Pengalaman Lucu Para Praktisi Ruqyah

Berikut ini adalah pengalaman dari Ustad Abdul Raouf Ben Halima, seorang praktisi dan peneliti Ruqyah di Eropa yang kini telah membuka balai ruqyah syar’iyah di 20 negara bersama praktisi-praktisi lainnya.

Smartphone for Smart Jinns
Pernah ketika kami melakukan “Jinn capture”, sebuah ponsel berdering dan jin itu berkata: “Apa itu?”. Aku berkata: “Ini adalah smartphone, telepon kecil yang dikembangkan manusia untuk bicara dari jarak yang jauh.”

Dia berkata, “Aah bagus?! Apakah kami bisa memilikinya?”. Aku berkata, “Emm, kalian para jin tidak akan membutuhkannya. Karena jika kalian mau berbicara dengan seseorang, bukankah kalian bisa bergerak sekejap dan berbicara dengannya secara langsung.” Dia berkata: “Aah, oke.”

Yang Terkuat
Seekor Jin membuat ulah di Dakar. Kami bacakan ayat, menjelaskan neraka, negosiasi, tapi dia tetap keras kepala. Dia mulai berkata, “Aha lihat! Aku kuat! Kau sudah membaca Al-Quran, aku bertahan! Kau tunjukkan neraka, aku bertahan! Kau mencoba untuk mempengaruhiku, aku menolak!”

Lalu karena memang kami sudah lelah, aku berkata padanya: “Baiklah, kau bilang dirimu kuat, tapi kau bahkan tidak mampu menjadi Muslim!”. Dia berkata, “Apa? Tidak mampu?”. Aku berkata, “Ya, banyak dari para Jin kecil yang mampu masuk Islam. Tapi kau bahkan tidak mampu menjadi Muslim! “. Dia berkata: “Apa? Jangan bicara sembarangan kau”.

Aku berkata, “Itu benar, Kau bahkan bukan seorang pria! Kau tak punya apa-apa di dalam celanamu! Kau tidak bisa menjadi Muslim! “. Dia mengatakan: “Itu tidak benar, berhenti mengatakan itu! “. Aku berkata: “Memang begitu. Tak ada pentingnya aku bicara padamu, biar anak-anak kecilku saja yang membereskanmu”.

Lalu aku berdiri, dan dia berseru: “Tidak, jangan pergi, saya juga bisa masuk Islam, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah!”. Dan kami pun jatuh terpingkal-pingkal di tanah.

Devil’s Advocate
Pernah ketika di Khorogo dengan izin Allah kami mendatangkan seekor kepala suku Jin. Dia datang dan mulai berkata, “Dasar kalian kriminal! Kalian sudah membunuh ribuan Jin dan dalam beberapa detik!” (Ini terjadi sebelum kami menemukan bahwa Al-Qur’an berpengaruh langsung pada jin dan kita bisa mengislamkan jin dengan ayat Al Qur’an). “Kalian mengatakan masuk Islam atau mati! Bukankah Islam mengatakan Laa ikraha fid diin?” (Tidak ada paksaan dalam agama).

Saya berkata padanya: “Kami membunuh anda bukan karena anda menolak menjadi seorang Muslim. Tapi karena anda ini penjahat. Anda bekerja untuk tukang sihir. Anda merusak kehidupan masyarakat. Sekarang, anda telah tertangkap. Kami berhak membunuh anda tanpa membacakan apa kejahatan yang anda lakukan. Tapi karena kami baik, bahkan sangat baik, maka kami menawarkan solusi : Yaitu anda menjadi Muslim. Kita menjadi saudara dan hentikan semua yang sudah kau lakukan. Jika tidak, kami akan membunuh anda karena kejahatan anda.”

Dia mengatakan: “Tapi apa urusannya dengan anda? Kenapa anda ikut campur? Itu urusan kami dengan mereka!”. Aku berkata, “Tapi ketika polisi menangkap perampok, apakah mereka mengatakan, sudahlah, kita tidak berurusan dengan mereka, kita biarkan dia bebas, memperkosa dan membunuh orang?? Tidak, polisi ada untuk melindungi orang-orang. Dan kami juga ada untuk membantu orang-orang.”

Dia berkata, “Oke, bagaimanapun aku sudah diikat begini. Aku tidak terima, aku punya harga diri, aku lebih suka mati. Bunuh aku! Bunuh aku!”. Saya berkata, “Begini saja, kita akan lupakan segala urusan kejahatan dan ilmu sihir yang membuatmu kami tangkap. Hanya cukup dengan anda menjadi Muslim. Bukankah itu menarik?”.

Dia berkata: “Ah, perjanjian! Ah, itu baru menarik!”. Lalu kami berbicara sedikit dan akhirnya dia bertobat.

Jin Yang Bijaksana

Saya pernah berdebat dengan Jin yang begitu bijaksana, sangat terpelajar, sehingga dia memiliki jawaban untuk semua argumen saya, begitu pula kekuatan dan usianya. Saya berkata, “Kamu benar-benar kuat, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi ada satu hal yang saya tidak mengerti. Mengapa Jin yang bijaksana, cerdas dan tangguh seperti anda mau bekerja pada mahluk idiot seperti Iblis?”

Itu menggoyahkannya, dan dia berkata: “Tidak, jangan katakan itu!”. Aku berkata, “Aku hanya ingin tahu, aku tidak mengerti.”. Dan dia tidak tahu harus berkata apa, sehingga akhirnya dia bertobat.

