahmid, tahlil sebanyak masing-masing 33 kali ditutup dengan bacaan keseratus dilakukan seusai menjalankan ibadah sholat lima waktu dalam rangka berdzikir kepada Dzat Sang Pencipta seraya mengharap fadhilah-fadhilahnya, dalam sebuah hadist dikutip dari kitab al-adzkar salah satu karya besar milik Imam Nawawi yang sudah tidak asing lagi dikalangan orang muslim disebutkan sebuah hadist:

“Dari Abu Hurairah RA., dari Rasulullah SAW beliau bersabda: barang siapa yang bertasbih kepada Allah 33 kali, bertahmid kepada Allah 33 kali, dan bertakbir kepada Allah 33 kali, serta menyempurnakan keseratusnya:
لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك و له الحمد وهو على كل شيء قدير,
maka diampuni kesalahan-kesalahannya sekalipun seperti buih lautan.”

Disisi lain, dzikir-dzikir yang sudah tidak asing lagi dibaca seusai sholat fardhu ini memiliki makna-makna mulia yang terkadung, kalimat tasbih (سبحان الله) memiliki arti “Maha Suci Allah”, kalimat tahmid (الحمد لله) memiliki arti “Segala puji bagi Allah”, sedangkan kalimat takbir (الله أكبر) memiliki arti “Allah Maha Besar”, ketiganya yakni tasbih, tahmid dan takbir memiliki hubungan satu sama lain dalam makna-makna yang terkandung didalam masing-masing tersebut.

Kalimat tasbih (سبحان الله) bermakna hubungan dengan Tuhan, yakni tiap kali kita mengagung-agungkan maka tiada lain yang pantas untuk kita agungkan dan sucikan melainkan Allah SWT dengan segala kemuliaan dan dzat-Nya.

Kalimat tahmid (الحمد لله) bermakna hubungan dengan manusia, yakni tiada yang pantas kita lakukan dan ucapkan selain rasa syukur kita terhadap segala apa yang telah dikaruniakan oleh Sang Pencipta, rasa syukur kita terhadap orang-orang disekitar kita yang telah ikut andil dalam kehidupan sehari-hari.

Kalimat takbir (الله أكبر) bermakna hubungan dengan alam sekitar, kalimat ini sering diucap manakala kita dilanda ketakjuban yang amat mengenai alam semesta ini yang menunjukkan kebesaran Allah SWT.

Jadi kita membaca tiap usai sholat dzikir tasbih disambung dengan tahmid kemudian takbir itu bermakna satu kesinambungan atau hubungan yang erat satu sama lain, secara tidak langsung kita telah diajari bagaimana kita harus membagi porsi satu sama lain, yakni hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam semesta. Jadi, kalau ketiga hubungan tersebut dapat kita jalin dengan baik, maka pasti kita akan menemukan banyak faidah atau manfaat dalam hidup ini, sebaliknya jika tidak seimbang maka yang terjadi adalah sebaliknya.

Maka dari itu, ketiga hubungan tersebut harus terjalin rapi dan erat satu sama lain, tidak mengutamakan satu dari yang lain, karena ketiganya adalah satu kesatuan, dan ini secara tidak langsung telah diajarkan kepada kita umat islam melalui makna-makna yang mulia seperti itu.

POPULAR ARABIC PHRASE :

1. Bacaan AL-MASYIAH (MA SYAALLAH) – Apa yang Allah Kehendaki
2. Bacaan AT-TA’AWWUDZ (A’UZUBILLAHI MINASY SYAITONIR RAJIM) – Aku memohon perlindungan Allah daripada syaitan yang terkutuk
3. Bacaan TAWAKKUL (INSYA ALLAH) – Jika Diizinkan Allah
4. Bacaan AT-TABARRUK (BARAKKALLAHU FIK) – Semoga Allah memberkati engkau
5. Bacaan ASY-SYUKR (JAZAKALLAHU KHAIRAN) – Semoga Allah membalas jasa-baikmu itu dengan kebaikan
6. Bacaan LIL ISTIRJAA’ / TARJIE (INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN) – Sesungguhnya kita ini semuanya adalah milik Allah dan kepadanya nanti kita akan kembali
7. Bacaan AL-HASBANA (HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIL) – Cukuplah bagi kami ini Allah itu sebagai sebaik-baik pelindung / penolong)
8. Bacaan Istigfar (Astaghfirullāh) – (أستغفر الله)
9. Bacaan Basmallah (Bismillahirrahmanirrahim) بسم الله الرحمن الرحيم