Sumber : http://benhalimaabderraouf.fr/index.php/roqya/betisier
Read more at http://islamperspektif.blogspot.com/2012/09/pengalaman-lucu-para-praktisi-ruqyah.html#1ZIM2MtccvVQsedo.99

Bekam, hijama, cupping

Waktu terbaik dan Terlarang untuk Bekam

Tidak seperti pengobatan lainnya. Bekam, selain bisa dilakukan setiap saat juga memiliki waktu istimewa untuk dilakukan. Ada beberapa Hadits yang menunjukkan waktu terbaik untuk berbekam, ada 3 hari:

“Sesungguhnya waktu terbaik melakukan bekam adalah pada tanggal 17, 19, dan 21 setiap bulannya.” (HR. at-Tirmidzi)

“Barang siapa melakukan bekam pada tanggal 17, 19 atau 21, akan sembuh dari setiap penyakitnya.” (HR.Abu Dawud)

Jam Terbaik untuk berbekam :

Menurut pada dokter, bekam yang paling baik dilakukan adalah pada jam dua atau jam tiga siang. Tidak boleh dilakukan setelah berhubungan badan (jima) atau aktivitas berat lainnya, dan tidak boleh setelah kenyang atau ketika tidak lapar.

Hari untuk bekam & Larangan bekam:
Rosulullah Saw, bersabda;

“Bekam itu bisa menambah daya tahan tubuh, bisa menambah kemampuan berpikir. Lakukanlah bekam dengan menyebut nama Allah. Namun jangan kalian lakukan pada hari kamis, jum’at, sabtu, dan ahad. Lakukanlah pada hari senin. Lepra dan kusta hanya turun pada hari rabu.”

Beliau Saw. bersabda,”Berbekamlah kalian pada hari senin dan selasa dan janganlah kalian berbekam pada hari rabu,”

dari Abu Hurairah secara marfu’:”Barang siapa melakukan bekam pada hari rabu atau hari sabtu, lalu ia terserang penyakit panu atau kusta, hendaknya ia menyalah kan dirinya sendiri,”

WAKTU TERBAIK UNTUK BERBEKAM TAHUN 2017M (1438-1439 H)

Antara takdir dan usaha …

Ada seorang pria berlayar ditengah laut, tiba-tiba kapal yang ditumpanginya diterjang badai dan tenggelam. Jadilah ia terapung-apung ditengah laut. Lalu dengan hati yang mantap ia berdoa :

“Ya Allah…tolonglah hambamu ….”

Tidak berapa lama kemudian, muncullah sebuah kapal mendekat ingin menolong pria tersebut. Awak kapal lalu berkata :

“Naiklah kekapal, kami akan membawamu kedarat!”

Si pria lalu menjawab :

“Tidak!! cukuplah Allah sebagai penolongku”

Akhirnya kapalpun berlalu meninggalkan si pria yang terapung-apung diterpa ombak. Kemudian ia berdoa lagi :

“Ya Allah…tolonglah hambamu”

Tiba-tiba muncul lagi kapal kedua, yang menghampiri pria itu dan mendapat jawaban yang sama pula. Kapalpun berlalu.

Sampai kepada kapal yang ketigapun, si pria memberikan jawaban yang sama. Akhirnya karena pelampung yang dikenakannya tidak bisa menaham bobot badannya lagi, si pria tenggelam dan meninggal.

Di alam barzah, si pria marah kepada Allah, dan berkata :

“Ya Allah..aku sudah berdoa kepada-Mu, kenapa Kau tidak menolongku?”

Allah menjawab :

“Sudah Ku-kirimkan tiga kapal untuk menolongmu, kenapa kau tidak mau naik kekapal itu?”

Terkadang kita sering berdoa dan setelah itu mengharapkan keajaiban yang datang dari Allah. Berdoa tanpa ikhtiar tidaklah mungkin akan terwujud. Karena Allah menolongku kita melalui ikhtiar yang kita lakukan.

Aku iri pada kalian perempuan …

Ketika aku mengajar mata kuliah [Logika dan Algoritma], aku selalu melakukan “breaking the ice” dengan logika terbalik, pada kasus poligami. Saya mengatakan bahwa Poligami itu yang diuntungkan bukan laki-laki, yang diuntungkan dengan poligami adalah perempuan.

Tentu saja pembicaraan awal ini menjadi ramai, masing-masing mengemukakan pendapatnya. Namun setelah dijelaskan, para perempuan pada diam dan para laki-laki mikir dua kali kalau mau poligami.

Lebih jauh lagi, banyak logika terbalik pada perempuan, sehingga mereka menunut emansipasi perempuan, persamaan antar perempuan dengan laki-laki. How come ? Tuhan saja sudah menciptakan keduanya berbeda. Mereka tidak menyadari betapa berharganya mereka. Betapa Allah menyayangi mereka.

Inilah contohnya :

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding pria.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding pria.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada pria.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan di tangan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada pria.

Itu sebabnya banyak yang berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA.”
And Look…

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami. Bahwa sesungguhnya pria wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya.
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada pria, tetapi bahwa harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Sementara apabila pria menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
4. Di akhirat kelak, seorang pria akan mempertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang pria, yaitu: suaminya, ayahnya, anak prianya dan saudara prianya.
5. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi bahwa setiap saat dia dido’akan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu surga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang pria wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata

Sayang banget sih, Allah, sama mahluk yang namanya perempuan …